September 20, 2009

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H

Segenap jajaran Redaksi majalah Teachers Guide mengucapkan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin kami haturkan kepada seluruh pembaca, pelanggan, mitra iklan, sahabat-sahabat pendidikan, serta berbagai pihak yang telah membantu Majalah Teachers Guide selama ini.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita dan menjadikan kita sebagai insan yang pandai bersyukur dan giat beramal saleh. Dan senantiasa Allah SWT memudahkan jalan kita untuk berkiprah berkontribusi mendorong kemajuan dalam pendidikan nasional bagi kemashalatan bangsa Indonesia. Amin.

Salam Pendidikan

Arfi D. Moenandaris
Indrawan Miga
Ria Restanti Natalisa (Yogyakarta)

Agustus 12, 2009

seminar motivasi hidup oleh BMH

Seminar "MENGATASI MASALAH ITU, MUDAH"

Setiap hari masalah datang bertubi2. Belum selasai masalah satu muncul masalah baru, tambah rumit, ruwet, bikin stress. Setiap individu mempunyai masalah, masing-masing memilki persoalan yang berbeda. Bagaimana cara mengatasinya? Beda pula mencari solusinya.

Masalah itu bisa berupa persoalan ekonomi, percekcokan keluarga, perseteruan antar saudara, perselisihan kemitraan bisnis, tidak harmonis karena adanya wanita/pria idaman lain dan bermacam problem lainnya. Dengarkan tips dan trik mengurai masalah dari Prof. Dr. H. Ahmad Husain Asdie (FK UGM), Muhammad Fauzil Adhim (Pakar Pendidikan), Rina Gunawan (Selebritis).Untuk mengatasi masalah itu mudah. Ikuti seminarnya. Daftarkan segera...

PENDAFTARAN :
BMH 021- 9308 2804, 7975770
(TRI) 0813 8008 9392, 021-3376 343
METAFORMA : (ANNA) 021 9193 6094 (EKI) 0813 8371 3210
KONFIRMASI KEHADIRAN: (ARGA) 021 9792 0875

WAKTU PELAKSANAAN :
Hari: Sabtu, 15 Agustus 2009
Jam: 09.30 – 13.00 WIB
Tempat: Galeri II TIM Taman Ismail Marzuki, Jakarta

KONTRIBUSI: Rp. 60.000,-/orang GRATIS: Selai Selabu & Majalah Hidayatullah, dan Asuransi Personal Accsident Jiwasraya.

PEMBAYARAN
: melalui BCA, AC.: 553.0111.999 an Yayasan Baitul Maal Hidayatullah (Bukti transfer di Fax 021-7975614) Bukti transfer HARAP DIBAWA pada saat acara.

SEKRETARIAT: Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jl. H. Samali No.79B, Pejaten Barat, Ps. Minggu-Jakarta Selatan Telp. 021-7975770, 93082804, | Fax. 021-7975614, | SMS Center : 0815 1133 7750 | www.bmh.or.id

Juni 11, 2009

PENCARIAN GURU SIAP TEMPUR

Tersebutlah sebuah berita di surat kabar:
Sekolah Merdeka Indonesia Jadilah Partner Kami, Berbagi Semangat di Bidang Pendidikan Dalam rangka pengembangan sekolah, kami mencari kandidat yang berkualitas untuk mengisi posisi sebagai berikut:
1. Guru hebat di bidang: Matematika, Ekonomi, Seni, Musik, Bahasa Indonesia, Agama (Islam, Katolik, Kristen,Hindu, Buda), Sains (Fisika, Biologi,Kimia), Physical Education
2. Public Relations
3. Logistic Support
4. Koordinator Laboratorium (Fisika, Kimia, Biologi)
5. Quality Assurance
6. Remedial Teachers
7. Terapis Okupasi
8. Marketing Specialist
9. License Specialist
10. Maintenance Supervisor
11. General Service Support Supervisor
12. FaciIlity Management Supervisor
13. Info & Sales Representatives
14. Internship Staff

Persyaratan:
a. Lulusan Universitas (S1-S2) sesuai bidang
b. Berpengalaman sesuai bidang
c. Lancar bahasa Inggris (lisan tulisan)
Kirim melalui e-mail: hrd@merdekaindonesia. org.com (bukan email sebenarnya)

Nah, dari info ini terbayang kan siapa saja yang berhak mengisi lowongan atau posisi ini. Jabatan-jabatan tak umum ternyata ada lowongannya Spesialis Lisensi? Wow… ini pasti sekolah ber-merk asing yang sedang mengembangkan pasar di Indonesia. Rupanya penting ya menghadirkan seorang ahli lisensi di sekolah, bukan sekadar konsultan lepas.

Di bagian pemasaran, dibutuhkan posisi sales representative dan pemberi informasi. Sudah pasti konsumen yang dibidik juga pada tingkat atas. Mereka juga tak mau repot dengan kehadiran calon pegawai yang bisa jadi berjubel. Melalui e-mail akan diseleksi dulu pengalaman dan administratif lamaran yang mendekati selera dan kebutuhan.

Meski tak disebut minimal usia, bisa jadi yang berani melamar adalah yang memilki kompetensi unggul. Persaingan kerja di dunia pendidikan makin diperebutkan oleh para sarjana non- kependidikan. Sekolah macam ini seringkali tak mencari ‘ketulusan hati‘ seorang Guru. Mereka lebih mengedepankan skill. Mempertaruhkan sebuah keahlian bidang khusus.

Menurut pengakuan bagian SDM di sekolah ternama, biasanya begitu dibuka iklan lowongan pekerjaan di media nasional, ratusan surat lamaran masuk. Beragam latar belakang. Seleksi akan didasarkan pada pilihan pengalaman, asal universitas, dan kesesuaian bidang. Diperhatikan pula tata bahasa Inggris yang digunakan (meski mungkin bukan pelamar yang menulis), juga foto diri sebagai gambaran performa.
Mereka yang mendekati kualifikasi akan dipanggil wawancara.

“Di sini sangat mudah merontokkan kandidat. Yang bahasa Inggrisnya pletat pletot langsung gugur,” kata kepala bagian SDM yang tampak sangat percaya diri ini. Nah, begitu wawancara selesai, dilakukan debat kasus , kemudian menjalani tes micro teaching. “Kalau sudah sampai sini, pilihan tinggal sedikit. Bahkan sering kami tidak menemukan yang kami targetkan,” tambahnya.

Wah …. rupanya pameo Jawa yang mengatakan ‘ono rego ono rupo’ berlaku pula ya. Tawaran renumerasi tinggi di atas rata-rata membutuhkan bentuk kemampuan yang tak biasa.

Hai calon Guru, siap mengisi lowongan ini? Sekedar coba-coba tak ada salahnya. Jika ingin menguji kemampuan siaplah bertempur! Pe de aja lagi. TG

Kiat Memilih Software Perpustakaan


Teacher Librarian

Kata ‘perpustakaan’ dan library berasal dari kata ‘pustaka’ dan libre yang merujuk ke satu medium penentu peradaban manusia, yakni buku. Empat bangsa besar -Yunani, Romawi, Cina, dan Arab - sudah sejak lama memiliki tradisi menghimpun pengetahuan dalam bentuk buku.

Perpustakaan dituntut dapat melayani transaksi peminjaman buku dengan lebih cepat dan efisien, sehingga perpustakaan berupaya menggantikan sistem kerja manual menjadi terautomasi dengan menggunakan teknologi informasi dan komputer.

Teknologi informasi dan komunikasi (ICT – Information and Communication Technology) yang digunakan untuk menggantikan sistem manual yang ada di perpustakaan disebut dengan istilah Library Automation (UNESCO:2006).

Fungsi-fungsi dasar yang dapat diautomasi adalah katalogisasi, pengadaan, dan sirkulasi. Software perpustakaan ada yang diinstal di satu komputer saja (stand alone), tidak terhubung ke komputer lain, dan ada pula yang terhubung ke komputer lain melalui sebuah jaringan komputer.

Modul-Modul Standar dan Pilihan Software Perpustakaan

1. Modul Pengatalogan
Digunakan untuk membuat, menyimpan, dan mencari data bibliografi. Data yang diinput oleh pustakawan dalam modul ini selanjutnya menghasilkan katalog tercetak maupun elektronik.

2. OPAC (Online Public Access Catalog)
Katalog elektronik yang dihasilkan dari modul pengatalogan selanjutnya dapat diakses oleh pemakai perpustakaan melalui OPAC (Online Public Access Catalog). Pemakai dapat mencari bahan pustaka (buku maupun non buku) melalui modul ini namun tak dapat mengedit data bibiliografi bahan pustaka tersebut. Di dalam OPAC yang sudah terhubung dengan modul sirkulasi, biasanya pemakai dapat mengecek status buku tersebut apakah sedang dipinjam atau tersedia di rak.

3. Modul Sirkulasi
Modul ini menangani proses peminjaman bahan pustaka dan keanggotaan. Proses yang ditangani oleh modul ini mencakup : perpanjangan peminjaman bahan pustaka, manajemen denda, menginput data anggota perpustakaan, menonaktifkankeanggotaan, pencatatan buku yang hilang, pencatatan pinjam antar perpustakaan, stock opname (inventory) bahan pustaka, pembuatan laporan statistik peminjaman, laporan denda dan lain-lain.

Modul-modul yang bersifat pilihan (optional) di dalam sebuah software perpustakaan :

1. Modul Pengadaan (Acquisition)
Modul ini mengelola pembelian dan penerimaan bahan pustaka, pengembalian atau pembatalan pemesanan buku, melakukan proses komplain (claim) terhadap supplier buku yang lalai mengirim buku pada waktunya, dan lain-lain. Modul ini biasanya mampu mengeluarkan laporan statistik pembelian buku.

2. Modul Serial Control
Modul ini mengelola pembelian terbitan berseri seperti majalah, jurnal, koran. Modul ini melakukan pemesanan terbitan berseri, pembatalan pemesanan, perpanjangan masa berlangganan, mengeluarkan surat komplain (claim) terhadap supplier yang terlambat mengirimkan majalah / koran, serta mengeluarkan laporan statistik pembelian terbitan berseri.

3. Modul Inter Library Loan
Modul ini menangani kegiatan peminjaman antar perpustakaan, seperti memonitor anggota perpustakaan yang meminjam koleksi dari perpustakaan lain, membuat surat komplain jika ada buku yang dipinjam dan terlambat dikembalikan oleh perpustakaan lain, mengeluarkan laporan statistik mengenai kegiatan peminjaman antar perpustakaan,
dan lain-lain. Modul ini sangat jarang igunakan oleh perpustakaan, kecuali untuk perpustakaan yang memiliki tingkat peminjaman antar perpustakaan yang sangat tinggi.

4. Web OPAC
Web OPAC adalah OPAC yang dapat diakses melalui browser WEB seperti
Internet Explorer, Opera, dll. Web OPAC yang telah di-publish di internet
dapat diakses oleh pemakai dari seluruh dunia.

Cara Mendapatkan S oftware Perpustakaan
Software perpustakaan umumya didapatkan melalui 3 (tiga) cara :
1. In House, yaitu dibuat di dalam nstitusi atau organisasi induk perpustakaan, dikerjakan oleh karyawan dari Departemen Komputer / IT di institusi tersebut.

2. Membeli software perpustakaan dari Vendor. Software yang ditawarkan vendor terdiri atas dua jenis:
a. Software perpustakaan siap pakai, dikenal dengan istilah Turnkey system.
b. Paket software perpustakaan yang bersifat modular, ditawarkan dan dijual per-modul.

3. Menggunakan software perpustakaan
Open Source yang dapat di download secara gratis dari Internet. Contoh Software perpustakaan open source adalah: Koha, OpenBiblio, ph0 MyLibrary, GNUTeca, Phyteas (OSDL).

Tiap sistem tersebut memiliki Kelebihan dan kekurangan. Pilih dengan cermat dan paling sesuai dengan kondisi sekolah Anda.TG

Ari Suryandari, SS, SKom
Mantan Kepala Perpustakaan Program Study Magister Managemen
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Juni 10, 2009

YAYASAN SIMAK BANGSA : LAUNCHING DAN DEKLARASI PENDIDIKAN BERKARAKTER


DEKLARASI DAN REKOMENDASI
PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI LANDASAN KEBANGKITAN ANAK BANGSA

Kami mewakili sekelompok anak bangsa yang memiliki keprihatinan pada kondisi pendidikan di tanah air, menyatakan bahwa pembentukan karakter adalah sebuah kepentingan bersama yang paling strategis dan penting saat ini, untuk menyiapkan generasi bangsa yang berkarakter unggul.

Keprihatinan ini didasari pada banyaknya penurunan nilai-nilai di masyarakat. Indikasi hancurnya tatanan hidup kemasyarakatan dan individual semakin meningkat. Keluarga dan Sekolah sebagai institusi pendidikan mengalami banyak kendala dalam membina karakter anak bangsa yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Diperlukan kemampuan untuk menyiapkan generasi mendatang yang penuh kompetensi seimbang, tanpa meninggalkan kepribadian luhur yang telah dimiliki oleh bangsa ini sejak dahulu. Bukan terbatas hanya pada wacana belaka.

Keluarga adalah benteng utama pembentukan karakter anak bangsa. Sekolah adalah institusi formal yang diharapkan mampu mewujudkan pembentukan karakter. Sistem dan program serta kualitas guru di sekolah menjadi pilar utama dan bersinergi secara positif dengan keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Problematika pentingnya pendidikan karakter ini merupakan hasil pemikiran mendalam melalui Seminar Nasional “ PENDIDIKAN BERBASIS PEMBENTUKAN KARAKTER SEBAGAI LANDASAN KEBANGKITAN ANAK BANGSA”, yang diselenggarakan oleh Yayasan SiMAk Bangsa (Sinergi Membangun Anak Bangsa) di Hotel The Sultan, Jakarta, pada Minggu 7 Juni 2009. Pembahasan ini menghasilkan beberapa butir kesepakatan berupa Deklarasi dari Visi dan Semangat yang ingin kami rekomendasikan kepada seluruh komponen bangsa agar dapat digulirkan sebagai sebuah Visi Bersama dan diwujudkan dalam sebuah Gerakan Nasional Pendidikan Berkarakter.

Deklarasi :
1. Dinyatakan bahwa Undang-Undang Dasar 45 (amandemen) dan UU terkait pendidikan nasional di tingkat makro sebagai payung kebijakan, telah berpihak pada pembentukan karakter anak bangsa sebagai tujuan pendidikan nasional. Dan dinyatakan: masih terdapat kesenjangan antara kebijakan perUndang-undangan tersebut dengan penerapan praktikal pendidikan di tingkat mikro.

2. Pendidikan karakter anak bangsa adalah sebuah kebutuhan mendesak yang perlu disegerakan menjadi fokus perhatian semua elemen bangsa. Jika penyelenggaraan pendidikan nasional tidak memasukkan atau tidak memerhatikan pengembangan karakter, mangakibatkan kehancuran bangsa.

3. Guru perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan mengelola kelas dalam suasana yang memerhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan interaksi sosial yang harmonis. Guru harus memiliki kesadaran dan wawasan pentingnya pendidikan berbasis pembentukan karakter. Keterampilan mengelola kelas menjadi basis terkecil proses besar berskala nasional.

4. Agar masyarakat pendidikan nasional dapat terus meningkatkan pentingnya pendidikan karakter tersebut, diperlukan kegiatan dan jaringan komunitas yang peduli pada pengembangan kurikulum pendidikan nasional.

REKOMENDASI :
1. Mendorong para pengelola sekolah, khususnya Guru, sebagai ujung tombak pendidikan pada tingkat mikro, baik di pendidikan swasta, pemerintah, maupun pendidikan berbasis keagamaan (dibawah Departemen Agama), agar bersinergi dan bekerja sama, untuk mewujudkan sistem pendidikan yang tidak hanya terbatas pada pengajaran dan kegiatan di kelas saja, namun kembali menjadi pendidikan yang mengaplikasikan pengembangan karakter menuju insan yang cerdas dan berakhlaq dalam perubahan tata interaksi saat ini dan mendatang, serta memiliki jiwa kepemimpinan, untuk diri sendiri, lingkungan dan masyarakat yang lebih luas.

2. Mengajak para pengambil kebijakan pendidikan di tingkat pusat dan daerah, serta kalangan pendidik dan masyarakat di seluruh Indonesia, untuk bersama-sama mendukung pengembangan program pendidikan baik formal, informal dan non formal yang memberi perhatian dan penekanan lebih besar pada kualitas guru, fasilitator, pelatih sebagai praktisi pendidikan, untuk menumbuhkan pembiasaan melalui keteladanan dan pengajaran berdasar pembetukan karakter.

3. Bersama-sama menolak pola tindak, perilaku dan budaya yang tidak sesuai dengan kebesaran diri manusia Indonesia yang sesungguhnya memilki jati diri yang luhur adi luhung.

4. Mendorong pihak-pihak yang terkait dengan implementasi kebijakan pendidikan nasional, untuk mengatasi kendala dan hambatan bagi pengembangan pendidikan karakter.

Jakarta 7 Juni 2009
Yang menyatakan Deklarasi

a. Seluruh peserta seminar nasional “Pendidikan Berbasis Pembentukan Karakter Sebagai Landasan Kebangkitan Anak Bangsa”.
b. Yayasan SiMAk Bangsa sebagai komunitas yang memiliki visi-misi kepedulian pada pendidikan berbasis karakter beserta jaringan pendukung.
*****
YAYASAN SiMAk Bangsa
'Sinergi Membangun Anak Bangsa'

Visi:
”Menjadi lembaga yang menginisiasi, mensinergikan dan menjalankan program peningkatan mutu pendidikan di Indonesia demi pembangunan anak bangsa yang seutuhnya.”

Misi: ”Membangun anak bangsa sehingga memiliki kepribadian luhur, keunggulan akademik dan penguasaan daya tahan hidup yang tinggi.”

Program :
Mengadakan pelatihan-pelatihan dan diklat untuk tenaga pendidik dan kependidikan
Mengadakan pendampingan bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan
Merancang dan memproduksi berbagai media pembelajaran yang dibutuhkan
Mendukung dan mengawal isu-isu pendidikan baik di level nasional dan daerah

Produk-produk Training:
Power Full Learning
Power Full Teaching
Leadership for Principal Training
Sinergic Class Training
Strong-Character Teacher

STRUKTUR ORGANISASIPendiri:• Dedhi Suharto, Ak., M.Ak.,CISA
• Drs. H. Razuan Syahrizal
Pembina:
• Drs. H. Razuan Syahrizal
• Dedi Martoni, S.Pd.,M.Si
• Drs. Sukro Muhab, M.Si
Pengawas:• Dedhi Suharto, Ak., M.Ak., CISA
Pengurus:
Ketua : Drs. H. Syamsuddin
Sekretaris : Sapto Sugiharto, S.Pd
Bendahara : Shintawati, S.Si

Hotline SiMAk Bangsa:
Telp : 0251-8957075
Sapto Sugiharto, S.Pd : 0818717006
Shintawati, S. Si : 081314103935
Email : simak_bangsa@yahoo.com

Juni 02, 2009

SADe’s Tradisional Festival 2009


Menumbuhkan Cinta Budaya Bangsa bagi siswa Sekolah Alam Depok

Siaran Pers dari Sekolah Alam Depok/Juni 2009. Menumbuhkan rasa cinta budaya pada anak-anak sejak dini. Dengan kekuatan budaya dalam diri anak, ia akan tumbuh berkarakter dan mampu tampil berakar budaya saat kelak di ajang globalisasi.

Itulah misi acara SADe’s Traditional Festival 2009 di Sekolah Alam Depok, Jawa Barat. Sejumlah kesenian daerah ditampilkan, seperti tari Kicir-kicir (Betawi) oleh siswa Play Group dan TK-A, tari yamko rambe yamko (Papua) oleh siswa TK-B, tari Saman (Aceh) oleh siswa SD-1, Lenong bocah (Betawi) oleh siswa SD-2, Pencak silat (Jawa Barat) oleh siswa SD-3.

Supaya lebih kental suasana budaya, tiap kelas membuat stand bertema daerah tertentu sesuai pentas budaya yang mereka tampilkan. Ada cenderamata, makanan khas daerah, contoh rumah adat, alat musik, permainan tradisional, dan lainnya.

Acara diawali dengan lenggak-lenggok anak-anak TK-A yang menampilkan barisan penari Kicir-kicir menyambut tamu dating. Imam Budi Hartono (anggota legislatif Kota Depok) memukul bedug membuka acara ini, yang kemudian diiringi gemuruh petasan yang disambut tari dan nyanyi Yamko Rambe Yamko oleh anak-anak TK-B.

Para penonton terpingkal menyaksikan gerak dan celoteh siswa SD-2 menampilkan Lenong bocahnya dengan spontan dan lucu. Juga terkagum melihat keteraturan dan keharmonisan gerakan tari Saman dan pencak silat. Selain penampilan dari siswa, tak kalah menariknya para guru menyanyikan medley lagu-lagu daerah. Acara ditutup dengan lomba bakiak oleh orangtua. Wah, heboh banget deh...


Semoga dengan langkah kecil ini jadi awalan baik menumbuhkan cinta akan budaya bangsa.TG

Juni 01, 2009

Surat BSNP pada Sekolah inklusi


Mungkin dokumen resmi tentang pengaturan perlakuan Ujian Nasional bagi peserta didik program inklusi belum pernah Anda baca. Peraturan kependidikan di negeri kita seringkali tidak tersosialisasikan dengan baik. Alih-alih menerima dokumen resmi, aturannya saja sering simpang siur.

Surat resmi ber-kop surat Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tertanggal 17 Februari 2009, dengan nomor suat 1596/BSNP/II/2009 yang ditujukan kepada seluruh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi mengatakan: “Menindaklanjuti keputusan bersama antara BSNP dengan Direktorat Pendidikan Luar Biasa Depdiknas tentang beberapa perlakuan khusus untuk peserta didik program inklusi
dan Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2008/2009, bersama ini kami sampaikan penyempurnaan POS UN TP 2008/2009 sebagai berikut:

1. Soal, SKL dan waktu (yang disediakan untuk ujian) sama
2. Untuk peserta didik tuna rungu pada ujuan Bahasa Inggris bagian listening comprehension, diganti dengan reading comprehension (untuk level SMP-SMA)
3. Untuk peserta didik tuna netra, naskah soal ditulis huruf Braille
4. Jika naskah soal tidak dimungkinkan ditulis huruf Braille, maka:
• Naskah soal dibacakan di ruang tersendiri dengan tetap menjamin kerahasiaan, objektivitas dan akuntabilitas
• Waktu ditambah 30 menit
• Yang mengisi lembar jawaban adalah yang membacakan soal

Demikianlah, surat dinas yang ditandatangani Ketua BSNP Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd.,Kons. , selanjutnya minta perihal ini disebarluaskan dan dilaksanakan secara nasional. (Isi teks surat sesuai lampiran resmi yang diedarkan).

Adakah Sekolah Anda Inklusi?
Ketika sekolah Anda memutuskan untuk menerima siswa berkebutuhan khusus, kemudian sudah memberlakukan proses pendidikan khusus (dengan IEP – individualized Education Programe), lantas siswa dengan spectrum autisme, down sindrom, slow learner, asperger, ADHD, akan ikut serta dipertarungkan dalam UN yang memuat ratusan soal pilihan ganda, tanpa lay-out patut dan memuat soal yang bersifat knowledge (pengetahuan) saja? Jelas takkan lulus!

Menurut pejabat yang berwenang, jika siswa Special Need (SN) didaftarkan sebagai peserta UN, maka perlakuan hanya diprioritaskan untuk tuna rungu dan tuna netra. Selebihnya, diperlakukan secara sama.

Jika tak lulus UN, maka sekolah yang bersangkutan dapat mengeluarkan surat tanda tamat menempuh proses belajar dengan tahapan khusus. Berdasar surat kelulusan ini, siswa SN yang tak lulus UN tadi akan dapat mencari sekolah inklusi lanjutan (tentu saja sekolah swasta, yang tak terlalu membutuhkan
ijazah resmi pemerintah).

Namun jika ini dirasa akan membuat ‘harga diri’ siswa SN terganggu, maka sekolah boleh memutuskan untuk tidak mengikutsertakan siswa tersebut pada UN. Tentu saja dengan persetujuan orang tua.

Sekolah dianjurkan mengeluarkan juga Sertifikat Kompetensi yang berisi narasi pencapaian khusus, misalnya pada bidang seni, olah raga, keragamaan, ketrampilan, dan sebagainya.

Memang tidak mudah mempertemukan berbagai kepentingan. Undang-undang Sisdiknas Pasal 32 ayat 1, menyatakan bahwa yang disebut sebagai Pendidikan Khusus (PK) meliputi 8 ragam kekhususan, yakni: 1) tuna netra; 2) tuna rungu – tuna wicara; 3) tuna grahita : ringan (IQ = 50 -70), sedang (25-30) dan down syndrome; 4) tuna daksa (ringan dan sedang); 5) autism, asperger; 6) tuna ganda; 7) tuna laras (disruptive, HIV, dan narkoba); dan yang ke 8) kesulitan belajar (termasuk hyperaktif, ADD ADHD, dysgraphia/tulis, disleksia/baca, dyspasia/bicara, dyscalcuta/hitung,dyspraxia/motorik).

Bisa Anda bayangkan, apa yang akan siswa lakukan seandainya mengikuti UN? Yang terjadi selama ini, orang tua dan Guru sekolah inklusi sibuk melakukan terobosan yang sangat tidak menguntungkan bagi siswa SN. Mereka sibuk men-drilling uji soal seperti dilakukan terhadap siswa ‘normal’ demi mencapai angka minimal UN.

Apa dampaknya? Sekolah inklusi jadi lupa pada semangat awal menerima siswa SN, yang semula sudah lurus pada tataran konsep IEP dan cara penyampaian yang lebih individual. Mengapa kini demi UN, semua harus menjadi universal?

Orang tua siswa SN juga seringkali tidak fair. Mereka bangga jika anaknya memperoleh ijazah umum. Mereka menuntut sekolah melakukan pengayaan lewat kursus tambahan dengan materi UN. Alih-alih siswa terlayani kebutuhan inklusi-nya secara berkesinambungan, yang ada hanya menghabiskan waktu untuk kejar tayang meski itu tidak akan berguna bagi kehidupannya masa depan. Ketrampilan yang mereka dapatkan menjadi tak bernilai.

Jadi Bagaimana?Pejabat BSNP di atas juga mengatakan, sebaiknya sekolah mengkomunikasikan hal ini sejak awal kepada orang tua. Konsekuensi-nya juga harus ditanggung, bahwa ternyata tidak ada perlakuan istimewa untuk anak istimewa mereka (kecuali yang tuna rungu dan netra).

Terbayang ya sulitnya. Tapi terus saja mencari solusi dan tak surut semangat untuk menjadikan sekolah inklusi Anda menemukan bentuk yang ideal. Jangan surut dan takut menerima siswa SN. Lakukan komunikasi yang seluasnya.TG