Tampilkan postingan dengan label pola asuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pola asuh. Tampilkan semua postingan

Mei 27, 2009

Bullying Makin Bikin Pusing


Hindari dampak bullying
Ada hambatan bagi Guru untuk mengelola siswa. Ya, pasti. Anak sekarang lebih kritis, tak mudah menerima masukan. Guru kalah berharga ketimbang infotainment dan tayangan kekerasan. Dunia maya menjadikan anak terkoneksi satu sama lain. Dari situ mereka belajar berekspresi. Jika tak dikontrol, tindakan saling menyakiti atau bullying marak terjadi.

Pola asuh, lingkungan, faktor personal, adat, kebiasaan, nilai yang dianut, semua menjadi penyebab terjadinya bullying. Guru dan orang tua bahkan sering meminta anaknya membalas tindakan teman yang menyakiti dengan balasan setimpal. Alibinya, tanpa itu pelaku tak akan kapok!

Apa Itu Bullying?

Bullying adalah tindakan fisik, lisan, tertulis yang disengaja sehingga mengakibatkan orang lain tersakiti (fisik atau perasaan). Bullying terjadi bila ada seseorang mengintimidasi atau memojokkan orang lain, melecehkan, mencari-cari kesalahan,mengucilkan, hingga orang lain merasa takut, dihina, malu, terancam.

Reaksi terhadap bullying dapat dibedakan menjadi 3 hal, yakni Submassive : pasrah tidak berdaya; Agresif: membalas dengan agresifitas yang sama; dan Assertif: mempertahankan hak dengan cara yang sesuai dan tidak merusak (benda, fisik, perasaan) orang lain.

Mana yang kita pilih? Lebih sering yang agresif, bukan? Puas rasanya! Namun jika ini menjadi budaya dan terpola di sekolah, di rumah, di lingkungan pergaulan, bisa Anda bayangkan apa yang akan terjadi.

Kita ingin siswa maju secara akademis dan tumbuh subur keluhurannya (santun, peduli, tanggun g jawab, hormat, dan nilai-nilai positif lain). Keinginan ini sering diterjemahkan dengan cara yang salah oleh pendidik
(ortu, Guru, pejabat, dll). Mestinya di sekolah diberlakukan ‘tough love’, dengan menghadirkan keteladanan. School without fear akan menjadi atmosfir yang baik.

Mencegah bullying diawali dengan mendidik siswa mampu membedakan antara mengadu dan melapor. Masukkan program anti bullying dalam kurikulum. Lakukan kegiatan kelompok, jadwalkan untuk menilai kebaikan teman, menghargai individu, dan saling memuji. Semua ini harus terjadwal. Jangan sambil lalu (kalau ada waktu). Ingat, kita adalah pembawa perubahan yang harus memulai saat ini dan dari diri sendiri.

Semua orang pernah menjadi korban sekaligus pelaku bullying. Ajarkan I-message dengan cara: jelaskan situasi yang terjadi. Jelaskan perasaan yang muncul. Tunjukkan bahasa tubuh yang sesuai. Namai perasaan, dengan mengatakan: "kamu merasa………., karena…"…………….

Meski berliku, tetaplah menghidupkan budaya anti bullying di mana pun berada. Kemarahan tidak selalu harus dicegah. Tapi cari cara penyampaian yang lebih konstruktif. Bullying bukan karakter. Bullying itu sesuatu yang dipelajari, yang sifatnya menular. Karena itu ciptakan penawarnya, agar dunia mini yang bernama sekolah masih menyenangkan dan dipercaya sebagai tempat mengubah perilaku dan menuntut ilmu.TG

20 Langkah Anger Management Bagi Korban
Menghindari dampak parah bullying, kenali langkah bagi korban:
1. Hentikan kemarahan, berpikirlah
2. Kamu bertanggung jawab atas perbuatanmu.
3. Katakan pada diri sendiri, boleh marah tapi tidak menyakiti orang lain
4. Katakan pada orang itu untuk menghentikan perbuatannya
5. Masukkan tanganmu ke dalam saku
6. Jaga tinjumu untuk dirimu
7. Menghindar
8. Gunakan I – messege
9. Tarik nafas dalam-dalam dan lepaskan
10. Berhitung pelan-pelan 1-10. Lanjutkan ………………
11. Berbicara dengan orang dewasa
12. Pikirkan hal yang menarik
13. Pikirkan hal yang menyenangkan
14. Perlakukan orang itu dengan baik
15. Ungkapkan kemarahan dengan gambar
16. Ungkapkan kemarahan dalam nyanyian
17 Ingat, membalas tidak menyelesaikan masalah
18. Time out
19. Cari orang lain untuk menemani
20. Lihatlah bahwa kamu bisa mengendalikan kemarahanmu.

Disarikan dari Seminar dan Workshop “Menelusuri Bullying di Dunia Sekolah”, oleh Sekolah Al Fikri-Depok bersama Diena Haryana, Yayasan Sejiwa, 2009.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Mei 04, 2009

Wawancara Orangtua Calon Siswa


Bukan Sekadar Tanya-tanya

Sudah menjadi kebiasaan di setiap masa penerimaan siswa baru (PSB), sekolah sibuk melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan eksistensi sekolah secara keseluruhan.

Setelah sejumlah siswa terjaring, maka proses yang paling menentukan adalah pada wawancara calon orang tua murid. Banyak sekolah yang melaksanakan wawancara sekedar formalitas belaka. Sesungguhnyalah pertemuan awal ini bisa menjadi penentu utama, apakah sekolah bisa memenuhi harapan orang tua, dan menjajagi gaya orang tua seperti apa yang akan menjadi partner sekolah.

Kisaran pertanyaan yang disampaikan pada orang tua bisa mengacu pada hal-hal berikut:
1. Menggali alasan ortu dan motivasi pemilihan sekolah bagi putra/i nya
2. Menggali pola asuh secara umum di rumah
3. Mencermati pandangan ortu pada anak saat ini
4. Seperti apa pandangan ortu terhadap sekolah saat ini
5. Menggali pendangan ortu pada perubahan paradigma pendidikan
6. Sejauh mana keterlibatan ortu pada pendidikan anak di sekolah
7. Harapan dan target ke depan

Kisaran pertanyaan itu harus disampaikan secara mengalir. Orang tua akan sangat senang bertutur tentang performa anaknya saat ini. Kadang menjadi seperti forum konsultasi. Karena itu sang pewawancara harus memiliki wawasan dan kedalaman pendidikan yang cukup, agar suasana wawancara berjalan dengan rileks dan memperdalam trust (kepercayaan).

Haruskah Seorang Psikolog?

Banyak sekolah mempercayakan proses wawancara ini pada seorang psikolog. Jika memang sekolah itu memilki tenaga psikolog yang sehari-hari tahu persis bagaimana sekolah dioperasikan, maka bisa saling memperkuat pencermatan.

Namun jika psikolog yang di’sewa’ semata untuk melakukan wawancara, beberapa kelemahan bisa muncul kemudian. Ini terjadi, karena saat wawancara, tentu saja bukan hanya pihak sekolah yang mengajukan pertanyaan. Namun sebaliknya, orang tua juga akan mengajukan berbagai problema, dengan harapan mendapat jawaban yang melegakan hati.

“Saya selalu turun langsung bertemu calon orang tua di saat wawancara awal. Satu per satu secara terjadwal. Biasanya di setiap hari Sabtu, agar orang tua dapat hadir lengkap, ayah dan ibu,” kata Bu Chika, seorang manajer sekolah. “Dulu kami memakai jasa psikolog. Namun karena psikolog tersebut tidak stand by di sekolah setiap harinya, maka banyak hal yang justru kurang pas. Sebagai pewawancara, kita tidak melulu bertanya, tapi juga melakukan “mendengar perasaan”. Papar bu Icha dengan lembut.

Jadikan Data Awal

Hasil wawancara ini kemudian harus dijabarkan secara tertulis, agar dapat menjadi data awal yang melengkapi hasil asesment calon siswa. Kalau mau dilakukan pembobotan, justru hasil wawancara calon ortu ini lebih besar pengaruhnya guna menentukan apakah calon siswa dapat diterima atau tidak.

Saat wawancara, mestinya tergambar apa saja yang menjadi keinginan orang tua. Ada sekolah yang senang mengumbar janji-janji surga. Saat calon ortu menanyakan ini-itu (biasanya berkisar pada fasilitas sekolah), pihak sekolah meng’iya’kan segala hal untuk memperkuat keyakinan calon ortu. Maklum, biasanya di saat wawancara, calon ortu belum membayar apapun kecuali uang formulir.


Keadaan selanjutnya bisa menjadi rumit, manakala hasil wawancara ini tidak diperoleh data yang bisa menjadi ‘starting point’. Sungguh bukan pekerjaan formalitas, karena penyesuaian langkah dan saling memahami pola asuh dan model pembelajaran di sekolah adalah dasar keberhasilan siswa.

Data ini selanjutnya disosialisasikan pada Guru kelas calon siswa. Informasi ini menjadi bekal pemahaman bagi Guru, seperti apa gaya belajar, karakter, ekspresi dan penanganan siswa saat di rumah selama ini. Kalau sudah sampai mendalam pemahaman itu, sekolah Anda layak menjadi pilihan bagi orang tua yang kini makin kritis memilih sekolah bagi buah hatinya.

Nah, jadikan ajang wawancara dengan calon orang tua bukan sekedar tanya-tanya. Jika dilakukan secara benar, proporsional, serta dapat menggali pola asuh, akan menghasilkan kesepahaman luar biasa. Jadi jangan hanya bertanya-tanya, terima perasaannya juga, lantas jadikan data untuk diolah, dipilah menjadi input dan feedback! TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.