April 29, 2009

GURU PROFESIONAL: Menurut Siapa?

Alasan menjadi guru, berpengaruhkah terhadap profesionalisme?

Setiap kita boleh saja mengklaim diri profesional. Pagi berangkat mengajar, sore baru pulang. Setiap hari tampil di muka kelas, tak pernah membolos. Mengajar dan mengajar adalah prioritas kita. Apakah kita tergolong profesional?

Disebut profesional, haruslah mendapatkan pengakuan lingkungan. Tak sekedar penegasan diri saja. Atasan, rekan kerja, masyarakat sekitar, bahkan murid-murid patut didengar pengakuan keprofesionalan kita. Bayangkan jika ada murid mengkritisi lantaran Anda mengajar membosankan.

Menjadi profesional memang tak mudah, nilainya selalu berubah. Dulu, berbekal ijazah SPG cukup, kini ijazah SLTA dipandang sebelah mata. Kadang guru yang lama mengajar (senior), dinilai sudah profesional. Guru di Aceh berbeda standarnya dengan di Jakarta atau Papua. Di sekolah bilingual, syarat guru profesional jika mahir berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Beberapa kendala profesionalisme:
* Materi: Uang menjadi faktor mahapenting -- untuk hidup, membeli buku, mengakses informasi. Tanpa uang, guru bertahan menggunakan buku-buku tua. Kurang uang, kerja sambilan yang mengurangi perhatian pada tugas utama.
* Gaya hidup: Guru juga manusia. Ketika merasa ‘kuno’, mencoba mengubah gaya penampilan, meski terpaksa berhutang kiri-kanan.
* Teknologi: Penggunaan komputer dan multimedia telah menjadi kebutuhan. Jika guru gagap teknologi, bagaimana?
* Infrastruktur pendukung: keterbatasan sekolah belum mampu menyediakan fasilitas memadai.
* Kesibukan di luar : Ada profesi lain atau terlibat kegiatan sosial, bisa mengurangi waktu untuk profesi. Perlu manajemen waktu yang baik.
* Pasangan hidup: Idealnya keluarga mendukung pilihan menjadi guru. Jika tidak, bisa menjadi beban karena tak ada keleluasaan.
* Intrik antar kolega: Sering ada perselisihan di tempat kerja, yang perlu diselesaikan dengan baik
* Pandangan rendah: Masyarakat dan dunia usaha belum menganggap sekolah/kampus dan guru sebagai partner.

Idealnya, seorang guru memiliki keseimbangan antara output dan input.

Output adalah segala bentuk pengeluaran yang didedikasikan guru -- waktu, tenaga, pikiran, maupun materi. Sedangkan input adalah segala yang diterima: penghargaan, gaji, kesempatan mengembangkan karir. Tanpa keseimbangan keduanya, guru mudah frustasi, yang memerosotkan kualitasnya.

Menilai Dasar Motivasi
Ada dua alasan memilih profesi ini. Pertama, yang menjadikan profesi guru sebagai kebutuhan (rohani). Mengajar, bagi mereka, sebagai pengabdian, bentuk tanggung jawab sosial, hobby, kerja patriotik, menyenangkan, bahkan ibadah (spiritual). Mereka ini toleran akan keterbatasan, menempatkan persoalan sebagai tantangan, haus ilmu, dan ingin terus berlatih.

Sedangkan kelompok kedua, yang memenuhi kebutuhan hidup (jasmani) dengan menjadi guru. Menjadi guru untuk mencari nafkah. Pengabdian dianggap hanya sebab-akibat. Bagi kelompok ini, bersiaplah kecewa mengingat penghasilan guru sangatlah terbatas. Mereka merasa aman sentausa setelah kebutuhan jasmani terpenuhi, di luar itu bukan urusannya.

Pada kenyataannya, tanpa mengurangi rasa hormat, kita mendapati begitu banyak kasus guru yang semata-mata mengandalkan hidupnya dengan berprofesi tunggal yaitu guru. Mereka sangat berdedikasi dan benar-benar mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk profesinya. Dari contoh kelompok ini, ada yang bisa hidup tentram penuh penerimaan, ada juga yang gelisah tak berkesudahan karena tak puas dengan penghasilan.

Nah, dari dua kelompok ini, mana yang lebih profesional? Keduanya sama-sama memenuhi syarat sebagai guru profesional jika ditinjau dari syarat domestik yang menjadi tuntutan.

Perbedaan Motivasi bukan Penghalang Menjadi Profesional
Tak ada hal yang abadi, termasuk motivasi kita menjadi guru. Yang awalnya memilih profesi guru semata demi mencukupi kebutuhan jasmani, suatu ketika bisa berubah. Pun sebaliknya.
Bahan diskusi kita adalah:
1. Standarisasi profesionalisme guru mendesak dilaksanakan, proporsional, dan tidak memihak.
2. Profesi guru idealnya dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani secara seimbang.
3. Kekurangan suatu daerah atau insti­tusi, bukan alasan untuk mengisolasi diri dari standar profesional
4. Hubungan vertikal dan horisontal antar insan guru sebaiknya dijadikan kekuatan untuk memecahkan masalah profesionalisme di lingkungan masing-masing, serta mo­dal mengatasi kekurangan individu, kelompok, maupun sekolah.
Siapkah guru menjadi profesional lahir batin sesuai dengan standar nasional, bahkan internasional? Waktu akan membuktikan. TG

Usep Suhud, M.Si
Mengajar di Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta
usep.suhud@globalsarana.com


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Membangun Mentalitas Pembelajaran



Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Pakar dalam psikologi
perusahaan dan sumberdaya manusia.
(Ditayangkan di KOMPAS, 15 Maret 2008)

Meskipun pendidikan dan pembela­jaran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan bagai dua sisi dalam satu koin logam, kita sering terjebak pada paradigma yang tidak komplit. Kita sering mengkonotasikan tidak lancarnya pendidikan de­ngan gaji guru yang kurang, sekolah yang kurang dana, sekolah yang rubuh, ataupun kurikulum yang cenderung tidak berubah. Sementara proses pembelajarannya sering tertinggal dan tidak didalami.

Kita pasti bisa mengenali betapa banyaknya hambatan yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan lancar dan betapa kita sering menutup mata pada keluarannya. Kita sering tidak mempelajari ”kondisi lapangan” beserta kompleksitasnya sehingga kita tidak tahu apakah pembelajaran ”kena” atau tidak. Belum lagi, kesempatan ”benchmark” atau ”studi banding” sering tidak kita manfaatkan betul sebagai ”pelajaran”.

Kita pasti sadar betapa sering kita membuang muka, dan pura-pura tidak tahu mengenai kesalahan pemahaman, persepsi, ketidakjelasan dalam proses pembelajaran yang tidak kita benahi sampai tuntas. Bahkan, hal yang paling mudah dipersalahkan adalah programnya, pelatih, guru atau dosennya, atau sekalian saja lembaganya.

Ketika Peter Senge (1990) mengeluarkan bukunya Fifth Discipline banyak organisasi terhenyak dan menyadari betapa mereka hanya berkonsentrasi pada upaya mengajar tetapi tidak berfokus pada pembelajaran. Kita pun, di Negara tercinta ini juga terhenyak bila melihat bahwa pembelajaran yang kita hasilkan sesudah merdeka ini kalah oleh negara tetangga yang pernah mengimpor guru dan dosen dari Indonesia.

Kita sangat menyadari bahwa sebenarnya pembelajaran, yang tidak selamanya merupakan hasil dari sekolah dan universitas, banyak gagal ketika kita tahu bahwa mayoritas penduduk masih mau menelan nilai-nilai yang tidak produktif dan positif, serta “awareness” yang kurang terhadap kemanusiaan, lingkungan, moral yang pada akhirnya membawa perlambatan pembelajaran, kalau tidak sampai pada pembodohan.

Peter Senge berpendapat bahwa pembelajaran terjadi bila individu secara teratur diberi ruang untuk me­nemukan dan mengkreasikan realitas yang dihadapi atau dipelajarinya. Dengan demikian, individu dalam setiap tahapan menjadi manusia yang baru, bisa melakukan, memahami atau menghayati se­suatu yang sebelumnya belum dialaminya, bisa mempunyai persepsi yang berbeda terhadap realita yang dihadapinya, dan menjadi bagian dari terbentuknya generasi yang punya paradigma baru.

Untuk menjadikan sebuah organisasi atau bahkan negara pembelajar, kita memang perlu meninjau dan membangun kembali beberapa aspek sikap mental. Hal-hal ini perlu kita tekuni dan yakini dengan penuh kesabaran, sehingga menjadi sebuah kumpulan keyakinan dan obsesi kita.

Jangan Meraba-raba
Secara “back to basic” marilah kita tinjau sikap kita mengenai akurasi dan presisi. Kita perlu belajar untuk tidak asal cuap, ngawur, atau mengira-ngira data dan fakta yang sebenarnya bisa dicari dan dibuktikan. Sudah banyak contoh membuktikan bahwa ketidakakuratan dalam pencarian fakta menyebabkan negara rugi bermilyar-milyar US dollar. Dan, karena mayoritas masyarakat sudah terbiasa hidup dalam ketidakakuratan, menyukai “plesetan”, tidak ada pihak tertentu yang berobsesi untuk memperoleh data yang benar.

Eksperimen dan Riset Tak Selalu di Laboratorium
Dari seorang eksekutif yang berhasil, saya belajar bahwa dalam kegiatan sehari-harinya ia banyak memberi judul “riset” atau “eksperimen” terhadap kegiatan-kegiatan ”mencari tahunya”. Misalnya,”Saya sedang meriset, kamera mana yang paling baik di beli Canon atau Nikon” atau “Saya sedang melakukan eksperimen, apa efeknya kalau saya makan sawi saja selama seminggu”. Tanpa disadari, eksekutif ini melakukan pembelajaran yang sistematis dan meningkatkan kesadarannya dalam memperoleh pengetahuan baru.
Ini sangat berguna bagi kita yang memang selalu harus memperluas cakrawala, mendapat ide-ide baru melalui kesulitan dan kesempatan yang kita alami.

Belajar di Mana Saja, Pada Siapa Saja
Dalam budaya paternalistik yang kita pegang, paradigma bahwa otoritas adalah yang paling tahu, paling bijak dan paling menguasai masalah, tentunya harus kita hapus cepat-cepat, karena menghambat pembelajaran. Sudah waktunya kita mengerahkan siapa saja untuk belajar dari mana saja dan siapa saja, serta menguakkan, mengadopsi, menganalisa, menemukan persepsi dari sisi lain ”best practise” dalam implementasi, penyelesaian pekerjaan, sikap kerja.

Best practice yang sangat bisa kita tiru adalah banyak organisasi yang kini komit untuk menerapkan sistem ’lesson learnt’, di mana kesalahan dan perbaikan sistem akan disebarluaskan ke seluruh organisasi dan diperlakukan sebagai studi kasus, sehingga setiap individu yang tidak mengalaminya akan belajar dari kejadian ini juga. Beberapa organisasi menyebutkan ke­giatan ini sebagai ”Santayana Review” yang berasal dari ahli filsafat George Santayana yang pernah menyatakan: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”

Kita juga bisa belajar kembali, bagaimana cara kita mengajukan pertanyaan dalam mengambil keputusan, menggali pendapat dan masukan orang lain, apakah bawahan, atasan, para ahli bahkan para remaja. Pengetahuan sudah bukan milik elite tertentu lagi. Kita bodoh kalau menghambat tersebarnya segala macam pengetahuan di organisasi kita. Tentunya cara yang ”friendly” untuk menyebarkannya perlu dicari dan disesuaikan dengan situasi massanya.

Bagaimana dengan Anda para Guru? Tidak cukup kan kalau hanya bermo­dal bisa mengajar dan membuat pe­rencanaan serta lembar kerja siswa? Perlu membuka mata hati agar jati diri kita sebagai Guru makin mumpuni. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan SMS ke 0856 8040 385.

Guru Enggan Belajar Bahasa Inggris. MENGAPA?

ENGLISH? Mau ya....

“Udah tua… Bapak ! Nggak bisa lagi ikut-ikut yang begituan!”
“Paling juga angat-angat tai ayam!”
”Bapak kayak nggak tahu aja teman-teman kita di sini! ”Ini sudah pernah dilakukan, Pak! jauh ... dari sebelum bapak datang ke sekolah ini!”

Demikianlah komentar pesimis teman sejawat akan ide saya membenbentuk ”English Club” guru. Rekan guru mungkin beranggapan, di English Club, meski cuma seminggu sekali, akan disibukkan isian grammar dan kosa kata susah, dan hasil akhirnya begitu-gitu saja.

Ada teman sejawat pernah kursus di tempat favorit di Bogor, dibiayai yayasan. Mengadakan 'English Day’ tiap hari Rabu, belajar bersama Sab­tu (hari libur, red), dan sebagainya, tetapi hari-hari selepas kursus kembali seperti biasa, ’kegiatan-kegiatan’ itu menghilang begitu saja.

Kesan rekan sejawat ini menjadi ironi bagi sekolah kami, yang adalah sekolah swasta termasuk terbaik dan elit di Bogor, dengan fasilitas cukup memadai plus kepercayaan masyarakat yang tinggi. Hampir seluruh siswa dari Play Group, TK, SD, SMP, sampai SMA dari golongan menengah ke atas.

Pendiri Yayasan memiliki cita-cita luhur dan kepercayaan sangat besar kepada sekolah binaannya ini, beliau mencetuskan untuk dapat meraih Sekolah Bertaraf Internasional pada tahun 2012 mendukung program pemerintah sebagaimana yang dicantumkan di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat (3) yang berbunyi, “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional “.

Terlintas di pikiran saya, ide English Club ini lebih mengutamakan ’proses’ nya, yaitu memunculkan miliu berbahasa di sekolah. Miliu...

Yah, ’kata’ inilah yang tidak ada di kalangan para guru dan siswa. Miliu atau kecenderungan sosial sangat penting dalam menerapkan proses pembelajaran. Karena miliu adalah alas motivasi. Coba renungkan, metode pembelajaran bahasa ala pesantren bisa membangkitkan kemampuan berbahasa, mengapa? Ya, karena miliu berbahasa siswa dibangkitkan melalui disiplin. Pelanggar akan mendapat ’hukuman’, baik fisik sampai amanat berat menjadi ’jasus’ atau spy alias mata-mata.

Dalam hal sekolah saya, tak mungkin mengadopsi cara pesantren tersebut. Di sini hanya mencoba mengkondisikan, siapa pun yang masuk lingkungan sekolah akan terbetik dalam pikirnya memasuki lingkungan berbahasa Inggris, dan harus ’memakai’ bahasa Ingris.

Sejatinya ”English Club” adalah salah satu cara termurah membangkitkan miliu berbahasa. Tempat untuk curhat, ngobrol, berbagi pengalaman. Siapa pun yang hadir boleh menjadi tutor. Jika pun ada yang mengajar, istilah kami berbagi informasi. Ketika berdiskusi, tidak ada larangan mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah, tapi coba didorong untuk mau aktif berbahasa Inggris. Tak perlu sungkan bila salah.

Dalam klub ini tiap peserta dibebaskan. Mau tahu kalimat atau kata apa, hayo cari bersama-sama (tentu dibantu rekan yang mahir) Mengapa? Karena rasa ingin tahu yang besar lebih memiliki dampak untuk daya ingat yang lebih baik. Yang penting di sini tujuan utama kita adalah miliu... miliu... sekali lagi miliu... untuk mau dan tidak malu berbahasa Inggris.

Untuk siswa, miliu berbahasa Inggris dibangkitkan setelah bertadarrus, membaca al Qur’an dan do’a sebelum memulai pelajaran, dengan cara membentuk komunitas yang setiap hari berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Siswa diminta untuk berbaris berha­dapan, kemudian memulai bercakap-cakap yang dia bisa dalam bahasa Inggris. Morning Conversation ini bisa dikembangkan dengan memberikan panduan percakapan pendek, yang boleh dikembangkan siswa sendiri.

Demikianlah, terus berupaya mengkreasikan lingkungan berbahasa akan membangkitkan miliu untuk mau dan bisa berbahasa, baik de­ngan sendirinya ataupun ’terpaksa’.. Saya yakin, ini sangat membantu memotivasi rekan sejawat untuk kembali (mau) belajar bahasa Inggris, karena belajar-tidak belajar, bahasa tersebut harus dipakai di lingkungan ini sehingga ’motivasi’ pun muncul. Jangan heran nanti akan banyak bermunculan slogan di dinding kelas dan kantor. Percakapan antara guru dan murid pun terdukung maksimal karena miliu-nya telah ada.

Berbagai masalah memang akan timbul. Pertama pada diri guru, dan siswa sendiri. Apakah kurang sema­ngat, tidak serius, masa bodoh, merasa tidak penting, dan lainnya. Kedua, lingkungan sekolah, perlu sarana media audio, visual dan lainnya.

Maka control di sini sangat penting. Semua pihak, guru dan murid bahkan wali murid harus bekerja sama agar ’kegiatan miliu pembangkitan motivasi’ ini menjadi unggulan dari berbagai kegiatan sekolah. Mudah-mudahan harapan sekolah tentang penggunaan bahasa Inggris sebagai media pembelajaran dapat diraih, menjadi kebanggaan masyarakat di mana sekolah ini berada, serta contoh bagi sekolah lain. TG
Muhammad Aysar Fahd, S.Ag
Peserta seminar
’Guru Kreatif Pendidikan Berkualitas’ oleh LPI Dompet Dhuafa
PPIB-Bogor

------------------------------------------------
There is Mr. Is at My School

Sekolahku ini sudah sejak lama memberi warning pada para Guru, agar kita meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris . Globalisasi, AFTA dan perubahan hubungan antara negara kawasan menjadi penyebab utama. Guru Indonesia tak boleh hanya jadi penonton. Kita harus siap, termasuk dalam bahasa Inggris yang sudah dipelajari sejak kelas IV SD.

Alih-alih bisa bercakap, untuk mengerti orang bicara saja masih sering keliru pemahamannya. Alasannya klasik : “Udah lama nggak dipakai. Jadi lupa. Padahal emang dari dulu juga nggak pernah pinter.” Sekolahku konsekuen. Dihadirkanlah seorang Guru bahasa Inggris untuk siswa, sekaligus trainer untuk semua Guru. Namanya Pak Iskandar. Kami otomotis memanggilnya Mr. Is.

Sejak Mr. Is masuk, terasa ada yang berubah di sekolah. Teman-teman Guru jadi pada parno alias paranoid, takut ketemu dia. Pembawaannya yang humble justru membuat kami ‘ngeper’. Tentu saja, karena tak sepatah bahasa Indonesia pun keluar dari mulutnya. Kami jadi gelagepan.

Upaya sekolahku untuk membuat Guru terbiasa berlatih menggunakan bahasanya Pangeran Charles ini lumayan kuat. Awalnya dibuat English Area, yang ditempatkan di tempat Guru biasa ngumpul, di saung, di perpustakaan, dan di kantin. Eh, belakangan tempat-tempat itu tak seramai dulu. “Mendingan nggak minum di kantin daripada harus mikir apa kalimat bahasa Inggris untuk ‘bayar sendiri-sendiri," celoteh Guru lain.

Takut Ketemu Mr. Is
Setiap bertemu orang di sekolah, siapa pun akan disapa oleh Mr.Is , in English tentu saja. Kalau sekedar hai, how are you, kami masih bisa jawab dengan tak kalah ramah. Namun jika Mr. Is sudah menanyakan soal bagaimana persiapan fun cooking hari ini, atau mengingatkan untuk mengajak sharing siswa tentang hot news today, wah …… muncul bahasa-bahasa tarzan.

Kami juga akhirnya banyak melanggar perjanjian, dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menjawab pertanyaan Mr. Is. “Bener-bener kelu lidah ini. Keinginan sih ada. Tapi nggak keluar juga bahasa Inggris dari mulut,“ kata pak Dimas, Guru olah raga.

Sedangkan Bu Lis mengaku , meski sudah berjalan ‘minggir-minggir’ ke samping, maksud hati biar tidak terpergok Mr. Is, eh … tetap disapa juga. Lebih dalam lagi pertanyaannya: ‘You look in a hurry, may I help you?” tanya Mr. Is ramah. “No, thanks….”, sambil menggeleng kepala, “Wah, sejak kapan saya jadi sok imut begini?” aku Bu Lis.

Sekolah–sekolah lokal, seperti sekolahku, yang sedang gencar memperbaiki kualitas akan membuat terobosan yang cukup kreatif. Hasil yang dicapai sangat tergantung pada seberapa proses dan penguatan dilakukan secara terus menerus. Eporia ini bisa membangkitkan semangat, bisa pula menjadi penghambat, terutama bagi Guru yang tak mau pindah dari zona nyaman-nya.

Guru yang bisa memanfaatkan keberadaan fasilitator seperti Mr. Is, akan menjadikan sebagai sebuah peluang dan tantangan. Bukan kelemahan dan ancaman. Setiap sekolah tentu memilki kemajuan-kemajuan yang seharusnya direspon positif oleh semua stake holdernya.

Kuncinya adalah pada proses perubahan itu sendiri. Ada adagium yang mengatakan, seperti katak dibenamkan di air mendidih, katak akan lompat! Namun jika katak diletakkan di air dingin yang dijerang, hingga panas mendidih pun, katak tetap tinggal di dalamnya. Artinya, setiap perubahan, kemajuan, ide, usulan, aturan, atau apa pun namanya, sosialisasikan dengan perlahan, tekan­kan makna pentingnya. Katakan: “Ini baik untuk Anda, meski tak nyaman pada awalnya” - agar para Guru tak ‘berlompatan’. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Pengaruh Doa dalam Mendidik Anak


Guru tidak sekedar menyampaikan ilmu. Guru adalah arsitek peradaban



Perlu disadari bahwa gelar yang disandang seseorang bukanlah jaminan keberhasilan dalam mendidik. Sebaliknya, sangat mungkin gelar yang dimiliki dapat menjadi bumerang menuju kegagalan. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang terlalu yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

Kadang guru sering lupa, sebagai manusia, kita hanya mampu berusaha. Selebihnya, keputusan akhir tentang hasil usaha kita tetap bergantung kepada Allah SWT. Sikap terlalu yakin dengan kemampuan diri hingga menga­baikan Allah SWT akan membuatnya kehilangan kekuatan jiwa.

Ilmu yang dimiliki hanya bisa digunakan sebagai pedoman, sementara itu, berhasil-tidaknya proses pendi­dikan tetap harus diserahkan kepada Allah SWT. Doa yang selalu dipanjatkan bakal turut menentukan keberhasilan lebih lanjut. Intinya, seorang guru harus senantiasa melibatkan Allah SWT dalam mendidik. Sebab Sang Pencipta, Allah-lah yang Maha Mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya.

Doa termasuk hal penting yang harus selalu kita pegang teguh. Melalui doa, rasa cinta dan kasih sayang kepada anak didik akan bertambah mekar di dalam hati. Untuk itu, hendaklah guru senantiasa memohon kepada Allah agar Dia meluruskan anak didiknya dan masa depannya. Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Ada tiga macam doa yang tidak diragukan lagi, pasti diterima, yaitu doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orang tua (guru) kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi).


Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rasulullah melarang para orang tua (guru) mendoakan keburukan bagi anak didiknya. Mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya.

Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah kalian mendoakan keburukan kepada diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada pelayan-pelayan kalian, dan janganlah kalian mendoakan keburukan kepada harta kalian. Janganlah kalian mendoakan keburukan sebab jika waktu doa kalian bertepatan dengan saat-saat dikabulkannya doa maka Allah mengabulkan doa kalian (yang buruk itu).” (HR. Abu Dawud).

Imam Al-Ghazali menyebutkan bahw­a ada seseorang yang datang kepada Abdullah bin Al-Mubarak seraya mengadukan perihal kedurhakaan anaknya. Ibnu Mubarak berkata, ”Pernahkah kamu mendoakan keburukan baginya?” Ia menjawab, ”Ya, pernah”. Ibnu Mubarak me­ngatakan, ”Engkau telah menghancurkannya”. Seharusnya, daripada engkau penyebab kehancurannya dengan mendoakan keburukan baginya lebih baik engkau menjadi penyebab keshalihannya dengan mendoakan kebaikan untuknya.

Guru tidak sekadar menyampaikan ilmu. Guru adalah arsitek peradaban, jika ia salah dalam mendidik, berarti ia salah dalam membentuk peradaban. Dan tanggung jawabnya pun tidak sebatas di dunia. Karenanya, guru harus senantiasa mendoakan anak didiknya di setiap waktu, terutama di waktu malam.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita mendoakan mereka? TG


Imam Nur Suharno, S.Pd., M.Pd.I.
Kepala MTs Husnul Khotimah, Desa Maniskidul, Jalaksana, Kuningan


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Sampoerna School of Education


Beasiswa Siapa Mau?

Menjadi guru adalah profesi mulia, karena mendidik karakter bangsa. Dan itu
menuntut kita lebih profesional.

Adalah Sampoerna Foundation, yang sebelumnya telah berkecimpung melatih guru dalam lembaga Sampoerna Foundation - Teacher Institute (SFTI) pada tahun 2006, kini lebih jauh melangkah dengan mendirikan ”Putera Sampoerna School of Education” atau SSE, pada awal Maret 2009 lalu. SEE berkomitmen mengembangkan tenaga pendidik (guru) berkualitas tinggi di Indonesia. Prof. S Gopinathan, konsultan senior dari Singapura dan Kenneth Cock, Direktur Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI).

Sejak 2005, Sampoerna Foundation mengembangkan 17 sekolah dan 5 madrasah di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Bali, termasuk para guru, siswa, kepala sekolah, dan sistem pendidikan. Termasuk juga menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan). Pada tahun 2009, SF meluncurkan program sekolah bertaraf internasional berasrama, Sampoerna Academy.

Menyambut beroperasinya SSE, dr.Fasli Djalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas menekankan bahwa sangat penting bagi Indonesia untuk memiliki lembaga pendidikan guru yang berkualitas.”Kita harus menjawab kebutuhan akan guru berkualitas di Indonesia,” ujar Fasli.

Hal senada diungkapkan Prof. S Gopinathan, konsultan senior dari Singapura. “Untuk bertahan di era globalisasi, Indonesia memerlukan sekolah pendidikan bertaraf dunia yang dapat mengkombinasikan metode pengajaran lokal dan internasional, serta didukung kalangan akademisi yang diakui di tingkat nasional maupun internasional.” SSE, lanjut Gopinathan, mempersiapkan generasi baru guru Indonesia yang siap bersaing di level nasional maupun internasional.

Berlokasi di gedung Sampoerna, Jakarta Pusat, SSE menawarkan fasilitas kampus yang lengkap, dan m­enyajikan materi dengan kurikulum, tenaga pengajar nasional dan internasional serta praktik metode pengajaran terbaik yang disampaikan dalam dua bahasa. Dalam pengoperasiannya, SSE bekerja sama dengan mitra lembaga internasional.
Calon mahasiswa SEE diharapkan datang dengan prestasi akademis terbaik. Pendataftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2009/2010 telah dibuka. Perkuliahan dimulai September mendatang. Dari 80 kursi kelas, 40 diantaranya akan diberikan bagi penerima beasiswa. Program beasiswa SSE sudah termasuk biaya pendaftaran, biaya kuliah, uang saku, uang buku, riset/penelitian internet.

Ada dua jurusan yang dibuka, yaitu Bahasa Inggris dan Matematika. “SSE akan menjadi salah satu institusi paling bergengsi di Indonesia yang menyediakan pendidikan untuk pendidik masa depan dan juga staff pendidik yang professional, memiliki kemampuan mengajar terbaik, kompetitif dan mampu mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan pemba­ngunan nasional,” jelas Ron Perkinson, Presiden Sampoerna Foundation.

Lulusan SSE diharapkan menjadi guru dengan kemampuan terbaik­nya. Terlebih lagi, SSE menyediakan pelayanan pengembangan karir, seperti konseling karir professional, ekstrakulikuler yang komprehensif dan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Tersedia pula program magang guru, untuk mendapatkan pengalaman mengajar yang sebenarnya serta peluang penempatan kerja.

Ron menambahkan, “Kami sangat ber­untung karena mendapat dukung­an yang kuat dari pemerintah dan kami siap untuk bekerja sama dengan mitra & donor. Kami percaya bahwa dalam waktu dekat kami dapat memberikan dampak yang besar untuk kemajuan pendidikan Indonesia.”

Informasi : www.sampoernafoundation.org, atau email ke info-ti@sampoernafoundation.org, dan ph.(021) 5772340. Bersama, mari ciptakan generasi Guru baru Indonesia! TG


SD TUMBUH - Yogya Educational Spirit









Menempati bangunan lawas yang artistik, sekolah inklusi di Yogyakarta ini tampak tampil beda. Keanggunan bangunan tua yang dimanfaatkan secara cerdas justru menambah kekhasan sekolah yang didirikan oleh KPH H. Wironegoro, M.Sc, putra mantu Sri Sultan HB X. Teachers Guide berkesempatan mengunjungi sekolah yang dikepalai oleh Elga Andriana, S.Psi, yang merasa ‘sendirian’ di tengah kemajuan, perubahan, dan tuntutan masa depan.

Apa diferensiasi sekolah ini?
Kami percaya, sekolah itu dunia kecilnya masyarakat, cermin masyarakat sebenarnya, yang beragam dari sisi apa pun. Jadi kami mengibarkan diri sebagai sekolah inklusi. Bukan hanya untuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), tapi secara holistik dari berbagai perbedaan: agama, sosial, kultur, ras, dan sebagainya. Inklusi kami ke depankan, dengan mengusung kultur komunikasi yang enak, setara, dan tak banyak birokrasi. Itu inti dari inklusi, yang menjadi pembeda SD Tumbuh.

Konon sekolah ini kental dengan gaya LSM yang militan. Adakah pengaruhnya bagi pengembangan sekolah ini di bawah kepemimpinan Anda?Saya banyak nyemplung di masalah gender dan hak-hak anak, di PLAN (LSM yang bergerak di bidang pembuatan mainan dengan barang bekas) dan di PAUD. Kami kuat sekali menyuarakan hak anak.
Enam tahun awal ini, tindakan afirmatif kami lakukan dengan mencari kemajemukan siswa, utamanya dari sisi, ras, etnis, dan agama Yang beragama Hindu dan Budha kan jarang, justru kami prioritaskan. Juga yang berbeda etnis.

Yang masih susah tentu yang berbeda ekonominya. Di sini ada siswa yang tidak membayar (gratis), bayar seratus lima puluh ribu, hingga empat ratus ribu rupiah. Secara umum, ancer-ancernya (kira-kira) Rp. 300 ribu lah untuk SPP. Ada juga adopting parent, untuk membantu siswa yang susah. Orang tua nggak merasa perbedaan ini sebagai kendala.

Kami mengkomunikasikan hal ini saat wawancara calon orangtua murid. Di situ filosofi orang tua sudah tergambar. Ketika diberitahu bahwa jika di kelas anaknya nanti ada siswa yang memerlukan subsidi, bagaimana? Apa ibu bisa bantu? Jika jawabannya: ”Saya yang capek kerja koq anak orang lain yang sekolah”, itu cukup menguatkan kami untuk menolaknya. Ada juga mencoba mau memberi uang pendaftaran lebih besar untuk menyuap saya, lha malah anaknya nggak saya terima.

Apa obsesi orangtua menyekolahkan anak ke SD Tumbuh?
Mencari sekolah yang menyenangkan bagi anaknya. Orangtua sangat paham, sekolah yang konvensional sudah ketinggalan. Hanya saja di Yogya ini pilihan tak banyak.

Active learning dan inklusi menjadi sesuatu yang kami tawarkan. Di awal buka sekolah, sebenarnya saya hanya mentargetkan 10 siswa saja. Eh, yang masuk 40 anak. Padahal kapasitas hanya 22 anak Sudah banyak koq orang tua di Yogyakarta yang paham dengan kebutuh­an ini. Lain pasti dengan di Jakarta ya. (Elga sempat sekolah di Australia untuk memperdalam ilmu kependidikan)
Bagaimana dengan Guru?
Guru kami lulusan Sanata Dharma, UGM, dan UNY. Kami memilih yang open mind. Meski ada juga yang macet di kreatifitas. Klik-nya ndak semudah it. Kerjasama dengan KPH Wironegoro sangat nyaman, utamanya masalah substansi dan support, terutama pada budaya.

Dalam inklusi ada kultur. Kami menyebutnya Yogya Education School. Sekolah ini berpijak juga pada tradisi. Karawitan, tari, batik, wayang, dan nembang serta ‘green school’ kini di-intra­kurikulerkan.

Tak ada perbenturan etnis?
Nggak tuh. Kekayaan etnis tetap kita apresiasi dalam ba­nyak hal, termasuk disampaikan di muka kelas. Inilah spirit Yogyakarta yang memang kami munculkan. Dalam diskusi masa depan bersama Pak Wironegoro, kami ingin juga membuka sekolah yang sama di tempat lain, tapi dengan mengangkat spirit lokasi, misal Solo Educational Spirit, begitu juga di Semarang atau Bali. Tapi kini kami belum berani membuka franchise. Ini mau kita kembangkan dulu.

Spirit menjemput masa depan? Juga sistem penyam­paian materi?
Meski kuyup dengan budaya dan tradisi, Guru berbahasa Inggris agar anak tetap connect de­ngan dunia luar. Siap jadi warga dunia, bukan hanya jadi warga Yogya. Ya ini harus dikawinkan.

Sementara pencapaian anak bisa dilihat dari praktek dan tertulis. Ujian dengan soal dari Diknas ha­nya kami lakukan pada akhir semester dua, untuk kenaikan kelas. Anak-anak gampang aja tuh ngerjain. Yang susah ya yang ABK. Sebisa mereka saja.

Nggak ada acara nggak naik kelas. Kalau inputnya beragam, nggak bisa dong keluar dari satu pintu dan satu tolok ukur. Tanggung jawab Guru untuk mencermati kekurangan anak.

Kelas 1-2, Guru kelas-nya ada 2 orang. Kelas 3 – 6, ada guru mata pelajaran, tapi tetap ada guru kelas. Yang nggak sanggup dirangkap kan guru matematika, kesenian, olah raga, dan Bahasa Jawa.

Ingin apa ke depan?
Saya pengin sekolah semua inklusi. Kehidup­an nyata kan begitu. Mbok ya anak disiapin. Biar melihat keragaman itu dengan nyaman.

Di K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) di sini, saya merasa seperti allien. Saya masih belum tahu cara meleburkan diri. Sebab, 180 derajat berbeda. Suara aya nggak pernah didengar …… Mereka merasa senior dan merasa sekolah favo­rit. Semua pake seragam pula. Saya sendiri yang nggak pake.

Saya pengin punya teman, punya organisasi yang memiliki semangat yang sama. Yang kalau sedang mengikuti seminar, ya mestinya mendengarkan, menyimak. Yang ada mereka ngobrol sendiri. Lha… dari masalah mendengarkan saja saya sudah merasa nggak cocok sama mereka. Sekedar berkenalan saja dulu.

Sekolah ini mulai beroperasi 2005. Ada respon positif yang mengatakan bahwa SD Tumbuh cukup berani, dan inovatif. Yang negatifnya ya tentang inklusi itu. Masih ada orang yang mengatakan: “Jangan sekolah di Tumbuh, emang anakmu sakit apa? Kurikulumnya apa?” Value juga dipertanyakan, karena ada anak keturunan Belanda.

Ada pula yang protes, katanya sejak sekolah di SD Tumbuh, anaknya jadi nggak disiplin. Alhamdulillah, hal ini di jawab oleh orang tua lain yang mengatakan bahwa: ‘Urusan disiplin itu urusan orang tua dhewe lah…gak biso opo-opo diserahke sekolah’ hii..hii… ternyata yang disebut disiplin ala orang tua ini sebatas baju dimasukkan rok, kaos kaki, bersepatu……..Ooooo kalau yang itu mungkin nggak terlalu esensial ya. Kapan lagi kita memberi ruang pada anak. Peneguhan sikap akan bisa dilakukan dengan dialog.

Teachers Guide sempat pula meninjau kegiatan PLAN, yang melakukan pelatihan rutin aplikasi 3R (reduce, reuse,recycle). Segala barang bekas bisa jadi mainan. Spirit Yogya tak pernah padam! TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.




April 28, 2009

Pipip Rosida: SDN SUKADAMAI 3 yang Suka Damai


TRANSFORMASI MENUJU SEKOLAH UNGGULAN

Perjalanan pengalaman Drs. PIPIP ROSIDA EK, Kepala
Sekolah SDN Sukadamai 3 Budi Agung, Bogor, peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi 2007 tingkat nasional, mengubah sekolah inpres yang sederhana menjadi sekolah unggulan (RSBI) yang berhasil dalam berbagai aspek berkat dukungan masyarakat.




Kilas Jaman
Sekolah Sukadamai 3 berdiri tahun 1984. Awalnya ada 3 lokal. Beratap asbes, kiri kanan asbes, lantai semen. Pada 13 mei 1997, Pipip diangkat jadi kepala sekolah.

”Sekolah ini ada di lingkungan komplek perumahan, tapi tidak ada yang berminat sekolah di sini. Saya kaji dan uji secara teliti, bersilaturahmi dengan RT/RW dan tokoh masyarakat. Kini murid sudah 1.227 orang, dengan area sekolah bertambah luas , mampu membeli tanah, dan membangun secara bertahap.”

Mengubah antipati jadi simpati, mudah-mudahan (jadi) empati
”Pertama sekali, Guru saya minta merenung. Mau maju? Apa yang harus dilakukan? Tak perlu tata tertib. Yang penting komitmen, yang diawali dengan mengisi lembar isian. Mau masuk (sekolah) jam berapa, mau pulang jam berapa, tentukan sendiri dan tandatangani sendiri. Ketika kesiangan, saya tinggal menunjukkan kertas komitmen tadi. Akhirnya, saya dapatkan Guru yang penuh komitmen.

Guru dari Diknas dan hasil rekruitmen sendiri saling bahu membahu.
Guru yang direkrut sendiri, berdasarkan kebutuhan aktual, yakni bisa bahasa Inggris, komputer, dan harus bisa mengajar. Tes nya bukan saja akademis. Mereka semua mencintai dunia pendidikan. Pekerjaan harus dicintai! Dan bekerja dengan hati.”

Dari mana perubahan itu?
”Saya ibaratkan sekolah seperti perahu. Di perahu itu ada kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, komite. Ketika ada yang bertanya: ’ pak mau kemana?, saya jawab ke Kalimantan. Tapi orang lain bertanya ke guru lain, jawabnya ke Sumatera. Lalu tanya ke siswa, jawabnya berbeda. maka tak akan sampai tujuan sekolah ini. Semua harus sama, menyamakan persepsi. Saya tidak sendiri, tapi bersama dengan guru dan masyarakat’.

Hambatan, tantangan, kendala, ancaman, gangguan sudah pasti ada. Semua diselesaikan melalui kejelasan visi, program yang jelas, realistis, yang tidak di awang-awang, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saya menyentuh hati guru, sesuatu yang tidak terbaca. Kalau sakit hati obatnya hati.
Guru tidak perlu berkeluh kesah, karena rizki Allah yang atur.
Guru harus tahu peranan, tahu tupoksi (tugas pokok dan fungsi) nya. Mereka harus tahu, semua stake holder memiliki keinginan bersama.

Setiap hambatan pasti ada penyelesaian. Masalah itu timbul karena harapan dan kenyataan tidak bersahabat. Sahabatkan saja dulu. Kalau jauh, ya dekatkan dulu. Skala prioritas menentukan program-program, me­lalui kajian dan pengujian secara teliti.

Dulu, Guru sedikit-sedikit ngobrol tak berguna. Kini, bahan yang diobrolkan lebih profesional. Setiap tahun saya dievaluasi. Saya minta 10 sikap kepala sekolah yang tidak disenangi guru, lengkap dengan 10 sikap yang disenangi. Saya jadi kepala sekolah juga di SK kan oleh orang lain. Paling tidak, sebagai orangtua kita melayani anak, dengan senyum dan kata-kata positif. Hukuman tidak perlu dengan fisik, atau intimidasi. Intimidasi hasilnya akan intimidasi lagi.

Masa orientasi (MOS) bukan hanya untuk siswa, namun juga orang tua. Selama dua hari, wajib bagi suami istri hadir, agar paham program sekolah dan paham kurikulum. Di sini banyak hidden curriculum, sehingga langkah sekolah selalu dapat dipahami orang tua. Kalau ada yang ingin tahu sekolah ini, silakan diskusi dengan orang tua. Boleh tanya apa saja pada mereka. ”

Damai pada Guru
”Jika ada mangkir atau berbuat tidak sesuai dengan keinginan kelompok, maka yang menghakimi bukan pimpinan atau kelompok, tapi dirinya sendiri, karena tidak ada teman yang mengajak ngobrol. Ini dinamika sosial. Guru yang sudah PNS, saya sebut Profesional, Netral, Sejahtera. Jadi harus memberi teladan pada yang lain

Setiap jum’at ada diskusi kelompok. Setiap Guru guru diberi penghargaan untuk memimpin diskusi. Bukan penghargaan materi, karena penghargaan materi akan menghancurkan visi.”

Kunci sebagai kepala sekolah: terbuka, dan jujur
” TERBUKA, bukan saja soal keuangan tapi juga saat menyusun program. Apa yang diinginkan, aturannya bagaimana. Kalau tidak dilibatkan, Guru menjadi tak perduli.
JUJUR, dalam bersikap, bertindak . Kalau saya dapat hadiah, saya minta dibagi secara adil, termasuk untuk saya. Jadi jangan khawatir, rezeki Allah yang mengatur...

Tidak ada Guru kerja di luar, mi­salnya memberi les di luar sekolah. Kalau itu permintaan orangtua dan komitmen disepakati, dan diketahui oleh kepala sekolah, boleh. masih bisa lah. Tapi kalau guru menyuruh harus les, itu yang tidak boleh. Tidak boleh ada guru yang membohong pada masalah ini. Kalau kita terbuka, guru pun terbuka. Di sini tidak ada yang ngeriung membicarakan yang tidak perlu. Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Tanpa reward (hadiah), jalan terus. Jangan melihat ke atas, lihat ke bawah saja. Kita bersyukur saja terus.”
***

Bermain Makna
Pipip suka bermain kata. Dibuatnya akronim dari kata SDN (Sekolah Dasar Negeri) SUKADAMAI TIGA, dengan mengartikan masing-masing huruf:
S - sekolah letaknya strategis
D - dekat tapi mengapa muridnya tidak ada
N - nerima siswa sesuai potensiya
S - school based management, atau sekolah balik magrib (plesetannya-red), atau sekolah boga masyarakat. sebab orangtua murid banyak yang bekerja di Jakarta, kami harus menemui para orangtua dan tokoh masyarakat selepas magrib, untuk berdialog. Jadilah saya pulang jauah setelah maghrib. Lambat laun ada yang nyumbang satu sak semen, dan material lain. Makin banyak orang tua yakin setelah paham program sekolah.

Kalau sekolah boga masyarakat, kita cari apa harapan masyarakat. Sekolah ini punya masyarakat, bukan punya kepala sekolah. Kapan pun saya pergi, sekolah harus jalan terus. Kalau menyusun program, saya melibatkan stakeholder. Kalau sekolah lain, cukup para pengurus komite, disini tidak bisa. point detailnya dibicarakan.

U - utamakan layanan masyarakat. Guru mengutamakan layanan siswa, kepala sekolah mengutamakan layanan masyarakat luas. Masyarakat maapun boleh masuk, tidak ada yang ditolak, kecuali tidak ada tempat. Masyarakat yang majemuk dapat kami satukan. Ada kelompok pengamat, kritikus, pemikir, pekerja. Sekolah ini besar karena kritikan. Oranglain tidak akan mengkritik kalau kita tidak punya kesalahan.

K- kurikulum KTSP, berbasis kompetensi. Guru dilatihkan KTSP, agar paham, mana separated subject curriculum (kelas 4-6); mana integrated curriculum (kelas 1-3)...

Ini kami jelaskan pada orang tua sepenuhnya. Untuk integrated curriculum, yang dibentuk adalah karakter dan budaya. Kejujuran menjadi kunci utama. Kami kaji multiple intelegence.

A- active learning, sebagai roh dan jiwanya. Siswa sebagai subjek, bukan objek. Nama boleh apa saja, mau pakem, atau paikem gembrot, CBSA, tapi roh dan jiwanya harus active learning. Secara alamiah, anak merasa bosan kalau Guru membosankan.

D- democratic teaching, Di sini anak dilibatkan untuk menyusun tata tertib. Antara guru dan kepala sekolah tidak ada sekat batas, baju kita saja sama.

A- aktif, kreatif, inovatif, agar sekolah jadi produktif.

M- mengembangkan IQ, EQ, SQ –otak, otot, dan watak. Kalau ingin senang, kuasai seni. Kalau ingin menang, kuasai iptek. Kalau ingin tenang, kuasai ilmu agama. Dulu otot besar bisa jadi jagoan. Sekarang otot kecil harus mengalahkan, dengan kekuatan otak.

A- assurance quality, jaminan mutu jelas. Kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM) harus dicapai. Yang di bawah KKM, jalani remedial, yang diatas kasih pengayaan. Tapi kami tidak ingin melabelkan ini dalam marketing. Tidak ada pelabelan itu di sekolah kami. Saya tidak mau label-label itu dijual, sebab itu membohongi, biarkan orang tahu dari proses-prosesnya. Buat apa menjual kucing di dalam karung. Termasuk dalam penilaian guru, yang menghakimi guru bukan saya, tapi masyarakat. Assurance quality nya adalah masyarakat.

I- inovatif dalam pengembangan program. Jadi jangan tersandung batu yang sama. Invoasi ! Ikuti perkembangan dunia. Kini bukan IQ, tapi EQ yang menentukan kehidupan masyarakat. Dulu kami satu-satunya sekolah negeri yang tidak punya ranking. Karena yang ranking 1 jadi sombong, yang di bawah jadi kasihan.

T- tata tertib dijadikan pedoman warga sekolah (tidak tertulis). Saya suntikkan ke hati, bukan saya tempel di dinding. Di sini guru mau pulang silakan, mau kerja silakan. Saya mau memberi pekerjaan kepada guru yang sibuk. Sebab orang sibuk itu punya prioritas.

I- informasi terbagi rata. Ke semua guru, orangtua murid, atau masyarakat, semua tahu apa yang menjadi program sekolah, dan apa yang sudah dan akan dilaksanakan.

G- gairah dalam melaksanakan tugas
A- action (pelaksanaan) saat melaksanakan tugas harus disiplin.

Itulah Pipip, kepala sekolah SDN Sukadamai 3, Bogor. Suka damai, suka membuat gagasan-gagasan dalam kata-kata yang penuh tenaga. Share (berbagai rasa), care (peduli), dan fair (adil) didengungkan untuk meng­ubah diri sendiri. Hingga akhir perjumpaan, Pipip masih memberi kata bertuah yang bersayap:

”Menghapuskan yang miskin tidak akan habis, sebab yang miskin itu akibat adanya orangkaya. Yang kaya makin banyak dan yang miskin juga akan bertambah.

Berantas kebodohan, tidak akan habis, sebab yang pintar akan bertambah. Sesungguhnya tdak ada yang bodoh dan pintar, yang kaya dan miskin. Yang ada itu yang rajin dan malas. Yag rajin akan pintar dan kaya. Yang malas akan bodoh dan miskin. Setiap individu itu unik, setiap orang punya kelemahan dan kelebihan”.

Perjalanan pengalaman Drs. PIPIP ROSIDA EK, Kepala Sekolah SDN Sukadamai 3 Budi Agung, Bogor, peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi 2007 tingkat nasional, mengubah sekolah inpres yang sederhana menjadi sekolah unggulan (RSBI) yang berhasil dalam berbagai aspek berkat dukungan masyarakat. TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.