Tampilkan postingan dengan label teachers forum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teachers forum. Tampilkan semua postingan
Maret 07, 2011
Kejar Rejeki melalui Sertifikasi
rubrik Teachers Forum
Bukan rahasia lagi di kalangan para guru bahwa ‘proyek’ sertifikasi guru identik dengan keuntungan financial – berupa insentif yang lumayan untuk menambah pendapatan tanpa harus menambah jam kerja.
Terlebih yang diperlukan hanya dokumen-dokumen mati, lembar-lembar kertas sertifikat pelatihan, piagam penghargaan keikutsertaan dalam seminar atau workshop.Makin banyak dokumen terkumpul, harapan lulus sertifikasi semakin besar.
Adalah tiga orang Guru sekolah swasta; Pak Burhan,Pak Busro dan Pak Budi (bukan nama sebenarnya). Ketiganya dikenal sebagai Guru yang kurang disiplin. Mengajar sekenanya, masuk kelas tak pernah on-time. Merasa diri senior, sudah puluhan tahun mengajar, sehingga dokumen minimal seperti lesson plan (rencana pemelajaran) pun tidak pernah dibuat. Diberikan kesempatan belajar lagi; pelatihan, kursus singkat dan sejenisnya, tak pernah mau.Untuk apa lagi? Sudah cukup, tak perlu pelatihan, tak perlu belajar macam-macam.
Tetapi ketika mendengar bahwa program sertifikasi guru ada duit-nya, mereka bertiga sangat antusias, sibuk runtang-runtung kesana-kemari mengumpulkan dokumen. Karena minimnya dokumen yang ada, tak segan-segan mereka membuat dokumen-dokumen fiktif/palsu. Dalam bincang-bincang mereka tentang upaya mengakali sertifikasi, terekam pembicaraan berikut;
Burhan: “Bagaimana friends, setelah dikumpul-kumpulkan evidence saya sangat sedikit,” pak Burhan membuka pembicaraan.
Budi : “Sama Jo, saya punya juga tidak mencukupi, bahkan hanya sekitar 200 poin,” sahut Budi. (skor minimum 800)
Busro : “Boro-boro punya saya, bisa dihitung jari,” dengan bangga Busro menimpali. "Bagaimana kita menutupi kekurangan dokumen-dokumen ini?”
Budi : “Eh … itu gampang Jo .., You kan ingat, tiga tahun terakhir ini sekolah kita mengadakan beberapa kali workshop dan pelatihan, kenapa tak meminta saja kepada pimpinan untuk membuatkan sertifikat?”
Burhan : ”Oh…boleh juga you punya ide. Kita datangi saja tuh pimpinan, minta dia buatkan sertifikat dan piagam walau kita tak mengikutinya saat itu.”
Busro : “It’s impossible friends, bagaimana mungkin, pimpinan kita mau buatkan kalau kita sendiri tidak ikut. Ngga mungkin lah yau…,” tegas Busro pesimis.
Budi : “Eh… tenang aja, nanti aku urus. Itu mah kecil, kasih saja pimpinan kita doku (dibaca= duit), pasti mau.”
Busro : “Kalau begitu kita menyuap dan memalsukan dokumen dong?” tanyanya ragu-ragu.
Burhan : ”Ah…… kamu ini kaya nggak tahu aja. Udahlah dicoba aja dulu, yang
penting kita bisa disertifikasi dan mendapatkan tunjangan,” Burhan menimpali
Busro.
Busro : “Seandainya bisa pun, pasti dokumen kita masih kurang. Saya hitunghitung pelatihan selama ini hanya bisa menutup sekitar 60 poin.” Busro menjelaskan detil perhitungan skor-nya
Budi : “Oh… iya ya….. hanya sekitar 60 poin.”
Burhan : “Ah… masih ada ide. Saya punya kenalan Guru di kota, dia rajin ikut seminar, pelatihan, workshop semacamnya.”
Budi : “Maksudmu..?”
Burhan : “Saya akan minta teman di kota itu untuk mencarikan blanko-blanko kosong sertifikat dan penghargaan, kita tinggal mengisinya.”
Busro : ”Bagaimana bisa, kan acaranya sudah berlalu?” tanyanya Busro jeli.
Budi : “Gampang Jo….. suruh saja ia foto-copy, namanya ditutupi, sehingga kita tinggal ganti nama kita. ”
Burhan : “Ya ngga bisa lah Bud……, dokumen kan harus ada yang asli, mana mungkin di-foto copy?”
Busro : “Iya tidak mungkin itu.”
Burhan : “Begini saja. Di kota kan banyak pelatihan, bahkan setiap hari ada. Saya akan suruh teman itu ikut, dan daftarkan nama kita sebagai peserta sehingga kita dapat sertifikat asli.”
Budi : “Oke ide bagus itu. Di samping legal, juga sertifikatnya asli. Kita kirim saja uang lebih ke teman si Burhan, lalu minta mengirim sertifikat itu viapost. Bereskan kan?”
Busro : “Bisa juga sih… tetapi tetap saja, sertifikat itu asli tapi palsu alias aspal,” Busro mencobainya.
Burhan : “Ah… kamu ini, ideal banget sih. Sudahlah lupakan semuanya, asli atau palsu yang penting kita dapat sertifikat dan bisa di sertifikasi lalu dapat rapelan tunjangan,” Burhan tidak sabar.
Akhirnya mereka pun sepakat mengumpulkan ratusan ribu rupiah, dikirim ke teman Burhan di kota. Dalam waktu kurang dari satu bulan, maka setumpuk lembaran sertifikat, penghargaan telah berada di tangan ketiga guru itu. Tiba waktunya menyerahkan dokumen kepada kepala sekolah ke dinas pendidikan setempat. Selanjutnya mereka menunggu pengumuman transfer tambahan bulanan.
****
Sekelumit gambaran kesalahan persepsi para guru dalam merespon inisiatif yang baik dari pemerintah, tentang sertifikasi guru.
Tujuan utama sertifikasi adalah untuk meningkatkan kompetensi guru, sehingga kualitas pemelajaran meningkat dan akhirnya lulusannya pun bermutu. Tunjangan atau insentif bukan tujuan utama, hanyalah sebagai akibat dari meningkatnya kompetensi dan kinerja guru.
Jika kesalahan persepsi seperti ini terus dibiarkan maka tentu saja program sertifikasi tidak akan bermakna, sebaliknya jadi ajang pencarian tambahan income alias bagi-bagi duit.
Perlu dicari alternatif model sertifikasi yang lebih berbobot. Tak sekedar mensyaratkan lembar-lembar kertas atau dokumen mati, melainkan lebih menekankan pada kompetensi dan kinerja (achievement) nyata.
Seperti terinci dalam Undang-undang SISDIKNAS, bahwa Guru mesti memiliki kompetensi profesi, pedagogi, pribadidan kompetensi sosial.
Kompetensi tersebut yang perlu diukur, tentu tak cukup hanya dengan kumpulan dokumen mati atau test tertulis, juga observasi langsung melihat bagaimana proses pemelajaran di kelas dilaksanakan.
Pencapaian-pencapaian yang mereka peroleh, harus ada bukti otentik, didukung dengan adanya testimoni dari pihak yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tak perlu pencapaian besar atau spektakuler seperti menjadi guru teladan nasional, atau publikasi karya tulis pendidikan yang best seller nasional, tetapi berawal dari pencapaian sederhana yang prinsipil seperti kehadiran, perencanaan pemelajaran, mengimplementasikannya dengan baik, kontribusi waktu dan tenaga untuk anakanak,serta peduli lingkungan sekolah.
Untuk mensertifikasi guru seperti dimaksud, tentu perlu tim independen di tiap daerah: punya komitmen, jauh dari mental kolusi, korupsi dan nepotisme. Tim sertifikasi tidak hanya duduk meneliti dokumen-dokumen mati, melainkan terjun ke kelas-kelas.
Dengan demikian sertifikasi Guru bukan lagi sarana mengejar rejeki, melainkan meningkatkan kinerja dan kompetensi.TG
Herman JP. Maryanto
Guru di Timika, Papua
*)Tulisan ini diterbitkan pada edisi 11/2011. Judul cover : MENJADI INDONESIA. Dapatkan majalah Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Atau, silakan berlangganan jika tak ingin luput ketinggalan.
Bukan rahasia lagi di kalangan para guru bahwa ‘proyek’ sertifikasi guru identik dengan keuntungan financial – berupa insentif yang lumayan untuk menambah pendapatan tanpa harus menambah jam kerja.
Terlebih yang diperlukan hanya dokumen-dokumen mati, lembar-lembar kertas sertifikat pelatihan, piagam penghargaan keikutsertaan dalam seminar atau workshop.Makin banyak dokumen terkumpul, harapan lulus sertifikasi semakin besar.
Adalah tiga orang Guru sekolah swasta; Pak Burhan,Pak Busro dan Pak Budi (bukan nama sebenarnya). Ketiganya dikenal sebagai Guru yang kurang disiplin. Mengajar sekenanya, masuk kelas tak pernah on-time. Merasa diri senior, sudah puluhan tahun mengajar, sehingga dokumen minimal seperti lesson plan (rencana pemelajaran) pun tidak pernah dibuat. Diberikan kesempatan belajar lagi; pelatihan, kursus singkat dan sejenisnya, tak pernah mau.Untuk apa lagi? Sudah cukup, tak perlu pelatihan, tak perlu belajar macam-macam.
Tetapi ketika mendengar bahwa program sertifikasi guru ada duit-nya, mereka bertiga sangat antusias, sibuk runtang-runtung kesana-kemari mengumpulkan dokumen. Karena minimnya dokumen yang ada, tak segan-segan mereka membuat dokumen-dokumen fiktif/palsu. Dalam bincang-bincang mereka tentang upaya mengakali sertifikasi, terekam pembicaraan berikut;
Burhan: “Bagaimana friends, setelah dikumpul-kumpulkan evidence saya sangat sedikit,” pak Burhan membuka pembicaraan.
Budi : “Sama Jo, saya punya juga tidak mencukupi, bahkan hanya sekitar 200 poin,” sahut Budi. (skor minimum 800)
Busro : “Boro-boro punya saya, bisa dihitung jari,” dengan bangga Busro menimpali. "Bagaimana kita menutupi kekurangan dokumen-dokumen ini?”
Budi : “Eh … itu gampang Jo .., You kan ingat, tiga tahun terakhir ini sekolah kita mengadakan beberapa kali workshop dan pelatihan, kenapa tak meminta saja kepada pimpinan untuk membuatkan sertifikat?”
Burhan : ”Oh…boleh juga you punya ide. Kita datangi saja tuh pimpinan, minta dia buatkan sertifikat dan piagam walau kita tak mengikutinya saat itu.”
Busro : “It’s impossible friends, bagaimana mungkin, pimpinan kita mau buatkan kalau kita sendiri tidak ikut. Ngga mungkin lah yau…,” tegas Busro pesimis.
Budi : “Eh… tenang aja, nanti aku urus. Itu mah kecil, kasih saja pimpinan kita doku (dibaca= duit), pasti mau.”
Busro : “Kalau begitu kita menyuap dan memalsukan dokumen dong?” tanyanya ragu-ragu.
Burhan : ”Ah…… kamu ini kaya nggak tahu aja. Udahlah dicoba aja dulu, yang
penting kita bisa disertifikasi dan mendapatkan tunjangan,” Burhan menimpali
Busro.
Busro : “Seandainya bisa pun, pasti dokumen kita masih kurang. Saya hitunghitung pelatihan selama ini hanya bisa menutup sekitar 60 poin.” Busro menjelaskan detil perhitungan skor-nya
Budi : “Oh… iya ya….. hanya sekitar 60 poin.”
Burhan : “Ah… masih ada ide. Saya punya kenalan Guru di kota, dia rajin ikut seminar, pelatihan, workshop semacamnya.”
Budi : “Maksudmu..?”
Burhan : “Saya akan minta teman di kota itu untuk mencarikan blanko-blanko kosong sertifikat dan penghargaan, kita tinggal mengisinya.”
Busro : ”Bagaimana bisa, kan acaranya sudah berlalu?” tanyanya Busro jeli.
Budi : “Gampang Jo….. suruh saja ia foto-copy, namanya ditutupi, sehingga kita tinggal ganti nama kita. ”
Burhan : “Ya ngga bisa lah Bud……, dokumen kan harus ada yang asli, mana mungkin di-foto copy?”
Busro : “Iya tidak mungkin itu.”
Burhan : “Begini saja. Di kota kan banyak pelatihan, bahkan setiap hari ada. Saya akan suruh teman itu ikut, dan daftarkan nama kita sebagai peserta sehingga kita dapat sertifikat asli.”
Budi : “Oke ide bagus itu. Di samping legal, juga sertifikatnya asli. Kita kirim saja uang lebih ke teman si Burhan, lalu minta mengirim sertifikat itu viapost. Bereskan kan?”
Busro : “Bisa juga sih… tetapi tetap saja, sertifikat itu asli tapi palsu alias aspal,” Busro mencobainya.
Burhan : “Ah… kamu ini, ideal banget sih. Sudahlah lupakan semuanya, asli atau palsu yang penting kita dapat sertifikat dan bisa di sertifikasi lalu dapat rapelan tunjangan,” Burhan tidak sabar.
Akhirnya mereka pun sepakat mengumpulkan ratusan ribu rupiah, dikirim ke teman Burhan di kota. Dalam waktu kurang dari satu bulan, maka setumpuk lembaran sertifikat, penghargaan telah berada di tangan ketiga guru itu. Tiba waktunya menyerahkan dokumen kepada kepala sekolah ke dinas pendidikan setempat. Selanjutnya mereka menunggu pengumuman transfer tambahan bulanan.
****
Sekelumit gambaran kesalahan persepsi para guru dalam merespon inisiatif yang baik dari pemerintah, tentang sertifikasi guru.
Tujuan utama sertifikasi adalah untuk meningkatkan kompetensi guru, sehingga kualitas pemelajaran meningkat dan akhirnya lulusannya pun bermutu. Tunjangan atau insentif bukan tujuan utama, hanyalah sebagai akibat dari meningkatnya kompetensi dan kinerja guru.
Jika kesalahan persepsi seperti ini terus dibiarkan maka tentu saja program sertifikasi tidak akan bermakna, sebaliknya jadi ajang pencarian tambahan income alias bagi-bagi duit.
Perlu dicari alternatif model sertifikasi yang lebih berbobot. Tak sekedar mensyaratkan lembar-lembar kertas atau dokumen mati, melainkan lebih menekankan pada kompetensi dan kinerja (achievement) nyata.
Seperti terinci dalam Undang-undang SISDIKNAS, bahwa Guru mesti memiliki kompetensi profesi, pedagogi, pribadidan kompetensi sosial.
Kompetensi tersebut yang perlu diukur, tentu tak cukup hanya dengan kumpulan dokumen mati atau test tertulis, juga observasi langsung melihat bagaimana proses pemelajaran di kelas dilaksanakan.
Pencapaian-pencapaian yang mereka peroleh, harus ada bukti otentik, didukung dengan adanya testimoni dari pihak yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tak perlu pencapaian besar atau spektakuler seperti menjadi guru teladan nasional, atau publikasi karya tulis pendidikan yang best seller nasional, tetapi berawal dari pencapaian sederhana yang prinsipil seperti kehadiran, perencanaan pemelajaran, mengimplementasikannya dengan baik, kontribusi waktu dan tenaga untuk anakanak,serta peduli lingkungan sekolah.
Untuk mensertifikasi guru seperti dimaksud, tentu perlu tim independen di tiap daerah: punya komitmen, jauh dari mental kolusi, korupsi dan nepotisme. Tim sertifikasi tidak hanya duduk meneliti dokumen-dokumen mati, melainkan terjun ke kelas-kelas.
Dengan demikian sertifikasi Guru bukan lagi sarana mengejar rejeki, melainkan meningkatkan kinerja dan kompetensi.TG
Herman JP. Maryanto
Guru di Timika, Papua
*)Tulisan ini diterbitkan pada edisi 11/2011. Judul cover : MENJADI INDONESIA. Dapatkan majalah Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Atau, silakan berlangganan jika tak ingin luput ketinggalan.
Mei 03, 2010
Membangun Karakter dari Sepiring Nasi
“Guru kreatif terkadang mengajar dalam bingkai eksplorasi dan ketidakjelasan. Ia lebih mencari esensialitas daripada rutinitas atas apa yang dipelajari bersama siswa. Ia akan tersenyum manakala siswa bertanya, ”Pak saya menemukan hal berbeda, tidak seperti yang bapak katakan atau teman saya temukan, mengapa?”
Awalnya ada sedikit keraguan untuk menuliskan pengalaman ini, karena banyak teman yang ‘agak sedikit’ mengerutkan dahi dengan ‘metode yang agak sedikit nyleneh’ yang saya pakai ini. Tapi biarlah itu berlalu, mungkin mereka belum tahu metode ‘sepiring nasi’ yang pernah saya gunakan.
Ide awal menggunakan metode ini, didasari suatu kebingungan mengunakan metode yang tepat untuk menjelaskan materi PKn tentang ‘Manusia sebagai mahluk sosial’. Saya tertantang menterjemahkan hal-hal yang rumit-abstrak menjadi nyata-sederhana, agar siswa mudah paham.
Berbicara tentang sepiring nasi, kita kerap mengkaitkannya dengan masalah makan, perut lapar, nikmat dan sebagainya. Tetapi tahukah kita bahwa sepiring nasi menyimpan banyak rahasia yang bisa digunakan dalam pembelajaran? Lalu apa kaitan antara sepiring nasi dengan pembelajaran? Secara sepintas mungkin tidak ada, kecuali kita mau sedikit kreatif.
Sepiring nasi yang biasa kita makan, sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam bagi tumbuhnya kepekaan, kepedulian dan penghargaan atas hasil jerih payah orang lain. Mungkin selama ini, saat akan makan, kita hanya memandanginya tanpa menganalisis lebih dalam. Bahkan kita tidak punya waktu sama sekali memperhatikan sepiring nasi itu kala perut lapar.
Cobalah amati sejenak, “Apa saja” yang ada dalam sepiring nasi itu? Nasi, ikan asin, ikan goreng, ayam goreng , tahu, lalap, sambal, tempe, ketimun, garam, vetsin, piring, sendok atau mungkin ada hal lainnya? Coba uraikan kembali, ‘siapa saja’ yang berperan dalam menyediakan barang-barang tersebut.
Sebagai contoh, petani merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam menyediakan beras, Ibu yang memasak nasi dan menggoreng lauk pauk. Tahu dibuat oleh pengrajin tahu, garam disediakan oleh petani garam. Masih banyak pihak lain yang terlibat, bukan? Pernahkan kita berpikir sejauh itu? Ya, kita selama ini hanya siap menerima semua itu tersaji … nasi rames!
Sekarang, apa kaitannya antara sepiring nasi dan pembelajaran? Saatnya menjelaskan tentang keberadaan manusia sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia memiliki keterbatasan dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Ajaklah siswa membayangkan, ketika mau ‘makan’ harus mempersiapkan segala sesuatunya seorang diri mulai dari menanam padi selama 6 bulan, mengeringkan air laut untuk membuat garam, menanam kedelai untuk membuat tahu dan tempe, menangkap ikan di laut untuk ikan asin. Keadaan ‘imaginer’ seperti ini haruslah diterapkan, agar siswa peka terhadap hasil kerja dan jerih payah orang lain.
Untuk membangun rasa kepekaan dan kepedulian, ajak siswa membuat pengandaian seperti ini “Seandainya tidak ada petani, kita tidak bisa makan nasi”, “seandainya tidak ada petani garam, tentunya makanan kita tidak ada rasanya”. Dari berandai-andai ini, minta siswa menyimpulkan sendiri ‘pentingnya ada orang lain di sekitar kita’, sehingga kebutuhan-kebutuhan kita bisa terpenuhi.
Sepiring nasi! Kau memberi inspirasi ....
Masih bingung dalam mencari metode untuk mengajarkan suatu materi? Ijinkan saya mengutip sebuah anekdot: “Suatu saat dua orang yang berasal dari sekolah yang sama bertemu. Walaupun berbeda angkatan tetapi mereka cepat akrab dan pada saat mereka membicarakan salah seorang gurunya, mereka kemudian tertawa bersama-sama karena setelah obrolan yang panjang terungkap bahwa sang guru tersebut masih melakukan praktek pengajaran yang persis sama, bahkan ketika waktu kelulusan mereka terpaut lebih dari 7 tahun.”
Terbukti, sang Guru tak berubah dan enggan mensejajarkan diri dengan kemajuan jaman. Sudah bukan jamannya lagi kita mengajar berdasarkan diktat dan uraian dosen saat kuliah dulu. Jaman berubah cepat, informasi terus bertambah. Ilmu pun cepat usang dan ketinggalan. TG
Iwan Gunawan
Guru SD Salman al Farisi, Bandung
http://keyanaku.blogspot.com
Tulisan ini diterbitkan pada edisi No. 10 / Vol.04 / Thn 2010. Dapatkan majalah pendidikan Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Berlangganan SMS ke (Flexi) 021 684 58569. Terima kasih.
Awalnya ada sedikit keraguan untuk menuliskan pengalaman ini, karena banyak teman yang ‘agak sedikit’ mengerutkan dahi dengan ‘metode yang agak sedikit nyleneh’ yang saya pakai ini. Tapi biarlah itu berlalu, mungkin mereka belum tahu metode ‘sepiring nasi’ yang pernah saya gunakan.
Ide awal menggunakan metode ini, didasari suatu kebingungan mengunakan metode yang tepat untuk menjelaskan materi PKn tentang ‘Manusia sebagai mahluk sosial’. Saya tertantang menterjemahkan hal-hal yang rumit-abstrak menjadi nyata-sederhana, agar siswa mudah paham.
Berbicara tentang sepiring nasi, kita kerap mengkaitkannya dengan masalah makan, perut lapar, nikmat dan sebagainya. Tetapi tahukah kita bahwa sepiring nasi menyimpan banyak rahasia yang bisa digunakan dalam pembelajaran? Lalu apa kaitan antara sepiring nasi dengan pembelajaran? Secara sepintas mungkin tidak ada, kecuali kita mau sedikit kreatif.
Sepiring nasi yang biasa kita makan, sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam bagi tumbuhnya kepekaan, kepedulian dan penghargaan atas hasil jerih payah orang lain. Mungkin selama ini, saat akan makan, kita hanya memandanginya tanpa menganalisis lebih dalam. Bahkan kita tidak punya waktu sama sekali memperhatikan sepiring nasi itu kala perut lapar.
Cobalah amati sejenak, “Apa saja” yang ada dalam sepiring nasi itu? Nasi, ikan asin, ikan goreng, ayam goreng , tahu, lalap, sambal, tempe, ketimun, garam, vetsin, piring, sendok atau mungkin ada hal lainnya? Coba uraikan kembali, ‘siapa saja’ yang berperan dalam menyediakan barang-barang tersebut.
Sebagai contoh, petani merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam menyediakan beras, Ibu yang memasak nasi dan menggoreng lauk pauk. Tahu dibuat oleh pengrajin tahu, garam disediakan oleh petani garam. Masih banyak pihak lain yang terlibat, bukan? Pernahkan kita berpikir sejauh itu? Ya, kita selama ini hanya siap menerima semua itu tersaji … nasi rames!
Sekarang, apa kaitannya antara sepiring nasi dan pembelajaran? Saatnya menjelaskan tentang keberadaan manusia sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia memiliki keterbatasan dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Ajaklah siswa membayangkan, ketika mau ‘makan’ harus mempersiapkan segala sesuatunya seorang diri mulai dari menanam padi selama 6 bulan, mengeringkan air laut untuk membuat garam, menanam kedelai untuk membuat tahu dan tempe, menangkap ikan di laut untuk ikan asin. Keadaan ‘imaginer’ seperti ini haruslah diterapkan, agar siswa peka terhadap hasil kerja dan jerih payah orang lain.
Untuk membangun rasa kepekaan dan kepedulian, ajak siswa membuat pengandaian seperti ini “Seandainya tidak ada petani, kita tidak bisa makan nasi”, “seandainya tidak ada petani garam, tentunya makanan kita tidak ada rasanya”. Dari berandai-andai ini, minta siswa menyimpulkan sendiri ‘pentingnya ada orang lain di sekitar kita’, sehingga kebutuhan-kebutuhan kita bisa terpenuhi.
Sepiring nasi! Kau memberi inspirasi ....
Masih bingung dalam mencari metode untuk mengajarkan suatu materi? Ijinkan saya mengutip sebuah anekdot: “Suatu saat dua orang yang berasal dari sekolah yang sama bertemu. Walaupun berbeda angkatan tetapi mereka cepat akrab dan pada saat mereka membicarakan salah seorang gurunya, mereka kemudian tertawa bersama-sama karena setelah obrolan yang panjang terungkap bahwa sang guru tersebut masih melakukan praktek pengajaran yang persis sama, bahkan ketika waktu kelulusan mereka terpaut lebih dari 7 tahun.”
Terbukti, sang Guru tak berubah dan enggan mensejajarkan diri dengan kemajuan jaman. Sudah bukan jamannya lagi kita mengajar berdasarkan diktat dan uraian dosen saat kuliah dulu. Jaman berubah cepat, informasi terus bertambah. Ilmu pun cepat usang dan ketinggalan. TG
Iwan Gunawan
Guru SD Salman al Farisi, Bandung
http://keyanaku.blogspot.com
Tulisan ini diterbitkan pada edisi No. 10 / Vol.04 / Thn 2010. Dapatkan majalah pendidikan Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Berlangganan SMS ke (Flexi) 021 684 58569. Terima kasih.
TAK BETAH di JAKARTA
Teachers Forum
Gaji kecil yang dulu sempat saya pikirkan ternyata bukan masalah besar buat saya. Saya makin mantap menjadi Guru ...
Sewaktu SMA, tak pernah terklintas cita-cita menjadi Guru. Sebuah profesi yang tak menarik dan bergaji kecil. Lulus SMA, saya masuk ke jurusan teknik informatika. Lulus, jadi sarjana! Lantas sebuah perusahaan menerima saya, dan mengharuskan bekerja di kantor Jakarta.
Saya merasa tak nyaman tinggal di Jakarta. Kehidupan di Ibukota ini membuat saya tak betah. Akhirnya saya kembali ke Jogja dan mencari pekerjaan lagi.
Seorang teman menawarkan posisi sebagai guru TIK di SMA De Britto. Dari pada nganggur, saya masukkan lamaran, diterima, dan mulai bekerja Mei 2005.
Rasa deg-deg-an luar biasa saya alami saat pertama mengajar. Laki-laki semua! Bahan mengajar sudah saya siapkan. Pertama kali berdiri di depan kelas, rasanya mau pingsan. Jam berputar lama sekali. Sembilan puluh menit bagaikan seminggu. Takut kehabisan bahan. Begini terus rasanya selama satu semester.
Semester ke dua, grogi dan bingung kian berkurang. Saya mulai bisa menikmati, dan mengenal pribadi siswa yang beda-beda. Dunia remaja dan permasalahannya saya masuki. Kegembiraan saat berada di sekolah merayap dahsyat. Muridku nyeleneh, lucu dan aneh-aneh.
Tahun ke tiga, saya ditugaskan menjadi wali kelas sosial. Karakter kelas sebelas sosial ini menjadi tantangan. Peran saya tak hanya sebatas mengajar, namun belajar mendidik siswa. Belajar memperhatikan secara personal persoalan siswa, mulai dari masalah keluarga, cinta, hingga hambatan belajarnya. Saya merasa harus terus belajar dan bekerja optimal.
Manusia punya banyak rencana, Tuhan menentukan. Akhirnya, menjadi Guru adalah pilihan saya, dan tak pernah menyesal pada pilihan ini. TG
E.Megia Novita
Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi SMA De Britto Jogjakarta.
Dari buku “Banyak Jalan Menuju LA . 161”, editor St. Kartono.
Gaji kecil yang dulu sempat saya pikirkan ternyata bukan masalah besar buat saya. Saya makin mantap menjadi Guru ...
Sewaktu SMA, tak pernah terklintas cita-cita menjadi Guru. Sebuah profesi yang tak menarik dan bergaji kecil. Lulus SMA, saya masuk ke jurusan teknik informatika. Lulus, jadi sarjana! Lantas sebuah perusahaan menerima saya, dan mengharuskan bekerja di kantor Jakarta.
Saya merasa tak nyaman tinggal di Jakarta. Kehidupan di Ibukota ini membuat saya tak betah. Akhirnya saya kembali ke Jogja dan mencari pekerjaan lagi.
Seorang teman menawarkan posisi sebagai guru TIK di SMA De Britto. Dari pada nganggur, saya masukkan lamaran, diterima, dan mulai bekerja Mei 2005.
Rasa deg-deg-an luar biasa saya alami saat pertama mengajar. Laki-laki semua! Bahan mengajar sudah saya siapkan. Pertama kali berdiri di depan kelas, rasanya mau pingsan. Jam berputar lama sekali. Sembilan puluh menit bagaikan seminggu. Takut kehabisan bahan. Begini terus rasanya selama satu semester.
Semester ke dua, grogi dan bingung kian berkurang. Saya mulai bisa menikmati, dan mengenal pribadi siswa yang beda-beda. Dunia remaja dan permasalahannya saya masuki. Kegembiraan saat berada di sekolah merayap dahsyat. Muridku nyeleneh, lucu dan aneh-aneh.
Tahun ke tiga, saya ditugaskan menjadi wali kelas sosial. Karakter kelas sebelas sosial ini menjadi tantangan. Peran saya tak hanya sebatas mengajar, namun belajar mendidik siswa. Belajar memperhatikan secara personal persoalan siswa, mulai dari masalah keluarga, cinta, hingga hambatan belajarnya. Saya merasa harus terus belajar dan bekerja optimal.
Manusia punya banyak rencana, Tuhan menentukan. Akhirnya, menjadi Guru adalah pilihan saya, dan tak pernah menyesal pada pilihan ini. TG
E.Megia Novita
Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi SMA De Britto Jogjakarta.
Dari buku “Banyak Jalan Menuju LA . 161”, editor St. Kartono.
November 01, 2009
GURU CERDAS FINANSIAL

Belajar dari Mukiman, Guru Senior di SDN 07 Langkahan Aceh Utara
Bermula cerita dua sahabat. Budi, sahabat ini bekerja di perusahaan konstruksi cukup ternama. Ia sarjana universitas terbaik, isterinya berijazah diploma tiga bekerja di perusahaan jasa cukup terkenal. Hidup mereka berkecukupan untuk ukuran umum penduduk Jakarta, dengan dua anak, tinggal di rumah keluarga sehingga kurang peduli tawaran-tawaran brosur perumahan.
Sahabat kedua Iwan, lulusan SMA di kota kecil di Jawa Tengah, dan sang isteri lulusan SMEA. Pasangan ini mengadu nasib bekerja di pusat perbelanjaan di Jakarta. Memiliki dua anak, si bungsu lahir caesar di medio 2005. Di penghujung 2005, mereka ditawari kredit rumah rumah sangat sederhana oleh kantor. Kesempatan ini tak disia-siakan.
Semua itu berubah ketika terjadi krisis awal tahun 2009 ini. Tak disangka, dua sahabat tadi mendadak berhenti kerja. Budi diPHK karena proyek kantornya turun drastis, isterinya pun kena perampingan karyawan.
Lain halnya dengan Iwan, ia keluar karena difitnah oleh kolega kantor. Istri Iwan tak tahan mendengar omongan teman kantor tentang suami, mengundurkan diri.
Budi dan isterinya beruntung, bekerja 14 tahun mendapat pesangon sekitar Rp.70.000.000,- (tujuh puluh juta rupiah). Adapun Iwan dan isteri, hanya memperoleh Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah), itu pun pesangon isterinya. Budi cukup lega, sang istri pun memutuskan mengurus rumah tangga. Budi sibuk mencari pekerjaan lainnya. Uang sebagian ditabung, sebagian dipinjam saudara dan sisanya untuk keperluan sehari-hari.
Enam bulan menganggur dengan gaya hidup serupa saat bekerja, persediaan uang pun makin menipis. Uang pinjaman tak kunjung kembali, pekerjaan pun urung diperoleh. Walhasil, sisa tabungan tak labih Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah) lagi. Beruntung, tetangga dekat empunya toko elektronik memintanya bekerja di toko dengan gaji Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah).
Iwan, sahabat kedua, menempuh jalan finansial berbeda. Ia membuka warung rumah, dan secepatnya melunasi cicilan rumah Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah). Sisa uang ditabung, dan menambah modal warung. Menjual rumah seharga Rp. 65.000.000,- (enam puluh lima juta rupiah), dan pindah membeli rumah di perkampungan seharga Rp. 40.000.000,- (empat puluh juta rupiah). Alhasil, mereka tetap memiliki rumah, malah punya uang cash Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta)yang langsung didepositokan. Saat ini omzet warung rumahan mereka Rp.300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) per hari, dan masih ditambah gaji Budi kisaran satu jutaan dari kerja marketing sepeda motor.
Kisah nyata di atas gambaran pentingnya cerdas finansial atau kemampuan mengelola uang yang dimiliki. Menurut Muhammad Syafi’ie B, “Kecerdasan finansial financial quotient) adalah kecerdasan mendayagunakan segenap potensi untuk mendapatkan uang, mengelolanya dengan baik, memberdayakan agar terus berkembang, dan menggunakan secara tepat supaya tercipta kemakmuran yang berkelanjutan di dunia dan akhirat kelak.”
Maknanya, kecerdasan finansial tidak tergantung banyaknya gaji atau pendapatan yang diperoleh, namun lebih pada bagaimana mengatur dan mengelolanya.
GURU CERDAS FINANSIAL
Bagi seorang guru, kecerdasan finansial sangat perlu. Bukan saja untuk mencukupi kebutuhan keluarga per bulan, lebih dari semua itu guru haruslah bisa digugu dan ditiru. Pola manajemen keuangan yang baik akan sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan hidup saat ini dan akan datang.
Sebagai trainer pendidikan, acap kali penulis mendengarkan keluhan guru di berbagai daerah ikhwal minimnya gaji, terutama yang belum PNS. Kurang sejahteranya guru berakibat lemahnya motivasi mendidik, suka mengeluh, dan dalam jangka panjang akan menganggu proses mengajar-belajar.
Lain lagi dengan guru yang sudah lebih sejahtera (PNS) dan lulus sertifikasi. Yang menjadi masalah bukan soal kekurangan uang, tapi kurang bijak membelanjakan uang. Tidak sedikit malah membeli kebutuhan tersier – seperti handphone mentereng atau tindakan konsumtif lain – yang sebenarnya belum perlu atau masih bisa ditunda.
Kuncinya, tentu kecerdasan finansial. Belanjakanlah uang berdasarkan kebutuhan, bukan karena keinginan. Dengan begitu, tiap apa yang dibelanjakan selalu terkontrol dengan baik.
Seorang guru honorer sekolah tidak akan mengeluh dengan terbatasnya gaji jika memahami bagaimana cara mendapatkan uang. Gaji boleh saja kecil tetapi pendapatan tak harus begitu.
Jalannya dengan meningkatkan valensi. Belajar menulis, membuat puisi, mendongeng, buat buku, memberi privat, jualan dan banyak lagi cara cerdas mendapatkan uang yang dapat mendukung kegiatan utama sebagai guru tanpa mengorbankan kepentingan siswa-siswi.
Setelah kemampuan itu dimiliki, dilanjutkan dengan manajemen pengelolaan uang. Upayakan uang selalu berkembang, uang yang seharusnya habis dalam tempo 10 hari upayakan dapat bertahan 12 atau 13 hari.
Berdayakan uang dengan maksimal, boleh saja dikembangkan dengan menjalani bisnis kecil-kecilan, jual pernak-pernik atau apa pun agar jumlah uang bertambah. Terakhir, guru harus cerdas membelanjakan uang.
Keinginan tak akan pernah habis, maka gunakan uang berdasarkan kebutuhan saja. Buatlah rencana bulanan sederhana sebagai panduan belanja sehingga tidak sampai nombok akhir bulannya, hindari belanja diskon yang membuat keputusan belanja keluar dari rencana, buatlah catatan kecil belanja, serta strategi lainnya.
Bagi guru berpendapatan lebih tinggi, Anda sudah melewati kecerdasan mendapatkan uang, namun hal ini hendaknya tidak membuat Anda berpuas diri sehingga valensi yang dimiliki terkubur tak bersisa. Bergantung dengan gaji tidaklah mendidik karena akan mengakibatkan terpendamnya potensi diri yang mestinya bisa dikembangkan dengan baik.
Mukiman, guru senior SD Negeri 07 Langkahan Aceh Utara yang terpencil, membuktikan hal ini. Tanpa mengabaikan jati diri sebagai panutan (mendapatkan penghargaan sebagai guru loyalitas tinggi mengajar daerah terpencil selama 20 tahun), beliau membuka toko baju di rumah, dan berjualan tiap Minggu di pasar desa. Memelihara beberapa ekor sapi dan kambing. Alhasil kehidupan ekonomi keluarganya sangat layak bagi seorang guru daerah terpencil dan hampir setiap tahun berlibur ke ibu kota sekaligus membeli barang-barang dari Jakarta dan Bandung.
Semuanya tergantung pada keputusan Anda dalam mengelola, memberdayakan dan membelanjakan uang. Semakin Anda cerdas finansial, semakin mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan di masa datang. Semoga. TG
Penulis: Zainal Umuri
Trainer Pendidikan Lembaga Pengembangan Insani DD Republika; Guru SMK Muhammadiyah Serpong
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569
Oktober 27, 2009
Belajar adalah Mengalir, Dinamis, Penuh Risiko, Menggairahkan

Kalimat ini sangat saya gemari. Saya mendapatkan kekuatan setiap kali saya membaca atau mengucapkannya. Kekuatan magis yang mampu memberi energi untuk selalu semangat pergi ke sekolah.
Saya selalu membayangkan bahwa belajar itu tidak kaku. Mengajar tidaklah seperti melaksanakan peraturan atau undang-undang, juga bukan sebuah rencana mutlak, sangat tergantung pada situasi yang dihadapi. Bisa jadi rencana tinggal rencana. Ya nggak apa-apa.
Lalu, apakah kita tak perlu mempersiapkan rencana pembelajaran? Tidak juga. Rencana pembelajaran harus dibuat, meski bukan berarti harus ditulis dalam format-format tertentu.
Menurut saya, tugas seorang guru yang lebih penting adalah membuat rencana pembelajaran yang asyik, yang membuat anak ketagihan. Ini tentu saja memerlukan energi dan waktu yang cukup untuk mempersiapkannya.
Rencana yang dibuat bukanlah tak boleh berubah. Belajar tak hanya aktivitas fisik, juga terlibat mental di dalamnya. Emosi sangat berpengaruh dalam belajar. Oleh karena itu seorang guru harus mempunyai kejelian dalam melihat keadaan emosi murid-muridnya. Apa yang sedang mereka rasakan, apa bahan pembicaraan mereka, permainan yang sedang digemari, dan hal lainnya.
Maka ketika rencana yang kita buat tak selaras dengan keadaan anak, saat itu juga harus diubah. Diubah bisa berarti diganti secara ekstrem, bisa juga diadaptasi, tergantung situasi.
Dengan demikian, seorang Guru harus bersiap diri akan segala kemungkinan. Boleh jadi, yang semula direncanakan membuat anak merasa asyik, malahan nggak rame atau bahkan ditolak siswa. Dalam hal seperti ini tidak pada tempatnya Guru memaksakan siswa mengikuti apa yang sudah direncanakan. Kalau anak ajukan keberatan atau usul, jangan langsung dipatahkan. Justru keberanian menyampaikan perasaan dan menawarkan solusi seperti ini harus dikembangkan.
Atau ternyata guru mendeteksi sebuah kegiatan mengasyikkan yang dilakukan anak-anak saat istirahat, maka bisa saja rencana pembelajaran saat itu juga berubah. Secara materi tidak ada yang berubah, namun setting kegiatan yang disesuaikan. Dalam arti yang lebih luas dapat dikatakan bahwa semua aktivitas adalah belajar. Belajar tidak dibatasi ruang dan waktu. Ini barangkali yang dimaksud dengan mengalir.
Air akan mengalir baik kalau ada saluran. Saluran belajar terbuka saat anak ’memberi ijin’ Guru mengajar. Maka dapatkanlah ijin itu -- kalau tidak apa yang kita ajarkan akan meluap ke luar saluran.
Air akan mengalir lancar kalau sedikit penghalangnya -- maka buanglah sebanyak mungkin apapun yang menghalangi proses belajar. Rasa takut, malu, cemas, dan perasaan negatif lainnya jangan ada dalam belajar. Tugas Guru meminimalkan penghalang, kalau mungkin menghilangkannya.
Mengalir juga berarti cair. Cair dalam hubungan antara individu, cair dalam materi. Maksudnya, materi bisa berkembang atau dipelajari lebih dalam. Ini tentu saja memerlukan fleksibilitas. Berarti belajar tidak selalu ceramah atau mengerjakan latihan. Belajar tidak harus di kelas. Belajar bukan hanya membaca atau menulis. Belajar itu banyak kegiatannya. Dan karenanya, belajar selalu berkembang.
Belajar merupakan sebuah usaha. Usaha membangun pengetahuan. Namanya juga usaha, kadang sukses kadang harus mengulang. Artinya, ada resiko gagal. Kegagalan yang dimaksud bukan hasil akhirnya gagal, tapi gagal dalam prosesnya sehingga perlu pengulangan.
Mempelajari sesuatu yang baru kadang menimbulkan ketegangan. Anak ragu, atau bahkan takut memasuki sesuatu yang baru. Perlu usaha agar ketegangan anak tak berlangsung lama. Saat mempelajari sesuatu yang baru upayakan anak merasa aman dan nyaman, tidak takut 'diketawai' atau dimarahi. Tidak takut mencoba, dan terus mencoba. Punya kegigihan, tidak kenal putus asa. TG
Suhud Rois
Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin,
Kab. Bandung Barat, Jabar
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569
Menciptakan Pemimpin
Saat ini jarang terdengar ada format pendidikan untuk mempersiapkan calon pemimpin masa depan. Sekolah seyogyanya menciptakan lingkungan ideal bagi lahirnya pemimpin yang mau menyuarakan perubahan sosial, politik, ekonomi, dan agama. Peran Guru sangat besar dalam mengembangkan nilai-nilai dalam diri siswa. Guru, dari bahasa Sanskerta gur-u’, berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan, orang sangat dihormati. Dalam khazanah Jawa Kuno, sejumlah istilah yang menempel pada sebutan ’guru’: guru desa (kamitua desa yang mumpuni spiritual), guru hyan (guru rohani),guru loka (pejabat agama di istana), dan guru pitara mendiang nenek moyang yang dimuliakan karena kewaskitaannya).
Ada yang diposisikan semacam resi, ’manusia suci’ yang pintar dan ikhlas. Karenanya, sebagai guru kita mesti lebih dari sekadar menguasai pelajaran kognisi), juga memberi teladan kejujuran, hidup sederhana, ketulusan. Bukan sekedar hanya sebagai profesi, serupa profesi sekretaris atau arsitek, misalnya.
Dalam sejarah Indonesia, para pendiri negeri ini juga berperilaku guru. Soekarno, semasa dibuang ke Bengkulu, mengajari anak-anak berhitung, bahasa Belanda, hingga sejarah. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir menjadi guru anak-anak di lingkungan rumah tahanan. Keduanya mengajari politik secara diam-diam melalui lagu perjuangan, mengecat perahu dengan warna merah-putih.
Jenderal Soedirman lebih kurang lima tahun menjadi kepsek SD Muhammadiyah di Cilacap, sebelum masuk PETA. Jenderal Nasution menjadi guru di Bengkulu (1938) dan di Palembang (1939-1950), sebelum masuk tentara KNIL.
Yang melahirkan pemimpin seyogyanya harus ’guru pemimpin’ juga. Bukan guru-guru yang sebatas mentransformasi ilmu pengetahuan tanpa diperkaya nilai-nilai luhur kehidupan. Ia dekat dengan siswa, yang mempermudah transfer ilmu dan internalisasi nilai kehidupan itu.
Menurut Dr. Georgi Lozanov (1897), sikap Guru kepada para siswa paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian siswa. Keteladanan pribadi Guru membangun rasa percayaan diri siswa, sehingga berani menyampaikan ide pemikiran kepada orang lain.
Keteladanan, ketulusan, kongkruensi, dan kesiap-siagaan Guru (apalagi di sekolah berasrama bisa bertemu 24 jam) akan memberdayakan dan mengilhami siswa belajar. Melalui interaksi Guru-murid itu, terbentuklah sikap mental dan kecerdasan emosi siswa. Jika metode pembelajarannya efektif, kesuksesan siswa lebih mudah terwujud.
Guru seyogyanya mampu berkomunikasi dan yang mampu merancang pengajaran efektif. Tak hanya pintar mengajar, juga pandai berteman. Pintar memberi pengayoman, mahir bercerita, mempunyai energi psikis yang banyak. Keseharian Guru adalah cinta ilmu, terus belajar, tumbuh, dan berubah agar dapat melahirkan peserta didik yang hebat dan visioner. TG
Drs. Sutrisno Muslimin, M.Si.
Guru, pernah kepala asrama SMA Dwiwarna.
Kini director executive IIEC Group, mengelola lembaga
pendidikan IIHS dan IISS Boarding Intermoda di Jakarta.
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569
Lima Langkah Menjadi Unique Teacher
“Bertanggungjawablah pada kehidupan Anda dengan tidak hanya melakukan hal-hal rutin. Lakukanlah kegiatan yang belum pernah dilakukan, hidup Anda pasti berubah.” Bobbi De Porter
Apa yang terfikirkan jika Anda menjumpai murid bermuka masam waktu diminta mendengarkan penjelasan, mengobrol tak jelas, atau tak kooperatif?
Saya pribadi selalu introspeksi tiap masuk mengajar. Mengajar geografi,bagi saya bermakna ’menjual bidang studi geografi’. Sikap murid adalah cermin tingkat keberhasilan saya ‘menjual’. Kalau respon kelas acuh, artinya saya gagal. Maka tiap kali mulai masuk kelas, saya merasa tertantang, cara ‘berjualan’ apa yang lebih efektif.
Dan, begitulah saya menikmatinya. Di awal sebagai guru, saya kurang pe-de. Setelah 6 bulan, sedikit-sedikit mendapatkan rasa pede. Tentunya dengan perbaikan sana-sini, menyusun rencana pembelajaran yang menarik, cara berpakaian, berkomunikasi,sampai cara mengelola kelas. Berikut ‘saran’ saya untuk Guru pemula:
Pertama, ‘ilmu menjual’ tadi harus senantiasa diasah. Antara lain, banyak membaca referensi, mendengar pengalaman rekan Guru, dan meningkatkan kualitas diri seminar, pelatihan, aktif di MGMP).
Kedua, ciptakan aktivitas belajar semenarik mungkin, agar Anda dan siswa tidak jenuh. Misal, pembelajaran diselingi dengan:
* Permainan TTS (teka-teki silang) dengan soal dari topik yang dibahas. Yang benar mendapat hadiah (bolpoin, atau barang-barang kecil lainnya).
* Diskusi. Saat diskusi, saya memotret mereka, dan saya pajang di kelas. Ini akan meningkatkan semangat belajar siswa.
* Konsisten membagikan catatan nilai siswa. Mereka senang, karena merasa kerja kerasnya dihargai.
Ketiga, evaluasi dan jalin keakraban. Setelah liburan semester, saat masuk pertama, saya tak memberi materi. Saya siapkan daftar nilai ulangan semester dan tugas (kelas XI dan XII), lalu secara berhadapan saya evaluasi dan motivasi. Saya tanyakan bagaimana kabar mereka, liburan, dan seterusnya. Sangat menjalin kedekatan, dan mempermudah saya mengajar di semester berikutnya.
Keempat, aturan tegas. Siswa harus terlibat dalam aktivitas kelas, selama jam belajar dilarang keluar-masuk. Ada absensi khusus bagi yang malas masuk. Nilai +1 untuk yang konsisten masuk, sebaliknya -1 untuk yang hobi bolos. Konsisten, sebagai Guru jika ingin menuntut siwa disiplin, kita harus terlebih dulu mencontohkan kedisiplinan.
Kelima, jam mengajar. Di awal tahun ajaran, sebelum jadwal mengajar disusun, saya konsultasi agar jam mengajar tidak Senin dan Sabtu,agar tidak terganggu acara-acara intern sekolah.
Begitulah, siswa dan sekolah adalah laboratorium hidup yang membuat saya tumbuh dewasa dari hari ke hari tanpa saya sadari.TG
Susilo Indarti,
Guru SMA Yayasan Nabil Husein Loa-Bakung, Samarinda, Kaltim
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569
Haruskah Anak Usia TK (bisa) Membaca ?
Keaksaraan tidak hanya ditandai dengan
kemampuan anak membaca dan menulis huruf
atau kata-kata, tetapi yang terpenting
adalah anak memahami setiap kata dan kalimat
dalam tulisan. Membaca adalah aktifitas
belajar yang dominan memerlukan indera
visual, auditori dan juga melibatkan
fungsi penginderaan lain di otak.
Tak ada PR-PROBLEM MEMBACA
(bagi anak-anak),yang ada adalah
PROBLEM GURU dan SEKOLAH.
Herbert Kohl
Kemampuan membaca adalah salah satu kompetensi yang sangat berkaitan erat dalam membantu memahami kontek dan pemahaman bidang studi atau pelajaran yang lain. Kemampuan membaca sangatlah berbeda dengan kemampuan berbicara secara lisan yang dapat berkembang secara alamiah melalui interaksi dengan lingkungan sekitar.
Sejak dulu, membaca menjadi tuntutan wajib bagi guru TK akibat permintaan atau tekanan dari orang tua yang beranggapan bahwa anak lulus TK harus bisa membaca. Terjadilah drilling dan pengajaran yang sangat membosankan dan tidak appropriate.
Keadaan itu diperparah oleh orang dewasa (orang tua dan guru) yang mengajarkan membaca menggunakan cara dan metode yang menyamaratakan karakter dan gaya belajar, bahkan medianya pun itu-itu saja.
Alasan orang tua : Banyaknya SD yang menyelenggarakan tes masuk harus mampu baca-tulis), mau masuk SD favorit,dianggap pintar kalau bisa membaca, membandingkan anaknya dengan anak orang lain yang sudah bisa membaca, baca-tulis lebih penting dari kompetensi yang lain.
Sesungguhnya proses menstimulasi membaca akan menjadi mudah jika tanda-tanda keaksaran sudah muncul dan mulai berkembang atau sudah Click and Clunk.
Ada banyak strategi atau metode untuk dapat menstimulasi anak membaca agar Effective, Fun and Appropriate, diantaranya:
* Kenali gaya belajar (Visual, Auditori dan Kinestetik) masing-masing anak, sehingga dapat distimulasi sesuai dengan gaya belajarnya.
* Stimulasi anak untuk dapat membaca dalam keadaan Fun dan berdasarkan tahapannya.
* Gunakan lagu, sajak, sya’ir atau puisi sebagai tahap awal untuk mengenal bunyi / fonik setiap huruf. "Membacakan keras-keras untuk anak sangat efektif dalam mengembangkan perbendaharaan kata, ekspresi bahasa, dan keterampilan berbahasa ekspresif maupun reseptif (Lyon, 1999).
* Ciptakan lingkungan keaksaraan: Memberi nama/label pada setiap objek yang ada di lingkungan terdekat/sekitar anak (kelas, area bermain, kebun, area rumah (ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, halaman, dll).“Pengajaran langsung tentang strategi memahami bacaan ditemukan efektif, dan perkembangan membaca anak juga terbantu oleh lingkungan yang kaya literatur, praktek membaca literatur otentik, dan bahan-bahan yang sudah sangat dikenal (Moats, 1996 : Lyon, 1999).
* Gunakan gambar tanpa kata/kalimat, dengan kata/kalimat singkat, yang menjelaskan bahasa dalam gambar.
* Gunakan berbagai media yang menarik sehingga anak menjadi senang dan tertantang, dengan pilihan kata/kalimat yang bermakna.
* Hindari penggunaan media yang sama dan berulang-ulang yang menyebabkan anak bosan.
* Bedakan media masing-masing anak sesuai gaya belajarnya.
* Keterlibatan anak sepenuhnya,tidak hanya sebagai pendengar dan penghafal sementara gurunya yang melakukan.
* Ciptakan kegiatan dalam permainan (bentuk games), agar lebih mudah penyampaian proses dan anak merasa bermain bukan belajar.
Kemampuan membaca dapat diajarkan pada anak sedini mungkin, asalkan tidak menyalahi norma-norma perkembangan dan potensi anak dalam melakukan proses, sehingga apa yang ada dalam diri anak dapat berjalan dan berkembang sesuai dengan fitrah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. TG
Saiyadi
KaDiv. Kesiswaan Semut-Semut The Natural School
Depok Jabar
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569
April 29, 2009
Dari Cawas Mampir mBantul

…Bagaimanapun De Britto adalah yang membesarkanku…
De Britto adalah sebuah jalan hidup yang sudah kupilih…
Bermula dari pertemuan dengan Suster Wina FCJ di Jl. Gejayan suatu pagi, langkahku di De Britto, Yogyakarta dimulai. Sebenarnya sudah cukup lama Suster yang juga guru pembimbing waktu praktik di De Britto itu ingin bertemu untuk menawari jadi guru De Britto. Keraguankulah yang menunda pertemuan itu. Salah satu alasan kenapa aku ragu, aku sedang bergulat dengan skripsi. Berdasarkan pengalaman banyak teman, kerja dan mendapatkan uang seringkali lebih menggiurkan ketimbang meyelesaikan skripsi.
Akhir 1998 selesai kuliah, tetapi baru pertengahan 1999 aku mengawali karirku di De Britto, sebagai seorang guru. Inilah pengalaman pertama kerja di institusi formal. Tidak mudah! Sebab, untuk bisa mengerti di kolese ini harus mencari tahu sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu aku tidak hanya mengajar matematika, tapi juga mengajar teater di sore hari. Sebuah ‘kesenangan’ yang kupelihara sejak mahasiswa yang ternyata membawaku mengenal De Britto lebih mendalam. Kesenangan itu pula yang membuatku menghabiskan hampir setiap sore di De Britto selama lima tahun berikutnya.
Salah satu nilai yang mengusikku di awal perjalanan ini adalah "kebebasan". Kebebasan seolah menjadi ciri khas, jargon, dan sekaligus mantra di sekolah ini. Cukup lama aku memahami dan menggali makna pendidikan bebas di kolese ini dengan bertanya, membaca, mengamati, dan merenung-renung. Aku melakukan itu agar tidak salah dan latah tentang kebebasan. Supaya mendapatkan pemahaman yang utuh tentang kebebasan, yang dihidupi di kolese ini.
Bagiku kebebasan tidak hanya berkait dengan pilihan dan tanggung jawab yang mengiringi sebagai konsekuensi. Kebebasan merupakan hal yang mendasar yang tak bisa dilepaskan dari proses mencipta. Sebab hanya orang bebaslah yang bisa mencipta, berkreasi, dan menghasilkan karya berguna (migunani tumraping liyan). Nilai inilah yang mendasari, menginspirasi, dan membuatku kuat serta berani menentukan pilihan-pilihan hidup selanjutnya. Setelah aku merasa bebas secara ekonomi, tak lama setelah bekerja di De Britto, aku berteguh hati untuk menikah.
Meski belum begitu jelas aku merasa yakin dengan masa depanku di De Britto. Pasti ada jalan bagi yang berani. Tahun itu, selain di De Britto aku juga mengajar di SMA Stella Duce 1, dan menjajakan matematika dari rumah ke rumah atau dari kos ke kos untuk menghidupi keluarga baruku. Hal ini semakin meyakinkan bahwa pilihanku bisa aku pertanggung jawabkan.
Setelah hampir satu tahun mengontrak, menjelang kelahiran anak pertama kami pindah ke rumah di Cawas. Pilihan ini aku ambil karena sejak awal aku punya mimpi, aku ingin masa kecil anak-anakku di mulai dari desa, biar dekat dengan alam, tumbuh dari lingkungan yang masih kental dengan kebersamaan. Konsekuensi dari pilihan ini, aku harus nglaju dari Cawas ke Yogya setiap hari.
Berangkat pagi-pagi, ketika orang lain masih memicingkan mata belum begitu tersadar dari bangun tidurnya dan pulang ketika semua pintu rumah-rumah sudah tertutup dan terkunci. Aku jalani semua itu sama seperti mereka yang bergegas pagi-pagi, aku juga menyimpan harapan dan masa depanku di De Britto. Meski kalau mau jujur, waktu itu honor di De Britto selalu hanya cukup untuk membeli susu anakku, toh masa depanku di De Britto semakin terpampang jelas.
Demi menghargai dan membahagiakan mertuaku, mulai 2001 aku pindah ke Bantul, tanah kelahiran istriku dan nantinya anak keduaku. Serupa di Cawas, aku pun harus nglaju dari Bantul setiap hari, berangkat pagi, pulang malam hari. Sesekali menyesatkan diri di Bener untuk bermain teater atau sekedar obrolan ringan di Wirobrajan.
Pada 2001 pula aku ‘menikah’ dengan De Britto dan aku menyerahkan hidupku untuk De Britto. Separuh waktu hidupku aku habiskan di De Britto. Pagi sampai siang mengajar matematika dan sore mendampingi anak-anak berteater. Di sela-sela itu aku mendampingi presidium, bekerja di Litbang atau menjadi bagian tim kurikulum. Boleh dibilang aku begitu bersemangat dan berdarah-darah. Membayar kepercayaan dengan totalitas dan loyalitas.
Namun, jalan memang tidak selalu mulus. Dalam perjalanan selanjutnya aku sering mendapati "cermin retak", ketidakseimbangan yang mengecewakan yang membuatku lelah. Enam tahun cukuplah aku berhenti sejenak.
Kesempatan rehat sejenak itu juga aku manfaatkan untuk banyak menulis, kembali mengajar secara mendalam dan bereksplorasi tentang matematika, serta memberikan waktu dan perhatian kepada keluargaku. Kesempatan menantang dan menguji kesabaran diri dengan mengajarkan matematika bagi mereka yang sangat kesulitan dengan matematika.
Meski mundur sejenak bukan berarti aku melepaskan diri, tidak perduli dengan apa yang sedang berlangsung di De Britto. Aku selalu ada untuk De Britto, tetap melihat meski tidak cukup banyak terlibat. Bagaimana pun De Britto adalah tempat yang membesarkanku. De Britto adalah sebuah jalan hidup yang sudah kupilih.
Dan setelah rehat beberapa waktu – melihat dari pinggir. Aku menemukan kembali semangat baru untuk terlibat dan bergulat lagi. Kini aku berdiri lagi di sini, siap sedia kembali untuk berpikir dan berbuat demi De Britto, jalan hidup yang telah kupilih. TG
Hj. Sriyanto
guru De Britto, Yogyakarta
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385
Guru Madrasah Jangan Ketinggalan Zaman
Suasana antusias nampak jelas terlihat di wajah murid-murid kelas VI - MI Salafiyah Syafi’iyah Limo-Depok, di sebuah hari Selasa pagi. Mereka penasaran dengan apa yang dibawa oleh Guru mereka pagi itu. Sebuah tas hitam yang cukup besar dan lain dari yang biasa dibawa oleh pak Agus, Guru Bahasa Indonesia.

Sebelum pelajaran dimulai, pak Agus segera menyapa anak-anak seperti biasanya dan langsung menyiapkan peralatan.”Anak-anak, hari ini bapak ingin memberikan metode pengajaran dengan menggunakan power point,” kata pak Agus. Tema pelajaran Bahasa Indonesia kali ini tentang periklanan. Wajah ceria anak-anak yang senang dan paham dengan penjelasan yang diberikan pak Agus menggunakan presentasi itu.

Sebelum pelajaran dimulai, pak Agus segera menyapa anak-anak seperti biasanya dan langsung menyiapkan peralatan.”Anak-anak, hari ini bapak ingin memberikan metode pengajaran dengan menggunakan power point,” kata pak Agus. Tema pelajaran Bahasa Indonesia kali ini tentang periklanan. Wajah ceria anak-anak yang senang dan paham dengan penjelasan yang diberikan pak Agus menggunakan presentasi itu.
Pak Agus adalah contoh Guru dengan pendekatan baru. Kini telah banyak pelatihan-pelatihan yang diadakan terutama bagi para guru Madrasah. Salah satu di antaranya adalah pelatihan penggunaan Microsoft Office (Word, Excel, dan Power Point), internet, serta pembuatan Blog bagi para Guru Madrasah sebagai Kapasitas Penguatan Madrasah yang diselenggarakan oleh pihak YASMIN – LAPIS di SMK Informatika Utama, Depok.
Banyak manfaat yang didapat para Guru madrasah dari pelatihan-pelatihan semacam ini. Di antaranya, menambah wawasan, memudahkan para Guru untuk mencari data-data di internet, merangsang minat menulis di blog masing-masing. Jadi, Guru Madrasah jangan sampai ketinggalan zaman. TG
Mirza Hanum, S.PdI
Guru di MI Salafiyah Syafi’iyah
mirzasyaman@yahoo.co.id
Banyak manfaat yang didapat para Guru madrasah dari pelatihan-pelatihan semacam ini. Di antaranya, menambah wawasan, memudahkan para Guru untuk mencari data-data di internet, merangsang minat menulis di blog masing-masing. Jadi, Guru Madrasah jangan sampai ketinggalan zaman. TG
Mirza Hanum, S.PdI
Guru di MI Salafiyah Syafi’iyah
mirzasyaman@yahoo.co.id
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.
Guru Enggan Belajar Bahasa Inggris. MENGAPA?
ENGLISH? Mau ya....
“Udah tua… Bapak ! Nggak bisa lagi ikut-ikut yang begituan!”
“Paling juga angat-angat tai ayam!”
”Bapak kayak nggak tahu aja teman-teman kita di sini! ”Ini sudah pernah dilakukan, Pak! jauh ... dari sebelum bapak datang ke sekolah ini!”
Demikianlah komentar pesimis teman sejawat akan ide saya membenbentuk ”English Club” guru. Rekan guru mungkin beranggapan, di English Club, meski cuma seminggu sekali, akan disibukkan isian grammar dan kosa kata susah, dan hasil akhirnya begitu-gitu saja.
Ada teman sejawat pernah kursus di tempat favorit di Bogor, dibiayai yayasan. Mengadakan 'English Day’ tiap hari Rabu, belajar bersama Sabtu (hari libur, red), dan sebagainya, tetapi hari-hari selepas kursus kembali seperti biasa, ’kegiatan-kegiatan’ itu menghilang begitu saja.
Kesan rekan sejawat ini menjadi ironi bagi sekolah kami, yang adalah sekolah swasta termasuk terbaik dan elit di Bogor, dengan fasilitas cukup memadai plus kepercayaan masyarakat yang tinggi. Hampir seluruh siswa dari Play Group, TK, SD, SMP, sampai SMA dari golongan menengah ke atas.
Pendiri Yayasan memiliki cita-cita luhur dan kepercayaan sangat besar kepada sekolah binaannya ini, beliau mencetuskan untuk dapat meraih Sekolah Bertaraf Internasional pada tahun 2012 mendukung program pemerintah sebagaimana yang dicantumkan di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat (3) yang berbunyi, “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional “.
Terlintas di pikiran saya, ide English Club ini lebih mengutamakan ’proses’ nya, yaitu memunculkan miliu berbahasa di sekolah. Miliu...
Yah, ’kata’ inilah yang tidak ada di kalangan para guru dan siswa. Miliu atau kecenderungan sosial sangat penting dalam menerapkan proses pembelajaran. Karena miliu adalah alas motivasi. Coba renungkan, metode pembelajaran bahasa ala pesantren bisa membangkitkan kemampuan berbahasa, mengapa? Ya, karena miliu berbahasa siswa dibangkitkan melalui disiplin. Pelanggar akan mendapat ’hukuman’, baik fisik sampai amanat berat menjadi ’jasus’ atau spy alias mata-mata.
Dalam hal sekolah saya, tak mungkin mengadopsi cara pesantren tersebut. Di sini hanya mencoba mengkondisikan, siapa pun yang masuk lingkungan sekolah akan terbetik dalam pikirnya memasuki lingkungan berbahasa Inggris, dan harus ’memakai’ bahasa Ingris.
Sejatinya ”English Club” adalah salah satu cara termurah membangkitkan miliu berbahasa. Tempat untuk curhat, ngobrol, berbagi pengalaman. Siapa pun yang hadir boleh menjadi tutor. Jika pun ada yang mengajar, istilah kami berbagi informasi. Ketika berdiskusi, tidak ada larangan mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah, tapi coba didorong untuk mau aktif berbahasa Inggris. Tak perlu sungkan bila salah.
Dalam klub ini tiap peserta dibebaskan. Mau tahu kalimat atau kata apa, hayo cari bersama-sama (tentu dibantu rekan yang mahir) Mengapa? Karena rasa ingin tahu yang besar lebih memiliki dampak untuk daya ingat yang lebih baik. Yang penting di sini tujuan utama kita adalah miliu... miliu... sekali lagi miliu... untuk mau dan tidak malu berbahasa Inggris.
Untuk siswa, miliu berbahasa Inggris dibangkitkan setelah bertadarrus, membaca al Qur’an dan do’a sebelum memulai pelajaran, dengan cara membentuk komunitas yang setiap hari berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Siswa diminta untuk berbaris berhadapan, kemudian memulai bercakap-cakap yang dia bisa dalam bahasa Inggris. Morning Conversation ini bisa dikembangkan dengan memberikan panduan percakapan pendek, yang boleh dikembangkan siswa sendiri.
Demikianlah, terus berupaya mengkreasikan lingkungan berbahasa akan membangkitkan miliu untuk mau dan bisa berbahasa, baik dengan sendirinya ataupun ’terpaksa’.. Saya yakin, ini sangat membantu memotivasi rekan sejawat untuk kembali (mau) belajar bahasa Inggris, karena belajar-tidak belajar, bahasa tersebut harus dipakai di lingkungan ini sehingga ’motivasi’ pun muncul. Jangan heran nanti akan banyak bermunculan slogan di dinding kelas dan kantor. Percakapan antara guru dan murid pun terdukung maksimal karena miliu-nya telah ada.
Berbagai masalah memang akan timbul. Pertama pada diri guru, dan siswa sendiri. Apakah kurang semangat, tidak serius, masa bodoh, merasa tidak penting, dan lainnya. Kedua, lingkungan sekolah, perlu sarana media audio, visual dan lainnya.
Maka control di sini sangat penting. Semua pihak, guru dan murid bahkan wali murid harus bekerja sama agar ’kegiatan miliu pembangkitan motivasi’ ini menjadi unggulan dari berbagai kegiatan sekolah. Mudah-mudahan harapan sekolah tentang penggunaan bahasa Inggris sebagai media pembelajaran dapat diraih, menjadi kebanggaan masyarakat di mana sekolah ini berada, serta contoh bagi sekolah lain. TG
“Udah tua… Bapak ! Nggak bisa lagi ikut-ikut yang begituan!”
“Paling juga angat-angat tai ayam!”
”Bapak kayak nggak tahu aja teman-teman kita di sini! ”Ini sudah pernah dilakukan, Pak! jauh ... dari sebelum bapak datang ke sekolah ini!”
Demikianlah komentar pesimis teman sejawat akan ide saya membenbentuk ”English Club” guru. Rekan guru mungkin beranggapan, di English Club, meski cuma seminggu sekali, akan disibukkan isian grammar dan kosa kata susah, dan hasil akhirnya begitu-gitu saja.
Ada teman sejawat pernah kursus di tempat favorit di Bogor, dibiayai yayasan. Mengadakan 'English Day’ tiap hari Rabu, belajar bersama Sabtu (hari libur, red), dan sebagainya, tetapi hari-hari selepas kursus kembali seperti biasa, ’kegiatan-kegiatan’ itu menghilang begitu saja.
Kesan rekan sejawat ini menjadi ironi bagi sekolah kami, yang adalah sekolah swasta termasuk terbaik dan elit di Bogor, dengan fasilitas cukup memadai plus kepercayaan masyarakat yang tinggi. Hampir seluruh siswa dari Play Group, TK, SD, SMP, sampai SMA dari golongan menengah ke atas.
Pendiri Yayasan memiliki cita-cita luhur dan kepercayaan sangat besar kepada sekolah binaannya ini, beliau mencetuskan untuk dapat meraih Sekolah Bertaraf Internasional pada tahun 2012 mendukung program pemerintah sebagaimana yang dicantumkan di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat (3) yang berbunyi, “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional “.
Terlintas di pikiran saya, ide English Club ini lebih mengutamakan ’proses’ nya, yaitu memunculkan miliu berbahasa di sekolah. Miliu...
Yah, ’kata’ inilah yang tidak ada di kalangan para guru dan siswa. Miliu atau kecenderungan sosial sangat penting dalam menerapkan proses pembelajaran. Karena miliu adalah alas motivasi. Coba renungkan, metode pembelajaran bahasa ala pesantren bisa membangkitkan kemampuan berbahasa, mengapa? Ya, karena miliu berbahasa siswa dibangkitkan melalui disiplin. Pelanggar akan mendapat ’hukuman’, baik fisik sampai amanat berat menjadi ’jasus’ atau spy alias mata-mata.
Dalam hal sekolah saya, tak mungkin mengadopsi cara pesantren tersebut. Di sini hanya mencoba mengkondisikan, siapa pun yang masuk lingkungan sekolah akan terbetik dalam pikirnya memasuki lingkungan berbahasa Inggris, dan harus ’memakai’ bahasa Ingris.
Sejatinya ”English Club” adalah salah satu cara termurah membangkitkan miliu berbahasa. Tempat untuk curhat, ngobrol, berbagi pengalaman. Siapa pun yang hadir boleh menjadi tutor. Jika pun ada yang mengajar, istilah kami berbagi informasi. Ketika berdiskusi, tidak ada larangan mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah, tapi coba didorong untuk mau aktif berbahasa Inggris. Tak perlu sungkan bila salah.
Dalam klub ini tiap peserta dibebaskan. Mau tahu kalimat atau kata apa, hayo cari bersama-sama (tentu dibantu rekan yang mahir) Mengapa? Karena rasa ingin tahu yang besar lebih memiliki dampak untuk daya ingat yang lebih baik. Yang penting di sini tujuan utama kita adalah miliu... miliu... sekali lagi miliu... untuk mau dan tidak malu berbahasa Inggris.
Untuk siswa, miliu berbahasa Inggris dibangkitkan setelah bertadarrus, membaca al Qur’an dan do’a sebelum memulai pelajaran, dengan cara membentuk komunitas yang setiap hari berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Siswa diminta untuk berbaris berhadapan, kemudian memulai bercakap-cakap yang dia bisa dalam bahasa Inggris. Morning Conversation ini bisa dikembangkan dengan memberikan panduan percakapan pendek, yang boleh dikembangkan siswa sendiri.
Demikianlah, terus berupaya mengkreasikan lingkungan berbahasa akan membangkitkan miliu untuk mau dan bisa berbahasa, baik dengan sendirinya ataupun ’terpaksa’.. Saya yakin, ini sangat membantu memotivasi rekan sejawat untuk kembali (mau) belajar bahasa Inggris, karena belajar-tidak belajar, bahasa tersebut harus dipakai di lingkungan ini sehingga ’motivasi’ pun muncul. Jangan heran nanti akan banyak bermunculan slogan di dinding kelas dan kantor. Percakapan antara guru dan murid pun terdukung maksimal karena miliu-nya telah ada.
Berbagai masalah memang akan timbul. Pertama pada diri guru, dan siswa sendiri. Apakah kurang semangat, tidak serius, masa bodoh, merasa tidak penting, dan lainnya. Kedua, lingkungan sekolah, perlu sarana media audio, visual dan lainnya.
Maka control di sini sangat penting. Semua pihak, guru dan murid bahkan wali murid harus bekerja sama agar ’kegiatan miliu pembangkitan motivasi’ ini menjadi unggulan dari berbagai kegiatan sekolah. Mudah-mudahan harapan sekolah tentang penggunaan bahasa Inggris sebagai media pembelajaran dapat diraih, menjadi kebanggaan masyarakat di mana sekolah ini berada, serta contoh bagi sekolah lain. TG
Muhammad Aysar Fahd, S.Ag
Peserta seminar
’Guru Kreatif Pendidikan Berkualitas’ oleh LPI Dompet Dhuafa
PPIB-Bogor
------------------------------------------------
Peserta seminar
’Guru Kreatif Pendidikan Berkualitas’ oleh LPI Dompet Dhuafa
PPIB-Bogor
------------------------------------------------
There is Mr. Is at My School
Sekolahku ini sudah sejak lama memberi warning pada para Guru, agar kita meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris . Globalisasi, AFTA dan perubahan hubungan antara negara kawasan menjadi penyebab utama. Guru Indonesia tak boleh hanya jadi penonton. Kita harus siap, termasuk dalam bahasa Inggris yang sudah dipelajari sejak kelas IV SD.
Alih-alih bisa bercakap, untuk mengerti orang bicara saja masih sering keliru pemahamannya. Alasannya klasik : “Udah lama nggak dipakai. Jadi lupa. Padahal emang dari dulu juga nggak pernah pinter.” Sekolahku konsekuen. Dihadirkanlah seorang Guru bahasa Inggris untuk siswa, sekaligus trainer untuk semua Guru. Namanya Pak Iskandar. Kami otomotis memanggilnya Mr. Is.
Sejak Mr. Is masuk, terasa ada yang berubah di sekolah. Teman-teman Guru jadi pada parno alias paranoid, takut ketemu dia. Pembawaannya yang humble justru membuat kami ‘ngeper’. Tentu saja, karena tak sepatah bahasa Indonesia pun keluar dari mulutnya. Kami jadi gelagepan.
Upaya sekolahku untuk membuat Guru terbiasa berlatih menggunakan bahasanya Pangeran Charles ini lumayan kuat. Awalnya dibuat English Area, yang ditempatkan di tempat Guru biasa ngumpul, di saung, di perpustakaan, dan di kantin. Eh, belakangan tempat-tempat itu tak seramai dulu. “Mendingan nggak minum di kantin daripada harus mikir apa kalimat bahasa Inggris untuk ‘bayar sendiri-sendiri," celoteh Guru lain.
Takut Ketemu Mr. Is
Setiap bertemu orang di sekolah, siapa pun akan disapa oleh Mr.Is , in English tentu saja. Kalau sekedar hai, how are you, kami masih bisa jawab dengan tak kalah ramah. Namun jika Mr. Is sudah menanyakan soal bagaimana persiapan fun cooking hari ini, atau mengingatkan untuk mengajak sharing siswa tentang hot news today, wah …… muncul bahasa-bahasa tarzan.
Kami juga akhirnya banyak melanggar perjanjian, dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menjawab pertanyaan Mr. Is. “Bener-bener kelu lidah ini. Keinginan sih ada. Tapi nggak keluar juga bahasa Inggris dari mulut,“ kata pak Dimas, Guru olah raga.
Sedangkan Bu Lis mengaku , meski sudah berjalan ‘minggir-minggir’ ke samping, maksud hati biar tidak terpergok Mr. Is, eh … tetap disapa juga. Lebih dalam lagi pertanyaannya: ‘You look in a hurry, may I help you?” tanya Mr. Is ramah. “No, thanks….”, sambil menggeleng kepala, “Wah, sejak kapan saya jadi sok imut begini?” aku Bu Lis.
Sekolah–sekolah lokal, seperti sekolahku, yang sedang gencar memperbaiki kualitas akan membuat terobosan yang cukup kreatif. Hasil yang dicapai sangat tergantung pada seberapa proses dan penguatan dilakukan secara terus menerus. Eporia ini bisa membangkitkan semangat, bisa pula menjadi penghambat, terutama bagi Guru yang tak mau pindah dari zona nyaman-nya.
Guru yang bisa memanfaatkan keberadaan fasilitator seperti Mr. Is, akan menjadikan sebagai sebuah peluang dan tantangan. Bukan kelemahan dan ancaman. Setiap sekolah tentu memilki kemajuan-kemajuan yang seharusnya direspon positif oleh semua stake holdernya.
Kuncinya adalah pada proses perubahan itu sendiri. Ada adagium yang mengatakan, seperti katak dibenamkan di air mendidih, katak akan lompat! Namun jika katak diletakkan di air dingin yang dijerang, hingga panas mendidih pun, katak tetap tinggal di dalamnya. Artinya, setiap perubahan, kemajuan, ide, usulan, aturan, atau apa pun namanya, sosialisasikan dengan perlahan, tekankan makna pentingnya. Katakan: “Ini baik untuk Anda, meski tak nyaman pada awalnya” - agar para Guru tak ‘berlompatan’. TG
Sekolahku ini sudah sejak lama memberi warning pada para Guru, agar kita meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris . Globalisasi, AFTA dan perubahan hubungan antara negara kawasan menjadi penyebab utama. Guru Indonesia tak boleh hanya jadi penonton. Kita harus siap, termasuk dalam bahasa Inggris yang sudah dipelajari sejak kelas IV SD.
Alih-alih bisa bercakap, untuk mengerti orang bicara saja masih sering keliru pemahamannya. Alasannya klasik : “Udah lama nggak dipakai. Jadi lupa. Padahal emang dari dulu juga nggak pernah pinter.” Sekolahku konsekuen. Dihadirkanlah seorang Guru bahasa Inggris untuk siswa, sekaligus trainer untuk semua Guru. Namanya Pak Iskandar. Kami otomotis memanggilnya Mr. Is.
Sejak Mr. Is masuk, terasa ada yang berubah di sekolah. Teman-teman Guru jadi pada parno alias paranoid, takut ketemu dia. Pembawaannya yang humble justru membuat kami ‘ngeper’. Tentu saja, karena tak sepatah bahasa Indonesia pun keluar dari mulutnya. Kami jadi gelagepan.
Upaya sekolahku untuk membuat Guru terbiasa berlatih menggunakan bahasanya Pangeran Charles ini lumayan kuat. Awalnya dibuat English Area, yang ditempatkan di tempat Guru biasa ngumpul, di saung, di perpustakaan, dan di kantin. Eh, belakangan tempat-tempat itu tak seramai dulu. “Mendingan nggak minum di kantin daripada harus mikir apa kalimat bahasa Inggris untuk ‘bayar sendiri-sendiri," celoteh Guru lain.
Takut Ketemu Mr. Is
Setiap bertemu orang di sekolah, siapa pun akan disapa oleh Mr.Is , in English tentu saja. Kalau sekedar hai, how are you, kami masih bisa jawab dengan tak kalah ramah. Namun jika Mr. Is sudah menanyakan soal bagaimana persiapan fun cooking hari ini, atau mengingatkan untuk mengajak sharing siswa tentang hot news today, wah …… muncul bahasa-bahasa tarzan.
Kami juga akhirnya banyak melanggar perjanjian, dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menjawab pertanyaan Mr. Is. “Bener-bener kelu lidah ini. Keinginan sih ada. Tapi nggak keluar juga bahasa Inggris dari mulut,“ kata pak Dimas, Guru olah raga.
Sedangkan Bu Lis mengaku , meski sudah berjalan ‘minggir-minggir’ ke samping, maksud hati biar tidak terpergok Mr. Is, eh … tetap disapa juga. Lebih dalam lagi pertanyaannya: ‘You look in a hurry, may I help you?” tanya Mr. Is ramah. “No, thanks….”, sambil menggeleng kepala, “Wah, sejak kapan saya jadi sok imut begini?” aku Bu Lis.
Sekolah–sekolah lokal, seperti sekolahku, yang sedang gencar memperbaiki kualitas akan membuat terobosan yang cukup kreatif. Hasil yang dicapai sangat tergantung pada seberapa proses dan penguatan dilakukan secara terus menerus. Eporia ini bisa membangkitkan semangat, bisa pula menjadi penghambat, terutama bagi Guru yang tak mau pindah dari zona nyaman-nya.
Guru yang bisa memanfaatkan keberadaan fasilitator seperti Mr. Is, akan menjadikan sebagai sebuah peluang dan tantangan. Bukan kelemahan dan ancaman. Setiap sekolah tentu memilki kemajuan-kemajuan yang seharusnya direspon positif oleh semua stake holdernya.
Kuncinya adalah pada proses perubahan itu sendiri. Ada adagium yang mengatakan, seperti katak dibenamkan di air mendidih, katak akan lompat! Namun jika katak diletakkan di air dingin yang dijerang, hingga panas mendidih pun, katak tetap tinggal di dalamnya. Artinya, setiap perubahan, kemajuan, ide, usulan, aturan, atau apa pun namanya, sosialisasikan dengan perlahan, tekankan makna pentingnya. Katakan: “Ini baik untuk Anda, meski tak nyaman pada awalnya” - agar para Guru tak ‘berlompatan’. TG
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.
September 24, 2008
Bila yang Kaya Menyerbu Negeri,
Dikemanakan yang Tak Berpunya?
Nirma Lestari, praktisi pendidikan, tinggal di Depok, Jawa Barat
Sebagai anaknya, saya tentu diminta untuk selalu ikut "bergabung" mengurusi manajemen kedua sekolah ini sehari-harinya meskipun saya masih berstatus mahasiswi. Banyak hal yang saya pelajari mengenai masalah-masalah pendidikan. Salah satunya mengenai pola pikir masyarakat terhadap sekolah yang dinamakan "Sekolah Negeri".
Sekolah Negeri pada dasarnya penyelenggaraannya diadakan oleh dan atas dana Pemerintah, mulai biaya pembangunan gedung, penyediaan fasilitas, belanja ATK, listrik, telefon, gaji guru dan karyawan yang semua adalah PNS. Di negara lain pun sekolah negeri adalah milik pemerintah dan semua dana berasal dari pemerintah. Sekolah swasta dibangun untuk membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak bangsa, membantu menyediakan daya tampung, membantu mengurangi Anggaran Pengeluaran/Belanja Pendidikan.
Karena dibiayai pemerintah, seharusnya (seperti negara maju lain), GRATIS/ BEBAS BIAYA bagi semua siswanya. Kalau pun kita harus membayar, tidaklah besar jumlahnya, sekedar membantu kesejahteraan guru atau pengembangan SDM dan siswa atau operasional seadanya.
Sekolah swasta, memerlukan banyak biaya yang datangnya dari pemilik sekolah. Tidak heran apabila untuk bisa menikmatinya, siswa harus membayar sejumlah biaya yang besarnya bervariasi tergantung keadaan sekolah. Sekolah swasta hadir untuk melayani masyarakat dari yang berpenghasilan rendah menengah sampai yang tinggi. Sekolah Negeri seharusnya ditujukan bagi siswa dari keluarga yang berpenghasilan KECIL, baik berintelegensia tinggi sampai yang biasa saja! Sementara bagi mereka yang berpenghasilan tinggi, diharapkan masuk ke sekolah-sekolah swasta!
TAPI APA YANG TERJADI?! Semakin hari semakin bisa kita lihat, dan diantara Anda pasti ada pula yang merasakan, bahwa saat ini justru sebagian besar masyarakat berpola pikir "NEGERI MINDED"..
Apa pula istilah itu? "NEGERI MINDED" adalah pola pikir yang terbentuk dalam benak masyarakat, baik kaya maupun miskin, yang menganggap bahwa sekolah negeri is the best, is everything, so proudly. Akan sangat membanggakan apabila anak-anak mereka bisa diterima di sekolah negeri.
Pola pikir semacam itu terasa kental sekali pada masyarakat yang akan memasuki jenjang pendidikan khususnya SLTP dan SMU! Bahkan yang di universitas sekalipun! Semua orang berbondong-bondong menyerbu kesana. Termasuk yang kaya sekalipun! Bangku yang seharusnya diisi semua siswa yang kurang mampu, ikut diperebutkan oleh mereka yang mampu secara finansial.
Keadaan lebih diperburuk dengan adanya KOLUSI dan NEPOTISME. Kami menemukan di lapangan, banyak sekolah negeri yang rela disogok jutaan rupiah agar bisa masuk (Rp 5-10 juta seperti kenyataan yang kami temukan di lapangan dengan SPP sekitar Rp 150.000,-)! Yang resmi dikenakan uang masuk sekitar Rp. 2-3 juta per siswa! Padahal uang Rp 2-10 juta itu bisa digunakan untuk bersekolah di swasta yang notabene fasilitasnya lebih lengkap.
Nah, kalau sekolah negeri penuh orang tua berpenghasilan tinggi, lalu akan pergi kemana mereka yang tak berpunya? Sekolah mana yang tersisa buat mereka? Swasta? Semurah-murahnya swasta lebih mahal daripada Negeri. Akankah kita sekalian tega membiarkan mereka sudah jatuh tertimpa tangga pula?
Saya ingat perkataan ibu,"Kalau orang tuanya tukang bakso, anaknya boro-boro jadi juragan bakso, yang ada jadi lebih buruk dari tukang bakso! Boro-boro mau lebih maju, sekolah saja tidak dapat tempat!" Alasan klasik, kebanyakan mengatakan bahwa mutu pendidikan sekolah negeri lebih baik. Siapa bilang? Lihatlah kenyataannya, sekolah swasta elit di Jakarta, seperti Pelita Harapan, Al Izhar, Santa Ursula, dll, lulusan mereka hampir semuanya bagus-bagus. Bahkan kalau NEM ujian UAN dipakai indikator, justru nilai tertinggi seringkali diraih mereka.
Saya imbau Anda semua yang berpenghasilan cukup untuk menyekolahkan anak Anda ke sekolah swasta. Berikanlah kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung untuk bisa ikut menikmati pendidikan. Dengan demikian Anda turut secara nyata membantu proses pencerdasan bangsa ini. ***
*)Tulisan ini dimuat pada Teachers Guide edisi No.06 Vol.2 Tahun 2008
Langganan:
Postingan (Atom)