November 04, 2009

Seminar Workshop Dr. Eva J. Hoffman di Jakarta, 20 Nov, 21 Nov, dan 2 Desember 2009

Connect 2 Education menyelenggarakan Seminar&Workshop dengan pembicara berkaliber internasional dari Inggris, Dr. Eva J. Hoffman.


Capri Anjaya



Nikmatnya menjadi Kepala Sekolah Indonesia di Sekolah Internasional







Berbekal pengalaman menjadi Kepala Sekolah di sebuah SMP di bilangan Cimanggis, Jawa Barat, Capri Anjaya, perempuan energik dan cerdas, kini menjadi kepala sekolah SMP dan SMA Sekolah Tiara Bangsa-ACS International, di wilayah Bantar Jati, Setu, Cipayung Jakarta Timur.

Setelah melahirkan putra pertamanya, sesungguhnya Bu Capri tak hendak bekerja. Dia lebih ingin menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Namun suatu hari, di sebuah koran ibukota termuat: ‘dicari seorang kepala sekolah’ dengan persyaratan a,b,c,d, dst. Lamaran pun dilayangkan tanpa harapan berlebih.

Dari sekurangnya 80 kandidat, Bu Capri, demikian dia disapa, maju dengan pe-de nya. Sepulang dari test pertama, sang suami bertanya: “Gimana?” “Aduh, saya nyesel,” keluh Bu Capri. “Kenapa?” tanya suaminya lagi. “Kalau tahu sekolah sebagus itu, saya mestinya belajar dulu sebelum tes!” kenangnya saat ditemui di salah satu ruang di Sekolah Tiara Bangsa Anglo Chinese School STB ACS International).

Singkat cerita, Bu Capri terpilih dan menjabat sebagai kepala sekolah Indonesia, di samping ada kepala sekolah ‘bule’, yang saat itu dibedakan antara urusan Guru Indonesia dan Guru asing.

Banyak pihak di kalangan sekolah lokal maupun Diknas setempat mengenal Bu Capri dengan baik, yang dapat menjembatani komunikasi dan kerjasama sekolahnya penyanyi Sherina (sewaktu di bangku SMP) itu dengan pihak-pihak yang ingin mengetahui lebih banyak tentang proses belajar di Tiara Bangsa. Ini yang membedakan STB dengan sekolah international lain yang terkesan sangat tertutup terhadap sekolah publik, karena alasan keamanan dan ketertiban.

Cakap, gesit, smart, bergairah, menarik. Sosok Bu Capri kemudian melejit menjadi pemimpin sebuah sekolah internasional yang kondang di tengah kemajuan pendidikan bertaraf internasional di negeri ini. Berdampingan dan duduk sama tinggi dengan pimpinan sekolah dari negara asing tak menjadikan Bu Capri rendah diri. Meski diperlukan standar kompetensi tinggi, Bu Capri dapat menjalani hari-harinya sebagai pimpinan dengan nyaman.

“Saya menikmati pekerjaan dengan rileks. Hidup hanya sekali. Tak perlu dibawa susah. Kalau sudah baik, saya pertahankan, jika belum sempurna, saya perbaiki,” katanya tersenyum.

Bu Capri mengaku sangat berbahagia melihat siswanya dapat mengerjakan projek dan tugas dengan wajah berbinar. Kebahagiaan dan nikmatnya melakoni pekerjaan ini diperkuat dengan tersistemnya jenjang karir yang lebih rapi. Jalan-jalan ke Singapore tiap tahun mengikuti founders day, ke Bali tiap tahun untuk acara leadership forum. Seringkali ada kegiatan personal development di dalam dan luar negeri,Bu Capri pula yang dikirim. Kalau ada camp untuk siswa, kadang bu Capri ikuti.

Hidupnya mengalir. Allowence yang bagus dinikmatinya bersamaan dengan beasiswa bagi ketiga buah hatinya di Sekolah Tiara Bangsa. Kepe-de an bu Capri membuatnya tak merasa pernah di-underestimate oleh rekan bulenya. “Entah di belakang saya… haa….ha…ahaa..," tawanya tergelak. “Kebanyakan sih selama ini justru kasih pujian....” Wow!!

“Saya belajar banyak dari posisi saya, dengan team kerja yang majemuk. Ketepatan dan disiplin waktu, cara menggelar sebuah acara, dan bagaimana cara memperlakukan orang lain, merupakan hal-hal penting yang saya pelajari dari teman - teman berkewarganegaraan asing,” urai Bu Capri.

“Jangan pernah merasa rendah diri. Kita mampu koq. Penguasaan bahasa hanya salah satu keharusan. Selebihnya adalah kecakapan dan konsep diri yang kuat. Bekerja keras, menjadi diri sendiri dan tak lupa bersenang-senang,” begitu prinsipnya. Bu Capri mau dan mampu melakukan layanan terbaik.

Di sela kesibukannya, Bu Capri sering terlibat menjadi trainer di seminar dan workshop. Kesibukan terakhirnya adalah mensosialisasikan program bea siswa bagi kelas X (kelas I SMA), yang bebas biaya pendidikan selama 3 tahun, ke berbagai sekolah umum. Program beasiswa ini sudah masuk tahun kedua, yang angkatan I diraih tiga siswa, masing-masing dari SMP Marsudirini Bekasi, SMP Kanisius, dan SMP 49 Jakarta Timur.

Kalau kita perhatikan orang asing bekerja dengan etos yang sungguh-sungguh, seimbang dengan kehidupan bersenang-senang. Di tingkat lokal, mungkin kita sering terdoktrin dengan nasehat peribahasa ‘berakit-rakit ke hulu, berenang renang ke tepian-bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’.

Untuk menjadi senang tak usah menunggu apapun. Lakukan seiring dengan pekerjaan dan perjuangan yang sedang dilakukan. Hasilnya akan lebih baik.TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

KONFERENSI GURU NUSANTARA 2009

7 - 8 November
di Binus University, Kampus Anggrek - Jakarta
Penyelenggara: Provisi Education

November 01, 2009

Paradigma : 7 KARAKTER SEKOLAH SUKSES


Apakah Anda Yakin Mampu
Membangun Iklim Sekolah yang Positif?
Sesungguhnya apa yang disebut dengan sekolah sukses? Salah satu ukurannya adalah pencapaian nilai yang tinggi saat kelulusan. Mereka mencapai kemampuan membaca, menulis, berhitung, memecahkan masalah, berpikir kreatif dan analitis, dan yang terpenting: mereka belajar untuk belajar!

Ukuran selanjutnya, adalah pencapaian yang melebihi target sekolah yang setara. Di AS, selama tahun 1980 dan 1990-an, banyak penelitian mengidentifikasi karakteristik sekolah sukses (atau efektif). Deskripsinya dapat Anda cermati sebagai berikut:

1. Kepemimpinan yang kuat. Sekolah sukses memiliki pemimpin yang menghargai pendidikan dan melihat diri sendiri sebagai pemimpin pendidikan, bukan sebagai manajer atau birokrat. Dia memantau kinerja setiap orang di sekolah, Guru-staf-murid dan dirinya sendiri. Pemimpin seperti ini memiliki visi sekolah sebagai lingkungan belajar dan senantiasa membuat langkah penting untuk kemajuan.

2. Pengharapan yang tinggi. Para Guru di sekolah sukses memiliki pengharapan yang tinggi pada siswa. Guru-guru ini sangat yakin, bahwa semua siswanya dapat belajar, dan mereka memberitahukan hal ini melalui pengharapan yang realistis dan tinggi.

3. Menekankan pada kemampuan dasar. Selain pencapaian akademis, tentu saja konsep diri dan nilai nilai kehidupan adalah kemampuan dasar yang harus dicapai oleh semua siswa.

4. Lingkungan sekolah yang teratur. Lingkungan yang menyenangkan dan aman sebagai tempat yang kondusif untuk mengekspresikan diri. Guru memiliki kedisiplinan mengajar.

5. Evaluasi proses belajar yang sistemik, sering dan ajeg. Proses belajar siswa selalu dipantau. Ketika muncul kesulitan, segera dicari jalan keluarnya.

6. Memiliki tujuan. Semua elemen sekolah merasa dituntun oleh visi kesuksesan yang jelas sebagai tujuan yang akan dicapai.

7. Pertemanan dan rasa memiliki komunitas. Semua pihak yang ada di sekolah merasakan gairah kesuksesan. Mereka berdedikasi menciptakan lingkungan bukan hanya terbatas pada kemajuan siswa, melainkan menciptakan pertumbuhan dan perkembangan profesionalisme pribadi.

Hasil penelitian ini memang dilakukan bukan di Indonesia. Namun kesuksesan dan efektifitas berlaku universal, mestinya poin di atas segera dapat dirinci menjadi program sekolah yang terkonsep. Coba lakukan rapat terbatas untuk menyesuaikan dengan iklim di sekolah Anda. Kemudian pampangkan secara jelas sebagai publisitas sekolah yang keren.

Kini Anda menjadi yakin, bahwa sekolah yang Anda kembangkan sedang membentuk karakter sekolah yang sukses. TG

Sumber:
Menjadi Seorang Guru,
Forrest W Parka, Indeks, edisi ke 7.


*)Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

GURU CERDAS FINANSIAL


Belajar dari Mukiman, Guru Senior di SDN 07 Langkahan Aceh Utara

Bermula cerita dua sahabat. Budi, sahabat ini bekerja di perusahaan konstruksi cukup ternama. Ia sarjana universitas terbaik, isterinya berijazah diploma tiga bekerja di perusahaan jasa cukup terkenal. Hidup mereka berkecukupan untuk ukuran umum penduduk Jakarta, dengan dua anak, tinggal di rumah keluarga sehingga kurang peduli tawaran-tawaran brosur perumahan.

Sahabat kedua Iwan, lulusan SMA di kota kecil di Jawa Tengah, dan sang isteri lulusan SMEA. Pasangan ini mengadu nasib bekerja di pusat perbelanjaan di Jakarta. Memiliki dua anak, si bungsu lahir caesar di medio 2005. Di penghujung 2005, mereka ditawari kredit rumah rumah sangat sederhana oleh kantor. Kesempatan ini tak disia-siakan.

Semua itu berubah ketika terjadi krisis awal tahun 2009 ini. Tak disangka, dua sahabat tadi mendadak berhenti kerja. Budi diPHK karena proyek kantornya turun drastis, isterinya pun kena perampingan karyawan.

Lain halnya dengan Iwan, ia keluar karena difitnah oleh kolega kantor. Istri Iwan tak tahan mendengar omongan teman kantor tentang suami, mengundurkan diri.

Budi dan isterinya beruntung, bekerja 14 tahun mendapat pesangon sekitar Rp.70.000.000,- (tujuh puluh juta rupiah). Adapun Iwan dan isteri, hanya memperoleh Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah), itu pun pesangon isterinya. Budi cukup lega, sang istri pun memutuskan mengurus rumah tangga. Budi sibuk mencari pekerjaan lainnya. Uang sebagian ditabung, sebagian dipinjam saudara dan sisanya untuk keperluan sehari-hari.

Enam bulan menganggur dengan gaya hidup serupa saat bekerja, persediaan uang pun makin menipis. Uang pinjaman tak kunjung kembali, pekerjaan pun urung diperoleh. Walhasil, sisa tabungan tak labih Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah) lagi. Beruntung, tetangga dekat empunya toko elektronik memintanya bekerja di toko dengan gaji Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah).

Iwan, sahabat kedua, menempuh jalan finansial berbeda. Ia membuka warung rumah, dan secepatnya melunasi cicilan rumah Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah). Sisa uang ditabung, dan menambah modal warung. Menjual rumah seharga Rp. 65.000.000,- (enam puluh lima juta rupiah), dan pindah membeli rumah di perkampungan seharga Rp. 40.000.000,- (empat puluh juta rupiah). Alhasil, mereka tetap memiliki rumah, malah punya uang cash Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta)yang langsung didepositokan. Saat ini omzet warung rumahan mereka Rp.300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) per hari, dan masih ditambah gaji Budi kisaran satu jutaan dari kerja marketing sepeda motor.

Kisah nyata di atas gambaran pentingnya cerdas finansial atau kemampuan mengelola uang yang dimiliki. Menurut Muhammad Syafi’ie B, “Kecerdasan finansial financial quotient) adalah kecerdasan mendayagunakan segenap potensi untuk mendapatkan uang, mengelolanya dengan baik, memberdayakan agar terus berkembang, dan menggunakan secara tepat supaya tercipta kemakmuran yang berkelanjutan di dunia dan akhirat kelak.”

Maknanya, kecerdasan finansial tidak tergantung banyaknya gaji atau pendapatan yang diperoleh, namun lebih pada bagaimana mengatur dan mengelolanya.

GURU CERDAS FINANSIAL
Bagi seorang guru, kecerdasan finansial sangat perlu. Bukan saja untuk mencukupi kebutuhan keluarga per bulan, lebih dari semua itu guru haruslah bisa digugu dan ditiru. Pola manajemen keuangan yang baik akan sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan hidup saat ini dan akan datang.

Sebagai trainer pendidikan, acap kali penulis mendengarkan keluhan guru di berbagai daerah ikhwal minimnya gaji, terutama yang belum PNS. Kurang sejahteranya guru berakibat lemahnya motivasi mendidik, suka mengeluh, dan dalam jangka panjang akan menganggu proses mengajar-belajar.

Lain lagi dengan guru yang sudah lebih sejahtera (PNS) dan lulus sertifikasi. Yang menjadi masalah bukan soal kekurangan uang, tapi kurang bijak membelanjakan uang. Tidak sedikit malah membeli kebutuhan tersier – seperti handphone mentereng atau tindakan konsumtif lain – yang sebenarnya belum perlu atau masih bisa ditunda.

Kuncinya, tentu kecerdasan finansial. Belanjakanlah uang berdasarkan kebutuhan, bukan karena keinginan. Dengan begitu, tiap apa yang dibelanjakan selalu terkontrol dengan baik.

Seorang guru honorer sekolah tidak akan mengeluh dengan terbatasnya gaji jika memahami bagaimana cara mendapatkan uang. Gaji boleh saja kecil tetapi pendapatan tak harus begitu.

Jalannya dengan meningkatkan valensi. Belajar menulis, membuat puisi, mendongeng, buat buku, memberi privat, jualan dan banyak lagi cara cerdas mendapatkan uang yang dapat mendukung kegiatan utama sebagai guru tanpa mengorbankan kepentingan siswa-siswi.

Setelah kemampuan itu dimiliki, dilanjutkan dengan manajemen pengelolaan uang. Upayakan uang selalu berkembang, uang yang seharusnya habis dalam tempo 10 hari upayakan dapat bertahan 12 atau 13 hari.

Berdayakan uang dengan maksimal, boleh saja dikembangkan dengan menjalani bisnis kecil-kecilan, jual pernak-pernik atau apa pun agar jumlah uang bertambah. Terakhir, guru harus cerdas membelanjakan uang.

Keinginan tak akan pernah habis, maka gunakan uang berdasarkan kebutuhan saja. Buatlah rencana bulanan sederhana sebagai panduan belanja sehingga tidak sampai nombok akhir bulannya, hindari belanja diskon yang membuat keputusan belanja keluar dari rencana, buatlah catatan kecil belanja, serta strategi lainnya.

Bagi guru berpendapatan lebih tinggi, Anda sudah melewati kecerdasan mendapatkan uang, namun hal ini hendaknya tidak membuat Anda berpuas diri sehingga valensi yang dimiliki terkubur tak bersisa. Bergantung dengan gaji tidaklah mendidik karena akan mengakibatkan terpendamnya potensi diri yang mestinya bisa dikembangkan dengan baik.

Mukiman, guru senior SD Negeri 07 Langkahan Aceh Utara yang terpencil, membuktikan hal ini. Tanpa mengabaikan jati diri sebagai panutan (mendapatkan penghargaan sebagai guru loyalitas tinggi mengajar daerah terpencil selama 20 tahun), beliau membuka toko baju di rumah, dan berjualan tiap Minggu di pasar desa. Memelihara beberapa ekor sapi dan kambing. Alhasil kehidupan ekonomi keluarganya sangat layak bagi seorang guru daerah terpencil dan hampir setiap tahun berlibur ke ibu kota sekaligus membeli barang-barang dari Jakarta dan Bandung.

Semuanya tergantung pada keputusan Anda dalam mengelola, memberdayakan dan membelanjakan uang. Semakin Anda cerdas finansial, semakin mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan di masa datang. Semoga. TG

Penulis: Zainal Umuri
Trainer Pendidikan Lembaga Pengembangan Insani DD Republika; Guru SMK Muhammadiyah Serpong

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

STKIP Kebangkitan Nasional

Gebrakan Sampoerna Foundation Mencetak Guru SMA




















Di tengah banyak keluhan lemahnya kualitas sarjana kependidikan yang disinyalir menjadi belenggu kemajuan pendidikan bangsa, muncul angin segar dari Sampoerna Foundation yang membuka sekolah calon guru hebat bermerk ‘Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan KEBANGKITAN NASIONAL’ (STKIP-KN) atau disebut juga Sampoerna Shool of Education. Terdengar sangat nasionalis dan bertenaga, bukan?

Layaknya sekolah calon guru, STKIP-KN menyediakan seabrek modul bermuatan akademis dan metode mengajar. Dibuka 2 prodi, yakni Bahasa Inggris dan Matematika – dipilih karena kedua mata ajar ini dianggap paling sulit oleh siswa SMA. Begitu kata Ibu Johana Rosalina Kristyanti Ph.D, Direktur Akademik dan Studi di STKIP KN, yang lulusan studi psikologi pendidikan di UNJ, S2 phsycology conseling di St. Clara Amerika Serikat, dan S3 di Australia dengan major Public Health.

Program Bea Siswa
Yang menjadi pembeda, STKIP-KN memberikan bea siswa. Tahun ini diberikan pada 89 mahasiswa, yang terjaring dari seleksi atas 1.200 pelamar. Penerima bea siswa ini direkrut melalui jalur seleksi cukup panjang. Berprestasi akademik tinggi, dan harus dari keluarga kurang mampu. Tim seleksi sengaja berkunjung ke rumah untuk memastikan hal ini.

Harus memiliki passion yang kuat menjadi guru (berbeda dengan kebanyakan mahasiswa keguruan kebanyakan yang kuliah karena ‘daripada tak kuliah’ atau sambil nunggu tes penerimaan mahasiswa negeri tahun depan). Mereka mengikuti sejumlah tes kepribadian, forum group discussion untuk mengukur kecerdasan dan karakter, selain tes bahasa Inggris. Juga dicobakan berdiri mengajar di sekolah-sekolah kumuh, agar terdeteksi panggilan mengajarnya.

Terbayang kan, bagaimana ribetnya proses seleksi ini. “Harus demikian, karena bea siswa selama 4 tahun ini tak sedikit. Untuk siswa asal Jakarta, biaya kuliah sekitar Rp168 juta. Luar Jakarta, mendapat living cost (uang saku, sewa kost, uang buku, biaya riset) total sekitar Rp 223 juta perorang,” jelas Agatha Simanjuntak, Public Relation yang road show ke daerah mensosialisasikan program ini.

“Respon mereka awalnya tak pede, ketakutan, mendengar program yang nantinya mencetak guru mengajar secara bilingual. Takut ah,… susah bahasa Inggrisnya, begitu kebanyakan komentar calon,” jelas Agatha.

Diferensiasi Itu
Di Indonesia kini ada 324 lembaga pencetak guru. Negeri yang sedang diguncang banyak bencana ini masih membutuhkan 10.000 guru profesional tiap tahun, dan akan terus bertambah.

Pantas kalau STKIP Kebangkitan Nasional memulai dengan upaya yang berbeda mulai dari perekrutan dan proses pembelajarannya agar tercapai guru yang ideal, yakni:
1. Mengajar bilingual, sesuai prodi
2. Memiliki scientific inquiry dan kebiasaan daya ilmiah tinggi
3. Trampil memanfaatkan multi media ajar, sesederhana apapun
4. Memilki inovasi, kreativitas, dan moral yang baik

Saat acara Inagurasi STKIP-KN, tampak calon guru masih culun-culun, maklum mereka fresh graduate SMU. Selama belajar, ada school advisor yang mendampingi kesulitan akademis,personal maupun sosial.

Setelah tamat nanti, diharapkan mereka matang, dan kembali ke daerah mengajar dengan pola ajar yang bermutu. Berbekal ilmu kependidikan modern dan ilmu-ilmu humaniora, agama, PKn dan pendidikan multikultural serta materi ICT dan moral value yang seimbang, dikawal oleh dosen (semuanya S2 lho dan terlibat dalam komunitas penelitian global), masa depan kualitas calon guru lulusan STKIP-KN ini cukup menjanjikan.

Selepas empat tahun pendidikan, mereka akan menempuh satu tahun pendidikan PPG (Program Profesi Guru) - nantinya PPG disyaratkan secara nasional oleh Depdiknas mulai 2010.

Panggilan Menjadi Guru
Menjadi guru kini tak cukup professional, namun harus tranformasional.Pertanyaan bagi lulusan STKIP-KN yang selama kuliah disentuhkan dengan peradaban modern, mulai dari ruang kelas,perpustakaan, dan taste yang tinggi ini: sanggupkah dalam usia muda mengajar siswa SMA? Dan apakah akan mau mengajar di sekolah negeri dengan gaji biasa padahal disiapkan untuk mangajar di sekolah internasional, minimal sekolah berkelas? Maukah digaji ala guru biasa?

Dalam forum group discussion, para siswa telah dikondisikan kehidupan riil bahwa menjadi guru tak banyak uang, tak sekeren kerja kantoran, tak terlalu prestise, dan sebagainya. “Mereka yang lolos dari ketakutan masa depan ini kami harapkan memang sudah ingin jadi guru sejak awal. Ada yang sudah diterima di UI tapi tetap memilih di STKIP KN,” kata Johana Rosalina Kristyanti Ph.D.

Semoga bukan karena beasiswa meninggalkan UI, namun memang lantaran panggilan yang kuat di jalur profesi guru. Semoga menjadi guru yang berperilaku baik -- tak lagi kita lihat kerumunan Guru mengikuti seminar di hotel berbintang lantaran berebut sertifikat, atau berebut makanan (maaf-red), serta kerepotan tak terbiasa memakai toilet kering seperti yang kita temui di berbagai forum pelatihan besar.

Dalam hal kompetititor, Sekolah Keguruan lain tak usah merasa tersaingi. Konon STKIP-KN terbuka untuk bekerjasama. “Kita harus bergandengan tangan kalau mau maju,” pendapat Bu Rosa.

Hal lain, akankah lulusan mendapat apresiasi yang patut dari sekolah tempat mengajar kelak? Prof.Dr. Paulina Pannen, ketua STKIP KN berujar, “Yesterday is history, today is story, tomorrow is mystery….”.

Jadi? “Ya ingat saja lah. Menjadi guru itu keindahannya adalah ketika
kita mengabdi,” pesan Bu Rosa menutup perjumpaan kami. TG

STKIP Kebangkitan Nasional
Ph. (021) 5772275


*)Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569