Tampilkan postingan dengan label De Britto Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label De Britto Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

April 29, 2009

Debut De Britto



* Kompeten, Hati Nurani, Peduli
* Free, Bukan Wild

Teachers Guide datang khusus ke sekolah ini dengan segala keingintahuan, ada apa di sekolah khusus cowok ini? Mengapa banyak Gurunya sering menulis di koran nasional? Kalau sedang tampil di seminar nasional, Guru De Britto juga tampil arogan (baca: pede abis)! Drs.Th.Sukristiyono, sang kepala sekolah (44), menuturkan dalam bahasa yang lugas:



SMA Kolese De Britto memang berisi pribadi-pribadi yang tidak puas hanya sekadar di kelas, sangat terbuka, tidak berhenti pada hal yang rutin. Idealisme mereka cukup terwadahi, agar Guru tidak hanya berdiri di depan kelas, tapi terlibat penelitian, ide-ide di kota, menanggapi panggilan sebagai pendidik, tertarik banyak bidang, dan banyak membaca.

Guru memilki kesempatan refleksi melalui forum pedagogi Ignasia (2 bulan sekali) di mana Guru berkumpul, bertemu di sore hari, tanpa beban kerja, berbincang santai. Kadang ada nara sumber. Selebihnya, sekolah mendukung dengan memberi insentif bagi Guru yang tulisannya dimuat di media, lokal maupun nasional. Sarana untuk menulis juga diberikan. Kredit laptop, hot spot area.

Ada juga Guru yang tidak menulis. Tapi usaha memancing untuk maju juga dilakukan. Di ulang tahun ke 60 kemarin, semua Guru diminta menulis perjalanan mereka dari awal hingga kini.
Konten yang disuarakan adalah sesuatu yang berbeda. Sekolah ini menghargai setiap individu autentik sesuai yang Allah ciptakan. Visi sekolah ini mendarah daging. Sebuah kebebasan. Biarlah anak tumbuh sesuai yang dikehendaki. Sesuai citra Allah dalam Katolik. Kebaikan Allah akan muncul di situ. Sekolah hanya memfasilitasi. Siswa disadarkan, bahwa mereka dicintai oleh Allah. Identitas dipahami secara maksimal, sesuai konteks individu, keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Kalau siswa selesai melakukan sesuatu, selalu diajak duduk untuk refleksi. ‘Kamu mau apa?’ Dinamikanya selalu seperti ini. Memahami konteks anak maupun objek, mencari pengalaman dan evaluasi dan refleksi dan merencanakan kegiatan berikutnya. Dan ini semua ditulis.

Kegelisahan yang Menguntungkan
Guru De Britto melihat ketidakadilan dengan ketidakpuasan. Kritik mereka tentang myopi pendidikan, tentang SMK yang digalakkan, menghasilkan sebuah pemikiran, bahwa 10 tahun ke depan, kita memerlukan ahlinya. Bukan hanya tukang.

Ini point-point leadership sebetulnya. Visi pemimpin yang melayani. Kompeten, punya hati nurani dan kepedulian. Ini kata kunci Gereja Katolik. ‘Saya kira semua agama juga begini. Multi kultur sudah menjadi keseharian’.

Dalam ‘keliaran’ itu muncul gagasan-gagasan. Anak-anak menjadi lugas. Ada ruang untuk anak bisa bilang ‘aku tidak suka’. Di sekolah ini tidak ada sesuatu yang dimulai dengan kata tidak boleh. Misal: ‘tugas ini dikumpulkan hari Senin, tanggal sekian, jam pelajaran pertama’. Tak penah ada kata-kata ‘paling lambat tanggal sekian’. Ini budaya komunikasi yang akhirnya terbawa pada nilai-nilai kehidupan.

Anak di sini tak semuanya pintar. Tapi punya kepedulian pada yang lemah. Di luaran lebih dikenal dengan pendidikan karakter. Kalau sekarang banyak sekolah membuat ‘kantin kejujuran’, di sini sudah puluhan tahun kantin berjalan tanpa penunggu. Hanya sebutannya tak dinamakan kantin kejujuran. Biasa saja.

Tak satu pun di tembok ada coretan. Sampah juga tak ada yang tercecer. Perkelahian antar anak hampir nol persen. Perseteruan yang ada dibicarakan. Kalau ada yang melanggar, mereka tahu akan tertolak di komunitas ini. Contoh dari kakak kelas menjadi keteladanan yang mengalir saja.

Apakah ini karena kekuatan leadership kepala sekolah?
Bukan itu yang mutlak, biasa-biasa saja jadi kepala sekolah. Kultur di sini yang mengalir sendiri. Peneguhan saat inisiasi adalah saling mengenal. Selalu penekanannya bukan pada uang. Tapi sebanyaknya melayani orang lain. Semua orang, mulai dari satpam sampai kepsek, tahu nama siswa. Kami edarkan katalog lengkap dengan foto dan alamat. Semua saling mengenal.
Misalnya ada siswa yang jadi ngeyel setelah sekolah di sini, mungkin di kelas 1 selalu ada. Orang tua bisa ngobrol dengan pastor, Alumni diundang untuk bicara, nilai apa yang harus mereka ikuti. Humanisme tergali. Di sekolah boleh bicara apa saja. Bukan wild, tapi free.

Di sini siswa yang Katolik, yang Muslim, bisa berdampingan. Ada pengakuan dosa, dinamika masa tobat diterjemahkan dalam agama sendiri-sendiri. Sesekali ada juga ustadz untuk anak muslim. Tentu dipilih yang bisa memandang perbedaan dengan semangat kebersamaan. Sekolah ini banyak dikunjungi dari beragam segmen. Dianggap aneh mungkin.

Tawa pak Kris renyah, ditingkahi suara nyanyian siswa yang masih berada di sekolah selepas jam pulang. Rupanya mereka sedang berlatih koor. Ketika kami melintas, dengan ramah mereka menyapa, menanyakan siapa kami dan dari mana. Ketika tahu kami dari media, mereka bergaya dan berceloteh ala anak muda yang narsis. Pemandangan yang berkesan ….

Ketika anak dalam kondisi yang mereka inginkan (ada batasan juga), secara sosial dia akan ada pada sistem sosial itu sendiri. Tapi jiwanya bebas. Sekolah mengimbangi dengan fasilitas. Anak laki-laki butuhnya apa sih? Olah raga, kesenian, buku, semua ragamnya ada. Mereka bikin liga sepak bola tahunan. Pialanya bisa kambing, anjing, yang aneh-aneh lah. Kalau sudah bosan, hadiahnya diberikan kepada penjaga sekolah.

Anak ditanya mengapa kamu gondrong, mengapa terlambat? Itu ditanya dan di-dialog kan. Akar persoalannya diketahui. Solidaritas pada teman juga luar biasa.

Membuka diri dialog dengan anak itu tidak mudah. Guru memberi ruang dan bersedia dengan kerendahan hati untuk sejajar dengan siswa. Anak pagi-pagi sudah membuka google misalnya. Guru akui saja dia ketinggalan informasi.

Di dunia yang flat in kan masalah gender sudah melemah?
Tentu kami memimpikan keseimbangan. Kini ada Guru perempuan. Dulu nggak ada. Di ruang Guru juga sudah mulai ada bunga, makanan kecil, lebih indah lah. Dulu dari kamar mandi ada anak jalan pake celana dalam ‘doang’. Argumen mereka kuat. Dengan ibu guru, mereka lebih menata hati. Tapi pertemanan dengan sekolah Stece (Stella Duce), Santa Maria, mereka bisa berteater, bermusik, pentas bersama. Anak perempuan masuk ke sini juga tidak takut. Seimbang saja koq.

Asal usul menjadi sekolah khusus laki-laki ini karena sejarah. Bukan Karena mau eksklusif. Tahun 48-49, pada waktu Agresi Belanda ke dua, yang perempuan tidak diganggu tentara. Yang pria ’kan diganggu tentara terus. Jadi disendirikan. Setahun kemudian, yang laki baru dibuka lagi. Agar yang perempuan yang sudah mapan tidak terganggu, ya jalan terus saja. Kembar siam saja dengan Stece.

Melegenda ya?
Taman Siswa, Kayu Tanam, sekarang seolah tak terdengar. Padahal sangat baik. Mungkin karena De Britto selalu dihidupi oleh para Jesuit. Orang muda yang baru datang, dibenturkan visi pribadinya dengan visi bersama, sehingga menjadi fanatik, cinta pada lembaga jadi kuat.

Semua Guru happy ending?
Memangnya nggak ada kegelisahan hidup? Ya mereka juga manusia biasa. Bedanya ada pada cara mereka memandang dan mengatasinya saja………..
( Apa saja yang sudah Guru lakukan? Simak penuturan para Guru penulis itu, dan komentar tentang mereka dalam tulisan ‘The Champion’ berikut). TG
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

THE CHAMPION Kiprah Guru-Guru De Britto sebagai Penulis

Menulislah! Daripada dikasih semangkok mie instan......

Di tengah saling cela, hardikan, teguran, bergantian dengan puji dan sapa, saling menunjukkan kepedulian. Iklim ini yang mendorong Guru SMA Kolese De Britto berbuat sesuatu, yang membangkitkan gairah untuk menulis dan dikirim ke media, dimuat, dan terkenal.

Pernahkah Anda baca tulisan di harian Kompas, di rubrik Opini atau Didaktika? Kalau sempat mencermati, ada sekelompok Guru yang aktif menulis. Mereka selalu menyertakan identitas sebagai Guru De Britto, sebuah sekolah menengah tingkat atas khusus laki-laki.

Untuk dapat dimuat di media, sebuah tulisan membutuhkan persyaratan yang tidak mudah. Perlu proses panjang. Media besar (nasional) memilkiki kriteria tertentu yang cukup alot untuk meluluskan kiriman tulisan.

Nah, kini kita bisa mengenal lebih dekat dengan para Guru yang tampak energik, pede abis, agak arogan tapi sembodo (konsekuen-jw). Semangat juang luar biasa. Mereka bukan sekedar menjadi Guru yang mengajar di depan kelas, melainkan sudah menjadi pribadi menyenangkan yang behasil menemukan jati diri dan potensinya.

Kesulitan, kegetiran hidup, adalah lakon yang mereka pandang sebagai sesuatu yang biasa. Kini mereka mantap menjalani hari-harinya, dengan vaksin semangat, kompetisi dan menjajal tantangan.

ST Kartono (biasa dipanggil Pak Este) :
Tak ada yang baru di bawah matahari. Yang selalu baru adalah bagaimana cara kita melihat segala sesuatu di bawah matahari. Saya sering ‘mengejek’ rekan sejawat untuk melecut diri, mengatasi kesulitan hidup dengan berkarya.

Honor menulis saya pos-kan sebagai sumber pendanaan rutin tiap bulan. Dengan demikian saya selalu terpacu.

Kita ini menjadi Guru, harus tetap merasa sejajar dengan orang tua siswa. Mereka boleh saja memiliki profesi dan jabatan lain yang lebih hebat. Namun Guru jangan merasa ‘terbeli’ . Karena itu bagi yang mau berupaya menulis, jadikan ini sebagai sumber atau pos pendapatan. Daripada kita harus memberi les tambahan di rumah siswa kita sendiri, kadang siswa belum siap, kita nunggu, kalau hujan-hujan paling kita dikasih mie instan… ha…ha…haa..

Hj Sriyanto :
Saya hanya lebih mau jujur pada realita yang dialami teman-teman Guru. Ketika terasa ada sesuatu yang tak pas, ini dia saat melakukan refleksi. Jadilah sebuah tulisan : Siapa Bilang Jadi Guru Gampang. Tulisan salah satu Guru yang dimuat, pagi-pagi sudah ditempel di sekolah. SMS terkirim saling mengucap selamat, meski dengan bahasa yang agak ‘nyinyir’, misal: “ ayo, cepetan cairin duitnya!”. Begitulah gaya mereka. Saling membully, namun tak menyakiti.
Siswa juga bangga pada Gurunya. Jangan sampai mereka melihat Gurunya loyo setelah tanggal dua puluh, saat persediaan menipis…..

Kingkin Teja Angkasa :
Saya punya obsesi kuat agar siswa menghargai Guru. Sudah bukan saatnya rumpi masalah cicilan motor. Tidak up to date lah….

Sumardianta (kerap menjadi pembicara konferensi Guru tingkat nasional) :
Guru yang menulis adalah front office -nya sekolah. Otomatis sekolah mereka juga menjadi terkenal, Guru juga dikenal sebagai kolumnis pendidikan. Sip toh… ngelmu iku ngelakone kanthi laku, yang maknanya adalah: mencari ilmu itu harus dilakukan melalui tingkah laku dan perilaku yang diyakini kebenarannya. Kalau menulis soal kesulitan ekonomi, itu kan keluar dari jeritan hati yang paling dalam. Pasti jadi tulisan yang bagus!

Semua Guru, dengan latar belakang apa pun, mestinya bisa nulis. Mereka kan pelaku. Kalau setelah itu muncul idealisme, hal ini disebabkan esprit de corp (rasa kebersamaan) yang makin kental, yang makin menyuarakan dan membela si lemah, dan mengkritisi si kuat. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.


Dari Cawas Mampir mBantul



…Bagaimanapun De Britto adalah yang membesarkanku…
De Britto adalah sebuah jalan hidup yang sudah kupilih…

Bermula dari pertemuan dengan Suster Wina FCJ di Jl. Gejayan suatu pagi, langkahku di De Britto, Yogyakarta dimulai. Sebenarnya sudah cukup lama Suster yang juga guru pembimbing waktu praktik di De Britto itu ingin bertemu untuk menawari jadi guru De Britto. Keraguankulah yang menunda pertemuan itu. Salah satu alasan kenapa aku ragu, aku sedang bergulat dengan skripsi. Berdasarkan pengalaman banyak teman, kerja dan mendapatkan uang seringkali lebih menggiurkan ketimbang meyelesaikan skripsi.

Akhir 1998 selesai kuliah, tetapi baru pertengahan 1999 aku mengawali karirku di De Britto, sebagai seorang guru. Inilah pengalaman pertama kerja di institusi formal. Tidak mudah! Sebab, untuk bisa mengerti di kolese ini harus mencari tahu sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu aku tidak hanya mengajar matematika, tapi juga mengajar teater di sore hari. Sebuah ‘kesenangan’ yang kupelihara sejak mahasiswa yang ternyata membawaku mengenal De Britto lebih mendalam. Kesenangan itu pula yang membuatku menghabiskan hampir setiap sore di De Britto selama lima tahun berikutnya.
Salah satu nilai yang mengusikku di awal perjalanan ini adalah "kebebasan". Kebebasan seolah menjadi ciri khas, jargon, dan sekaligus mantra di sekolah ini. Cukup lama aku memahami dan menggali makna pendidikan bebas di kolese ini dengan bertanya, membaca, mengamati, dan merenung-renung. Aku melakukan itu agar tidak salah dan latah tentang kebebasan. Supaya mendapatkan pemahaman yang utuh tentang kebebasan, yang dihidupi di kolese ini.

Bagiku kebebasan tidak hanya berkait dengan pilihan dan tanggung jawab yang mengiringi sebagai konsekuensi. Kebebasan merupakan hal yang mendasar yang tak bisa dilepaskan dari proses mencipta. Sebab hanya orang bebaslah yang bisa mencipta, berkreasi, dan menghasilkan karya berguna (migunani tumraping liyan). Nilai inilah yang mendasari, menginspirasi, dan membuatku kuat serta berani menentukan pilihan-pilihan hidup selanjutnya. Setelah aku merasa bebas secara ekonomi, tak lama setelah bekerja di De Britto, aku berteguh hati untuk menikah.
Meski belum begitu jelas aku merasa yakin dengan masa depanku di De Britto. Pasti ada jalan bagi yang berani. Tahun itu, selain di De Britto aku juga mengajar di SMA Stella Duce 1, dan menjajakan matematika dari rumah ke rumah atau dari kos ke kos untuk menghidupi keluarga baruku. Hal ini semakin meyakinkan bahwa pilihanku bisa aku pertanggung jawabkan.

Setelah hampir satu tahun mengontrak, menjelang kelahiran anak pertama kami pindah ke rumah di Cawas. Pilihan ini aku ambil karena sejak awal aku punya mimpi, aku ingin masa kecil anak-anakku di mulai dari desa, biar dekat dengan alam, tumbuh dari lingkungan yang masih kental dengan kebersamaan. Konsekuensi dari pilihan ini, aku harus nglaju dari Cawas ke Yogya setiap hari.

Berangkat pagi-pagi, ketika orang lain masih memicingkan mata belum begitu tersadar dari bangun tidurnya dan pulang ketika semua pintu rumah-rumah sudah tertutup dan terkunci. Aku jalani semua itu sama seperti mereka yang bergegas pagi-pagi, aku juga menyimpan harapan dan masa depanku di De Britto. Meski kalau mau jujur, waktu itu honor di De Britto selalu hanya cukup untuk membeli susu anakku, toh masa depanku di De Britto semakin terpampang jelas.

Demi menghargai dan membahagiakan mertuaku, mulai 2001 aku pindah ke Bantul, tanah kelahiran istriku dan nantinya anak keduaku. Serupa di Cawas, aku pun harus nglaju dari Bantul setiap hari, berangkat pagi, pulang malam hari. Sesekali menyesatkan diri di Bener untuk bermain teater atau sekedar obrolan ringan di Wirobrajan.

Pada 2001 pula aku ‘menikah’ dengan De Britto dan aku menyerahkan hidupku untuk De Britto. Separuh waktu hidupku aku habiskan di De Britto. Pagi sampai siang mengajar matematika dan sore mendampingi anak-anak berteater. Di sela-sela itu aku mendampingi presidium, bekerja di Litbang atau menjadi bagian tim kurikulum. Boleh dibilang aku begitu bersemangat dan berdarah-darah. Membayar kepercayaan dengan totalitas dan loyalitas.
Namun, jalan memang tidak selalu mulus. Dalam perjalanan selanjutnya aku sering mendapati "cermin retak", ketidakseimbangan yang mengecewakan yang membuatku lelah. Enam tahun cukuplah aku berhenti sejenak.

Kesempatan rehat sejenak itu juga aku manfaatkan untuk banyak menulis, kembali mengajar secara mendalam dan bereksplorasi tentang matematika, serta memberikan waktu dan perhatian kepada keluargaku. Kesempatan menantang dan menguji kesabaran diri dengan mengajarkan matematika bagi mereka yang sangat kesulitan dengan matematika.

Meski mundur sejenak bukan berarti aku melepaskan diri, tidak perduli dengan apa yang sedang berlangsung di De Britto. Aku selalu ada untuk De Britto, tetap melihat meski tidak cukup banyak terlibat. Bagaimana pun De Britto adalah tempat yang membesarkanku. De Britto adalah sebuah jalan hidup yang sudah kupilih.

Dan setelah rehat beberapa waktu – melihat dari pinggir. Aku menemukan kembali semangat baru untuk terlibat dan bergulat lagi. Kini aku berdiri lagi di sini, siap sedia kembali untuk berpikir dan berbuat demi De Britto, jalan hidup yang telah kupilih. TG

Hj. Sriyanto
guru De Britto, Yogyakarta


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385