Tampilkan postingan dengan label multiple intelligences. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label multiple intelligences. Tampilkan semua postingan

Mei 21, 2009

Ingin lebih Berprestasi, Temukan Type Belajar Anak

Pendekatan multiple intelligences

Siswa belajar dengan caranya masing-masing, sesuai dengan tipe belajarnya. Tabel ini dapat menjadi pemandu kita menemukan aneka tipe belajar anak.

Makin mudah dan mampu kita menemukan aneka tipe belajar, akan sangat memudahkan kita mencarikan cara belajar, mudah menangani kelas, serta meningkatkan hasil belajar siswa secara lebih optimal. Seorang pembelajar visual, belajar paling baik melalui gambar, diagram, atau peta.

Ada pun pembelajar auditori, suka mencipatakan irama/ nada untuk membantu mereka mengingat sesuatu. Sedangkan pembelajar kinestitek, belajar paling baik melalui gerakan.

Pembelajaran yang efektif adalah yang memperhatikan keunikan individual siswa. Pemahaman akan keunikan individual siswa itu, menghindarkan guru dari ‘pendekatan serba sama (seragam) untuk semua siswa’. Di samping itu, mendorong siswa lebih bertanggungjawab terhadap proses belajarnya dan menggunakan kelebihannya.

Pembelajaran yang memperhatikan keunikan individual siswa akan berhasil paling baik dalam suasana positif, ketika siswa didorong untuk mengambil tanggungjawab, menerima tantangan dan belajar sebanyak yang mereka bisa.

7 KECERDASAN GARDNER SEBAGAI ‘SENJATA’

Gardner mengajukan tujuh jenis kecerdasan yang berbeda untuk menunjukkan cakupan potensi yang dimiliki oleh anak-anak dan orang dewasa.

Bagaimana Guru mengunakan pendekatan ini sehari-hari saat mengajar?

Untuk murid yang ‘menyukai gambar’, penggunaan DVD/video akan memacu pemikiran mereka. Bagi murid yang ‘cerdas gerakan’ perlu bergerak walau dalam pelajaran selama 50 menit. Sedangkan pekerjaan lapangan/praktek sangat disukai oleh pembelajar kinestetik.

“Kelas saya banyak menggunakan pekerjaan kelompok, untuk memacu murid yang cerdas dalam hubungan dengan orang lain,” jelas Jackie Craymer, pembicara KGN yang seorang guru di Selandia Baru.

Menurut Jackie Craymer, Gardner mendorong kita untuk keluar dari cara mengajar yang ‘biasa’, memperluas fokus kita, serta meningkatkan hasil belajar murid kita.

Gardner menyarankan kurikulum yang berimbang, yang menggabungkan pendidikan seni, kesadaran diri, dan komunikasi fisik. “Gardner menganjurkan bahwa metode yang digunakan harus selalu memperhatikan dan melayani beragam kecerdasan,” tambah Jackie.

“Gunakan penilaian dan penerjemahan Anda sendiri agar Anda dapat mengeluarkan sisi terbaik dari para murid dan bila dimungkinkan, tingkatkan dan sesuaikan dengan keadaan Anda sendiri. Konsep-konsep ini adalah bantuan, bukan sebuah dogma yang harus diikuti dan diterapkan secara kaku,” demikian paparan Jackie Craymer.

Menerapkan pendekatan belajar yang melayani berbagai keragaman cara belajar siswa, tentu membutuhkan perencanaan yang matang. Tanpa perencanaan, pembelajaran akan membuang waktu dan suasana kelas akan menjadi kacau. Jackie menyarankan agar kita para Guru melakukan refleksi dalam perencanaan, mencoba cara baru dalam mengajar – kreatif, serta memberikan berbagai kesempatan kepada murid untuk belajar.TG

* Jackie Craymer adalah Guru kelas IX – XIII dalam mata pelajaran Sosial Studies, Sejarah dan Geografi di Carmel College, New Zealand.“Learning Style”, paper yang disampaikannya dalam Kongres Guru Nusantara 2008, Samarinda.

Mei 03, 2009

Munif Chatib: Sekolahnya Manusia


Sekolahnya Manusia. Bukan Sekolah Bebek, juga bukan Sekolah Robot.

Teachers Guide/2 Mei 2009. Luar biasa! Sebuah buku “Sekolahnya Manusia” yang diterbitkan oleh Mizan, karya Munif Chatib, diluncurkan pada 1 Mei kemarin di Mizan MP Point, Jakarta. Sebuah persembahan yang manis menjelang Hari Pendidikan Nasional 2 Mei hari ini.

Haidar Bagir (Mizan, dan pemikir pendidikan), Kak Seto Mulyadi, dan Sukiman (Depdiknas) dengan antusias menyambut kehadiran buku ini yang akan sangat bermakna bagi arah pengembangan pendidikan nasional yang saat ini sepertinya kehilangan arah. Meski udara dingin dan banyak tempat duduk di tenda teras samping terkena tampias hujan, toh hadirin terus bertahan mendengarkan uraian Munif Chatib dan Kak Seto yang menarik dan mencerahkan.

Di tangan Munif Chatib, pemahaman multilple intelligence yang diperkenalkan oleh Howard Gardner, berhasil ditransformasikan menjadi proses pembelajaran yang manusiawi dan aplikasi. Jika selama ini banyak sekolah yang seolah meraba-raba bagaimana mendidik anak dengan tepat sesuai dengan potensi dirinya, buku ‘Sekolahnya Manusia’ ini adalah jawaban. Disusun dari rangkaian pengalaman implementasi kecerdasan majemuk ini di puluhan sekolah di Indonesia, merupakan intisari dari proses-proses pembelajaran yang ingin kita cari selama ini.

Munif Chatib, memulai pengembangan penerapan kecerdasan majemuk di sekolah Yayasan Malik Ibrahim Gresik, kini bernama YIMI Gresik, Jawa Timur. Ia juga mengembangkan lebih jauh suatu metode test, yang disebutnya Multiple Intelligences Research (MIR). “Sekolah unggulan itu adalah yang menerima anak yang bodoh dan nakal, lalu dengan prosesnya yang unggul mengubah mereka menjadi anak yang baik, pintar, dan berkepribadian,” begitu pendapat Munif Chatib. Jadi, sekolah unggul itu adalah sekolah yang unggul dalam proses-prosesnya.

Saat ini jutaan siswa kita bersekolah di sekolah-sekolah dengan guru dan metoda pembelajaran yang justru membuat mereka tertekan, depresi, menjadi nakal dan bodoh, mati kreatifitas. Tak peduli pada potensi anak. Tak peduli pada kemanusiaan mereka yang hakiki, sebagai anak manusia yang ingin tumbuh besar dewasa dan menjadi mandiri dan dapat menyumbang bagi kehidupan. “Dan UN merupakan salah satu masalah terbesar dalam pendidikan nasional kita,” keluh Haidar Bagir.

Kemerdekaan pendidikan telah dirampas dan tereduksi oleh sistem pendidikan nasional yang kurang manusiawi. Akhirnya terciptalah generasi bebek, generasi robot. “Pendidikan mengajarkan kekerasan, maka kita melihat kekerasan ada di mana-mana,” ungkap Kak Seto.

Buku ini wajib dibaca oleh kalangan pendidik, birokrasi pendidikan, para orangtua, juga menteri pendidikan mendatang. Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari buah pemikiran Munif Chatib bagi perbaikan pendididikan di sekolah putra-putri kita di waktu mendatang. Selamat Pak Munif Chatib!