Desember 29, 2010

Pendidikan Karakter INDONESIA PUNYA TAMAN SISWA !

cover story

Sebuah pengalaman berkunjung ke seorang kenalan. Di sebuah desa di Pakem, Jogjakarta. Kawasan sejuk ini kini banyak dihuni oleh keluarga yang penat dengan kebisingan kota. Di bawah kaki gunung Merapi nan pongah.

Kami dikenalkan pada sebuah keluarga untuk urusan contoh rumah joglo. Sebut saja keluarga Hervia. Sangat berada. Kami datang sekeluarga besar. Anak-anak kami, keponakan, bude, eyang. Sambutan hangat di awal kedatangan kami sudah menimbulkan selera kekeluargaan yang hangat. Tak hanya obrolan yang jelas nuansa ikhlas, suguhan makanan minuman disajikan dengan santun sang pembantu. Keakraban langsung meruyak hingga larut dan kami kami menerima tawaran untuk menginap.

Sang putra lelaki, yang lulus dari Universitas di Singapura, menemani anak-anak dan keponakan kami yang berusia SD -SMP. Celotehan riang kerap terdengar. Semua merasa diterima dengan sangat memuaskan. Januh dari kesan basa basi. Tutur kata dan gaya mereka menerima tamu tak terlalu mudah kita temui saat ini. Kesantunan, keramahan, dan keikhlasan yang sangat berkesan.

Kami memperbincangkan nikmat yang baru saja kami alami. Kami bahas, apakah karena mereka keluarga yang bersentuhan dengan pendidikan Jawa, yang dikenal dengan nilai-nilai adiluhung? Tapi mereka lama tinggal di luar negeri. Bahkan sang Bapak mantan pejabat yang cukup dikenal publik. Bagaimana ayah, ibu dan anak bisa memiliki karakter yang sama? Sebuah kemewahan di jaman yang serba hedonistik.

APA KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN?

Jelas! Sangat berkaitan. Perilaku dan sikap bukankah dibentuk, dibangun, dibiasakan? Bila kita ingat pencapaian tertinggi dan paling esensi dari pendidikan adalah moralitas, integritas, dan orisinalitas, mestinya kita bisa sensitif mencermati dan meRASAkan saat mana nilai-nilai dan orisinalitas itu bersentuhan dengan humanisme.

Hiruk-pikuk persoalan keluarga, masyarakat, negara dan dunia, semua bermuara pada pendidikan. Cara berfikir, bertutur dan membangun komunikasi akan mudah dibedakan dari yang ‘biasa-biasa’ saja.

Ki Hadjar Dewantara menguraikan ilmu adab atau ethik dalam hidup manusia, terutama mengenai gerak-gerik fikiran dan rasa yang dapat merupakan perbuatan. Ethik berasal dari kata ethos yang berarti watak. Adab artinya keluhuran budi.

Adab menghasilkan kehalusan , kesusilaan lahir batin. Apa yang disebut kebaikan dan kejahatan, baik dan buruk, tergantung sikap jiwa manusia dan relatif. Ada yang universal: jujur, suka menolong, dianggap baik secara universal. Membunuh, mencuri, secara umum tentu saja buruk.

Lebih jauh Ki Hadjar Dewantara mengajarkan, bahwa sikap manusia terjadi dari tabiat asli tiap manusia.Tabiat asli atau pembawaan ini disebut genotype, yang bisa bersifat kejiwaan dan atau kejamanian, baik yang herediter (menurun) maupun yang atavistis (diperoleh). Genotype yang terbentuk karena pengaruh keadaan, yakni kodrat dan masyarakat atau jaman, terutama karena pengaruh pendidikan, maka terbentuklah phenotype atau sifat jadi, sifat yang terbentuk kemudian.

DIMANA PERAN GURU?
Pada kehidupan kini, yang sudah sangat terjerat oleh arus informasi dan teknologi yang ‘mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’, peran Guru sebagai penyeimbang kehidupan jauh lebih penting daripada sekedar pengabar ilmu.

Rame-rame praktisi pendidikan dan para cerdik pandai menggelontorkan pentingnya character building, sesungguhnyalah semua sifat dan sikap itu sudah diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Mengapa tak dapat menjadi ciri watak bangsa? Mungkin kita lupa ‘membungkus’nya menjadi sebuah ajaran yang terintegrasi, turun temurun dan selalu up to date. Bukankah kebaikan itu sifatnya universal. Berlaku secara umum?

FAKTOR PERKEMBANGAN MANUSIA
Ada dua faktor yang menentukan. Internal dan eksternal. Faktor yang dibawa sejak dilahirkan. Ada yang diewariskan oleh orang tua, ada yang tidak. Yang eksternal tentu saja pendidikan, pergaulan masyarakat keadaan alam sekitar, iklim, dan sebagainya.

Mana yang lebih menentukan?

Coba kita ikuti aliran/ faham yang mengawali:
a. Aliran NATIVISME: perkembangan anak hanya ditentukan oleh nativusnya, yakni faktor dalam dan bakat yang ada. Faktor luar, termasuk pendidikan, tak dapat mengubah ‘loyang menjadi emas’. Tugas orang tua tinggal berdoa pada Tuhan, agar anak terlindungi dan menjadi orang yang baik.
b. Ditentang oleh aliran EMPIRISME ( serba pengalaman). Tokohnya John Locke dari Inggris. Bayi yang baru lahir adalah bak kertas putih bersih. Sering terdengar sebagai teori tabula rasa. Anak akan menjadi baik, tergantung pengaruh liuar berupa pengalaman, pendidikan, pergaulan. Kaum empiris tak mengakui pembawaan, bakat. Kaum BEHAVIORISME mendukung aliran ini, yang mengatakan: “ berilah sepuluh bayi pada kami, dan akan kami berikan sepuluh tipe manusia yang anda minta”.
c. Aliran KONVERGENSI, yang menyeimbangkan dua faktor. Perkembangan anak merupakan resultante luar dalam.

Ki Hadjar Dewantara ada pada teori ke tiga. Trikotomi Cipta (bercipta yang benar dan baik); Rasa (halus dan indah), dan Karsa (sopan, bermoral) adalah fungsi jiwa manusia yang juga dicermati oleh Benyamin Bloom dengan tiga domainnya.

Keluarga, perguruan dan sekolah serta masyarakat harusnya saling kerja sama (selama ini pernyataan ini lugas kita katakan – meski makin kendur dan makin mundur bukan?).

Simak kembali faktor luar yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak:
1. Faktor agama sebagai dasar penanaman moral dan keibadahan
2. Pergaulan sosial yang luas dan demokratis, untuk mendidik kemasyarakatan dan kesosialan anak
3. Keadaan ekonomi yang baik, agar gizi terpenuhi
4. Perkembangan ilmu dan teknologi yang memadai dan sesuai perkembangan jaman
5. Seni budaya untuk mengimbangi intelektual; dan ketrampilan agar terbangun kepribadian harmonis.

Refleksi! Kelima faktor luar yang menjadi amanah pada kaum Guru, mana yang kini lepas? Nomer dua? Ya, seringkali kita mendapati siswa yang tak boleh bergaul dengan sekitar akibat lingkungan tak mendukung, tidak aman, berkata jorok, main pukul, dan sebagainya. Orang tua sudah merasa melakukan hal terbaik manakala menyediakan berbagai alat dan mainan yang sangat bersifat individual. PSP, Nintendo dan sejenisnya. Akibatnya?

Atau faktor nomer lima? Yang kerap terpinggirkan dan mengalah akibat tuntutan pendidikan yang hanya menyiapkan anak untuk lulus ujian (kognisi) semata. Rakus menelan ilmu-ilmu hafalan demi sebuah kebijakan!

Kembali pada cerita pertemuan dengan keluarga ibu Hervia di atas. Benang merahnya adalah, keluarga tersebut telah melakukan proses tumbuh kembang secara harmonis. Mereka berilmu tinggi, bermartabat, dan membahagiakan orang lain secara tulus. Buktinya? Kami semua merasa sangat bahagia. Seminggu cerita kami tak habis membahas kebaikan mereka. Ikan bakar, panekuk empuk, jus buah naga, pisang goreng dengan gula merah, yang dibuat sendiri oleh tuan rumah di dapur yang ditemani oleh pembantuyang diajak bertutur secara halus, mengajak kami bercengkrama dengan egaliter, menata ruang dengan tatanan ala jamuan orang ‘gedean’, lengkap dengan bunga cantik kreasi nyonya rumah yang memang seorang penata bunga langganan kedutaan besar di Jakarta, dan senyum hangat yang tak henti tersungging.

Tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan sempurna. Dan pelajaran kehidupan keluarga Ibu Hervia telah membahagiakan kami.

Pekerjaan rumah yang teramat besar menantang para Guru masa kini untuk membongkar kembali ambisi pencapaian kecerdasan material semata. Ayo! TG

*) Bagian terakhir dari coverstory majalah Teachers Guide edisi No. 10/vol 04- tahun 2010.

November 10, 2010

Cover Story : PENDIDIDKAN MULTIKULTURAL





















“Ma, Papa kok temenan sama orang Cina? Orang Cina kan jahat?” Itu adalah komentar saya saat usia SD. Pemicunya adalah ayah saya yang menerima tamu orang Tionghoa di rumah. Kemudian ibu menjelaskan bahwa tidak benar semua orang Tionghoa jahat dan bahwa sifat seseorang tidak berhubungan dengan etnis-nya.

Ocehan kanak-kanak tersebut tidak bisa dianggap remeh. Tanpa ada yang memberi pengertian dan arahan, mungkin hingga sekarang gambaran negatif mengenai etnis Tionghoa tersebut masih saya anut. Dan bukan tidak mungkin, saya selalu bermasalah dalam bergaul dengan etnis dan suku yang lain juga.

Saya yakin, saya bukan satu-satunya yang secara tidak sadar diracuni berbagai stereotipe mengenai macam-macam suku dan etnis yang ada di Indonesia. Bila hal ini terus tumbuh, Bhinneka Tunggal Ika hanya akan ada di buku teks dan di bawah kaki Garuda Pancasila.

KENAPA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL?

Sebelum berbicara mengenai pendidikan multikultural, ada baiknya kita lihat dulu makna ‘multikultural’. Jelas, kata ‘multi’ dan ‘kultur’ membentuk kata baru yang berarti budaya yang majemuk. Itu dari segi bahasa.

Sementara itu, para ahli membedakan istilah ‘multikultural’ dengan ‘multi-kultural’ (dengan strip). ‘Multikultural’ merujuk pada masyarakat dengan penduduk yang beraneka ragam latar belakang kebudayaannya, tapi kebhinekaan itu tidak mengganggu keharmonisan hubungan antar budaya. Sementara ‘multi-kultural’ adalah istilah untuk menyebut masyarakat yang hidup dalam budaya majemuk, namun tidak dibarengi dengan semangat kesatuan.

Bangsa Indonesia rentan terhadap perpecahan yang disebabkan oleh perbedaan kultural. Betapa tidak, kita (Indonesia) terdiri atas macam-macam suku, berbicara dalam macam-macam bahasa, menjalankan adat yang berbeda pula. Belum lagi, kehadiran etnis pendatang seperti Tionghoa, Arab, dan India yang tinggal di sini. Bahkan, sebelum bangsa ini bernama Indonesia.

Pendidikan multikultural adalah alat untuk mencegah perpecahan yang dikuatirkan. Guru sebagai pendidik bertugas membimbing para siswa untuk memandang keaneka-ragaman yang ada dalam masyarakat kita tanpa prasangka-prasangka yang telanjur beredar dalam masyarakat.

PENDIDIKAN MULTIKULTURAl=PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan multikultural menjadi mudah andaikata cukup dengan menugaskan siswa membaca buku, membuat rangkuman, dan menulis esai. Sayang, metode-metode itu terbatas pada tingkat pengetahuan.

Kenyataannya, pendidikan multikultural bertujuan membentuk karakter generasi masa depan. Salmah Fa’atin, mengutip Djohar dalam Pendidikan Strategik..., mengkategorikan pendidikan karakter sebagai “the hidden curriculum” yang pencapaiannya bergantung lebih pada proses pendidikan. Berarti, karakter tidak dapat diajarkan pada para siswa karena bersumber dari pengalaman mereka. Oleh karena itu, harus dilatihkan.

Pelatihan dan pembiasaan dalam bimbingan guru serta orang tua lah yang berperan dalam membangun karakter bangsa.

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH

Siswa datang ke sekolah tidak seperti gelas kosong. Sebaliknya, mereka sudah membawa nilai-nilai yang dibawa dari rumah dan lingkungan mereka. Di antara nilai-nilai tersebut mungkin saja terselip prasangka-prasangka mengenai etnis, suku, dan agama. Prasangka-prasangka tersebut tentu tidak sejalan dengan ide persatuan bangsa. Hal ini bisa menjadi masalah ketika proses pengenalan nilai multikulturalisme di sekolah.

Bagaimanapun, pemikiran siswa bukan tanah liat yang dapat dengan mudah dibentuk guru. Hal yang dapat dilakukan adalah menyelipkan nilai-nilai multikulturalisme dalam proses belajar di sekolah.

Sebagai guru Bahasa Indonesia, Anda bisa meminta para siswa mengarang tentang lingkungan yang didiami berbagai macam karakter manusia dari suku yang berbeda (dengan memperhatikan EYD, tentu).

Bagi guru Sejarah mungkin Anda mau mengajukan pertanyaan, “Bagaimana jika para pemuda dulu bersikeras dengan perjuangan yang bersifat kedaerahan saja?”. Atau jika Anda mengajar Ilmu Sosial pertanyaan yang diajukan berbunyi, “Bagaimana jika Indonesia hanya ditinggali satu suku saja yang berarti hanya ada satu jenis budaya?” Pertanyaan seperti ini membantu siswa untuk memahami keanekaragaman bangsa sebagai anugerah.

Bila Anda guru Matematika, isu multikulturalisme dapat dengan mudah dinyatakan dalam soal-soal cerita mengenai bilangan, pengukuran, bahkan geometri (lihat saja bentuk-bentuk rumah adat yang beragam).

Hal serupa juga bisa dilakukan untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Kesenian, dan Ilmu Alam.

Cara lain adalah bercerita atau mendongeng. Ini memang cara yang sudah berabad-abad dilakukan para orang tua untuk menanamkan sifat-sifat terpuji pada anak-anak. Namun, bukan berarti cara ini sudah tidak efektif.

Dengan menyertakan gambar, boneka, gestik, dan mimik yang menarik, Anda bisa mendidik para siswa (terutama yang berusia TK dan SD) dengan cara yang menyenangkan.

Pendidikan multikultural tentu hanya berhasil bila guru juga memahami wawasan multikulturalisme. Dalam “Workshop Program dan Pembuatan Modul Pelatihan” di Banten dirumuskan kendala besar yang dihadapi penguatan kesadaran multikultural adalah akses informasi yang sulit dicapai guru. Akibatnya, guru kurang memahami makna multikulturalisme sehingga tidak sensitif terhadap masalah-masalah perbedaan dan kebhinekaan.

Kendala lain adalah guru yang mengalami lack of skill (misalnya, reality check). Akibatnya, mereka tidak mampu menciptakan pembelajaran yang menghargai perbedaan dan menghormati keragaman masyarakat.

Solusinya, tentu dengan mempermudah guru mendapatkan informasi dari media cetak maupun elektronik. Misalnya dengan menyediakan buku-buku rujukan dan koran di perpustakaan sekolah.

Bagi Guru-guru yang lebih mudah mendapatkan informasi, bisa lebih aktif untuk menerapkan multikulturalisme di kelas. Jika mungkin, turut menyebarkan virus multikulturalisme dengan rajin berbagi: menulis di blog, koran, dan majalah. Bahkan, berbicara di forum lokal dan nasional. Dengan begitu, rekan sejawat akan termotivasi untuk mencoba menerapkan cara pembelajaran yang senada multikulturalisme.

Setelah mengetahui pentingnya penerapan pendidikan multikulturalisme di Indonesia, satu-satunya yang harus dilakukan adalah memulai. Memang tidak mudah, apalagi bagi guru yang merupakan ujung tombak pembaruan ini.

Tidak mungkin begitu saja menata ulang pandangan dan sikap yang dibawa anak dari keluarga dan lingkungan sosialnya. Hal yang dapat dilakukan guru ialah memberitahukan kepada siswa, bahwa ada pandangan-pandangan sosial lain di samping pandangan sosial yang tertanam melalui pendidikan keluarga. Guru memperluas cakrawala siswa sehingga bisa membandingkan pandangan sosial yang satu dengan pandangan sosial yang lain. Jadi, langsungkan saja pembelajaran multikultural di sekolah Anda! TG

Mochtar Buchori
“Pendidikan Multikultural”, dalam Parasnews, Februari/2010.
disiapkan oleh Ade Febriani
Guru di Depok

Tulisan ini diterbitkan dalam majalah Teachers Guide edisi no. 10/ Tahun ke IV/2010. Dapatkan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Ketimbang kehabisan, silakan berlangganan. Sirkulasi: (Fleksi) 021-68458569, 0812 8242 801 . Selamat membaca!

November 07, 2010

Cover Story : GURU Naik Jabatan, Kenapa Tidak?


Dalam bidang pendidikan, Guru memegang peran terpenting. Ia tak hanya dituntut mampu mengajar, juga ’penanggung jawab’ moral anak. Menjadi Guru tak semudah yang dibayangkan.

Selama ini, sebutan ’pahlawan tanpa tanda jasa’ diberikan pada Guru, namun ironisnya kesejahteraan Guru terkadang tak sejalan dengan jasa Guru. Sebagai Guru pegawai negeri sipil atau pun swasta, Guru merupakan profesi yang tidak memiliki jenjang karir -- sangat berbeda dengan profesi pegawai lainnya.

Selama ini, karir sebagai kepala sekolah dianggap sebagai jenjang karir yang paling tinggi. Hal yang tak sepenuhnya benar. Kepmendiknas 162/U/2003 menjelaskan, kepala sekolah adalah suatu tugas tambahan bagi Guru. Dengan kata lain, seorang kepala sekolah haruslah tetap menjalankan profesinya sebagai Guru, yakni mengajar minimal 6 jam setiap minggunya.

Lalu, apakah berarti seorang Guru tidak akan mungkin atau sulit mendapat kenaikan jabatan layaknya pegawai lainnya? Mungkin saja.

Dalam buku Designing the Learning-Centred School karya Clive Dimmock, dituliskan bahwa dalam profesi Guru, penting adanya jenjang karir. Bain (1996) mengusulkan jenjang karir sebagai berikut:

* Intern; program yang diberikan kepada mahasiswa yang mengambil jurusan keGuruan.
* Graduate; merupakan tingkatan awal dalam jejang karier. Dalam jenjang karir ini, disertakan pula program 1 tahun untuk masa percobaan.
* Instructor; jenjang karir ini diperoleh setelah mengajar selama 3-5 tahun. Bila dalam kurun waktu itu seorang Guru mendapatkan nilai evaluasi yang memuaskan maka posisi ini dapat diraih.
* Teacher; didapatkan setelah mengajar selama 6 tahun atau lebih.
* Senior Teacher; posisi puncak dari jenjang karir seorang Guru. Seorang Senior Teacher harus mampu memberikan bimbingan dan merupakan peran utama dalam pengembangan karir Guru lainnya.

Idealnya, setiap jenjang karir mencerminkan perbedaan pada setiap tingkatan. Dengan demikian, seseorang yang baru memasuki tingkat awal dapat memacu diri agar dapat menempati posisi yang lebih baik.

Untuk mendapatkan Guru yang profesional, sudah selayaknya sekolah-sekolah mengadakan seleksi yang ketat. Para calon Guru harus dinilai dari segi kemampuan mengajar, kinerja serta potensi yang dapat mengembangkan sekolah. Upaya mengembangkan Guru yang profesional tak berhenti dalam tahap ini saja.

Dalam memperbaiki kinerja Guru, ada beberapa upaya yang sebaiknya dilakukan oleh para pengurus sekolah. Clive Dimmock mengusulkan agar para pengurus sekolah harus mengajak para Guru untuk selalu memperbaharui curriculum vitae mereka serta menerapkan sebuah sistem yang memuat setiap catatan seorang Guru. Dengan demikian, saat para penGurus sekolah mengadakan evaluasi kinerja Guru, mereka dapat menggunakan data, bukan opini subjektif.

Beberapa hal yang perlu diketahui seoang Guru dalam kegiatannya sebagai pendidik bangsa, yaitu:
* Pengetahuan tentang pedagogical; yakni memahami permasalahan secara mendalam, sehingga siswa dapat terbantu memahami permasalahan mereka.
* Pengetahuan tentang perkembangan siswa, agar terbentuk pengalaman belajar yang produktif.
* Pengetahuan tentang perbedaan siswa dalam hal budaya, inteligensi serta gaya belajar.
* Pengetahuan akan kemampuan agar murid dapat belajar secara efektif, termotivasi untuk terlibat dalam kegiatan belajar. Kemampuan untuk memvariasikan strategi belajar sesuai tujuan yang akan dicapai.
* Pengetahuan akan sumber kurikulum, termasuk bagaimana mengajak murid mengekspresikan ide-ide mereka dan me­nyusun informasi serta menyelesaikan masalah.
* Pengetahuan berinteraksi dengan murid, sesama Guru serta orang tua.
* Pengetahuan dan kemampuan untuk mengintrospeksi diri.

Idealnya, kegiatan sehari-hari para Guru tidak dapat dipisahkan dengan pengembangan profesionalisme mereka sendiri. Dalam kegiatan belajar-mengajar, baik pertanyaan maupun masalah selalu timbul.

Untuk mengatasinya, Guru akan menggunakan teori dan mengadakan penelitian untuk mendapatkan solusi. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan profesional bukan hanya aktivitas yang terbatas dalam suatu event tertentu, akan tetapi lebih pada kegiatan berkelanjutan.

Oleh karena itu, pengembangan profesional dapat diterapkan di mana saja. Hingga pada akhirnya, seorang Guru akan menjadi seorang pencerminan sejati, yang tak bosan belajar, bukan hanya sekedar event formal yang terorganisir.

Sampai saat ini, penghargaan atas prestasi Guru dipandang sebagai salah satu cara yang efektif dalam meningkatkan kinerja seorang Guru. Kesejahteraan Guru memang tidak dapat dipandang sebelah mata. Hal ini merupakan sebuah bentuk penghargaan bagi para Guru yang berprestasi sehingga dapat memacu semangat Guru untuk memberikan kontribusi pada sekolah.

Bukan jaminan, memberikan penghargaan dengan bentuk kenaikan gaji dapat menjamin seorang Guru akan lebih baik. Akan tetapi, memberikan penghargaan pada Guru dapat membantu sekolah meraih ekspetasi yang lebih tinggi dan juga menjaga agar para Guru tetap berkomitmen pada sekolah tempat mereka mengajar.

Dengan adanya jenjang karir, pe­ngembangan kinerja serta penghargaan, diharapkan para Guru di Indonesia menjadi Guru yang profesional. Hidup Guru Indonesia!TG

Astrinka Rizanti
Pengajar di Depok
Lulusan FIB UI - Diploma Sastra Perancis

Tulisan ini diterbitkan dalam majalah Teachers Guide edisi no. 10/ Tahun ke IV/2010. Dapatkan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Ketimbang kehabisan, silakan berlangganan. Sirkulasi: (Fleksi) 021-68458569, 0812 8242 801 . Selamat membaca!

Cover Story : TECHNOPRENEURSHIP



Di dunia ‘sana’, jauh dari negeri kita, badan dunia PBB dan ITU (International Telecommunication Union) melalui WSIS (World Summit on the Information Society)yang merupakan forum teknologi informasi dan komunikasi dunia, mencanangkan kesepakatan hingga tahun 2015, yang perlu kita telaah lantaran berkolerasi de­ngan pendidikan. Yaitu, kesepakatan untuk mengembangkan semua lini pendidikan dan teknologi informasi & komunikasi (TIK) termasuk perpustakaan, pusat kebudayaan, museum, kantor pos dan kearsipan.

Realita Sistem Pendidikan Indonesia

Apakah mutu dan sistem pendidikan Indonesia sudah bisa menjawab hal itu?

Sudahkah semua kurikulum mulai SD hingga PerGuruan Tinggi tersistem pada Teknologi Informasi dan Komunikasi? Pertanyaan lebih mendasar lagi: apakah para pendidik/Guru sudah menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi?

Realitanya, kalau pun kurikulumnya ada, tak dilengkapi sarana. Program pendidikan gratis dari Pemda yang melarang pungutan kepada siswa, menjadi alasan untuk tidak melaksanakan program pembelajaran praktek berbasis TIK yang memadai.

Guru pun tak sepenuhnya menguasai TIK. Bahkan untuk sekedar mengoptimalkan komputer untuk menuliskan ide/gagasan belum dikuasai. Apakah hanya bisa menyalahkan pemerintah yang tak menyediakan sarana dan kesempatan belajar?

Kompetensi Technopreneurship

Guru yang memiliki jiwa Technopreneurship (teknologi dan jiwa kewirausahaan) adalah mereka yang selalu melakukan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis teknologi dan kewirausahaan. Kompetensi TIK saat ini sudah bukan menjadi kewajiban, melainkan kebutuhan. Penguasaan TIK akan sangat membantu proses pembelajaran dan pengembangan karir ke depan.

Dasar kewirausahaan Guru masa depan:
* Visi, Misi & Manajemen Diri
Guru, dalam pemahaman lebih personal, harus pula memiliki visi misi yang jelas serta manajemen diri yang terukur dan terstruktur.
Sebagai contoh, seorang Guru yang memiliki visi misi menjadi penulis, maka dia akan berupaya mengikuti kegiatan workshop menulis.

* Membangun Brand
Brand atau merek adalah kesan yang kuat dalam pikiran orang lain pada produk, jasa ataupun individu (Eleri Sampson, Build Your Personal Brand). Sebagai Guru pun harus dapat membangun ‘merek’ yang istimewa di hadapan murid, orang tua sesama profesi Guru ataupun pihak atasan.

Dalam konsep Marketing Strategy (Strategi Pemasaran) perusahaan, dikenal istilah STP (Segmentation, Targeting & Positioning). Konsep ini dapat pula diimplementasikan untuk mengembangkan karir dan masa depan Guru, dengan pemahaman sebagai berikut:

Segmentation, seorang Guru sejak awal sudah harus menentukan kompetensi apa yang akan menjadi prioritas, menentukan pihak-pihak yang akan berhubungan dengan diri, serta prioritas kegiatan yang akan diikuti sehingga mendukung proyeksi masa depan.

Targeting, setiap Guru harus memiliki tujuan/goal dan tahapan-tahapan target yang jelas.

Positioning, seorang Guru sejak awal dapat memahami posisi saat ini, dan harus melakukan apa memposisikan diri ke depan; sebagai peneliti, penulis buku/artikel, atau pemimpin bagi diri, kelas, kelompok, sekolah, group sekolah, dan sete­rusnya.

Guru yang berkemampuan “TECHNOPRENEURSHIP” (Teknologi dan Jiwa Kewirausahaan), tak akan pernah ketinggalan jaman, karena semua informasi dapat diakses dan dianalisa terlebih dahulu sebelum karyanya diterbitkan.

Pertanyaan selanjutnya? Sudahkah Guru memiliki kemampuan daya analisa yang memajukan kemanusiaan tertinggi sebagai manusia? Di tengah kemajuan teknologi, kemajuan diri sebagai manusia tetaplah menjadi yang utama.TG

Mustafa, ST., MM
Direktur LKP SmarTech Semarang
www.mysmartech.blogspot.com

Tulisan ini diterbitkan dalam majalah Teachers Guide edisi no. 10/ Tahun ke IV/2010. Dapatkan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Ketimbang kehabisan, silakan berlangganan. Sirkulasi: (Fleksi) 021-68458569, 0812 8242 801 . Selamat membaca!

Cover Story : Ngangsu Kawruh = Menimba Ilmu


Bukan sekedar adu kata. Istilah bahasa Jawa harus diakui kaya makna, sarat petuah, penuh kesan filsafat mendalam. Mungkin sudah luput dari ingatan kita, kala orang menimba air dari sumur, jika terburu-buru, air dalam ember timba akan tumpah dan hanya sedikit yang bisa dituang. Berbeda jika ditimba dengan hati-hati.

Sekolah, kini tak lagi sama artinya dengan menimba ilmu. Makna yang tersurat lebih pada kegiatan terstruktur yang harus diikuti secara tertib oleh siswa. Guru pun harus tertib membangun perencanaan sesuai yang sudah diputuskan. Bentuk keluaran (output) nya adalah serombongan siswa berprestasi ini itu, dengan pencapaian angka segini-segitu, dan bisa menjadi ini-itu.

Masyarakat lantas bertanya: “Sekolah di mana? Kelas berapa? Senang nggak sekolah di sana?“ Sederet pertanyaan-pertanyaan standar yang diajukan pada anak, yang diasumsikan sudah ‘sepantasnya’ seusia sekolah. Itu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di mana-mana dan oleh siapa saja.

Pernahkah, di jaman sekarang orang mengajukan pertanyaan ,“Belajar sama siapa?” Rasanya tidak lagi, karena hal itu menjadi tidak lumrah. Kata ‘sekolah’, seolah sudah merepresentasikan sebuah paket kebutuhan pendidikan, termasuk para gurunya. Di dalam sekolah yang katanya berkualitas, pasti terdapat barisan guru yang berkualitas juga. Sayangnya, tidak selalu!

Para orangtua jaman dulu mengirimkan anak-anaknya belajar pada orang yang dianggap memang ‘mumpuni’ (kompeten) menjadi guru, luar dalam. Alam pikiran guru diyakini akan memancing daya pikir dan daya-daya lain, sehingga anak akan mendapat bekal lebih untuk menghadapi kehidupannya. Survive dengan kapasitas dan potensi pribadinya. Tuntas menimba ilmu pada satu guru, ia akan dikirim atau pergi ke guru lain ….

Ingat Chinmi (kungfu Boy)? Ia pergi dari satu kuil ke kuil lain untuk semakin mengasah ilmunya, caranya dengan menimba lagi di alam pikir (sumur) guru yang berbeda. Kuil Dairin, kuilnya yang pertama, memberinya bekal yang mendasar. Namun belum tentu teruji bisa membekali seutuhnya. Oleh karena itu, ia perlu berkelana menambah ilmunya.

Analogi cerita si Chinmi di atas, secara hakekat, setiap manusia akan melepas dahaga keilmuannya dengan mencarinya: menggali lebih dalam, mempertanyakan lebih lanjut, dan mencari lebih lanjut. Demikian, berputar. Sehingga dari hipotesis (pertanyaan) menjadi sebuah konsep (teori) yang akan terus diuji sehingga bisa jadi si teori menjadi sebuah pertanyaan baru.

Setiap anak manusia memiliki perangkat ‘primitif’ untuk survive, bagaimana pun caranya. Perangkat itu menjadi begitu unik dan bersifat pribadi, sehingga perlu kehati-hatian guru/pembimbing/tutor dalam memperlakukannya. Dengan perangkat alamiah itulah -yang bisa juga disebut potensi pribadi- (kecerdasan alamiah yang sangat beragam), anak akan memuaskan rasa haus ilmunya.

Ilmu apa yang dibutuhkan akhirnya menjadi sangat pribadi pula. Tugas guru adalah membantu memberikan alat dasar untuk mencari apa yang ingin diketahuinya. Alat belajar itu, secara mendasar adalah kemampuan 3R + 1R, yaitu Reading (baca), ‘Riting’ (tulis), ‘Rithmetic’ (berhitung), dan Reasoning (penalaran). Keempat kemampuan dasar tersebut, yang seringkali disebut sebagai kemampuan akademis dasar. Ini adalah lahan yang perlu diolah di sekolah oleh para Guru. Sehingga Guru berfungsi untuk menumbuhkan Successful Intelligence (Sternberg) - dengan berbasis keterampilan Empat (4) R tersebut.

Empat R tersebut adalah alat penting untuk belajar. Empat R adalah alat, bukan semata-mata tujuan. Oleh karena alat, maka selayaknya sebilah pisau, alat tersebut perlu diasah agar tajam. Empat R perlu terus diasah agar menjadi tajam pula, sehingga menjadi krusial tentang : apa yang dibaca, apa yang ditulis, apa yang dihitung, serta apa dan bagaimana menganalisis segala sesuatu. Ini menjadi tugas esensial Guru/pembimbing atau tutor: membantu menimba air sumur. Tak ada sumur yang habis airnya ketika terus menerus digali. Bahkan makin dalam.

Kembalilah mendalami makna ngangsu kawruh, menimba ilmu. Bukan sekedar mengirim anak sekolah … . TG
Ria Restanti Natalisa
Koresponden Teachers Guide, di Yogyakarta, dan mengikuti program S-2 Psikologi UGM

Cover Story : PERUBAHAN PENAMPILAN dan PROSES KEHIDUPAN


Pada masa liburan, marak undangan dan ide reuni. Dari mantan teman SD hingga perguruan tinggi, atau kelompok dan gank tertentu. Yang unik dari setiap reuni adalah serunya mengingat kejadian dan perilaku di masa lalu. Acara reuni makin syahdu dengan kehadiran mantan Guru. Secara muka, sama tuanya dengan mantan muridnya yang kini telah berkiprah di berbagai dimensi kehidupan.

Nostalgia …

Ada yang masih menampakkan kesamaan dengan penampilannya dulu. Selebihnya adalah sebuah perubahan. Tubuh makin tambun, rambut memutih, keriput, kaca mata plus, dan tanda-tanda ketuaan yang tak bisa dihindarkan.

Di tengah pekik sorak kegirangan, di tengah tawa canda yang meleburkan lorong waktu, perubahan yang membedakan performa adalah status dan posisi serta predikat yang melekat. Si Fulan yang dulu belet banget matematika, kini jadi dokter. Si Andi yang dulu pemalu , kini menjadi kurator seni. Si Upik yang dulu lincah, kini menjadi konsultan pajak. Pedro, yang sempat tak naik kelas, kini memiliki perusahaan media. Beragam jabatan dan posisi menunjukkan kompetensi yang dimiliki. Hampir semua pekerjaan yang kini ditekuni tak diprediksi sejak di bangku sekolah.

Faisal, tukang ngerjain teman wanita, suka bolos, kalau jajan di kantin ngebon melulu, pulang sekolah ngadu ayam…., kini jadi Guru teladan! Semua rekaman masa lalu jadi menggelikan.

“Lho ini kan Ika, dulu matematika mu selalu di bawah enam. Sekarang jadi dokter,”kata Erni yang dulu selalu ranking satu. “Jadi dokter nggak perlu pinter matematika!” kelakar Ika. Erni pun nyengir – ia ibu rumah tangga yang kerap menyambangi tempat belanja baru dan ikut kursus kebugaran tubuh. Ke mana kiprah ranking satu yang sejak dulu dibanggakan?

Agus yang dulu sangat hafal nama-nama menteri kabinet, lapangan terbang, sunan-sunan dan ibukota negara sedunia, kini menjadi event organizer musik yang menyediakan pemain keyboard hingga penyanyi. Agus sendiri bertindak selaku pembawa acara yang fasih Jawa kromo inggil, lengkap dengan segala komentar dan petuah penuh makna.

JELAS INI ADALAH SEBUAH PERUBAHAN

Perjalanan kehidupan dan pendewasaan diri, ditentukan oleh lingkungan. Penampilan dan kebiasaan di SD bisa saja menjadi clue atau petunjuk, ke mana kaki kan melangkah. Namun selebihnya adalah sebuah proses. Sekolah lanjutan dan vokasional yang dipilih, juga tak selamanya menjadi pengantar kedudukan saat ini. Proses mencari potensi diri yang tak seimbang dengan sistem pengajaran yang melulu hanya mencecer ranah akademis, disinyalir menjadi biang keladinya.

Kita yang kini berkiprah di dunia pendidikan, melihat praksis pendidikan di sekolah masih terbelenggu kendali mutu dari otoritas tunggal. Anak tetap diukur dan dibandingkan satu sama lain dengan angka dan achievement kognitif.

Berbagai perubahan untuk mengembangkan kemampuan emosi dan kepemimpinan diri belum mampu menggoyahkan keyakinan akan kecerdasan kognitif sebagai penentu kesuksesan masa depan.

Kita, yang saat ini menjadi praktisi pendidikan, berbekal kenyataan pada saat reuni itu, mestinya bisa melihat sebuah fenomena menarik. Ilmu yang dibekalkan, bilamana tak memberi manfaat secara kontekstual pada kehidupan sehari-hari, akan menguap saja.

Penentu keberhasilan kemudian akan bergeser pada kemampuan seseorang mengadaptasi lingkungan dan sumber daya yang tersedia. Puncak tertinggi dan esensi terpenting dalam pendidikan manusia adalah moralitas, integritas dan orisinalitas. Semua ini akan dicapai melalui proses yang bukan melulu mencecar ranah akademis. Pendewasaan jati diri dan pendidikan kehidupan yang toleran pada perbedaan, menghormati tetua, menghargai karya orang lain, adalah sebuah keniscayaan yang akan mengantarkan kehidupan menjadi lebih harmonis.

Apa pun profesi dan jabatan, jika hanya berhenti pada kebanggan pencapaian gelar, tak ayal hanya memberikan kontribusi ekonomis. Mereka yang dibesarkan dengan cinta dan penguatan emosi, kultural, dan nilai-nilai kehidupan, akan lebih menonjol kreativitasnya. Kalau jadi dokter ya dokter yang tak lelah mencari solusi dan perbaikan kesehatan, bukan hanya terima bayaran dan puas. Yang jadi konsultan teknik akan memikirkan temuan canggih yang membantu kemudahan manusia menyelamatkan lingkungan, yang jadi seniman terus menghasilkan masterpiece pada karya-karyanya.

Saat ini, demi masa depan, tak usah memaksakan ketercapaian pada bidang tertentu. Beritakan kabar gembira ini pada para orang tua, tak usah terlalu risau jika nilai rapor tak menggembirakan. Hal itu tak akan mempengaruhi masa depan anak. Kemampuan mengelola dimensi kehidupan yang lain membutuhkan kekuatan jati diri yang kuat. Ini yang lebih menentukan. Tambahkan materi yang lebih substantive. Karakter, leadership, entrepreneurship, dan penguatan potensi diri.

Akhirnya, integritas, moralitas dan orisinalitas ini yang akan membawa kesuksesan dan kebahagiaan dan manfaat terbesar bagi orang banyak, sebagai substansi kehidupan.

Bersiaplah membangun kebanggaan diri sebagai pencetak masa depan anak. Saat reuni anak didik nanti, akan kita buktikan! Berani bertaruh?TG

Tulisan ini diterbitkan dalam majalah Teachers Guide edisi no. 10/ Tahun ke IV/2010. Dapatkan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Ketimbang kehabisan, silakan berlangganan. Sirkulasi: (Fleksi) 021-68458569, 0812 8242 801 . Selamat membaca!

Cover Story: Seberapa Banyak Upaya Pengembangan Diri Anda?

Penuturan Aidha Zalidhar Mirza

Aku berhasil menjadi sarjana pendidikan. Setelah itu, mulailah aku berjuang mencari ladang pekerjaan.

Awalnya, sebuah Lembaga Pendidikan Guru setara D1 memanggilku menjadi dosen. Lantas beberapa lamaranku direspon menjadi Guru sekaligus kepala sekolah di taman Kanak-kanak. Orangtuaku sedikit kecewa dengan pilihanku menjadi Guru TK. Mereka khawatir aku tidak bisa berkembang karena mengajar di TK itu mestinya tidak harus sarjana!

Kugeluti pengalamanku, hingga kutemukan diriku makin jatuh hati pada profesi pendidik, yang mengasah kematangan sosial emosiku sebagai Guru. Kutemukan makna proses pembelajaran, dan yakin, siapa yang sungguh-sungguh menuntut ilmu, akan ditinggikan derajat kehidupannya kelak.

Tak jarang aku nekad mengalokasikan semua gajiku sebagai Guru demi upaya mengejar ilmu dan kepuasan. Aku pernah hengkang dari sekolahku demi meraih ilmu dengan mengikuti pelatihan intensif.

Aku pun tak segan menyisihkan sebagian besar penghasilanku setiap bulannya untuk membeli buku, berlangganan majalah, dan membeli peralatan teknologi penunjang informasi untuk meng-up grade diri.

Berkunjung dari satu sekolah ke sekolah lainnya, dan ambil S2 marketing dan pendidikan di Ma’had, berbarengan dengan aktivitasku mengajar mahasiswa dan sesekali memberikan pelatihan Guru di kalangan terbatas.

Saat penghasilanku satu juta rupiah sebagai Guru di tahun dua ribu, 1/3- nya kujatah untuk berinvestasi membeli buku atau mengikuti pelatihan. Itu pun setelah dikurangi zakat profesi sebesar 2,5%-10%. Jadi secara matematis aku memiliki anggaran untuk pengembangan diri secara rutin antara Rp.200.000- Rp.250.000/bulan. Dua per-tiganya lagi kugunakan untuk memback up keperluan rumah tangga. Suamiku berwirausaha.

Kekuatan ilmu dan doa terus mengangkat kehidupan kami keluar dari celah kesulitan lewat tawaran di luar sekolah, memberikan pelatihan Guru, mengajar freelance, menulis artikel di media cetak, membuatkan konsep kurikulum.

Dukungan moril dan doa teman, keluarga, juga para Guruku di sekolah ‘natural school’ di Depok, termasuk pimpinan lembaganya yang begitu giat memompa semangat kami untuk terus berubah dan berbenah diri.

Kini aku memangku jabatan sebagai Kepala Bagian Pendidikan sebuah sekolah di Bekasi, yang bertanggung jawab penuh terhadap pengembangan mutu Guru dan siswanya. Dituntut untuk bisa tampil optimal.

Nyatanya tidak mudah bagiku membentuk karakter Guru pembelajar di sekitarku. Aku harus menjadi sosok Guru teladan bagi yang lain, yang secara langsung dituntut menjadi ‘oase ilmu’ bagi teman-teman Guru dan kepala sekolah.

Aku kembali bergelut mencari beragam pelatihan terkait pengembang¬an mutu pembinaan Guru, seperti pelatihan motivasi, kepemimpinan, hypnoteaching, hypnoparenting, Guru berkebutuhan khusus, bahasa Inggris, metode akselerasi pembelajaran hapalan dan membaca, pelatih¬an cepat menghapal Al Qur’an, pelatihan IT, bedah kurikulum internasional, newskill teaching, menulis, mendongeng, pelatihan untuk menjadi pelatih Guru, dan beragam judul pelatihan yang nyaris setiap bulan aku kejar dengan anggaran sepertiga gaji.

Investasi yang kukeluarkan dengan ikhlas sebagai niat keilmuan, sering tergantikan dengan tak terduga, dengan pendapatan berlipat. Peluang memenangkan kompetisi coba kuraih.

Tahun 2009, Allah mengizinkanku menjadi pemenang pertama lomba mendongeng Guru tingkat nasional yang diselenggarakan ‘Toyota Bercerita’. Semua mata media meliputku. Aduhaiii … senangnya aku.


Sebuah jalan baru menjadi Guru yang bukan sekedar Guru. Aku bukan ‘guser‘ (Guru mengejar sertifikat) yang mengikuti pelatihan ha¬nya untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya sertifikat.

Kini makin banyak aku melihat teman-temanku mengembangkan diri, mengasah diri, menjadi Guru plus. Guru plus penulis, Guru plus da’i, Guru plus musisi, Guru plus pedagang, Guru plus pelatih, Guru plus koordinator Guru, Guru plus mana¬ger, Guru plus les privat/bimbel, Guru plus seniman, Guru plus konsultan pendidikan, Guru plus lainnya.

Secara teori, kuingat syarat agar pengembangan diri dapat dilakukan. Open head, open mind, yang siap mendengar, berfikir dan belajar dari mendengar, melihat, serta menelaah persoalan yang dihadapi. Perlu sikap terbuka dalam pemikiran, wawasan, motivasi untuk berbenah dan berubah lebih maju.

Open heart, yakni sosok Guru yang siap dikritik dan dikoreksi tidak hanya oleh pimpinan, rekan kerja, tetapi juga oleh murid dan siapapun agar tercapai perbaikan diri yang positif secara terus menerus.

Open hand, yakni sosok Guru yang siap membantu dan memfasilitasi diri dan sekelililingnya. Ketrampilan mencari solusi. Mau bekerja keras tanpa rasa gengsi atau iri hati.

Kuingat kata Paulo Fraire, bahwa Guru kaya senantiasa berfikir terbuka, bersikap asertif, bertindak proaktif dan memiliki mental pemenang. Dengan begini, pengembangan diriku bukan hanya mengalir, melainkan melompat, terjun, berenang dan menang.TG

Aidha Zalidar Mirza, S.Pd, M.M

Head of Education AL HANIEF CREATIVE SCHOOL (PlayGroup/Kindergarten/Elementary), trainer pendidikan anak usia dini DIKNAS 2009.
Juara I lomba Toyota Bercerita 2009,
Juara III SEKOLAH SEHAT tingkat SD se-Jawa Barat 2007,
kontributor portal pendidikan www.indosiar.com.

Tulisan ini diterbitkan dalam majalah Teachers Guide edisi no. 10/ Tahun ke IV/2010. Dapatkan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Ketimbang kehabisan, silakan berlangganan. Sirkulasi: (Fleksi) 021-68458569, 0812 8242 801. Selamat membaca!