Tampilkan postingan dengan label PAKEM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAKEM. Tampilkan semua postingan

Oktober 24, 2010

Yang ‘Tertular’ PAKEM - MBS –PSM

MGP-BE

FOTO: kegiatan membaca senyap di pagi hari, SDN 1 Limehe Timur, Kab. Gorontalo, sekolah non binaan.


Foto: kegermbiraan Siswa di SDN 3 Isimu Utara, saat menerima kunjungan Teachers Guide.

Para pendidik di Kabupaten Gorontalo kini sudah ‘tertular’ perubahan. Terbukti, meski program MGP-BE baru masuk tahap pengimbasan, di sana hampir semua melaksanakan PAKEM, MBS, dan PSM. Ada 318 SD/MI dan 113 SMP/MTs.

Karya-karya siswa saat pameran pendidikan belum lama ini, menyiratkan bahwa PAKEM telah mengubah pendidikan di Gorontalo. Catatan prestasi nilai akademik pun terus meningkat.

“Fisiknya sudah 100%, tapi kualitas kontennya sekitar 60%,“ jelas Zubair, pejabat pelaksana operasional MGP-BE Kabupaten Gorontalo. Cepatnya adopsi, karena peran fasilitator daerah. “Meski sekolahnya tak termasuk sekolah binaan yang dibantu anggaran Dana Pengembangan Kapasitas, mereka menerapkan PAKEM dengan biaya sendiri.”

Zubair, pejabat pelaksana program MGP-BE di Kabupaten Gorontalo, bersama dengan para guru SDN 3 Isimu Utara, sekolah non binaan MGPBE.

Sebutlah sekolah SDN 1 Limehe Timur, dan SMPN 2 Limboto, kedua sekolah ini non binaan, yang berubah dan menjadi sekolah bagus setelah menerapkan PAKEM.

Untuk menjaga perkembangan ini, DInas Pendidikan kabupaten Gorontalo mewajibkan seluruh sekolah yang sudah berlatih program MGP-BE, untuk menerapkan apa yang sudah dipelajari. “Dana sudah dikeluarkan, hasil harus dimaksimalkan. Jangan cuma wacana,” jelas Zubair. Kinerja sekolah berPAKEM pun dimonitor oleh pengawas.

KINERJA FASILITATOR DAERAH
Secara perorangan, tiap seorang fasilitator daerah (fasda) bertugas membina dua sekolah, satu di kota satu di desa. Sebulan dua kali fasda mengawasi sekolah binaan. Kualitas seorang fasda dilihat dari kemajuan sekolah binaannya itu. Sejumlah 21 fasda ini membentuk forum Asosiasi Fasda Gorontalo, yang sebulan dua kali bertemu, membahas perkembangan program dan melalukan evaluasi kinerja.

“Kami di Gorontalo kompak antara satgas, penanggungjawab operasional kegiatan (pjok), fasda, dan pengambil kebijakan. Saya yakin, MGP BE akan lebih melembaga di sini, dan Asosasi Fasda jadi motornya,” jelas Sutrisno DJ Yunus S.Pd, sekretaris asosiasi. Beruntung, para fasdaa mendapat banyak reward dari pemda, diantaranya insentif per bulan. (mmhh… mungkin ini kuncinya!-red)

FOTO: Sutrisno DJ Yunus SPd.

Menurut Sutrisno, yang juga kepala sekolah SDN 1 Limehe Timur, dahulu konsep MBS dilihat secara teoritis sulit diterapkan. Ternyata, setelah diaplikasikan, orang tersadar ada sesuatu yang hebat di dalamnya, sehingga sekolah-sekolah tertarik. Dukungan birokrasi dan kebutuhan masyarakat, membuat PAKEM, MBS, dan PSM diterima dengan cepat.

Foto: perpustakaan SMPN 2 Limboto, sekolah non binaan, tapi memiliki penerapan PAKEM, PSM, dan MBS yang baik.


Keberhasilan PAKEM sangat ditentukan seberapa masyarakat membantu proses pembelajaran, bagaimana kepala sekolah peduli mengadakan berbagai peralatan, dan bagaimana guru mendayagunakan potensi yang ada pada sekolah, sehingga siswa bisa belajar sendiri, dan Guru sebagai fasilitator.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Ketika PAKEM masuk Kampus


Foto: Para dosen UN Gorontalo antusias mencoba pendekatan PAKEM,MBS,dan PSM.

Roda PAKEM berputar dengan kencang di Kabupaten Gorontalo. Menurut Hamzah Yunus, fasilitator daerah dari Universitas Negeri Gorontalo, selama MGPBE berjalan dua tahun telah terjadi perubahan signifikan dalam persepsi kalangan dunia pendidikan.

Metodologi PAKEM-MBS-PSM pada sekolah pinggiran di dua kecamatan yaitu Telangohula, dan Tibawa, telah nyata meningkatkan prestasi siswa. Pada sisi mutu pembelajaran, sekolah intervensi memperlihatkan kemajuan membanggakan. Untuk tingkat SD dan SMP, prestasi pelajaran yang diujikan UN meningkat tajam. Meski ada di pelosok, prestasinya menyamai sekolah-sekolah di kota kabupaten Limboto yang mengusung nama SSN, SBI, atau RSBI.

Keberadaan sekolah yang menerapkan PAKEM, MBS, dan PSM ini, ternyata juga mencuri hati para guru. Mulanya guru perlu penyesuaian dengan cara PAKEM. Ketika sudah terbiasa, ketagihan PAKEM!

Guru senang mendapat pelatihan pembelajaran PAKEM. Kompetensi pun berkembang. Dengan sejajarnya kualitas, tak ada lagi perbedaan guru terpencil, guru sekolah intervensi, dan guru kota, sehingga teratasi soal pemerataan kualitas guru (yang berkualitas cenderung ingin mengajar di kota). MGPBE menjawab sekaligus masalah pemerataan kualitas guru.


Foto: Hamzah Yunus

PAKEM juga membuat tren perubahan pada strategi dan cara belajar mengajar. Ini disadari oleh para pengelola kampus kependidikan, agar output calon guru sesuai perkembangan pendidikan. “PAKEM harus masuk kampus. Kalau tidak, lulusan kami sulit memenuhi kebutuhan masyarakat dan mungkin tak mampu bersaing mengisi kebutuhan guru Gorontalo,” tambah Hamzah Yunus, yang aktif sebagai konsultan pendidikan.

Hal ini cukup disadari oleh para akademika di Universitas Negeri Gorontalo. Seiring program pelatihan ToT untuk 42 orang dosen UNG, tim training MGPBE juga diundang berbicara menyampaikan ide-ide besar PAKEM, MBS, dan PSM. Sekitar 400 mahasiswa UNG antusias menyimak pembelajaran ini.

“Dengan adanya PAKEM, maka aplikasi pembelajaran telah berbeda dengan kurikulum pendidikan guru di kampus. Kami ingin memproduksi guru yang dibutuhkan oleh sekolah-sekolah masa kini. Kami akan mengusulkan Rektor UNG mengadopsi dan menysosialisasikan PAKEM , termasuk merevisi kurikulum, silabus pembelajaran, dan RPP, di berbagai bidang studi secara terintegrasi,” jelas Hamzah Yunus.

Hal senada ditegaskan Asni Ilham S.Pd, M.Si, Ketua Prodi S1 PGSD, Universitas Negeri Gorontalo. “Selepas pelatihan ini, kami ingin membuat perubahan kurikulum, strategi pembelajaran dan modul-modul pembelajaran yang baru bagi mahasiswa PGSD dan diploma UNG,” jelas Asni Ilham. Beberapa mata kuliah akan diperbaiki, dan ada yang ditambah, yang akan diusulkan dalam Lokakarya Kurikulum di UNG pada Januari 2010.

Foto: Asni Ilham SPd, MSi.

Bukan tidak mungkin, di tingkat nasional Universitas Negeri Gorontalo menjadi pioner dalam pengembangan PAKEM di tingkat kampus kependidikan, yang melahirkan guru yang mampu mengajarkan kecerdasan akademik plus soft skill.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Bukan IPA Sastra

MGP-BE



Tak mudah memang banting stir mengubah pola mengajar teachers center ke arah student centre, di mana istilah PAKEM menjadi ikon yang mudah diingat.

Dalam pola lama (teachers center), Guru selalu siap sebagai ahli, ingin menjelaskan segala hal tapi yang nyantel hanya secuil.

Yang membedakan antara student center dan teacher center adalah sudut pandang. Pada student center, siswa diajak melakukan sesuatu, dan hasilnya didalami dengan pengamatan atau menjawab pertanyaan untuk mencapai target-target belajar.

Orientasi student center, berangkat dari pengetahuan awal anak, keragaman gaya belajar anak, serta apa sekiranya paling memikat perhatian anak sebelum memahami sesuatu. Banyak pintu masuk yang sering disebut sebagai scene setting atau hook.

Wajar kalau sejumlah dosen kependidikan mata peserta ToT MGPBE, di Gorontalo, tampak tergagap-gagap mencobakan pendekatan baru ini. Meski menguasai ilmu sains, mereka tampak kesulitan mencari ide pembelajaran, susah memilih cara mengajar yang tepat, sukar mencari pintu masuk informasi awal yang relevan dengan pengetahuan awal anak.

Kebanyakan dari mereka kurang mampu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan menantang agar siswa berfikir lebih kritis. Bahkan beberapa peserta kesulitan menetapkan kompetensi dasar, tujuan belajar yang ingin dicapai, serta indikator pencapaian.

Menurut Kabullah Naim, master trainer mata pelajaran sains, yang juga pengawas TK- SD-SLB di Kec. Margorejo, Kabupaten Pati, Jateng, kesulitan ini lantaran para dosen atau guru terbiasa pada pembelajaran berpusat pada guru (teachers center) –guru menuangkan ilmu dengan menjelaskan, siswa mendengarkan. Buku-buku panduan pendidikan IPA pun masih dalam pendekatan ini.

Foto: Kabullah Naim, bersama para peserta pelatihan IP dalam program MGP-BE di Kabupaten Gorontalo.

“Kesalahan Guru, menjelaskan panjang lebar, sehingga IPA atau Sains seolah pelajaran IPA sastra.” Tambahan lagi, para Guru malas dan tak mau repot eksperimen, karena terkesan memakan waktu lama. Suara miring menyebut, buat apa mengajar IPA dengan cara PAKEM, kuatir nanti siswa tidak mampu mengerjakan tes UN.

Dengan PAKEM, siswa mengalami sendiri dan menulis sendiri. Ini akan lebih bermakna bagi pembentukan pengetahuan siswa. Guru harus memiliki kedalaman dan keluasan menyiapkan tugas siswa, dan merumuskan tujuan pembelajaran dengan indikator pencapaian disusun bergradasi, dari yang mudah, kepemahaman, aplikasiikasi, dan seterusnya (taksonomi Bloom). Kalau Guru hanya memberikan tugas-tugas ringan saja, bagaimana siswa mencapai kompetensi yang diinginkan.

“Berarti kita mendayagunakan potensi siswa dan potensi alam lingkungan. Misal, belajar sifat-sifat air menggunakan gelas air mineral dan tissue basah. Mengamati batu, dan sebagainya. Menjelaskan konsep IPA dengan bahan yang dikenal anak, tak perlu peralatan praktikum sehingga aspek teknik tak jadi hambatan. Lingkungan jadi menyenangkan untuk belajar, muncul keinginan terlibat aktif, dan tanpa disadari siswa sudah terlibat aktif dalam pembelajaran. Ini tantangan bagi Guru, untuk secara tepat menerapkan sehingga konsep sains itu bisa dimediasi melalui model pembelajaratn PAKEM,” jelas Masri Kudrat Umar, dosen UNG, salah satu peserta pelatihan sains.

JANGAN JADI GURU IPA SASTRA

Mengubah paradigma itu memang tak mudah. Saran Kabullah Naim, banyak-banyaklah membaca, dan menelaah karakteristik mata pelajaran. Dalam standar isi dijelaskan, bahwa IPA itu inquiri, atau penemuan. Jadi, tidak bisa Guru hanya memberi penjelasan. Anak harus menjalani aktifitas.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Mencari Roh PAKEM

MGP-BE
Foto: Ibu Angie Siti Anggari menjelaskan soal manfaat buku besar dalam pembelajaran,saat pelatihan TOT untuk para dosen di Universitas Negeri Gorontalo.
Foto: suasana kelas PAKEM di sekolah dasar pedalaman di Kabupaten Gorontalo.


Belajar menggunakan cara PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan), sungguh-sungguh menyenangkan. Penciptaan situasi kelas menjadi bagus, anak bisa ngobrol berdiskusi, geser ke sana-sini bila perlu, bahkan ha-ha hi-hi. Rasa senang siswa muncul, senyum terlihat selalu mengembang di sudut bibir siswa, tanda ada kepuasan belajar. Secara psikologis, inilah keadaan alfa zone yang sangat ramah dengan cara kerja otak, untuk memulai pembelajaran.

Bagi mata awam, yang pertama terlihat adalah susunan bangku berkelompok, bukan berderetan mengarah semua ke pak/ibu Guru atau papan tulis seperti selama ini di kebanyakan sekolah. Berikutnya, pajangan karya anak yang ditempel-tempel di dinding kelas di mana saja, seolah menjadikan kelas terlihat ‘busy class’. Ketiga, pojok atau sudut membaca, berisikan buku panduan maupun bacaan bebas ringan namun tematik. Begitulah wujud fisik PAKEM.

Suasana ini berubah penuh semangat saat penghuninya –para siswa dan guru- beraksi. Kelas menjadi benar-benar hidup: aktif terkendali.

Eddy Budiono, master trainer MGP-BE, yang juga dosen di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, berkomentar tentang PAKEM dan perolehan belajar anak.

BELAJAR MELALUI INTERAKSI

Roh PAKEM adalah belajar melalui interaksi. Siswa berinteraksi dengan benda-benda sebagai sumber belajar. Siswa mencoba suatu kegiatan bereksperimen, dan dari sini menemukan jawaban masalah atau solusi.

Siswa berinteraksi dengan teman ketika berdiskusi, atau berinteraksi dengan abstraksi pemikirannya sendiri (melamun, berimajinasi). Saat berinteraksi itulah, ia mendapatkan sesuatu informasi yang menambah perbendaharaan pengetahuannya. Juga ada kesempatan membangun kemandiriannya sendiri. Dengan berbicara (komunikasi) , siswa membangun social intelligence-nya.

Ketika berinteraksi itu, ia menemukan gagasan/wawasan baru atau solusi pemecahan masalah, dia akan berteriak “aha” (aha fenomena). Ekspresi kepuasan terpancar di wajah siswa. Nikmatnya kepuasan “aha moment ” tentunya ingin diulanginya lagi, lagi, dan lagi. Ia selalu ingin kembali ke moment ini.

Tingkat kepuasan akan makin tinggi kalau masalah dibuat makin sulit. Siswa makin percaya diri, dan makin termotivasi mencari tantangan atau problem yang lebih dalam. Kalau setting tepat dan sesuai gaya belajar anak, guru dapat menuai “aha moment” ini pada setiap anak setiap waktu. Belajar dengan cara/metode PAKEM jelas sesuai dengan fitrah manusia, yang gemar berinteraksi setiap waktu, dan membutuhkan pemenuhan harga diri. PAKEM memanusiakan murid-murid kita.

Saat diskusi itu, di dalam otak anak ada penstrukturan kembali, sesuatu fakta baru di-link-kan dengan yang sudah ada. Seperti model ikatan senyawa molekul kimia, ada kaki-kaki senyawa yang siap menggabungkan komponen baru untuk membentuk senyawa baru yang lebih besar. Inilah saat pengetahuan dibentuk dan menjadi milik siswa. Terpatri di otak, menjadi konsep yang mudah di-recall kembali.


Foto: Eddy Budiono.


Siswa menjadi aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya itu. Dalam situasi belajar yang kondusif, menyenangkan, tanpa tekanan, ada kemerdekaan berfikir, ditambah keaktifan dan kreatifitas siswa, maka pembelajaran akan efektif mencapai tujuannya, yakni kebermaknaan dalam kehidupan.

Luar biasa pengaruh interaksi pembentukan pengetahuan pada diri seseorang. Amat merugi jika anak belajar tanpa memanfaatkan fitrah belajar alamiah ini, yaitu ketika anak menambahkan sendiri informasi yang dimilikinya.

CARA MEMBENTUK PENGETAHUAN
Lebih jauh, Eddy Budiono menjelaskan latar pemikiran pembelajaran PAKEM. Mengutip Jean Piaget (sesudah 1950-an), pengetahuan itu dibangun melalui interaksi dengan lingkungan. Seseorang tidak kosong pengetahuan, bahkan saat di kandungan. Bayi yang baru lahir menghisap jempol, menangis, dan memakan apa saja yang ditemui -- ini cara belajar lingkungan lewat indera mulut. Akan terus bertambah pengetahuan seusai perkembangan biologis syaraf di otaknya. Inilah yang disebut pembelajaran konstruktivisme.

Secara teoritis, menurut Vigotski, orang belajar melalui interaksi. Seseorang belajar atau membangun pengetahuannya dengan membangun interaksi dengan lingkungannya: sumber belajar (benda), dengan orang (teman), dengan abstraksi. Tapi ini ada keterbatasan. Dengan pendampingan dari orang yang lebih tahu, kemampuan belajar itu lebih meningkat lagi (zone maximal development).

Jelas ini berbeda dengan teori pendidikan sebelumnya, yang meyakini orang berpengetahuan (trampil) karena latihan. Melalui latihan (drill) terbentuk ikatan stimulus - respon. Jika hubungan stimulus dan respon kian kuat, terbentuklah suatu pengetahuan atau ketrampilan baru. Ini sebabnya, pendidikan kita menjadikan guru serba tahu (teachers center) karena akan melatih siswa.

Siswa pun diarahkan duduk berbaris arah ke depan, untuk mendengar dan mencatat ‘dari sang ahli’. Kondisi ini membatasi fitrah siswa bersosialisasi. Kenapa tidak pengetahuan itu kita manfaatkan dengan mendiskusikannya sehingga muncul keterampilan-ketrampilan lain yang tergolog soft skill?

PEMBIASAAN SOFT SKILL
Saat ini pendidikan kita, 90% terlalu berorientasi pada nilai (kognitif) mata pelajaran, kurang berorientasi pada kebutuhan siswa di masa depan. Untuk hidup sukses di masyarakat, ranah kognitif menyumbang 20% saja, sisanya 80% disumbang aspek ketrampilan (soft skill).

PAKEM mengembangkan strategi belajar yang tepat untuk ketrampilan dan pengetahuan sekaligus, yakni kompetensi pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. PAKEM menyegarkan implementasi kurikulum KTSP, yang cenderung pada pembentukan pengetahuan di ranah kognitif. PAKEM melengkapi pengembangan soft skill tanpa mengubah konten kurikulum.

Kebijakan pendidikan kita masih belum selaras. Syarat kelulusan siswa dengan skor tertentu, ikut membentuk paradigma di masyarakat, bahwa mutu pendidikan diukur ketrampilan kognitif saja – meski perannya kecil dibanding kemampuan afektif. Pembentukan soft skill memerlukan pembiasaan sejak Playgroup, TK, SD, SMP. Saat SMA atau perguruan tinggi cenderung sudah tak bisa dilakukan, karena vokasional sudah de depan mata.

Kebijakan sekolah gratis sesungguhnya justru terkesan menghambat partisipasi orangtua dan masyarakat memajukan pendidikan. Hal-hal di atas adalah sebagian dari problematika pendidikan. Sayang, pihak yang berwenang masih lambat menyesuaikan diri.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Orangtua Terlibat, Hasilnya Bagus Sekali

MGP-BE


Saat memasuki halaman sekolah SDN2 Isimu Selatan, rasa haru disambut ulur-ulur dan tarian adat oleh beberapa siswa pria berseragam sekolah. ”Sengaja kami latih mereka, karena anak-anak sudah banyak melupakan adat di Kecamatan Tibawa,” kata Abubakar Mootalu, tokoh adat setempat yang ketua forum kelas 6, didampingi Iskandar Ismail S.Ag, ketua Komite Sekolah yang juga orangtua murid.

Bukan hanya sebatas upaya penghargaan budaya setempat. Pihak orangtua melalui komite sekolah juga berbuat banyak, termasuk dalam hal fisik seperti mengecat sekolah, merehab perpustakaan, membuat meja baca, menghias taman, membuat bangunan tempat baca di taman, serta terlibat dalam pendampingan di kelas. Mereka rela bekerja, karena memahami dana pengecatan sudah digunakan untuk membeli buku dan CD pembelajaran. Sebuah transparansi pengelolaan sekolah yang berakibat tergeraknya orang tua untuk mendukung peningkatan dan kemajuan sekolah.


















Dulunya sekolah ini kurang diminati masyarakat sekitar. Bagi sekolah sederhana yang berlokasi di pinggiran sawah dan jauh dari ramai kota, dukungan masyarakat berbagai pihak adalah segalanya. Adalah kejelian sang kepala sekolah, untuk menjalin networking dan menggali dukungan berbagai pihak.

Menurut kepala sekolah Ruwaidah Aliyu S.Pd., seluruh siswa, orangtua murid, dan para guru, kelihatan sangat antusias mendandani sekolah agar makin nyaman dan menyenangkan bagi proses belajar mengajar di sana. Ada meja baca di depan kelas, dengan buku-buku pinjaman dari Perpustakaan Daerah Gorontalo, yang selalu diperbaharui tiap dua minggu.

Karena keterbatasan dana, satu CPU komputer melayani 4 monitor, di mana keempat siswa bisa membuka program atau game edukatif. “Ini membiasakan literasi teknologi informasi pada mereka, sekaligus sebagai ‘rival’ dari rental komputer yang menyediakan game-game yang tidak edukatif bagi anak. Anak-anak gemar ke sini, bahkan buka sampai selepas jam belajar,” jelasnya.

Benar, sebagai sekolah binaan MGP-BE, SDN 2 Isimu Selatan telah berhasil menumbuhkan semangat pembelajaran yang maksimal, bahkan menyebut diri sebagai sekolah berbasiskan IT.

Sekolah menjadi ramah pada anak, memanusiakan anak, serta kaya dengan keterikatan budaya setempat. Pembelajaran PAKEM mengubah mereka menjadi menghargai alam lingkungan dan budaya sendiri. Semua stakeholder sekolah tampak bersatu memberikan yang terbaik pada anak, meski pun kondisi keuangan sekolah terbatas.

Inilah potret perubahan yang amat nyata, dan patut kita renungkan bersama. Hendaknya ini dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah rakyat di Indonesia, yang kerap berjuang dengan kesendiriannya, yang sepi, mengayuh kemajuan tanpa gandeng tangan, dan nyaris putus asa.TG


Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

November 10, 2009

MGPBE: Agar Pakem, Gunakan PAKEM
















Sebagai kepala sekolah, Banjirman SPd (kanan, berbaju biru), merasakan bahwa program pembelajaran PAKEM, MBS, dan PSM merupakan resep ampuh untuk memperbaiki mutu pembelajaran sekaligus mutu sekolah. “Program ini mudah diterapkan, dapat dilakukan di mana saja, dan meningkatkan prestasi belajar.”

Sejak mempelajari PAKEM, MBS, dan PSM dan menerapkannya pada tahun 2007, Kepala Sekolah SMP 3 Kuantan Mudik, Kecamatan Kuantan Singingi, Provinsi Riau ini, berhasil mengubah sekolah menjadi maju. Di tahun 2008, ia meraih penghargaan sebagai Kepala Sekolah SMP Berprestasi juara II tingkat se-kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Padahal, sekolahnya bukanlah sekolah binaan program MGP-BE. Karena penguasaannya akan program pembelajaran ini, instruktur matematika ini pun sebelumnya dipercaya sebagai fasilitator daerah, yang mentraining rekan-rekan guru lainnya untuk memahami PAKEM, MBS, dan PSM.

Di waktu lalu, saat PAKEM diperkenalkan di tingkat SMP, banyak ketidakberhasilan. Saat itu pengenalan PAKEM seolah terpisahkan dengan pengenalan manajemen sekolah MBS), dan peran serta masyarakat PSM). Kenyataannya PAKEM akan lebih mudah berhasil bila didukung MBS dan PSM. Kini pengenalan untuk tingkat SD dan SMP dilakukan sekaligus.




















“Dengan PAKEM tugas guru menjadi mudah. Guru menjadi fasilitator, anak yang berbuat dan menemukan sendiri. Tidak lagi terpaku pada sumber belajar dari buku panduan, akan lebih mudah karena dapat memanfaatkan alam sekitar sekolah sebagai sumber belajar,“ tambahnya.

“Guru senior pun -yang selama ini selalu disangka enggan mencoba sesuatu yang baru- justru akan lebih termudahkan dengan PAKEM. Awalnya memang masih kikuk dan membuat kesalahan. Tapi seterusnya mudah, apalagi kalau sudah mampu mendesain RPP. Jika selama ini guru terpaku pada buku panduan sebagai sumber belajar, maka kini akan lebih mudah karena alam lingkungan sekitar sekolah bisa menjadi sumber belajar.”

“Sekolah menjadi transparan dan akuntabel, sebagai kunci mendapat kepercayaan masyarakat dan dunia usaha/industri. Saat semua pihak mendukung sekolah, segala kekurangan infrastruktur dan kegiatan belajar mengajar mendapat dukungan dari orangtua dan komite sekolah serta masyarakat dunia usaha di sekitarnya. Sekolah tak lagi terkendala oleh anggaran biaya operasional (BOP dan BOS) yang kurang memadai.”

SMP 3 Kuantan Mudik mendapat bantuan Rp. 500 ribu per bulan sumbangan dari dunia usaha. Dana ini digunakan untuk mendukung kegiatan ekskul dan pelatihan guru dalam MGMP. “Dengan simpati masyarakat ini, muncullah ide-ide dan gotong royong untuk kemajuan sekolah. Intinya, tidak mungkin sekolah melakukan sendiri perubahan, sekolah butuh dukungan masyarakat untuk meningkatkan kualitasnya,” jelas Banjirman SPd, yang kesehariannya juga aktif dalam kemasyarakat dan kewirausahaan sosial sebagai sekretaris desa, dakwah, aktifis kepemudaan dan ormas keagamaan. (untuk bertukar pengalaman, Banjirman SPd. bersedia dihubungi di 0812768 7364. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

November 09, 2009

MGPBE : Melongok Lombok Memaknai PAKEM

Pengalaman di SDN 1 Ubung Jonggat Lombok Tengah.














Sekolah ini menerima bantuan pelatihan MGP-BE mulai tahun 2008 lalu. Secara sepintas, indikator PAKEM tampak eksplisit. Susunan kursi, meski sudah usang, tampak diatur dengan model berkelompok. Akuntabilitas keuangan juga ditulis di papan besar dan dipajang di depan kantor. Deretan papan display terpasang di tiap kelas.

“Sejak mempraktekkan cooperative learning, kini saya tak lagi lelah mengajar. Siswa saya lihat jadi ceria, banyak senyum,” begitu pengakuan Zakaria Spd., Guru kelas IV di sekolah yang tampak bersih ini. Sebelumnya Pak Zakaria berdinas di SDN 2 Nyerot, masih di Lombok Tengah. Dalam balutan busana safari, Pak Zakaria tampil sebagai ‘guru benar’.

Coba simak proses belajar di kelas VI di sekolah yang kami kunjungi ini.....
“Hari ini, bapak akan mengajar Ilmu Pengetahuan Alam. Kalian perhatikan ya. Jangan ribut. Kita akan mempelajari makhluk hidup hewan dan tumbuhan, dengan ciri-ciri dan tempat hidupnya. Makhluk hidup itu ada tanda-tandanya. Kalau dalam bahasa IPA disebut ciri-ciri,” begitu Pak Muhammad,Guru kelas VI yang juga tampil cukup gagah. “Bapak punya oleh-oleh. Kalian lihat saja dulu.” Berkelilinglah Pak Muhammad membagikan kantong kresek pada setiap meja yang dilingkari sepuluhan anak. Dikeluarkanlah isinya, sepotong batang kaktus dan selembar daun teratai. Anak-anak cukup menunjukkan rasa ingin tahu.

Instruksi yang disodorkan adalah mengamati dan mencermati, kemudian menuliskan ciri-cirinya sesuai pengamatan, di lembar kertas yang dibagikan kemudian. Lembar pertama memuat tabel ciri-ciri kaktus dan teratai. Lembar kedua meminta anak menuliskan pengamatan di cabang anak panah yang lingkaran tengahnya bertuliskan kaktus dan teratai. Sedangkan lembar terakhir meminta anak menuliskan puisi yang berkaitan dengan dua jenis bagian tumbuhan itu.

Cukup waktu bagi siswa untuk mendiskusikan, dengan jawaban dan pemikiran khas anak-anak. Mereka saling memberi komentar: ”Kalau kena tangan sakit (durinya), daun teratai berlemak, memiliki bunga yang besar dan bagus, punya akar banyak,” celetuk mereka. Salah satu siswa menuliskan di lembaran, begitu pula yang menulis puisi, tampak termangu membayangkan bunga teratai dan kaktus…..

Kaktus, kau tumbuh
sempurna…..
di musim hujau maupun
kemarau…….


Pak Muhammad nampaknya cukup memahami cara mengajar ala PAKEM. Tak tampak lagi Guru mendikte atau anak menyalin dari papan tulis. SDN 01 Ubung Jonggat sudah mengaplikasikan PAKEM. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

MGP BE: PAKEM di SDN 6 Masohi - Maluku Tengah



Kelas lebih hidup,
siswa lebih berani bertanya,
motivasi belajar meningkat,
absensi menurun.







Bu Gaya, guru di SDN 6 Masohi, Maluku, jadi ngetop saat evaluasi PAKEM diadakan oleh Unicef/Depdiknas, di Lombok, untuk sejumlah sekolah target intervensi di wilayah Indonesia bagian Timur, belum lama ini.

Bu Gaya memang gaya. Penampilannya pede abis. Suaranya lantang terdengar meski tanpa mikrofon. Raut muka senantiasa senyum. Semangatnya menyala saat mempresentasikan perkembangan sekolahnya setelah melaksanakan PAKEM.

Evaluasi di Lombok ini sangat menyemangati para praktisi pendidikan di sekolah yang telah mendapat sentuhan pembaruan melalui program MGP-BE yang terselenggara atas donasi Uni Eropa.

Berikut kesan Bu Gaya tentang manfaat PAKEM:

Kapan mulai mengenal PAKEM?
Tahun 2007. Saat itu ada pelatihan dari LPMP Maluku. Berlanjut di tahun berikutnya, saya berkenalan dengan program MGP-BE. Banyak pengalaman mengesankan yang saya rasakan. Saya sadari, Guru kurang kreatif, utamanya dalam mempersiapkan alat peraga. Ini sering dikritik siswa.

Saat memberi contoh membaca puisi, eh… ada siswa yang jauh lebih bagus membacanya. Nah, setelah proses berjalan, terjadilah saling belajar antara siswa dan guru. Ide dan kreatifitas justru banyak datang dari siswa.

Bagaimana keadaan siswa setelah penerapan PAKEM?
Tingkat absensi siswa menurun karena siswa tidak lagi merasa takut atau segan terhadap guru. Siswa merasa senang pada pola belajar bergaya PAKEM.
Yang menyolok adalah kegiatan berkelompok, yang dapat memunculkan tutor sebaya, hingga kelas lebih hidup. Motivasi belajar siswa belajar di kelas maupun di luar kelas meningkat karena adanya persaingan (kompetisi- red). Mereka ingin menjadi yang tercepat dan terbaik. Kemampuan berkomunikasi, menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, juga semakin terarah.

Harapan ke depan?
Program Unicef perlu terus dilanjutkan. Dan yang terpenting, ada pelatihan khusus bagi Guru untuk mendesain alat peraga sederhana, murah, dan tepat guna. Perlu studi banding ke sekolah yang maju penerapan PAKEM-nya.

Bu Gaya tampak makin semangat manakala mendengar kelakar para peserta evaluasi: “Bu Gaya memang gaya. Coba semua Guru seperti Bu Gaya. Maju pendidikan kita!’ komentar seorang Bapak dengan logat khas Maluku. Bu Gaya tersenyum sumringah. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

MGP BE : Prinsip PAKEM

PAKEM ini good practice. Praktik yang baik! Ini pendekatan saja, yang menuntun Guru untuk mengerti how-to nya proses mengajar. Apapun kurikulumnya, praktik yang baik berlaku universal dan tak lekang waktu atau selalu up to date (aktual).

Prinsip PAKEM antara lain:
1. Siswa mengerjakan kegiatan beragam untuk mengembangkan ketrampilan dan pemahaman, dengan penekanan pada learning by doing.

2. Guru menggunakan berbagai sumber belajar dan alat bantu,
termasuk pemanfaatan lingkungan.

3. Menata kelas menjadi lebih inspiratif, dengan memajang karya siswa, buku dan bahan yang menarik, serta membuat sudut baca.

4, Memakai cara pembelajaran yang bersifat kerja sama dan interaktif melalui kerja kelompok.

5. Guru membantu siswa memecahkan masalah sendiri, mengungkap pemikirannya sendiri dan melibatkan mereka secara aktif partisipatif. TG

MGP BE: Praktik Pembelajaran yang Baik, Efektif, dan Berkualitas


























* Mainstreaming Good Practices in Basic Education (MGPBE).
Terjemahan yang paling dekat adalah: pengarusutamaan
praktik yang baik dalam pendidikan dasar.
* Istilah ‘pengarusutamaan’ sebagai terjemahan langsung
dari kata mainstreaming diartikan sebagai pelembagaan dan
pelaksanaan praktik yang baik secara meluas oleh sekolah
dan institusi pendidikan dasar dan MI maupun MTs
(madrasah ibtidaiyah dan madrasah tsanawiyah– di bawah Departemen Agama).
* Sedangkan praktik yang baik, adalah praktik pengajaran
yang terbukti efektif, meningkatkan kualitas pendidikan dasar
dan kapasitas manajemen pemerintah daerah dan kabupaten.
* Karena terbukti baik dan efektif, praktik pembelajaran
bermuatan active learning ini harus dipopulerkan,
sehingga pelaksanaannya di tersebar luas di banyak sekolah
dan institusi pendidikan seluruh Indonesia.


Itulah definisi progam Good practices (atau praktik yang baik) dari Unicef yang saat ini masih berjalan di 6 provinsi, yakni Riau, Lampung, Banten, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat dan Maluku. Tiap provinsi terdiri atas 2 kabupaten. Total sekolah binaan yang menerima bantuan sebanyak 505 sekolah – yaitu 407 SD/MI dan
98 SMP/MTs.

Pekerjaan yang terkoordinasi dengan baik ini diampu oleh badan dunia UNICEF, didukung dana dari Uni Eropa, dan tentu saja bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional. Programnya meliputi MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), PSM (Peran Serta Masyarakat), dan PAKEM (Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan).

Ketiganya diaplikasikan di tingkat sekolah. Sedangkan untuk tingkat kabupaten, diidentifikasi data analisis dan perencanaan, termasuk rencana strategis (Renstra), pembiayaan pendidikan, tata kelola, monitoring, dan evaluasi.

Tidak Menciptakan Praktik Baru
Negara kita sudah berkali-kali menerima bantuan dana peningkatan mutu pendidikan. Agar tak tumpang tindih, dilakukanlah penelusuran dan pemetaan praktik-praktik yang selama ini sudah terbukti efektif. Dan inilah yang kemudian dimaksimalkan aplikasinya pada pembelajaran. Jadi ditekankan, bahwa MGP-BE ini tidak menciptakan praktik baru.

Keunggulan program ini, dikemas menjadi enam modul. Selain MBS, PSM dan PAKEM, juga Pengembangan Kurikulum, Kelas Rangkap, dan Kelas Awal.

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan dasar, terlebih dulu harus mengetahui bagaimana CARA yang paling efektif. Secara umum, yang didorong adalah perubahan paradigma dalam kegiatan belajar mengajar. Buku besar, perpustakaan dan referensi, wawancara nara sumber, siswa antusias dan aktif serta ceria, diskusi, belajar kelompok, belajar di ruang terbuka, berpikir kritis dan memecahkan masalah, guru berkeliling memonitor kelas, kreatifitas, PAKEM, peran serta masyarakat dan orang tua, transparansi dan akuntabilitas publik, adalah item-item yang menjadi ikon paradigma baru pendidikan.

Kendala di lapangan tentu saja ada. Antara lain faktor geografis yang menyebabkan koordinasi dan supervisi serta informasi tak cepat terakomodasi. Partisipasi masyarakat juga menjadi menurun tatkala mengetahui wacana sekolah gratis. Faktor guru yang lamban beradaptasi menjadi penentu keberhasilan. Sedangkan kendala dana pendampingan yang belum memadai, menjadi pe-er pemerintah daerah.

Kepala sekolah sebagai pemegang kendali harus sudah memahami betul perubahan yang harus dilakukan. Selain sebagai administrator, dan manajer, peran kepala sekolah sebagai pemimpin (kurikulum) terutama sebagai ’agent of change’ dalam penyampaian materi ajar yang berlangsung setiap hari, yang selama bertahun-tahun terjebak pada teacher center yang membosankan.

4 Faktor Modalitas Kemajuan
Dalam sebuah kesempatan bertemu dengan pihak Depdiknas yang mendampingi program ini, ditekankan perlunya sebuah perubahan sikap dan cara pandang, agar program peningkatan mutu disikapi dengan pemahaman mendasar.

Diilustrasikan sebagai berikut:
Pertama: Modal. Ini sering menjadi alasan utama penggagal kemajuan. Tak ada modal (uang) tak ada perbaikan. Program MBP-BE didukung pendanaan dari Uni Eropa.

Kedua: Sumber daya alam. Ini jelas kita punya. Banyak sekali dan melimpah. Disinyalir kini terkikis, habis dan bocor sana sini. Karena itu menuntut kepedulian semua pihak. Pendidikan memegang peranan utama untuk memperbaiki sikap dan
ketrampilan pengolahan sumber daya alam ini.

Ketiga: Teknologi. Kemajuan dan pencapaian teknologi di setiap masa adalah achievement terbaik yang dihasilkan di masa itu. Bisa dibandingkan dengan kasat mata. Teknologi menciptakan kemudahan. Namun juga kerugian, terutama pada sikap dan cara berfikir yang cenderung soliter.

Keempat: Manusia. Nah.. di sinilah faktor utama yang bisa mengolah ketiga modalitas sebelumnya. Di sinilah pendidikan dan kesehatan menjadi teramat penting untuk ditingkatkan.

Guru juga manusia! Adagium mengatakan bahwa: ‘jika jernih di hulu, maka akan jernih pula di hilir, begitu pula sebaliknya’. Sungguh sentral peran Guru. Karena itu, praktik yang baik sungguh-sungguh harus diwujudkan dalam rangka percepatan peningkatan mutu sekolah.

Banyak Nian Bantuan Itu
Sesungguhnya kita harus bersyukur, dan seterusnya adalah menyikapi bantuan-bantuan dari negara donor yang berseliweran di negeri kita. Seringkali kita ini berfikir negatif. ‘Tak dibantu tak mau gerak, dibantu, adanya ngeles terus’. Lagi-lagi ini mutu manusianya.

Ibu Renani, Kepala Bagian Keuangan Sekretaris Mandikdasmen, menandaskan bahwa bantuan yang banyak itu harus kita sikapi dengan menjaga eksistensi dan harga diri sebagai bangsa.

Pada tahun 1980, British Council telah mengambil peran untuk mendukung pelaksanaan CBSA (cara belajar siswa aktif) di sekolah. Selang beberapa waktu, World Bank mengusung PEQIP (Primary Education Quality Improvement Project). Propinsi Nusa Tenggara Barat kerap mendapat bantuan projek ini.

Ada pula CLCC (Creating Learning Communites for Children), yang mendukung terciptanya MBS (manajemen berbasis sekolah) dan PAKEM. Belum lama juga berlangsung program MBS, yang dikawal UNESCO dengan support dana dari New Zealand Agency for International Development (NZAID).

Kita harus mampu menjalin negosiasi dengan baik. Kemajuan dan perubahan itu bergantung pada pada manusianya kan? Seperti ilustrasi di atas, berapa banyak pun bantuan dan upaya peningkatan kualitas pendidikan, yang menjadi penentu tentu saja pelaksana dan penikmat layanan pendidikan itu sendiri.

Persoalannya dan pertanyaan selanjutnya adalah, kapan program ini bisa diaplikasikan di seluruh sekolah di Indonesia? Karena tahun 2010 projek ini selesai. Untuk itulah berbagai pihak terkait, diseminasi, pengimbasan, replikasi, duplikasi dan pengarusutamaan, menjadi penting untuk dijalinkan kerjasamanya, antara lain oleh pers, gugus, subrayon, institusi pemerintah, dan rekan sejawat.

Contoh dan karya siswa di sekolah-sekolah yang menjadi target bantuan MGP-BE ini dapat menjadi bukti perubahan, meski setahap demi setahap, namun perubahan metode ini menjadikan siswa lebih bersemangat bersekolah.

Ayo, meski tak tersentuh program ini secara langsung, kita jangan tertinggal apalagi memandang sebelah mata upaya perubahan ini. Salah-salah sekolah kita menjadi ketinggalan kereta! Lets go! TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569