
* Kompeten, Hati Nurani, Peduli
* Free, Bukan Wild
SMA Kolese De Britto memang berisi pribadi-pribadi yang tidak puas hanya sekadar di kelas, sangat terbuka, tidak berhenti pada hal yang rutin. Idealisme mereka cukup terwadahi, agar Guru tidak hanya berdiri di depan kelas, tapi terlibat penelitian, ide-ide di kota, menanggapi panggilan sebagai pendidik, tertarik banyak bidang, dan banyak membaca. Konten yang disuarakan adalah sesuatu yang berbeda. Sekolah ini menghargai setiap individu autentik sesuai yang Allah ciptakan. Visi sekolah ini mendarah daging. Sebuah kebebasan. Biarlah anak tumbuh sesuai yang dikehendaki. Sesuai citra Allah dalam Katolik. Kebaikan Allah akan muncul di situ. Sekolah hanya memfasilitasi. Siswa disadarkan, bahwa mereka dicintai oleh Allah. Identitas dipahami secara maksimal, sesuai konteks individu, keluarga, masyarakat, dan sekolah.

Kalau siswa selesai melakukan sesuatu, selalu diajak duduk untuk refleksi. ‘Kamu mau apa?’ Dinamikanya selalu seperti ini. Memahami konteks anak maupun objek, mencari pengalaman dan evaluasi dan refleksi dan merencanakan kegiatan berikutnya. Dan ini semua ditulis.
Kegelisahan yang Menguntungkan
Tak satu pun di tembok ada coretan. Sampah juga tak ada yang tercecer. Perkelahian antar anak hampir nol persen. Perseteruan yang ada dibicarakan. Kalau ada yang melanggar, mereka tahu akan tertolak di komunitas ini. Contoh dari kakak kelas menjadi keteladanan yang mengalir saja.
Bukan itu yang mutlak, biasa-biasa saja jadi kepala sekolah. Kultur di sini yang mengalir sendiri. Peneguhan saat inisiasi adalah saling mengenal. Selalu penekanannya bukan pada uang. Tapi sebanyaknya melayani orang lain. Semua orang, mulai dari satpam sampai kepsek, tahu nama siswa. Kami edarkan katalog lengkap dengan foto dan alamat. Semua saling mengenal.
Misalnya ada siswa yang jadi ngeyel setelah sekolah di sini, mungkin di kelas 1 selalu ada. Orang tua bisa ngobrol dengan pastor, Alumni diundang untuk bicara, nilai apa yang harus mereka ikuti. Humanisme tergali. Di sekolah boleh bicara apa saja. Bukan wild, tapi free.
Tentu kami memimpikan keseimbangan. Kini ada Guru perempuan. Dulu nggak ada. Di ruang Guru juga sudah mulai ada bunga, makanan kecil, lebih indah lah. Dulu dari kamar mandi ada anak jalan pake celana dalam ‘doang’. Argumen mereka kuat. Dengan ibu guru, mereka lebih menata hati. Tapi pertemanan dengan sekolah Stece (Stella Duce), Santa Maria, mereka bisa berteater, bermusik, pentas bersama. Anak perempuan masuk ke sini juga tidak takut. Seimbang saja koq.
Taman Siswa, Kayu Tanam, sekarang seolah tak terdengar. Padahal sangat baik. Mungkin karena De Britto selalu dihidupi oleh para Jesuit. Orang muda yang baru datang, dibenturkan visi pribadinya dengan visi bersama, sehingga menjadi fanatik, cinta pada lembaga jadi kuat.
Semua Guru happy ending?
Memangnya nggak ada kegelisahan hidup? Ya mereka juga manusia biasa. Bedanya ada pada cara mereka memandang dan mengatasinya saja………..
( Apa saja yang sudah Guru lakukan? Simak penuturan para Guru penulis itu, dan komentar tentang mereka dalam tulisan ‘The Champion’ berikut). TG

