Tampilkan postingan dengan label MGPBE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MGPBE. Tampilkan semua postingan

Oktober 24, 2010

Bupati Gorontalo Drs. David Bobihoe Akib : INSPIRATOR KEMAJUAN PENDIDIKAN INDONESIA

MGP-BE

Foto: Bupati Gorontalo Drs. David Bobihoe Akib.

Lain lubuk lain ikan, lain daerah lain siasah. Di Lampung Tengah, peran serta masyarakat amat menonjol lewat Dewan Pendidikan yang dipimpin oleh tokoh pengusaha H. Machfud S.MM, corporate relation manager PT Great Giant Pineapple. Sedangkan di Kabupaten Gorontalo, sang motor adalah Bupati Gorontalo sendiri, Drs. David Bobihoe Akib, M.Sc. M.M, sebagai pengatur kebijakan yang pro pendidikan.

“Keunggulan Gorontalo karena Bupati yang aktif,” jelas Syamsudin Tuli, ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Gorontalo. Sementara Dewan Pendidikan Kabupaten Gorontalo berperan memberi masukan, dan mengawasi kepala sekolah, monitoring komite sekolah, dan menjadi mitra Bupati.

DESA BERPERAN
Uniknya, Bupati Gorontalo David Bobihoe Akib gemar memberi wewenang dan tanggungjawab, hingga ke tingkat pemerintahan desa. Desentralisasi kewenangan ini, menjadikan lembaga musyawarah desa efektif menampung keluh kesah. Masyarakat, sebagai komite sekolah, dapat menyalurkan aspirasinya yang diteruskan sampai Pak Bupati.

Tahun 2009, desa dijadikan laboratorium pemerintah. Desa diminta menyusun RPMJD dan APBD desa. Untuk menjalankan fungsinya, desa diberi 254 kewenangan, antara lain berwenang mengatur pengelolaan pasar, ijin tambang galian C. Kewenangan serupa juga kepada kedinasan (SKPD) dan wakil bupati. “Sesuai aturan, saya hanya mengawasi. Karena itu saya bisa lebih banyak di desa, sekolah, danau, perkebunan, sawah,” jelas David Bobihoe.

Tata kelola pemerintahan memang cukup bagus. Kuncinya, pembangunan bottom up, dari desa. “Saya siapkan program, ada visi misi, kita bikin RPJMD, Renstra, lalu program tahunan. Tahun 2005 - 2006 saya bangun pendampingan SKPD secara interkoneksitas. Tahun 2007, genjot produksi pertanian untuk kemandirian pangan di semua desa. Tahun 2008 dilakukan government mobile – memerintah dari kecamatan atau desa, sebulan dua kali. Terungkap banyak masukan: bantuan salah sasaran, kemiskinan, dan sebagainya. Melalui mapping government, tiap masalah diselesaikan.

KOMITMEN
Menurut Bupati David Bobihoe, membangun daerah diawali komiten. Tidak boleh ada kepentingan pribadi. Membangun pendidikan hasilnya baru bisa dinikmati 15-20 tahun mendatang, bukan saat ini. Keliru mencetak SDM, Gorontalo akan gagal sepanjang masa. Karena itu, semua jajaran satuan kerja, stakeholder, masyarakat pemerhati pendidikan, sepakat mendukung program menjadikan masyarakat Gorontalo tuan rumah di negeri sendiri dengan membentuk SDM terbaik.

DPRD pun diyakinkan memberi anggaran pendidikan yang memadai. Tahun 2006 sebesar 26% APBD; tahun 2007 jadi 32%; tahun 2008 ke-36,8% ; tahun 2009 sebesar 36%; tahun 2010 tambah lagi jadi 41% (sekitar Rp. 126 miliar). Ini diluar gaji guru dan bantuan pusat maupun donor asing .


Agar mandiri dan cepat tanggap, tiap sekolah diberi anggaran operasional Rp. 5 juta (beli kapur, alat tulis, dsb) tanpa perlu minta ke kepala dinas pendidikan. Dikirim langsung via rekening bank, dengan pertanggungjawaban jelas.

BERSAMA DAN DISIPLIN
“Membangun daerah, termasuk pendidikan, tak bisa sendiri, harus bersama-sama. Anggaran dan wewenang telah diserahkan ke semua satker. Harus tuntas program, tuntas anggaran, dan tuntas masalah. Saya mengedepankan kultur kekeluargaan Gorontalo: tidak harus keras atau lembut. Tapi harus disiplin tinggi. Mereka yang berani melanggar saya tindak saat itu juga.”

JELI MANFAATKAN BANTUAN ASING
Bantuan asing ibarat mesin pada perahu, membuat perahu cepat berlayar dan sampai. Kini ada 7 program bantuan asing di sektor pendidikan (dari Jerman, AS, Jepang, Inggris, Bank Dunia, dan Unicef). “Prinsipnya ada gula ada semut. Buat program dahulu, lalu undang donor melihat, dan minta arahan. Meski banyak, namun tidak tumpang-tindih. Ada yang mendatangkan guru trainer (AS), memperbaiki sekolah (Australia), peningkatan mutu guru (Bank Dunia), pengembangan kurikulum (Jerman dan Unicef).

DATA PENDIDIKAN
Dibentuk lembaga untuk mencatat dan updating data kependidikan. Mengangkat pengelola data di tingkat cabang dinas. Melaksanakan lokakarya analisis data yang melibatkan seluruh stakeholder pendidikan hingga tingkat kepala sekolah dan unsur pengelola data tingkat kecamatan.

Manfaat yang didapat, validasi data untuk SD/MI dan SMP/MTs. Rekomendasi sekolah multigrade untuk 17 sekolaha di 5 kecamatan, regrouping sekolah, peningkatan kualitas guru, redistribusi guru SMP/MTs, serta rekruitmen guru baru (201 orang pada 2008).

TRANSPARANSI
Rumah dinas tak ada pos satpam dan terbuka tanpa pagar. Masyarakat dapat datang masuk, terbuka 24 jam. Mengubah birokrat korup, melalui keterbukaan tender. Siapapun, entah tim sukses, partai pendukung, keluarga, boleh ikut tender terbuka itu. Saat pengumuman di lapangan terbuka, disaksikan masyarakat. Tidak ada kong-kalikong, objektif, tanpa lobi-lobi.

Saat pelaksanaan di kecamatan, misalnya, selalu diundang mahasiswa, LSM, dan perwakilan masyarakat. Nilai proyek diumumkan, dan masyarakat serta LSM dimintaat mengawasi. Ada 27 LSM yang dibiayai mengawasi berbagai proyek di berbagai sektor.
David pernah di-PTUN-kan oleh para guru, ketika memutasi 644 guru ke desa. Ia menang, karena kebijakan itu berdasarkan suatu analisis tentang penyebaran guru. Saat ini, banyak guru desa yang malah berterima kasih ditugaskan di desa.

EFISIENSI ANGGARAN
Belum lama ini, tim pendidikan Kabupaten Rokan Hulu dan Kuantan Singingi, Riau, berkunjung mempelajari model pengelolaan anggaran pendidikan, yang menurut mereka efisien. Anggaran APBD Rp. 509 miliar, tidaklah besar. Seluruh SKPD sudah diberi dana operasional. Kepala dinas punya tunjangan di luar gaji dan jabatan, Rp. 12 juta, asisten Bupati Rp.15 juta. Jangan berfikir memotong biaya proyek, mengambil hak orang, atau meminta komisi. Mengurus ijin biaya Rp. 15 ribu, tunggu 3 jam selesai. Seluruhnya sudah terikat Pakta Integritas.

Cepat atau lambat, semua akan menuju transparansi anggaran. Karenanya, harus dipersiapkan sikap transparansi itu. Misal, biaya makan rapat 1 dos Rp. 35 ribu, harus tepat berapa ikan, telur, nasi, sendok, harga kotak. Laporan harga, biaya masuk keluar, penggunaan anggaran dan sumber dana, harus ditempelkan di sekolah, tidak ada yang ditutupi. Sehingga, secara spontan, jika ada kekurangan, orangtua mau membantu.

Gorontalo fokus pada tiga sektor pembangunan: pendidikan, kesehatan, dan pertanian. Maknanya luas, tak semua anggaran ada di dinas terkait, ada interkoneksitas. Jagung masuk sekolah, anggarannya dari dinas pertanian, rumput laut masuk sekolah dari anggaran dinas perikanan & kelautan.

Foto: Pertemuan dan pelatihan Guru dalam Program BERMUTU bantuan dana asing.

ESENSI PENDIDIKAN
Kalau pendidikan maju, maka masyarakat akan pintar, dan maju berwirausaha. Ekonomi meningkat. Agama pun dikembangkan, sehingga terjaga keseimbangan. Pengajian ahad subuh tiap minggu, memberangkatkan haji para imam mesjid secara bergiliran.


Wuih……apakah setiap daerah bisa inspiring fakta-fakta ini? Asumsi kami, pendidikan Indonesia bisa maju cepat, jika program ini berjalan tanpa hambatan.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

November 09, 2009

MGPBE : Melongok Lombok Memaknai PAKEM

Pengalaman di SDN 1 Ubung Jonggat Lombok Tengah.














Sekolah ini menerima bantuan pelatihan MGP-BE mulai tahun 2008 lalu. Secara sepintas, indikator PAKEM tampak eksplisit. Susunan kursi, meski sudah usang, tampak diatur dengan model berkelompok. Akuntabilitas keuangan juga ditulis di papan besar dan dipajang di depan kantor. Deretan papan display terpasang di tiap kelas.

“Sejak mempraktekkan cooperative learning, kini saya tak lagi lelah mengajar. Siswa saya lihat jadi ceria, banyak senyum,” begitu pengakuan Zakaria Spd., Guru kelas IV di sekolah yang tampak bersih ini. Sebelumnya Pak Zakaria berdinas di SDN 2 Nyerot, masih di Lombok Tengah. Dalam balutan busana safari, Pak Zakaria tampil sebagai ‘guru benar’.

Coba simak proses belajar di kelas VI di sekolah yang kami kunjungi ini.....
“Hari ini, bapak akan mengajar Ilmu Pengetahuan Alam. Kalian perhatikan ya. Jangan ribut. Kita akan mempelajari makhluk hidup hewan dan tumbuhan, dengan ciri-ciri dan tempat hidupnya. Makhluk hidup itu ada tanda-tandanya. Kalau dalam bahasa IPA disebut ciri-ciri,” begitu Pak Muhammad,Guru kelas VI yang juga tampil cukup gagah. “Bapak punya oleh-oleh. Kalian lihat saja dulu.” Berkelilinglah Pak Muhammad membagikan kantong kresek pada setiap meja yang dilingkari sepuluhan anak. Dikeluarkanlah isinya, sepotong batang kaktus dan selembar daun teratai. Anak-anak cukup menunjukkan rasa ingin tahu.

Instruksi yang disodorkan adalah mengamati dan mencermati, kemudian menuliskan ciri-cirinya sesuai pengamatan, di lembar kertas yang dibagikan kemudian. Lembar pertama memuat tabel ciri-ciri kaktus dan teratai. Lembar kedua meminta anak menuliskan pengamatan di cabang anak panah yang lingkaran tengahnya bertuliskan kaktus dan teratai. Sedangkan lembar terakhir meminta anak menuliskan puisi yang berkaitan dengan dua jenis bagian tumbuhan itu.

Cukup waktu bagi siswa untuk mendiskusikan, dengan jawaban dan pemikiran khas anak-anak. Mereka saling memberi komentar: ”Kalau kena tangan sakit (durinya), daun teratai berlemak, memiliki bunga yang besar dan bagus, punya akar banyak,” celetuk mereka. Salah satu siswa menuliskan di lembaran, begitu pula yang menulis puisi, tampak termangu membayangkan bunga teratai dan kaktus…..

Kaktus, kau tumbuh
sempurna…..
di musim hujau maupun
kemarau…….


Pak Muhammad nampaknya cukup memahami cara mengajar ala PAKEM. Tak tampak lagi Guru mendikte atau anak menyalin dari papan tulis. SDN 01 Ubung Jonggat sudah mengaplikasikan PAKEM. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

MGP BE: PAKEM di SDN 6 Masohi - Maluku Tengah



Kelas lebih hidup,
siswa lebih berani bertanya,
motivasi belajar meningkat,
absensi menurun.







Bu Gaya, guru di SDN 6 Masohi, Maluku, jadi ngetop saat evaluasi PAKEM diadakan oleh Unicef/Depdiknas, di Lombok, untuk sejumlah sekolah target intervensi di wilayah Indonesia bagian Timur, belum lama ini.

Bu Gaya memang gaya. Penampilannya pede abis. Suaranya lantang terdengar meski tanpa mikrofon. Raut muka senantiasa senyum. Semangatnya menyala saat mempresentasikan perkembangan sekolahnya setelah melaksanakan PAKEM.

Evaluasi di Lombok ini sangat menyemangati para praktisi pendidikan di sekolah yang telah mendapat sentuhan pembaruan melalui program MGP-BE yang terselenggara atas donasi Uni Eropa.

Berikut kesan Bu Gaya tentang manfaat PAKEM:

Kapan mulai mengenal PAKEM?
Tahun 2007. Saat itu ada pelatihan dari LPMP Maluku. Berlanjut di tahun berikutnya, saya berkenalan dengan program MGP-BE. Banyak pengalaman mengesankan yang saya rasakan. Saya sadari, Guru kurang kreatif, utamanya dalam mempersiapkan alat peraga. Ini sering dikritik siswa.

Saat memberi contoh membaca puisi, eh… ada siswa yang jauh lebih bagus membacanya. Nah, setelah proses berjalan, terjadilah saling belajar antara siswa dan guru. Ide dan kreatifitas justru banyak datang dari siswa.

Bagaimana keadaan siswa setelah penerapan PAKEM?
Tingkat absensi siswa menurun karena siswa tidak lagi merasa takut atau segan terhadap guru. Siswa merasa senang pada pola belajar bergaya PAKEM.
Yang menyolok adalah kegiatan berkelompok, yang dapat memunculkan tutor sebaya, hingga kelas lebih hidup. Motivasi belajar siswa belajar di kelas maupun di luar kelas meningkat karena adanya persaingan (kompetisi- red). Mereka ingin menjadi yang tercepat dan terbaik. Kemampuan berkomunikasi, menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, juga semakin terarah.

Harapan ke depan?
Program Unicef perlu terus dilanjutkan. Dan yang terpenting, ada pelatihan khusus bagi Guru untuk mendesain alat peraga sederhana, murah, dan tepat guna. Perlu studi banding ke sekolah yang maju penerapan PAKEM-nya.

Bu Gaya tampak makin semangat manakala mendengar kelakar para peserta evaluasi: “Bu Gaya memang gaya. Coba semua Guru seperti Bu Gaya. Maju pendidikan kita!’ komentar seorang Bapak dengan logat khas Maluku. Bu Gaya tersenyum sumringah. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

MGP BE : Prinsip PAKEM

PAKEM ini good practice. Praktik yang baik! Ini pendekatan saja, yang menuntun Guru untuk mengerti how-to nya proses mengajar. Apapun kurikulumnya, praktik yang baik berlaku universal dan tak lekang waktu atau selalu up to date (aktual).

Prinsip PAKEM antara lain:
1. Siswa mengerjakan kegiatan beragam untuk mengembangkan ketrampilan dan pemahaman, dengan penekanan pada learning by doing.

2. Guru menggunakan berbagai sumber belajar dan alat bantu,
termasuk pemanfaatan lingkungan.

3. Menata kelas menjadi lebih inspiratif, dengan memajang karya siswa, buku dan bahan yang menarik, serta membuat sudut baca.

4, Memakai cara pembelajaran yang bersifat kerja sama dan interaktif melalui kerja kelompok.

5. Guru membantu siswa memecahkan masalah sendiri, mengungkap pemikirannya sendiri dan melibatkan mereka secara aktif partisipatif. TG