Tampilkan postingan dengan label Inspiring. Dr. Eva J. Hoffman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiring. Dr. Eva J. Hoffman. Tampilkan semua postingan

Maret 08, 2011

Belajar dari dr. Eva J. Hoffman. NGOMONG BENER SAJA KOQ SUSAH

Kata-kata memiliki kekuatan untuk menyembuhkan atau menyakiti; untuk memperbaiki atau merusak; untuk menguatkan atau melemahkan.

Rubrik Book
Perkatan dan ucapan begitu berarti. Setiap saat anak menerima ungkapan dari orang dewasa. Tak ada manual mendidik anak. Namun bisa dipelajari. Yang diperlukan adalah
menurunkan ego kita sebagai orang dewasa, agar mau mengoreksi tata bicara kita selama ini.

Dua buku yang ditulis oleh bu Eva Hoffman ini wajib dibaca oleh Guru,orang tua, dan nenek kakek, agar patut memberi komentar terhadap setiap perkataan anak, untuk
memperkuat konsep diri.

Stuart Patton selaku pemrakarsa dan penyunting buku yang diterbitkan dalam dua bahasa ini memberikan latar belakang, mangapa Bu Hoffman berhasrat membuat buku ini. Siapa tahu, kalau diingatkan oleh orang luar, kita jadi mau lebih ‘ndengerin’.

"Dr. Hoffman made the decision to write this little book based on here experience of working with both Teachers, Parents and Children back in the UK and other parts of Europe. Her goal was to help Parents understand what a crucial role they play in the education of their children, and the key to understanding this role is learning how to effectively communicate with your children, something thats affects every parent no matter where in the world you live.

Dr. Hoffman states that “Children’s brains evolve by taking information from their surroundings from the day they are born. The biggest influence on the way the child develops is the sum of their experiences, both good and bad. The nurturing of a child is a key responsibility of a parent : there are no parent instruction leaflets, no parent manuals, as each child is unique, but sometimes there are right and wrong ways of doing things”

Good communication in any situation requires respect, patience, and an effort to understand others by really listening to what they say, and in some cases what they do not say. This description is no different to the communication of a parent with a child, the skill of effective listening is probably more important to a parent than any other, of course listening can only happen if you have communication.

In our world of every growing media connections, it is easier than ever before for children to communicate with other children via social groups, be it twitter, facebook or some other on line facility. In this new media world neither parents or teachers have any real influence on what is being communicated to, from and between children, this is their world.

The key is to ensure parents don’t loose communication with their children, which means making time to communicate, and aiming to communicate in a positive way, using the right words. This little book has only 35 pages, it was designed so that parents could read on the go, sat in the car, waiting for a bus, or having coffee in the mall. You can read the book in 25 minutes, but the principles will last a lifetime, as will good communication with your children.
TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada edisi 11/2011. Judul cover : MENJADI INDONESIA. Dapatkan majalah Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Atau, silakan berlangganan jika tak ingin luput ketinggalan.

Oktober 25, 2010

Ikuti Ujian Nasional dengan Senyuman BELAJAR MEMINIMALKAN STRESS SAAT UJIAN

Foto: Dr. Eva J. Hoffman


Lelah berdebat soal penyelenggaraan Ujian Nasional, Ujian Akhir Semester Berstandar Nasional (UASBN di jenjang SD)? Meski menang di pengadilan, tak menyurutkan pemerintah untuk tetap menggelar UN tahun ini. Gosipnya, karena dana sudah dialirkan, tak mungkin ditarik kembali.

Polemik lalu berserak tak hentinya menghujat UN. Sementara pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh, mengatakan : “UN kali ini diperbaiki. Ada 4 syarat yang konon tak boleh saling menjatuhkan. Pertama, lolos Ujian Nasional. Kedua, lolos Ujian sekolah. Ketiga, lolos penilaian akhlak dan perilaku. Dan ke empat, tuntas menjalankan seluruh program.

Manalah yang diperbaiki? Kalau empat syarat itu dijadikan pedoman, bagaimana kalau keadaannya dibalik? Anak tak lulus UN, namun perilakunya sangat santun dan terpuji. Lulus nggak nih anak? Ternyata jawabannya ‘tetap tidak lulus’! Inilah yang tak patut. Dikatakan bahwa UN bukan satu-satunya penentu kelulusan. Jadi mana yang diperbaiki, bukankah ditambah syaratnya?!

Kecerdasan majemuk jelas belum tersentuh. Jauh panggang dari api. Apalagi mengemas tata cara Ujian agar siswa tak mengalami pengerdilan otak.

JENIS SOAL
Menteri M. Nuh memberi penjelasan pula tentang jenis soal yang seringkali dikeluhkan. Menurutnya, selain memperbaiki mutu pendidikan, pihaknya akan memperbaiki soal UN. Soal harus diyakini bahwa memang betul mencerminkan kemampuan anak dengan spektrum yang lebih lebar. Jangan sampai soalnya susah semua. Kira-kira Anda bisa menterjemahkan maksud pernyataan pak Menteri ini?

Angie Siti Anggari, principal Sekolah Tara Salvia di Bintaro-Tangerang berkomentar, jenis soal yang dibuat secara nasional secara umum cukup maju. Tak hanya berhenti pada tataran kognitif, melainkan sudah menyentuh substansi multi kecerdasan. Namun pada ujian ujian tingkat wilayah (propinsi, kabupaten, kecamatan), jenis soal masih payah.

“Menurut saya, yang penting saat ini adalah mencari solusi. Kita tahu pemerintah keukeuh dengan pendapatnya. Biarkan saja. Aroma politis lebih kuat. Kita yang bergerak di praksis pendidikan bisa mencari jalan keluar dengan melakukan penguatan pada guru dan siswa,” jelas Angie Siti Anggari.

Mungkin nggak ya, siswa menjalani ujian dengan didahului games, agar tercapai alfa zone, sebelum otak siap dipekerjakan secara maksimal? Lha wong yang jaga Ujian kan dari guru sekolah lain, ditambah tenaga dari kepolisian! Untuk tahun ini akan ditambahkan tenaga dari Perguruan Tinggi.

Kecurangan yang dilakukan para oknum di sekolah menyebabkan pemerintah secara narsis mengirim tenaga kepolisian untuk mengawal soal hingga diserahkan ke diknas setempat. Jadi pada tataran praktik penyelenggaraannya juga masih penuh syak-wasangka. Bagaimana mau memperbaiki konten? Demikian pemikiran pihak yang menolak UN.

STRATEGI ITU
Pada beberapa pertemuan yang Teachers Guide ikuti, sesungguhnya para penyelenggara pendidikan setuju Ujian Nasional tetap perlu diadakan. Namun dengan segala persyaratan yang memenangkan siswa. Bagaimana bentuknya? Pihak yang menghujat UN sampai kini juga belum menemukan ramuan jitu.

Kita telaah lebih lanjut bagaimana menyikapi ujian dengan strategi. Paparan Dr. Eva J. Hoffman, pada materi ‘Stress – Free Exams’ mungkin dapat membantu kita memperkuat siswa dengan strategi ‘30 detik penting bagi perbaikan otak’ :

a. Minumlah segelas air (jika tak diperbolehkan saat ujian, minumlah sebelum memasuki ruangan)
b. Tarik nafas perlahan
c. Usahakan untuk tersenyum (otak akan memproduksi ‘hormon senang’ yang disebut endorfin)
d. Regangkan pergelangan tangan dan kaki, lalu tarik nafas sambil menekan ujung lidah ke langit-langit rongga mulut, keluarkan nafas melalui mulut sambil membuat lidah rileks. Ulangi terus menerus hingga jantung berdegup normal.
e. Tambatkan jangkar ketenangan dan kedamaian milikmu. (lihat boks)

BOKS:
TAMBATKAN JANGKAR

Jangkar adalah simbol stabilitas dan keamanan. Benda ini berbentuk seperti kait dan mampu menahan apa pun agar tetap di tempatnya. Artinya, berlatihlah untuk selalu tenang, sabar dan fokus layaknya sebuah jangkar.

Jangkar menjadi alat bantu yang mengingatkan pada seseorang, situasi, bau-bauan, lagu, aroma, yang dapat memicu ingatan pengalaman. Saat menghadapi ujian, tautkan jangkar pada perasaan dengan contoh sebagai berikut:

LANGKAH I: Pilih jangkarmu
Jangkar Visual: liontin; cincin; simbol (pelangi, matahari, lingkaran); bayangan pemandangan indah atau seseorang.
Jangkar Sentuhan : menekan jempol dengan telunjuk; mengepalkan tangan; menekan titik positif (lekuk kecil di atas alis mata; dua tulang lekukan di bawah tulang leher, di kedua sisi tulang sternum; bagian belakang leher – pijat dengan menarik kulit dari tulang belakang, bentuk huruf X dengan telunjuk, lihat beberapa saat, bernafaslah teratur).
Jangkar Aroma: deodorant; minyak aromaterapi; parfum

LANGKAH 2: Ingat dan bayangkan sebuah situasi
Ketika merasa tenang dan damai…
a. Pejamkan mata dan berusaha membayangkan situasi tersebut
b. Nikmati perasaan rileks, bayangkan situasi itu secara jelas dan berwarna. Jika mungkin, dengarkan suara di sekeliling.

LANGKAH 3: Gunakan Jangkarmu.
Ketika sedang merasa amat tenang dan damai, ingatlah jangkarmu. Bayangkan dalam pikiran, atau gerakkan tangan mengikuti bentuknya (secara sadar, hubungkan diri dengan ketenangan dan kedamaian, bayangkan sentuhan atau aroma yang menjadi jangkarmu)

LANGKAH 4 : Perkuat Jangkar.
a. Buka mata dan hitung mundur dari 10 hingga 1. Atau gerakkan tangan hingga merasa rileks
b. Ulangi langkah 2 dan 3, sambil terus membuat banyangan sejelas mungkin
c. Ulangi langkah tersebut sekali lagi
d. Buka mata dan hitung mundur dari 10 hingga 1

LANGKAH 5: Tambatkan
Jangkar. Gunakan jangkar dan cek apakah sudah merasa tenang dan damai dengan melihatnya atau dengan bergerak. Ulangi tahap 2 dan 3 sebanyak mungkin hingga jangkarmu membawa ketenangan dan kedamaian.

Biasanya, ujian sekolah mengandung konsep jangkar negatif. Seringkali dikaitkan kata ‘ujian’ dengan rasa gelisah, cemas, gugup, dan stress tingkat tinggi. Jangkar macam ini tak berguna dan harus dihilangkan.TG

Sumber:“Sukses Ujian Tanpa Stress” –Dr. Eva J. Hoffman. Penerbit Gagas Media


Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.