Tampilkan postingan dengan label paradigma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paradigma. Tampilkan semua postingan

November 01, 2009

Paradigma : 7 KARAKTER SEKOLAH SUKSES


Apakah Anda Yakin Mampu
Membangun Iklim Sekolah yang Positif?
Sesungguhnya apa yang disebut dengan sekolah sukses? Salah satu ukurannya adalah pencapaian nilai yang tinggi saat kelulusan. Mereka mencapai kemampuan membaca, menulis, berhitung, memecahkan masalah, berpikir kreatif dan analitis, dan yang terpenting: mereka belajar untuk belajar!

Ukuran selanjutnya, adalah pencapaian yang melebihi target sekolah yang setara. Di AS, selama tahun 1980 dan 1990-an, banyak penelitian mengidentifikasi karakteristik sekolah sukses (atau efektif). Deskripsinya dapat Anda cermati sebagai berikut:

1. Kepemimpinan yang kuat. Sekolah sukses memiliki pemimpin yang menghargai pendidikan dan melihat diri sendiri sebagai pemimpin pendidikan, bukan sebagai manajer atau birokrat. Dia memantau kinerja setiap orang di sekolah, Guru-staf-murid dan dirinya sendiri. Pemimpin seperti ini memiliki visi sekolah sebagai lingkungan belajar dan senantiasa membuat langkah penting untuk kemajuan.

2. Pengharapan yang tinggi. Para Guru di sekolah sukses memiliki pengharapan yang tinggi pada siswa. Guru-guru ini sangat yakin, bahwa semua siswanya dapat belajar, dan mereka memberitahukan hal ini melalui pengharapan yang realistis dan tinggi.

3. Menekankan pada kemampuan dasar. Selain pencapaian akademis, tentu saja konsep diri dan nilai nilai kehidupan adalah kemampuan dasar yang harus dicapai oleh semua siswa.

4. Lingkungan sekolah yang teratur. Lingkungan yang menyenangkan dan aman sebagai tempat yang kondusif untuk mengekspresikan diri. Guru memiliki kedisiplinan mengajar.

5. Evaluasi proses belajar yang sistemik, sering dan ajeg. Proses belajar siswa selalu dipantau. Ketika muncul kesulitan, segera dicari jalan keluarnya.

6. Memiliki tujuan. Semua elemen sekolah merasa dituntun oleh visi kesuksesan yang jelas sebagai tujuan yang akan dicapai.

7. Pertemanan dan rasa memiliki komunitas. Semua pihak yang ada di sekolah merasakan gairah kesuksesan. Mereka berdedikasi menciptakan lingkungan bukan hanya terbatas pada kemajuan siswa, melainkan menciptakan pertumbuhan dan perkembangan profesionalisme pribadi.

Hasil penelitian ini memang dilakukan bukan di Indonesia. Namun kesuksesan dan efektifitas berlaku universal, mestinya poin di atas segera dapat dirinci menjadi program sekolah yang terkonsep. Coba lakukan rapat terbatas untuk menyesuaikan dengan iklim di sekolah Anda. Kemudian pampangkan secara jelas sebagai publisitas sekolah yang keren.

Kini Anda menjadi yakin, bahwa sekolah yang Anda kembangkan sedang membentuk karakter sekolah yang sukses. TG

Sumber:
Menjadi Seorang Guru,
Forrest W Parka, Indeks, edisi ke 7.


*)Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

April 29, 2009

Membangun Mentalitas Pembelajaran



Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Pakar dalam psikologi
perusahaan dan sumberdaya manusia.
(Ditayangkan di KOMPAS, 15 Maret 2008)

Meskipun pendidikan dan pembela­jaran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan bagai dua sisi dalam satu koin logam, kita sering terjebak pada paradigma yang tidak komplit. Kita sering mengkonotasikan tidak lancarnya pendidikan de­ngan gaji guru yang kurang, sekolah yang kurang dana, sekolah yang rubuh, ataupun kurikulum yang cenderung tidak berubah. Sementara proses pembelajarannya sering tertinggal dan tidak didalami.

Kita pasti bisa mengenali betapa banyaknya hambatan yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan lancar dan betapa kita sering menutup mata pada keluarannya. Kita sering tidak mempelajari ”kondisi lapangan” beserta kompleksitasnya sehingga kita tidak tahu apakah pembelajaran ”kena” atau tidak. Belum lagi, kesempatan ”benchmark” atau ”studi banding” sering tidak kita manfaatkan betul sebagai ”pelajaran”.

Kita pasti sadar betapa sering kita membuang muka, dan pura-pura tidak tahu mengenai kesalahan pemahaman, persepsi, ketidakjelasan dalam proses pembelajaran yang tidak kita benahi sampai tuntas. Bahkan, hal yang paling mudah dipersalahkan adalah programnya, pelatih, guru atau dosennya, atau sekalian saja lembaganya.

Ketika Peter Senge (1990) mengeluarkan bukunya Fifth Discipline banyak organisasi terhenyak dan menyadari betapa mereka hanya berkonsentrasi pada upaya mengajar tetapi tidak berfokus pada pembelajaran. Kita pun, di Negara tercinta ini juga terhenyak bila melihat bahwa pembelajaran yang kita hasilkan sesudah merdeka ini kalah oleh negara tetangga yang pernah mengimpor guru dan dosen dari Indonesia.

Kita sangat menyadari bahwa sebenarnya pembelajaran, yang tidak selamanya merupakan hasil dari sekolah dan universitas, banyak gagal ketika kita tahu bahwa mayoritas penduduk masih mau menelan nilai-nilai yang tidak produktif dan positif, serta “awareness” yang kurang terhadap kemanusiaan, lingkungan, moral yang pada akhirnya membawa perlambatan pembelajaran, kalau tidak sampai pada pembodohan.

Peter Senge berpendapat bahwa pembelajaran terjadi bila individu secara teratur diberi ruang untuk me­nemukan dan mengkreasikan realitas yang dihadapi atau dipelajarinya. Dengan demikian, individu dalam setiap tahapan menjadi manusia yang baru, bisa melakukan, memahami atau menghayati se­suatu yang sebelumnya belum dialaminya, bisa mempunyai persepsi yang berbeda terhadap realita yang dihadapinya, dan menjadi bagian dari terbentuknya generasi yang punya paradigma baru.

Untuk menjadikan sebuah organisasi atau bahkan negara pembelajar, kita memang perlu meninjau dan membangun kembali beberapa aspek sikap mental. Hal-hal ini perlu kita tekuni dan yakini dengan penuh kesabaran, sehingga menjadi sebuah kumpulan keyakinan dan obsesi kita.

Jangan Meraba-raba
Secara “back to basic” marilah kita tinjau sikap kita mengenai akurasi dan presisi. Kita perlu belajar untuk tidak asal cuap, ngawur, atau mengira-ngira data dan fakta yang sebenarnya bisa dicari dan dibuktikan. Sudah banyak contoh membuktikan bahwa ketidakakuratan dalam pencarian fakta menyebabkan negara rugi bermilyar-milyar US dollar. Dan, karena mayoritas masyarakat sudah terbiasa hidup dalam ketidakakuratan, menyukai “plesetan”, tidak ada pihak tertentu yang berobsesi untuk memperoleh data yang benar.

Eksperimen dan Riset Tak Selalu di Laboratorium
Dari seorang eksekutif yang berhasil, saya belajar bahwa dalam kegiatan sehari-harinya ia banyak memberi judul “riset” atau “eksperimen” terhadap kegiatan-kegiatan ”mencari tahunya”. Misalnya,”Saya sedang meriset, kamera mana yang paling baik di beli Canon atau Nikon” atau “Saya sedang melakukan eksperimen, apa efeknya kalau saya makan sawi saja selama seminggu”. Tanpa disadari, eksekutif ini melakukan pembelajaran yang sistematis dan meningkatkan kesadarannya dalam memperoleh pengetahuan baru.
Ini sangat berguna bagi kita yang memang selalu harus memperluas cakrawala, mendapat ide-ide baru melalui kesulitan dan kesempatan yang kita alami.

Belajar di Mana Saja, Pada Siapa Saja
Dalam budaya paternalistik yang kita pegang, paradigma bahwa otoritas adalah yang paling tahu, paling bijak dan paling menguasai masalah, tentunya harus kita hapus cepat-cepat, karena menghambat pembelajaran. Sudah waktunya kita mengerahkan siapa saja untuk belajar dari mana saja dan siapa saja, serta menguakkan, mengadopsi, menganalisa, menemukan persepsi dari sisi lain ”best practise” dalam implementasi, penyelesaian pekerjaan, sikap kerja.

Best practice yang sangat bisa kita tiru adalah banyak organisasi yang kini komit untuk menerapkan sistem ’lesson learnt’, di mana kesalahan dan perbaikan sistem akan disebarluaskan ke seluruh organisasi dan diperlakukan sebagai studi kasus, sehingga setiap individu yang tidak mengalaminya akan belajar dari kejadian ini juga. Beberapa organisasi menyebutkan ke­giatan ini sebagai ”Santayana Review” yang berasal dari ahli filsafat George Santayana yang pernah menyatakan: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”

Kita juga bisa belajar kembali, bagaimana cara kita mengajukan pertanyaan dalam mengambil keputusan, menggali pendapat dan masukan orang lain, apakah bawahan, atasan, para ahli bahkan para remaja. Pengetahuan sudah bukan milik elite tertentu lagi. Kita bodoh kalau menghambat tersebarnya segala macam pengetahuan di organisasi kita. Tentunya cara yang ”friendly” untuk menyebarkannya perlu dicari dan disesuaikan dengan situasi massanya.

Bagaimana dengan Anda para Guru? Tidak cukup kan kalau hanya bermo­dal bisa mengajar dan membuat pe­rencanaan serta lembar kerja siswa? Perlu membuka mata hati agar jati diri kita sebagai Guru makin mumpuni. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan SMS ke 0856 8040 385.

SD TUMBUH - Yogya Educational Spirit









Menempati bangunan lawas yang artistik, sekolah inklusi di Yogyakarta ini tampak tampil beda. Keanggunan bangunan tua yang dimanfaatkan secara cerdas justru menambah kekhasan sekolah yang didirikan oleh KPH H. Wironegoro, M.Sc, putra mantu Sri Sultan HB X. Teachers Guide berkesempatan mengunjungi sekolah yang dikepalai oleh Elga Andriana, S.Psi, yang merasa ‘sendirian’ di tengah kemajuan, perubahan, dan tuntutan masa depan.

Apa diferensiasi sekolah ini?
Kami percaya, sekolah itu dunia kecilnya masyarakat, cermin masyarakat sebenarnya, yang beragam dari sisi apa pun. Jadi kami mengibarkan diri sebagai sekolah inklusi. Bukan hanya untuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), tapi secara holistik dari berbagai perbedaan: agama, sosial, kultur, ras, dan sebagainya. Inklusi kami ke depankan, dengan mengusung kultur komunikasi yang enak, setara, dan tak banyak birokrasi. Itu inti dari inklusi, yang menjadi pembeda SD Tumbuh.

Konon sekolah ini kental dengan gaya LSM yang militan. Adakah pengaruhnya bagi pengembangan sekolah ini di bawah kepemimpinan Anda?Saya banyak nyemplung di masalah gender dan hak-hak anak, di PLAN (LSM yang bergerak di bidang pembuatan mainan dengan barang bekas) dan di PAUD. Kami kuat sekali menyuarakan hak anak.
Enam tahun awal ini, tindakan afirmatif kami lakukan dengan mencari kemajemukan siswa, utamanya dari sisi, ras, etnis, dan agama Yang beragama Hindu dan Budha kan jarang, justru kami prioritaskan. Juga yang berbeda etnis.

Yang masih susah tentu yang berbeda ekonominya. Di sini ada siswa yang tidak membayar (gratis), bayar seratus lima puluh ribu, hingga empat ratus ribu rupiah. Secara umum, ancer-ancernya (kira-kira) Rp. 300 ribu lah untuk SPP. Ada juga adopting parent, untuk membantu siswa yang susah. Orang tua nggak merasa perbedaan ini sebagai kendala.

Kami mengkomunikasikan hal ini saat wawancara calon orangtua murid. Di situ filosofi orang tua sudah tergambar. Ketika diberitahu bahwa jika di kelas anaknya nanti ada siswa yang memerlukan subsidi, bagaimana? Apa ibu bisa bantu? Jika jawabannya: ”Saya yang capek kerja koq anak orang lain yang sekolah”, itu cukup menguatkan kami untuk menolaknya. Ada juga mencoba mau memberi uang pendaftaran lebih besar untuk menyuap saya, lha malah anaknya nggak saya terima.

Apa obsesi orangtua menyekolahkan anak ke SD Tumbuh?
Mencari sekolah yang menyenangkan bagi anaknya. Orangtua sangat paham, sekolah yang konvensional sudah ketinggalan. Hanya saja di Yogya ini pilihan tak banyak.

Active learning dan inklusi menjadi sesuatu yang kami tawarkan. Di awal buka sekolah, sebenarnya saya hanya mentargetkan 10 siswa saja. Eh, yang masuk 40 anak. Padahal kapasitas hanya 22 anak Sudah banyak koq orang tua di Yogyakarta yang paham dengan kebutuh­an ini. Lain pasti dengan di Jakarta ya. (Elga sempat sekolah di Australia untuk memperdalam ilmu kependidikan)
Bagaimana dengan Guru?
Guru kami lulusan Sanata Dharma, UGM, dan UNY. Kami memilih yang open mind. Meski ada juga yang macet di kreatifitas. Klik-nya ndak semudah it. Kerjasama dengan KPH Wironegoro sangat nyaman, utamanya masalah substansi dan support, terutama pada budaya.

Dalam inklusi ada kultur. Kami menyebutnya Yogya Education School. Sekolah ini berpijak juga pada tradisi. Karawitan, tari, batik, wayang, dan nembang serta ‘green school’ kini di-intra­kurikulerkan.

Tak ada perbenturan etnis?
Nggak tuh. Kekayaan etnis tetap kita apresiasi dalam ba­nyak hal, termasuk disampaikan di muka kelas. Inilah spirit Yogyakarta yang memang kami munculkan. Dalam diskusi masa depan bersama Pak Wironegoro, kami ingin juga membuka sekolah yang sama di tempat lain, tapi dengan mengangkat spirit lokasi, misal Solo Educational Spirit, begitu juga di Semarang atau Bali. Tapi kini kami belum berani membuka franchise. Ini mau kita kembangkan dulu.

Spirit menjemput masa depan? Juga sistem penyam­paian materi?
Meski kuyup dengan budaya dan tradisi, Guru berbahasa Inggris agar anak tetap connect de­ngan dunia luar. Siap jadi warga dunia, bukan hanya jadi warga Yogya. Ya ini harus dikawinkan.

Sementara pencapaian anak bisa dilihat dari praktek dan tertulis. Ujian dengan soal dari Diknas ha­nya kami lakukan pada akhir semester dua, untuk kenaikan kelas. Anak-anak gampang aja tuh ngerjain. Yang susah ya yang ABK. Sebisa mereka saja.

Nggak ada acara nggak naik kelas. Kalau inputnya beragam, nggak bisa dong keluar dari satu pintu dan satu tolok ukur. Tanggung jawab Guru untuk mencermati kekurangan anak.

Kelas 1-2, Guru kelas-nya ada 2 orang. Kelas 3 – 6, ada guru mata pelajaran, tapi tetap ada guru kelas. Yang nggak sanggup dirangkap kan guru matematika, kesenian, olah raga, dan Bahasa Jawa.

Ingin apa ke depan?
Saya pengin sekolah semua inklusi. Kehidup­an nyata kan begitu. Mbok ya anak disiapin. Biar melihat keragaman itu dengan nyaman.

Di K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) di sini, saya merasa seperti allien. Saya masih belum tahu cara meleburkan diri. Sebab, 180 derajat berbeda. Suara aya nggak pernah didengar …… Mereka merasa senior dan merasa sekolah favo­rit. Semua pake seragam pula. Saya sendiri yang nggak pake.

Saya pengin punya teman, punya organisasi yang memiliki semangat yang sama. Yang kalau sedang mengikuti seminar, ya mestinya mendengarkan, menyimak. Yang ada mereka ngobrol sendiri. Lha… dari masalah mendengarkan saja saya sudah merasa nggak cocok sama mereka. Sekedar berkenalan saja dulu.

Sekolah ini mulai beroperasi 2005. Ada respon positif yang mengatakan bahwa SD Tumbuh cukup berani, dan inovatif. Yang negatifnya ya tentang inklusi itu. Masih ada orang yang mengatakan: “Jangan sekolah di Tumbuh, emang anakmu sakit apa? Kurikulumnya apa?” Value juga dipertanyakan, karena ada anak keturunan Belanda.

Ada pula yang protes, katanya sejak sekolah di SD Tumbuh, anaknya jadi nggak disiplin. Alhamdulillah, hal ini di jawab oleh orang tua lain yang mengatakan bahwa: ‘Urusan disiplin itu urusan orang tua dhewe lah…gak biso opo-opo diserahke sekolah’ hii..hii… ternyata yang disebut disiplin ala orang tua ini sebatas baju dimasukkan rok, kaos kaki, bersepatu……..Ooooo kalau yang itu mungkin nggak terlalu esensial ya. Kapan lagi kita memberi ruang pada anak. Peneguhan sikap akan bisa dilakukan dengan dialog.

Teachers Guide sempat pula meninjau kegiatan PLAN, yang melakukan pelatihan rutin aplikasi 3R (reduce, reuse,recycle). Segala barang bekas bisa jadi mainan. Spirit Yogya tak pernah padam! TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.




April 28, 2009

Pipip Rosida: SDN SUKADAMAI 3 yang Suka Damai


TRANSFORMASI MENUJU SEKOLAH UNGGULAN

Perjalanan pengalaman Drs. PIPIP ROSIDA EK, Kepala
Sekolah SDN Sukadamai 3 Budi Agung, Bogor, peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi 2007 tingkat nasional, mengubah sekolah inpres yang sederhana menjadi sekolah unggulan (RSBI) yang berhasil dalam berbagai aspek berkat dukungan masyarakat.




Kilas Jaman
Sekolah Sukadamai 3 berdiri tahun 1984. Awalnya ada 3 lokal. Beratap asbes, kiri kanan asbes, lantai semen. Pada 13 mei 1997, Pipip diangkat jadi kepala sekolah.

”Sekolah ini ada di lingkungan komplek perumahan, tapi tidak ada yang berminat sekolah di sini. Saya kaji dan uji secara teliti, bersilaturahmi dengan RT/RW dan tokoh masyarakat. Kini murid sudah 1.227 orang, dengan area sekolah bertambah luas , mampu membeli tanah, dan membangun secara bertahap.”

Mengubah antipati jadi simpati, mudah-mudahan (jadi) empati
”Pertama sekali, Guru saya minta merenung. Mau maju? Apa yang harus dilakukan? Tak perlu tata tertib. Yang penting komitmen, yang diawali dengan mengisi lembar isian. Mau masuk (sekolah) jam berapa, mau pulang jam berapa, tentukan sendiri dan tandatangani sendiri. Ketika kesiangan, saya tinggal menunjukkan kertas komitmen tadi. Akhirnya, saya dapatkan Guru yang penuh komitmen.

Guru dari Diknas dan hasil rekruitmen sendiri saling bahu membahu.
Guru yang direkrut sendiri, berdasarkan kebutuhan aktual, yakni bisa bahasa Inggris, komputer, dan harus bisa mengajar. Tes nya bukan saja akademis. Mereka semua mencintai dunia pendidikan. Pekerjaan harus dicintai! Dan bekerja dengan hati.”

Dari mana perubahan itu?
”Saya ibaratkan sekolah seperti perahu. Di perahu itu ada kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, komite. Ketika ada yang bertanya: ’ pak mau kemana?, saya jawab ke Kalimantan. Tapi orang lain bertanya ke guru lain, jawabnya ke Sumatera. Lalu tanya ke siswa, jawabnya berbeda. maka tak akan sampai tujuan sekolah ini. Semua harus sama, menyamakan persepsi. Saya tidak sendiri, tapi bersama dengan guru dan masyarakat’.

Hambatan, tantangan, kendala, ancaman, gangguan sudah pasti ada. Semua diselesaikan melalui kejelasan visi, program yang jelas, realistis, yang tidak di awang-awang, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saya menyentuh hati guru, sesuatu yang tidak terbaca. Kalau sakit hati obatnya hati.
Guru tidak perlu berkeluh kesah, karena rizki Allah yang atur.
Guru harus tahu peranan, tahu tupoksi (tugas pokok dan fungsi) nya. Mereka harus tahu, semua stake holder memiliki keinginan bersama.

Setiap hambatan pasti ada penyelesaian. Masalah itu timbul karena harapan dan kenyataan tidak bersahabat. Sahabatkan saja dulu. Kalau jauh, ya dekatkan dulu. Skala prioritas menentukan program-program, me­lalui kajian dan pengujian secara teliti.

Dulu, Guru sedikit-sedikit ngobrol tak berguna. Kini, bahan yang diobrolkan lebih profesional. Setiap tahun saya dievaluasi. Saya minta 10 sikap kepala sekolah yang tidak disenangi guru, lengkap dengan 10 sikap yang disenangi. Saya jadi kepala sekolah juga di SK kan oleh orang lain. Paling tidak, sebagai orangtua kita melayani anak, dengan senyum dan kata-kata positif. Hukuman tidak perlu dengan fisik, atau intimidasi. Intimidasi hasilnya akan intimidasi lagi.

Masa orientasi (MOS) bukan hanya untuk siswa, namun juga orang tua. Selama dua hari, wajib bagi suami istri hadir, agar paham program sekolah dan paham kurikulum. Di sini banyak hidden curriculum, sehingga langkah sekolah selalu dapat dipahami orang tua. Kalau ada yang ingin tahu sekolah ini, silakan diskusi dengan orang tua. Boleh tanya apa saja pada mereka. ”

Damai pada Guru
”Jika ada mangkir atau berbuat tidak sesuai dengan keinginan kelompok, maka yang menghakimi bukan pimpinan atau kelompok, tapi dirinya sendiri, karena tidak ada teman yang mengajak ngobrol. Ini dinamika sosial. Guru yang sudah PNS, saya sebut Profesional, Netral, Sejahtera. Jadi harus memberi teladan pada yang lain

Setiap jum’at ada diskusi kelompok. Setiap Guru guru diberi penghargaan untuk memimpin diskusi. Bukan penghargaan materi, karena penghargaan materi akan menghancurkan visi.”

Kunci sebagai kepala sekolah: terbuka, dan jujur
” TERBUKA, bukan saja soal keuangan tapi juga saat menyusun program. Apa yang diinginkan, aturannya bagaimana. Kalau tidak dilibatkan, Guru menjadi tak perduli.
JUJUR, dalam bersikap, bertindak . Kalau saya dapat hadiah, saya minta dibagi secara adil, termasuk untuk saya. Jadi jangan khawatir, rezeki Allah yang mengatur...

Tidak ada Guru kerja di luar, mi­salnya memberi les di luar sekolah. Kalau itu permintaan orangtua dan komitmen disepakati, dan diketahui oleh kepala sekolah, boleh. masih bisa lah. Tapi kalau guru menyuruh harus les, itu yang tidak boleh. Tidak boleh ada guru yang membohong pada masalah ini. Kalau kita terbuka, guru pun terbuka. Di sini tidak ada yang ngeriung membicarakan yang tidak perlu. Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Tanpa reward (hadiah), jalan terus. Jangan melihat ke atas, lihat ke bawah saja. Kita bersyukur saja terus.”
***

Bermain Makna
Pipip suka bermain kata. Dibuatnya akronim dari kata SDN (Sekolah Dasar Negeri) SUKADAMAI TIGA, dengan mengartikan masing-masing huruf:
S - sekolah letaknya strategis
D - dekat tapi mengapa muridnya tidak ada
N - nerima siswa sesuai potensiya
S - school based management, atau sekolah balik magrib (plesetannya-red), atau sekolah boga masyarakat. sebab orangtua murid banyak yang bekerja di Jakarta, kami harus menemui para orangtua dan tokoh masyarakat selepas magrib, untuk berdialog. Jadilah saya pulang jauah setelah maghrib. Lambat laun ada yang nyumbang satu sak semen, dan material lain. Makin banyak orang tua yakin setelah paham program sekolah.

Kalau sekolah boga masyarakat, kita cari apa harapan masyarakat. Sekolah ini punya masyarakat, bukan punya kepala sekolah. Kapan pun saya pergi, sekolah harus jalan terus. Kalau menyusun program, saya melibatkan stakeholder. Kalau sekolah lain, cukup para pengurus komite, disini tidak bisa. point detailnya dibicarakan.

U - utamakan layanan masyarakat. Guru mengutamakan layanan siswa, kepala sekolah mengutamakan layanan masyarakat luas. Masyarakat maapun boleh masuk, tidak ada yang ditolak, kecuali tidak ada tempat. Masyarakat yang majemuk dapat kami satukan. Ada kelompok pengamat, kritikus, pemikir, pekerja. Sekolah ini besar karena kritikan. Oranglain tidak akan mengkritik kalau kita tidak punya kesalahan.

K- kurikulum KTSP, berbasis kompetensi. Guru dilatihkan KTSP, agar paham, mana separated subject curriculum (kelas 4-6); mana integrated curriculum (kelas 1-3)...

Ini kami jelaskan pada orang tua sepenuhnya. Untuk integrated curriculum, yang dibentuk adalah karakter dan budaya. Kejujuran menjadi kunci utama. Kami kaji multiple intelegence.

A- active learning, sebagai roh dan jiwanya. Siswa sebagai subjek, bukan objek. Nama boleh apa saja, mau pakem, atau paikem gembrot, CBSA, tapi roh dan jiwanya harus active learning. Secara alamiah, anak merasa bosan kalau Guru membosankan.

D- democratic teaching, Di sini anak dilibatkan untuk menyusun tata tertib. Antara guru dan kepala sekolah tidak ada sekat batas, baju kita saja sama.

A- aktif, kreatif, inovatif, agar sekolah jadi produktif.

M- mengembangkan IQ, EQ, SQ –otak, otot, dan watak. Kalau ingin senang, kuasai seni. Kalau ingin menang, kuasai iptek. Kalau ingin tenang, kuasai ilmu agama. Dulu otot besar bisa jadi jagoan. Sekarang otot kecil harus mengalahkan, dengan kekuatan otak.

A- assurance quality, jaminan mutu jelas. Kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM) harus dicapai. Yang di bawah KKM, jalani remedial, yang diatas kasih pengayaan. Tapi kami tidak ingin melabelkan ini dalam marketing. Tidak ada pelabelan itu di sekolah kami. Saya tidak mau label-label itu dijual, sebab itu membohongi, biarkan orang tahu dari proses-prosesnya. Buat apa menjual kucing di dalam karung. Termasuk dalam penilaian guru, yang menghakimi guru bukan saya, tapi masyarakat. Assurance quality nya adalah masyarakat.

I- inovatif dalam pengembangan program. Jadi jangan tersandung batu yang sama. Invoasi ! Ikuti perkembangan dunia. Kini bukan IQ, tapi EQ yang menentukan kehidupan masyarakat. Dulu kami satu-satunya sekolah negeri yang tidak punya ranking. Karena yang ranking 1 jadi sombong, yang di bawah jadi kasihan.

T- tata tertib dijadikan pedoman warga sekolah (tidak tertulis). Saya suntikkan ke hati, bukan saya tempel di dinding. Di sini guru mau pulang silakan, mau kerja silakan. Saya mau memberi pekerjaan kepada guru yang sibuk. Sebab orang sibuk itu punya prioritas.

I- informasi terbagi rata. Ke semua guru, orangtua murid, atau masyarakat, semua tahu apa yang menjadi program sekolah, dan apa yang sudah dan akan dilaksanakan.

G- gairah dalam melaksanakan tugas
A- action (pelaksanaan) saat melaksanakan tugas harus disiplin.

Itulah Pipip, kepala sekolah SDN Sukadamai 3, Bogor. Suka damai, suka membuat gagasan-gagasan dalam kata-kata yang penuh tenaga. Share (berbagai rasa), care (peduli), dan fair (adil) didengungkan untuk meng­ubah diri sendiri. Hingga akhir perjumpaan, Pipip masih memberi kata bertuah yang bersayap:

”Menghapuskan yang miskin tidak akan habis, sebab yang miskin itu akibat adanya orangkaya. Yang kaya makin banyak dan yang miskin juga akan bertambah.

Berantas kebodohan, tidak akan habis, sebab yang pintar akan bertambah. Sesungguhnya tdak ada yang bodoh dan pintar, yang kaya dan miskin. Yang ada itu yang rajin dan malas. Yag rajin akan pintar dan kaya. Yang malas akan bodoh dan miskin. Setiap individu itu unik, setiap orang punya kelemahan dan kelebihan”.

Perjalanan pengalaman Drs. PIPIP ROSIDA EK, Kepala Sekolah SDN Sukadamai 3 Budi Agung, Bogor, peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi 2007 tingkat nasional, mengubah sekolah inpres yang sederhana menjadi sekolah unggulan (RSBI) yang berhasil dalam berbagai aspek berkat dukungan masyarakat. TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Prof. Gumilar R. Somantri : Minta Gaji Bagus, tapi Horizon Sempit


Prof. Dr. der.Soz.Gumilar Rusliwa Somantri
Rektor Universitas Indonesia


Rektor yang tampil dandy dan gemar bermusik ini –gabung dalam the Professor Band-- menerima Teachers Guide di ruang kerjanya. Beliau menjelaskan peran pendidikan dasar menengah, dan respon perguruan tinggi atas mutu pendidikan di tingkat menengah.

UI kini masuk rangking ke 5 bersama dengan MUS, Mahidol, University of Philippine, University of Malaya, sebagai perguruan tinggi yang punya reputasi tinggi”. Kata Pak Rektor dengan bangga. Namun ketika ditanya pendapatnya tentang kualitas pendidikan di tingkat bawahnya, pak Rektor menghela nafas.........hhhmmm.

Pak Rektor prihatin melihat lulusan SMA, yang belum merata, meski dalam empat tahun terakhir ini relatif membaik. Ini kerja keras pemerintah melakukan pemerataan. Kualitas terbaik masih datang dari kota-kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung dan Surabaya. Upaya untuk meratakan kualitas di SMA, merupakan hal penting.

” Kunci kualitas ini pada guru. (Nah lo.....) bukan hanya sertifikasi, yang sifatnya administratif, tetapi substansi mutu guru. Profesionalisme selalu menyangkut 3 hal: etik, skill, dan renumerasi yang baik. (Setujuuu.....)

Empat tahun terakhir ini para guru relatif banyak diperhatikan. Tapi kita harus mengubah mind-set. Jangan hanya minta gaji bagus, tapi tak mau meningkatkan diri. Jangan kita berlaku curang, tidak adil, menjadikan negara dan sekolah sebagai tunggangan. Kita mentolerir kemalasan, tidak mau membaca, tidak memperluas horizon, memberikan anak-anak ala kadarnya. Kan celaka! (iya pak...persisnya begitu dah)

Kalau guru segitu-gitu saja kemampuannya, dan tidak mampu memperbaiki diri, ini dosa besar! Guru yang berhorizon luas, banyak baca, bijak, akan mampu memotivasi anak dan melahirkan anak-anak hebat di masa datang. Kalau generasi/bangsa ini tidak bisa melakukan apa-apa di masa datang, yang salah itu para guru. (hiyyyaaa......kena lagi)

Sebelum masuk mengajar, Guru sudah harus baca koran. Pikirannya terbuka, perspektif luas. Menyampaikan bahwa kita ini bagian dari dunia yang besar. Bicara problem perubahan iklim, krisis ekonomi, kemiskinan, penduduk makin banyak, akan terjadi apa akibatnya bagi bumi ini. Coba lihat, sawah-sawah dipakai rumah. Lihat gedung disambung rumah-rumah gubuk. Orang di jalan naik motor ngebut, tidak ada sopan santun, inikah bangsa kita, inikah peradaban bangsa kita? Banyak hal yang perlu dibangkitkan dari siswa.


uru-guru idealis dan profesional, jumlahnya harus diperbanyak. Pendidikan kita sudah di jalur yang tepat, tapi perlu akselerasi (dipercepat) lagi dalam peningkatan dan pemerataan kualitas dan internasionalisasi.


Profesionalisme itu (skill, etik, renumerasi) tidak hanya sekedar untuk profesionalisme saja, atau agar kualitas pengajaran makin bagus. Profesionalisme guru juga untuk membangun citra, persepsi, juga gengsi. Sekarang ini profesi guru (masih dianggap) pekerjaan kelas rendah, jauh dibanding profesi insinyur atau dokter. Jarang orang bangga menjadi Guru (hiik.... betul pak)

Sejarah membuktikan, bangsa hebat saat ini, karena pendidikannya baik, dan di dalamnya ada guru-guru yang mempunyai profesionalisme tinggi, kesadaran, etos kerja, dan idealisme untuk mengembangkan diri.

Selain kualitas guru, proses mengajar di SMA akan baik kalau infrastruktur memadai. Ruang kelas bagus , ada penggunaan IT – infocus, pengenalan IT, wifi, teleconference. Kurikulum dibangun dengan baik. Saat ini, banyak yang terlalu formal, bersifat memaksakan, dan seringkali kita juga salah menafsirkan substansi kurikulum.


Juga penting, metoda pengajaran, atau cara penyampaian. Metoda KBK itu baik –problem base learning- tapi pendalaman implementasinya banyak yang hanya basa-basi.


Infrastruktur penunjang agar proses pendidikan baik, perlu disediakan mushola yang memadai, lapangan olahraga memadai, ruang terbuka, library yang bagus, ruang bagi siswa untuk melakukan aktifitas seni dan berorganisasi, juga fasilitas untuk pengajar. Sehingga dalam proses belajar-mengajar soft skill juga ditanamkan di samping hard skill. Sehingga kalau masuk ke universitas, mereka tidak kaget.’

Kami senang kalau kualitas pendidikan SMA dari Sabang sampai Merauke merata. Siswa terbaik dari tiap daerah bisa terjaring, sehingga tujuan kami membuat UI jadi mozaik Indonesia dapat tercapai tanpa sulit mempertahankan kualitas input yang dapat mempengaruhi proses belajar-mengajar di UI.

Republik ini punya jumlah anak-anak berbakat yang luar biasa. Kalau mereka dibimbing oleh tangan yang tepat –the best teachers- di sekolah yang bagus- akan luar biasa. Kita masuk di era Abad 21, yang disebut the Gobal War of Talent. Hanya bangsa-bangsa yang mampu mengembangkan bakat dan peradabannya, yang akan survive…

Sebaiknya, kita mulai pikirkan sebuah sistem pendidikan yang tidak gebyah-uyah (anggapan yang seragam-red)seperti sekarang. Sejak TK diasumsikan semua akan masuk perguruan tinggi, bahkan akan jadi doktor. Apa jadinya? Jumlah doktor kurang dari 10.000 untuk jumlah 250 juta orang, jauh lebih sedikit dari Israel (1 doktor tiap 50 orang) atau Singapura (Ya ampuuunnn...)

Sejak SD, siswa sudah mulai diarahkan. Sehingga tidak semua masuk SMP umum, sebagian SMP kejuruan, seperti dulu. Tapi lebih baik, laboratorium bagus, dan ada kerjasama dengan industri penyerap tenaga kerja. Nilai entrepreneurial sejak dini ditanamkan, sehigga tidak membeludak ramai-ramai masuk SMA dan akhirnya ramai-ramai menganggur. Pendidikan kejuruan diperbanyak tapi dengan melihat kebutuhan bangsa yang sedang kompetitif menopang segala bidang yang sedang kita kembangkan. Toh dalam kehidupan sehari-hari tidak semua jadi direktur. Jadi pekerja pun harus berskill bagus.

Di Jerman, sejak kelas 3 SD, sudah diatur yang punya kecerdasan praktikal-nya lebih tinggi (masuk Realschoole). Yang kecerdasan numerik tinggi masuk ke sekolah umum, ke Gymnasium lalu akhirnya ke perguruan tinggi. Bukan berarti yang masuk kejuruan tidak bisa masuk ke perguruan tinggi. Tapi diberi koridor, yaitu perguruan tinggi politeknik.

Potensi kita luar biasa. Tidak kalah, dan kita bisa. Sejahtera atau tidak generasi yang akan datang, tergantung pada kita membina mempersiapkan generasi muda, dipilah bakat dan minatnya, sehingga dia lulus dalam bidang yang disukainya, dan sesuai dengan kebutuhan bangsa. Ini berarti terserap langsung, sehingga bangsa ini diisi oleh orang orang yang berkualitas. Pekerja yang berkualitas, sampai direktur berkualitas. Kita semua mengejar jadi direktur, sehingga jadi direktur tidak berkualitas. Dengan penataan ini, di berbagai lapisan, semuanya berkualitas, dan memberikan sumbangan menopang bangsa sesuai dengan kemampuannya. Saat ini, kebanyakan pengambil keputusan pintar-pintar, tapi di bawahnya payah... (yesss......kena juga birokrat kita)

Semua sistem pendidikan ini approach-nya harus holistik. Karena yang harus kita bangun adalah kultur, mind set, dan etos dari bangsa ini."

Hmmm.... mantap ya kritik dan saran Pak Rektor. Coba semua ini bisa berpengaruh pada sistem pendidikan kita, apa nggak hebat Indonesia tercinta ini. Ayo lah para Guru, apa yang bisa kita kerjakan dulu. Teriak minta gaji, meperluas horizon, memprotes sistem, demo pada birokrasi, baca koran, mengubah sistem, perbaikan kurikulum..... atau apa? Yang mana dulu? Atau mau ketemu langsung dengan Pak Rektor Gumilar Rusliwa Somantri, yang gagah, keren, dan berhorizon amat luas. Salam dari kami pak rektor. Terima kasih segala kritiknya. Jadi input dan feed back yang mak nyuss.....TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Ahmad Furqon MPd. : "Tetap Ingin Jadi Guru SD"



Jika Anda ingin mendorong perubahan di sekolah, tapi berada di dalam situasi yang tidak mendukung, apakah Anda akan berhenti melangkah? Atau maju terus, meski tak ada rekan guru yang mendukung? Mungkinkah Anda tetap melangkah dan berfikir positif, sementara dunia di luar bersikap tak peduli, menganggap Anda ’orang aneh’, atau bahkan antipati?

Bagaimana menjaga motivasi mengajar tetap tinggi? Apa yang bisa me¬nyemangati kita untuk terus maju, tidak berhenti atau menyerah? Beberapa pakar telah memberikan kriteria guru sejati yang pantang menyerah mendaki. H.Ahmad Furqon, SPd. M.Pd, guru kelas V di Sekolah Dasar Negeri Polisi 4, di Bogor, Jawa Barat, adalah salah satu Guru yang tak menyerah.

Meski banyak tawaran menggiurkan dari berbagai pihak, Ahmad Furqon bertekad untuk tetap berkiprah di pendidikan dasar. ”Pendidikan dasar itu begitu penting,” alasannya.

Untuk menjadi guru profesional, Furqon menunjukkan potret perjalanan dirinya. Di jalur akademik, ia bersekolah lagi untuk meraih strata 2 magister manajemen pendidikan. Di jalur kompetensi sebagai pendidik, ia bergabung dan berkontribusi dengan berbagai aktifitas kependidikan kota Bogor. Untuk meningkatkan kesejahteraan, ia menambah pendapatan dengan menjadi penulis buku pelajaran sekaligus menjadi editor, dan mengajar di perguruan tinggi swasta.

Untuk mewujudkan gagasannya mengajar, ia tak segan merogoh kocek sendiri untuk melengkapi sarana di kelasnya. Sebagai contoh, di kelas V tempatnya mengabdi, kini ada sebuah teve berikut berbagai cakram program sains. Ruangan kelas pun diubahnya menjadi bentuk melingkar O, meja direndahkan dengan memotong kakinya. Dengan susunan begini, lebih banyak murid yang bisa duduk berhadap-hadapan, ruangan kelas pun (rasa-rasanya) menjadi lebih luas.

Inilah mutiara kata yang keluar dari hatinya yang teguh:

”Perubahan itu mesti datang dari Guru itu sendiri. Menjadi guru dan mendidik adalah dunia saya. Bagaimanapun, saya akan menjalani dan mencintai. Apapun kondisinya.

Saya pernah mengajar di SD Wangunsari, Pamoyanan, Bogor, di kaki gunung. Kondisinya sangat minim, bahkan jarang guru yang mau mengajar di sana. Dindingnya dari kayu, bolong-bolong. Kalau kita mengajar, orang bisa menonton dari lubang itu. Ketika jam masuk belajar, guru belum datang, saya memimpin upacara sendiri.

Guru umumnya tidak punya keingin¬an untuk menjadi lebih baik. Kalau saya datang pagi, rekan guru bilang ”Pak kenapa datang pagi-pagi.?”. Kita sebagai guru sering terjebak rutinitas. Ada guru kelas VI mengajarkan peta dunia, tapi dia sendiri tidak tahu di mana letak Warung Jambu di kota Bogor. Di mana pun saya mengajar, selalu sepenuh hati... Kalau anak tak masuk 3 hari, saya kunjungi.

Melihat kondisi sekolah SD Wangungsari, bersama kepala sekolah kami mencari dana bantuan. Dapatlah Rp. 60 juta, dan dari situ dapat membangun 2 lokal. Kemudian saya dimutasi ke tempat sekarang, SD Polisi IV. Saya minta, kalau saya dipindahkan, harus dicarikan 2 orang pengganti saya sekaligus.

Mengikuti panggilan menjadi guru, adalah masalah hati. Sedikit sekali saya dan rekan-rekan guru diajari bagaimana mengajar total dengan sepenuh hati.

Dari mana dorongan yang kuat menjalani tugas guru, meski honor tak memadai? Menjawab itu, saya merasa kekuatan datangnya dari dalam diri dan jiwa saya. Pengaruh dari luar sedikit saja.

Menyiasati perubahan yang akan dilakukan di sekolah, diawali dengan pembelajaran. Cari model-model pembelajaran yang bisa mencakup gaya belajar semua siswa, dengan pemanfaatan media. Apalagi kalau mengajar dengan inovasi, hasil akhir akan lebih bagus lagi.” TG

BIODATA
 Wakil Kepala Sekolah SDN Polisi IV, Kota Bogor.
 Lahir di Bandung, 22 Juli 1972
 Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pakuan, 2004
 Magister Manajemen Pendidikan, Pasca Sarjana Univ. Pakuan, 2007
 Berbagai pelatihan di Bogor, Bandung, Jakarta, Perth (Australia), Penang (Malaysia)/
 Menulis 16 item buku, dan sekaligus menjadi writer coordinator di penerbit Epsilon dan Genesindo, Bandung.
 Anggota tim pengembang Kurikulum Disdik Kota Bogor, pembina generasi muda, anggota Komunitas Matematika Nalaria Realistik-Bogor, dan banyak aktifitas lain.
 Penghargaan Juara I –Guru SD Berprestasi tingkat Nasional (2006), setelah sebelumnya juara I di tingkat Kota Bogor dan tingkat Propinsi Banten.
 Juara Harapan I Lomba Keberhasilan Guru dalam pembelajaran tingkat nasional.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

September 24, 2008

Paradigma

10 TANDA Maju Mundurnya Bangsa,
Muaranya Jelas Masalah Pendidikan

Eddy Wiyono M.Com,
Pakar kecerdasan holistik, pembicara tetap radio Smart FM 'Indonesia Strong from Home' .

Seperti disampaikan pada sebuah seminar di Depok, Jawa Barat.

Seorang Thomas Lickona, membuat daftar yang bisa menjadi indikator, apakah sebuah Bangsa mengalami kemunduran. Coba saja berikan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini kepada orang tua siswa. Apakah menurut mereka, hal-hal di bawah ini sudah terjadi di lingkungan mereka ?

Kalau indikasi itu sudah seratus persen terjadi, ini jelas bukan sekedar masalah biasa. Tanda-tanda jaman ini hendaknya menjadi sebuah indikator perpecahan atau kemunduran bangsa. Sekali lagi, ini adalah masalah pendidikan. Bukan masalah kependudukan atau bidang lain semata, yang menuntut kita para Guru, agar kembali menyeimbangkan antara ranah pengetahuan dengan ketrampilan dan sikap.

Inilah indikator itu.
(jawablah dengan YA jika Anda sudah melihat atau merasakan. Jawablah BELUM atau TIDAK, jika Anda rasa hal ini memang belum tampak)

1. Terjadi perilaku kekerasan di lingkungan remaja

2. Meningkatnya penggunaan kata ejekan, makian dan celaan
3. Lebih terpengaruh teman daripada orang tua
4. Seks bebas, alkohol, dan narkoba
5. Merosotnya perilaku moral, dan meningkatnya egoisme diri sendiri
6. Menurunnya nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air
7. Rendahnya rasa hormat pada orang tua dan guru
8. Rendahnya tanggung jawab pribadi pada publik
9. Ketidakjujuran terjadi di mana-mana
10. Rasa saling curiga antar sesama warga negara

Berapa kali sehari kita bisa mencermati tanda-tanda kemunduran ini sedang berlangsung? Coba ajak anak naik kendaraan umum. Kereta api dalam kota atau bus kota. Jika penumpang sudah penuh, ada nenek-nenek naik, apakah masih ada yang akan memberikan kursi bagi nenek tersebut?

Atau jika kita sendiri sedang mengendarai mobil, melintasi traffic light. Jika lampu menunjukkan warna kuning yang sedianya untuk memberi peringatan bersiap, alih-alih memperlambat kendaraan,yang terjadi justru tancap gas agar tak kena lampu merah. Duh......

Apa yang terjadi dengan genk Nero di Salatiga? Berapa banyak anak didik Anda kenal lagu kebangsaan dan punya sikap menghargai tetangga yang berbeda agama? Lagu Indonesia Raya pun jarang diperdengarkan tiap hari Senin. Upacara bendera menjadi kegiatan yang terkesan jadul.

Nah... segeralah berbenah untuk meminimalisir indikator di atas. Jika itu sudah terjadi di lingkungan kita, apa yang bisa kita lakukan? Anda para pengajar dan pendidik, pahami dan maknai indikator kemunduran bangsa dari Thomas Lickona ini sebagai tantangan. Keteladanan Anda haruslah seimbang dengan pembelajaran yang Anda berikan.*** TG

*Artikel ini diterbitkan pada Teachers Guide Vol 2, No.06/2008

Paradigma

Sekolah Negeri dan Swasta,
Apa Bedanya Sih?

Kalau Anda sempat, cobalah bikin data kecil-kecilan. Tanyakan pada siswa atau orang tua siswa yang lulus dari sebuah sekolah swasta, yang lanjut ke sekolah negeri. Buatlah perbandingan dari sisi yang ringan-ringan saja. Apa saja yang tampak beda? Betulkah geliat sekolah Negeri sudah menyentuh sampai pencermatan karakter dan potensi unggul siswa, seperti halnya layanan yang diunggulkan oleh sekolah swasta?

Mami Maria, Ibunda dari Keysa, 12 tahun, baru lulus SD. Sang Mami paham betul dunia pendidikan, karena sehari-hari menjadi konsultan Riset & Development sebuah sekolah ternama.

Melihat kesiapan Keysa selepas SD, yang tampak cukup konsisten secara tata emosi dan konsep diri, Mami memutuskan untuk memasukkan Keysa di SMP Negeri yang konon favorit.

Sebuah SMP negeri di bilangan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan menjadi pilihan, meski jarak tempuh sedikit jauh. Sekolah ini tampak sangat tertata, bersih, lay out sekolahnya juga enak. Tampak ada upaya membuat sekolah menjadi nyaman.

Sebelumnya Mami sempat menemui wakil kepala sekolah, berbincang megenai segala hal. “Sebuah awalan yang baik, karena tak setiap sekolah negeri mau menerima calon orang tua siswa untuk berbincang seperti halnya di sekolah swasta,” kata Mami.

“Dari diskusi kami, saya cukup melihat sebuah dinamika pengajaran yang dilakukan di SMP ini. Wakasek itu mengatakan bahwa sekolah ini tidak melihat hasil saja, namun mencermati seperti apa input awal, kemudian dilihat dalam prosesnya. Jika sudah tampak kemajuan dan grafik yang meningkat, itu berarti sekolah ini sudah melakukan proses pengajaran. Hmmm………sebuah pemahaman yang nampaknya sederhana, namun inilah sesungguhnya esensi sekolah yang benar,” lanjut Mami.

Tujuh minggu kemudian....

Hari-hari beranjak sudah, sejak Keysa resmi menjadi siswa di SMP Negeri dengan predikat SSN, Sekolah Standar Nasional itu. Mami cukup arif mengamati perkembangan proses belajar. Setiap hari dibincangkan apa-apa yang terjadi di sekolah, kadang diselingi dengan gelak tawa ibu anak yang tampak kompak itu.

Mami cukup menahan diri, dengan tidak serta merta membandingkan keadaan sekolah Keysa sekarang dengan di SD nya, yang juga memiliki tingkat SMP, yang active learning. “Dari awal juga saya sudah mempersiapkan diri saya, agar tak terlalu menuntut keadaan dan layanan yang sama dengan sekolah sebelumnya,” kata Mami dengan manis.

Namun cerita Keysa dalam sebulan ini, tak ayal sering membuat Mami tercenung di malam-malam setelah putrinya tertidur. “Emmmm…….ternyata kondisinya masih seperti puluhan tahun lalu, masih konvensional. Meski secara fisik dan kasat mata sudah nampak berubah, namun hal-hal yang menyangkut komunikasi dan mind set pengajaran masih ajeg saja.”

Cerita Keysa makin mendebarkan ...

”Hampir setiap guru ngabsen anak setiap harinya. Panggil nama satu-satu gitu. Kemarin waktu perkenalan, kita disuruh maju. Ada temenku cowok yang memang tubuhnya tak terlalu standar, masak dibilang sama guru: ”eh..kamu, berdiri donk!”, padahal temenku itu udah diri di depan. Hmm... Gurunya aja bullying gitu,” cerita Keysa suatu hari pada Mami.

”Hampir semua Guru ngasih pelajaran dengan cara mendikte, kadang kita disuruh nyalin dari papan tulis. Hanya Guru PKN yang nggak minta kita nyatet. Tapi kita disuruh diem dengerin. Begitu bel bunyi jam 07.15, langsung buka buku,” cerita Keysa dengan seru, di meja makan saat santap malam bersama.

”Memangnya nggak ada omong-omong pembuka dulu gitu, atau games penyemangat Key?" tanya Mami. ”Ya nggak lah. ...,” jawab Keysa enteng.

”Oh ya, aku sudah nggak bisa ikut ekskul basket, Mi. Udah telat,” lanjut Keysa.
”Lho.. kan belum ada edaran soal ekskul?” tanya Mami.
”He..he...Mami, emang kayak di SD ku dulu, apa-apa diberitakan tertulis,” jawab Keysa sambil angkat bahu.

Di suatu sore, ”Mi, guruku koq nggak ada yang nanya-nanya secara lebih deket ke aku ya. Dulu, wali kelasku kan tahu persis keadaanku, perasaanku, sampai hobyku kan ya Mi,” kata Keysa setengah bertanya.
”Hey hey, ya iya lah......, di SD kan muridnya cuma 25 sekelas. Sekarang temenmu kan 40. Mana sempat Gurumu nanya-nanya.” Giliran Mami yang angkat bahu.

Perbedaan Itu .....

Cerita Mami Maria dan Keysa di atas dapat kita renungkan secara konteks pengajaran di tengah perubahan paradigma saat ini. Mestinya semua sekolah, semua guru, tak beda negeri atau swasta, dapat menyikapi perubahan demi kesiapan siswa memenangkan masa depannya di zaman Globalisasi.

Guru yang bullying terhadap muridnya, cara ngajar yang tak tersentuh quantum teaching, komunikasi ke orang tua yang tak mulus hingga sentuhan siswa yang kering. Kalau mau ditelusur lagi, pastilah masih akan ada sederet kekurangan.


Adakah benar, sekolah negeri telah menggeliat? Serbuan peminat yang membludak tahun ini ke sekolah negeri, disinyalir tak mampu menampung lulusan SD. Bahkan siswa yang semula di sekolah swasta bagus pun, berlomba menjajal keunggulan sekolah negeri, sembari mengadu NEM.

Kenyataan yang dihadapi Keysa, masih akan berkisar tentang CARA Mengajar Guru, antara lain:
1. Guru yang tahunya hanya menghukum secara fisik. Jika nilai ulangan siswa di bawah 6, maka siswa diwajibkan push up atau scot jump.
2. Siswa yang tak bisa menjawab pertanyaan, dijewer kupingnya.
3. Siswa wajib memakai sepatu merek (jenis) tertentu.
4. Guru PLKJ, yang sesungguhna materinya sangat menarik, ternyata menyampaikannya dengan membaca teks. Anak diminta DIAM MENDENGARKAN.
5. Guru TIK, yang hanya bisa marah manakala siswa tak paham. Sementara Guru hanya bicara saja di depan kelas.

Inilah kenyataannya. Perubahan paradigma bergulir, namun geliat sekolah menengah negeri (tertentu) yang kini diserbu, sayangnya tak banyak yang melakukan transformasi.

Sekolah boleh berbenah secara fisik, dan berlabel sekolah standar nasional. Namun cara mengajar Guru dan peraturan yang sehari-hari dikenakan kepada siswa nyatanya masih berkutat pada gaya yang itu-itu saja.** TG

*) Arfi D. Moenandaris adalah chief of editor majalah Teachers Guide, praktisi pendidikan, pembicara, dan konsultan pendidikan. Ia dapat dihubungi melalui email: arfi_tcguide@yahoo.co.id
Note: Artikel ini telah dimuat di majalah Teachers Guide Volume II Edisi No.6, 2008.

Paradigma

Geliat Sekolah Negeri

di Tengah Biaya Tinggi

Gejolak harga yang mengangkasa yang dipicu oleh naiknya harga BBM, menyurutkan banyak orang tua yang akan melanjutkan studi buah hatinya ke sekolah swasta pilihan. Mahalnya biaya pendidikan di sekolah swasta, disinyalir menjadi salah satu pemicu.

Namun ada yang menarik disimak. Rintisan sebagai sekolah bertaraf internasional dengan SBI nya di sekolah negeri, ternyata menjadi daya tarik luar biasa bagi orang tua yang awalnya sudah memilih sekolah dengan wacana pemerdekaan pendidikan, sebuah wacana yang saat ini hanya bisa dijumpai di sekolah swasta dengan paradigma baru.

Sekelompok orang tua, ayah-ayah, ibu-ibu, ada yang sudah setengah baya, tapi ada pula yang masih rada ”kinyis-kinyis”, tampak mengerumuni papan pengumuman di sebuah SMP Negeri. Putra-putri mereka adalah lulusan dari SD swasta yang cukup ternama. Perbincangan mereka yang utama adalah soal nilai kumulatif rata-rata UASBN, yang baru pertama digelar di tingkat SD.

Pak Indra, ayah dari Bunga, tidak menemukan SMP yang sekualitas SD nya si Bunga. ”Daripada meneruskan di sekolah swasta yang ”biasa-biasa saja”, mendingan saya pilih sekolah negeri tertentu yang kabarnya sudah banyak kemajuannya”. Demikian alibi Pak Indra.

Perubahan atau Trend

Prosedur pendaftaran di sekolah negeri adalah ”tinggi-tinggian NEM”. Artinya, kecerdasan majemuk menjadi tidak terapresiasi dengan baik.

Kenyataan ini tak dihiraukan oleh banyak orang tua. Mereka seolah lupa dengan pandangan dan pemahaman yang selama ini sudah mereka miliki, di tengah perubahan paradigma pendidikan baru, yang tidak hanya menjunjung tinggi nilai dan angka sebagai panglima, namun lebih pada pembentukan karakter dan pengembangan konsep diri.

Pak Riki dari Sekolah Islam Al Fikri di Depok, Jawa Barat, mensinyalir, minat orang tua meneruskan ke SMP negeri, dipicu oleh tiga hal. Yang pertama, pesona SBI atau sekolah berstandar internasional, yang menjadi daya pikat sekolah negeri rintisan. Kedua, masih kuatnya paradigma angka atau nilai lulusan, agar nantinya memudahkan masuk ke Universitas Negeri, dengan alat ukur seleksi melalui testing. Ketiga: ”Ya faktor biaya itu, meski ini masih asumsi saya ya,” kata Pak Riki, yang dihubungi melalui telefon, pada hari-hari orang tua sibuk mencari sekolah pilihan.

Soal SBI itu

Alasan mereka mendaftarkan anak ke sekolah negeri, terindikasi oleh adanya motivasi akademis yang kental. Simak cerita Mama Henny. Putra sulungnya, Ikram, mendaftar ke SMP go international di Kebayoran Jakarta Selatan. Dengan biaya yang relatif terjangkau, putra mereka bisa merasakan layanan sekolah bertaraf internasional, meski masih terbatas pada pemahaman dan ketrampilan berbahasa Inggris yang lebih banyak dibanding sekolah reguler biasa. Lima mata ajar disampaikan dalam bahasa Inggris, dan buku-buku paketnya keluaran Singapura. Oh ya, juga karena sekolah itu sudah mendapatkan sertifikat ISO

Mama Henny tinggal di daerah Ragunan, dan berkecimpung di sebuah Yayasan pengembangkan kualitas Guru, sesungguhnya merasa eksklusifisme ini kurang egaliter. Di tengah lingkungan keluarga dan rumah, Ikram diajarkan untuk berlatih menghargai kesederhanaan. Ikram sekolah diantar sepeda motor..

Lain lagi cerita Ibunda Restu, yang pernah tinggal di Jepang, dan menamatkan sekolah dasar swasta di Depok yang cukup bergengsi. Bunda Restu memilih fasilitas yang lebih memadai, ber-AC, menggunakan multi media, jumlah siswa ebih sedikit daripada yang reguler. Menurutnya, fasilitas berbanding lurus dengan kemajuan. Perubahan wajah di sekolah negeri ini cukup dapat memikat Bunda Restu yang sesungguhnya sangat paham dengan perbandingan sekolah konvensional dan sekolah active learning.

Ibu Lilis, ibu dari Bima yang lulusan SMP AL Azhar Bekasi, memilih SMA Negeri dengan alasan mencari sekolah yang terbukti dapat mengantarkan lulusannya lolos perguruan tinggi secara rombongan (karena saking banyaknya yang masuk ). Sudah menjadi tradisi, bahwa SMA Negeri pilihannya selalau menelurkan lulusan super, yang tembus perguruan tinggi ternama macam UGM, UI dan ITB. Ketika ditanya, apakah memilih SMA Negeri karena murah, Bu Lilis yang modis menolak wacana itu: ”Wow, di SMA pilihan saya bayar uang masuk dan spp nya juga mahal,” katanya.

”Sekolah itu sudah memilih bibit unggul. NEM nya sangat tinggi. sekolah tinggal memoles saja. Mau dikasih materi apa juga hayuk, wong dasarnya sudah pinter-pinter,” jelas Bu Lilis yang asli Yogya dengan nada bangga. Mhh... Bu Lilis hanya menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri selepas dari TK, SD, SMP swasta pilihan, agar anaknya mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan.

Sedangkan Ibu Indra, mama dari Sandra, memberi alibi yang canggih. Dia merasa, putrinya telah mengenyam pendidikan dasar dengan sentuhan individual yang baik. Kini, Sang mama ingin anaknya melihat kehidupan yang lebih kompleks, yang lebih majemuk. Masuk ke sekolah negeri disinyalir akan meningkatkan kompetisi, meski tanpa sentuhan privat seperti di sekolah sebelumnya.

Namun hasil temuan kami secara acak menunjukkan, faktor biaya yang relatif lebih ringan, bahkan di SMP Negeri di Jakarta cenderung gratis, adalah alasan mutlak yang pada akhirnya mereka kemukakan. Perihal kebangkitan dan peningkatan mutu sekolah negeri, konon bukti-buktinya belum sepenuhnya mereka lihat. Dari cerita-cerita kebanyakan orang tua yang sudah masuk ke sekolah negeri, yang paling menonjol perbedaannya adalah pada proses HOW TO atau CARA pengajaran.

Jadi, benarkah serbuan ke sekolah negeri di tahun ajaran ini berdasar geliat kemajuan sekolah Negeri? atau sesungguhnya itu hanya alibi untuk menutupi tingginya biaya pendidikan yang makin meroket di sekolah partikelir, yang kurang dapat dijangkau oleh sekalangan orang tua? Rasanya harus dilakukan survey dan observasi yang lebih mendalam.** TG

*) Arfi D. Moenandaris adalah chief of editor majalah Teachers Guide, praktisi pendidikan, pembicara, dan konsultan pendidikan. Ia dapat dihubungi melalui email: arfi_tcguide@yahoo.co.id
Note: Artikel ini telah dimuat di majalah Teachers Guide Volume II Edisi No.6, 2008.