Mei 06, 2009

Info FREE SEMINAR "LEADING CHANGE" dan OPEN HOUSE n.e.t.t academy




Free Seminar "Leading Change" & Open House 16 May 2009 ~ Nett
Academy
Pembicara Karen Peters Phd, pada Sabtu 16 Mei mendatang, 09.00 - 12.30
Jangan ketinggalan ya. Daftarkan diri Anda sebelum 14 Mei 2009, tempat terbatas. Contact person Lina 0811 137 323

INFO BEASISWA LMPI JAKARTA

Beasiswa Program Pengembangan Kapasitas Pendidik.

Dari: LMPI School of Education, lmpi_school@yahoo.com

Kepada Bapak/ Ibu yang terhormat,

Berikut kami informasikan BEASISWA Program Pengembangan Kapasitas Pendidik yang dilaksanakan oleh LPK LMPI School of Applied Education pada bulan Mei- Agustus 2009 Mohon informasi ini disebarluaskan kepada rekan-rekan yang diindetifikasi cocok untuk mengikuti program tersebut. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
Lusi Pudjiati, S.Pd = Sekretariat dan BAK LPK LMPI School of Applied Education

INFORMASI BEASISWA UNTUK TERM VI
Pengelolaan Program Pendidikan
( Mei – Agustus 2009 )
LPK LMPI School of Applied Education adalah penyelenggara pendidikan non-formal sejak tahun 2003 dengan misi dan prinsip memberikan solusi sekaligus membangun model pendidikan masa depan Indonesia. Lulusan LPK LMPI School of Applied Education memiliki kemampuan mengajar sekaligus kapasitas pengetahuan dan keahlian pengelolaan lembaga maupun program Pendidikan Anak Usia Dini dan Sekolah Dasar.

Secara khusus sejak tahun 2007, LMPI School of Applied Education menetapkan “Kemampuan mengantisipasi sekaligus menjalankan program pendidikan transformatif” sebagai indikator pencapaian yang diproyeksikan untuk dimiliki peserta studi .

Sehubungan dengan telah dimulainya masa pendaftaran bagi pestudi baru, LPK LMPI School of Applied Education memberikan kesempatan kepada 2 (dua ) orang untuk mendapatkan beasiswa Program Pengembangan Kapasitas Pendidik . Program Pengembangan Kapasitas Pendidik adalah program intensif 4 bulanan selama 1 term ( kumulatif 144 jam ) setara dengan tingkat terampil.

Tujuan beasiswa ini adalah sebagai bentuk dukungan untuk mengembangkan potensi para pendidik/ calon pendidik/pengelola program pendidikan/peminat pendidikan yang membutuhkan pendalaman wacana, skill dan atau memiliki keterbatasan finansial .

Bentuk beasiswa :

1. Half Scholarship ( 1 Orang )
Bagi penerima beasiswa Half Scholarship dibebaskan 50% biaya dari seluruh pestudian (50 % x Rp 1.005.000,- = Rp 502.500,- ) dan berhak mendapat sertifikat program Pengembangan Kapasitas Pendidik jika memenuhi semua kriteria kelulusan program

2. Voluenter Scholarship ( 1 Orang )
Bagi penerima beasiswa voluenter scholarship diwajibkan untuk berelawan selama 2 (dua) hari di LMPI School of Applied Education di luar waktu perstudian selama masa perstudian berlangsung (Selain hari Jumat dan Sabtu), dibebaskan dari seluruh biaya pestudian ( Rp. 1.005.000,-) dan berhak mendapat sertifikat program Pengembangan Kapasitas Pendidik jika memenuhi semua kriteria kelulusan program

Syarat Penerima Beasiswa
1. Minimal Tamatan Jenjang Sekolah Menengah Atas dan sederajat
2. Perwakilan dari lembaga ataupun perorangan yang memiliki dampingan program pendidikan PAUD/TKBM/PKBM/Rumah Singgah/ Pendamping Belajar Anak Jalanan ( utamanya untuk komunitas marjinal ) di daerah JABODETABEK
3. Mengisi Lembar Aplikasi Beasiswa ( terlampir dan bisa didapat di www.lmpi-iemi.org)
4. Melampirkan gambaran tentang program yang sedang dan atau akan digulirkan (max 3 lbr)
5. Melampirkan surat keterangan/ profil lembaga dan surat rekomendasi dari lembaga.
Batas waktu untuk melengkapi persyaratan adalah Selasa, 18 Mei 2009
Kelas Perdana akan dilaksanakan pada Jumat, 22 Mei 2009
Perstudian dilaksanakan setiap hari Jumat dan Sabtu, Pk. 09.00 – 16.00 WIB

Kelengkapan persyaratan beasiswa dapat dikirim melalui Pos, Fax dan Email ke
LPK LMPI School of Applied Education
Jl. Utan Kayu Raya no. 20A, Jakarta Timur 13120
Fax. 021 8583536, email : lmpi_school@yahoo.com

Untuk Informasi lebih lanjut dapat menghubungi di nomor 021. 8583536 / 021 93202438,
Website : www.lmpi-iemi.org

Terimakasih atas perhatiannya.

Ike. Arriany
Koordinator Program
LMPI School of Applied Education

=======================================================================
Pengembangan Pendidikan Kontekstual
( Mei - Agustus 2009 )
LPK LMPI SCHOOL of APPLIED EDUCATION

1. DINAMIKA PERKEMBANGAN PENDIDIKAN GLOBAL
Memberikan pemahaman dasar tentang perkembangan pendidikan global yang telah, sedang dan akan mempengaruhi konstelasi perkembangan pendidikan di Indonesia: baik dalam hal sunstansi kurikulum, metode pembelajaran, serta manajemen penyelenggaraan pendidikan.

2. PENGEMBANGAN PROFESIONALITAS PENDIDIK
Memberikan pemahaman tentang peta konsep profesionalitas pendidik ( khusunya guru dan kepala sekolah) di Indonesia dan 4 negara lainnya; Pengenalan skema pengembangan sekaligus sistem pengujian kompetesi guru di Indonesia; Pengenalan model alternatif pengembangan kompetensi pendidik berdasarkan pendekatan new microteaching dan leadership

3. MANAJEMEN KONSELING ANAK dan PENDIDIKAN
Memberikan pemahaman tentang prinsip dasar konseling untuk anak dalam konteks pendidikan baik berdasar jenis dan jenjang pendidikan ( TK,SD, PAUD Non Formal), maupun berdasarkan kasus kejadian dan kondisi subyek belajar (phobia, bullying, anak cerdan berbakat, anak berkebutuhan khusus). Praktek perancangan program konseling bersahabat anak.

4. LINGKING HOME, SCHOOL AND COMMUNITY
Memberikan pemahaman dasar tentang kedudukan sekolah dalam perspektif historis pendidikan, perspektif negara dan pemerintah serta sekolah sebagai komunitas pendidikan: Pengenalan konsep Lingking Home, School, and Community (Sebagai sebuah pembelajaran yang mengoptimalkan interaksi edukatif antara sekolah, rumah dan komunitas) pada tingkat kebijakan pendidikan kurikulum, dan sekolah model. Eksplorasi konsep Lingking Home, School, and Community ke dalam sistem KTSP untuk persekolahaan di Indonesia.

5. PENGELOLAAN ADMINISTRASI KELEMBAGAAN PENDIDIKAN FORMAL DAN NON-FORMAL
Pengenalan sekaligus eksplorasi multiaspek penggunaan berbagai bentuk tehnologi pendidikan ( yang selama ini masih kurang optimal aplikasi pemanfaatannya ) dalam proses pembelajaran menyenangkan; Pengenalan sekaligus eksplorasi potensi tehnologi informatika sebagai sarana mendapatkan multiaspek sumber belajar; Perancangan sekaligus praktek penerapan teknologi pendidikan dan teknologi informatika sebagai model pembelajaran menyenangkan yang berintegrasi dengan manajemen kelas.

(Catatan : Pestudi term VI akan terlibat secara aktif dalam peyelenggaraan acara 123 Inspiring Days and Global Youth Service Day 2009 ( April – Agustus 2009 ), event berskala internasional dan nasional yang di koordinir oleh LPII Foundation dan LPK LMPI School of Applied Education sebagai Local Organiser pada even tersebut)

Kelas perdana untuk term VI akan dilaksanakan pada Jumat, 22 mei 2009. Kelas perstudian diselenggarakan hari Jumat dan Sabtu pukul 08.30 -16.30 WIB dan setiap mata ajar terdiri dari 16 sesi yang dilaksanakan dengan metode satu sampai dua kali pertemuan/sesi tiap minggunya.


* Info promotif ini disampaikan oleh LMPI School of Education, sekolahnya para guru dan kepala sekolah.

Mei 05, 2009

FORM BERLANGGAN Teachers Guide

Tertarik berlangganan? Lebih baik berlangganan ketimbang kehabisan di Gramedia/Gunung Agung/MP Point/Leksika

Jika rekan-rekan Guru berkenan berlangganan, mohon dapat diprint file gambar form berlangganan ini, diisi dan faks bersama bukti transfer ke (021) 871 4846.
Segera setelah Anda mentransfer, kami kirimkan majalah Teachers Guide terbaru edisi No.8.

Majalah ini terbit dwibulanan. Harga pereksemplar Rp. 20.000,- atau Rp. 120.000 untuk 6 edisi ke depan. Pembayaran transfer via BCA no rekening 8690 560 861 a/n Arfi Destianti.

Untuk alamat kirim Jabodetabek, bebas biaya kirim (dengan jasa kurir Tiki JNE). Sedangkan daerah luar Jabodetabek, dikenakan tambahan biaya kirim.

Oya, masih tersedia (terbatas) majalah edisi sebelumnya, no. 5, 6, dan 7 (harganya juga Rp. 20.000,-). Siapa tertarik? Semoga bermanfaat. Salam Pendidikan! TG

Mei 04, 2009

Melayani dari Hati

Cobalah Anda masuk ke restoran cepat saji A&W. Baru membuka pintu, Anda sudah disambut dengan teriakan: “Selamat siang (tergantung waktu), Selamat Datang di AW. Bagaimana kabar Anda hari ini? Mau coba menu baru?’ Mau dijawab atau enggak, si mbak yang gesit itu terus saja melayani.

Di konter, kasir kehabisan uang receh saat mengembalikan uang, dengan sopan dia akan bilang: “Maaf, ada dua ratusnya?”. Setelah pesanan diantar ke meja, mbak yang lain akan mengatakan: “Silakan pesanannya, Bu. Maaf telah menunggu cukup lama.” (Padahal tak sampai 3 menit pesanan juga sudah di depan meja.)

Di supermarket lain, selesai Anda belanja, kasir akan mengatakan: “Terima kasih, selamat belanja kembali,” sambil menangkupkan kedua tangannya membentuk sembah. Itulah bentuk layanan komunikasi yang kini makin beragam dan kompetitif.

Konsumen yang datang dari kelas tertentu akan menghargai ini sebagai bentuk penghargaan. Mereka ada yang merasa ‘nggak ngaruh’. “Kalau makanannya enak, mau keringatan dan si penjual cemberut pun kita tetap kejar, ha ha ha….”

Di Sekolah Anda?
Sekolah sarat dengan nila-nilai (mestinya). Sudah selayaknya nada-nada sapa indah itu terdengar lebih natural. Bukan dipaksakan. Jika si mbak di restauran itu terkesan seperti kaset yang diputar berulang (karena disampaikan tanpa ekspresi ), maka di sekolah mestinya semua orang akan merasa nyaman, seperti saat menikmati pameran seni di sebuah galeri.

Ada pengalaman seorang teman, yang bertandang ke sebuah sekolah nasional plus. Teman ini berbusana ‘rada seadanya’, dengan kerudung yang mungkin terkesan ‘kurang mewah’. Jangankan mendapat layanan yang asyik. Kesan ‘curiga’ tampak menyelidik. Mungkin terpikir, bahwa teman ini ‘petugas’ sekolah lain yang menyamar jadi calon ortu untuk mendapat penjelasan langsung dan bisa melihat isi sekolah (maklum, kadang acara open house sekolah keren itu ‘hanya’ berlaku bagi calon ortu yang tampak wah.

Bukan Basa Basi
Tidak mudah memberi layanan yang sifatnya non sistem ini. Dalam SOP (standart of procedure) mungkin tertera keharusan bersikap ramah pada tamu. Namun jika tak diimbangi dengan pembentukan karakter yang tulus ingin membantu, kalimat ramah itu hanya akan menjadi basa basi yang lama-lama basi.

Apalagi jika keramahan itu tak dapat dinikmati siswa di kelas. Wah….. jelas ini bukan sebuah corporate culture yang sengaja dibangun dengan upaya yang sungguh-sungguh, agar budaya ramah dan tulus serta care (perhatian, peduli), bukan saja menjadi pemanis di awal pertemuan.

Pakar pembentukan budaya perusahaan mengingatkan, sekolah mestinya lebih dari korporasi dalam memberikan layanan dan komunikasi. Publikasi dan publisitas bisa digarap dengan ilmu komunikasi yang makin bisa didalami dengan pendekatan manajemen terapan. Namun ketulusan, keikhlasan, dan bicara ‘dengan hati’ adalah sebuah upaya yang tidak ada manual-nya.
Penulis jadi ingat pengalaman ketika berkunjung ke sebuah sekolah internasional. Mereka tak membiarkan kita bengong sedikit pun. Baru sebentar kita melangkah, senyum dan sapa yang menolong terdengar di mana-mana.

Kami juga menemukan sebuah sekolah, yang semua Guru dan staf- nya tahu persis nama dan keunikan tiap siswa. Orang tua merasa sekolah ini bagai ‘tukang jahit’ yang tahu persis ukuran masing-masing pelanggannya. Ada yang suka ditanya soal koleksi tanamannya, ada yang meriah jika sudah bicara soal hamster piaraan, ada yang merasa tersanjung jika dipuji padanan bajunya, kemajuan anaknya, dan sebagainya.

Nah, jangan kalah dengan restoran dan supermarket. Sekolah Anda harus lebih meriah dengan tegur sapa yang terukur, patut, pas, tak berlebihan namun terkesan datangnya dari hati (by heart). Dari hati! PerHATIan memang harus muncul dari hati. Bukan di bibir saja. TG

*) Arfi D. Moenandaris, pemimpin redaksi majalah Teachers Guide.
Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040385.

Wawancara Orangtua Calon Siswa


Bukan Sekadar Tanya-tanya

Sudah menjadi kebiasaan di setiap masa penerimaan siswa baru (PSB), sekolah sibuk melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan eksistensi sekolah secara keseluruhan.

Setelah sejumlah siswa terjaring, maka proses yang paling menentukan adalah pada wawancara calon orang tua murid. Banyak sekolah yang melaksanakan wawancara sekedar formalitas belaka. Sesungguhnyalah pertemuan awal ini bisa menjadi penentu utama, apakah sekolah bisa memenuhi harapan orang tua, dan menjajagi gaya orang tua seperti apa yang akan menjadi partner sekolah.

Kisaran pertanyaan yang disampaikan pada orang tua bisa mengacu pada hal-hal berikut:
1. Menggali alasan ortu dan motivasi pemilihan sekolah bagi putra/i nya
2. Menggali pola asuh secara umum di rumah
3. Mencermati pandangan ortu pada anak saat ini
4. Seperti apa pandangan ortu terhadap sekolah saat ini
5. Menggali pendangan ortu pada perubahan paradigma pendidikan
6. Sejauh mana keterlibatan ortu pada pendidikan anak di sekolah
7. Harapan dan target ke depan

Kisaran pertanyaan itu harus disampaikan secara mengalir. Orang tua akan sangat senang bertutur tentang performa anaknya saat ini. Kadang menjadi seperti forum konsultasi. Karena itu sang pewawancara harus memiliki wawasan dan kedalaman pendidikan yang cukup, agar suasana wawancara berjalan dengan rileks dan memperdalam trust (kepercayaan).

Haruskah Seorang Psikolog?

Banyak sekolah mempercayakan proses wawancara ini pada seorang psikolog. Jika memang sekolah itu memilki tenaga psikolog yang sehari-hari tahu persis bagaimana sekolah dioperasikan, maka bisa saling memperkuat pencermatan.

Namun jika psikolog yang di’sewa’ semata untuk melakukan wawancara, beberapa kelemahan bisa muncul kemudian. Ini terjadi, karena saat wawancara, tentu saja bukan hanya pihak sekolah yang mengajukan pertanyaan. Namun sebaliknya, orang tua juga akan mengajukan berbagai problema, dengan harapan mendapat jawaban yang melegakan hati.

“Saya selalu turun langsung bertemu calon orang tua di saat wawancara awal. Satu per satu secara terjadwal. Biasanya di setiap hari Sabtu, agar orang tua dapat hadir lengkap, ayah dan ibu,” kata Bu Chika, seorang manajer sekolah. “Dulu kami memakai jasa psikolog. Namun karena psikolog tersebut tidak stand by di sekolah setiap harinya, maka banyak hal yang justru kurang pas. Sebagai pewawancara, kita tidak melulu bertanya, tapi juga melakukan “mendengar perasaan”. Papar bu Icha dengan lembut.

Jadikan Data Awal

Hasil wawancara ini kemudian harus dijabarkan secara tertulis, agar dapat menjadi data awal yang melengkapi hasil asesment calon siswa. Kalau mau dilakukan pembobotan, justru hasil wawancara calon ortu ini lebih besar pengaruhnya guna menentukan apakah calon siswa dapat diterima atau tidak.

Saat wawancara, mestinya tergambar apa saja yang menjadi keinginan orang tua. Ada sekolah yang senang mengumbar janji-janji surga. Saat calon ortu menanyakan ini-itu (biasanya berkisar pada fasilitas sekolah), pihak sekolah meng’iya’kan segala hal untuk memperkuat keyakinan calon ortu. Maklum, biasanya di saat wawancara, calon ortu belum membayar apapun kecuali uang formulir.


Keadaan selanjutnya bisa menjadi rumit, manakala hasil wawancara ini tidak diperoleh data yang bisa menjadi ‘starting point’. Sungguh bukan pekerjaan formalitas, karena penyesuaian langkah dan saling memahami pola asuh dan model pembelajaran di sekolah adalah dasar keberhasilan siswa.

Data ini selanjutnya disosialisasikan pada Guru kelas calon siswa. Informasi ini menjadi bekal pemahaman bagi Guru, seperti apa gaya belajar, karakter, ekspresi dan penanganan siswa saat di rumah selama ini. Kalau sudah sampai mendalam pemahaman itu, sekolah Anda layak menjadi pilihan bagi orang tua yang kini makin kritis memilih sekolah bagi buah hatinya.

Nah, jadikan ajang wawancara dengan calon orang tua bukan sekedar tanya-tanya. Jika dilakukan secara benar, proporsional, serta dapat menggali pola asuh, akan menghasilkan kesepahaman luar biasa. Jadi jangan hanya bertanya-tanya, terima perasaannya juga, lantas jadikan data untuk diolah, dipilah menjadi input dan feedback! TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Etika Marketing Sekolah

Seiring perkembangan jaman, kini ilmu marketing perlu diperhatikan
dalam kegiatan promosi sekolah. Persaingan yang ketat, menyebabkan etika sering terlanggar.

Seorang berwajah Indonesia bagian timur mendatangi sebuah sekolah yang memilki jenjang PG hingga SD. Kepada bagian admin, tamu itu mengaku dari sebuah sekolah ternama tak jauh dari situ. Tujuannya hendak menyebarkan brosur pendaftaran siswa baru jenjang Sekolah Dasar!

Segepok brosur diterima. Namun pria itu setengah ngotot ingin membagikan langsung pada siswa yang baru keluar gerbang sekolah. Bu Uun, manager sekolah, dengan sopan menyampaikan keberatan. Cemberut sang tamu makin membuat Bu Uun heran. Aneh. Sebagai sekolah yang cukup ternama dan berafiliasi dengan salah satu kota dunia, mestinya sekolah tersebut cukup tahu tata cara dan etika berpromosi.

Setelah pria itu pergi, Bu Uun memindahkan tumpukan brosur itu ke keranjang sampah. “Tidak sopan,” katanya pendek pada Wiwin, bagian admin yang sudah beberapa kali menerima permintaan penyebaran brosur. “Simpan satu saja buat referensi ,” lanjut Bu Uun.

Jeruk Makan Jeruk


Tak ada kata larangan dan aturan tertulis. Namun menyebarkan brosur ke sekolah sesama jenjang, ibarat ‘jeruk makan jeruk’. Dalam teori marketing, cara berpromosi sangat banyak ragamnya. Publisitas dan publikasi seharusnya dipahami secara baik oleh pengelola sekolah. Keduanya memilki dampak yang sama-sama dahsyat jika dilakukan secara benar, kontinyu, dan sesuai dengan segmentasi.

Sepuluh tahun lalu , ilmu marketing mungkin belum terlalu menarik diterapkan di dunia sekolah. Jumlah sekolah masih belum sebanyak kini. Seiring perkembangan jaman, sekolah adalah sebuah industri, yang dikelola dengan menggunakan manajemen strategik. Iklan di media cetak (above the line) sudah banyak diimbangi dengan event (below the line) yang dapat menyentuh konsumen secara pribadi.

Dunia maya kini makin dirambah. Website kini digunakan calon orang tua untuk mencari tahu eksistensi sekolah sebelum datang langsung. Open house juga masih menjadi daya tarik.

Spanduk bertengger di banyak perempatan jalan-jalan utama dan di berbagai pusat keramaian. Bersiang dengan spanduk dan banner serta baliho partai dan foto calon legislatif, spanduk sekolah sering tak terbaca, apalagi yang bertulisan penuh pesan dan fasilitas.

Persaingan yang makin ketat, menyebabkan masalah etika sering terlanggar. Apapun alasannya, sekolah adalah sebuah cermin. Sebuah model. Sebuah masyarakat mini.

Karena itu, mestinya etika berpromosi dilakukan secara patut. Sebarkan brosur sekolah secara tepat. Hindari penyebaran yang hanya akan menjadikan brosur sebagai ‘junk mail’. Masuk kotak sampah. Duh! TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Mei 03, 2009

Munif Chatib: Sekolahnya Manusia


Sekolahnya Manusia. Bukan Sekolah Bebek, juga bukan Sekolah Robot.

Teachers Guide/2 Mei 2009. Luar biasa! Sebuah buku “Sekolahnya Manusia” yang diterbitkan oleh Mizan, karya Munif Chatib, diluncurkan pada 1 Mei kemarin di Mizan MP Point, Jakarta. Sebuah persembahan yang manis menjelang Hari Pendidikan Nasional 2 Mei hari ini.

Haidar Bagir (Mizan, dan pemikir pendidikan), Kak Seto Mulyadi, dan Sukiman (Depdiknas) dengan antusias menyambut kehadiran buku ini yang akan sangat bermakna bagi arah pengembangan pendidikan nasional yang saat ini sepertinya kehilangan arah. Meski udara dingin dan banyak tempat duduk di tenda teras samping terkena tampias hujan, toh hadirin terus bertahan mendengarkan uraian Munif Chatib dan Kak Seto yang menarik dan mencerahkan.

Di tangan Munif Chatib, pemahaman multilple intelligence yang diperkenalkan oleh Howard Gardner, berhasil ditransformasikan menjadi proses pembelajaran yang manusiawi dan aplikasi. Jika selama ini banyak sekolah yang seolah meraba-raba bagaimana mendidik anak dengan tepat sesuai dengan potensi dirinya, buku ‘Sekolahnya Manusia’ ini adalah jawaban. Disusun dari rangkaian pengalaman implementasi kecerdasan majemuk ini di puluhan sekolah di Indonesia, merupakan intisari dari proses-proses pembelajaran yang ingin kita cari selama ini.

Munif Chatib, memulai pengembangan penerapan kecerdasan majemuk di sekolah Yayasan Malik Ibrahim Gresik, kini bernama YIMI Gresik, Jawa Timur. Ia juga mengembangkan lebih jauh suatu metode test, yang disebutnya Multiple Intelligences Research (MIR). “Sekolah unggulan itu adalah yang menerima anak yang bodoh dan nakal, lalu dengan prosesnya yang unggul mengubah mereka menjadi anak yang baik, pintar, dan berkepribadian,” begitu pendapat Munif Chatib. Jadi, sekolah unggul itu adalah sekolah yang unggul dalam proses-prosesnya.

Saat ini jutaan siswa kita bersekolah di sekolah-sekolah dengan guru dan metoda pembelajaran yang justru membuat mereka tertekan, depresi, menjadi nakal dan bodoh, mati kreatifitas. Tak peduli pada potensi anak. Tak peduli pada kemanusiaan mereka yang hakiki, sebagai anak manusia yang ingin tumbuh besar dewasa dan menjadi mandiri dan dapat menyumbang bagi kehidupan. “Dan UN merupakan salah satu masalah terbesar dalam pendidikan nasional kita,” keluh Haidar Bagir.

Kemerdekaan pendidikan telah dirampas dan tereduksi oleh sistem pendidikan nasional yang kurang manusiawi. Akhirnya terciptalah generasi bebek, generasi robot. “Pendidikan mengajarkan kekerasan, maka kita melihat kekerasan ada di mana-mana,” ungkap Kak Seto.

Buku ini wajib dibaca oleh kalangan pendidik, birokrasi pendidikan, para orangtua, juga menteri pendidikan mendatang. Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari buah pemikiran Munif Chatib bagi perbaikan pendididikan di sekolah putra-putri kita di waktu mendatang. Selamat Pak Munif Chatib!