April 30, 2010

Situs How To Teach English


Awal Desember 2009 lalu, lembaga nirlaba British Council bersama Depdiknas membangun situs How to Teach English (http://h2te.depdiknas.go.id/) dalam Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) yang akan memberikan akses materi ajar kepada guru Bahasa Inggris di Indonesia. Situs baru ini dapat diakses guru di 17.500 sekolah yang tersambung jejaring Jardiknas.

Apa yang Menarik?
Tujuannya agar meningkatkan standar pengajaran Bahasa Inggris lebih baik. “Materi pembelajaran bahasa Inggris secara online itu user friendly, bermutu, dan menarik untuk murid dan guru,” kata Keith Davies OBE, Country Director British Council Indonesia.

Di web How to Teach English ini tersedia 45 lesson plan (dan terus bertambah) sesuai kurikulum SD, SMP, SMA dan SMK. Relevansi dengan konteks Indonesia ini sangat penting mengingat tak semua pengalaman pembelajaran bahasa Inggris di negara lain sesuai untuk Indonesia. Materi ini juga akan dipakai 10 universitas saat Praktek Pengajaran Lapangan (PPL) calon guru bahasa Inggris.

Mau yang lebih praktis, ada klip-klip video guru sekolah-sekolah di Asia Tenggara saat berkegiatan : Classroom Management, Teacher-Student Interaction, Speaking Activities dan Interactive Games; berita, update terbaru pengajaran, pelatihan, konferensi bahasa Inggris. Juga, kumpulan artikel yang berisi metodologi serta tips mengajar.

Adapun untuk siswa dan orangtua, British Council membuatkan web http://www.learnenglish.org.uk. Siswa boleh gembira belajar Inggris lewat permainan, lagu, cerita, dan aktivitas lainnya. Para orang tua bisa mendapatkan tips bagaimana mendampingi anak belajar.

Life skill atau kecakapan berbahasa Inggris amat perlu saat ini, terlebih di era mendatang. Ia membuka banyak pintu, mulai ilmu pengetahuan, hubungan budaya, sampai peluang bisnis. Karena itu, pengajaran berkualitas merupakan faktor penting berkembangnya kecakapan ini.

Keseluruhan program ini bagian komitmen British Council mendukung pendidikan di Indonesia, yakni menjawab kebutuhan guru bahasa Inggris akan materi ajar berkualitas, relevan, up to date, dan mudah diakses via internet. “Terima kasih kepada British Council, juga para guru yang terlibat pengembangan kontennya agar sesuai situasi di Indonesia,” jelas Ir. Lilik Gani, Direktur Pustekkom, Departemen Pendidikan Nasional.

British Council, yang telah aktif sejak 1948 di Indonesia, adalah organisasi internasional Inggris untuk pendidikan dan kebudayaan. Yang sudah kita rasakan manfaatnya, antara lain program-program yang saling menguntungkan dalam bidang Pendidikan, Proyek Pengembangan Bahasa Inggris, serta Pemberdayaan Sosial dan Industri Kreatif yang menjangkau sebagian besar wilayah Indonesia. TG

Informasi: Muhaimin Syamsuddin (muhaimin.syamsuddin@britishcouncil.or.id)
Sandra Winarsa (sandra.winarsa@britishcouncil.or.id)
Eka Wahyuni (Business.Relations@britishcouncil.or.id)
www.britishcouncil.or.id

Foto: Penandatanganan nota kesepakatan antara British Council, dan dan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan (Pustekkom), Departemen Pendidikan Nasional, pada 1 Desember 2009 lalu, di Jakarta. Hadir juga perwakilan VTSN (Virtual Teacher Support Network), P4TK, dan PPPG Bahasa Inggris.

Tulisan ini diterbitkan pada edisi No. 10 / Vol.04 / Thn 2010. Dapatkan majalah pendidikan Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Berlangganan SMS ke (Flexi) 021 684 58569. Terima kasih.

UNTUKMU GURU


Dear teachers,

Sejak majalah TG memuat tulisan Pak Yadi, seorang kepala divisi kesiswaan di The Natural School mengenai “Apakah Anak TK Harus Bisa Membaca?”, kehidupannya jadi lebih meriah. Beberapa pihak memintanya untuk menjadi instruktur pada pelatihan dan workshop untuk kalangan guru usia dini, baik inhouse maupun umum. Perubahan ini menjadikan hidupnya jadi lebih berwarna. Rutinitas menjadi guru dan mengawal kelancaran manajemen kelas menjadi semarak dengan gairahnya mempelajari lebih banyak ilmu kependidikan. Tambahan penghasilan? Tentu saja.

Momentum kehidupan yang makin meninggikan manusia sebagai makhluk paling sempurna, akan memberi efek luar biasa pada jati diri. Self development, pengembangan diri, adalah sebuah program, kegiatan , momentum, dan RASA, yang berhasrat meningkatkan kualitas diri melalui serangkaian usaha dan upaya.

Secara fitrah, setiap manusia akan menjadi lebih bahagia ketika memberi (giving) lebih banyak daripada menerima. Ketika tangan-tangan kita memberi kebaikan, tunggu apa yang akan terjadi sebagai buah kebaikan itu. Jelas ini bukan sim salabim. Serangkaian jatuh bangun menyertai.

Menyadari potensi yang nyata pada diri Anda, jika diikat, dapat menciptakan hasil yang mengagumkan. Yang Anda harus lakukan adalah mengalirkan semua pengetahuan, kekuatan dan energi menuju arah yang ditentukan. Ciptakan arah itu secara spesifik. Pak Yadi kini bisa mengatakan: “Aku akan menjadi trainer khusus tentang belajar membaca yang menyenangkan”. Tak terlalu istimewa bukan? Namun indah dirasakan. Dia mungkin memang bukan the best, apalagi the first. Yang bisa diciptakan adalah the different. Berbeda!

Kita, pemberi stimulus dan penyampai ilmu pada siswa, harus makin yakin, bahwa puncak tertinggi dan esensi terpenting dalam pendidikan manusia adalah moralitas, integritas, dan orisinalitas. Pengembangan diri bukan hanya pada ranah akademis. Pendewasaan jati diri dan pendidikan kehidupan yang toleran pada perbedaan, menghormati tetua, menghargai karya orang lain, adalah sebuah keniscayaan yang akan mengantarkan kehidupan menjadi lebih harmonis.

Sepanjang penerbitan majalah ini, kami selalu menemukan Guru yang bergairah melakukan pengembangan diri. Lompatannya sangat menggembirakan.

Tetapkan jalan hidup Anda sebagai Guru dan lakukan pengembangan diri. Sukses jarang muncul secara kebetulan, melainkan karena dirancang!

Salam Pendidikan,
Arfi D. Moenandaris
Pemimpin Redaksi

Tulisan ini diterbitkan pada edisi No. 10 / Vol.04 / Thn 2010. Dapatkan majalah pendidikan Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Berlangganan SMS ke (Flexi) 021 684 58569. Terima kasih.

Maret 19, 2010

SAATNYA SEKOLAH BERBAGI, SAATNYA MENUAI HIKMAH SEKOLAH SEJATI

Tulisan terakhir cover story (6)

Sudah berapa lama sekolah Anda berdiri? Lima, tujuh, sepuluh tahun, atau lebih? Selama itu pula sekolah dan segenap jajarannya memberi kontribusi yang luar biasa pada dunia pendidikan. Setelah menempuh proses panjang layanan pendidikan, apakah sekolah mulai memikirkan konsep berbagi, yang ditujukan pada sejawat pendidikan?

Sejalan dengan peningkatan kualitas dan kemajuan sekolah mulai dari program, kurikulum, kemajuan siswa, kepuasan orang tua, perbaruan teknologi, kemajuan materi ajar, kini sudah saatnya Anda mencari keberkahan sekolah melalui program berbagi.

Apa yang Dibagi?
Mungkin sudah banyak yang Anda lakukan. Mulai dari subsidi SPP, membantu korban bencana, membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tak mampu, menyelenggarakan program pengobatan gratis, sunatan masal, bazaar, dan sebagainya. Ah, Itu biasa!

Berbagi materi mungkin lebih mudah. Namun berbagai ilmu, membutuhkan kelapangan hati dan ketebalan spiritual, agar tak egois maju sendiri, melainkan bersama memajukan anak bangsa, dengan sekolah kompetitor sekali pun.

Apakah sekolah Anda juga ikhlas rela berbagi ilmu tanpa bayaran alias gratis bagi sejawat guru dan sekolah siapapun yang memerlukan? Dan secara khusus dan sungguh-sungguh memprogramkan dengan pejabat khusus pula? Nah… ini yang agak jarang. Sekolah Mutiara Bunda Bandung telah membuktikan berbagi ilmu secara lebih aplikatif. Didirikanlah divisi Community Services.

“Sekolah itu harus terus lari. Harus ada orang yang memikirkan kemajuan dan kemajuan, perubahan dan perubahan. Jangan pernah berhenti melaju dan memandang sekolah sudah eksis, sudah memiliki banyak siswa, sehingga bertahan sekadar menjaga mutu saja,” begitu nasihat Kak Sara, panggilan akrab Muharani Meisara, pemilik sekolah Mutiara Bunda.

Divisi Community Service (CS) didirikannya sebagai sebuah upaya serius mewujudkan kepedulian, kebersamaan, sharing , aplikasi moral value dan apapun nama yang bagus-bagus untuk sebuah hasrat dan niat yang ditujukan bukan hanya untuk kemajuan diri, melainkan kebahagiaan dan kemajuan orang lain.

“Kami membuka diri untuk sekolah lain yang ingin memajukan sekolahnya. Dalam hal apa saja! Seminggu sekali kami memiliki jadwal pelatihan guru, yang boleh diikuti secara gratis oleh siapa pun. Tanpa biaya. Sedangkan untuk wilayah yang memerlukan bantuan secara fisik, sedapat mungkin kami survey dengan cermat apa sesungguhnya kebutuhan yang mendesak. Kami dorong pada para Guru, sediakan waktu Anda untuk memberi pelatihan tanpa harus dibayar, khusus untuk program CS. Saat ini, sebatas buku atau peralatan sekolah, kami bisa penuhi,” jelas Mira Afilla, tangan kanan Kak Sara, Guru senior yang memimpin divisi CS.

“Kini kami tak lagi memikirkan berapa yang dikeluarkan. Niatan kami hanya ingin membantu. Sudah saatnya sekolah yang mendapat ‘berkah’ kemudahan mengembalikan ‘pinjaman nikmat’ itu kepada sesama sekolah. Awalnya kami menyediakan sejumlah dana khusus per-bulan. Jika dihitung dengan ilmu matematika tak cukup. Tapi dengan perhitungan ilmu sedekah, justru makin hari makin bertambah dengan
donasi dan kemudahan lain.”

“Kami juga tak memikirkan bahwa kegiatan ini bagian dari promosi atau marketing sekolah. Maaf, bukan sombong, sekolah kami sudah tak muat lagi kapasitasnya. Yang mendaftar untuk tiga tahun ke depan juga sudah penuh.”

Harus Sukses terlebih dulu, Baru Berbagi ?
“Teorinya sih tidak. Namun pada prakteknya, kesadaran dan kemauan berbagi baru akan wujud setelah usai urusan domestik. Dalam konteks sosial bisnis sekolah, mulanya sekolah menata semua pilar utama hingga tercapai sistem yang cukup nyaman. Tak ada batasan waktu. Mau setahun atau sepuluh tahun kemudian baru membuka diri untuk sharing ilmu, itu tergantung kesiapan guru dan manajemen sekolah.”

Dampaknya ke promosi juga!

“Menurut saya bukan berdampak promo sekolah. Ini sudah menjadi hukum alam. Hukum universal. Niat yang baik jangan dicederai dan disusupi kepentingan lain selain benar-benar berbagi ilmu. Lepas saja tanpa batas. Kami tak takut ilmu dicuri. Semua ini juga kan titipan dan pinjaman Tuhan.”

“Kalau banyak pihak makin tahu, itu trust yang terbangun. Kalau menjadi makin ngetop dan dipercaya, ya ini balasan lagi dari Tuhan. Begitu terus berputar,” jelas Mira dan Kak Sara.

Keduanya tampak sudah memaknai sedekah ilmu dengan pemaknaan yang dalam. Bagaimana dengan sekolah Anda? Tak usah heran, jika masih banyak sekolah bagus yang sangat ‘prudent’, hati-hati, cermat, dan membuat kebijakan yang berkebalikan dengan cerita di atas. Jangankan berbagi ilmu. Datang saja sudah ada hitungan argo per jamnya. Alamaak……..

Kiranya baik bagi praktisi pendidikan, mendalami ilmu self management dan leadership, untuk mempelajari law of attraction (baca di rubrik Cover Story-red), yang makin dipelajari oleh berbagai pihak di abad 21 ini.TG

Maret 03, 2010

ILMU BARU GURU BAHAGIA

(lanjutan cover story (5) edisi no.9/Vol 03. Tahun 2009)

Rhonda Byrne, dalam bukunya ‘the Secret’, menyatakan: apa yang Anda pikirkan akan menarik pikiran serupa dan memantulkannya kembali . Pikiran yang sedang kita bayangkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan. Pikiran akan berubah menjadi sesuatu.

Jika pikiran dipenuhi visualisasi yang sarat energi positif – semangat hidup, keyakinan keberhasilan, kegembiraan, kegairahan, optimis yang meluap, ucapan syukur yang tak henti mengalir dan kemurahan hati- maka jejak kehidupan akan membawa pada kebahagiaan hakiki.

Sebaliknya, jika pikiran kecewa, gagal, marah, menyalahkan orang, frustasi, ragu, selalu kurang, maka gelombang pikiran akan memantul ke alam semesta, menarik pikiran negatife yang serupa, dan mengirim balik ke diri kita. Lingkaran kelam negatifism akan membuat kita terpelanting dalam kisah hidup penuh kepiluan.

Hukum ini disebut sebagai hukum tarik menarik.

Ketika Anda merasa bahagia, saat itu pula energy positif segera akan menarik semua perasaan bahagia yang sudah tersebar di alam raya. Sekejap, Anda akan menerima senyum tulus kepala sekolah, lantas ada saja rekan kerja yang menawarkan bekal sarapan pagi, kemudian bagian SDM memanggil Anda mengabarkan kesempatan training yang bisa Anda ikuti selama 3 hari di Bali, misalnya.

Sebaliknya, jika salah ucap, dan yang ada di benak Anda adalah kejengkelan, maka seharian di sekolah rasanya ada saja kekecewaan. Tiba-tiba Anda mendapat complain dari orang tua yang protes pada cara Anda memberi peringatan keterlambatan tugas siswa, sms bertubi tubi dari dealer motor yang mengancam akan menarik motor kreditan Anda jika sampai tanggal tertentu tak juga ada pembayaran, entah mengapa hari itu Anda terlibat konflik dengan teman satu MGMP, dan emosi Anda meledak.

Masalah memburuk, karena getaran energi negatife semakin kuat menggulung. Ketika ini terjadi, yang harus dilakukan adalah secepatnya mengubah frekuensi pada gelombang energi positif, agar terlepas dari pusaran energi negatife dan perpindah masuk ke wilayah hukum tarik menarik positif.

Rhonda memberikan 3 langkah cara untuk masuk ke hukum tarik menarik ini, yakni:
1. Sebutkan keinginan Anda
2. Yakini, syukuri dan visualisasikan seakan Anda sudah mendapatkan keinginan itu
3. Terimalah atau dapatkanlah keinginan itu

Energi Positif dan Hukum Tarik Menarik (Law of Attraction)
Ilmu Baru Guru Bahagia


Anda akan takjub dan merasakan betapa mudah keinginan itu terpenuhi. Atau Anda akan menjumpai sejumlah ‘kebetulan’ atau ‘keajaiban’, yang seringkali diucapkan orang dengan kalimat “untungnya….dst, misalnya: “Untung ada orang yang baik padaku, dengan menawarkan tumpangan mobil ke sekolah ketika ban sepeda motorku kempes tadi pagi”, dan kalimat-kalimat ‘untungnya…’ yang sesungguhnya ini adalah law of attraction.

Kebanyakan orang tak memahami apa yang sesungguhnya dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan hidupnya. Sebagian orang hanya tahu apa keinginannya, tapi sama sekali tak mengerti apa yang dibutuhkannya. Secara sembarangan, banyak orang mengajukan keinginan dan melakukan cara-cara yang berlawanan dengan tujuan yang hendak dicapainya.

Erbe Sentanu menandaskan, bahwa manusia terlahir ke dunia dengan potensi kekuatan yang dahsyat, yang disebut fitrah. Kedahsyatan ini hanya bisa muncul manakala manusia berada pada keadaan fitrah, yakni ikhlas, tawakal dan syukur. Fitrah ini akan menjadi basis skill yang bekerja secara ‘diam-diam’ dari fikiran an perasaan, meski tak kasat mata namun sangat bertenaga.TG

Sumber:
‘Semut Mengalahkan Gajah’,
Amir Faisal, Quanta.

Februari 16, 2010

Guru Bahagia Dekat TuhanNya

Cover story (4) Teacher Happiness


Apa yang dimaksud bahagia? Siapakah guru bahagia itu? Kebahagiaan? Bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan? Kini apakah kita sudah bahagia menjadi guru? Masih banyak lagi pertanyaan menggelayut pikiran.

Bermacam orang mengartikan rasa bahagia. Ada yang dengat kata-kata, bahasa tubuh, ada pula yang dengan ekspresi. Bahagia muncul ketika ada rasa senang, mudah, lapang, mendapat perhatian dan ucapan, menerima kata mutiara, dan sebagainya. Namun bahagia model ini terasa sesaat dan tak bertahan lama.

Banyak orang bilang, profesi guru menjadikan awet muda lantaran selalu senang. Ada juga anggapan menjadi guru itu mudah, tidak usah banyak ilmunya, yang penting bisa membimbing dan mengajar. Betul menjadi guru itu selalu senang karena dikelilingi hal-hal lucu dan menyenangkan dari anak didik. Guru merasa senang melihat kemajuan dan kepintaran siswanya meningkat dibanding sebelumnya. Guru juga bahagia manakala dapat berhubungan harmonis dengan orang tua dan teman. Apakah kebahagiaan yang ini akan bertahan lama? Hanya diri kita sendiri yang dapat menjawab.

Tak bisa kita menipu diri sendiri manakala kebahagiaan hilang dengan cepat. Atau kita yang kurang dapat mempertahankan rasa bahagia itu bersemayam di hati?

Dalam konteks Islam, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Ketika niat melakukan sesuatu lantas ingin mendapatkan keberkahan serta keridhoan Allah SWT, maka semua itu akan kita dapatkan. Namun jika kemudian ada rasa yang mencederai, hanya niat saja yang kita dapatkan.

Luruskan Niat
Untuk apa kita menjalankan profesi sebagai guru? Apa yang nantinya kita dapat dari profesi ini? Bermanfaatkah hasil profesi kita? Masih banyak niat yang harus diluruskan. Sebuah tayangan teve menggambarkan kehidupan seorang guru di daerah terpencil. Gaji minim, jarak tempuh aduhai jauhnya dikayuh dengan sepeda. Namun guru itu menuturkan rasa bahagia, nyaman, tenang, karena semua yang ia jalani semata mencari keberkahan Tuhan. Subhanallah.

Tayangan ini sebuah pembelajaran. Saat kita menjalankan pekerjaan,lihatlah dulu apa manfaat yang akan kita peroleh dan seberapa lama akan bertahan. Allah STW memerintahkan umat Islam melakukan sholat, agar mendapat kebaikan dunia akhirat. Apabila kita menjalankan sebagai suatu kebutuhan dan tahu apa balasannya, maka niat ini akan berpengaruh pada segala ibadah yang kita lakukan, serta mendatangkan kebahagiaan. Namun jika kita menjalankan sholat tak sungguh-sungguh, semata karena ritual, tak akan bersemayam rasa bahagia itu. Seperti itu pula lah profesi Guru ini dijalankan.

Guru bahagia bukan hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Rasa bahagia itu akan mengalir ke sesama. Guru ini tahu apa yang akan didapatkan kelak jika profesi ini ditekuninya sungguh-sungguh, sesuai ilmu dan hatinya.TG

Rosemalina
Guru Komunitas Bermain
Semut-Semut the Natural School

Keberkahan Sekolah itu Beyond Teknologi

cover story (3) Teacher Happiness





* Teguran Elly Risman pada Guru dan Sekolah.

* Oase Kehidupan dan ‘how about me'.




Jangan mentang-mentang berprofesi guru, Anda berlindung di balik kemuliaan profesi! Kalau Anda berbuat tak patut, Tuhan tetap akan menghukum!” pedas kata-kata keras Kak Elly Risman, tokoh multi talenta yang kerap berbicara masalah pendidikan dan parenting.

Pernyataan kak Elly disampaikan pada kami kala beliau mengisahkan beberapa guru berperilaku tak baik. Ada yang selingkuh, ngerauk uang sekolah berlebihan, sodok sana sikut sini, dan lainnya. ”Eh… tahu nggak apa yang terjadi”. Lanjut Kak Elly penuh ekspresi. “Meski mereka guru, azab Tuhan tetap disangkakan. Banyak cerita guru yang terkena dampak ketidakjujuran.

Ada yang jalan tapi nggak bisa berhenti. Lurus aja, kayak penguin, sampai nabrak tembok…. Ha..ha..ha…”, Kak Elly tertawa geli, mungkin membayangkan tata laku penguin. Ada yang didera kesulitan berkepanjangan. Ada yang ngomong tak bisa berhenti, kalau tidak ditutup mulutnya oleh rekannya – dulu rupanya ada uang komisi nggak pake rem masuk ke kantong pribadinya. Ada pula yang rumah tangganya hancur.

Meski pekerjaannya sangat mulia, setelah ‘berdagang’, kini guru tergerogoti karena status dan profesinya. Sekilas cerita Kak Elly tadi terdengar menakut-nakuti. Tapi dengar lagi penuturannya di kantornya yang sangat bersahaja. “Saya berkeinginan membuat sebuah pelatihan, dengan membangun komunitas guru, yang akan mengetuk para pengelola dan pemilik sekolah, agar jangan hanya menuntut peningkatan kompetensi saja. Pelatihan ketrampilan mengajar marak diberikan, biasanya dengan pendanaan kuat. Agendanya mulai dari cara membuat lesson plan, asesmen, bedah kurikulum, manajemen kelas, manajemen anak, komunikasi produktif, teknik bertanya, mengenali gaya belajar siswa, hingga seabrek ketrampilan yang memang harus dimiliki guru. Sederet peningkatan kompetensi Teacher as a proffesion.”

“Semua menunjuk ke arah anak. Coba peragakan dengan jari mengarah ke depan: berapa jari yang mengarah ke kita? Mana yang lebih banyak? Dengan kata lain, mana yang melatih Guru sebagai humanis berketeladanan? Berapa kali Anda dilatihkan cara menjadi Guru yang digugu dan ditiru? So, HOW ABOUT ME? Siapa yang akan bertanya: How do you feel teachers? What do you feel teachers?”

Siapa yang peduli dengan segala persoalan di luar urusan profesional sebagai guru, namun kehidupan mereka sebagai manusia biasa yang bisa saja melintir jalan hidupnya, terseok masalah, terjebak ancaman. “Ayo, siapa peduli?” tantang Kak Ely.

“Jadi Guru sekarang ini memang beraaaaaat,” tambah Kak Elly dengan penuh romansa. Apa yang Guru terapkan untuk orang lain (siswa, teman sejawat, orang tua, dll) belum tentu bisa diterapkan di kehidupannya sendiri. Tuntutan sekarang tinggi sekali, sementara kelas sosial guru dan siswa amat jauh bedanya. Ini umumnya guru, meski ada sedikit Guru keren yang melenggang tanpa kesulitan,” tandasnya.

“Guru tidak sesantai dulu. Banyak Guru sekarang nggak bisa ‘bersih’. Mengharap hadiah akhir tahun atau lebaran, menuai amplop saat penerimaan siswa baru yang melebihi kapasitas, sehingga sulit menjawab pertanyaan orang tua: “Berapa kami harus bayar agar diterima?”

“Oh ya, di majalah Teachers Guide yang bagus ini, tolong masukkan rubrik atau kolom humanis, yang berisi pengamalan guru berperilaku tak benar-tak patut dan akibatnya. Agar bisa menjadi perenungan dan peringatan,” begitu pintanya.

Mengapa ini Terjadi?
“Sama dengan orang lain, guru itu belajar agama masih banyak bersifat hafalan belaka. Tak dimaknai. Jadi ndak cukup spiritual. Firman Allah SWT: ” Akan Aku sampaikan kepedihan pada engkau dan anak cucu, sebelum kalian bertobat’ “Saya sering menerima konseling parenting. Anaknya bermasalah berat. Hasil tes tak menunjukkan ada penyebab klinis psikologisnya.

Pertanyaan saya kemudian : ”Coba jujur, siapa di antara orangtua yang selingkuh? Anak yang orang tuanya selingkuh, diketahui pertama oleh Allah, kedua oleh anak. Sampai begitu akibat yang ditimbulkan, lho,”

“Penyakit Guru saat ini sangat banyak. Selingkuh pikiran, selingkuh hati, selingkuh pekerjaan, waktu. Di sisi lain, sekolah juga harus memberi perhatian. Jangan hanya memperbaiki fasilitas dan kecanggihan teknologi IT. Sekolah harus mencari keberkahan melalui kesejahteraan dan perhatian pada guru. Selain hal primer, kebutuhan apresiasi lain juga difikirkan, mulai dari perhatian hati, hingga kendaraan, sampai naik haji. Kalau guru bagus, berkah itu sekolah!”

“Pendidikan itu harus berkah. Keberkahan tidak diukur dari teknologi. Keberkahan itu beyond technology. Dan ini diawali karena guru yang diurus dan disejahterakan. Jangan hanya ambil anak yatim atau duafa, taruh di sekolah dan sudah. Ndak ketemu juga. Minder anaknya. Guru saja urusin dulu deh!” lugas kata kak Elly.

Teachers as a Teacher?
Di sekolah kami, semua Guru harus memanggil siswa dengan sebutan ‘nak’. Guru harus mendidik siswa agar bisa bilang pada orang lain: “Sorry, saya sholat dulu ya”. Tapi mencetak siswa didik seperti ini tak mudah, harus dengan hati! Guru juga ‘teacher as a mother, as a parents’. Jadi komunitas pelatihan yang perlu dibentuk itu bukan hanya bicara guru dan profesinya, juga tentang dirinya dan persoalannya. Ini siapa yang urus? “Guru jangan hanya dipandang sebatas profesi terus. Tapi sebagai manusia. Sehingga dia bisa sukses di sekolah, bahagia di rumah!”

“Sekali lagi, jadi Guru sekarang ini tuntutannya sangat tinggi. Bebannya besar. Guru yang tadinya ‘bersih’, lantaran keadaan yang ‘memaksa’ harus bersentuhan dengan yang tak lurus. Komisi buku, suap siswa baru, hadiah penunjukan penyuplai perlatan sekolah.Nah… yang begini akhirnya membawa Guru menjadi tak lagi bahagia.”

“Jangan katakan klise nilai-nilai universal ini. Ketangguhan, rasa syukur, dengan hati, harusnya ini dilatihkan. Dimasukkan dalam dimensi kehidupan guru. Membangun karakter hanya bisa dilakukan lewat keteladanan. That’s it! Ikhlas itu rahasia di atas rahasia, cahaya di atas cahaya….. sesuatu yang beyond……Sekolah jangan kehilangan berkah. Pendidikan tak bisa lepas dari fitrah.”

Identity Crisis
“Memang ini kenyataan. Maaf ya…… Guru kebanyakan berasal dari keluarga kelas bawah. Ia lahir di tengah keluarga yang sangat sederhana, bahkan tak mampu. Kemudian menjelang dewasa, dia ingin sekolah, pengin jadi guru (yang gampang fikirnya). Lalu pinjamlah dia uang ke pamannya, ke neneknya, ke kerabatnya, untuk masuk PG TK, PGSD,Institut Keguruan, dan sejenisnya. Karena biasanya biayanya masih cukup terjangkau.”

“Setelah lulus, kemudian guru itu masuk mengajar di sekolah yang agak menengah atau lebih atas lagi. Coba fikir, berapa tahun dia menuntut ilmu kependidikan? Saya yakin tak menyentuh jiwanya sebagai pengajar yang ‘sepadan’. Tentu saja kemudian guru model ini kalah pede, kalah perbawa dari orang tua. ini terjadi di mayoritas sekolah. Muncullah kamuflase, tingkah laku kompensasi, identity crisis. Mestinya, ilmu yang ditempuh itu berguna bagi individunya dulu, baru untuk profesinya.”

“Tanamkan pada guru, untuk jadi bahagia BUKAN HANYA UANG! Ini persoalan mind set. Intangible, tak bisa dilihat. Tapi dirasakan. Ini juga hidden curriculum. Jika sekolah mampu menyediakan guru-guru yang sudah tangguh dengan pendalaman value, maka akan tercapai next generation yang diharapkan.”

Di Fakultas Psikologi ada yang baru, namanya PSYCHOLOGY VALUE. Mudah-mudahan tak terlambat. Caranya bagaimana? Dicari bibitnya, dilatih, dicontohkan, dinilai, diperbaiki lagi. “Lama? Iya memang. Sekolah itu baru akan tampak hasilnya setelah 20 tahun, bukan? Jadi bukan produk instan !“

Hmmm….. Kak Elly Risman bertutur dalam dua dimensi. Satu menuntut pribadi guru yang bersih, agar tak terkena dampak dekadensi moral, satu lagi meminta kesadaran pengelola sekolah untuk memperhatiakan ‘how about me’ tadi. Insya Allah segera akan kita dukung niatan Kak Elly untuk mewujudkan komunitas pelatihan ini.TG