Sebuah fakta dan data disajikan oleh Sukro Muhab, ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) di seminar yang diadakan oleh SiMAk Bangsa, sebuah komunitas yang sangat peduli pada urgensi pendidikan karakter.
Korupsi:
* Dana BLBI yg diselewengkan: Rp. 130,6 trilyun
* Subsidi rekap bank: Rp. 40 trilyun
* Kebocoran APBN 30%
* Pencurian kayu: Rp. 90 trilyun
* Pajak digelapkan : Rp. 240 trilyun
Indikator Kehancuran Moral :
* Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
* Penggunaan kata-kata kasar dan buruk
* Tumbuhnya geng-geng/premanisme
* Meningkatnya perilaku menyimpang/merusak
* Semakin kaburnya pedoman moral
* Menurunnya etos kerja
* Semakin rendahnya rasa hormat pada orang tua dan guru
* Rendahnya rasa tanggung jawab invidu dan warga negara
* Membudayanya perilaku ketidakjujuran
* Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama
Dasar-dasar Pendidikan Moral
Sesungguhnya ajaran agama mengajarkan kebaikan. Contohnya adalah pada ayat ini:
1. Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah yang fitrah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Al Quran -Ar Rum:30)
2. Dalam tubuh terdapat sepotong daging, apabila ia baik maka baiklah badan itu seluruhnya dan apabila ia rusak, maka rusaklah badan itu seluruhnya ... Hadits Bukhari Muslim)
Tujuan Pendidikan Nasional (UUD,UU, PP) juga telah mengundangkan perlunya pendidikan secara menyeluruh atau integrated holistic education system. Realitanya, pendidikan masih berkutat pada pemberian bekal agar lulus Ujian Nasional, atau lulus seleksi mahasiswa baru.
Proses menumbuhkan keimanan, ketaqwaan, serta akhlak mulia sangat penting, tapi terabaikan. Tujuan pendidikan itu jelas menjadi terabaikan!
Persoalannya, apakah buku-buku pelajaran ada mengkaitkan materi sains dengan aspek keimanan & ketaqwaan? Tampaknya belum.
Apakah ada guru yang bisa mengkaitkan itu? Tampaknya belum semua Guru bisa. Apakah guru mau mengkaitkan materi pelajaran dengan aspek keimanan dan ketaqwaan? Belum semuanya mau.
Seriuskah Depdiknas melaksanakan amanat seperti tertuang dalam Tujuan Pendidikan Nasional, fungsi dan tujuan dalam Kurikulum KTSP? Tampaknya kurang serius.
Kalau begitu, apa saja hasil pembelajaran di sekolah? Tampaknya hanyalah: pengetahuan tentang materi dan sedikit keterampilan laboratorium/berbahasa. Apa dampak selanjutnya? Terciptanya generasi yang menganggap bahwa antara ilmu dan agama/moral tidak ada kaitan sama sekali.
Dalam memanfaatkan ilmu sama sekali tidak mengindahkan etika agama, moral dan kemanusiaan. Bangga dengan ilmu yang dikuasainya sehingga dia tidak mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Kuasa.
REKOMENDASI
Perlunya pembelajaran terpadu antara ilmu dan agama digunakan sebagai alat untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa.
Kapan mata pelajaran dapat digunakan sebagai alat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan tersebut?
Apabila kegiatan pembelajaran dapat menumbuhkan kesadaran bahwa:
1. Menutut ilmu itu wajib hukumnya, sedangkan ilmu yang kita pahami itu amat sedikit.
2. Mengantarkan siswa mengenal kebesaran Allah SWT.
3. Mengantarkan siswa untuk pandai bersyukur pada Allah SWT.
4. Mengantarkan siswa untuk patuh dan takut pada Allah SWT.
5. Mengantarkan siswa untuk menjadikan segala ciptaanNya sebagai fakta & data
pengembangan Ilmu.
6. Perintah dan ketetapan Allah SWT betul-betul bermanfaat bagi kita.
Yang terjadi di kelas, pembelajaran tidak menyentuh pada fakta faktual yang menjadi persoalan bangsa. Misalnya, pentingnya energi aktivasi. Apa yang terjadi seandainya tidak ada energi aktivasi?
Suplai oksigen (O2) di udara akan menipis atau oksigen habis sama sekali karena bereaksi dengan gas-gas yang lain. 2H2(g) + O2(g) → 2H2O(l) ΔG = -237,2 kJ/mol.
Contoh ini membangkitkan kesadaran kita, bahwa apa ketetapan Allah SWT adalah yang terbaik bagi kita. Kesadaran bahwa larangan-larangan yang ditetapkan oleh Allah SWT betul-betul bermanfaat bagi kita. Misal, larangan minum minuman keras.
Mengapa? Coba kaitkan dengan reaksi kimia. Bagaimana caranya memunculkan kesadaran akan kebesaran dan rasa syukur pada Allah SWT? Dengan memahami ilmu secara mendasar dan tepat (tidak terjadi salah konsep).
Contoh, pemahaman tentang air. Kita tahu, molekul air dapat berhidrogen antarmalukis molekul. Pada air, molekul-molekul membentuk ikatan hidrogen antarmolekul. Apa pengaruh ikatan hidrogen?
Pada suhu ruang, air berwujud cair. Bagaimana kalau antar molekul air tak ada ikatan hidrogen? Pada suhu di bawah 100ºC, air sudah mendidih. Bayangkan, tak akan ada organisme yang dapat hidup di bumi.
Misal, makanan. Apa yang terjadi seandainya padi mogok berbuah? Untuk dapat sepiring nasi, terpaksa kita mensintesisnya di laboratorium –tapi nyatanya kita belum bisa mensintesis nasi!
Seandainya pun bisa, pasti sepiring nasi akan sangat sangat mahal. Untuk dapat hidup, kita sangat tergantung pada rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT! Nah, masih banyak contoh lain. Burung, bila kelebihan makannya disimpan sebagai karbohidrat, ia makin bertambah gemuk sehingga tak ada satu pun yang bisa terbang.
Ada keteraturan pada alam semesta: bumi mengedari matahari sehingga malam dan siang silih berganti. Suhu bumi menjadi tidak ekstrim sehingga nyaman dihuni manusia, hewan, dan tumbuhan.
Bagaimana kalau malam terjadi terus-menerus? Atau siang terus? Bagaimana dengan keteraturan dalam metabolisme makanan di tubuh kita? Bila makanan kita di dalam tubuh langsung dibakar menjadi CO2 dan H2O, satu piring nasi sudah cukup membakar habis seluruh tubuh!
Allah telah memberi perintah: makan makanan yang baik dan bergizi. Persoalannya: dapatkah guru-guru menyiapkan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan keimanan/ ketaqwaan siswa? Pasti dapat.
Cara Mengembangkan Pembelajaran Berbasis Keimanan dan Ketakwaan:
(1) Banyak belajar baik materi pelajaran yang diampu ilmu agama.
(2) Mengamalkan perintah semua perintah Allah.
(3) Menjauhi semua larangan Allah.
(4) Dapat menjadi tauladan bagi siswa.
(5) Menyadari profesi guru itu amal da’wah.
Coba renungkan, banyak materi kita ajarkan, tapi tak menyentuh sendi pembentukan karakter. Fakta di atas kiranya jangan menjadi wacana belaka tanpa upaya menjadikan siswa lebih baik. Jadi, yang kita lakukan sebagai Guru di depan kelas, amat berkaitan dengan persoalan bangsa? Sukro Muhab (juga kita semua mestinya) amat prihatin dengan keadaan ini.
Beliau tak hentinya bergerak ‘memasarkan’ pentingnya sekolah mengadopsi segala materi ajar agar berkaitan dengan pembentukan karakter siswa, karakter bangsa!TG
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569
Tampilkan postingan dengan label Yayasan SiMAk Bangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yayasan SiMAk Bangsa. Tampilkan semua postingan
Desember 09, 2009
November 13, 2009
DARI GURU NYASAR MENJADI GURU BENAR

Mengajarkan Siswa Memiliki Karakter yang Baik!
Sebuah Kritik untuk para Guru.
Halo para Guru, Anda berada di mana? Menjadi GURU DASAR, GURU NYASAR, GURU BAYAR atau GURU BENAR?
Pada sebuah pelatihan pembentukan karakter yang dilangsungkan oleh Yayasan SiMAk Bangsa (Sinergi Membangun Anak Bangsa) di Hotel Sultan Jakarta, seratusan Guru mengikuti paparan Mashuri, seorang ‘Guru Benar’ asli Sidoarjo.
Konteks ini disambungkan dengan persoalan hancurnya kejujuran bangsa, yang sangat tampak melalui pelaksanaan Ujian Nasional yang dipenuhi tidakjujuran mencengangkan. Meski kini banyak terdengar sekolah mengadopsi nilai-nilai character building (CB), alih-alih menjadikan siswa berperilaku patut, sering hanya sebatas jargon ‘jualan’ sekolah agar tampak up to date.
Kriktik Pak Mashuri yang penampilannya ‘sangat guru’ -kurus, rambut belah pinggir, kemeja agak kebesaran (ini pengakuan sendiri lho), sangat mendasar. Mashuri membongkar komitmen dan keberadaan eksistensi Guru : mau jadi Guru Dasar, Guru Nyasar, Guru Bayar, atau Guru Benar? Banyak peserta mesem-mesem, mengukur diri ada di posisi mana ya saat mendengar uraian Mashuri.
Guru Dasar. ”Sejak lahir sudah ada ‘cap’ di kening kelak menjadi Guru. Guru adalah cita-cita sejak kecil. Ditempuhnya jurusan kependidikan. Secara fisik, biasanya berpostur kurus kecil, rambutnya belah pinggir, sederhana, ada aura Guru memancar. Meski sudah berpetualang jadi pegawai, kerja serabutan, caleg, pilihan akhirnya kembali ke sekolah.”
Guru Nyasar. “Tidak bercita-cita jadi Guru, terpikir pun tidak. Latar belakang tak bersentuhan dengan keguruan. Yang terpikir justru: ‘orang pandai tak ada yang mau jadi Guru!’. Nyasar masuk IKIP gara-gara tak diterima di PTN pilihannya. Ini nyasar, tapi di jalan yang benar! Ketika akhirnya mengajar di muka kelas, ia meluruskan niat sejalan dengan waktu.”
Guru Bayar. “Nah, mereka ini sibuk menghitung bayaran. Bisa saja sukses berkarya jadi Guru, namun tergantung besaran bayaran. Golongan ‘pas bandrol’, datang-pulang sesuai jam. Sering juga mencuri jam pulang guna ‘nyambi’. Kalau ketambahan tugas, berhitung antara waktu dan doku. Waktu tersedot les anak-anak, hingga tak cukup belajar. Karena ’itung-itungan’, rejekinya pun dipas-paskan Tuhan yang juga ikut berhitung. Jika ikhlas jadi Guru, sesungguhnya Tuhan membuka pintu rejeki dari jalan lain – berjodoh orang kaya, tinggal di mertua indah...” Selorohnya.
Guru Benar. ”Meski awalnya nyasar-nyasar, ia kemudian bergerak menuju Guru Benar. Di sekolah saya, semua guru dibina menjadi guru benar. Guru wanita, misalnya, perlu tahu persis kapan jadwal menstruasi siswa wanita. Bila perlu Guru menyediakan sampoo dan handuk agar bisa berhadas besar dan ikut olahraga. Guru model ini selalu berusaha memberi yang terbaik. Penampilannya baik, tak lugu. Cenderung malah vokal memperjuangkan sesuatu. Niatnya lurus, dan merasa BAHAGIA menjadi guru.” Demikian pesan Pak Mashuri.
Pendidikan Karakter
dan Persoalan Bangsa
Karakter bangsa lahir dari karakter sekolah, yang dilahirkan oleh karakter kelas. Ketika kekalahan perang melanda negaranya, seorang presiden AS John F Kennedy mengatakan: “What's wrong with our classroom?”
Kalah perang disinyalir berawal dari persoalan di ruang kelas. Seorang anak beruraian air mata mengingat ayah bertugas militer di Irak. Ia sangat kangen. “Seandainya saja semua orang di dunia diajarkan cara menjalankan kehidupan seperti yang diajarkan di A.B.Combs (sebuah sekolah sarat pelajaran kehidupan – seperti yang diceritakan dalam ‘Leader in Me’, Stephen R Covey- red ) pasti ayah saya tak berada di Irak.”
Berkarakter itu hasil dari sebuah proses pendidikan. Apakah sertifikasi Guru bisa menjadi pisau pemotong antara guru baik dan guru tak baik? Mau pilih mana, menjadi guru baik atau guru pintar? Dua-duanya.
Paradigma yang Sengaja Dihancurkan
Menurut Mashuri, jelas ada masalah di sistem pendidikan kita. Kalau ingin anak berkarakter, Guru pun harus berkarakter baik. Apakah Guru disiapkan untuk itu? Masalahnya adalah pada kepribadian dan moral guru.
“Pernahkan ketika akan lulus didoktrin menjadi guru berkarakter? Tak pernah diajarkan! Mestinya selama 4 tahun belajar di kampus, ini digarap! Menjadi karakter guru yang siap mengajar, siap mendidik, siap berdakwah (hal yang benar) dan siap berkembang,” jelas Mashuri.
Untuk mendapat guru yang baik, sekolah harus mendidik sendiri gurunya. Memang tak ada Guru yang siap pakai -- guru pintar saja banyak! Di sekolah hebat, para Guru itu dilatihkan terus-menerus, bukan bentukan produk pendidikan formal atau pemerintah (maaf-red).
Sikap jelek seorang Guru, melontarkan sikap bullying, suka marah, lalu menghukum, membandingkan orang, serta kurangnya rasa peduli, kasih sayang dan kemanusiaan. Jangan jadikan siswa pintar otaknya namun jiwanya gelap! Penampilan jelek guru, busana tak serasi, sepatu berantakan, tampil lesu, mestinya sudah tak ada lagi. Benahi kelas terlebih dulu, sebagai wadah melesatkan potensi siswa. Mutu sekolah adalah mutu guru, BUKAN mutu siswanya.
Terhadap sikap belajar, pada seminar itu pegiat anti bullying Dhiena Haryana menegaskan, seleksi dan perangkingan nilai siswa sejatinya adalah bullying terselubung. Katakan pada siswa “Kamu boleh tak mendapat ranking (jika sekolah masih menganut ranking). Yang tak boleh adalah TIDAK BELAJAR!”
Jangan menghancurkan sikap respek dan kepedulian. Di raport siswa, keterangan ini: “Angka-angka ini adalah indikator sementara. Tak boleh dilecehkan. Jika hasilnya belum seperti harapan, masih banyak potensi penting lain yang perlu diperhatikan.”
Sahabat Guru, renungan ini semoga mendorong membenahi karakter kita agar patut berdiri di muka kelas. Bersiaplah bertranformasi dari Guru Nyasar menuju Guru Benar!TG
Juni 10, 2009
YAYASAN SIMAK BANGSA : LAUNCHING DAN DEKLARASI PENDIDIKAN BERKARAKTER
DEKLARASI DAN REKOMENDASI
PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI LANDASAN KEBANGKITAN ANAK BANGSA
Kami mewakili sekelompok anak bangsa yang memiliki keprihatinan pada kondisi pendidikan di tanah air, menyatakan bahwa pembentukan karakter adalah sebuah kepentingan bersama yang paling strategis dan penting saat ini, untuk menyiapkan generasi bangsa yang berkarakter unggul.
Keprihatinan ini didasari pada banyaknya penurunan nilai-nilai di masyarakat. Indikasi hancurnya tatanan hidup kemasyarakatan dan individual semakin meningkat. Keluarga dan Sekolah sebagai institusi pendidikan mengalami banyak kendala dalam membina karakter anak bangsa yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Diperlukan kemampuan untuk menyiapkan generasi mendatang yang penuh kompetensi seimbang, tanpa meninggalkan kepribadian luhur yang telah dimiliki oleh bangsa ini sejak dahulu. Bukan terbatas hanya pada wacana belaka.
Keluarga adalah benteng utama pembentukan karakter anak bangsa. Sekolah adalah institusi formal yang diharapkan mampu mewujudkan pembentukan karakter. Sistem dan program serta kualitas guru di sekolah menjadi pilar utama dan bersinergi secara positif dengan keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Problematika pentingnya pendidikan karakter ini merupakan hasil pemikiran mendalam melalui Seminar Nasional “ PENDIDIKAN BERBASIS PEMBENTUKAN KARAKTER SEBAGAI LANDASAN KEBANGKITAN ANAK BANGSA”, yang diselenggarakan oleh Yayasan SiMAk Bangsa (Sinergi Membangun Anak Bangsa) di Hotel The Sultan, Jakarta, pada Minggu 7 Juni 2009. Pembahasan ini menghasilkan beberapa butir kesepakatan berupa Deklarasi dari Visi dan Semangat yang ingin kami rekomendasikan kepada seluruh komponen bangsa agar dapat digulirkan sebagai sebuah Visi Bersama dan diwujudkan dalam sebuah Gerakan Nasional Pendidikan Berkarakter.
Deklarasi :
1. Dinyatakan bahwa Undang-Undang Dasar 45 (amandemen) dan UU terkait pendidikan nasional di tingkat makro sebagai payung kebijakan, telah berpihak pada pembentukan karakter anak bangsa sebagai tujuan pendidikan nasional. Dan dinyatakan: masih terdapat kesenjangan antara kebijakan perUndang-undangan tersebut dengan penerapan praktikal pendidikan di tingkat mikro.
2. Pendidikan karakter anak bangsa adalah sebuah kebutuhan mendesak yang perlu disegerakan menjadi fokus perhatian semua elemen bangsa. Jika penyelenggaraan pendidikan nasional tidak memasukkan atau tidak memerhatikan pengembangan karakter, mangakibatkan kehancuran bangsa.
3. Guru perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan mengelola kelas dalam suasana yang memerhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan interaksi sosial yang harmonis. Guru harus memiliki kesadaran dan wawasan pentingnya pendidikan berbasis pembentukan karakter. Keterampilan mengelola kelas menjadi basis terkecil proses besar berskala nasional.
4. Agar masyarakat pendidikan nasional dapat terus meningkatkan pentingnya pendidikan karakter tersebut, diperlukan kegiatan dan jaringan komunitas yang peduli pada pengembangan kurikulum pendidikan nasional.
REKOMENDASI :
1. Mendorong para pengelola sekolah, khususnya Guru, sebagai ujung tombak pendidikan pada tingkat mikro, baik di pendidikan swasta, pemerintah, maupun pendidikan berbasis keagamaan (dibawah Departemen Agama), agar bersinergi dan bekerja sama, untuk mewujudkan sistem pendidikan yang tidak hanya terbatas pada pengajaran dan kegiatan di kelas saja, namun kembali menjadi pendidikan yang mengaplikasikan pengembangan karakter menuju insan yang cerdas dan berakhlaq dalam perubahan tata interaksi saat ini dan mendatang, serta memiliki jiwa kepemimpinan, untuk diri sendiri, lingkungan dan masyarakat yang lebih luas.
2. Mengajak para pengambil kebijakan pendidikan di tingkat pusat dan daerah, serta kalangan pendidik dan masyarakat di seluruh Indonesia, untuk bersama-sama mendukung pengembangan program pendidikan baik formal, informal dan non formal yang memberi perhatian dan penekanan lebih besar pada kualitas guru, fasilitator, pelatih sebagai praktisi pendidikan, untuk menumbuhkan pembiasaan melalui keteladanan dan pengajaran berdasar pembetukan karakter.
3. Bersama-sama menolak pola tindak, perilaku dan budaya yang tidak sesuai dengan kebesaran diri manusia Indonesia yang sesungguhnya memilki jati diri yang luhur adi luhung.
4. Mendorong pihak-pihak yang terkait dengan implementasi kebijakan pendidikan nasional, untuk mengatasi kendala dan hambatan bagi pengembangan pendidikan karakter.
Jakarta 7 Juni 2009
Yang menyatakan Deklarasi
a. Seluruh peserta seminar nasional “Pendidikan Berbasis Pembentukan Karakter Sebagai Landasan Kebangkitan Anak Bangsa”.
b. Yayasan SiMAk Bangsa sebagai komunitas yang memiliki visi-misi kepedulian pada pendidikan berbasis karakter beserta jaringan pendukung.
*****
YAYASAN SiMAk Bangsa
'Sinergi Membangun Anak Bangsa'
Visi:”Menjadi lembaga yang menginisiasi, mensinergikan dan menjalankan program peningkatan mutu pendidikan di Indonesia demi pembangunan anak bangsa yang seutuhnya.”
Misi: ”Membangun anak bangsa sehingga memiliki kepribadian luhur, keunggulan akademik dan penguasaan daya tahan hidup yang tinggi.”
Program :
Mengadakan pelatihan-pelatihan dan diklat untuk tenaga pendidik dan kependidikan
Mengadakan pendampingan bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan
Merancang dan memproduksi berbagai media pembelajaran yang dibutuhkan
Mendukung dan mengawal isu-isu pendidikan baik di level nasional dan daerah
Produk-produk Training:
Power Full Learning
Power Full Teaching
Leadership for Principal Training
Sinergic Class Training
Strong-Character Teacher
STRUKTUR ORGANISASIPendiri:• Dedhi Suharto, Ak., M.Ak.,CISA
• Drs. H. Razuan Syahrizal
Pembina:
• Drs. H. Razuan Syahrizal
• Dedi Martoni, S.Pd.,M.Si
• Drs. Sukro Muhab, M.Si
Pengawas:• Dedhi Suharto, Ak., M.Ak., CISA
Pengurus:
Ketua : Drs. H. Syamsuddin
Sekretaris : Sapto Sugiharto, S.Pd
Bendahara : Shintawati, S.Si
Hotline SiMAk Bangsa: Telp : 0251-8957075
Sapto Sugiharto, S.Pd : 0818717006
Shintawati, S. Si : 081314103935
Email : simak_bangsa@yahoo.com
Juni 01, 2009
info SEMINAR NASIONAL "PENDIDIKAN BERBASIS PEMBENTUKAN KARAKTER SEBAGAI LANDASAN KEBANGKITAN ANAK BANGSA"
Yayasan SiMAk Bangsa bekerjasama dengan JSIT Indonesia menyelenggarakan :
PENDIDIKAN BERBASIS PEMBENTUKAN KARAKTER SEBAGAI LANDASAN KEBANGKITAN ANAK BANGSA
The Sultan Hotel Jakarta, Minggu 7 Juni 2009. Pk. 08.00 s/d 17.00 WIB
Manfat :
• Memberikan wawasan pendidikan berbasis pembangunan karakter.
• Memberikan wawasan arah kebijakan pendidikan nasional dalam membangun karakter anak bangsa.
• Memberi masukan kepada pemerintah mengenai pendidikan berbasis pembentukan karakter.
• Memberikan wawasan implementasi pendidikan karakter di sekolah dan di rumah.
Anda, para kepala sekolah, guru, orangtua dan praktisi pendidikan akan banyak mendapat manfaat dari seminar ini.
Keynote Speech : Mendiknas Prof. Dr. Bambang Soedibyo *
Plenary Lecture :
"Arah Kebijakan Pendidikan Nasional dalam Pembentukan Karakter Anak Bangsa."
Pembicara :
• Suyanto Ph.D., (Dirjen Mandikdasmen Depdiknas RI).
• Dr. Fahmi Alaydroes, M.Ed. (Pembina JSIT Indonesia).
“Sinergi antara Sekolah dan Rumah dalam Pembentukan Karakter Anak.”
Pembicara:
• Dra. Aan Rohanah, M.Ag. (Anggota Komisi X DPR RI)
• Dra. Angie Siti Anggari (Yayasan Tara Salvia)
Parallel Sesion:
"Sistem Sekolah Berbasis Pembentukan Karakter” Pembicara :
M. Zahri , M.Pd. (Direktur LPI Al Hikmah Surabaya)
“Bullying dan Penanganannya”.
Pembicara : Dra. Diena Haryana, M.A, (Pendiri Yayasan SEJIWA).
“Guru sebagai Agen Pengubah dalam Pembentukan Karakter Siswa“ Pembicara: Drs. Masruri (Direktur Kualita Pendidikan Islam, Surabaya).
“Penerapan Pendidikan Karakter dalam Aktifitas Luar Kelas” (After School Program).
Pembicara: Dra. Kadarwati, M.Si. (Kepala Sekolah SMAN 6 Jakarta).
Pendaftaran peserta hubungi:
Shinta 0813 141 03935, dan 0251 895 7075
Eka 0813 175 34045 Investasi Rp. 350.000,- per orang (discount khusus untuk pendaftar sampai 29 Mei).
Fasilitas : Seminar kit, sertifikat, konsumsi.
Pembayaran melalui transfer via Bank/ATM
Rek. BSM Cabang Bogor No. 0160008947
Bukti transfer difaks ke no. 0251 753 5753 ext. 452
YAYASAN SiMAk Bangsa.
Sinergi Membangun Anak Bangsa
Didukung oleh Teachers Guide, majalah dwibulanan guru professional
Langganan:
Postingan (Atom)