April 28, 2009

Sekolah Global Mandiri: Kreatif, Buku, dan Pelatihan

School Social Responsibility Sekolah Global Mandiri

Awalnya adalah sebuah buku “Berbagi, Ceria, dan Kreatif”, berisikan kumpulan ide-ide kreatif para guru di Sekolah Global Mandiri, Cibubur-Jakarta Timur, yang getol bereksplorasi menggunakan bahan dari barang bekas tak terpakai.

Gagasan-gagasan kreatif itulah yang menghantarkan tim guru Sekolah Global Mandiri melatih sekitar 200 guru di Kecamatan Bayan dan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pelatihan terselenggara atas undangan Kepala UPT Pendidikan di dua kecamatan tersebut, 13-14 Februari lalu.

Bagi Sekolah Global Mandiri, program ini, termasuk diantaranya penyebarluasan buku ’BCK’, adalah bagian dari SSR (school social responsibility), semacam CSR di perusahaan bisnis. ”Ingin berbagi, dan memberi inspirasi menciptakan pembelajaran yang kreatif berbekal barang bekas,” jelas Rifa Ariani SE., Ak., direktur Sekolah Global Mandiri. Sejumlah pelatihan pun digelar di Jakarta, dengan mengundang berbagai guru yang tertarik dengan pendekatan mengajar kreatif. Dengan bingkai program SSR, sekolah terbuka menerima kunjungan guru dari luar Jakarta. Pihak sekolah pun menjadi makin kreatif untuk menggali berbagai metode pembelajaran baru, serta mendorong para guru untuk aktif menulis serta berlatih menjadi trainer. Sekolah pun tumbuh menjadi ’learning society’.

”Keberanian berbagi merupakan proses pengembangan diri sebagai bekal bersaing di era global,” begitu pesan Bambang Aryawan, MM., Kepala Dinas Pendidikan Purworejo, menyemangati para guru di Purworejo untuk selalu belajar.

Ide-ide kreatif dalam buku BCK itu, menjadi hal menarik bagi rekan-rekan guru di Kabupaten Purworejo. Apalagi pelatihan dikemas dengan menarik, berikut ice breaking dan games. ”Sangat puas dan senang mendapatkan pelatihan metode belajar dengan menggunakan barang bekas ini. Kami jadi kreatif, dan yakin siswa akan lebih semangat belajar,” ungkap Drs. Ngadino, Kepala Sekolah SDN Pacor 2, peserta pelatihan hari kedua di SDN Wirotaman, Kutoarjo.

Dengan metode yang tepat, barang-barang bekas terbuang pun bisa menjadi sarana belajar yang menarik. Hal ini terutama sangat diperlukan oleh rekan-rekan guru di berbagai pelosok Indonesia, yang memang terus terang masih terkendala akan alat peraga, sarana belajar, maupun metode belajar yang aktif menyenangkan.

”Penggunaan barang bekas selain kreatif juga menyelamatkan lingkungan,” begitu kesan Amad Tulus, Kepala UPT Kecamatan Bayan. Manfaat pelatihan ini, menurut Wakil Bupati Purworejo Drs. H. Mahsun dan Kepala UPT Pendidikan di Kutoarjo Drs. Joko Sutanto, M.Pd, akan menjadi penyemangat bagi para guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di Purworejo dan sekitarnya. TG

Maria Goretti Kadimazu Dara, SPd
Guru di Sekolah Global Mandiri,
Cibubur-Jakarta Timur
Kini menggeluti pelatihan guru
edu@globalmandiri.com

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Berikan kami apapun
dari yang tak ternilai
hingga yang tak bernilai...

Tema : NILAI TEMPAT

Bahan yang diperlukan:
1. tutup botol air kemasan biasa (20 buah)
2. tutup botol gallon air kemasan (20 buah)
3. kalender bekas (belakang polos)

Cara membuat:
1. bersihkan tutup botol, dan kelompokkan sesuai ukuran.
2. buat pola lingkaran tutup botol itu dengan kertas kalender, gunting.
3. untuk pola lingkaran kecil, tuliskan angka 0 sampai 9
4. untuk pola lingkaran besar, tuliskan kata : satuan, puluhan, ratusan, ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, dan miliaran.
5. masukkan potongan kalender itu dalam tutup botol yang sesuai ukuran, dengan tulisan menghadap keluar agar terbaca.

Cara bermain:
a. letakkan tutup botol di meja atau lantai, dengan bagian bertulisan menghadap ke atas agar terbaca.
b. Guru menyebut sebuah angka. Misal, sembilan ratus tiga puluh dua. Maka murid akan menyusunnya (lihat gambar).
c. instruksi selanjutnya adalah meletakkan nilai tempat di atas bilangan yang sudah tersusun tadi.
d. Setelah siswa mengerti konsep bilangan, boleh melanjutkan dengan permainan adu cepat menyusun bilangan yang disebutkan guru.

Selanjutnya dapat digunakan untuk bermain perkalian, penambahan, pengurangan. Alat bantu belajar ini dapat dimodifikasi. Misal, mengisinya dengan tulisan huruf Arab saat pelajaran Agama Islam. Tentunya disesuaikan dengan tingkat kesulitan atau level tiap murid. TG

Dikutip dari buku ”Berbagi, Ceria, dan Kreatif ”
Menggunakan barang bekas sebagai media pembelajaran yang menarik
Penyusun: Farida Wulandari, Alfiatun, Anna Budiatmi, Andityas. (Sekolah Global Mandiri)
*) Tulisan ini diterbitkan pada majalah Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Prof. Gumilar R. Somantri : Minta Gaji Bagus, tapi Horizon Sempit


Prof. Dr. der.Soz.Gumilar Rusliwa Somantri
Rektor Universitas Indonesia


Rektor yang tampil dandy dan gemar bermusik ini –gabung dalam the Professor Band-- menerima Teachers Guide di ruang kerjanya. Beliau menjelaskan peran pendidikan dasar menengah, dan respon perguruan tinggi atas mutu pendidikan di tingkat menengah.

UI kini masuk rangking ke 5 bersama dengan MUS, Mahidol, University of Philippine, University of Malaya, sebagai perguruan tinggi yang punya reputasi tinggi”. Kata Pak Rektor dengan bangga. Namun ketika ditanya pendapatnya tentang kualitas pendidikan di tingkat bawahnya, pak Rektor menghela nafas.........hhhmmm.

Pak Rektor prihatin melihat lulusan SMA, yang belum merata, meski dalam empat tahun terakhir ini relatif membaik. Ini kerja keras pemerintah melakukan pemerataan. Kualitas terbaik masih datang dari kota-kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung dan Surabaya. Upaya untuk meratakan kualitas di SMA, merupakan hal penting.

” Kunci kualitas ini pada guru. (Nah lo.....) bukan hanya sertifikasi, yang sifatnya administratif, tetapi substansi mutu guru. Profesionalisme selalu menyangkut 3 hal: etik, skill, dan renumerasi yang baik. (Setujuuu.....)

Empat tahun terakhir ini para guru relatif banyak diperhatikan. Tapi kita harus mengubah mind-set. Jangan hanya minta gaji bagus, tapi tak mau meningkatkan diri. Jangan kita berlaku curang, tidak adil, menjadikan negara dan sekolah sebagai tunggangan. Kita mentolerir kemalasan, tidak mau membaca, tidak memperluas horizon, memberikan anak-anak ala kadarnya. Kan celaka! (iya pak...persisnya begitu dah)

Kalau guru segitu-gitu saja kemampuannya, dan tidak mampu memperbaiki diri, ini dosa besar! Guru yang berhorizon luas, banyak baca, bijak, akan mampu memotivasi anak dan melahirkan anak-anak hebat di masa datang. Kalau generasi/bangsa ini tidak bisa melakukan apa-apa di masa datang, yang salah itu para guru. (hiyyyaaa......kena lagi)

Sebelum masuk mengajar, Guru sudah harus baca koran. Pikirannya terbuka, perspektif luas. Menyampaikan bahwa kita ini bagian dari dunia yang besar. Bicara problem perubahan iklim, krisis ekonomi, kemiskinan, penduduk makin banyak, akan terjadi apa akibatnya bagi bumi ini. Coba lihat, sawah-sawah dipakai rumah. Lihat gedung disambung rumah-rumah gubuk. Orang di jalan naik motor ngebut, tidak ada sopan santun, inikah bangsa kita, inikah peradaban bangsa kita? Banyak hal yang perlu dibangkitkan dari siswa.


uru-guru idealis dan profesional, jumlahnya harus diperbanyak. Pendidikan kita sudah di jalur yang tepat, tapi perlu akselerasi (dipercepat) lagi dalam peningkatan dan pemerataan kualitas dan internasionalisasi.


Profesionalisme itu (skill, etik, renumerasi) tidak hanya sekedar untuk profesionalisme saja, atau agar kualitas pengajaran makin bagus. Profesionalisme guru juga untuk membangun citra, persepsi, juga gengsi. Sekarang ini profesi guru (masih dianggap) pekerjaan kelas rendah, jauh dibanding profesi insinyur atau dokter. Jarang orang bangga menjadi Guru (hiik.... betul pak)

Sejarah membuktikan, bangsa hebat saat ini, karena pendidikannya baik, dan di dalamnya ada guru-guru yang mempunyai profesionalisme tinggi, kesadaran, etos kerja, dan idealisme untuk mengembangkan diri.

Selain kualitas guru, proses mengajar di SMA akan baik kalau infrastruktur memadai. Ruang kelas bagus , ada penggunaan IT – infocus, pengenalan IT, wifi, teleconference. Kurikulum dibangun dengan baik. Saat ini, banyak yang terlalu formal, bersifat memaksakan, dan seringkali kita juga salah menafsirkan substansi kurikulum.


Juga penting, metoda pengajaran, atau cara penyampaian. Metoda KBK itu baik –problem base learning- tapi pendalaman implementasinya banyak yang hanya basa-basi.


Infrastruktur penunjang agar proses pendidikan baik, perlu disediakan mushola yang memadai, lapangan olahraga memadai, ruang terbuka, library yang bagus, ruang bagi siswa untuk melakukan aktifitas seni dan berorganisasi, juga fasilitas untuk pengajar. Sehingga dalam proses belajar-mengajar soft skill juga ditanamkan di samping hard skill. Sehingga kalau masuk ke universitas, mereka tidak kaget.’

Kami senang kalau kualitas pendidikan SMA dari Sabang sampai Merauke merata. Siswa terbaik dari tiap daerah bisa terjaring, sehingga tujuan kami membuat UI jadi mozaik Indonesia dapat tercapai tanpa sulit mempertahankan kualitas input yang dapat mempengaruhi proses belajar-mengajar di UI.

Republik ini punya jumlah anak-anak berbakat yang luar biasa. Kalau mereka dibimbing oleh tangan yang tepat –the best teachers- di sekolah yang bagus- akan luar biasa. Kita masuk di era Abad 21, yang disebut the Gobal War of Talent. Hanya bangsa-bangsa yang mampu mengembangkan bakat dan peradabannya, yang akan survive…

Sebaiknya, kita mulai pikirkan sebuah sistem pendidikan yang tidak gebyah-uyah (anggapan yang seragam-red)seperti sekarang. Sejak TK diasumsikan semua akan masuk perguruan tinggi, bahkan akan jadi doktor. Apa jadinya? Jumlah doktor kurang dari 10.000 untuk jumlah 250 juta orang, jauh lebih sedikit dari Israel (1 doktor tiap 50 orang) atau Singapura (Ya ampuuunnn...)

Sejak SD, siswa sudah mulai diarahkan. Sehingga tidak semua masuk SMP umum, sebagian SMP kejuruan, seperti dulu. Tapi lebih baik, laboratorium bagus, dan ada kerjasama dengan industri penyerap tenaga kerja. Nilai entrepreneurial sejak dini ditanamkan, sehigga tidak membeludak ramai-ramai masuk SMA dan akhirnya ramai-ramai menganggur. Pendidikan kejuruan diperbanyak tapi dengan melihat kebutuhan bangsa yang sedang kompetitif menopang segala bidang yang sedang kita kembangkan. Toh dalam kehidupan sehari-hari tidak semua jadi direktur. Jadi pekerja pun harus berskill bagus.

Di Jerman, sejak kelas 3 SD, sudah diatur yang punya kecerdasan praktikal-nya lebih tinggi (masuk Realschoole). Yang kecerdasan numerik tinggi masuk ke sekolah umum, ke Gymnasium lalu akhirnya ke perguruan tinggi. Bukan berarti yang masuk kejuruan tidak bisa masuk ke perguruan tinggi. Tapi diberi koridor, yaitu perguruan tinggi politeknik.

Potensi kita luar biasa. Tidak kalah, dan kita bisa. Sejahtera atau tidak generasi yang akan datang, tergantung pada kita membina mempersiapkan generasi muda, dipilah bakat dan minatnya, sehingga dia lulus dalam bidang yang disukainya, dan sesuai dengan kebutuhan bangsa. Ini berarti terserap langsung, sehingga bangsa ini diisi oleh orang orang yang berkualitas. Pekerja yang berkualitas, sampai direktur berkualitas. Kita semua mengejar jadi direktur, sehingga jadi direktur tidak berkualitas. Dengan penataan ini, di berbagai lapisan, semuanya berkualitas, dan memberikan sumbangan menopang bangsa sesuai dengan kemampuannya. Saat ini, kebanyakan pengambil keputusan pintar-pintar, tapi di bawahnya payah... (yesss......kena juga birokrat kita)

Semua sistem pendidikan ini approach-nya harus holistik. Karena yang harus kita bangun adalah kultur, mind set, dan etos dari bangsa ini."

Hmmm.... mantap ya kritik dan saran Pak Rektor. Coba semua ini bisa berpengaruh pada sistem pendidikan kita, apa nggak hebat Indonesia tercinta ini. Ayo lah para Guru, apa yang bisa kita kerjakan dulu. Teriak minta gaji, meperluas horizon, memprotes sistem, demo pada birokrasi, baca koran, mengubah sistem, perbaikan kurikulum..... atau apa? Yang mana dulu? Atau mau ketemu langsung dengan Pak Rektor Gumilar Rusliwa Somantri, yang gagah, keren, dan berhorizon amat luas. Salam dari kami pak rektor. Terima kasih segala kritiknya. Jadi input dan feed back yang mak nyuss.....TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

VIRUS N Ach




Berfikir adalah kegiatan manusia yang paling utama. Cogito ergo sum, demikian kata Rene Descartes, filsuf Perancis, yang artinya ‘saya berfikir, karena itu saya ada’. Berfikir adalah sumber perilaku manusia.


Selanjutnya, gagasan ini disambung oleh Mc Clelland, penulis buku The Achieving Society, yang mengedepankan konsep virus N-Ach, atau Need for Achievement. Motivasi dasar manusia adalah untuk mencapai prestasi. Di balik motivasi adalah kebutuhan untuk berprestasi, yang menyebabkan manusia ingin menciptakan kemajuan bagi diri dan lingkungannya. Demikian seperti diungkap Dr. Djokosantoso Moeljono, dalam bukunya Beyond Leadership.


Premis di atas kami temukan dengan kejadian yang membuat kami merasa haru biru. Adalah seorang pria berusia 35-an, sebut saja namanya Pak Yusuf. Asli Padang. Karena faktor biaya, dia hanya sanggup sekolah sampai tingkat SMA. Kini menetap di kota hujan Bogor. Sehari-hari, Pak Yusuf berdagang pulsa dan hand phone bekas. Apalah istimewanya!


Namun karena proses berfikir dan virus N-Ach itu, Pak Yusuf mampu ’memaksa’ kami bertemu Guru sejati di kota Bogor, yang selama ini rupanya dia amati, dia cermati sepak terjangnya, dan dia kritisi. Dalam kesibukannya berdagang, Pak Yusuf selalu berfikir tentang pentingnya pendidikan di negeri ini, yang dia a- ngankan akan dapat mengentaskan manusia Indonesia dari kesulitan. Pak Yusuf berselancar di internet, membaca buku, berdialog dengan guru dan praktisi, dan akhirnya menemukan majalah Teachers Guide di salah satu toko buku.


Menurutnya, sejak itu hatinya bergejolak, dan terus mengikuti perkembangan majalah ini, yang waktu terbitnya masih jauh dari ajeg (maaf- red) . Cerita tak berhenti sampai di situ. Ternyata, Pak Yusuf sering memborong sejumlah majalah Teachers Guide –dengan uangnya sendiri-, dan ia bagikan ke sejumlah Guru yang memiliki prestasi dan semangat mengajar hebat. Dia ingin apa yang menjadi buah fikirannya, dapat terwujud menjadi sebuah pencapaian para Guru, minimal di sekolah yang dia kenal selama ini. Ah…., Pak Yusuf yang hebat!


Di bulan yang kuyup dengan hujan, akhirnya kami penuhi keinginannya. Ternyata luar biasa. Kami berbincang lama dengan Guru sejati di dua sekolah negeri. Di saat kritikan terhadap mutu pendidikan dan profesionalisme Guru banyak mendapat sorotan, masih bisa kami temukan Guru yang terkena virus N-Ach!


Kebutuhan untuk mencapai prestasi, telah dibuktikan oleh sosok Guru tulen yang bernama Ahmad Furqon, dan Pipip Rosida. Kehebatan Guru De Britto yang berjuang merangkai kata dalam sebuah tulisan di berbagai media nasional juga membuktikan virus N-Ach. Berfikir, mengkritisi dan menulis. Virus N-Ach ini semoga juga berjangkit di tubuh kita, yang menjadi praktisi di bidang pendidikan Abad 21 ini.


Tetaplah mencari pemahaman bermakna, Pembentukan karakter sedang menjadi pekerjaan besar bagi terciptanya manusia Indonesia yang siap menjadi warga dunia yang tak lagi bulat, namun sudah rata akibat informasi dan teknologi.


Semoga kita makin terjangkit virus N-Ach!


Salam Pendidikan,
Arfi D. Moenandaris
Pemimpin Redaksi

Kondisi Pendidikan Dasar Kita



Pahami Peta Persoalannya
Pikirkan dan Perbaiki

Simaklah media dan diskusi-diskusi yang diadakan oleh para cerdik pandai yang prihatin pada pendidikan – khususnya pendidikan dasar. Kritik pedas sering terdengar.

Sesungguhnya, apa sih persoalan pendidikan kita ini? Terlalu banyak beban kurikulum salah –katanya sarat akademis. Ikut olimpiade salah – kata orang hanya mengedrill otak kiri. Pemerdekaan pendidikan kata¬nya nggak kompetitif, nggak punya dasar lah, tidak ada tujuan lah. Lebih bagus yang dulu dibanding kini.
Depdiknas sebagai lembaga tinggi pendidikan pun tak jarang menerima limpahan kekesalan. Yang korup lah, birokrasi politis yang bersliweran proyek, hmmm….Sampai di mana perjalanan kita sebenarnya?

Darmaningtyas, tokoh vokal yang kini menjadi pengurus Majelis Luhur Taman Siswa memberi gambaran persoalan pendidikan dasar di Indonesia. Ia membedakan dalam 3 permasalahan, yakni: 1) Makro, meliputi persoalan filosofis, ideologi dan budaya; 2) Meso (tengah), yang meliputi masalah kebijakan, politik pendidikan dan otonomi daerah; serta 3) Mikro, yang mencakup angka partisipasi pendidikan, angka DO, kelulusan, gedung, prasarana dan sarana.

PERSOALAN MAKRO
Setelah reformasi 1998, filosofi pendidikan menjadi krusial, karena muncul berbagai kelompok kepentingan yang masing-masing mengusung aspirasinya agar menjadi platform bangsa. Di lain pihak, sisa-sisa Orde Baru menyisakan persoalan filosofis, yang menempatkan pendidikan sebagai abdi kekuasaan, yang mengabaikan pemerdekaan pendidikan.

Jika dibandingkan antara UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas dengan UU No. 4/1950, disinyalir yang tahun 2003 itu terlalu banyak maunya, sehingga tidak jelas. Rumusan tahun 1950 lebih sederhana, tidak berbelit, memilki makna individual, sosial dan kebangsaan, yang mungkin merupakan turunan rumusan Ki Hajar Dewantara, yang meletakkan dasar-dasar pendidikan sebagai penuntun keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Ideologi pendidikan di Indonesia cenderung liberal, lebih menitikberatkan penguasaan kompetensi, yang selalu mengacu pada kebutuhan dunia kerja kapitalis. Kredonya adalah ‘pendidikan untuk bekerja’. Inilah yang menafikan dimensi kemanusiaan. Pendidikan tidak diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik sebagai manusia merdeka berdaulat. Terjadilah dehumanisasi pendidikan. Pendidikan hanya menghasilkan manusia robot, mekanis, individualistis. Sementara sopan santun, kehalusan budi, akhlak mulia, tidak diasah.

Pendidikan liberal menuntut metode student centre (sebagaimana tuntutan KBK). Kondisi umum di lapangan, masih banyak sekolah yang mengenyam proses teacher centre. Terjadilah gagap proses.

Desentralisasi dan otonomi daerah melahirkan politik demokratisasi, yang sesungguhnya memberi kewenangan daerah mengelola secara mandiri. Kebijakan ini menuai masalah, manakala Ujian Nasional (UN) dengan standar nasional dijadikan penentu kelulusan. Kecurangan pun merebak.

Nation & Character Building, yang dulu didengungkan Bung Karno, yang meliputi kemandirian, demokrasi, persatuan nasional, dan martabat internasional kini mengalami degradasi luar biasa. Krisis kepercayaan pada pemerintah selalu dianggap tidak membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Di sisi lain, pemerintah tak mandiri dari tekanan internasional, utamanya dalam perekonomian. Kita kerap menjadi bulan-bulanan kasus perbatasan dan budaya.

Mestinya nation & character building yang menyangkut wawasan kebangsaan, sejarah, nasionalisme, tidak sekedar disampaikan secara hafalan. Siswa jadi meremehkan hal ini. “Kebanyakan teori,” kata mereka.

Kemiskinan menyumbang dampak terberat pada pendidikan. Wajib belajar sembilan tahun yang targetnya usai di tahun 2008, urung terpenuhi. Anggaran 20% tak menjangkau kehidupan rakyat kebanyakan. Di sisi politik, sejak Orde Baru, pendidikan formal adalah alat melanggengkan status quo pemerintah melalui indoktrinasi P4. Daya kritis siswa dikerdilkan. Semua seolah baik-baik saja tak perlu diributkan. Hegemoni politik tertuang dalam berbagai kebijakan, mulai dari kurikulum, materi pelajaran, buku ajar, orientasi pendidikan, yang semuanya dibuat seragam. Jabatan penting di jajaran birokrasi diisi oleh orang yang minim pemahaman, sehingga banyak kebijakan yang tidak tepat sasaran.

Globalisasi, the world is flat. Semua yang datang dari Barat seolah jaminan mutu. Laporan dari Global Monitoring Report dan Program of International Student Assessment yang selalu melaporkan keterpurukan sumber daya manusia Indonesia, ditelan mentah-mentah sebagai dasar pengambilan keputusan.

Prof. Winarno Surachmad menyatakan: “Pemerintah silau oleh kemajuan Barat, hingga makin didikte. Misal, pada pemberlakuan MBS (manajemen berbasis sekolah) yang mulanya adalah konsep manajemen sekolah di Australia. Padahal ini tak sesuai dengan sosio kultural masyarakat. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah (DPKS) agaknya sekedar mengganti organisasi yang sudah ada,” jelasnya.

Globalisasi menaikkan kecenderungan internasionalisasi sekolah. Banyak siswa Indonesia belajar ke luar negeri dan tak kembali lagi ke tanah air karena kurang apresiasi. Sekolah internasional juga menjamur. SBI di sekolah negeri dibanjiri orang tua. Dari sisi anggaran, sekolah-sekolah ini menyedot banyak anggaran. Padahal masih banyak sekolah reyot yangmemerlukan bantuan.

PERSOALAN MESO
Isu politik, ekonomi, sosiologi dan budaya secara langsung memepengaruhi praksis pendidikan. Akibatnya adalah inkonsistensi kebijakan. Ganti mentri ganti kebijakan. Ebtanas dan NEM dan kini UASBN adalah contoh inkonsistensi kebijakan yang mengacaukan fokus pembelajaran.
Desentralisasi pengelolaan pendidikan, manipulasi konsep MBS, adalah tataran persoalan meso.

PERSOALAN MIKRO

Mencakup persoalan ruang kelas, kinerja Guru, kinerja siswa, gedung sekolah, angka mengulang/putus sekolah, buta huruf, kerusakan fasilitas, buku, laboratorium, kurikulum, partisipasi orang tua, masyarakat, praksis pendidikan keluarga, pendidikan Guru, pendanaan dan anggaran.

Ketersediaan dan kualitas Guru, tak habis dibahas, di tengah kegundahan kurikulum dan buku ajar. Penentuan biaya pendaftaran dan SPP liar beredar. Kesenjangan sekolah konvensional dan sekolah active learning mengakibatkan perbedaan kualitas yang menyolok.

Guru lulusan agama sudah jauh melebihi kapasitas. Itu sebabnya banyak sarjana agama yang mengajar mata pelajaran sains, matematika, dan lain-lain. Ini jelas tidak menguntungkan. Banyak pula Guru yang mengajar di luar bidangnya. Mismatch. Lulusan sejarah mengajar sains dan sebaliknya.

Semua bicara pendidikan. Semua bicara solusi. Darmaningtyas memberi wacana yang sarat politik: ”Utang dan korupsi, racun pendidikan”. Ya, akar masalah yang makin memberatkan makro, meso dan mikro adalah ketidakefisienan dan kebocoran anggaran alias korupsi.

Peta permasalahan metinya Anda pahami. Lantas, mulai benahi sebisa yang kita dapat lakukan di lingkungan terkecil. Persoalan mikro lebih banyak berkelindan di dekat kita. Namun jangan apatis dengan persoalan meso dan makro. Meski kita sulit menjangkau. Kesadaran pada persoalan makro akan mengarahkan peta pikiran kita agar tak sempit memandang masalah pendidikan adalah soal gaji kurang dan berburu sertifikat.TG

Sumber:
Pustaka Yashiba, 2008.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

BENARKAH PRESTASI DI TANGAN GURU?


Dengan banyaknya training, seminar, dan workshop, seakan terkesan guru menjadi penyebab kurang berhasilnya pendidikan.
Hemat penulis, guru hanyalah salah satu dari berbagai faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor lain diantaranya orangtua, lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah, televisi dan media massa, buku bacaan, kemampuan ekonomi keluarga, dan dukungan pemerintah.

Yang paling mendasar, adalah pendidikan di lingkungan keluarga (orang tua), yang selama ini kurang disentuh. Coba bandingkan, sudah ribuan guru ikut training, tapi berapa orangtua ikut parenting (bimbingan) pendidikan?

Orangtua siswa yang memiliki pengetahuan dan pendapatan minim, tampak orang tua kurang memperhatikan putra-putrinya dalam belajar. Masih banyak keluarga yang hanya pas-pasan makan, tak ada untuk pendidikan, kesehatan dan kebutuhan lainnya. Meski sekolah gratis, bukan berarti mereka tidak memerlukan biaya lainnya. Mereka hanya paham, bahwa anak mereka sekolah. Itu saja! Bahkan sekolah gratis kurang disambut respon positip orang tua. Malahan ada siswa yang berhenti! Sang orangtua tak berbuat apa-apa. Ketika ditanya, alasannya si anak ingin istirahat, tak mau sekolah. Ada apa ini?

PENGARUH KELUARGA
DAN TELEVISI

Waktu siswa di sekolah hanya 5-6 jam, selebihnya ia ada di lingkungan rumah. Kalau pengaruh lingkungan lebih kuat, karakter anak mengikuti bentukan lingkungan itu. Seandainya watak lingkungan sudah terbentuk, sulit sekolah (guru) mengubahnya.

Apalagi pengaruh program televisi yang tidak mendidik. Teve berpe¬ngaruh sangat kuat membentuk karakter anak, lantaran hampir setiap hari anak ‘belajar’ dari teve. Peme¬rintah dan KPI harus tegas melarang tayangan-tayangan yang dapat menghancurkan karakter anak.

Di sisi kebijakan, Ujian Nasional yang menjadi syarat kelulusan siswa, juga sangat tidak sesuai dengan kurikulum 2006 (KTSP). Kegiatan pembelajaran yang berpendekatan proses yang dinilai setiap hari, kini dinilai hanya dalam tiga hari waktu ujian. Hal ini kurang adil khususnya bagi siswa yang baik kemampuan psikomotorik dan afektif, namun kurang dalam kognitif. Padahal, kemampuan dalam hidup bukan tergantung dari faktor kognitif saja.

Inilah permasalahan pendidikan kita, bagai mata rantai yang saling berhubungan. Penulis mengajak semua komponen dapat bekerjasama untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Antara lain dengan saran berikut:
 Orang tua berperan aktif untuk selalu membimbing putra-putrinya di rumah, bangun komunikasi antara sekolah, guru, dan tokoh masyarakat di lingkungan. Selalu memberikan teladan (perbuatan atau ucapan). Serta mendoakan agar anaknya menjadi pintar, benar, dan sholeh.
 Lingkungan tempat tinggal (RT,RW, tokoh masyarakat) selalu bekerja sama memberikan pendidikan bermasyarakat yang baik. Artinya ada kepedulian masyarakat menghadirkan anak-anak generasi muda berpekerti luhur.
 Lingkungan sekolah, dengan semua komponen sekolah, harus memiliki rasa tanggung jawab dan bekerja secara sinergi untuk menciptakan lingkungan yang berkualitas.
 Para pengusaha teve dan media massa sudah waktunya tidak berfikir sebatas keuntungan. Tapi, memikirkan bahaya tayangan/sajian itu bagi anak-anak. Pemerintah harus tegas menyetop tayangan yang merusak mental dan moral anak.
 Kebijakan pendidikan jangan dikaitkan dengan masalah politik dan tidak merugikan masyarakat. Ujian Nasional, misalnya, tidak sejalan dengan KTSP yang digunakan sekarang ini.

Jadi jelaslah bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya di tangan guru, juga pada tangan kita semua komponen bangsa. Mari bersama membangun moralitas bangsa. TG


Agus Susanto, S.Pd
Guru SD di Bogor, peserta workshop “Guru Kreatif, Pendidikan Berkualitas”
oleh LPI Dompet Dhuafa, dalam program pelatihan menulis oleh majalahTeachers Guide.
Email: anto_leo2006@yahoo.co.id

*)Tulisan ini termuat pada majalah Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Beredar April 2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Ahmad Furqon MPd. : "Tetap Ingin Jadi Guru SD"



Jika Anda ingin mendorong perubahan di sekolah, tapi berada di dalam situasi yang tidak mendukung, apakah Anda akan berhenti melangkah? Atau maju terus, meski tak ada rekan guru yang mendukung? Mungkinkah Anda tetap melangkah dan berfikir positif, sementara dunia di luar bersikap tak peduli, menganggap Anda ’orang aneh’, atau bahkan antipati?

Bagaimana menjaga motivasi mengajar tetap tinggi? Apa yang bisa me¬nyemangati kita untuk terus maju, tidak berhenti atau menyerah? Beberapa pakar telah memberikan kriteria guru sejati yang pantang menyerah mendaki. H.Ahmad Furqon, SPd. M.Pd, guru kelas V di Sekolah Dasar Negeri Polisi 4, di Bogor, Jawa Barat, adalah salah satu Guru yang tak menyerah.

Meski banyak tawaran menggiurkan dari berbagai pihak, Ahmad Furqon bertekad untuk tetap berkiprah di pendidikan dasar. ”Pendidikan dasar itu begitu penting,” alasannya.

Untuk menjadi guru profesional, Furqon menunjukkan potret perjalanan dirinya. Di jalur akademik, ia bersekolah lagi untuk meraih strata 2 magister manajemen pendidikan. Di jalur kompetensi sebagai pendidik, ia bergabung dan berkontribusi dengan berbagai aktifitas kependidikan kota Bogor. Untuk meningkatkan kesejahteraan, ia menambah pendapatan dengan menjadi penulis buku pelajaran sekaligus menjadi editor, dan mengajar di perguruan tinggi swasta.

Untuk mewujudkan gagasannya mengajar, ia tak segan merogoh kocek sendiri untuk melengkapi sarana di kelasnya. Sebagai contoh, di kelas V tempatnya mengabdi, kini ada sebuah teve berikut berbagai cakram program sains. Ruangan kelas pun diubahnya menjadi bentuk melingkar O, meja direndahkan dengan memotong kakinya. Dengan susunan begini, lebih banyak murid yang bisa duduk berhadap-hadapan, ruangan kelas pun (rasa-rasanya) menjadi lebih luas.

Inilah mutiara kata yang keluar dari hatinya yang teguh:

”Perubahan itu mesti datang dari Guru itu sendiri. Menjadi guru dan mendidik adalah dunia saya. Bagaimanapun, saya akan menjalani dan mencintai. Apapun kondisinya.

Saya pernah mengajar di SD Wangunsari, Pamoyanan, Bogor, di kaki gunung. Kondisinya sangat minim, bahkan jarang guru yang mau mengajar di sana. Dindingnya dari kayu, bolong-bolong. Kalau kita mengajar, orang bisa menonton dari lubang itu. Ketika jam masuk belajar, guru belum datang, saya memimpin upacara sendiri.

Guru umumnya tidak punya keingin¬an untuk menjadi lebih baik. Kalau saya datang pagi, rekan guru bilang ”Pak kenapa datang pagi-pagi.?”. Kita sebagai guru sering terjebak rutinitas. Ada guru kelas VI mengajarkan peta dunia, tapi dia sendiri tidak tahu di mana letak Warung Jambu di kota Bogor. Di mana pun saya mengajar, selalu sepenuh hati... Kalau anak tak masuk 3 hari, saya kunjungi.

Melihat kondisi sekolah SD Wangungsari, bersama kepala sekolah kami mencari dana bantuan. Dapatlah Rp. 60 juta, dan dari situ dapat membangun 2 lokal. Kemudian saya dimutasi ke tempat sekarang, SD Polisi IV. Saya minta, kalau saya dipindahkan, harus dicarikan 2 orang pengganti saya sekaligus.

Mengikuti panggilan menjadi guru, adalah masalah hati. Sedikit sekali saya dan rekan-rekan guru diajari bagaimana mengajar total dengan sepenuh hati.

Dari mana dorongan yang kuat menjalani tugas guru, meski honor tak memadai? Menjawab itu, saya merasa kekuatan datangnya dari dalam diri dan jiwa saya. Pengaruh dari luar sedikit saja.

Menyiasati perubahan yang akan dilakukan di sekolah, diawali dengan pembelajaran. Cari model-model pembelajaran yang bisa mencakup gaya belajar semua siswa, dengan pemanfaatan media. Apalagi kalau mengajar dengan inovasi, hasil akhir akan lebih bagus lagi.” TG

BIODATA
 Wakil Kepala Sekolah SDN Polisi IV, Kota Bogor.
 Lahir di Bandung, 22 Juli 1972
 Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pakuan, 2004
 Magister Manajemen Pendidikan, Pasca Sarjana Univ. Pakuan, 2007
 Berbagai pelatihan di Bogor, Bandung, Jakarta, Perth (Australia), Penang (Malaysia)/
 Menulis 16 item buku, dan sekaligus menjadi writer coordinator di penerbit Epsilon dan Genesindo, Bandung.
 Anggota tim pengembang Kurikulum Disdik Kota Bogor, pembina generasi muda, anggota Komunitas Matematika Nalaria Realistik-Bogor, dan banyak aktifitas lain.
 Penghargaan Juara I –Guru SD Berprestasi tingkat Nasional (2006), setelah sebelumnya juara I di tingkat Kota Bogor dan tingkat Propinsi Banten.
 Juara Harapan I Lomba Keberhasilan Guru dalam pembelajaran tingkat nasional.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.