Tampilkan postingan dengan label manajemen kelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen kelas. Tampilkan semua postingan

November 30, 2009

KEGELISAHAN PIMPINAN SEKOLAH


Upaya Pembekalan Siswa Melalui Pembelajaran Abad 21
Bu Pandu gelisah. Sudah sebulan ini dia resah. Sebagai pemilik sekaligus manajer sekolah, Bu Pandu sangat peka dengan denyut kemajuan sekolah, mulai dari kemajuan siswa, kekompakan guru, keluhan orang tua, hubungan dengan tetangga sekolah hingga lalu lalang kemajuan ilmu pendidikan yang kini makin mengerucut ke arah nilai-nilai moral dan ketrampilan hidup.

Kegelisahan Bu Pandu sangat beralasan. Sepuluh tahun sudah, sekolah yang mengusung pemerdekaan pendidikan berlangsung dengan dinamis. Jumlah siswa, jalinan kerjasama, pengakuan pihak lain makin meningkat. Demikian juga dengan jumlah Guru yang terus mengalami pertambahan.

Bu Pandu yang selalu menempatkan diri secara egaliter dengan para Guru kini makin terbantu dengan para senior teacher yang sudah diangkatnya menjadi kepala-kepala divisi dan koordinator level. Namun kepekaan, sensitivitas, kecermatan pada kemajuan ilmu, serta ide futuristik agaknya belum berhasil Bu Pandu tularkan pada para punggawanya. Feeling itu sulit diterjemahkan. Mekanisme kaderisasi tak semudah teori. Jasa layanan sekolah memang unik dan multi dimensi, karena semua yang dilayanai harus mendapat perHATIan yang privat.

21st Century Content
Kegelisahan Bu Pandu kali ini dipicu demi melihat performa siswa yang tampak kurang patut. Sampah mulai terlihat bertebaran, meski dalam skala kecil. Asumsinya, siswa (dan Guru) mungkin tak memungut sampah yang terlihat dan otomatis memasukkan ke keranjang-keranjang sampah yang ada. Pun ketika ada tamu sekolah datang, para siswa terlihat tak perduli. Celetukan bernada bullying makin kerap terdengar.

“Wah… ada yang miss nih,” bisik Bu Pandu pada dirinya sendiri. Segera ia mengumpulkan para kepala divisi dan koordinator untuk mendengarkan keluhan dan rasa yang biasanya disampaikan Bu Pandu setiap hari Senin.

“Saya fikir ada missing link. Coba kita cermati lagi lesson plan guru. Lihat pula silabus dan parents letter yang berisikan rencana pembelajaran. Dari situ lah bisa terlihat apa gagasan yang ada di kepala para Guru."

“Jangan terjebak pada target akademis semata. Coba seimbangkan lagi dengan nilai-nilai moral dan school beliefs yang sudah ada. Ingat, penting menjadikan anak pandai. Tapi lebih penting lagi menjadikan mereka anak yang baik. Tidak mengada-ada koq. Saya coba cermati kembali uraian penjelasan di lembar KTSP, di UU Sisdiknas, dan berbagai referensi yang sudah menandaskan pentingnya ketrampilan dan sikap siswa menghadapi era global ini.” Begitu Bu Pandu.

“Coba kalian lihat bagan ini,” Bu Pandu menggelar bagan yang berisi potongan setengah lingkaran, yang menampilkan konten pembelajaran yang mendesak disikapi melalui program dan aktivitas di luar kurikulum baku.

“Kurikulumnya tetap dengan KTSP. Namun harus dikembangkan materi life skill, thinking skill, ICT literacy. Dan satu yang paling mendesak, adalah materi abad 21 atau 21st century content. Kita bukan latah atau sekedar ikut tren. Namun inilah esensi pendidikan kini yang terus bergerak mengikuti perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan. Ilmu tentang leadership, eksistensi dan hakekat manusia, NLP, dan spiritual, kini menyeruak dan memikat. Dulu kita hanya bisa berwacana mengenai kecerdasan emosional. Kini semua itu lebih jelas dan sangat dekat dengan pendidikan, tepatnya dalam keseharian pembelajaran di kelas-kelas,” panjang lebar Bu Pandu menjelaskan.

Para Guru tampak mahfum, mengangguk – tersentuh akan hati pimpinannya yang ‘super woman’ itu.

“Kalian pelajari ya. Ada jabaran yang sangat gamblang ditulis oleh Eileen Rachman, konselor ternama. Beliau menjabarkan bakat-bakat emosional yang bisa diamati sejak kecil, yakni:

1. Penyabar dan mampu menahan/mengendalikan diri
2. Mudah beradaptasi dengan lingkungan, memiliki inisiatif dan kreatif
3. Peduli pada teman dan saudaranya
4. Mandiri dan bertanggung jawab
5. Memiliki empati yang besar dan bisa memahami perasaan orang lain, mampu menyelesaikan konflik, pandai bergaul dan bersahabat, bisa mempengaruhi orang lain dan berkomunikasi dengan nyaman
6. Mempunyai cita-cita dan impian, optimis, percaya diri, gigih, ulet, memiliki dorongan untuk maju, menyukai tantangan dan suka dengan hal-hal baru.”

“Nah, keenam hal di atas coba kalian terjemahkan menjadi pelajaran abad 21. Tak perlu membebani atau menambah jam belajar. Integrasikan saja dalam mata pelajaran inti, namun dengan memikirkan aktivitas dan program. Ini yang sering disebut sebagai hidden curriculum, yang bisa menjadikan mutu sekolah berbeda-beda. Paham kalian? Ada yang mau ditanyakan?”

Pak Kris, kepala divisi kesiswaan angkat tangan, “Apa benefitnya jika kita
mengajarkan ini, Bu?”

“Kemampuan dan ketrampilan itulah sesungguhnya yang akan mengantarkan siswa pada keberhasilan hidup di masa datang. Memang faktor lingkungan dan keluarga akan berpengaruh. Namun setidaknya kita bisa memberi dasar. Gagal memiliki kemampuan dan ketrampilan ini, akan menggagalkan semua tujuan-tujuan hidup, meski seorang siswa memiliki kecerdasan intelektual sangat tinggi. Ratusan fakta dan testemoni telah membuktikan. Kita sendiri pun bisa merasakan, betapa nyaman dan menyenangkan berinteraksi dengan orang dengan kemampuan ketrampilan hidup seperti di atas. Ada yang pintar tapi menyebalkan, hmmmm….. nggak ngenakin! Iya kan!”

“Lebih lanjutnya kalian perhatikan lagi jabaran ini ya,” pinta Bu Pandu, kini
dengan membuka layar dan LCD nya melalui netbook mininya yang keren.

21st century content juga memuat materi tentang kesadaran global dan up to date news. Ketrampilan keuangan, ekonomi, bisnis, entrepreneurship, kesadaran kesehatan, kesejahteraan, dan warisan budaya. Semua itu akan lebih bermakna jika dihubungkan dengan tingkat spiritual yang akan memudahkan siswa memahami betapa semua ilmu itu muaranya adalah syukur dan ikhlas pada Tuhan,” kembali panjang lebar Bu Pandu memandu para calon penerusnya.

“Oke. Ini tak mudah. Tapi kalian tahu, kini saatnya sekolah mencerna dan mengaplikasikan wacana ini menjadi pembelajaran keseharian,” tandas bu Pandu bijak.

“Dari mana kita memulainya,Bu?” tanya bu Kinta, koordinator level.

“Saya akan bantu untuk melihat silabus. Kalian bantu saya mensupervisi lesson plan Guru. Dulu kan kita pernah meminta mereka memasukkan nilai-nilai kehidupan (values) yang sesungguhnya sudah termaktub dalam school beliefs, yang meliputi dimensi keTuhanan dan kemanusiaan.”

“Nah, saya lihat, lesson plan Guru sudah mulai ‘lari’ dari kontekstual. Jadikan tema sebagai pengikat. Buka lagi tata berfikir model UbD (Understanding by Design) yang menuntun kita membuat essential question, sebagai tolok ukur kebermaknaan.”

“Misalnya, ketika tema makhluk hidup, pada materi Agama Islam, terkandung kompetensi dasar tata cara sholat. Indikator yang kalian tulis jangan hanya ‘siswa mampu melakukan gerakan sholat dengan benar; siswa mengenal bacaan sholat’. Bukannya hal itu keliru, namun tidak menghujam pada akar masalahnya, mengapa kita sebagai makhluk hidup harus sholat? Ini bisa dicari dari ‘8 gagasan besar’ atau menggunakan pendekatan 5W+1H, atau memakai six thinking hat dari Edward de Bono. Kita sudah pernah bahas ini, meski tak mendalam. Mari kita telaah lagi," ajak bu Pandu sambil menyerutup coffee latte kesukaannya.

“Kita akan ketemu lagi minggu depan. Saya harap kalian sudah membawa kertas kerja berisi gagasan-gagasan hebat. Saya akan upayakan segera memanggil konselor yang akan membimbing kita memahami setiap tema yang dijabarkan dengan pendekatan spiritual. Terimakasih ya. Kapan pun ada gagasan, jika tak ketemu saya, silakan kirim melalui imel saya.’’

Selepas sore, wajah Bu Pandu sudah sumringah kembali. Dia sudah mengeluarkan
uneg-uneg dan kegelisahannya.

Dalam doanya di malam hari, Bu Pandu memohon: “Ya Allah, berikan kemudahan hamba bertutur, agar mudah lisan ini, dan mudah orang lain memahami maksud hamba”. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

PANDUAN MENELITI KUALITAS KELAS

Mei 08, 2009

KELASKU SURGAKU



“The best lesson plans in the world won’t succeed if student misbehavior hamstrings and educator’s attempts to teach. Good classroom management practices are vital to creating an environment where students can learn.” Dave Foley

Rumahku adalah surgaku. Pernah dengar, ‘kelasku adalah surgaku’? Jika Anda sulit mengatur kondisi kelas, siswa selalu ribut, tak terkontrol, pasti Anda mendambakan sekolah seolah surga.

Menarik mencermati kajian Veenman (1984), peneliti Belanda. Beliau merangkum hasil 83penelitian—di Amerika Serikat, Jerman Barat, Inggris, Belanda, Kanada, Austria, Swiss, dan Finlandia-- tentang kesulitan mengajar yang umumnya dialami guru-guru baru (mengajar 3 tahun atau kurang).

Mari simak 3 problem terutama. Apa jadinya jika disiplin kelas tak terkelola baik? Apa pula akibatnya jika siswa tak termotivasi belajar? Apakah kelas kondusif untuk belajar jika perbedaan karakter belajar belum tertangani?

Manajemen Kelas Sangat Penting
Saya terkejut membaca uraian literature berjudul, “The Classroom Checkup : An Assessment/ Intervention Tool for Improving Classroom Management”, karya ilmiah Wendy M. Reinke, Ph. D. (John Hopkins University, Bloomberg School of Public Health). Classrooms with poor behavior management produce negative student outcomes , begitu Reinke.

Lebih ngeri lagi, pernyataan Reinke itu didukung kajian lain, “Poor classsroom management place student at risk of current and future behavior problems” (Aber, Jones, Brown, Chaudry, & Samples, 1998; lalongo, Poduska, Werthamer, & Kellam, 2001; Kellam, Ling, Merisca, Brown & lalongo, 1998).

Maknanya, ada hal lain yang lebih utama dari problem faktor manajemen kelas. Yaitu, membantu siswa menyerap sikap positif hidup (disiplin, kerja keras, semangat, percaya diri, dsb) untuk kelak di masa depan.

Peraturan Kelas yang Baik
Sudahkah kelas Anda menetapkan aturan? Adakah penghargaan dan konsekuensi bagi Anda atau siswa yang melanggar? Apa isi peraturan kelas itu?

Seorang teman bercerita, dia merasa sangat lelah mengajar karena seluruh siswanya selalu ribut, malas mengerjakan tugas, suka keluar masuk, sehingga kelas bak pasar. Berbeda dengan rekan lain, dengan bangga ia bercerita nikmatnya demi detik waktu mengajar, siswa aktif, dan selalu minta izin jika mau keluar kelas. Saat diskusi, semua berkelompok tertib.

Pernahkah Anda membuat aturan kelas begini: “Berlakukan sopan di dalam kelas”. “Jangan ganggu siswa lain yang sedang belajar”. “Jadilah siswa yang bertanggung jawab!”. “Jangan Ribut!”

Nah, mengertikan siswa makna ‘bertanggung jawab’? Soal jangan ribut, seperti apa? Tak boleh bersuara atau bernyanyi?

Coba Anda cek kembali peraturan kelas Anda. Steven G. Little, Ph. D. dan Angeleque Akin - Little, Ph. D. (The University of The Pacific) memberikan acuan membuat aturan yang baik. Dalam kajiannya, “Psychology’s Contribution to Education: Effective Classroom Management” (2004), dinyatakan ada beberapa karakteristik peraturan yang bagus:

1. Keep the number of rules to a minimum—about five rules for each classroom.
2. Keep the wording of rules simple— pictures or icons depicting the rules help the understanding of younger students.
3. Have the rules logically represent the basic expectation for a student’s behavior in the classroom.
4. Keep the wording positive if possible. Most rules can be stated in a positive manner; some rules cannot. However, the majority of classroom rules should be positive.
5. Make the rules specific. The more ambiguous (i.e. open to several interpretations) the rules are, the more difficult they are to understand. Don’t give any loopholes.
6. Make the rules describe behavior that is observable. The behavior must be observable so that an unequivocal decision can be made as to whether the rule has been followed.
7. Make sure the rules describe behavior that is measurable. That is, behavior must be able to be counted and quantified in someway for monitoring purposes.
8. Publicly post the rules in a prominent place in the classroom (in the front of the classroom, near the door). The lettering should be large and block printed.
9. Tie following the rules to consequences. Spell out what happens positively if students follow the rules, and what they lose if they do not follow the rules.
10. Always include a compliance rule. You get the behavior that are posted in the rules. If you want to improve compliance in the classroom, include a rule such as “Do what your teacher says immediately”.


Berikut beberapa contoh peraturan kelas yang baik—memenuhi karakteristik minimum, simple, positif-- seperti:
1. Bawalah buku dan pensil ke dalam kelas.
2. Angkat tanganmu, bicaralah jika sudah dipersilakan.
3. Silakan bertanya jika belum paham materi pelajaran.

Guru, Menegakkan Manajemen Kelas
Chuang-tzu pernah berujar, “Rewards and punishment are the lowest form of education”. Pertanyaan kritisnya adalah, “Bagaimana cara menerapkan kedisiplinan kelas dengan penerapan prinsip-prinsip manajemen kelas yang baik?”

Simak beberapa hal penting berikut:
Pertama, hati-hati ketika ingin meluruskan masalah kedisiplinan. Prinsip “Gunakan kata-kata terpilih untuk memecahkan masalah ketidakdisiplinan siswa” harus Anda cermati. Pilihlah kata-kata yang memenangkan hati seluruh siswa, agar mereka nyaman diingatkan kelalaiannya berdisiplin
di kelas.

“Pak Guru tak senang dengan sikap negatif kamu.” Atau, “Ibu tahu kamu anak baik, mengapa bertindak begitu?”, atau kata-kata lain yang mengekspresikan ketidaknyamanan Anda sebagai guru. Berbicara suara nada bicara rendah, niatkan teguran ini semata karena menyayangi.

Kedua, mengetahui hal-hal ‘tabu’ yang sangat ditakuti siswa, dan melindungi mereka. Kita dulu pun malu jika disoraki karena menjawab salah? Keliru besar jika Anda ikut-ikutan ‘menghukum’ siswa yang salah itu, padahal ia sedang berupaya menemukan kepercayaan diri. Tugas utama kita adalah “melestarikan budaya berani salah karena mereka sedang menemukan potensi dirinya”.

Siswa memiliki hasrat tak ingin terpisah dari teman-teman, bergerak bebas menjelajahi ruang, dan berkelompok. Gunakan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa memenuhi ‘hasrat’ ini, semisal diskusi dan kerja kelompok.

Ketiga, lakukan ‘closing’ yang sempurna’. Di akhir pembelajaran, pastikan pintu kelas tertutup, siswa fokus, dan Anda siap melontarkan penutup yang mempesona. Review kembali materi, sampaikan informasi penting untuk pertemuan berikut, dan ekspresikan Anda peduli mereka sukses belajar. Tutuplah dengan sulap, puisi, nyanyi, apa saja yang mengesankan. Anda adalah ‘Guru Inspiratif’ bagi mereka.

Keempat, libatkan siswa dalam seluruh ‘waktu akademik’. Buat mereka sibuk dan termotivasi belajar sesuai gaya masing-masing. Suguhkan materi pelajaran sesuai porsi mereka. Begitu mendengar bel sekolah berbunyi, kelas menyambut dengan koor, “Ya, waktunya kok dah abis, gak kerasa ya...” Maka, Anda akan sangat menikmati detik-detik waktu yang bergulir.

Inilah indikator sederhana bahwa Anda berhasil mengelola kelas. Anda- lah master manajemen kelas yang hebat, mampu meng-orkestrasi. Kelasku adalah surgaku ... TG

Urutan Rangking Masalah

1 Classroom Discipline
2 Motivating Students
3 Dealing with Individual Differences
4 Assesing Student’s Work
5 Relation with Parents
6 Organization of Class Work
7 Insufficient Materials and Supplies
8 Dealing with Problems of Individual Students
9 Heavy Teaching Load Resulting in Insufficient Prepatory Time
10 Relations with Colleagues
11 Planning of Lessons and Schooldays
12 Effective Use of Different Teaching Methods
13 Awareness of School Policies and Rules
14 Determining Learning Level of Students
15 Knowledge of Subject Matter
16 Burden of Clerical Work
17 Relations with Principals/Administrators
18 Inadequate School Equipment
19 Dealing with Slow Learners
20 Dealing with Students of Different Cultures and Deprived Backgrounds
21 Effective Use of Textbooks and Curriculum Guides
22 Lack of Spare Time
23 Inadequate Guidance and Support
24 Large Class Size

_______________
Penulis : Asep Sapa’at
Trainer Pendidikan
Lembaga Pengembangan Insani
Dompet Dhuafa Republika
Http://www.lpi-dd.net

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.