Desember 21, 2009

MOS yang Jos

Interaksi di Hari Awal Sekolah, Penentu Keberhasilan Komunikasi

Apa persiapan Anda sebagai Guru dan Kepala Sekolah menyambut hari-hari awal sekolah? Setelah selesai rapat kerja, lazimnya di minggu awal sekolah seusai liburan panjang, lebih memerlukan kesiapan Guru untuk segera menghidupkan suasana kelas dan sekolah.

Umumnya di sekolah yang mengusung active learning, minggu pertama merupakan masa orientasi. Kegiatan diwarnai dengan aktifitas pengenalan lingkungan dan membuat kesepakatan antara guru dan siswa. Simak rincian jadwal kegiatan di salah satu sekolah keren di Jawa Barat ini. (Lihat tabel)

Di sekolah yang mengusung kreatifitas dan active learning, kegiatan di atas biasa dilakukan. Berbeda mungkin dengan sekolah-sekolah pada umumnya, yang mengisi masa orientasi dengan berbagai aturan kerutinan sekolah saja.

Melalui media massa kita kerap mendengar banyak kegiatan masa orientasi siswa (MOS) diisi kegiatan disiplin ala militer. Dengan dalih memberi pengajaran soal disiplin, MOS menjadi ajang balas dendam senior pada yunior. Tak ayal, jatuh korban celaka hingga meninggal.

Sesungguhnya, kegiatan di awal perjumpaan sekolah merupakan momen yang amat menentukan. Pengenalan visi sekolah dapat dilakukan sejak awal kedatangan siswa, dengan menciumkan aroma interaksi yang telah terpatri sebagai corporate culture sekolah.

Apa yang Harus Disiapkan?
Tentu perlu ‘banyak’ persiapan. Penanggungjawab acara MOS harus berkordinasi dengan penanggungjawab sekolah, memeriksa apakah mata acara kegiatan yang direncanakan sudah cukup patut dengan segmen sekolah. Selera Guru yang abai dengan cita rasa orangtua murid banyak menimbulkan kesan kurang menguntungkan bagi hubungan sekolah-siswa yang ingin dibangun.

Kreativitas dan ide, perlu disejajarkan dengan cita rasa itu. Untuk segmen sekolah yang berwawasan/bermuatan global, akan sangat mengganggu jika model games yang diadakan sekedar bernyanyi, ikrar, baris berbaris: ‘terkesan garing’ jadinya.
Disinilah termaktub hidden curriculum.

Tak tersurat, namun tersirat. Aturan masa pengenalan sekolah selayaknya menjadi tabir pembuka komunikasi antar siswa dan Guru, antar orangtua dan sekolah.

Meski bukan lagi di kelas awal (kelas I, kelas VII, kelas X), penyelenggaraan
MOS selayaknya tetap dilakukan - apapun sebutannya. Kegiatan awal ini harus menjadi pemantik semangat bagi siswa. Di saat inilah ditanamkan kepercayaan akan kualitas sekolah, utamanya kualitas Guru.

Kumpulkan ide dan ciptakan aktivitas (games) baru yang menantang. Jangan hanya mengulang kegiatan tahun-tahun sebelumnya atau yang sudah biasa disampaikan. Sesuaikan dengan muatan pendukung, seperti muatan leadership dan character building.

Jauhkan dari kegiatan yang bersifat indoktrinasi, apalagi militerisasi. Tahapan usia perkembangan juga harus dicermati. Untuk siswa SMP, kuncir rambut sesuai tanggal lahir, membawa telur yang di stempel pak RT, rok dilapisi rumbai raffia, memang masih sering tampak. ‘Lucu-lucuan’ menjadi latar belakang. Pemaknaan kerap hilang. Sungguh sayang. Seyogyanya, kreatifitas MOS juga harus disertai muatan makna. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

Desember 13, 2009

Memahami versus Menghapal

Ada dua cara belajar yang saling melengkapi, yakni:
1. Belajar demi pemahaman.
Siswa diajak berlatih berfikir. Pertanyaan menjadi kunci pembuka pengetahuan.
Di SD Mangunan bentukan Romo Mangun di Yogyakarta, siswa yang mengajukan pertanyaan paling banyak dengan bahasa yang baik, akan menduduki ranking tertinggi.

Pertanyaan yang terkait materi ajar menunjukkan tingkat pemahaman siswa. Belajar dengan pemahaman membutuhkan multi metode dan kepiawaian Guru pada pemetaan tahapan pencapaian siswa. Berbagai asesmen diseimbangkan guna membuktikan pencapaian pemahaman.

2. Menghafal.

Sistemnya adalah drill. Mirip dengan yang dikerjakan pawang pelatih lumba-lumba. Sifatnya menatar dan indoktrinasi. Sebagian besar materi hafalan adalah hal yang di luar jangkauan kontekstual kehidupan siswa saat itu. Di kelas 4 misalnya, materi gelombang bunyi transversal dan longitudinal yang diajarkan menjadi mubazir, karena kelak di jenjang SMU akan lebih tereksplorasi dan terkoneksi dengan lingkungan terdekat siswa.

Menghafal dapat dibedakan menjadi dua, yakni menghafal yang memerlukan fondasi pemahaman, dan menghafal yang (untuk sementara) tak memerlukan pemahaman siswa.

Demi NEM, kini kita (untuk sementara) membiarkan siswa menghafal bahan materi ajar tanpa perlu memberi pemahaman seluk beluknya pada siswa. Yang harus dikomunikasikan pada orang tua adalah, jika ada siswa mendapat angka yang tak menggembirakan pada butir-butir indoktrinasi ini, maka hal ini TIDAK AKAN BERBAHAYA bagi kemajuan hidupnya kelak.

Maka sebagai Guru yang keren, kita harus tahu, kapan memberi pelajaran yang harus mencapai pemahaman dan kapan yang ‘sekedar’ sekilas info namun perlu dihafal jawabannya, demi menjawab soal ujian standar.

Menyikapi hal ini, SD Mangunan menetapkan prosentase 70% jatah jam pemahaman, 20% hafalan dengan pemahaman, dan 10% hafalan tanpa harus faham. Anda setuju dengan strategi ini? Atau merasa tak perlu melakukan prosentase? Untuk membantu Guru agar tak melakukan banyak kesalahan di kelas, prosentase ini setidaknya akan membantu Guru memilah, mana materi yang perlu difahamkan, mana yang ‘sekedar kejar setoran’
persiapan ujian.

Idealnya tentu saja 100% pembelajaran dilangsungkan dengan pemahaman. Saat ini, Anda akan akan berfikir: Mungkinkah? Bisakah? Jujur harus Anda katakan: belum dimungkinkan! Faktor Ujian Nasional dengan model soal yang abcd menjadi sulit ditaklukkan.TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

JIKA ANAK GURU IKUT SEKOLAH

Pertimbangkan Kemanusiaan, Loyalitas, dan Profesionalisme

Sudah hampir satu semester ini kepsek Pak Didin bimbang. Lebih dari sepuluh orang Guru nya membawa anak saat mengajar. Alasannya klasik : tak ada pembantu, sehingga tak ada yang mengurus si anak. Mau melarang, Pak Diding enggan lantaran banyak Guru jadi sering mangkir alasan anak. Diijinkan, tapi koq ya mengganggu proses mengajar.

Bahkan kini beberapa diantara anak ikut masuk kelas, ikut belajar, ikut sekolah tanpa keabsahan. Awalnya sih seolah titip teman sejawat yang mengajar di kelas usia
anak-anak mereka. Pak Didin sedang mencari aturan yang win-win. Tapi,terlambat! Hampir satu tahun hal ini berjalan. Ah… pak Didin bingung.


Awalnya bisik-bisik antar Guru, yang sebagian besar punya anak usia sekolah, di usia dini/kelompok bermain. Entah siapa yang memulai, pergunjingan ingin meminta hak anak Guru boleh ikut sekolah dengan harga minimalis makin menguat.

“Ya, kami kan mendidik anak orang lain. Tentu saja kami juga ingin anak kami menerima layanan pendidikan yang se-level dengan sekolah tempat saya mengajar. Ngiri juga gitu lho,” ungkap Bu Prita, Guru SD di Jakarta Selatan.

“Kalo ngikutin kata hati, kepingin juga anak saya merasakan sekolah di sini. Sudah hampir lima belas tahun saya mengabdi. Kini kami sedang menunggu keputusan direksi, apakah anak kami bisa sekolah dengan biaya seringan mungkin, syukur-syukur free…he..he..,” tawa renyah Pak Gani, guru di sekolah inklusi top di Jakarta Pusat.

“Di sekolah ini, kami selalu mendapat pelatihan mengajar dengan berbagai metode, serta pengembangan profesionalisme. Namun hati kami sedih, anak saya di sekolah lain tak tersentuh peningkatan kualitas pendidikan seperti ini. Semua serba apa adanya. Yah… kami tentu akan sangat bersyukur jika sekolah bisa mengakomodasi anak kami di sini,” keluh Pak Sam, guru di sekolah beken dengan bilingual system.

Manusiawi memang jika Guru juga berkeinginan memberi pendidikan terbaik untuk anak mereka sendiri di sekolah keren dan unggul. Kebanyakan, anak para guru itu bersekolah di SD negeri (gratis), atau sekolah dekat rumah yang berharga minimal. Faktor biaya menjadi pertimbangan utama kebanyakan para Guru bila ingin menyekolahkan anak di sekolah bermutu.

Pertimbangan Sekolah
Bu Fatim, pemilik sekolah yang sudah 10 tahun melayani pendidikan usia dini hingga SMP menyadari kebutuhan anak Guru. Ia memberi keringanan biaya 70% bagi anak Guru di tingkat Taman Kanak Kanak. Kalau masuk SD, pengurangan hanya 50%.

”Saya belajar dari sebuah sekolah teman, yang membebaskan biaya sekolah bagi anak Guru. Awalnya tak terasa. Tapi begitu tahun ke sekian, di mana makin banyak Guru yang punya anak usia sekolah, ternyata jumlah anak Guru cukup signifikan. Apalagi sekolah teman saya itu mengedepankan kelas kecil yang hanya berjumlah kurang dari 20 siswa per kelas. Nah ... lama-lama satu kelas isinya anak Guru semua…. Limbung juga keuangan sekolah. Belum lagi keriwehan Guru yang anaknya harus ikut menunggu jam kerja agar bisa pulang bersama.” Seru cerita bu Fatim.

Pak George, principal sekolah keren, tidak mengakomodasi kebutuhan ini. Secara prinsip, pekerjaan Guru juga sama dengan profesi lain yang menuntut profesionalitas. Tanpa bermaksud mengecilkan pendapatan Guru di sekolahnya yang hitungannya sudah jauh lebih tinggi dibanding sekolah lain, pak George menjelaskan bahwa pembayaran sekolahnya hanya bisa diakses oleh seorang pengusaha besar atau ekspatriat.

“Kalau anak Guru sekolah di sini, hmm…. saya fikir hanya akan mempersulit kehidupan mereka sendiri. Lebih baik kami memberi sedikit tambahan subsidi pendidikan anak dalam komponen gaji Guru yang sudah memilki anak usia sekolah, maksimal sampai anak ke dua. Aturan ini sudah tertulis dalam buku kepegawaian. Jadi tak muncul masalah di kemudian hari. Kalau anak Guru hanya sekedar ingin menikmati fasilitas sekolah seperti kolam renang atau playground, kami menentukan hari keluarga. Setahun dua kali lah,” jelas Pak George, ekspatriat yang fasih berbahasa Indonesia.

Kebijakan muncul bersamaan dengan kebutuhan. Ketika sekolah sudah berjalan cukup lama, dan para Guru yang ikut dalam perjuangan sekolah mulai melihat kemapanan sekolah, muncul kebutuhan menyangkut kemudahan anak Guru.

Pengelola sekolah harus berhitung dengan segala kemungkinan. Akan menjadi daya pengikat loyalitas Guru, jika anak mereka bersekolah dengan gratis atau potongan khusus. Namun jika hampir semua Guru berusia produktif, besaran subsidi sekolah yang harus dibayarkan tentu layak dicermati.

Kesadaran Diri
“Mesti disadarkan pula pada Guru, bahwa mendidik anak lain bukan berarti menerlantarkan anak sendiri meski dengan kualitas berbeda. Belajar toh bukan hanya di sekolah. Jika sekolah terus meningkatkan mutu pengajaran, hal itu juga bisa diterapkan Guru pada anak-anak mereka di rumah. Perasaan iri tak perlu dibangkitkan. Tiap anak sudah ada rejekinya.” Begitu kata alim ulama.

Makin sulit lagi jika Guru adalah sang ayah. Sepulang sekolah, tidak mungkin ayah segera mengantar pulang anak –kecuali kalau dekat. Kalau Guru perempuan, masih mending. Dia mungkin lebih luwes mengurus anaknya makan siang bersama, dan menidurkan di ruang kelas, atau memberi mainan yang cukup saat sang ibu harus rapat atau mengurus kelas. Meski tampak ribet, namun pemandangan ini seringkali lebih diterima oleh lingkungan, dibanding pemandangan seorang bapak yang di-intil anaknya saat bekerja.

Ada yang bisa bantu pak Didin? Mana yang dikedepankan? Profesionalitas, meningkatkan loyalitas Guru? Atau biarkan mengambang, hingga Guru merasa kesusahan sendiri? Duh… susah!TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

Homeschoooling: Pikiran yang Masih (tetap) Strange

Mendengar kata homeschooling, sebagian besar orang berpikir bahwa para penikmatnya (baik anak maupun orangtua) adalah orang-orang yang sulit, tidak mau beradaptasi, dan secara sosial memang tidak mampu dan tak mau bersosialisasi. Benarkah demikian?

Penggunaan kata ’strange’ memang disengaja, demi menunjukkan betapa pemikiran tersebut masih benar-benar ’strange’ menurut sebagian besar orang. Aneh? Asing? Strange!

Homeschooling dianggap pemikiran alternatif oleh para pelaku lembaga pendidikan formal dan praktisi sekolah. Dianggap menyempal, sok mau berbeda, atau tandingan.
Saat dulu, Pestalozzi, seorang ahli pendidikan dari Swiss, menyerukan pemikiran yang menyempal, karena sejumlah anak terlantar akibat ayahnya pergi berperang (perang antara Inggris dan Perancis waktu Napoleon berkuasa). Anak-anak dikumpulkan dalam satu kelas dan belajar materi yang sama. Dari sinilah istilah klasikal mulai dikenal (untuk membedakan dengan individual).

Kurang lebih dua ratus tahun kemudian, konsep homeschooling yang bersifat individual kembali muncul. Saat istilah homeschooling makin keras didengungkan, orang makin penasaran. Pentingkah dipertimbangkan?

Pestalozzi melihat konteks perang, untuk segera menyelamatkan anak-anak terlantar dengan cara mendidik mereka bersama-sama di kelas. Kini ramai-ramai orang menarik anak-anak mereka dari sekolah umum, konteksnya perang juga, yakni perang terhadap musuh yag tak tampak: hedonisme, konsumerisme, pornografi, obat-obatan, hilangnya
respek dan empati.

Sahkah dan adilkah orangtua mengambil keputusan demi menyelamatkan masa depan anaknya, meski pun terkesan ’paranoid dan egois’? Sah saja. Meski banyak orangtua lain berdalih mengembangkan minat dan bakat anak agar lebih optimal, atau demi penerus tradisi keluarga melalui ’on the job learning’.

Dalam buku ’Dunia tanpa Sekolah’, Izza, remaja 15 tahun telah melewati perjuangan berat dan berhasil membebaskan diri dari tempat yang memenjarakan kreativitas dan kemerdekaannya, yaitu sekolah. Anak pasangan suami istri yang berprofesi sebagai guru berprestasi, memutuskan keluar dari SMP demi menggapai cita-citanya menjadi penulis hebat.

Izza mengatakan,”Aku tak mau hanya wajib belajar 9 tahun… Aku mau wajib belajar seumur hidupku, dan aku memilih caraku sendiri…”

Sebagian besar orang masih meletakkan harapan pada sekolah formal, memilih sekolah terbaik. Kalau masih bisa memilih, mereka akan memilih sekolah-sekolah yang sesuai kebutuhan masing-masing (metode, kurikulum, kondisi finansial). Sayangnya sebagian besar rakyat Indonesia tak punya hak memilih, nrimo apa pun kondisi sekolah.

Daud Yusuf, mantan Menteri Pendidikan kita, khawatir bahwa pendidikan (educating) telah diartikan sebagai persekolahan (schooling). Seolah hanya di sekolah tempat mendidik.

Padahal pendidikan lebih luas. Saat sekolah hanya mendudukkan sebagai lembaga persekolahan, maka yang dituju adalah target penguasaan materi yang harus dicapai dengan cara apa pun (baca: menghalalkan segala cara termasuk menipu demi kelulusan siswa?).

Seharusnya, pendidikan distimulasikan untuk penguasaan dan implementasi nilai-nilai, sehingga anak didik berkembang secara intelektual dan emosi dan terhubung dengan alam lingkungannya. Bukan menjadi makhluk cerdas cemerlang tapi hidup sendiri tak bergaul tanpa kontribusi pada lingkungan.

Bila sekolah menjalankan educating dan schooling, berarti sekolah masih menjadi alternatif yang bagus. Namun bila sekolah sudah tak mampu menjalankan esensi pendidikan, rumah mungkin adalah alternatif yang tak boleh dicibir.

Silakan pilih, tanpa saling menghujat! Hidup pemerdekaan pendidikan! TG

Penulis: Ria Restanti Natalisa wartawan TeachG di Yogyakarta

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

Desember 12, 2009

JOGJA PATRIAE ACADEMY


Jimmy Pieter Kalauserang: Perjuangan Memerdekakan Anak
Sebuah rumah di ujung sebuah gang buntu menjadi tempat menyebarkan ruh perjuangan kebaikan dan kesantunan. Pemilik rumah itu, Jimmy Pieter Kalauserang, lulusan Fisipol UGM dan kini pendeta.

Dari rumah mungil namun asri itu, bersama istrinya, Yanti, Jimmy menabuhkan genderang pendidikan masa depan untuk generasi yang lebih baik secara etik, akademik, dan moral, dalam nuansa spritual kental.

Lima tahun mendidik sendiri ketiga anaknya dan beberapa anak anggota jemaat gereja (total 9 siswa). Mulai Agustus 2009, makin dikokohkan dalam wadah yang lebih formal yakni Jogja Patriae Academy (JPA).

Berikut ringkasan obrolan Teachers Guide bersama Pak Jimmy di sela-sela kesibukan melayani tamu yang hari itu silih berganti datang.

Awal berdirinya JPA?
Awalnya, pimpinan kami di Jakarta, dari Gereja Morning Star Indonesia (MSI), ibu gembala kami menerapkan homeschooling pada anak-anaknya tahun 1995. Karena beliau melihat akibat dari pendidikan modern, buah-buahnya seperti tak respek pada orangtua, etika dan moralnya kurang, egois. Teknologi maju, informasi maju, anak -anak malah lebih malas, bukannya menjadi mandiri dalam belajar. Mereka memanfaatkan hanya untuk bermain bukan untuk alat belajar Gratification (kesenangan) saja, ingin mudah, shortcut ... Daya juang kurang karena tantangannya tak ada. Jadi daya hidup melemah. Kalau ada masalah, mereka cenderung lari.

Hal seperti inilah yang menyebabkan beliau menarik anaknya dari sekolah. Memang pergumulannya sulit, karena seperti berenang melawan arus. Apalagi tahun 1995 masih awal-awal. Setelah dua tahun beliau mempertimbangkan, akhirnya diputuskan melakukan homeschooling.

Tahun 2002 sampai sekarang ini kami di rumah. Bersama beberapa orangtua yang telah bergabung. Kini lebih terstruktur, ada kurikulum, ada legalitasnya, dan gedungnya, ada hari-hari sekolah di hari tertentu.

Yang di Jakarta menempati gedung Morning Star Academy di daerah Kuningan, Jakarta. JPA ini adalah semacam sister school MSA.

Semi homeschooling, begitu pak Jimmy mengistilahkan. Esensi homeschooling tak hilang, karena tetap berdasar nilai-nilai keluarga, dan mengatasi keterbatasan ilmu yang dimiliki orangtua. Definisi homeschooling dalam kerangka pembelajaran?

Esensinya terletak pada keterlibatan orangtua yang lebih besar. Saat ada orangtua ingin bergabung, yang ingin kami ketahui adalah apakah mereka sanggup melibatkan diri sepenuhnya dalam proses pendidikan anak-anak mereka.

Alasan terbaik untuk homeschooling…
Banyak faktor. Bisa karena nilai-nilai yang negatif yang berkembang di luar, kurikulum yang berat di sekolah formal. Ada orang tua tak mau kehilangan waktu berharga bersama proses tumbuh kembang anak mereka.

Banyak orangtua merasa, setelah anak-anak besar, sulit ’masuk’ dalam kehidupan anak-anak mereka. Mereka menyesal dan berharap waktu dapat diputar kembali. Hubungan terjalin sebatas kebutuhan ’fasilitas’, namun tanpa komunikasi. Masing-masing hidup sendiri-sendiri meski serumah. Menurut saya, itu alasan terpenting melakukan homeschooling.

Jadi, Sekolah atau Homeschooling…
Sebenarnya ini bukan dikotomi ya. Kalau anak dikirim ke sekolah umum namun masih dapat mengatasi faktor-faktor yang cenderung mengkhawatirkan, itu baik-baik saja. Atau, sepanjang orangtua bisa masuk dalam kehidupan anak. Di sekolah umum, orang tua harus bekerja dua kali, masih harus memberikan les tambahan pada anaknya. Belum lagi tentang etik dan moral, juga nilai.

Merujuk pada keberhasilan Morning Star Academy di Jakarta, orang tua dan anak sama-sama happy. Beban pelajaran tidak besar, dan masih punya banyak waktu melakukan minat musik atau olahraga.

Keterlibatan anak-anak di masyarakat harus jadi kepedulian orang tua. Sayangnya yang bergabung dalam komunitas, seperti MSA di Jakarta, adalah orangtua yang sudah putus harapan pada perilaku anak-anaknya yang kini tingkat SMP atau SMA. Jadi persoalannya bukan terletak pada homeschooling atau tidak, namun pada sedalam apa keterlibatan orangtua.

Sesungguhnya tidak perlu ada dikotomi antara sekolah vs homeschooling. Orangtua punya tugas untuk terlibat dalam pendidikan, dan sekolah adalah salah satu sistem pendukungnya.

Kelebihan homeschooling?
Yang saya tahu, anak tumbuh kepercayaan diri tinggi, unik, berinisiatif, dan yang terpenting tahu kapan belajar, tanpa didorong-dorong. Bisa sangat melengkapi clues yang hilang. Output yang kami harapkan adalah kuat secara akademik, moral, dan people skill (berinteraksi dengan orang dan memberi manfaat pada lingkungan).

Kurikulum?
Kami mengadaptasi kurikulum. Ada umbrella program dari Classical Christian School. Materi preschool dari K3, 4, 5 kami ambil dari Amerika. Pada tahap ini anak sudah diajarkan membaca, minimum kombinasi tiga huruf (dalam bahasa Inggris), seperti cat, rat, fat, sad. Jadi ada phonics, reading, dan math.

Tingkat elementary, misalnya math mengadopsi kurikulum Singapore. Kami mengintegrasikan pelajaran agama Kristen dalam keseharian. Bahkan sejarah, misal tentang terbentuknya bangsa-bangsa, kami sampaikan dalam perspektif Kristiani. Namun kami tidak memaksakan ini kepada yang tak beragama Kristen. Yang kami ajarkan adalah nilai-nilai universal, seperti respek pada orangtua, sikap bertanggung jawab.

Anggapan bahwa homeschooling secara akademis lebih rendah kualitasnya, kami rasa tidak benar. Tergantung apa kurikulum dan bagaimana itu diaplikasikan. Kalau di Jakarta, mengadopsi SAT (Stanford Achievement Test) dari tingkat elementary hingga high school. Mereka mendapat international degree, dan bisa kuliah di universitas negeri di Indonesia (program internasional) atau melanjutkan ke luar negeri.

Dulu yang ikut ujian kejar paket (Depdiknas setara SMA) adalah kalangan menengah ke bawah, atau orangtua yang baru mencari ijasah. Kini banyak kalangan menengah ke atas, dengan berbagai alasan, salah satunya pelaku homeschooling. Komunitas membantu menyiapkan anak-anak melewati tes tersebut.

Kami di sini menggunakan pendekatan klasikal yang menekankan proses, mengajarkan cara belajar, menekankan nilai legasi, dan budaya, menekankan history, literature, dan humanities, serta pengudusan (ruh) sebagai bagian utama. Bahasa Indonesia ada dalam kurikulum, juga performing arts untuk mengenalkan budaya nasional.

Ada guru yang mengajarkan beberapa materi. Kriteria Guru adalah yang dapat menjadi teladan, sebab ia adalah orang yang impart (membuka dan menyampaikan) hidupnya kepada anak didik. Tapi sekarang sulit menemukan itu, sebab pendidikan menjadi industri. Anak cenderung bullying, dan Guru pun melakukan bullying lebih dahysat lagi kepada siswanya.

Kendala utama menjalankan homeschooling ...
Orang tua! Kami butuh komitmen orang tua untuk terlibat apalagi lingkungan masyarakat kadang masih memandang sebelah mata. Kami menjalankan semi homeschooling yang lebih tertata: secara legal, terstruktur, dan terukur. Ada banyak pelaku homeschooling yang menerapkan sistem lain, misalnya independen total dengan kurikulum dan jam belajar kurang jelas.

Pesan untuk Guru, praktisi pendidikan, dan masyarakat ...
Jangan marah melihat kondisi sekarang. Harus berpikir jalan keluarnya. Tak bisa menunggu pemerintah melakukan perbaikan, harus memulainya sendiri. Orangtua mesti terlibat dalam pendidikan, jangan menyerahkan sepenuhnya pada sekolah. Sekolah dan Guru, khususnya saya pribadi, it’s a calling (panggilan). Kalau guru harus disertifikasi, mestinya etika moralnya yang tersertifikasi. Mengingat guru adalah panggilan hati. Mari kita lakukan saja yang terbaik.

Pak Jimmy! Bersama kita hantarkan anak didik menuju pemerdekaan pendidikan! TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

Desember 09, 2009

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

Sebuah fakta dan data disajikan oleh Sukro Muhab, ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) di seminar yang diadakan oleh SiMAk Bangsa, sebuah komunitas yang sangat peduli pada urgensi pendidikan karakter.

Korupsi:
* Dana BLBI yg diselewengkan: Rp. 130,6 trilyun
* Subsidi rekap bank: Rp. 40 trilyun
* Kebocoran APBN 30%
* Pencurian kayu: Rp. 90 trilyun
* Pajak digelapkan : Rp. 240 trilyun

Indikator Kehancuran Moral :
* Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
* Penggunaan kata-kata kasar dan buruk
* Tumbuhnya geng-geng/premanisme
* Meningkatnya perilaku menyimpang/merusak
* Semakin kaburnya pedoman moral
* Menurunnya etos kerja
* Semakin rendahnya rasa hormat pada orang tua dan guru
* Rendahnya rasa tanggung jawab invidu dan warga negara
* Membudayanya perilaku ketidakjujuran
* Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama

Dasar-dasar Pendidikan Moral

Sesungguhnya ajaran agama mengajarkan kebaikan. Contohnya adalah pada ayat ini:
1. Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah yang fitrah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Al Quran -Ar Rum:30)

2. Dalam tubuh terdapat sepotong daging, apabila ia baik maka baiklah badan itu seluruhnya dan apabila ia rusak, maka rusaklah badan itu seluruhnya ... Hadits Bukhari Muslim)

Tujuan Pendidikan Nasional (UUD,UU, PP) juga telah mengundangkan perlunya pendidikan secara menyeluruh atau integrated holistic education system. Realitanya, pendidikan masih berkutat pada pemberian bekal agar lulus Ujian Nasional, atau lulus seleksi mahasiswa baru.

Proses menumbuhkan keimanan, ketaqwaan, serta akhlak mulia sangat penting, tapi terabaikan. Tujuan pendidikan itu jelas menjadi terabaikan!

Persoalannya, apakah buku-buku pelajaran ada mengkaitkan materi sains dengan aspek keimanan & ketaqwaan? Tampaknya belum.

Apakah ada guru yang bisa mengkaitkan itu? Tampaknya belum semua Guru bisa. Apakah guru mau mengkaitkan materi pelajaran dengan aspek keimanan dan ketaqwaan? Belum semuanya mau.

Seriuskah Depdiknas melaksanakan amanat seperti tertuang dalam Tujuan Pendidikan Nasional, fungsi dan tujuan dalam Kurikulum KTSP? Tampaknya kurang serius.

Kalau begitu, apa saja hasil pembelajaran di sekolah? Tampaknya hanyalah: pengetahuan tentang materi dan sedikit keterampilan laboratorium/berbahasa. Apa dampak selanjutnya? Terciptanya generasi yang menganggap bahwa antara ilmu dan agama/moral tidak ada kaitan sama sekali.

Dalam memanfaatkan ilmu sama sekali tidak mengindahkan etika agama, moral dan kemanusiaan. Bangga dengan ilmu yang dikuasainya sehingga dia tidak mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Kuasa.

REKOMENDASI
Perlunya pembelajaran terpadu antara ilmu dan agama digunakan sebagai alat untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa.

Kapan mata pelajaran dapat digunakan sebagai alat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan tersebut?

Apabila kegiatan pembelajaran dapat menumbuhkan kesadaran bahwa:
1. Menutut ilmu itu wajib hukumnya, sedangkan ilmu yang kita pahami itu amat sedikit.
2. Mengantarkan siswa mengenal kebesaran Allah SWT.
3. Mengantarkan siswa untuk pandai bersyukur pada Allah SWT.
4. Mengantarkan siswa untuk patuh dan takut pada Allah SWT.
5. Mengantarkan siswa untuk menjadikan segala ciptaanNya sebagai fakta & data
pengembangan Ilmu.
6. Perintah dan ketetapan Allah SWT betul-betul bermanfaat bagi kita.

Yang terjadi di kelas, pembelajaran tidak menyentuh pada fakta faktual yang menjadi persoalan bangsa. Misalnya, pentingnya energi aktivasi. Apa yang terjadi seandainya tidak ada energi aktivasi?

Suplai oksigen (O2) di udara akan menipis atau oksigen habis sama sekali karena bereaksi dengan gas-gas yang lain. 2H2(g) + O2(g) → 2H2O(l) ΔG = -237,2 kJ/mol.
Contoh ini membangkitkan kesadaran kita, bahwa apa ketetapan Allah SWT adalah yang terbaik bagi kita. Kesadaran bahwa larangan-larangan yang ditetapkan oleh Allah SWT betul-betul bermanfaat bagi kita. Misal, larangan minum minuman keras.

Mengapa? Coba kaitkan dengan reaksi kimia. Bagaimana caranya memunculkan kesadaran akan kebesaran dan rasa syukur pada Allah SWT? Dengan memahami ilmu secara mendasar dan tepat (tidak terjadi salah konsep).

Contoh, pemahaman tentang air. Kita tahu, molekul air dapat berhidrogen antarmalukis molekul. Pada air, molekul-molekul membentuk ikatan hidrogen antarmolekul. Apa pengaruh ikatan hidrogen?

Pada suhu ruang, air berwujud cair. Bagaimana kalau antar molekul air tak ada ikatan hidrogen? Pada suhu di bawah 100ºC, air sudah mendidih. Bayangkan, tak akan ada organisme yang dapat hidup di bumi.

Misal, makanan. Apa yang terjadi seandainya padi mogok berbuah? Untuk dapat sepiring nasi, terpaksa kita mensintesisnya di laboratorium –tapi nyatanya kita belum bisa mensintesis nasi!

Seandainya pun bisa, pasti sepiring nasi akan sangat sangat mahal. Untuk dapat hidup, kita sangat tergantung pada rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT! Nah, masih banyak contoh lain. Burung, bila kelebihan makannya disimpan sebagai karbohidrat, ia makin bertambah gemuk sehingga tak ada satu pun yang bisa terbang.

Ada keteraturan pada alam semesta: bumi mengedari matahari sehingga malam dan siang silih berganti. Suhu bumi menjadi tidak ekstrim sehingga nyaman dihuni manusia, hewan, dan tumbuhan.

Bagaimana kalau malam terjadi terus-menerus? Atau siang terus? Bagaimana dengan keteraturan dalam metabolisme makanan di tubuh kita? Bila makanan kita di dalam tubuh langsung dibakar menjadi CO2 dan H2O, satu piring nasi sudah cukup membakar habis seluruh tubuh!

Allah telah memberi perintah: makan makanan yang baik dan bergizi. Persoalannya: dapatkah guru-guru menyiapkan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan keimanan/ ketaqwaan siswa? Pasti dapat.

Cara Mengembangkan Pembelajaran Berbasis Keimanan dan Ketakwaan:
(1) Banyak belajar baik materi pelajaran yang diampu ilmu agama.
(2) Mengamalkan perintah semua perintah Allah.
(3) Menjauhi semua larangan Allah.
(4) Dapat menjadi tauladan bagi siswa.
(5) Menyadari profesi guru itu amal da’wah.

Coba renungkan, banyak materi kita ajarkan, tapi tak menyentuh sendi pembentukan karakter. Fakta di atas kiranya jangan menjadi wacana belaka tanpa upaya menjadikan siswa lebih baik. Jadi, yang kita lakukan sebagai Guru di depan kelas, amat berkaitan dengan persoalan bangsa? Sukro Muhab (juga kita semua mestinya) amat prihatin dengan keadaan ini.

Beliau tak hentinya bergerak ‘memasarkan’ pentingnya sekolah mengadopsi segala materi ajar agar berkaitan dengan pembentukan karakter siswa, karakter bangsa!TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

SEKOLAH RAMAH ANAK ala CIKAL

Sekolah bagus, Guru bagus, pembelajaran bagus, itu sebuah keniscayaan. Masih dibutuhkan lagi ide dan kreatifitas yang menunjang itu semua menjadi penguat
kehidupan sekolah.

Sekolah CIKAL, baru-baru ini meluncurkan deklarasi ‘Sekolah Ramah Anak’ (SRA) sebagai kelanjutan konferensi Sekolah Ramah Anak yang diadakan pada Mei 2009.

Menurut UNICEF, Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang menjamin pengadaan lingkungan yang aman, situasi emosi yang tentram dan terbuka terhadap perkembangan psikologis anak.

Menurut Shaffer (1999), SRA didefinisikan sebagai sekolah yang mengembangkan
lingkungan belajar yang mudah dipelajari anak dan kondisi yang memotivasi. Guru dituntut lebih terbuka dan memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak selama di sekolah.

13 Kriteria SRA menurut Unicef:
1. Merefleksikan dan menjalankan hak anak di sekolah.
2. Memandang anak dengan utuh, sebagai bagian dari keluarga, sekolah dan komunitas.
3. Berpusat pada kemajuan siswa.
4. Peka pada perbedaan gender dan ramah pada siswa perempuan.
5. Lebih mengutamakan kemajuan kualitas hasil belajar.
6. Memberikan pendidikan yang relevan pada kehidupan.
7. Fleksibel menyikapi perbedaan.
8. Terbuka pada pendidikan inklusi serta menghormati persamaan kesempatan.
9. Menunjang kesehatan mental dan fisik anak.
10. Menyediakan pendidikan terjangkau dan mudah diakses.
11. Menguatkan kapasitas, nilai-nilai, komitmen dan status guru.
12. Fokus dan melibatkan keluarga.
13. Fokus dan melibatkan lingkungan sekitar sekolah.

Yel-yel SRA didengungkan bersamaan dengan mini drama dan penandatanganan deklarasi. Dampak SRA diharapkan dapat mengurangi bullying (pelecehan).

Agar sekolah semarak dengan berbagai kegiatan, munculkan yang kegiatan yang berbeda. Ketika kita tak bisa menjadi yang pertama (the first), tak bisa juga menjadi yang terbesar (the best), masih ada kesempatan untuk unggul, yakni menjadi yang different.TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569