Lesson
Quick Ideas for Grades 1-2
Math Practice
Aces Never throw away a deck of playing cards. They have dozens of math applications: counting, sorting, probablility, and card –house engineering, just to name a few.
Bolts Stock up at the hardware store. Nuts, bolts, and screws are perfect for counting, weighing, and sorting.
CDS Save the free ones you get in the mail. Trace for perfect circles, or challenge kids to create a giant, symmetrical design for your bulletin board.
Drums Play various beats and talk about rhytm, counting, and patterns. (Make your own by stretching a balloon across an oatmeal canister.)
Eye Charts Measure and count the letters. You can also measure the distances from which kids can read the different lines on the chart.
Flashlights have kids bring one from home. Then turn off the lights and play with shadows. Talk about symmetry and shape.
Google FYI, this popular search engine as also a calculator. Enter a problem (such as 5+7) into the search field and the answer pops up.
Holograms Pick Up one or two hologram postcards and use them as a starting place to talk about 2-D and 3-D
Ice Cube Trays use for sorting small objects, measuring, or counting by 2s (have kids put a bean in every other slot).
Junk Mail Try catalog math.Invite kids to calculate various purchases. Or host an engineering challenge –who can build the strongest bridge from credit card offers?
Kisses (the chocolate kind). Not for every day, but a fun valentine’s day treat. Estimate how many are in jar, or do some nutrition math.
Lunch Trays Borrow some from your cafeteria. Then use them as a surface to create simple graphs with string and counters.
Magic Eight Ball A fun way to talk about probability. How wmany possible answers are there? How many are ‘good’ answers/ how many are ‘bad?’
Notebooks Invite kids to keep math journals -a place to work out their thinking and keep track of what they find interesting and confusing.
Origami paper this stuff is bright, colorful, and cheap –and a great way to talk about 2-D and 3-D shapes, folding, and symmetry.
Phones Bring in an old cell, handheld, or even rotary phone. Put it in your math center and invite kids to practice writing and dialing phone numbers.
Q-Tips Use a cheap, disposable paintbrushes. Write math problems using invisible ink.
Race Cars Invite kids to bring in toy cars from home. See how far they can go with a gentle push. How many red cars do students own? Blue? Green?
Stamps Cut canceled ones off your mail. Sort by colour and shape, or add up how much they all cost together.
Toilet Paper Tubes You’re probably already saving these. Use them to talk cylinders or as sorting containers.
Utensils Plastic silverware, potato mashers, and other kitchen gizmos make for great pointers and fun tools for your math center.
Vegetables Sugary treats are so last century. Count tomato seeds or weigh grees beans. Edamame (soybeans) are perfect counters.
Wooden Blocks Endless opportunities here: who can built the tallest tower? How many blocks tall is the teacher? How much dose a block weigh?
X-rays Doctors and hospitals are often willing to donate old films. Count those ribs and measure that ulna!
Yarn Love those craft store teachers discounts. Use yarn as a flexible ruler. Weave on a cardboard loom and make patterns. Glue onto paper to make shapes or numbers.
Ziti Pasta shapes equal hours of math learning. Make patterned necklaces, measure and pour,or build noodle sculptures. TG
Hannah Trierweiler
Sources: Instructor, Scholastic, Jan/Feb 08,p. 57
Tampilkan postingan dengan label lesson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lesson. Tampilkan semua postingan
Oktober 30, 2010
Sejarah? “Bosan Ah!”
Gunakan Audio Visual, Siswa akan Bergairah

Saat mendengar kata ‘sejarah’, terbayang kebosanan, apalagi jika pelajaran tersebut disampaikan secara monoton pada jam-jam terakhir menjelang pulang sekolah. Sebagai Guru sejarah, apa yang harus kita perbuat menjumpai sikap para siswa yang tidak suka pelajaran yang akan kita bawakan?
Bukan tanpa sebab jika pelajaran sejarah diberi anggapan menjemukan, kuno, tidak penting, dan tak ada korelasinya dengan ilmu pengetahuan serta teknologi terbaru. Sejarah membosankan karena cara penyampaian materi yang monoton, bercerita saja, dan diskusi interaktif siswa tidak dapat terbangun.
Keadaan itu diperparah jarangnya kompetisi sejarah antar sekolah, serta sedikitnya minat siswa untuk membaca buku-buku sejarah di perpustakaan. Tak terdengar ‘Olimpiade Sejarah’ sebagaimana Olimpiade Fisika. Minat siswa meneliti pun belum tumbuh. Siswa apriori, karena pelajaran ini tak diujikan secara nasional.
Empat belas tahun yang lalu, di masa awal mengabdi sebagai guru sejarah pada SMA Don Bosko Semarang, saya mengalami krisis percaya diri saat akan menyampaikan materi di depan para siswa.
Semangat baru mulai muncul, karena perkenalan saya dengan OHP dan komputer. Pelajaran sejarah jadi menarik, ketika saya menyajikannya dalam bentuk audio visual. Tayangan visual situs-situs kerajaan Hindu dalam bentuk candi sangat mengundang rasa penasaran siswa. Beberapa bagian relief candi yang terkesan melanggar UU pornografi dan pornoaksi, sah-sah saja dijadikan media belajar.
Banyak siswa terlihat aktif dan antusias bertanya. Saya senang, materi pelajaran terserap dengan baik. Gambar patung, relief atau lukisan di masa lalu ternyata lebih mudah dipahami ketimbang melalui membaca buku sejarah saja. Film animasi tentang evolusi manusia, pola hidup jaman prasejarah dan awal peradaban umat manusia ternyata sangat membantu proses pemahaman. Sejarah yang semula begitu abstrak, menjadi jelas, karena disajikan secara konkrit.
Tradisi sekaten, grebeg Syawal, dan Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Surakarta dalam bentuk CD bisa digunakan untuk menjelaskan sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Begitu pula dengan film dokumenter tentang pergerakan nasional, Proklamasi RI, revolusi fisik, peristiwa Malari sampai gerakan reformasi dapat dipakai untuk menjelaskan sejarah Indonesia secara lengkap.
Saya sudah membuktikannya, dalam wujud peningkatan prestasi siswa hingga menjadi juara 2 dalam Kompetisi Sejarah antar SMA se-Karesidenan Semarang yang diadakan di UNNES pada tahun 2008 lalu.
APA yang HARUS DILAKUKAN?
• Manfaatkan internet untuk mencari gambar-gambar situs sejarah, ataupun film-film animasi tentang evolusi manusia. Gunakan gambar atau film dalam bentuk tayangan untuk melengkapi materi yang dibuat dalam bentuk “power point”.
• Jelaskan materi secara singkat. Biarkan para siswa mengamati tayangan lebih lama, dan berilah keleluasaan untuk bertanya pada guru.
• Ciptakan situasi belajar dalam bentuk diskusi informatif. Kembangkan komunikasi timbal balik yang seimbang. Guru jangan ceramah.
• Konsisten memberikan catatan dan nilai yang transparan bagi siswa. Obyektifitas harus dijunjung tinggi.
• Ciptakan relasi akrab dengan siswa. Jadilah pendengar yang baik. Jangan lupa berilah senyuman dan sapaan yang baik, sebelum maupun sesudah mengajar.
Sejarah adalah pelajaran tentang aktifitas manusia di masa lalu, yang hanya dapat dihadirkan kembali secara jelas dalam bentuk dokumen dan situs. Siswa akan mampu memahami jika guru mampu menghadirkan dokumen dan situs sejarah dalam bentuk tayangan audio visual.TG
Penulis: Anna Marlupi
Guru SMA Don Bosco, Semarang
Pemenang Lomba penulisan, pada pelatihan Literasi untuk Guru, Menjadi Guru yang Gemar Menulis
Saat mendengar kata ‘sejarah’, terbayang kebosanan, apalagi jika pelajaran tersebut disampaikan secara monoton pada jam-jam terakhir menjelang pulang sekolah. Sebagai Guru sejarah, apa yang harus kita perbuat menjumpai sikap para siswa yang tidak suka pelajaran yang akan kita bawakan?
Bukan tanpa sebab jika pelajaran sejarah diberi anggapan menjemukan, kuno, tidak penting, dan tak ada korelasinya dengan ilmu pengetahuan serta teknologi terbaru. Sejarah membosankan karena cara penyampaian materi yang monoton, bercerita saja, dan diskusi interaktif siswa tidak dapat terbangun.
Keadaan itu diperparah jarangnya kompetisi sejarah antar sekolah, serta sedikitnya minat siswa untuk membaca buku-buku sejarah di perpustakaan. Tak terdengar ‘Olimpiade Sejarah’ sebagaimana Olimpiade Fisika. Minat siswa meneliti pun belum tumbuh. Siswa apriori, karena pelajaran ini tak diujikan secara nasional.
Empat belas tahun yang lalu, di masa awal mengabdi sebagai guru sejarah pada SMA Don Bosko Semarang, saya mengalami krisis percaya diri saat akan menyampaikan materi di depan para siswa.
Semangat baru mulai muncul, karena perkenalan saya dengan OHP dan komputer. Pelajaran sejarah jadi menarik, ketika saya menyajikannya dalam bentuk audio visual. Tayangan visual situs-situs kerajaan Hindu dalam bentuk candi sangat mengundang rasa penasaran siswa. Beberapa bagian relief candi yang terkesan melanggar UU pornografi dan pornoaksi, sah-sah saja dijadikan media belajar.
Banyak siswa terlihat aktif dan antusias bertanya. Saya senang, materi pelajaran terserap dengan baik. Gambar patung, relief atau lukisan di masa lalu ternyata lebih mudah dipahami ketimbang melalui membaca buku sejarah saja. Film animasi tentang evolusi manusia, pola hidup jaman prasejarah dan awal peradaban umat manusia ternyata sangat membantu proses pemahaman. Sejarah yang semula begitu abstrak, menjadi jelas, karena disajikan secara konkrit.
Tradisi sekaten, grebeg Syawal, dan Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Surakarta dalam bentuk CD bisa digunakan untuk menjelaskan sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Begitu pula dengan film dokumenter tentang pergerakan nasional, Proklamasi RI, revolusi fisik, peristiwa Malari sampai gerakan reformasi dapat dipakai untuk menjelaskan sejarah Indonesia secara lengkap.
Saya sudah membuktikannya, dalam wujud peningkatan prestasi siswa hingga menjadi juara 2 dalam Kompetisi Sejarah antar SMA se-Karesidenan Semarang yang diadakan di UNNES pada tahun 2008 lalu.
APA yang HARUS DILAKUKAN?
• Manfaatkan internet untuk mencari gambar-gambar situs sejarah, ataupun film-film animasi tentang evolusi manusia. Gunakan gambar atau film dalam bentuk tayangan untuk melengkapi materi yang dibuat dalam bentuk “power point”.
• Jelaskan materi secara singkat. Biarkan para siswa mengamati tayangan lebih lama, dan berilah keleluasaan untuk bertanya pada guru.
• Ciptakan situasi belajar dalam bentuk diskusi informatif. Kembangkan komunikasi timbal balik yang seimbang. Guru jangan ceramah.
• Konsisten memberikan catatan dan nilai yang transparan bagi siswa. Obyektifitas harus dijunjung tinggi.
• Ciptakan relasi akrab dengan siswa. Jadilah pendengar yang baik. Jangan lupa berilah senyuman dan sapaan yang baik, sebelum maupun sesudah mengajar.
Sejarah adalah pelajaran tentang aktifitas manusia di masa lalu, yang hanya dapat dihadirkan kembali secara jelas dalam bentuk dokumen dan situs. Siswa akan mampu memahami jika guru mampu menghadirkan dokumen dan situs sejarah dalam bentuk tayangan audio visual.TG
Penulis: Anna Marlupi
Guru SMA Don Bosco, Semarang
Pemenang Lomba penulisan, pada pelatihan Literasi untuk Guru, Menjadi Guru yang Gemar Menulis
Oktober 29, 2010
Spelling Bee, AGAR TAK SEKEDAR BERGUMAM SEPERTI LEBAH
Lesson

‘stewardess’
‘what’s the definition?’
‘a person who serves passengers on aship, plane, etc’
‘es- ti- i - double yu – e – ar – di – i– double s’ eja seorang anak usia SD kelas 6, dengan fasih dan dialek bagus seperti native speaker.
‘That’s correct’ balas Ms. Chacha sang juri yang segera memberi kata berikutnya. Jika ada yang tak jelas, peserta akan meminta definisi atau petunjuk. Jika tetap tak bisa, disarankan mengatakan ‘pass’, agar tak di-delete.
Sejumlah anak bisa menembus di atas 15 kata, meski ada yang hanya mampu 3 kata langsung gugur. Ya, itulah pertandingan kecepatan, ketepatan pendengaran, dan wawasan serta perbendaharaan kata dalam bahasa Inggris yang dinamakan spelling bee.
Ernesto Aryo, direktur The Future yang baru saja menggelar kompetisi antar siswa SD, mengatakan bahwa spelling bee ini merupakan cara belajar yang fun, untuk memberi stimulasi pada anak bahwa belajar bahasa Inggris itu menyenangkan. Spelling bee ini kan salah satu bentuk games.
Mengapa Bee?
“Dalam bahasa Inggris, bee itu menggumam …emmm…..emmmm….. Kumbang itu kan bergumam. ‘mmmmm…mmmmm….. Nah, spelling bee menajamkan spelling, mengeja huruf, pemahaman kata, yang harus diucapkan, dilafalkan, bukan digumamkan!”, jelas Pak Aryo yang pernah tinggal di luar negeri dan mengikuti perkembangan spelling bee.
Apa yang dicari dan diunggulkan pada spelling bee?
“Ini yang paling cocok untuk siswa SD. Kalau siswa SMP sudah bisa dengan cara debat. Mengenalkan kata dalam bahasa inggris yang agak berat. Masing masing ada temanya. Ada house, body. Kalau mereka teliti, pasti ada satu set yang setema. Tapi ini bisa beda-beda di tempat lain.
“Kalau di Indonesia, ini cocok, karena bisa mendorong anak belajar bahasa Inggris lebih fun. Ini kan fun learning. Bahasa itu juga bakat. Setiap skill itu menurut saya bakat. Ada seorang murid, yang berkali-kali, repeat, ngulang pass, repeat, pass. Tapi sampai intermediate 4, akhirnya stuck sampai di situ. Dia tak tahu apa-apa. Untuk anak seperti ini, bahasa menjadi tak menyenangkan. Bisa sih bisa. Tapi tak terlalu berkembang.”
Apa manfaatnya?
“Keberanian maju. Lantas berani bicara. Ujungnya public speaking. Di Indonesia ini akan lebih berguna.”
Bagaimana supaya jangan jadi drilling?
“Spelling bee murni pengenalan kata yang berbeda dengan yang dipelajari di sekolah. Caranya adalah dengan memperbanyak membaca. Ya, membaca! Membaca sangat mengembangkan segalanya. Perbendaharaan kata, grammer. Buku buku yang ringan saja,” lanjut Pak Aryo

Di Amerika sangat menonjol ya?
“Sangat! Dikompetisikan secara nasional dan dinikmati oleh berbagai kalangan. Yang menang, biasanya bukan dari warga negara Amerika asli, kebanyakan orang kulit hitam, China, dan India. Dan kata yang dilombakan sungguh kata yang tak biasa. Kesulitan tingkat tinggi. Kemampuan mereka untuk meminta clue atau petunjuk arti kata yang dilontarkan sang juri tergantung kecerdasan berbahasa atau kompetensi berbahasa. Kita masih ketinggalan dibanding Singapura atau Malaysia.”
Coba simak film "Akeelah and the Bee".
Alkisah, ada seorang gadis kulit hitam, Akeelah Anderson. Diperankan oleh Keke Palmer. Film ini memberikan gambaran, betapa Spelling Bee di Amerika menjadi perlombaan yang diapresiasi dan menjadi kenikmatan para penonton, mirip suporter futsal. Yang sangat menarik disimak adalah cara guru mengajar dan memberi motivasi. Luar biasa.
Akeelah semula gadis yang menarik diri akibat pola asuh single parent yang mendominasi kehidupannya. Sang ibu yang tak menyetujui anaknya mengikuti kontes, belakangan baru mengaku bahwa alasannya tak tega dan tak ingin melihat putrinya kalah dan mengalami kesedihan.
Pak Larabee mengajarnya dengan cara yang sangat hebat. Lompat tali, tetabuhan, dan mengajak membaca bersama. Tak heran jika Akeelah dan peserta kompetisi lain mampu menggali definisi kata yang dimaksud, sebelum mulai mengeja. “Logorrhea ….”. Di kamus Longman saja tak bisa kita temukan.
Sering terlihat, guru di sekolah-sekolah kita mengajar spelling bee dengan cara konvensional. Drilling dan dihafal. Mestinya diganung dengan cara telaah makna kata. Dan itu tadi, membaca!TG
Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.
‘stewardess’
‘what’s the definition?’
‘a person who serves passengers on aship, plane, etc’
‘es- ti- i - double yu – e – ar – di – i– double s’ eja seorang anak usia SD kelas 6, dengan fasih dan dialek bagus seperti native speaker.
‘That’s correct’ balas Ms. Chacha sang juri yang segera memberi kata berikutnya. Jika ada yang tak jelas, peserta akan meminta definisi atau petunjuk. Jika tetap tak bisa, disarankan mengatakan ‘pass’, agar tak di-delete.
Sejumlah anak bisa menembus di atas 15 kata, meski ada yang hanya mampu 3 kata langsung gugur. Ya, itulah pertandingan kecepatan, ketepatan pendengaran, dan wawasan serta perbendaharaan kata dalam bahasa Inggris yang dinamakan spelling bee.
Ernesto Aryo, direktur The Future yang baru saja menggelar kompetisi antar siswa SD, mengatakan bahwa spelling bee ini merupakan cara belajar yang fun, untuk memberi stimulasi pada anak bahwa belajar bahasa Inggris itu menyenangkan. Spelling bee ini kan salah satu bentuk games.
Mengapa Bee?
“Dalam bahasa Inggris, bee itu menggumam …emmm…..emmmm….. Kumbang itu kan bergumam. ‘mmmmm…mmmmm….. Nah, spelling bee menajamkan spelling, mengeja huruf, pemahaman kata, yang harus diucapkan, dilafalkan, bukan digumamkan!”, jelas Pak Aryo yang pernah tinggal di luar negeri dan mengikuti perkembangan spelling bee.
Apa yang dicari dan diunggulkan pada spelling bee?
“Ini yang paling cocok untuk siswa SD. Kalau siswa SMP sudah bisa dengan cara debat. Mengenalkan kata dalam bahasa inggris yang agak berat. Masing masing ada temanya. Ada house, body. Kalau mereka teliti, pasti ada satu set yang setema. Tapi ini bisa beda-beda di tempat lain.
“Kalau di Indonesia, ini cocok, karena bisa mendorong anak belajar bahasa Inggris lebih fun. Ini kan fun learning. Bahasa itu juga bakat. Setiap skill itu menurut saya bakat. Ada seorang murid, yang berkali-kali, repeat, ngulang pass, repeat, pass. Tapi sampai intermediate 4, akhirnya stuck sampai di situ. Dia tak tahu apa-apa. Untuk anak seperti ini, bahasa menjadi tak menyenangkan. Bisa sih bisa. Tapi tak terlalu berkembang.”
Apa manfaatnya?
“Keberanian maju. Lantas berani bicara. Ujungnya public speaking. Di Indonesia ini akan lebih berguna.”
Bagaimana supaya jangan jadi drilling?
“Spelling bee murni pengenalan kata yang berbeda dengan yang dipelajari di sekolah. Caranya adalah dengan memperbanyak membaca. Ya, membaca! Membaca sangat mengembangkan segalanya. Perbendaharaan kata, grammer. Buku buku yang ringan saja,” lanjut Pak Aryo
Di Amerika sangat menonjol ya?
“Sangat! Dikompetisikan secara nasional dan dinikmati oleh berbagai kalangan. Yang menang, biasanya bukan dari warga negara Amerika asli, kebanyakan orang kulit hitam, China, dan India. Dan kata yang dilombakan sungguh kata yang tak biasa. Kesulitan tingkat tinggi. Kemampuan mereka untuk meminta clue atau petunjuk arti kata yang dilontarkan sang juri tergantung kecerdasan berbahasa atau kompetensi berbahasa. Kita masih ketinggalan dibanding Singapura atau Malaysia.”
Coba simak film "Akeelah and the Bee".
Alkisah, ada seorang gadis kulit hitam, Akeelah Anderson. Diperankan oleh Keke Palmer. Film ini memberikan gambaran, betapa Spelling Bee di Amerika menjadi perlombaan yang diapresiasi dan menjadi kenikmatan para penonton, mirip suporter futsal. Yang sangat menarik disimak adalah cara guru mengajar dan memberi motivasi. Luar biasa.
Akeelah semula gadis yang menarik diri akibat pola asuh single parent yang mendominasi kehidupannya. Sang ibu yang tak menyetujui anaknya mengikuti kontes, belakangan baru mengaku bahwa alasannya tak tega dan tak ingin melihat putrinya kalah dan mengalami kesedihan.
Pak Larabee mengajarnya dengan cara yang sangat hebat. Lompat tali, tetabuhan, dan mengajak membaca bersama. Tak heran jika Akeelah dan peserta kompetisi lain mampu menggali definisi kata yang dimaksud, sebelum mulai mengeja. “Logorrhea ….”. Di kamus Longman saja tak bisa kita temukan.
Sering terlihat, guru di sekolah-sekolah kita mengajar spelling bee dengan cara konvensional. Drilling dan dihafal. Mestinya diganung dengan cara telaah makna kata. Dan itu tadi, membaca!TG
Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.
SOAL MATEMATIKA YANG ANEH (1)
Lesson
“Janganlah menganggap bahwa
satu-satunya fungsi puzzle
hanyalah untuk kesenangan.
Puzzle adalah sebuah cara belajar matematika.
Bahkan, cara yang terbaik.”
MARTIN GARDNER
“Pada suatu hari berlabuhlah kapal besar di dermaga pelabuhan. Tinggi kapal itu 20 meter. Hari itu turun hujan lebat. Ternyata air setiap 1 jam naik 0,5 meter. Berapa jamkah kapal itu akan tenggelam?”
Secepat kilat soal ini dijawab oleh beberapa rekan guru di sesi training saya. Sebagian besar guru menjawab kapal akan tenggelam dalam waktu 40 jam. Alasannya adalah karena air setiap jam naik 0,5 meter, maka selama 40 jam air akan setinggi 20 meter (40 jam x 0,5 meter). Itu artinya, kapal akan tenggelam.
Namun, ada juga guru yang memberikan jawaban seperti ini, “Kapal itu tidak akan tenggelam. Jika air laut naik, maka kapal pun akan ikut terangkat naik. Artinya, posisi kapal akan selalu berada di atas permukaan air tak peduli berapa pun ketinggian air akan naik setiap jamnya.” Bagaimana menurut Anda?
Soal selanjutnya saya berikan seperti ini, “1.384 + 793 = …” Tak lebih dari 15 detik, serempak semua guru menjawab “ 2.177 ”.
Tetapi, apa yang terjadi ketika saya memberikan soal berikut ini.
Maaf gambar tak dapat diplacement.)
Tak ada lagi koor serempak untuk menjawab soal ini. Bahkan, mereka langsung berinisiatif sendiri untuk saling berdiskusi membahas soal tersebut. Anda punya cara sendiri untuk memecahkan soal ini?
Ada juga soal lainnya: “Tiga orang bersaudara mendapat surat wasiat pembagian harta peninggalan 17 ekor sapi yang hanya berupa surat. Isi surat begini: Si sulung harus mendapat bagian setengah. Si tengah mendapat bagian sepertiga. Si bungsu mendapat bagian sepersembilan. Sapi harus dalam keadaan hidup dan tidak boleh dijual dulu. Harta warisan lain, dibagi sama rata.”
Pada pembagian 17 ekor sapi itu, terjadi pertengkaran lantaran sapi tak boleh dipotong. Karena tidak menemukan akal cara membagi, mereka pun ke pengadilan. Ternyata, pengadilan pun tak mampu.
Alkisah, muncullah seorang yang terkenal pandai di desanya. Setelah membaca isi surat wasiat itu, dia dapat membaginya secara adil sesuai wasiat. Apa kira-kira yang dilakukan si pandai memecahkan warisan itu?
Nah, kegelian luar biasa terjadi ketika ada seorang guru yang bisa menyelesaikan soal tersebut dalam waktu kurang 10 detik. Dengan pe-de beliau langsung menjawab, “Si sulung dapat bagian 8,5 ekor sapi, si tengah dapat bagian 5,7 ekor sapi, si bungsu dapat bagian 1,9 ekor sapi.”
Saya langsung bertanya, “Bisakah ditunjukkan 5,7 ekor sapi itu seperti apa? Bukankah akan berselisih jika pembagiannya seperti itu".
Guru tersebut langsung tersenyum sambil spontan berkata, “Eh iya, 5,7 ekor sapi seperti apa ya?”
Anda punya solusi untuk memecahkan soal ini?
Terakhir, saya berikan kasus seperti ini. “Pak Ahmad dan Pak Amin bertetangga baik. Suatu hari Pak Ahmad hendak ke kota membeli susu, 4 liter. Karena tak punya botol susu besar, dia meminjam milik Pak Amin. Rupanya, pak Ahmad pun mau membeli susu 4 liter juga, minta tolong sekalian dibelikan. Di pasar, susu 8 liter itu pun di satukan dalam satu wadah, karena ada tempat lain. Sesampai di rumah pak Amin, ternyata wadah penyimpan tersedia tiga kaleng dengan ukuran berbeda: 8 liter, 5 liter, dan 3 liter. Apa kiat Pak Ahmad, agar dapat menakar 4 liter susu kepunyaannya dengan menggunakan 3 kaleng itu?”
Soal yang aneh. Itulah komentar beberapa guru yang menjawab. Benarkah soal matematika ini memang aneh? Apakah soal ini dapat melatih keterampilan berpikir kritis -logis siswa? Nantikan jawabannya di edisi mendatang.

Asep Sapa’at
Trainer Pendidikan
Lembaga Pengembangan Insani - Dompet Dhufa
Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.
“Janganlah menganggap bahwa
satu-satunya fungsi puzzle
hanyalah untuk kesenangan.
Puzzle adalah sebuah cara belajar matematika.
Bahkan, cara yang terbaik.”
MARTIN GARDNER
“Pada suatu hari berlabuhlah kapal besar di dermaga pelabuhan. Tinggi kapal itu 20 meter. Hari itu turun hujan lebat. Ternyata air setiap 1 jam naik 0,5 meter. Berapa jamkah kapal itu akan tenggelam?”
Secepat kilat soal ini dijawab oleh beberapa rekan guru di sesi training saya. Sebagian besar guru menjawab kapal akan tenggelam dalam waktu 40 jam. Alasannya adalah karena air setiap jam naik 0,5 meter, maka selama 40 jam air akan setinggi 20 meter (40 jam x 0,5 meter). Itu artinya, kapal akan tenggelam.
Namun, ada juga guru yang memberikan jawaban seperti ini, “Kapal itu tidak akan tenggelam. Jika air laut naik, maka kapal pun akan ikut terangkat naik. Artinya, posisi kapal akan selalu berada di atas permukaan air tak peduli berapa pun ketinggian air akan naik setiap jamnya.” Bagaimana menurut Anda?
Soal selanjutnya saya berikan seperti ini, “1.384 + 793 = …” Tak lebih dari 15 detik, serempak semua guru menjawab “ 2.177 ”.
Tetapi, apa yang terjadi ketika saya memberikan soal berikut ini.
Maaf gambar tak dapat diplacement.)
Tak ada lagi koor serempak untuk menjawab soal ini. Bahkan, mereka langsung berinisiatif sendiri untuk saling berdiskusi membahas soal tersebut. Anda punya cara sendiri untuk memecahkan soal ini?
Ada juga soal lainnya: “Tiga orang bersaudara mendapat surat wasiat pembagian harta peninggalan 17 ekor sapi yang hanya berupa surat. Isi surat begini: Si sulung harus mendapat bagian setengah. Si tengah mendapat bagian sepertiga. Si bungsu mendapat bagian sepersembilan. Sapi harus dalam keadaan hidup dan tidak boleh dijual dulu. Harta warisan lain, dibagi sama rata.”
Pada pembagian 17 ekor sapi itu, terjadi pertengkaran lantaran sapi tak boleh dipotong. Karena tidak menemukan akal cara membagi, mereka pun ke pengadilan. Ternyata, pengadilan pun tak mampu.
Alkisah, muncullah seorang yang terkenal pandai di desanya. Setelah membaca isi surat wasiat itu, dia dapat membaginya secara adil sesuai wasiat. Apa kira-kira yang dilakukan si pandai memecahkan warisan itu?
Nah, kegelian luar biasa terjadi ketika ada seorang guru yang bisa menyelesaikan soal tersebut dalam waktu kurang 10 detik. Dengan pe-de beliau langsung menjawab, “Si sulung dapat bagian 8,5 ekor sapi, si tengah dapat bagian 5,7 ekor sapi, si bungsu dapat bagian 1,9 ekor sapi.”
Saya langsung bertanya, “Bisakah ditunjukkan 5,7 ekor sapi itu seperti apa? Bukankah akan berselisih jika pembagiannya seperti itu".
Guru tersebut langsung tersenyum sambil spontan berkata, “Eh iya, 5,7 ekor sapi seperti apa ya?”
Anda punya solusi untuk memecahkan soal ini?
Terakhir, saya berikan kasus seperti ini. “Pak Ahmad dan Pak Amin bertetangga baik. Suatu hari Pak Ahmad hendak ke kota membeli susu, 4 liter. Karena tak punya botol susu besar, dia meminjam milik Pak Amin. Rupanya, pak Ahmad pun mau membeli susu 4 liter juga, minta tolong sekalian dibelikan. Di pasar, susu 8 liter itu pun di satukan dalam satu wadah, karena ada tempat lain. Sesampai di rumah pak Amin, ternyata wadah penyimpan tersedia tiga kaleng dengan ukuran berbeda: 8 liter, 5 liter, dan 3 liter. Apa kiat Pak Ahmad, agar dapat menakar 4 liter susu kepunyaannya dengan menggunakan 3 kaleng itu?”
Soal yang aneh. Itulah komentar beberapa guru yang menjawab. Benarkah soal matematika ini memang aneh? Apakah soal ini dapat melatih keterampilan berpikir kritis -logis siswa? Nantikan jawabannya di edisi mendatang.

Asep Sapa’at
Trainer Pendidikan
Lembaga Pengembangan Insani - Dompet Dhufa
Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.
Pembelajaran Kontekstual, Pembelajaran (yang) Sebenarnya
Lesson

Pembelajaran Kontekstual (contextual teaching & learning) seharusnya benar-benar menjadi falsafah bagi para Guru. Bagaimana agar materi budi pekerti dan matematika kontekstual? Seperti apa metoda pembelajaran kontekstual dapat masuk (terintegrasi) dalam semua materi pembelajaran, seperti matematika, sosial, agama, seni, atau olahraga?
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuannya dan penerapan sehari-hari.
Guru terkadang berpikir instan, mengenalkan rumus tanpa dikaitkan dengan konteks sehari-hari. Cara instan ini ‘menyebalkan’, membuat pusing dan bingung saat harus menemukan strategi dan solusi pemecahan masalah. Lupa harus menggunakan rumus yang mana.
PINTAR MATEMATIKA & SOPAN SANTUN
Materi character building (budi pekerti) kini hangat diangkat kembali untuk melihat perkembangan paradigma pendidikan. Dulu, konten budi pekerti bermuara pada pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Kini, disatukan dengan materi studi sosial/ilsos (ilmu sosial) yang di dalamnya terdapat Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Dipisah atau diintegrasikan akan tetap bermakna jika diaplikasikan dengan metode dan strategi yang efektif dan menantang.
Keteladanan adalah pilar yang utama di samping pembelajaran dan pembiasaan. Melalui studi kasus, games, nonton film, ditemukan strategi pembelajaran yang menarik. Keteladanan menggunakan magic words seperti terima kasih, permisi, maaf, dan perlu bantuan - dapat menjadi contoh bagi siswa jika Guru konsisten menerapkannya.
Pada suatu kesempatan pelatihan Guru (yang diadakan di Semut-Semut the Natural School), diberikan beberapa contoh permainan, yang sarat dengan pembelajaran budi pekerti.
1.Permainan menemukan alas kaki/sepatu:
Media: kertas bekas dipotong kecil, alat tulis, wadah (tempat)
Cara Kerja:
Guru diminta memperhatikan alas kaki atau sepatu yang dikenakan rekan sejawat. Tuliskan nama masing-masing di secarik kerta, kumpulkan dalam satu wadah. Setelah itu wadah berisi nama-nama Guru itu diedarkan kembali. Tiap Guru mengambil kertas bertuliskan nama orang lain. Dalam hitungan tertentu Guru sudah kembali ke ruangan dengan membawa sepatu sesuai nama yang tercantum. Instruksinya: “Kembalikan sepatu milik teman!”
Beragam ekspresi tampak. Ada yang memberikan dengan hanya berkata “Nih punya mu! sambil dilempar); Ini betul kan sepatumu? Eh… salah ya, ahh… kucari lagi ya!” Sedang si penerima mengatakan: “ Ya ya… ini sepatu baruku; Haa..haa.ha.., enak juga ada yang ngambilin sepatu gua!” …
Guru belum sadar, bahwa instruksi ini sesungguhnya akan melihat sejauh mana cara memberi dan menerima barang dari orang lain.
Kasih sayang dan kesantunan diusung. Saat memberikan dan menerima alas kaki, pemberi dan penerima seharusnya menerapkan magic word: tolong, permisi, maaf, terima kasih. Pesan moral dari permainan ini adalah menunjukkan arti kepedulian terhadap orang lain, kompak, dan menghargai perbedaan.
2.Permainan membentuk kelompok dengan kriteria ukuran (sepatu, baju, umur, berat)
Guru diminta berkelompok @ 5 orang dengan kriteria ukuran tertentu, misalnya ukuran sepatu yang sama, baju, tahun kelahiran, dan lain-lain. Setelah terbentuk, kelompok lain diminta menebak kriteria yang digunakan kelompok lain.
Kegiatan ini membantu memupuk nilai kerjasama, persamaan dalam perbedaan, silaturrahim melalui komunikasi, dan kasih sayang.
3.Permainan saling bertelepon antar teman dalam satu kelompok
Masih dalam kelompok, guru diminta menelpon teman. Kegiatan ini diarahkan pada pembelajaran sikap menghargai pada orang lain, yakni saat fasilitator sedang berbicara, hendaknya tidak mengaktifkan telepon seluler. Cara bicara mengajarkan berkomunikasi dengan santun.
4.Permainan kucing dan tikus
Media: tali plastik dibentuk lingkaran berukuran besar dan kecil
Cara: Ingat cara bermain kucing dan tikus? Biasanya kucing menangkap tikus dengan berlari secepat mungkin. Kucing di luar lingkaran berusaha menerobos ke dalam lingkaran menangkap tikus.
Tapi permainan kali ini berbeda. Tali berukuran besar diumpamakan kucing, dan tali lebih kecil sebagai tikus. Instruktur memberi tali berukuran kecil. Lalu peserta tersebut dengan cepat memasukan dari kepala dan mengeluarkan melalui kaki, digeser ke peserta sebelahnya, demikian bergantian.
Kira-kira sudah lewat 2 peserta, instruktur memberikan peserta pertama tadi tali berukuran besar (kucing) dengan proses sama serta berusaha mengejar tali ukuran kecil (tikus). Jika ada peserta mendapatkan 2 jenis tali, maka keluar dari lingkaran. Jumlah tali bisa ditambah sesuai jumlah peserta dengan perbandingan sama antara ukuran besar = ukuran kecil.
Kegiatan ini ditujukan pada penanaman nilai-nilai strategi yang tepat, sportivitas, dan cekatan.
Contoh pembelajaran kontekstual pada materi matematika yang diintegrasikan dengan budi pekerti.
• Perkalian (minum obat, saat makan, dan rencana membeli sesuatu)
Perkalian dekat dengan siswa. Ketika minum obat, tertulis di resep 3 x 1 sendok makan, berarti diminum pagi, siang, dan malam, masing-masing 1 sendok makan. Nilai yang diusung adalah disiplin diri. Mengapa? Jika salah dosis bisa berakibat buruk bukan?
• Menghitung keliling kebun atau rute lari saat materi olah raga
Menghitung keliling bangun di samping bukan dengan cara dijumlahkan satu persatu
(masing-masing bangun datar dihitung kelilingnya lalu dijumlahkan – keliling bangun 1 + bangun 2 + bangun 3).
Kontekstual pembelajaran berarti hitung dengan cara mengukur sisi luar yang ada.
• Memahami perbedaan isi dan volume air minum mineral. Mengapa isi air minum dalam botol tidak penuh (masih ada ruang kosong sedikit)?
• Mengaitkan isi air botol mineral yang berbeda ukuran (600 ml, 800 ml, 1.500 ml) pada benda/ produk lain yang sama satuannya (menggunakan satuan liter) seperti minyak tanah, bensin, shampoo, produk kecantikan, dll. Lalu diarahkan pada konversi satuan atau perubahan dan tingkatannya. 1 liter air = 1000 ml air
• Menemukan benda atau produk yang menggunakan satuan kg, ons, ½, ¼, km, meter, hektar/are, dalam kehidupan sehari-hari:
Kg = telur, padi, beras, tepung, udang, kambing, …
Kg/ons = ikan teri, bumbu dapur, sayuran, …
Km = kecepatan kendaraan, jarak, skala,…
Meter = ubin, asbes, batu bata, genting, tanah, bahan pakaian, kabel, tambang, …
Are = tanah, kebun, sawah,
• Perbedaan 1 kg kapas dengan 1 kg pasir. Sama berat tetapi berbeda muatan (banyaknya)
• Berbagi roti, kue tart, cokelat sebagai pembelajaran pecahan
• Berbelanja dengan potongan kertas dari swalayan dan diestimasikan dengan keuangan serta presentasi diskon belanja
• Pergi dan mencatat perubahan, urutan, dan perbandingan pada bilangan desimal ketika mengisi BBM (bahan bakar minyak) di POM bensin
Ada beberapa kesimpulan yang penulis sarikan dari pembelajaran kontekstual.
• Real World Learning (pengalaman nyata)
• Dekat dengan kehidupan nyata
• Berpikir tingkat tinggi
• Berpusat pada siswa
• Siswa aktif, kritis, dan kreatif
• Siswa praktek, bukan mengkhayal
• Pengetahuan bermakna dalam kehidupan
• Perubahan perilaku
• Learning, bukan teaching ; pendidikan (education), bukan pengajaran (instruction)
• Pembentukan ‘manusia’ (sejalan dengan teori Multiple intelligences)
• Memecahkan masalah
• Siswa ‘akting’ guru mengarahkan
• Hasil belajar diukur dengan berbagai cara, bukan hanya dengan tes
Box
Urutan belajar:
1.Activating knowledge
2.Acquiring knowledge
3.Understanding knowledge
4.Applying knowledge
5.Reflecting knowledge
7 komponen CTL (Contextual Teaching & Learning)
1.Konstruktivisme
2.Menemukan
3.Bertanya
4.Masyarakat pembelajar
5.Pemodelan
6.Refleksi
7.Authentic assessment
Karakteristik pembelajaran CTL
1.Kerjasama
2.Saling menunjang
3.Menyenangkan, tak membosankan
4.Belajar dengan bergairah
5.Siswa aktif
6.Share dengan teman
7.Pembelajaran terintegrasi
8.Menggunakan berbagai sumber
9.Siswa kritis guru kreatif dan inovatif
10.Dinding kelas dan lorong penuh hasil karya siswa
11.Laporan pada orang tua
12.Portofolio siswa
Penulis: Mulyana
Disarikan dari pelatihan matematika oleh Ibu Nina Anggerina
RAKER Guru Semut-Semut The Natural School
Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.
Pembelajaran Kontekstual (contextual teaching & learning) seharusnya benar-benar menjadi falsafah bagi para Guru. Bagaimana agar materi budi pekerti dan matematika kontekstual? Seperti apa metoda pembelajaran kontekstual dapat masuk (terintegrasi) dalam semua materi pembelajaran, seperti matematika, sosial, agama, seni, atau olahraga?
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuannya dan penerapan sehari-hari.
Guru terkadang berpikir instan, mengenalkan rumus tanpa dikaitkan dengan konteks sehari-hari. Cara instan ini ‘menyebalkan’, membuat pusing dan bingung saat harus menemukan strategi dan solusi pemecahan masalah. Lupa harus menggunakan rumus yang mana.
PINTAR MATEMATIKA & SOPAN SANTUN
Materi character building (budi pekerti) kini hangat diangkat kembali untuk melihat perkembangan paradigma pendidikan. Dulu, konten budi pekerti bermuara pada pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Kini, disatukan dengan materi studi sosial/ilsos (ilmu sosial) yang di dalamnya terdapat Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Dipisah atau diintegrasikan akan tetap bermakna jika diaplikasikan dengan metode dan strategi yang efektif dan menantang.
Keteladanan adalah pilar yang utama di samping pembelajaran dan pembiasaan. Melalui studi kasus, games, nonton film, ditemukan strategi pembelajaran yang menarik. Keteladanan menggunakan magic words seperti terima kasih, permisi, maaf, dan perlu bantuan - dapat menjadi contoh bagi siswa jika Guru konsisten menerapkannya.
Pada suatu kesempatan pelatihan Guru (yang diadakan di Semut-Semut the Natural School), diberikan beberapa contoh permainan, yang sarat dengan pembelajaran budi pekerti.
1.Permainan menemukan alas kaki/sepatu:
Media: kertas bekas dipotong kecil, alat tulis, wadah (tempat)
Cara Kerja:
Guru diminta memperhatikan alas kaki atau sepatu yang dikenakan rekan sejawat. Tuliskan nama masing-masing di secarik kerta, kumpulkan dalam satu wadah. Setelah itu wadah berisi nama-nama Guru itu diedarkan kembali. Tiap Guru mengambil kertas bertuliskan nama orang lain. Dalam hitungan tertentu Guru sudah kembali ke ruangan dengan membawa sepatu sesuai nama yang tercantum. Instruksinya: “Kembalikan sepatu milik teman!”
Beragam ekspresi tampak. Ada yang memberikan dengan hanya berkata “Nih punya mu! sambil dilempar); Ini betul kan sepatumu? Eh… salah ya, ahh… kucari lagi ya!” Sedang si penerima mengatakan: “ Ya ya… ini sepatu baruku; Haa..haa.ha.., enak juga ada yang ngambilin sepatu gua!” …
Guru belum sadar, bahwa instruksi ini sesungguhnya akan melihat sejauh mana cara memberi dan menerima barang dari orang lain.
Kasih sayang dan kesantunan diusung. Saat memberikan dan menerima alas kaki, pemberi dan penerima seharusnya menerapkan magic word: tolong, permisi, maaf, terima kasih. Pesan moral dari permainan ini adalah menunjukkan arti kepedulian terhadap orang lain, kompak, dan menghargai perbedaan.
2.Permainan membentuk kelompok dengan kriteria ukuran (sepatu, baju, umur, berat)
Guru diminta berkelompok @ 5 orang dengan kriteria ukuran tertentu, misalnya ukuran sepatu yang sama, baju, tahun kelahiran, dan lain-lain. Setelah terbentuk, kelompok lain diminta menebak kriteria yang digunakan kelompok lain.
Kegiatan ini membantu memupuk nilai kerjasama, persamaan dalam perbedaan, silaturrahim melalui komunikasi, dan kasih sayang.
3.Permainan saling bertelepon antar teman dalam satu kelompok
Masih dalam kelompok, guru diminta menelpon teman. Kegiatan ini diarahkan pada pembelajaran sikap menghargai pada orang lain, yakni saat fasilitator sedang berbicara, hendaknya tidak mengaktifkan telepon seluler. Cara bicara mengajarkan berkomunikasi dengan santun.
4.Permainan kucing dan tikus
Media: tali plastik dibentuk lingkaran berukuran besar dan kecil
Cara: Ingat cara bermain kucing dan tikus? Biasanya kucing menangkap tikus dengan berlari secepat mungkin. Kucing di luar lingkaran berusaha menerobos ke dalam lingkaran menangkap tikus.
Tapi permainan kali ini berbeda. Tali berukuran besar diumpamakan kucing, dan tali lebih kecil sebagai tikus. Instruktur memberi tali berukuran kecil. Lalu peserta tersebut dengan cepat memasukan dari kepala dan mengeluarkan melalui kaki, digeser ke peserta sebelahnya, demikian bergantian.
Kira-kira sudah lewat 2 peserta, instruktur memberikan peserta pertama tadi tali berukuran besar (kucing) dengan proses sama serta berusaha mengejar tali ukuran kecil (tikus). Jika ada peserta mendapatkan 2 jenis tali, maka keluar dari lingkaran. Jumlah tali bisa ditambah sesuai jumlah peserta dengan perbandingan sama antara ukuran besar = ukuran kecil.
Kegiatan ini ditujukan pada penanaman nilai-nilai strategi yang tepat, sportivitas, dan cekatan.
Contoh pembelajaran kontekstual pada materi matematika yang diintegrasikan dengan budi pekerti.
• Perkalian (minum obat, saat makan, dan rencana membeli sesuatu)
Perkalian dekat dengan siswa. Ketika minum obat, tertulis di resep 3 x 1 sendok makan, berarti diminum pagi, siang, dan malam, masing-masing 1 sendok makan. Nilai yang diusung adalah disiplin diri. Mengapa? Jika salah dosis bisa berakibat buruk bukan?
• Menghitung keliling kebun atau rute lari saat materi olah raga
Menghitung keliling bangun di samping bukan dengan cara dijumlahkan satu persatu
(masing-masing bangun datar dihitung kelilingnya lalu dijumlahkan – keliling bangun 1 + bangun 2 + bangun 3).
Kontekstual pembelajaran berarti hitung dengan cara mengukur sisi luar yang ada.
• Memahami perbedaan isi dan volume air minum mineral. Mengapa isi air minum dalam botol tidak penuh (masih ada ruang kosong sedikit)?
• Mengaitkan isi air botol mineral yang berbeda ukuran (600 ml, 800 ml, 1.500 ml) pada benda/ produk lain yang sama satuannya (menggunakan satuan liter) seperti minyak tanah, bensin, shampoo, produk kecantikan, dll. Lalu diarahkan pada konversi satuan atau perubahan dan tingkatannya. 1 liter air = 1000 ml air
• Menemukan benda atau produk yang menggunakan satuan kg, ons, ½, ¼, km, meter, hektar/are, dalam kehidupan sehari-hari:
Kg = telur, padi, beras, tepung, udang, kambing, …
Kg/ons = ikan teri, bumbu dapur, sayuran, …
Km = kecepatan kendaraan, jarak, skala,…
Meter = ubin, asbes, batu bata, genting, tanah, bahan pakaian, kabel, tambang, …
Are = tanah, kebun, sawah,
• Perbedaan 1 kg kapas dengan 1 kg pasir. Sama berat tetapi berbeda muatan (banyaknya)
• Berbagi roti, kue tart, cokelat sebagai pembelajaran pecahan
• Berbelanja dengan potongan kertas dari swalayan dan diestimasikan dengan keuangan serta presentasi diskon belanja
• Pergi dan mencatat perubahan, urutan, dan perbandingan pada bilangan desimal ketika mengisi BBM (bahan bakar minyak) di POM bensin
Ada beberapa kesimpulan yang penulis sarikan dari pembelajaran kontekstual.
• Real World Learning (pengalaman nyata)
• Dekat dengan kehidupan nyata
• Berpikir tingkat tinggi
• Berpusat pada siswa
• Siswa aktif, kritis, dan kreatif
• Siswa praktek, bukan mengkhayal
• Pengetahuan bermakna dalam kehidupan
• Perubahan perilaku
• Learning, bukan teaching ; pendidikan (education), bukan pengajaran (instruction)
• Pembentukan ‘manusia’ (sejalan dengan teori Multiple intelligences)
• Memecahkan masalah
• Siswa ‘akting’ guru mengarahkan
• Hasil belajar diukur dengan berbagai cara, bukan hanya dengan tes
Box
Urutan belajar:
1.Activating knowledge
2.Acquiring knowledge
3.Understanding knowledge
4.Applying knowledge
5.Reflecting knowledge
7 komponen CTL (Contextual Teaching & Learning)
1.Konstruktivisme
2.Menemukan
3.Bertanya
4.Masyarakat pembelajar
5.Pemodelan
6.Refleksi
7.Authentic assessment
Karakteristik pembelajaran CTL
1.Kerjasama
2.Saling menunjang
3.Menyenangkan, tak membosankan
4.Belajar dengan bergairah
5.Siswa aktif
6.Share dengan teman
7.Pembelajaran terintegrasi
8.Menggunakan berbagai sumber
9.Siswa kritis guru kreatif dan inovatif
10.Dinding kelas dan lorong penuh hasil karya siswa
11.Laporan pada orang tua
12.Portofolio siswa
Penulis: Mulyana
Disarikan dari pelatihan matematika oleh Ibu Nina Anggerina
RAKER Guru Semut-Semut The Natural School
Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)