Tampilkan postingan dengan label idea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label idea. Tampilkan semua postingan

Mei 21, 2009

HANDBOOK, panduan tertulis handy dan catchy


Semenjak ada siswa yang merayakan ulang tahun di sekolah, kian banyak yang mengikuti. Tak jarang lima sampai enam undangan ultah beredar setiap bulan.

Awalnya tidak ada masalah. Lama-lama, orang tua jadi gerah. Satu undangan ‘kan satu kado. Belum lagi untuk sang Guru kelas, yang merangkap jadi MC acara, serta keperluan penyiapan pernik-pernik ultah yang merepotkan. Masih ada lagi rombongan keluarga yang ikut datang merayakan.

Cerita lain, mulanya, seorang siswa meminta Guru kelas memberi les tambahan di rumah. Alasan ortu, anaknya kurang paham kalau tak dibahas khusus. Lama-lama beberapa anak meminta Guru nge-les-in anak secara ‘diam-diam’ di rumah. Tak enak rasa hati, lantaran pimpinan sekolah kabarnya melarang Guru memberi les tambahan bagi siswanya sendiri di rumah.

Kasus berbeda, saat anak terjatuh berlari dan terluka di sekolah, siswa langsung dilarikan ke klinik terdekat untuk mendapat pertolongan pertama. Ternyata dibutuhkan tindakan jahitan pada luka robek. Sekolah menanggung biaya awal. Selebihnya kewajiban ortu. Ternyata ortu menuntut pembiayaan berobat selanjutnya, yang katanya menjadi tanggung jawab sekolah. Wah ……

Berapa banyak persoalan di sekolah Anda kadang tak terpikirkan sejak awal. Begitu ada kasus, baru aturan dibuat dan diberlakukan. Kesimpangsiuran
informasi akhirnya menjadi info tak sedap yang merugikan citra sekolah. Citra tak kasat mata. Pencitraan kian penting. Ada yang bisa akrobat berimprovisasi. Ada yang kelabakan mencari solusi.

Klise! Masalahnya Berkisar pada Komunikasi
Mengapa Anda tak segera membuat hand book , sebagai media komunikasi
tertulis yang bisa dijadikan pegangan dan petunjuk. Isinya tentang
rambu-rambu sekolah, yang kian hari kian bertambah banyak ragamnya.

Perwajahan Hand Book
Umumnya didisain secara khusus, dengan cover yang menggambarkan visi-misi sekolah. Hand book bukan hanya sekedar brosur, karena berisi informasi untuk siswa dan orang tua internal (bukan lagi kandidat). Ukuran dan bentuk sangat bervariasi. Ada yang sebesar majalah, ada yang sebesar buku tulis, A4 dibagi dua, dan sebagainya.

Daftar isi mencerminkan profil sekolah, pendiri dan pelaksana, filosofi, kurikulum, metode, dan pendekatan pembelajaran. Dimuat pula behavior expectations atau perilaku yang diharapkan, mission statement - berupa kalimat bertenaga yang menjadi ‘pemersatu tujuan’. Biasanya ditampilkan secara lebih menyolok.

Bagian kedua biasanya berisi kebijakan dan prosedur. Mulai dari proses pendaftaran hingga setting kelas dipaparkan secara ringkas, point per point. Masukkan semua info yang patut diketahui orang tua, mulai dari school beliefs, student character, pelaksanaan pengayaan dan pendalaman bagi siswa, pelaksanaan evaluasi, larangan pemberian ucapan terima kasih pada Guru, kegiatan parenting, penyedia catering, jadwal jemputan, jadwal konseling, dan urusan kesiswaan lainnya.

Bagian ke tiga, dapat diisi dengan aturan dan disiplin. Reward pusnishment,
pengembalian raport, aturan pembayaran, pemakaian seragam, peminjaman buku paket, peraturan PR, aturan perpustakaan, perayaan ulang tahun, tempat tunggu sopir dan babby sitter, penggunaan hp, hot spot, konsekuensi-konsekuensi, alur komunikasi, dan lain-lain.

Bagian empat menunjukkan kepedulian sekolah pada lingkungan, kesehatan dan keamanan. Larangan membawa makanan ber MSG, merokok dan pertolongan pertama pada kecelakaan, pengembangan community development, advokasi hidup sehat, sadar lingkungan, hemat energy, networking dan sebagainya.

Bagian akhir bisa diisi apa saja yang menjadi perhatian sekolah. Intinya adalah memberi informasi dan ketentuan secara tertulis, agar komunitas sekolah tahu persis apa yang diharapkan dan diberlakukan. Setelah itu beres? Belum! Masih banyak kalangan ortu yang lebih senang ‘dikasih tahu’ daripada membaca peraturan.

Hand book membawa misi korporasi secara keseluruhan. Ada kalanya digabung dengan kalender meja di bagian belakangnya. Banyak tenaga visual akan membantu Anda mendisain hand book yang handy dan catchy. Tidak harus mewah, yang penting mewakili selera sekolah.TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

CREATIVE THINKING


Newton, misalnya, menemukan gaya gravitasi bukan ketika duduk di sebuah bangku, memegang pena dan buku tebal sembari berpikir keras, ”Adakah gaya yang sangat berpengaruh dalam kehidupan ini?”. Itu diperolehnya ketika duduk di bawah pohon!


Beberapa orang beranggapan berpikir kreatif berarti berpikir lain dari yang lain, orang yang agak aneh dalam menggunakan pikirannya, atau berpikir keluar dari kebiasaan (think out of the box). Apakah ini cara berpikir kreatif? Mungkinkah kita mengubah diri kita lebih kreatif? Jika ya, bagaimana caranya?

Beberapa sifat orang berfikir kreatif:
• lebih mampu melihat masalah nyata yang hadir sebagai suatu situasi.
• tak mengambil suatu keputusan segera dan mempunyai toleransi secara tidak tentu.
• berhasrat melakukan hal yang original dan tak menyukai konformitas sosial.
• lebih senang mengkritik dirinya sendiri.
• bekerja sangat keras.
• cenderung mempunyai pengetahuan yang luas mengenai bidang kerja mereka.

Dalam bukunya Adaptive Mind, Nairne (2006) menambahkan, dunia ini penuh dengan orang yang pandai dalam pendidikan, atau pandai mengerjakan tugas, tetapi sedikit orang yang berpikir di luar kerangka berfikir mereka.

Mari kita lihat kata kunci terkait kreatif atau orang kreatif, yaitu:
• orang kreatif memiliki pola pikir yang tidak biasa
• memiliki cara berpikir yang tidak ada duanya
• mampu menemukan penyelesaian masalah dengan caranya sendiri yang original
• orang unik
• pekerja keras yang cerdas
• tidak mau ikut-ikutan
• mempunyai pengetahuan yang luas
• mengambil keputusan dengan tepat
• bertoleransi tidak selalu tepat waktu
• berpikir dapat menerapkan apa yang mereka pernah pelajari

Bagaimana Proses Berpikir Kreatif?
Berlatih merupakan kunci sukses untuk menjadi kreatif. Sebagian besar tidak kreatif lantaran tak tahu cara mengelola diri menjadi kreatif, karena tidak pernah belajar atau tidak pernah belajar mengkreatifkan pikiran mereka.

Berpikir divergen (melebar/bercabang) merupakan kemampuan berpikir
hal yang baru (tidak biasa) pada situasi tertentu. Guilford menangkap
ide ini dalam Unusual Uses Test-nya, seseorang diminta mengusulkan cara
baru (tidak biasa) terhadap objek sehari-hari seperti batu bata dan
pensil. Atau memberikan kelompok kata atau objek gambar yang tidak berkaitan.

Kemudian peserta menjabarkan sebanyak mungkin hubungan yang dapat dibentuk dari kata-kata atau objek-objek tersebut. Coba pikirkan kata keempat yang berkaitan dan seterusnya dari: makanan, kiper, panas, sebutkan 100 fungsi sebuah penjepit kertas!

Beda Anatomi Otak Orang Kreatif
Apa perbedaan otak antara seorang kreatif dan yang normal? Beberapa analisis awal menyatakan, otak orang yang berpikir kreatif lebih besar, namun hal ini tidak terbukti dengan ditemukannya perbedaan berat otak antar orang-orang berpikir kreatif.

Pengkajian terkini menjelaskan mengenai otak Albert Einstein yang menunjukkan bahwa terdapat suatu daerah dari bagian kanan lobus pariental yang bekerja untuk imajinasi dan matematika lebih besar 15%.

Lekukan yang mencegah interkoneksi antara daerah otak yang berdekatan telah hilang pada otak Einstein. Beberapa penemuan ini memberikan kesimpulan bahwa hemisphere (belahan otak) bagian kanan mempunyai asosiasi khusus dengan kreativitas.

Perbedaan struktur otak antar orang yang berpikir kreatif dengan orang yang normal memberikan kenyataan bahwa memang mereka berbeda.

Mau Lebih Kreatif?
Guna meningkatkan kreativitas kita, perlu kiranya kita tingkatkan energi kreativitas. Kebanyakan rintangan pada aspek internal. Ketika seseorang memiliki tujuan hidup yang hanya mengarah pada kepentingan pribadi, maka semua energi mentalnya dikerahkan ke satu titik yaitu pribadinya, sehingga energi mental tak mampu digunakan untuk mempelajari hal–hal lain di luar diri.

Sulit mengharapkan diri kita menjadi kreatif jika kita masih kelaparan, kedinginan, kepanasan karena energi mental kita pasti terkuras untuk mengatasi kekurangan tersebut. Begitu pun ketika kita terlalu kaya, energi mental kita tidak mampu diarahkan untuk mempelajari hal-hal selain mencari uang.

Orang dewasa yang ingin menjadi kreatif, berupaya tak kehilangan rasa ketertarikan dengan hal yang baru.

Berikut beberapa tips :
1. Berusahalah untuk menjadi surprise / terkesan terhadap sesuatu setiap hari Mulailah untuk menikmati apa yang kita baca, kita rasa, kita dengar, kita sentuh, dan temukan keistimewaan, keunikan, atau surprise dari setiap objek tersebut. Temukan hal yang menarik dari obrolan, pekerjaan, dengan cara membuka hati mendengarkan apa yang dikatakan dunia setiap harinya.

2. Berusahalah untuk menjadi surprise paling sedikit terhadap satu orang setiap hari Mulailah menanyakan hal-hal yang tak pernah kita tanyakan, atau hal-hal yang kurang pantas ditanyakan kepada teman kita. Ekspresikan pendapat kita mengenai hal-hal yang biasanya tidak dibicarakan. Ajaklah teman-teman mengunjugi tempat baru, seperti museum, bioskop, acara pertunjukkan. Energi mental yang tersembunyi dalam rutinitas yang nyaman perlu kita optimalkan dengan terus mencari hal yang baru yang belum kita ketahui.

3. Tulislah sesuatu yang membuat kita surprise dan bagaimana kita membuat surprise bagi yang lain setiap hari Kebanyakan orang-orang kreatif membuat catatan harian penting guna menyimpan ‘temuan-temuan’ ide. Mulailah menyediakan di malam hari sebelum tidur, catat segala hal menarik hari ini ke dalam buku khusus. Beberapa hari kemudian, baca catatan itu, temukan hal-hal yang menyenangkan dan menarik, dan pasti Anda dapat menemukan nilai yang berharga bagi kehidupan Anda.

4. Jika sesuatu memberikan kesan menarik, maka ikutilah. Melihat bunga indah di tepi jalan, mendengar senandung lagu, atau tangisan anak, kita cenderung mengabaikannya dan berkata, “Ini bukan urusan ku.” Semua yang ada di bumi ini sesungguhnya menjadi urusan kita, tanpa kita pernah tahu bagian mana ini yang cocok dengan potensi kita, karena itu kita perlu serius belajar berbagai aspek sebanyak mungkin. Jadi ketika ada sesuatu yang menarik perhatian kita, perhatikanlah, amatilah. TG

Frengky, M.A
Education Director
Goodwill Education & Training
lembaga pendidikan dan pelatihan luar sekolah
Email: frengky.goodwill@gmail.com

*)Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

September 24, 2008

Nggak Pakai Penghapus,
Makin Berfikir Serius

Ketika berkunjung ke sekolah Tara Salvia, sebuah sekolah di kawasan Bintaro, Tangerang, ada hal yang menggelitik. Anak-anak di sekolah itu tidak dibiasakan menggunakan penghapus. Apa gerangan maksudnya?

“Kami mengajarkan anak-anak belajar dari kesalahan. Berbuat salah itu bukan sesuatu yang memalukan, yang harus ditutupi dengan segala alibi. Jadi kalau anak salah menulis kata, atau salah menggabungkan kata, cukup dicoret saja, kemudian anak membetulkan di samping atau di bawahnya,” demikian Bu Angie Siti Anggari, principal Sekolah Tara Salvia.

“Bahkan ketika menggambar, saya masih melihat di banyak sekolah anak menghapus hingga berkali-kali. Sampai kertasnya lecek!” lanjut Bu Angi geli.

“Latihlah anak untuk berfikir dahulu sebelum membuat suatu gambar atau menuliskan sesuatu. Ini penting agar anak terbiasa melakukan sesuatu berdasar pemikiran terlebih dulu, dan justru tidak takut untuk berbuat salah,”

Guru dan orang tua sering melakukan learning shut down. Kalau kesalahan yang dilakukan anak harus segera dihapus, anak jadi tidak belajar, bahwa dia pernah membuat kekeliruan. Bukti kesalahan itu perlu anak lihat dan ingat serta cermati, agar tidak lagi melakukan kesalahan. Think Before Act, begitulah kredonya. *** TG


*) Artikel ini disusun oleh Majalah Teachers Guide