Tampilkan postingan dengan label guru profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru profesional. Tampilkan semua postingan

April 30, 2010

ANDA KAH GURU KLASIKAL ITU?

SD Rudrapur di Bangladesh, meskipun di desa tetapi menerapkan pembelajaran berbasis anak.



Jika dihitung, kurang lebih 12 tahun sudah saya menjalani profesi guru.

Saat kali pertama mengajar, saya mirip seorang dosen. Saya benar-benar memonopoli kelas dan selama 80 menit (2 jam pelajaran), yang terdengar hanyalah suara ceramah saya, sang guru pemula. Tidak ada interaksi interaktif kelas yang dinamis, monoton, sungguh sangat tidak kreatif. Ilmu-ilmu paedagogi di bangku kuliah hanya mampu menyumbang 10%, selebihnya 90% mengajar cara dosen. Hanya karena intuisi dan bakat keguruan, saya tetap eksis menjalani profesi luar biasa ini.

Tujuh tahun kemudian, Maret 2003 di Bogor, saya merasa baru mengalami lompatan perubahan cara pandang bagaimana seharusnya guru mengajar dikelas. Waktu itu, saya mulai mengalami disorientasi paradigma tentang cara mengajar. Dari model mengajar klasikal (ceramah-monologis) dipaksa berubah menjadi mengajar cara modern (kreatif-multidialog) dengan bantuan games-games.

Saya dan murid-murid menikmati sekali menggunakan games kreatif. Dan hampir di tiap momen pengajaran, murid selalu aktif untuk memainkan games-gemes. Contoh; waktu membahas materi kecepatan (pelajaran fisika), saya awali dengan cerita heroik tragis, yaitu final lomba sprint 100 meter Olimpiade Seoul.

Ben Jhonson (Kanada) dan Carl Lewis (AS) berlomba menjadi manusia tercepat. Di final, Ben jawara, memecahkan rekor menjadi 9.88 detik. Rekor fantastis yang hampir tak mungkin dilakukannya. Sei olah Ben Jhonson berlari sederas kijang dikejar cheetah. Singkat cerita, investigasi Komite Olimpiade Internasioanal (IOC) menemukan Ben Jhonson positif menggunakan doping jenis anabolik steroid -- jenis perangsang yang akan memberikan efek lari seperti dikejar setan bagi pemakainya.

Kejadian ini membuat karir Ben Jhonson berantakan, dan berakhir tragis. Di momen ini, saya menstimulasi siswa dengan penguatan nilai, kejujuran dan sportifitas akan mendatangkan kemenangan sejati sedangkan kecurangan akan berakhir kekalahan, rasa malu, dan kehancuran.

Itulah intro atau pengantar, atau scene setting sebelum mempelajari materi kecepatan. Scene setting, adalah sebuah strategi mengajar untuk membangkitkan minat dan rasa penasaran, serta memberikan pengalaman belajar sebelum masuk ke materi inti. Sebab, 99% pembelajaran akan berhasil tergantung pada menit-menit pertama yang membuat penasaran itu.

Intro atau scene setting ini dilanjutkan dengan aktifitas mengikuti kompetisi ‘lari cara fisika’ untuk memperebutkan gelar manusia tercepat di kelas. Di antara siswa ada yang bertindak sebagai pencatat waktu, juri, sisanya suporter. Aktifitas kreatif menjadi kegiatan inti selama mempelajari “kecepatan”, tentu selain pelaporan hasil menghitung kecepatan lari setiap siswa. Setiap anak antusias melaporkan atau mempresentasikan hasil perhitungan lombanya.

Lima tahun berselang, peristiwa di atas mengagetkan penulis ketika membaca artikel Thomas Amstrong, PhD, penulis buku “multiple intelligences in the classroom”. Kata Amstrong, “aplikasi multiple intelligences di kelas dapat dilakukan dengan menyediakan delapan jalur potensi yang berbeda untuk belajar”.

Pendapat Thomas Amstrong: “Saat anda mengajar atau belajar, Anda dapat menghubungkannya dengan:
1. Kata (kecerdasan linguistik)
2. Angka (kecerdasan logis-matematika)
3. Gambar (kecerdasan spasial)
4. Musik (kecerdasan musik)
5. Refleksi diri (kecerdasan intrapersonal)
6. Pengalaman fisik (kecerdasan kinestetik-jasmani)
7. Pengalaman sosial (kecerdasan interpersonal)
8. Sebuah pengalaman di dunia alami (kecerdasan naturalis)

Sebagai contoh, jelas Amstrong, jika Anda mengajar/belajar tentang hukum penawaran- permintaan (ekonomi), Anda dapat membaca tentang hal ini (linguistik), belajar matematika rumus yang menyatakan itu (logis-matematis), memeriksa grafis bagan (spasial), mengamati hukum dalam dunia alam (naturalis) atau dalam perdagangan dunia manusia (interpersonal); mengkaji hukum di tubuh Anda sendiri [misal rasa lapar atau kenyang (tubuh-kinestetik dan intrapersonal), dan/atau menulis lagu, atau menemukan lagu yang sudah ada (musik).

Guru Klasik dan Guru Profesional, Mana Bedanya?

Tidak sulit menemukan guru berkategori klasik. Tipe ini mayoritas yang konsisten.

Juga, tidak mudah mendapati guru ber-indikasi profesional, sebab biasanya mereka adalah orang muda fresh graduate yang bukan Guru pegawai negeri, tipikal idealis dan selalu mencari bentuk model mengajarnya. Guru seperti ini senang ketika siswa menemukan spesial momennya, tiba-tiba mengatakan, “wow... sekarang saya mengerti…” bahwa ternyata pelajaran matematika sangat mudah setelah berhasil memecahkan problem matematika. Tiba-tiba saja, matematika bukan momok menakutkan lagi.

Ketahuilah bahwa mencari bentuk model mengajar adalah sesuatu yang “gampang-gampang, sulit”. Guru yang sudah merasa ‘mapan’, dengan status kepegawaian tertentu, berusaha konsisten mempertahankan model mengajarnya-- masa bodoh dengan penemuan gaya mengajar, gaya belajar siswa, pembelajaran kreatif, masa bodoh dengan quantum learning, yang penting siswa mampu menjawab soal ujian nasional.

Guru seperti ini mengingkari hakekatnya sebagai ‘agent of change’, serta mengkhianati prinsip “the best process learning”. Ia anti perubahan.
anyak ciri merujuk tipe Guru klasik ini, diantaranya:
1. Meyakini bahwa ketika guru mengajar maka murid akan belajar.
2. Perencanaan mengajar terletak pada bagaimana guru mengajar kemudian murid mengerti.
3. Proses belajar mengajar yang ideal, murid harus duduk diam mendengarkan penjelasan guru (proses ceramah-monologis).
4. Tidak lagi membuat lesson plan, mengandalkan pengalaman mengajar bertahun-tahun, telah ada di kepala. Lesson plan yang ada sudah usang, dibuat kali pertama saat mengajar.
5. Terbaik dalam keadaan sunyi, hening --memperhatikan guru atau saat closing test.
6. Suasana kegiatan belajar mengajar kelas lebih dominan menggunakan otak kiri.
7. Interaksi guru - murid kaku, sebatas ceramah monolog, tidak ada program pendampingan siswa.
8. Sumber belajar terbatas buku ajar dan ruang kelas yang sunyi, sepi. Semakin diam kelas makin berhasil KBM di kelas itu.

Lesson Plan, Bukti Profesionalitas Guru

Karena banyak sekali guru yang belum membuat rencana pengajaran (lesson plan), proses pengajaran tidak maksimal. Terbukti, Indonesia menempati urutan 102 dari 106 negara di dunia dalam pendidikan. Data yang dirilis OECD (Programme for International Student Assessment (PISA) 2007, peringkat kualitas matematika, reading, sains dan problem solving menempati peringkat kedua dari bawah setelah Tunisia.

Lesson plan adalah ‘prosedur proses pengajaran’, tanpanya sulit mengontrol kualitas guru dan kualitas pembelajaran di kelas yang berhubungan dengan prestasi siswa.

Bobbi De Porter, saat ceramah umum Quantum Learning for Indonesian Teacher di gedung Depdiknas -Jakarta, bahwa “proses belajar mengajar adalah sebuah pekerjaan seni yang profesional dan mempunyai Management Quality Control dalam pembelajaran’. Guru yang menerapkan teknik mengajar dengan pendekatan multiple intelligences mampu memantik kecerdasan siswa. Karenanya, cepatlah tanggalkan predikat Guru klasik.TG

Alamsyah Said
Staf litbang dan konsultan lesson plan Sekolah Alam dan Sains Al-Jannah, Jakarta.
Trainer Global Learning Centre (GLC), Jakarta.

Tulisan ini diterbitkan pada edisi No. 10 / Vol.04 / Thn 2010. Dapatkan majalah pendidikan Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Berlangganan SMS ke (Flexi) 021 684 58569. Terima kasih.

April 29, 2009

Membangun Mentalitas Pembelajaran



Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Pakar dalam psikologi
perusahaan dan sumberdaya manusia.
(Ditayangkan di KOMPAS, 15 Maret 2008)

Meskipun pendidikan dan pembela­jaran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan bagai dua sisi dalam satu koin logam, kita sering terjebak pada paradigma yang tidak komplit. Kita sering mengkonotasikan tidak lancarnya pendidikan de­ngan gaji guru yang kurang, sekolah yang kurang dana, sekolah yang rubuh, ataupun kurikulum yang cenderung tidak berubah. Sementara proses pembelajarannya sering tertinggal dan tidak didalami.

Kita pasti bisa mengenali betapa banyaknya hambatan yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan lancar dan betapa kita sering menutup mata pada keluarannya. Kita sering tidak mempelajari ”kondisi lapangan” beserta kompleksitasnya sehingga kita tidak tahu apakah pembelajaran ”kena” atau tidak. Belum lagi, kesempatan ”benchmark” atau ”studi banding” sering tidak kita manfaatkan betul sebagai ”pelajaran”.

Kita pasti sadar betapa sering kita membuang muka, dan pura-pura tidak tahu mengenai kesalahan pemahaman, persepsi, ketidakjelasan dalam proses pembelajaran yang tidak kita benahi sampai tuntas. Bahkan, hal yang paling mudah dipersalahkan adalah programnya, pelatih, guru atau dosennya, atau sekalian saja lembaganya.

Ketika Peter Senge (1990) mengeluarkan bukunya Fifth Discipline banyak organisasi terhenyak dan menyadari betapa mereka hanya berkonsentrasi pada upaya mengajar tetapi tidak berfokus pada pembelajaran. Kita pun, di Negara tercinta ini juga terhenyak bila melihat bahwa pembelajaran yang kita hasilkan sesudah merdeka ini kalah oleh negara tetangga yang pernah mengimpor guru dan dosen dari Indonesia.

Kita sangat menyadari bahwa sebenarnya pembelajaran, yang tidak selamanya merupakan hasil dari sekolah dan universitas, banyak gagal ketika kita tahu bahwa mayoritas penduduk masih mau menelan nilai-nilai yang tidak produktif dan positif, serta “awareness” yang kurang terhadap kemanusiaan, lingkungan, moral yang pada akhirnya membawa perlambatan pembelajaran, kalau tidak sampai pada pembodohan.

Peter Senge berpendapat bahwa pembelajaran terjadi bila individu secara teratur diberi ruang untuk me­nemukan dan mengkreasikan realitas yang dihadapi atau dipelajarinya. Dengan demikian, individu dalam setiap tahapan menjadi manusia yang baru, bisa melakukan, memahami atau menghayati se­suatu yang sebelumnya belum dialaminya, bisa mempunyai persepsi yang berbeda terhadap realita yang dihadapinya, dan menjadi bagian dari terbentuknya generasi yang punya paradigma baru.

Untuk menjadikan sebuah organisasi atau bahkan negara pembelajar, kita memang perlu meninjau dan membangun kembali beberapa aspek sikap mental. Hal-hal ini perlu kita tekuni dan yakini dengan penuh kesabaran, sehingga menjadi sebuah kumpulan keyakinan dan obsesi kita.

Jangan Meraba-raba
Secara “back to basic” marilah kita tinjau sikap kita mengenai akurasi dan presisi. Kita perlu belajar untuk tidak asal cuap, ngawur, atau mengira-ngira data dan fakta yang sebenarnya bisa dicari dan dibuktikan. Sudah banyak contoh membuktikan bahwa ketidakakuratan dalam pencarian fakta menyebabkan negara rugi bermilyar-milyar US dollar. Dan, karena mayoritas masyarakat sudah terbiasa hidup dalam ketidakakuratan, menyukai “plesetan”, tidak ada pihak tertentu yang berobsesi untuk memperoleh data yang benar.

Eksperimen dan Riset Tak Selalu di Laboratorium
Dari seorang eksekutif yang berhasil, saya belajar bahwa dalam kegiatan sehari-harinya ia banyak memberi judul “riset” atau “eksperimen” terhadap kegiatan-kegiatan ”mencari tahunya”. Misalnya,”Saya sedang meriset, kamera mana yang paling baik di beli Canon atau Nikon” atau “Saya sedang melakukan eksperimen, apa efeknya kalau saya makan sawi saja selama seminggu”. Tanpa disadari, eksekutif ini melakukan pembelajaran yang sistematis dan meningkatkan kesadarannya dalam memperoleh pengetahuan baru.
Ini sangat berguna bagi kita yang memang selalu harus memperluas cakrawala, mendapat ide-ide baru melalui kesulitan dan kesempatan yang kita alami.

Belajar di Mana Saja, Pada Siapa Saja
Dalam budaya paternalistik yang kita pegang, paradigma bahwa otoritas adalah yang paling tahu, paling bijak dan paling menguasai masalah, tentunya harus kita hapus cepat-cepat, karena menghambat pembelajaran. Sudah waktunya kita mengerahkan siapa saja untuk belajar dari mana saja dan siapa saja, serta menguakkan, mengadopsi, menganalisa, menemukan persepsi dari sisi lain ”best practise” dalam implementasi, penyelesaian pekerjaan, sikap kerja.

Best practice yang sangat bisa kita tiru adalah banyak organisasi yang kini komit untuk menerapkan sistem ’lesson learnt’, di mana kesalahan dan perbaikan sistem akan disebarluaskan ke seluruh organisasi dan diperlakukan sebagai studi kasus, sehingga setiap individu yang tidak mengalaminya akan belajar dari kejadian ini juga. Beberapa organisasi menyebutkan ke­giatan ini sebagai ”Santayana Review” yang berasal dari ahli filsafat George Santayana yang pernah menyatakan: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”

Kita juga bisa belajar kembali, bagaimana cara kita mengajukan pertanyaan dalam mengambil keputusan, menggali pendapat dan masukan orang lain, apakah bawahan, atasan, para ahli bahkan para remaja. Pengetahuan sudah bukan milik elite tertentu lagi. Kita bodoh kalau menghambat tersebarnya segala macam pengetahuan di organisasi kita. Tentunya cara yang ”friendly” untuk menyebarkannya perlu dicari dan disesuaikan dengan situasi massanya.

Bagaimana dengan Anda para Guru? Tidak cukup kan kalau hanya bermo­dal bisa mengajar dan membuat pe­rencanaan serta lembar kerja siswa? Perlu membuka mata hati agar jati diri kita sebagai Guru makin mumpuni. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan SMS ke 0856 8040 385.

April 28, 2009

Pipip Rosida: SDN SUKADAMAI 3 yang Suka Damai


TRANSFORMASI MENUJU SEKOLAH UNGGULAN

Perjalanan pengalaman Drs. PIPIP ROSIDA EK, Kepala
Sekolah SDN Sukadamai 3 Budi Agung, Bogor, peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi 2007 tingkat nasional, mengubah sekolah inpres yang sederhana menjadi sekolah unggulan (RSBI) yang berhasil dalam berbagai aspek berkat dukungan masyarakat.




Kilas Jaman
Sekolah Sukadamai 3 berdiri tahun 1984. Awalnya ada 3 lokal. Beratap asbes, kiri kanan asbes, lantai semen. Pada 13 mei 1997, Pipip diangkat jadi kepala sekolah.

”Sekolah ini ada di lingkungan komplek perumahan, tapi tidak ada yang berminat sekolah di sini. Saya kaji dan uji secara teliti, bersilaturahmi dengan RT/RW dan tokoh masyarakat. Kini murid sudah 1.227 orang, dengan area sekolah bertambah luas , mampu membeli tanah, dan membangun secara bertahap.”

Mengubah antipati jadi simpati, mudah-mudahan (jadi) empati
”Pertama sekali, Guru saya minta merenung. Mau maju? Apa yang harus dilakukan? Tak perlu tata tertib. Yang penting komitmen, yang diawali dengan mengisi lembar isian. Mau masuk (sekolah) jam berapa, mau pulang jam berapa, tentukan sendiri dan tandatangani sendiri. Ketika kesiangan, saya tinggal menunjukkan kertas komitmen tadi. Akhirnya, saya dapatkan Guru yang penuh komitmen.

Guru dari Diknas dan hasil rekruitmen sendiri saling bahu membahu.
Guru yang direkrut sendiri, berdasarkan kebutuhan aktual, yakni bisa bahasa Inggris, komputer, dan harus bisa mengajar. Tes nya bukan saja akademis. Mereka semua mencintai dunia pendidikan. Pekerjaan harus dicintai! Dan bekerja dengan hati.”

Dari mana perubahan itu?
”Saya ibaratkan sekolah seperti perahu. Di perahu itu ada kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, komite. Ketika ada yang bertanya: ’ pak mau kemana?, saya jawab ke Kalimantan. Tapi orang lain bertanya ke guru lain, jawabnya ke Sumatera. Lalu tanya ke siswa, jawabnya berbeda. maka tak akan sampai tujuan sekolah ini. Semua harus sama, menyamakan persepsi. Saya tidak sendiri, tapi bersama dengan guru dan masyarakat’.

Hambatan, tantangan, kendala, ancaman, gangguan sudah pasti ada. Semua diselesaikan melalui kejelasan visi, program yang jelas, realistis, yang tidak di awang-awang, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saya menyentuh hati guru, sesuatu yang tidak terbaca. Kalau sakit hati obatnya hati.
Guru tidak perlu berkeluh kesah, karena rizki Allah yang atur.
Guru harus tahu peranan, tahu tupoksi (tugas pokok dan fungsi) nya. Mereka harus tahu, semua stake holder memiliki keinginan bersama.

Setiap hambatan pasti ada penyelesaian. Masalah itu timbul karena harapan dan kenyataan tidak bersahabat. Sahabatkan saja dulu. Kalau jauh, ya dekatkan dulu. Skala prioritas menentukan program-program, me­lalui kajian dan pengujian secara teliti.

Dulu, Guru sedikit-sedikit ngobrol tak berguna. Kini, bahan yang diobrolkan lebih profesional. Setiap tahun saya dievaluasi. Saya minta 10 sikap kepala sekolah yang tidak disenangi guru, lengkap dengan 10 sikap yang disenangi. Saya jadi kepala sekolah juga di SK kan oleh orang lain. Paling tidak, sebagai orangtua kita melayani anak, dengan senyum dan kata-kata positif. Hukuman tidak perlu dengan fisik, atau intimidasi. Intimidasi hasilnya akan intimidasi lagi.

Masa orientasi (MOS) bukan hanya untuk siswa, namun juga orang tua. Selama dua hari, wajib bagi suami istri hadir, agar paham program sekolah dan paham kurikulum. Di sini banyak hidden curriculum, sehingga langkah sekolah selalu dapat dipahami orang tua. Kalau ada yang ingin tahu sekolah ini, silakan diskusi dengan orang tua. Boleh tanya apa saja pada mereka. ”

Damai pada Guru
”Jika ada mangkir atau berbuat tidak sesuai dengan keinginan kelompok, maka yang menghakimi bukan pimpinan atau kelompok, tapi dirinya sendiri, karena tidak ada teman yang mengajak ngobrol. Ini dinamika sosial. Guru yang sudah PNS, saya sebut Profesional, Netral, Sejahtera. Jadi harus memberi teladan pada yang lain

Setiap jum’at ada diskusi kelompok. Setiap Guru guru diberi penghargaan untuk memimpin diskusi. Bukan penghargaan materi, karena penghargaan materi akan menghancurkan visi.”

Kunci sebagai kepala sekolah: terbuka, dan jujur
” TERBUKA, bukan saja soal keuangan tapi juga saat menyusun program. Apa yang diinginkan, aturannya bagaimana. Kalau tidak dilibatkan, Guru menjadi tak perduli.
JUJUR, dalam bersikap, bertindak . Kalau saya dapat hadiah, saya minta dibagi secara adil, termasuk untuk saya. Jadi jangan khawatir, rezeki Allah yang mengatur...

Tidak ada Guru kerja di luar, mi­salnya memberi les di luar sekolah. Kalau itu permintaan orangtua dan komitmen disepakati, dan diketahui oleh kepala sekolah, boleh. masih bisa lah. Tapi kalau guru menyuruh harus les, itu yang tidak boleh. Tidak boleh ada guru yang membohong pada masalah ini. Kalau kita terbuka, guru pun terbuka. Di sini tidak ada yang ngeriung membicarakan yang tidak perlu. Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Tanpa reward (hadiah), jalan terus. Jangan melihat ke atas, lihat ke bawah saja. Kita bersyukur saja terus.”
***

Bermain Makna
Pipip suka bermain kata. Dibuatnya akronim dari kata SDN (Sekolah Dasar Negeri) SUKADAMAI TIGA, dengan mengartikan masing-masing huruf:
S - sekolah letaknya strategis
D - dekat tapi mengapa muridnya tidak ada
N - nerima siswa sesuai potensiya
S - school based management, atau sekolah balik magrib (plesetannya-red), atau sekolah boga masyarakat. sebab orangtua murid banyak yang bekerja di Jakarta, kami harus menemui para orangtua dan tokoh masyarakat selepas magrib, untuk berdialog. Jadilah saya pulang jauah setelah maghrib. Lambat laun ada yang nyumbang satu sak semen, dan material lain. Makin banyak orang tua yakin setelah paham program sekolah.

Kalau sekolah boga masyarakat, kita cari apa harapan masyarakat. Sekolah ini punya masyarakat, bukan punya kepala sekolah. Kapan pun saya pergi, sekolah harus jalan terus. Kalau menyusun program, saya melibatkan stakeholder. Kalau sekolah lain, cukup para pengurus komite, disini tidak bisa. point detailnya dibicarakan.

U - utamakan layanan masyarakat. Guru mengutamakan layanan siswa, kepala sekolah mengutamakan layanan masyarakat luas. Masyarakat maapun boleh masuk, tidak ada yang ditolak, kecuali tidak ada tempat. Masyarakat yang majemuk dapat kami satukan. Ada kelompok pengamat, kritikus, pemikir, pekerja. Sekolah ini besar karena kritikan. Oranglain tidak akan mengkritik kalau kita tidak punya kesalahan.

K- kurikulum KTSP, berbasis kompetensi. Guru dilatihkan KTSP, agar paham, mana separated subject curriculum (kelas 4-6); mana integrated curriculum (kelas 1-3)...

Ini kami jelaskan pada orang tua sepenuhnya. Untuk integrated curriculum, yang dibentuk adalah karakter dan budaya. Kejujuran menjadi kunci utama. Kami kaji multiple intelegence.

A- active learning, sebagai roh dan jiwanya. Siswa sebagai subjek, bukan objek. Nama boleh apa saja, mau pakem, atau paikem gembrot, CBSA, tapi roh dan jiwanya harus active learning. Secara alamiah, anak merasa bosan kalau Guru membosankan.

D- democratic teaching, Di sini anak dilibatkan untuk menyusun tata tertib. Antara guru dan kepala sekolah tidak ada sekat batas, baju kita saja sama.

A- aktif, kreatif, inovatif, agar sekolah jadi produktif.

M- mengembangkan IQ, EQ, SQ –otak, otot, dan watak. Kalau ingin senang, kuasai seni. Kalau ingin menang, kuasai iptek. Kalau ingin tenang, kuasai ilmu agama. Dulu otot besar bisa jadi jagoan. Sekarang otot kecil harus mengalahkan, dengan kekuatan otak.

A- assurance quality, jaminan mutu jelas. Kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM) harus dicapai. Yang di bawah KKM, jalani remedial, yang diatas kasih pengayaan. Tapi kami tidak ingin melabelkan ini dalam marketing. Tidak ada pelabelan itu di sekolah kami. Saya tidak mau label-label itu dijual, sebab itu membohongi, biarkan orang tahu dari proses-prosesnya. Buat apa menjual kucing di dalam karung. Termasuk dalam penilaian guru, yang menghakimi guru bukan saya, tapi masyarakat. Assurance quality nya adalah masyarakat.

I- inovatif dalam pengembangan program. Jadi jangan tersandung batu yang sama. Invoasi ! Ikuti perkembangan dunia. Kini bukan IQ, tapi EQ yang menentukan kehidupan masyarakat. Dulu kami satu-satunya sekolah negeri yang tidak punya ranking. Karena yang ranking 1 jadi sombong, yang di bawah jadi kasihan.

T- tata tertib dijadikan pedoman warga sekolah (tidak tertulis). Saya suntikkan ke hati, bukan saya tempel di dinding. Di sini guru mau pulang silakan, mau kerja silakan. Saya mau memberi pekerjaan kepada guru yang sibuk. Sebab orang sibuk itu punya prioritas.

I- informasi terbagi rata. Ke semua guru, orangtua murid, atau masyarakat, semua tahu apa yang menjadi program sekolah, dan apa yang sudah dan akan dilaksanakan.

G- gairah dalam melaksanakan tugas
A- action (pelaksanaan) saat melaksanakan tugas harus disiplin.

Itulah Pipip, kepala sekolah SDN Sukadamai 3, Bogor. Suka damai, suka membuat gagasan-gagasan dalam kata-kata yang penuh tenaga. Share (berbagai rasa), care (peduli), dan fair (adil) didengungkan untuk meng­ubah diri sendiri. Hingga akhir perjumpaan, Pipip masih memberi kata bertuah yang bersayap:

”Menghapuskan yang miskin tidak akan habis, sebab yang miskin itu akibat adanya orangkaya. Yang kaya makin banyak dan yang miskin juga akan bertambah.

Berantas kebodohan, tidak akan habis, sebab yang pintar akan bertambah. Sesungguhnya tdak ada yang bodoh dan pintar, yang kaya dan miskin. Yang ada itu yang rajin dan malas. Yag rajin akan pintar dan kaya. Yang malas akan bodoh dan miskin. Setiap individu itu unik, setiap orang punya kelemahan dan kelebihan”.

Perjalanan pengalaman Drs. PIPIP ROSIDA EK, Kepala Sekolah SDN Sukadamai 3 Budi Agung, Bogor, peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi 2007 tingkat nasional, mengubah sekolah inpres yang sederhana menjadi sekolah unggulan (RSBI) yang berhasil dalam berbagai aspek berkat dukungan masyarakat. TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Prof. Gumilar R. Somantri : Minta Gaji Bagus, tapi Horizon Sempit


Prof. Dr. der.Soz.Gumilar Rusliwa Somantri
Rektor Universitas Indonesia


Rektor yang tampil dandy dan gemar bermusik ini –gabung dalam the Professor Band-- menerima Teachers Guide di ruang kerjanya. Beliau menjelaskan peran pendidikan dasar menengah, dan respon perguruan tinggi atas mutu pendidikan di tingkat menengah.

UI kini masuk rangking ke 5 bersama dengan MUS, Mahidol, University of Philippine, University of Malaya, sebagai perguruan tinggi yang punya reputasi tinggi”. Kata Pak Rektor dengan bangga. Namun ketika ditanya pendapatnya tentang kualitas pendidikan di tingkat bawahnya, pak Rektor menghela nafas.........hhhmmm.

Pak Rektor prihatin melihat lulusan SMA, yang belum merata, meski dalam empat tahun terakhir ini relatif membaik. Ini kerja keras pemerintah melakukan pemerataan. Kualitas terbaik masih datang dari kota-kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung dan Surabaya. Upaya untuk meratakan kualitas di SMA, merupakan hal penting.

” Kunci kualitas ini pada guru. (Nah lo.....) bukan hanya sertifikasi, yang sifatnya administratif, tetapi substansi mutu guru. Profesionalisme selalu menyangkut 3 hal: etik, skill, dan renumerasi yang baik. (Setujuuu.....)

Empat tahun terakhir ini para guru relatif banyak diperhatikan. Tapi kita harus mengubah mind-set. Jangan hanya minta gaji bagus, tapi tak mau meningkatkan diri. Jangan kita berlaku curang, tidak adil, menjadikan negara dan sekolah sebagai tunggangan. Kita mentolerir kemalasan, tidak mau membaca, tidak memperluas horizon, memberikan anak-anak ala kadarnya. Kan celaka! (iya pak...persisnya begitu dah)

Kalau guru segitu-gitu saja kemampuannya, dan tidak mampu memperbaiki diri, ini dosa besar! Guru yang berhorizon luas, banyak baca, bijak, akan mampu memotivasi anak dan melahirkan anak-anak hebat di masa datang. Kalau generasi/bangsa ini tidak bisa melakukan apa-apa di masa datang, yang salah itu para guru. (hiyyyaaa......kena lagi)

Sebelum masuk mengajar, Guru sudah harus baca koran. Pikirannya terbuka, perspektif luas. Menyampaikan bahwa kita ini bagian dari dunia yang besar. Bicara problem perubahan iklim, krisis ekonomi, kemiskinan, penduduk makin banyak, akan terjadi apa akibatnya bagi bumi ini. Coba lihat, sawah-sawah dipakai rumah. Lihat gedung disambung rumah-rumah gubuk. Orang di jalan naik motor ngebut, tidak ada sopan santun, inikah bangsa kita, inikah peradaban bangsa kita? Banyak hal yang perlu dibangkitkan dari siswa.


uru-guru idealis dan profesional, jumlahnya harus diperbanyak. Pendidikan kita sudah di jalur yang tepat, tapi perlu akselerasi (dipercepat) lagi dalam peningkatan dan pemerataan kualitas dan internasionalisasi.


Profesionalisme itu (skill, etik, renumerasi) tidak hanya sekedar untuk profesionalisme saja, atau agar kualitas pengajaran makin bagus. Profesionalisme guru juga untuk membangun citra, persepsi, juga gengsi. Sekarang ini profesi guru (masih dianggap) pekerjaan kelas rendah, jauh dibanding profesi insinyur atau dokter. Jarang orang bangga menjadi Guru (hiik.... betul pak)

Sejarah membuktikan, bangsa hebat saat ini, karena pendidikannya baik, dan di dalamnya ada guru-guru yang mempunyai profesionalisme tinggi, kesadaran, etos kerja, dan idealisme untuk mengembangkan diri.

Selain kualitas guru, proses mengajar di SMA akan baik kalau infrastruktur memadai. Ruang kelas bagus , ada penggunaan IT – infocus, pengenalan IT, wifi, teleconference. Kurikulum dibangun dengan baik. Saat ini, banyak yang terlalu formal, bersifat memaksakan, dan seringkali kita juga salah menafsirkan substansi kurikulum.


Juga penting, metoda pengajaran, atau cara penyampaian. Metoda KBK itu baik –problem base learning- tapi pendalaman implementasinya banyak yang hanya basa-basi.


Infrastruktur penunjang agar proses pendidikan baik, perlu disediakan mushola yang memadai, lapangan olahraga memadai, ruang terbuka, library yang bagus, ruang bagi siswa untuk melakukan aktifitas seni dan berorganisasi, juga fasilitas untuk pengajar. Sehingga dalam proses belajar-mengajar soft skill juga ditanamkan di samping hard skill. Sehingga kalau masuk ke universitas, mereka tidak kaget.’

Kami senang kalau kualitas pendidikan SMA dari Sabang sampai Merauke merata. Siswa terbaik dari tiap daerah bisa terjaring, sehingga tujuan kami membuat UI jadi mozaik Indonesia dapat tercapai tanpa sulit mempertahankan kualitas input yang dapat mempengaruhi proses belajar-mengajar di UI.

Republik ini punya jumlah anak-anak berbakat yang luar biasa. Kalau mereka dibimbing oleh tangan yang tepat –the best teachers- di sekolah yang bagus- akan luar biasa. Kita masuk di era Abad 21, yang disebut the Gobal War of Talent. Hanya bangsa-bangsa yang mampu mengembangkan bakat dan peradabannya, yang akan survive…

Sebaiknya, kita mulai pikirkan sebuah sistem pendidikan yang tidak gebyah-uyah (anggapan yang seragam-red)seperti sekarang. Sejak TK diasumsikan semua akan masuk perguruan tinggi, bahkan akan jadi doktor. Apa jadinya? Jumlah doktor kurang dari 10.000 untuk jumlah 250 juta orang, jauh lebih sedikit dari Israel (1 doktor tiap 50 orang) atau Singapura (Ya ampuuunnn...)

Sejak SD, siswa sudah mulai diarahkan. Sehingga tidak semua masuk SMP umum, sebagian SMP kejuruan, seperti dulu. Tapi lebih baik, laboratorium bagus, dan ada kerjasama dengan industri penyerap tenaga kerja. Nilai entrepreneurial sejak dini ditanamkan, sehigga tidak membeludak ramai-ramai masuk SMA dan akhirnya ramai-ramai menganggur. Pendidikan kejuruan diperbanyak tapi dengan melihat kebutuhan bangsa yang sedang kompetitif menopang segala bidang yang sedang kita kembangkan. Toh dalam kehidupan sehari-hari tidak semua jadi direktur. Jadi pekerja pun harus berskill bagus.

Di Jerman, sejak kelas 3 SD, sudah diatur yang punya kecerdasan praktikal-nya lebih tinggi (masuk Realschoole). Yang kecerdasan numerik tinggi masuk ke sekolah umum, ke Gymnasium lalu akhirnya ke perguruan tinggi. Bukan berarti yang masuk kejuruan tidak bisa masuk ke perguruan tinggi. Tapi diberi koridor, yaitu perguruan tinggi politeknik.

Potensi kita luar biasa. Tidak kalah, dan kita bisa. Sejahtera atau tidak generasi yang akan datang, tergantung pada kita membina mempersiapkan generasi muda, dipilah bakat dan minatnya, sehingga dia lulus dalam bidang yang disukainya, dan sesuai dengan kebutuhan bangsa. Ini berarti terserap langsung, sehingga bangsa ini diisi oleh orang orang yang berkualitas. Pekerja yang berkualitas, sampai direktur berkualitas. Kita semua mengejar jadi direktur, sehingga jadi direktur tidak berkualitas. Dengan penataan ini, di berbagai lapisan, semuanya berkualitas, dan memberikan sumbangan menopang bangsa sesuai dengan kemampuannya. Saat ini, kebanyakan pengambil keputusan pintar-pintar, tapi di bawahnya payah... (yesss......kena juga birokrat kita)

Semua sistem pendidikan ini approach-nya harus holistik. Karena yang harus kita bangun adalah kultur, mind set, dan etos dari bangsa ini."

Hmmm.... mantap ya kritik dan saran Pak Rektor. Coba semua ini bisa berpengaruh pada sistem pendidikan kita, apa nggak hebat Indonesia tercinta ini. Ayo lah para Guru, apa yang bisa kita kerjakan dulu. Teriak minta gaji, meperluas horizon, memprotes sistem, demo pada birokrasi, baca koran, mengubah sistem, perbaikan kurikulum..... atau apa? Yang mana dulu? Atau mau ketemu langsung dengan Pak Rektor Gumilar Rusliwa Somantri, yang gagah, keren, dan berhorizon amat luas. Salam dari kami pak rektor. Terima kasih segala kritiknya. Jadi input dan feed back yang mak nyuss.....TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.