Tampilkan postingan dengan label guru kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru kreatif. Tampilkan semua postingan

April 30, 2010

GURU KREATIF di SEKOLAH PINGGIRAN



Teachers Forum


Membahas sekolah bukan sebatas gedung semata, juga lingkungan sekitar sekolah apakah suka akan kehidupan di dunia pendidikan.

Di daerah pinggiran, mayoritas orang tua siswa kurang berpendidikan, cenderung menekuni pekerjaan pendahulunya, yaitu bertani, nelayan atau buruh. Lebih utama bekerja tinimbang sekolah. Menghasilkan uang lebih bermakna dibanding dengan menghabiskan uang untuk sekolah, begitu pandangan kebanyakan orang.

Siswa miskin, dalam kondisi keluarga berpendapatan kurang, mengalami dilema. Pendapatan keluarga habis untuk makan minum. Biaya sekolah? Sulit dipenuhi ... Akhirnya anak miskin hanya mengandalkan diri dengan membantu orang tua bekerja. Sebuah ironi di negeri yang kaya sumber daya alam namun minim kepedulian.

Anak miskin, saat bersekolah akan memiliki dua pandangan: mencari ilmu untuk bekerja; dan mencari ilmu untuk pintar. Namun, kebanyakan mereka tumbuh dengan karakter yang tak mendukung bagi cita-cita tinggi.

Memulai sekolah, siswa dalam kondisi prihatin ini, umumnya perlu waktu adaptasi cukup lama. Untuk jenjang SMP dan SMA, siswa dari latar keluarga kurang mampu menampilkan karakter yang cenderung agresif; emosional; frustasi; indisipliner; dan kurang bersemangat. Penyebabnya, yaitu itu tadi, faktor lingkungan keluarga dan masyarakat dengan pendapatan rendah.

Emosi, mengutip Davidoff (1991), merupakan aktualisasi dari saraf simpatis dan perasaan tidak suka yang disebabkan kesalahan. Menurut Prescott (Davidoff, 1991), orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi; sedangkan yang tak pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung berbuat kekejaman dan penghancuran (agresi). Byod McCandless (1991) menekankan, bila seorang anak tumbuh dalam lingkungan miskin, perilaku agresifnya secara alami menguat.

PERLU GURU KREATIF


Siswa didik kini tak berada dalam satu zona, namun multikarakter. Setiap anak memiliki beragam keunikan, talenta berbeda, dan cara belajar berbeda (Howard Gardner). Di samping perlu mewaspadai perkembangan siswa didik dalam segi sosial, moral, emosional, dan kognitif.

Begitu pun para guru, tak lagi menjadi 'aktor' atau sumber ilmu satu-satunya, tapi berubah menjadi fasilitator, motivator, dan inspirator. Guru kreatif perlu pendekatan khas dalam mengajar dan memfasilitasi siswa dari keluarga tak berpunya ini.

Menurut Fullan (1993) dalam diri seorang guru kreatif ada jiwa inquiry. Ia akan senantiasa belajar terus menerus mengembangkan diri ke arah depan. Ia mengembangkan pola fikir kontekstual, selalu uptodate dalam ilmu dan penerapannya di kehidupan siswa. Selalu menuju target (goal), bukan sekedar rutinitas. Lebih menekankan proses, bukan hasil semata.

SISWA BERPRESTASI, SEKOLAH UNGGULAN

Menjadikan peserta didik berprestasi, adalah ketika guru dan siswa telah berada dalam satu zona, yaitu zona belajar. Satu cara pandang bahwa mereka akan menemukan sesuatu yang bermanfaat. Guru memotivasi siswa, bahwa ia berprestasi. Di tingkat atasnya, kepala sekolah selalu menjaga semangat guru dan mencukupi keperluannya.

Adanya semangat antara siswa, guru, dan kepala sekolah, mengumpulkan energi besar perubahan yang akan menjadikan sekolah pinggiran itu menjadi sekolah berprestasi.

Jika ada persoalan pribadi siswa, ia secara mandiri berkonsultasi ke Guru bimbingan & konseling. Suasana sekolah jadi hidup, siswa dan guru terbuka.

Guru kreatif menjadikan setiap hari berisikan moment-moment penting. Guru memotivasi siswa, meskin keadaan miskin serba kekurangan, sebaliknya otak dan kemampuan siswa adalah super. Siswa tak boleh rendah diri dan pesimis akan prestasi yang akan dicapai. Siswa yakin, kehidupan mereka akan berubah.

Guru berupaya, agar materi apa pun dapat dipahami siswa, bukan mengejar ketuntasan materi belaka. Siswa dipacu belajar mengomentari, berpendapat di muka umum, serta aktif di kehidupan nyata.

Guru kreatif terus bergerak mencari ilmu dan menjalin komunikasi dengan pihak luar, sehingga menjadikan sekolah pinggiran itu dikenal masyarakat luas. Setelah siswa miskin itu menghasilkan prestasi di berbagai jenjang perlombaan di berbagai tingkatan, sekolah pun terangkat menjadi sekolah unggulan. TG

Ervan Nugroho
Guru Sekolah SMART Ei Parung, Bogor
Sekolah berasrama gratis untuk anak miskin dhuafa.

Tulisan ini diterbitkan pada edisi No. 10 / Vol.04 / Thn 2010. Dapatkan majalah pendidikan Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Berlangganan SMS ke (Flexi) 021 684 58569. Terima kasih.

April 29, 2009

Debut De Britto



* Kompeten, Hati Nurani, Peduli
* Free, Bukan Wild

Teachers Guide datang khusus ke sekolah ini dengan segala keingintahuan, ada apa di sekolah khusus cowok ini? Mengapa banyak Gurunya sering menulis di koran nasional? Kalau sedang tampil di seminar nasional, Guru De Britto juga tampil arogan (baca: pede abis)! Drs.Th.Sukristiyono, sang kepala sekolah (44), menuturkan dalam bahasa yang lugas:



SMA Kolese De Britto memang berisi pribadi-pribadi yang tidak puas hanya sekadar di kelas, sangat terbuka, tidak berhenti pada hal yang rutin. Idealisme mereka cukup terwadahi, agar Guru tidak hanya berdiri di depan kelas, tapi terlibat penelitian, ide-ide di kota, menanggapi panggilan sebagai pendidik, tertarik banyak bidang, dan banyak membaca.

Guru memilki kesempatan refleksi melalui forum pedagogi Ignasia (2 bulan sekali) di mana Guru berkumpul, bertemu di sore hari, tanpa beban kerja, berbincang santai. Kadang ada nara sumber. Selebihnya, sekolah mendukung dengan memberi insentif bagi Guru yang tulisannya dimuat di media, lokal maupun nasional. Sarana untuk menulis juga diberikan. Kredit laptop, hot spot area.

Ada juga Guru yang tidak menulis. Tapi usaha memancing untuk maju juga dilakukan. Di ulang tahun ke 60 kemarin, semua Guru diminta menulis perjalanan mereka dari awal hingga kini.
Konten yang disuarakan adalah sesuatu yang berbeda. Sekolah ini menghargai setiap individu autentik sesuai yang Allah ciptakan. Visi sekolah ini mendarah daging. Sebuah kebebasan. Biarlah anak tumbuh sesuai yang dikehendaki. Sesuai citra Allah dalam Katolik. Kebaikan Allah akan muncul di situ. Sekolah hanya memfasilitasi. Siswa disadarkan, bahwa mereka dicintai oleh Allah. Identitas dipahami secara maksimal, sesuai konteks individu, keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Kalau siswa selesai melakukan sesuatu, selalu diajak duduk untuk refleksi. ‘Kamu mau apa?’ Dinamikanya selalu seperti ini. Memahami konteks anak maupun objek, mencari pengalaman dan evaluasi dan refleksi dan merencanakan kegiatan berikutnya. Dan ini semua ditulis.

Kegelisahan yang Menguntungkan
Guru De Britto melihat ketidakadilan dengan ketidakpuasan. Kritik mereka tentang myopi pendidikan, tentang SMK yang digalakkan, menghasilkan sebuah pemikiran, bahwa 10 tahun ke depan, kita memerlukan ahlinya. Bukan hanya tukang.

Ini point-point leadership sebetulnya. Visi pemimpin yang melayani. Kompeten, punya hati nurani dan kepedulian. Ini kata kunci Gereja Katolik. ‘Saya kira semua agama juga begini. Multi kultur sudah menjadi keseharian’.

Dalam ‘keliaran’ itu muncul gagasan-gagasan. Anak-anak menjadi lugas. Ada ruang untuk anak bisa bilang ‘aku tidak suka’. Di sekolah ini tidak ada sesuatu yang dimulai dengan kata tidak boleh. Misal: ‘tugas ini dikumpulkan hari Senin, tanggal sekian, jam pelajaran pertama’. Tak penah ada kata-kata ‘paling lambat tanggal sekian’. Ini budaya komunikasi yang akhirnya terbawa pada nilai-nilai kehidupan.

Anak di sini tak semuanya pintar. Tapi punya kepedulian pada yang lemah. Di luaran lebih dikenal dengan pendidikan karakter. Kalau sekarang banyak sekolah membuat ‘kantin kejujuran’, di sini sudah puluhan tahun kantin berjalan tanpa penunggu. Hanya sebutannya tak dinamakan kantin kejujuran. Biasa saja.

Tak satu pun di tembok ada coretan. Sampah juga tak ada yang tercecer. Perkelahian antar anak hampir nol persen. Perseteruan yang ada dibicarakan. Kalau ada yang melanggar, mereka tahu akan tertolak di komunitas ini. Contoh dari kakak kelas menjadi keteladanan yang mengalir saja.

Apakah ini karena kekuatan leadership kepala sekolah?
Bukan itu yang mutlak, biasa-biasa saja jadi kepala sekolah. Kultur di sini yang mengalir sendiri. Peneguhan saat inisiasi adalah saling mengenal. Selalu penekanannya bukan pada uang. Tapi sebanyaknya melayani orang lain. Semua orang, mulai dari satpam sampai kepsek, tahu nama siswa. Kami edarkan katalog lengkap dengan foto dan alamat. Semua saling mengenal.
Misalnya ada siswa yang jadi ngeyel setelah sekolah di sini, mungkin di kelas 1 selalu ada. Orang tua bisa ngobrol dengan pastor, Alumni diundang untuk bicara, nilai apa yang harus mereka ikuti. Humanisme tergali. Di sekolah boleh bicara apa saja. Bukan wild, tapi free.

Di sini siswa yang Katolik, yang Muslim, bisa berdampingan. Ada pengakuan dosa, dinamika masa tobat diterjemahkan dalam agama sendiri-sendiri. Sesekali ada juga ustadz untuk anak muslim. Tentu dipilih yang bisa memandang perbedaan dengan semangat kebersamaan. Sekolah ini banyak dikunjungi dari beragam segmen. Dianggap aneh mungkin.

Tawa pak Kris renyah, ditingkahi suara nyanyian siswa yang masih berada di sekolah selepas jam pulang. Rupanya mereka sedang berlatih koor. Ketika kami melintas, dengan ramah mereka menyapa, menanyakan siapa kami dan dari mana. Ketika tahu kami dari media, mereka bergaya dan berceloteh ala anak muda yang narsis. Pemandangan yang berkesan ….

Ketika anak dalam kondisi yang mereka inginkan (ada batasan juga), secara sosial dia akan ada pada sistem sosial itu sendiri. Tapi jiwanya bebas. Sekolah mengimbangi dengan fasilitas. Anak laki-laki butuhnya apa sih? Olah raga, kesenian, buku, semua ragamnya ada. Mereka bikin liga sepak bola tahunan. Pialanya bisa kambing, anjing, yang aneh-aneh lah. Kalau sudah bosan, hadiahnya diberikan kepada penjaga sekolah.

Anak ditanya mengapa kamu gondrong, mengapa terlambat? Itu ditanya dan di-dialog kan. Akar persoalannya diketahui. Solidaritas pada teman juga luar biasa.

Membuka diri dialog dengan anak itu tidak mudah. Guru memberi ruang dan bersedia dengan kerendahan hati untuk sejajar dengan siswa. Anak pagi-pagi sudah membuka google misalnya. Guru akui saja dia ketinggalan informasi.

Di dunia yang flat in kan masalah gender sudah melemah?
Tentu kami memimpikan keseimbangan. Kini ada Guru perempuan. Dulu nggak ada. Di ruang Guru juga sudah mulai ada bunga, makanan kecil, lebih indah lah. Dulu dari kamar mandi ada anak jalan pake celana dalam ‘doang’. Argumen mereka kuat. Dengan ibu guru, mereka lebih menata hati. Tapi pertemanan dengan sekolah Stece (Stella Duce), Santa Maria, mereka bisa berteater, bermusik, pentas bersama. Anak perempuan masuk ke sini juga tidak takut. Seimbang saja koq.

Asal usul menjadi sekolah khusus laki-laki ini karena sejarah. Bukan Karena mau eksklusif. Tahun 48-49, pada waktu Agresi Belanda ke dua, yang perempuan tidak diganggu tentara. Yang pria ’kan diganggu tentara terus. Jadi disendirikan. Setahun kemudian, yang laki baru dibuka lagi. Agar yang perempuan yang sudah mapan tidak terganggu, ya jalan terus saja. Kembar siam saja dengan Stece.

Melegenda ya?
Taman Siswa, Kayu Tanam, sekarang seolah tak terdengar. Padahal sangat baik. Mungkin karena De Britto selalu dihidupi oleh para Jesuit. Orang muda yang baru datang, dibenturkan visi pribadinya dengan visi bersama, sehingga menjadi fanatik, cinta pada lembaga jadi kuat.

Semua Guru happy ending?
Memangnya nggak ada kegelisahan hidup? Ya mereka juga manusia biasa. Bedanya ada pada cara mereka memandang dan mengatasinya saja………..
( Apa saja yang sudah Guru lakukan? Simak penuturan para Guru penulis itu, dan komentar tentang mereka dalam tulisan ‘The Champion’ berikut). TG
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

THE CHAMPION Kiprah Guru-Guru De Britto sebagai Penulis

Menulislah! Daripada dikasih semangkok mie instan......

Di tengah saling cela, hardikan, teguran, bergantian dengan puji dan sapa, saling menunjukkan kepedulian. Iklim ini yang mendorong Guru SMA Kolese De Britto berbuat sesuatu, yang membangkitkan gairah untuk menulis dan dikirim ke media, dimuat, dan terkenal.

Pernahkah Anda baca tulisan di harian Kompas, di rubrik Opini atau Didaktika? Kalau sempat mencermati, ada sekelompok Guru yang aktif menulis. Mereka selalu menyertakan identitas sebagai Guru De Britto, sebuah sekolah menengah tingkat atas khusus laki-laki.

Untuk dapat dimuat di media, sebuah tulisan membutuhkan persyaratan yang tidak mudah. Perlu proses panjang. Media besar (nasional) memilkiki kriteria tertentu yang cukup alot untuk meluluskan kiriman tulisan.

Nah, kini kita bisa mengenal lebih dekat dengan para Guru yang tampak energik, pede abis, agak arogan tapi sembodo (konsekuen-jw). Semangat juang luar biasa. Mereka bukan sekedar menjadi Guru yang mengajar di depan kelas, melainkan sudah menjadi pribadi menyenangkan yang behasil menemukan jati diri dan potensinya.

Kesulitan, kegetiran hidup, adalah lakon yang mereka pandang sebagai sesuatu yang biasa. Kini mereka mantap menjalani hari-harinya, dengan vaksin semangat, kompetisi dan menjajal tantangan.

ST Kartono (biasa dipanggil Pak Este) :
Tak ada yang baru di bawah matahari. Yang selalu baru adalah bagaimana cara kita melihat segala sesuatu di bawah matahari. Saya sering ‘mengejek’ rekan sejawat untuk melecut diri, mengatasi kesulitan hidup dengan berkarya.

Honor menulis saya pos-kan sebagai sumber pendanaan rutin tiap bulan. Dengan demikian saya selalu terpacu.

Kita ini menjadi Guru, harus tetap merasa sejajar dengan orang tua siswa. Mereka boleh saja memiliki profesi dan jabatan lain yang lebih hebat. Namun Guru jangan merasa ‘terbeli’ . Karena itu bagi yang mau berupaya menulis, jadikan ini sebagai sumber atau pos pendapatan. Daripada kita harus memberi les tambahan di rumah siswa kita sendiri, kadang siswa belum siap, kita nunggu, kalau hujan-hujan paling kita dikasih mie instan… ha…ha…haa..

Hj Sriyanto :
Saya hanya lebih mau jujur pada realita yang dialami teman-teman Guru. Ketika terasa ada sesuatu yang tak pas, ini dia saat melakukan refleksi. Jadilah sebuah tulisan : Siapa Bilang Jadi Guru Gampang. Tulisan salah satu Guru yang dimuat, pagi-pagi sudah ditempel di sekolah. SMS terkirim saling mengucap selamat, meski dengan bahasa yang agak ‘nyinyir’, misal: “ ayo, cepetan cairin duitnya!”. Begitulah gaya mereka. Saling membully, namun tak menyakiti.
Siswa juga bangga pada Gurunya. Jangan sampai mereka melihat Gurunya loyo setelah tanggal dua puluh, saat persediaan menipis…..

Kingkin Teja Angkasa :
Saya punya obsesi kuat agar siswa menghargai Guru. Sudah bukan saatnya rumpi masalah cicilan motor. Tidak up to date lah….

Sumardianta (kerap menjadi pembicara konferensi Guru tingkat nasional) :
Guru yang menulis adalah front office -nya sekolah. Otomatis sekolah mereka juga menjadi terkenal, Guru juga dikenal sebagai kolumnis pendidikan. Sip toh… ngelmu iku ngelakone kanthi laku, yang maknanya adalah: mencari ilmu itu harus dilakukan melalui tingkah laku dan perilaku yang diyakini kebenarannya. Kalau menulis soal kesulitan ekonomi, itu kan keluar dari jeritan hati yang paling dalam. Pasti jadi tulisan yang bagus!

Semua Guru, dengan latar belakang apa pun, mestinya bisa nulis. Mereka kan pelaku. Kalau setelah itu muncul idealisme, hal ini disebabkan esprit de corp (rasa kebersamaan) yang makin kental, yang makin menyuarakan dan membela si lemah, dan mengkritisi si kuat. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.


April 28, 2009

Sekolah Global Mandiri: Kreatif, Buku, dan Pelatihan

School Social Responsibility Sekolah Global Mandiri

Awalnya adalah sebuah buku “Berbagi, Ceria, dan Kreatif”, berisikan kumpulan ide-ide kreatif para guru di Sekolah Global Mandiri, Cibubur-Jakarta Timur, yang getol bereksplorasi menggunakan bahan dari barang bekas tak terpakai.

Gagasan-gagasan kreatif itulah yang menghantarkan tim guru Sekolah Global Mandiri melatih sekitar 200 guru di Kecamatan Bayan dan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pelatihan terselenggara atas undangan Kepala UPT Pendidikan di dua kecamatan tersebut, 13-14 Februari lalu.

Bagi Sekolah Global Mandiri, program ini, termasuk diantaranya penyebarluasan buku ’BCK’, adalah bagian dari SSR (school social responsibility), semacam CSR di perusahaan bisnis. ”Ingin berbagi, dan memberi inspirasi menciptakan pembelajaran yang kreatif berbekal barang bekas,” jelas Rifa Ariani SE., Ak., direktur Sekolah Global Mandiri. Sejumlah pelatihan pun digelar di Jakarta, dengan mengundang berbagai guru yang tertarik dengan pendekatan mengajar kreatif. Dengan bingkai program SSR, sekolah terbuka menerima kunjungan guru dari luar Jakarta. Pihak sekolah pun menjadi makin kreatif untuk menggali berbagai metode pembelajaran baru, serta mendorong para guru untuk aktif menulis serta berlatih menjadi trainer. Sekolah pun tumbuh menjadi ’learning society’.

”Keberanian berbagi merupakan proses pengembangan diri sebagai bekal bersaing di era global,” begitu pesan Bambang Aryawan, MM., Kepala Dinas Pendidikan Purworejo, menyemangati para guru di Purworejo untuk selalu belajar.

Ide-ide kreatif dalam buku BCK itu, menjadi hal menarik bagi rekan-rekan guru di Kabupaten Purworejo. Apalagi pelatihan dikemas dengan menarik, berikut ice breaking dan games. ”Sangat puas dan senang mendapatkan pelatihan metode belajar dengan menggunakan barang bekas ini. Kami jadi kreatif, dan yakin siswa akan lebih semangat belajar,” ungkap Drs. Ngadino, Kepala Sekolah SDN Pacor 2, peserta pelatihan hari kedua di SDN Wirotaman, Kutoarjo.

Dengan metode yang tepat, barang-barang bekas terbuang pun bisa menjadi sarana belajar yang menarik. Hal ini terutama sangat diperlukan oleh rekan-rekan guru di berbagai pelosok Indonesia, yang memang terus terang masih terkendala akan alat peraga, sarana belajar, maupun metode belajar yang aktif menyenangkan.

”Penggunaan barang bekas selain kreatif juga menyelamatkan lingkungan,” begitu kesan Amad Tulus, Kepala UPT Kecamatan Bayan. Manfaat pelatihan ini, menurut Wakil Bupati Purworejo Drs. H. Mahsun dan Kepala UPT Pendidikan di Kutoarjo Drs. Joko Sutanto, M.Pd, akan menjadi penyemangat bagi para guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di Purworejo dan sekitarnya. TG

Maria Goretti Kadimazu Dara, SPd
Guru di Sekolah Global Mandiri,
Cibubur-Jakarta Timur
Kini menggeluti pelatihan guru
edu@globalmandiri.com

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Berikan kami apapun
dari yang tak ternilai
hingga yang tak bernilai...

Tema : NILAI TEMPAT

Bahan yang diperlukan:
1. tutup botol air kemasan biasa (20 buah)
2. tutup botol gallon air kemasan (20 buah)
3. kalender bekas (belakang polos)

Cara membuat:
1. bersihkan tutup botol, dan kelompokkan sesuai ukuran.
2. buat pola lingkaran tutup botol itu dengan kertas kalender, gunting.
3. untuk pola lingkaran kecil, tuliskan angka 0 sampai 9
4. untuk pola lingkaran besar, tuliskan kata : satuan, puluhan, ratusan, ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, dan miliaran.
5. masukkan potongan kalender itu dalam tutup botol yang sesuai ukuran, dengan tulisan menghadap keluar agar terbaca.

Cara bermain:
a. letakkan tutup botol di meja atau lantai, dengan bagian bertulisan menghadap ke atas agar terbaca.
b. Guru menyebut sebuah angka. Misal, sembilan ratus tiga puluh dua. Maka murid akan menyusunnya (lihat gambar).
c. instruksi selanjutnya adalah meletakkan nilai tempat di atas bilangan yang sudah tersusun tadi.
d. Setelah siswa mengerti konsep bilangan, boleh melanjutkan dengan permainan adu cepat menyusun bilangan yang disebutkan guru.

Selanjutnya dapat digunakan untuk bermain perkalian, penambahan, pengurangan. Alat bantu belajar ini dapat dimodifikasi. Misal, mengisinya dengan tulisan huruf Arab saat pelajaran Agama Islam. Tentunya disesuaikan dengan tingkat kesulitan atau level tiap murid. TG

Dikutip dari buku ”Berbagi, Ceria, dan Kreatif ”
Menggunakan barang bekas sebagai media pembelajaran yang menarik
Penyusun: Farida Wulandari, Alfiatun, Anna Budiatmi, Andityas. (Sekolah Global Mandiri)
*) Tulisan ini diterbitkan pada majalah Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Prof. Gumilar R. Somantri : Minta Gaji Bagus, tapi Horizon Sempit


Prof. Dr. der.Soz.Gumilar Rusliwa Somantri
Rektor Universitas Indonesia


Rektor yang tampil dandy dan gemar bermusik ini –gabung dalam the Professor Band-- menerima Teachers Guide di ruang kerjanya. Beliau menjelaskan peran pendidikan dasar menengah, dan respon perguruan tinggi atas mutu pendidikan di tingkat menengah.

UI kini masuk rangking ke 5 bersama dengan MUS, Mahidol, University of Philippine, University of Malaya, sebagai perguruan tinggi yang punya reputasi tinggi”. Kata Pak Rektor dengan bangga. Namun ketika ditanya pendapatnya tentang kualitas pendidikan di tingkat bawahnya, pak Rektor menghela nafas.........hhhmmm.

Pak Rektor prihatin melihat lulusan SMA, yang belum merata, meski dalam empat tahun terakhir ini relatif membaik. Ini kerja keras pemerintah melakukan pemerataan. Kualitas terbaik masih datang dari kota-kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung dan Surabaya. Upaya untuk meratakan kualitas di SMA, merupakan hal penting.

” Kunci kualitas ini pada guru. (Nah lo.....) bukan hanya sertifikasi, yang sifatnya administratif, tetapi substansi mutu guru. Profesionalisme selalu menyangkut 3 hal: etik, skill, dan renumerasi yang baik. (Setujuuu.....)

Empat tahun terakhir ini para guru relatif banyak diperhatikan. Tapi kita harus mengubah mind-set. Jangan hanya minta gaji bagus, tapi tak mau meningkatkan diri. Jangan kita berlaku curang, tidak adil, menjadikan negara dan sekolah sebagai tunggangan. Kita mentolerir kemalasan, tidak mau membaca, tidak memperluas horizon, memberikan anak-anak ala kadarnya. Kan celaka! (iya pak...persisnya begitu dah)

Kalau guru segitu-gitu saja kemampuannya, dan tidak mampu memperbaiki diri, ini dosa besar! Guru yang berhorizon luas, banyak baca, bijak, akan mampu memotivasi anak dan melahirkan anak-anak hebat di masa datang. Kalau generasi/bangsa ini tidak bisa melakukan apa-apa di masa datang, yang salah itu para guru. (hiyyyaaa......kena lagi)

Sebelum masuk mengajar, Guru sudah harus baca koran. Pikirannya terbuka, perspektif luas. Menyampaikan bahwa kita ini bagian dari dunia yang besar. Bicara problem perubahan iklim, krisis ekonomi, kemiskinan, penduduk makin banyak, akan terjadi apa akibatnya bagi bumi ini. Coba lihat, sawah-sawah dipakai rumah. Lihat gedung disambung rumah-rumah gubuk. Orang di jalan naik motor ngebut, tidak ada sopan santun, inikah bangsa kita, inikah peradaban bangsa kita? Banyak hal yang perlu dibangkitkan dari siswa.


uru-guru idealis dan profesional, jumlahnya harus diperbanyak. Pendidikan kita sudah di jalur yang tepat, tapi perlu akselerasi (dipercepat) lagi dalam peningkatan dan pemerataan kualitas dan internasionalisasi.


Profesionalisme itu (skill, etik, renumerasi) tidak hanya sekedar untuk profesionalisme saja, atau agar kualitas pengajaran makin bagus. Profesionalisme guru juga untuk membangun citra, persepsi, juga gengsi. Sekarang ini profesi guru (masih dianggap) pekerjaan kelas rendah, jauh dibanding profesi insinyur atau dokter. Jarang orang bangga menjadi Guru (hiik.... betul pak)

Sejarah membuktikan, bangsa hebat saat ini, karena pendidikannya baik, dan di dalamnya ada guru-guru yang mempunyai profesionalisme tinggi, kesadaran, etos kerja, dan idealisme untuk mengembangkan diri.

Selain kualitas guru, proses mengajar di SMA akan baik kalau infrastruktur memadai. Ruang kelas bagus , ada penggunaan IT – infocus, pengenalan IT, wifi, teleconference. Kurikulum dibangun dengan baik. Saat ini, banyak yang terlalu formal, bersifat memaksakan, dan seringkali kita juga salah menafsirkan substansi kurikulum.


Juga penting, metoda pengajaran, atau cara penyampaian. Metoda KBK itu baik –problem base learning- tapi pendalaman implementasinya banyak yang hanya basa-basi.


Infrastruktur penunjang agar proses pendidikan baik, perlu disediakan mushola yang memadai, lapangan olahraga memadai, ruang terbuka, library yang bagus, ruang bagi siswa untuk melakukan aktifitas seni dan berorganisasi, juga fasilitas untuk pengajar. Sehingga dalam proses belajar-mengajar soft skill juga ditanamkan di samping hard skill. Sehingga kalau masuk ke universitas, mereka tidak kaget.’

Kami senang kalau kualitas pendidikan SMA dari Sabang sampai Merauke merata. Siswa terbaik dari tiap daerah bisa terjaring, sehingga tujuan kami membuat UI jadi mozaik Indonesia dapat tercapai tanpa sulit mempertahankan kualitas input yang dapat mempengaruhi proses belajar-mengajar di UI.

Republik ini punya jumlah anak-anak berbakat yang luar biasa. Kalau mereka dibimbing oleh tangan yang tepat –the best teachers- di sekolah yang bagus- akan luar biasa. Kita masuk di era Abad 21, yang disebut the Gobal War of Talent. Hanya bangsa-bangsa yang mampu mengembangkan bakat dan peradabannya, yang akan survive…

Sebaiknya, kita mulai pikirkan sebuah sistem pendidikan yang tidak gebyah-uyah (anggapan yang seragam-red)seperti sekarang. Sejak TK diasumsikan semua akan masuk perguruan tinggi, bahkan akan jadi doktor. Apa jadinya? Jumlah doktor kurang dari 10.000 untuk jumlah 250 juta orang, jauh lebih sedikit dari Israel (1 doktor tiap 50 orang) atau Singapura (Ya ampuuunnn...)

Sejak SD, siswa sudah mulai diarahkan. Sehingga tidak semua masuk SMP umum, sebagian SMP kejuruan, seperti dulu. Tapi lebih baik, laboratorium bagus, dan ada kerjasama dengan industri penyerap tenaga kerja. Nilai entrepreneurial sejak dini ditanamkan, sehigga tidak membeludak ramai-ramai masuk SMA dan akhirnya ramai-ramai menganggur. Pendidikan kejuruan diperbanyak tapi dengan melihat kebutuhan bangsa yang sedang kompetitif menopang segala bidang yang sedang kita kembangkan. Toh dalam kehidupan sehari-hari tidak semua jadi direktur. Jadi pekerja pun harus berskill bagus.

Di Jerman, sejak kelas 3 SD, sudah diatur yang punya kecerdasan praktikal-nya lebih tinggi (masuk Realschoole). Yang kecerdasan numerik tinggi masuk ke sekolah umum, ke Gymnasium lalu akhirnya ke perguruan tinggi. Bukan berarti yang masuk kejuruan tidak bisa masuk ke perguruan tinggi. Tapi diberi koridor, yaitu perguruan tinggi politeknik.

Potensi kita luar biasa. Tidak kalah, dan kita bisa. Sejahtera atau tidak generasi yang akan datang, tergantung pada kita membina mempersiapkan generasi muda, dipilah bakat dan minatnya, sehingga dia lulus dalam bidang yang disukainya, dan sesuai dengan kebutuhan bangsa. Ini berarti terserap langsung, sehingga bangsa ini diisi oleh orang orang yang berkualitas. Pekerja yang berkualitas, sampai direktur berkualitas. Kita semua mengejar jadi direktur, sehingga jadi direktur tidak berkualitas. Dengan penataan ini, di berbagai lapisan, semuanya berkualitas, dan memberikan sumbangan menopang bangsa sesuai dengan kemampuannya. Saat ini, kebanyakan pengambil keputusan pintar-pintar, tapi di bawahnya payah... (yesss......kena juga birokrat kita)

Semua sistem pendidikan ini approach-nya harus holistik. Karena yang harus kita bangun adalah kultur, mind set, dan etos dari bangsa ini."

Hmmm.... mantap ya kritik dan saran Pak Rektor. Coba semua ini bisa berpengaruh pada sistem pendidikan kita, apa nggak hebat Indonesia tercinta ini. Ayo lah para Guru, apa yang bisa kita kerjakan dulu. Teriak minta gaji, meperluas horizon, memprotes sistem, demo pada birokrasi, baca koran, mengubah sistem, perbaikan kurikulum..... atau apa? Yang mana dulu? Atau mau ketemu langsung dengan Pak Rektor Gumilar Rusliwa Somantri, yang gagah, keren, dan berhorizon amat luas. Salam dari kami pak rektor. Terima kasih segala kritiknya. Jadi input dan feed back yang mak nyuss.....TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Ahmad Furqon MPd. : "Tetap Ingin Jadi Guru SD"



Jika Anda ingin mendorong perubahan di sekolah, tapi berada di dalam situasi yang tidak mendukung, apakah Anda akan berhenti melangkah? Atau maju terus, meski tak ada rekan guru yang mendukung? Mungkinkah Anda tetap melangkah dan berfikir positif, sementara dunia di luar bersikap tak peduli, menganggap Anda ’orang aneh’, atau bahkan antipati?

Bagaimana menjaga motivasi mengajar tetap tinggi? Apa yang bisa me¬nyemangati kita untuk terus maju, tidak berhenti atau menyerah? Beberapa pakar telah memberikan kriteria guru sejati yang pantang menyerah mendaki. H.Ahmad Furqon, SPd. M.Pd, guru kelas V di Sekolah Dasar Negeri Polisi 4, di Bogor, Jawa Barat, adalah salah satu Guru yang tak menyerah.

Meski banyak tawaran menggiurkan dari berbagai pihak, Ahmad Furqon bertekad untuk tetap berkiprah di pendidikan dasar. ”Pendidikan dasar itu begitu penting,” alasannya.

Untuk menjadi guru profesional, Furqon menunjukkan potret perjalanan dirinya. Di jalur akademik, ia bersekolah lagi untuk meraih strata 2 magister manajemen pendidikan. Di jalur kompetensi sebagai pendidik, ia bergabung dan berkontribusi dengan berbagai aktifitas kependidikan kota Bogor. Untuk meningkatkan kesejahteraan, ia menambah pendapatan dengan menjadi penulis buku pelajaran sekaligus menjadi editor, dan mengajar di perguruan tinggi swasta.

Untuk mewujudkan gagasannya mengajar, ia tak segan merogoh kocek sendiri untuk melengkapi sarana di kelasnya. Sebagai contoh, di kelas V tempatnya mengabdi, kini ada sebuah teve berikut berbagai cakram program sains. Ruangan kelas pun diubahnya menjadi bentuk melingkar O, meja direndahkan dengan memotong kakinya. Dengan susunan begini, lebih banyak murid yang bisa duduk berhadap-hadapan, ruangan kelas pun (rasa-rasanya) menjadi lebih luas.

Inilah mutiara kata yang keluar dari hatinya yang teguh:

”Perubahan itu mesti datang dari Guru itu sendiri. Menjadi guru dan mendidik adalah dunia saya. Bagaimanapun, saya akan menjalani dan mencintai. Apapun kondisinya.

Saya pernah mengajar di SD Wangunsari, Pamoyanan, Bogor, di kaki gunung. Kondisinya sangat minim, bahkan jarang guru yang mau mengajar di sana. Dindingnya dari kayu, bolong-bolong. Kalau kita mengajar, orang bisa menonton dari lubang itu. Ketika jam masuk belajar, guru belum datang, saya memimpin upacara sendiri.

Guru umumnya tidak punya keingin¬an untuk menjadi lebih baik. Kalau saya datang pagi, rekan guru bilang ”Pak kenapa datang pagi-pagi.?”. Kita sebagai guru sering terjebak rutinitas. Ada guru kelas VI mengajarkan peta dunia, tapi dia sendiri tidak tahu di mana letak Warung Jambu di kota Bogor. Di mana pun saya mengajar, selalu sepenuh hati... Kalau anak tak masuk 3 hari, saya kunjungi.

Melihat kondisi sekolah SD Wangungsari, bersama kepala sekolah kami mencari dana bantuan. Dapatlah Rp. 60 juta, dan dari situ dapat membangun 2 lokal. Kemudian saya dimutasi ke tempat sekarang, SD Polisi IV. Saya minta, kalau saya dipindahkan, harus dicarikan 2 orang pengganti saya sekaligus.

Mengikuti panggilan menjadi guru, adalah masalah hati. Sedikit sekali saya dan rekan-rekan guru diajari bagaimana mengajar total dengan sepenuh hati.

Dari mana dorongan yang kuat menjalani tugas guru, meski honor tak memadai? Menjawab itu, saya merasa kekuatan datangnya dari dalam diri dan jiwa saya. Pengaruh dari luar sedikit saja.

Menyiasati perubahan yang akan dilakukan di sekolah, diawali dengan pembelajaran. Cari model-model pembelajaran yang bisa mencakup gaya belajar semua siswa, dengan pemanfaatan media. Apalagi kalau mengajar dengan inovasi, hasil akhir akan lebih bagus lagi.” TG

BIODATA
 Wakil Kepala Sekolah SDN Polisi IV, Kota Bogor.
 Lahir di Bandung, 22 Juli 1972
 Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pakuan, 2004
 Magister Manajemen Pendidikan, Pasca Sarjana Univ. Pakuan, 2007
 Berbagai pelatihan di Bogor, Bandung, Jakarta, Perth (Australia), Penang (Malaysia)/
 Menulis 16 item buku, dan sekaligus menjadi writer coordinator di penerbit Epsilon dan Genesindo, Bandung.
 Anggota tim pengembang Kurikulum Disdik Kota Bogor, pembina generasi muda, anggota Komunitas Matematika Nalaria Realistik-Bogor, dan banyak aktifitas lain.
 Penghargaan Juara I –Guru SD Berprestasi tingkat Nasional (2006), setelah sebelumnya juara I di tingkat Kota Bogor dan tingkat Propinsi Banten.
 Juara Harapan I Lomba Keberhasilan Guru dalam pembelajaran tingkat nasional.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.