April 29, 2009

SD TUMBUH - Yogya Educational Spirit









Menempati bangunan lawas yang artistik, sekolah inklusi di Yogyakarta ini tampak tampil beda. Keanggunan bangunan tua yang dimanfaatkan secara cerdas justru menambah kekhasan sekolah yang didirikan oleh KPH H. Wironegoro, M.Sc, putra mantu Sri Sultan HB X. Teachers Guide berkesempatan mengunjungi sekolah yang dikepalai oleh Elga Andriana, S.Psi, yang merasa ‘sendirian’ di tengah kemajuan, perubahan, dan tuntutan masa depan.

Apa diferensiasi sekolah ini?
Kami percaya, sekolah itu dunia kecilnya masyarakat, cermin masyarakat sebenarnya, yang beragam dari sisi apa pun. Jadi kami mengibarkan diri sebagai sekolah inklusi. Bukan hanya untuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), tapi secara holistik dari berbagai perbedaan: agama, sosial, kultur, ras, dan sebagainya. Inklusi kami ke depankan, dengan mengusung kultur komunikasi yang enak, setara, dan tak banyak birokrasi. Itu inti dari inklusi, yang menjadi pembeda SD Tumbuh.

Konon sekolah ini kental dengan gaya LSM yang militan. Adakah pengaruhnya bagi pengembangan sekolah ini di bawah kepemimpinan Anda?Saya banyak nyemplung di masalah gender dan hak-hak anak, di PLAN (LSM yang bergerak di bidang pembuatan mainan dengan barang bekas) dan di PAUD. Kami kuat sekali menyuarakan hak anak.
Enam tahun awal ini, tindakan afirmatif kami lakukan dengan mencari kemajemukan siswa, utamanya dari sisi, ras, etnis, dan agama Yang beragama Hindu dan Budha kan jarang, justru kami prioritaskan. Juga yang berbeda etnis.

Yang masih susah tentu yang berbeda ekonominya. Di sini ada siswa yang tidak membayar (gratis), bayar seratus lima puluh ribu, hingga empat ratus ribu rupiah. Secara umum, ancer-ancernya (kira-kira) Rp. 300 ribu lah untuk SPP. Ada juga adopting parent, untuk membantu siswa yang susah. Orang tua nggak merasa perbedaan ini sebagai kendala.

Kami mengkomunikasikan hal ini saat wawancara calon orangtua murid. Di situ filosofi orang tua sudah tergambar. Ketika diberitahu bahwa jika di kelas anaknya nanti ada siswa yang memerlukan subsidi, bagaimana? Apa ibu bisa bantu? Jika jawabannya: ”Saya yang capek kerja koq anak orang lain yang sekolah”, itu cukup menguatkan kami untuk menolaknya. Ada juga mencoba mau memberi uang pendaftaran lebih besar untuk menyuap saya, lha malah anaknya nggak saya terima.

Apa obsesi orangtua menyekolahkan anak ke SD Tumbuh?
Mencari sekolah yang menyenangkan bagi anaknya. Orangtua sangat paham, sekolah yang konvensional sudah ketinggalan. Hanya saja di Yogya ini pilihan tak banyak.

Active learning dan inklusi menjadi sesuatu yang kami tawarkan. Di awal buka sekolah, sebenarnya saya hanya mentargetkan 10 siswa saja. Eh, yang masuk 40 anak. Padahal kapasitas hanya 22 anak Sudah banyak koq orang tua di Yogyakarta yang paham dengan kebutuh­an ini. Lain pasti dengan di Jakarta ya. (Elga sempat sekolah di Australia untuk memperdalam ilmu kependidikan)
Bagaimana dengan Guru?
Guru kami lulusan Sanata Dharma, UGM, dan UNY. Kami memilih yang open mind. Meski ada juga yang macet di kreatifitas. Klik-nya ndak semudah it. Kerjasama dengan KPH Wironegoro sangat nyaman, utamanya masalah substansi dan support, terutama pada budaya.

Dalam inklusi ada kultur. Kami menyebutnya Yogya Education School. Sekolah ini berpijak juga pada tradisi. Karawitan, tari, batik, wayang, dan nembang serta ‘green school’ kini di-intra­kurikulerkan.

Tak ada perbenturan etnis?
Nggak tuh. Kekayaan etnis tetap kita apresiasi dalam ba­nyak hal, termasuk disampaikan di muka kelas. Inilah spirit Yogyakarta yang memang kami munculkan. Dalam diskusi masa depan bersama Pak Wironegoro, kami ingin juga membuka sekolah yang sama di tempat lain, tapi dengan mengangkat spirit lokasi, misal Solo Educational Spirit, begitu juga di Semarang atau Bali. Tapi kini kami belum berani membuka franchise. Ini mau kita kembangkan dulu.

Spirit menjemput masa depan? Juga sistem penyam­paian materi?
Meski kuyup dengan budaya dan tradisi, Guru berbahasa Inggris agar anak tetap connect de­ngan dunia luar. Siap jadi warga dunia, bukan hanya jadi warga Yogya. Ya ini harus dikawinkan.

Sementara pencapaian anak bisa dilihat dari praktek dan tertulis. Ujian dengan soal dari Diknas ha­nya kami lakukan pada akhir semester dua, untuk kenaikan kelas. Anak-anak gampang aja tuh ngerjain. Yang susah ya yang ABK. Sebisa mereka saja.

Nggak ada acara nggak naik kelas. Kalau inputnya beragam, nggak bisa dong keluar dari satu pintu dan satu tolok ukur. Tanggung jawab Guru untuk mencermati kekurangan anak.

Kelas 1-2, Guru kelas-nya ada 2 orang. Kelas 3 – 6, ada guru mata pelajaran, tapi tetap ada guru kelas. Yang nggak sanggup dirangkap kan guru matematika, kesenian, olah raga, dan Bahasa Jawa.

Ingin apa ke depan?
Saya pengin sekolah semua inklusi. Kehidup­an nyata kan begitu. Mbok ya anak disiapin. Biar melihat keragaman itu dengan nyaman.

Di K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) di sini, saya merasa seperti allien. Saya masih belum tahu cara meleburkan diri. Sebab, 180 derajat berbeda. Suara aya nggak pernah didengar …… Mereka merasa senior dan merasa sekolah favo­rit. Semua pake seragam pula. Saya sendiri yang nggak pake.

Saya pengin punya teman, punya organisasi yang memiliki semangat yang sama. Yang kalau sedang mengikuti seminar, ya mestinya mendengarkan, menyimak. Yang ada mereka ngobrol sendiri. Lha… dari masalah mendengarkan saja saya sudah merasa nggak cocok sama mereka. Sekedar berkenalan saja dulu.

Sekolah ini mulai beroperasi 2005. Ada respon positif yang mengatakan bahwa SD Tumbuh cukup berani, dan inovatif. Yang negatifnya ya tentang inklusi itu. Masih ada orang yang mengatakan: “Jangan sekolah di Tumbuh, emang anakmu sakit apa? Kurikulumnya apa?” Value juga dipertanyakan, karena ada anak keturunan Belanda.

Ada pula yang protes, katanya sejak sekolah di SD Tumbuh, anaknya jadi nggak disiplin. Alhamdulillah, hal ini di jawab oleh orang tua lain yang mengatakan bahwa: ‘Urusan disiplin itu urusan orang tua dhewe lah…gak biso opo-opo diserahke sekolah’ hii..hii… ternyata yang disebut disiplin ala orang tua ini sebatas baju dimasukkan rok, kaos kaki, bersepatu……..Ooooo kalau yang itu mungkin nggak terlalu esensial ya. Kapan lagi kita memberi ruang pada anak. Peneguhan sikap akan bisa dilakukan dengan dialog.

Teachers Guide sempat pula meninjau kegiatan PLAN, yang melakukan pelatihan rutin aplikasi 3R (reduce, reuse,recycle). Segala barang bekas bisa jadi mainan. Spirit Yogya tak pernah padam! TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.




April 28, 2009

Pipip Rosida: SDN SUKADAMAI 3 yang Suka Damai


TRANSFORMASI MENUJU SEKOLAH UNGGULAN

Perjalanan pengalaman Drs. PIPIP ROSIDA EK, Kepala
Sekolah SDN Sukadamai 3 Budi Agung, Bogor, peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi 2007 tingkat nasional, mengubah sekolah inpres yang sederhana menjadi sekolah unggulan (RSBI) yang berhasil dalam berbagai aspek berkat dukungan masyarakat.




Kilas Jaman
Sekolah Sukadamai 3 berdiri tahun 1984. Awalnya ada 3 lokal. Beratap asbes, kiri kanan asbes, lantai semen. Pada 13 mei 1997, Pipip diangkat jadi kepala sekolah.

”Sekolah ini ada di lingkungan komplek perumahan, tapi tidak ada yang berminat sekolah di sini. Saya kaji dan uji secara teliti, bersilaturahmi dengan RT/RW dan tokoh masyarakat. Kini murid sudah 1.227 orang, dengan area sekolah bertambah luas , mampu membeli tanah, dan membangun secara bertahap.”

Mengubah antipati jadi simpati, mudah-mudahan (jadi) empati
”Pertama sekali, Guru saya minta merenung. Mau maju? Apa yang harus dilakukan? Tak perlu tata tertib. Yang penting komitmen, yang diawali dengan mengisi lembar isian. Mau masuk (sekolah) jam berapa, mau pulang jam berapa, tentukan sendiri dan tandatangani sendiri. Ketika kesiangan, saya tinggal menunjukkan kertas komitmen tadi. Akhirnya, saya dapatkan Guru yang penuh komitmen.

Guru dari Diknas dan hasil rekruitmen sendiri saling bahu membahu.
Guru yang direkrut sendiri, berdasarkan kebutuhan aktual, yakni bisa bahasa Inggris, komputer, dan harus bisa mengajar. Tes nya bukan saja akademis. Mereka semua mencintai dunia pendidikan. Pekerjaan harus dicintai! Dan bekerja dengan hati.”

Dari mana perubahan itu?
”Saya ibaratkan sekolah seperti perahu. Di perahu itu ada kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, komite. Ketika ada yang bertanya: ’ pak mau kemana?, saya jawab ke Kalimantan. Tapi orang lain bertanya ke guru lain, jawabnya ke Sumatera. Lalu tanya ke siswa, jawabnya berbeda. maka tak akan sampai tujuan sekolah ini. Semua harus sama, menyamakan persepsi. Saya tidak sendiri, tapi bersama dengan guru dan masyarakat’.

Hambatan, tantangan, kendala, ancaman, gangguan sudah pasti ada. Semua diselesaikan melalui kejelasan visi, program yang jelas, realistis, yang tidak di awang-awang, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saya menyentuh hati guru, sesuatu yang tidak terbaca. Kalau sakit hati obatnya hati.
Guru tidak perlu berkeluh kesah, karena rizki Allah yang atur.
Guru harus tahu peranan, tahu tupoksi (tugas pokok dan fungsi) nya. Mereka harus tahu, semua stake holder memiliki keinginan bersama.

Setiap hambatan pasti ada penyelesaian. Masalah itu timbul karena harapan dan kenyataan tidak bersahabat. Sahabatkan saja dulu. Kalau jauh, ya dekatkan dulu. Skala prioritas menentukan program-program, me­lalui kajian dan pengujian secara teliti.

Dulu, Guru sedikit-sedikit ngobrol tak berguna. Kini, bahan yang diobrolkan lebih profesional. Setiap tahun saya dievaluasi. Saya minta 10 sikap kepala sekolah yang tidak disenangi guru, lengkap dengan 10 sikap yang disenangi. Saya jadi kepala sekolah juga di SK kan oleh orang lain. Paling tidak, sebagai orangtua kita melayani anak, dengan senyum dan kata-kata positif. Hukuman tidak perlu dengan fisik, atau intimidasi. Intimidasi hasilnya akan intimidasi lagi.

Masa orientasi (MOS) bukan hanya untuk siswa, namun juga orang tua. Selama dua hari, wajib bagi suami istri hadir, agar paham program sekolah dan paham kurikulum. Di sini banyak hidden curriculum, sehingga langkah sekolah selalu dapat dipahami orang tua. Kalau ada yang ingin tahu sekolah ini, silakan diskusi dengan orang tua. Boleh tanya apa saja pada mereka. ”

Damai pada Guru
”Jika ada mangkir atau berbuat tidak sesuai dengan keinginan kelompok, maka yang menghakimi bukan pimpinan atau kelompok, tapi dirinya sendiri, karena tidak ada teman yang mengajak ngobrol. Ini dinamika sosial. Guru yang sudah PNS, saya sebut Profesional, Netral, Sejahtera. Jadi harus memberi teladan pada yang lain

Setiap jum’at ada diskusi kelompok. Setiap Guru guru diberi penghargaan untuk memimpin diskusi. Bukan penghargaan materi, karena penghargaan materi akan menghancurkan visi.”

Kunci sebagai kepala sekolah: terbuka, dan jujur
” TERBUKA, bukan saja soal keuangan tapi juga saat menyusun program. Apa yang diinginkan, aturannya bagaimana. Kalau tidak dilibatkan, Guru menjadi tak perduli.
JUJUR, dalam bersikap, bertindak . Kalau saya dapat hadiah, saya minta dibagi secara adil, termasuk untuk saya. Jadi jangan khawatir, rezeki Allah yang mengatur...

Tidak ada Guru kerja di luar, mi­salnya memberi les di luar sekolah. Kalau itu permintaan orangtua dan komitmen disepakati, dan diketahui oleh kepala sekolah, boleh. masih bisa lah. Tapi kalau guru menyuruh harus les, itu yang tidak boleh. Tidak boleh ada guru yang membohong pada masalah ini. Kalau kita terbuka, guru pun terbuka. Di sini tidak ada yang ngeriung membicarakan yang tidak perlu. Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Tanpa reward (hadiah), jalan terus. Jangan melihat ke atas, lihat ke bawah saja. Kita bersyukur saja terus.”
***

Bermain Makna
Pipip suka bermain kata. Dibuatnya akronim dari kata SDN (Sekolah Dasar Negeri) SUKADAMAI TIGA, dengan mengartikan masing-masing huruf:
S - sekolah letaknya strategis
D - dekat tapi mengapa muridnya tidak ada
N - nerima siswa sesuai potensiya
S - school based management, atau sekolah balik magrib (plesetannya-red), atau sekolah boga masyarakat. sebab orangtua murid banyak yang bekerja di Jakarta, kami harus menemui para orangtua dan tokoh masyarakat selepas magrib, untuk berdialog. Jadilah saya pulang jauah setelah maghrib. Lambat laun ada yang nyumbang satu sak semen, dan material lain. Makin banyak orang tua yakin setelah paham program sekolah.

Kalau sekolah boga masyarakat, kita cari apa harapan masyarakat. Sekolah ini punya masyarakat, bukan punya kepala sekolah. Kapan pun saya pergi, sekolah harus jalan terus. Kalau menyusun program, saya melibatkan stakeholder. Kalau sekolah lain, cukup para pengurus komite, disini tidak bisa. point detailnya dibicarakan.

U - utamakan layanan masyarakat. Guru mengutamakan layanan siswa, kepala sekolah mengutamakan layanan masyarakat luas. Masyarakat maapun boleh masuk, tidak ada yang ditolak, kecuali tidak ada tempat. Masyarakat yang majemuk dapat kami satukan. Ada kelompok pengamat, kritikus, pemikir, pekerja. Sekolah ini besar karena kritikan. Oranglain tidak akan mengkritik kalau kita tidak punya kesalahan.

K- kurikulum KTSP, berbasis kompetensi. Guru dilatihkan KTSP, agar paham, mana separated subject curriculum (kelas 4-6); mana integrated curriculum (kelas 1-3)...

Ini kami jelaskan pada orang tua sepenuhnya. Untuk integrated curriculum, yang dibentuk adalah karakter dan budaya. Kejujuran menjadi kunci utama. Kami kaji multiple intelegence.

A- active learning, sebagai roh dan jiwanya. Siswa sebagai subjek, bukan objek. Nama boleh apa saja, mau pakem, atau paikem gembrot, CBSA, tapi roh dan jiwanya harus active learning. Secara alamiah, anak merasa bosan kalau Guru membosankan.

D- democratic teaching, Di sini anak dilibatkan untuk menyusun tata tertib. Antara guru dan kepala sekolah tidak ada sekat batas, baju kita saja sama.

A- aktif, kreatif, inovatif, agar sekolah jadi produktif.

M- mengembangkan IQ, EQ, SQ –otak, otot, dan watak. Kalau ingin senang, kuasai seni. Kalau ingin menang, kuasai iptek. Kalau ingin tenang, kuasai ilmu agama. Dulu otot besar bisa jadi jagoan. Sekarang otot kecil harus mengalahkan, dengan kekuatan otak.

A- assurance quality, jaminan mutu jelas. Kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM) harus dicapai. Yang di bawah KKM, jalani remedial, yang diatas kasih pengayaan. Tapi kami tidak ingin melabelkan ini dalam marketing. Tidak ada pelabelan itu di sekolah kami. Saya tidak mau label-label itu dijual, sebab itu membohongi, biarkan orang tahu dari proses-prosesnya. Buat apa menjual kucing di dalam karung. Termasuk dalam penilaian guru, yang menghakimi guru bukan saya, tapi masyarakat. Assurance quality nya adalah masyarakat.

I- inovatif dalam pengembangan program. Jadi jangan tersandung batu yang sama. Invoasi ! Ikuti perkembangan dunia. Kini bukan IQ, tapi EQ yang menentukan kehidupan masyarakat. Dulu kami satu-satunya sekolah negeri yang tidak punya ranking. Karena yang ranking 1 jadi sombong, yang di bawah jadi kasihan.

T- tata tertib dijadikan pedoman warga sekolah (tidak tertulis). Saya suntikkan ke hati, bukan saya tempel di dinding. Di sini guru mau pulang silakan, mau kerja silakan. Saya mau memberi pekerjaan kepada guru yang sibuk. Sebab orang sibuk itu punya prioritas.

I- informasi terbagi rata. Ke semua guru, orangtua murid, atau masyarakat, semua tahu apa yang menjadi program sekolah, dan apa yang sudah dan akan dilaksanakan.

G- gairah dalam melaksanakan tugas
A- action (pelaksanaan) saat melaksanakan tugas harus disiplin.

Itulah Pipip, kepala sekolah SDN Sukadamai 3, Bogor. Suka damai, suka membuat gagasan-gagasan dalam kata-kata yang penuh tenaga. Share (berbagai rasa), care (peduli), dan fair (adil) didengungkan untuk meng­ubah diri sendiri. Hingga akhir perjumpaan, Pipip masih memberi kata bertuah yang bersayap:

”Menghapuskan yang miskin tidak akan habis, sebab yang miskin itu akibat adanya orangkaya. Yang kaya makin banyak dan yang miskin juga akan bertambah.

Berantas kebodohan, tidak akan habis, sebab yang pintar akan bertambah. Sesungguhnya tdak ada yang bodoh dan pintar, yang kaya dan miskin. Yang ada itu yang rajin dan malas. Yag rajin akan pintar dan kaya. Yang malas akan bodoh dan miskin. Setiap individu itu unik, setiap orang punya kelemahan dan kelebihan”.

Perjalanan pengalaman Drs. PIPIP ROSIDA EK, Kepala Sekolah SDN Sukadamai 3 Budi Agung, Bogor, peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi 2007 tingkat nasional, mengubah sekolah inpres yang sederhana menjadi sekolah unggulan (RSBI) yang berhasil dalam berbagai aspek berkat dukungan masyarakat. TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Sekolah Global Mandiri: Kreatif, Buku, dan Pelatihan

School Social Responsibility Sekolah Global Mandiri

Awalnya adalah sebuah buku “Berbagi, Ceria, dan Kreatif”, berisikan kumpulan ide-ide kreatif para guru di Sekolah Global Mandiri, Cibubur-Jakarta Timur, yang getol bereksplorasi menggunakan bahan dari barang bekas tak terpakai.

Gagasan-gagasan kreatif itulah yang menghantarkan tim guru Sekolah Global Mandiri melatih sekitar 200 guru di Kecamatan Bayan dan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pelatihan terselenggara atas undangan Kepala UPT Pendidikan di dua kecamatan tersebut, 13-14 Februari lalu.

Bagi Sekolah Global Mandiri, program ini, termasuk diantaranya penyebarluasan buku ’BCK’, adalah bagian dari SSR (school social responsibility), semacam CSR di perusahaan bisnis. ”Ingin berbagi, dan memberi inspirasi menciptakan pembelajaran yang kreatif berbekal barang bekas,” jelas Rifa Ariani SE., Ak., direktur Sekolah Global Mandiri. Sejumlah pelatihan pun digelar di Jakarta, dengan mengundang berbagai guru yang tertarik dengan pendekatan mengajar kreatif. Dengan bingkai program SSR, sekolah terbuka menerima kunjungan guru dari luar Jakarta. Pihak sekolah pun menjadi makin kreatif untuk menggali berbagai metode pembelajaran baru, serta mendorong para guru untuk aktif menulis serta berlatih menjadi trainer. Sekolah pun tumbuh menjadi ’learning society’.

”Keberanian berbagi merupakan proses pengembangan diri sebagai bekal bersaing di era global,” begitu pesan Bambang Aryawan, MM., Kepala Dinas Pendidikan Purworejo, menyemangati para guru di Purworejo untuk selalu belajar.

Ide-ide kreatif dalam buku BCK itu, menjadi hal menarik bagi rekan-rekan guru di Kabupaten Purworejo. Apalagi pelatihan dikemas dengan menarik, berikut ice breaking dan games. ”Sangat puas dan senang mendapatkan pelatihan metode belajar dengan menggunakan barang bekas ini. Kami jadi kreatif, dan yakin siswa akan lebih semangat belajar,” ungkap Drs. Ngadino, Kepala Sekolah SDN Pacor 2, peserta pelatihan hari kedua di SDN Wirotaman, Kutoarjo.

Dengan metode yang tepat, barang-barang bekas terbuang pun bisa menjadi sarana belajar yang menarik. Hal ini terutama sangat diperlukan oleh rekan-rekan guru di berbagai pelosok Indonesia, yang memang terus terang masih terkendala akan alat peraga, sarana belajar, maupun metode belajar yang aktif menyenangkan.

”Penggunaan barang bekas selain kreatif juga menyelamatkan lingkungan,” begitu kesan Amad Tulus, Kepala UPT Kecamatan Bayan. Manfaat pelatihan ini, menurut Wakil Bupati Purworejo Drs. H. Mahsun dan Kepala UPT Pendidikan di Kutoarjo Drs. Joko Sutanto, M.Pd, akan menjadi penyemangat bagi para guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di Purworejo dan sekitarnya. TG

Maria Goretti Kadimazu Dara, SPd
Guru di Sekolah Global Mandiri,
Cibubur-Jakarta Timur
Kini menggeluti pelatihan guru
edu@globalmandiri.com

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Berikan kami apapun
dari yang tak ternilai
hingga yang tak bernilai...

Tema : NILAI TEMPAT

Bahan yang diperlukan:
1. tutup botol air kemasan biasa (20 buah)
2. tutup botol gallon air kemasan (20 buah)
3. kalender bekas (belakang polos)

Cara membuat:
1. bersihkan tutup botol, dan kelompokkan sesuai ukuran.
2. buat pola lingkaran tutup botol itu dengan kertas kalender, gunting.
3. untuk pola lingkaran kecil, tuliskan angka 0 sampai 9
4. untuk pola lingkaran besar, tuliskan kata : satuan, puluhan, ratusan, ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, dan miliaran.
5. masukkan potongan kalender itu dalam tutup botol yang sesuai ukuran, dengan tulisan menghadap keluar agar terbaca.

Cara bermain:
a. letakkan tutup botol di meja atau lantai, dengan bagian bertulisan menghadap ke atas agar terbaca.
b. Guru menyebut sebuah angka. Misal, sembilan ratus tiga puluh dua. Maka murid akan menyusunnya (lihat gambar).
c. instruksi selanjutnya adalah meletakkan nilai tempat di atas bilangan yang sudah tersusun tadi.
d. Setelah siswa mengerti konsep bilangan, boleh melanjutkan dengan permainan adu cepat menyusun bilangan yang disebutkan guru.

Selanjutnya dapat digunakan untuk bermain perkalian, penambahan, pengurangan. Alat bantu belajar ini dapat dimodifikasi. Misal, mengisinya dengan tulisan huruf Arab saat pelajaran Agama Islam. Tentunya disesuaikan dengan tingkat kesulitan atau level tiap murid. TG

Dikutip dari buku ”Berbagi, Ceria, dan Kreatif ”
Menggunakan barang bekas sebagai media pembelajaran yang menarik
Penyusun: Farida Wulandari, Alfiatun, Anna Budiatmi, Andityas. (Sekolah Global Mandiri)
*) Tulisan ini diterbitkan pada majalah Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Prof. Gumilar R. Somantri : Minta Gaji Bagus, tapi Horizon Sempit


Prof. Dr. der.Soz.Gumilar Rusliwa Somantri
Rektor Universitas Indonesia


Rektor yang tampil dandy dan gemar bermusik ini –gabung dalam the Professor Band-- menerima Teachers Guide di ruang kerjanya. Beliau menjelaskan peran pendidikan dasar menengah, dan respon perguruan tinggi atas mutu pendidikan di tingkat menengah.

UI kini masuk rangking ke 5 bersama dengan MUS, Mahidol, University of Philippine, University of Malaya, sebagai perguruan tinggi yang punya reputasi tinggi”. Kata Pak Rektor dengan bangga. Namun ketika ditanya pendapatnya tentang kualitas pendidikan di tingkat bawahnya, pak Rektor menghela nafas.........hhhmmm.

Pak Rektor prihatin melihat lulusan SMA, yang belum merata, meski dalam empat tahun terakhir ini relatif membaik. Ini kerja keras pemerintah melakukan pemerataan. Kualitas terbaik masih datang dari kota-kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung dan Surabaya. Upaya untuk meratakan kualitas di SMA, merupakan hal penting.

” Kunci kualitas ini pada guru. (Nah lo.....) bukan hanya sertifikasi, yang sifatnya administratif, tetapi substansi mutu guru. Profesionalisme selalu menyangkut 3 hal: etik, skill, dan renumerasi yang baik. (Setujuuu.....)

Empat tahun terakhir ini para guru relatif banyak diperhatikan. Tapi kita harus mengubah mind-set. Jangan hanya minta gaji bagus, tapi tak mau meningkatkan diri. Jangan kita berlaku curang, tidak adil, menjadikan negara dan sekolah sebagai tunggangan. Kita mentolerir kemalasan, tidak mau membaca, tidak memperluas horizon, memberikan anak-anak ala kadarnya. Kan celaka! (iya pak...persisnya begitu dah)

Kalau guru segitu-gitu saja kemampuannya, dan tidak mampu memperbaiki diri, ini dosa besar! Guru yang berhorizon luas, banyak baca, bijak, akan mampu memotivasi anak dan melahirkan anak-anak hebat di masa datang. Kalau generasi/bangsa ini tidak bisa melakukan apa-apa di masa datang, yang salah itu para guru. (hiyyyaaa......kena lagi)

Sebelum masuk mengajar, Guru sudah harus baca koran. Pikirannya terbuka, perspektif luas. Menyampaikan bahwa kita ini bagian dari dunia yang besar. Bicara problem perubahan iklim, krisis ekonomi, kemiskinan, penduduk makin banyak, akan terjadi apa akibatnya bagi bumi ini. Coba lihat, sawah-sawah dipakai rumah. Lihat gedung disambung rumah-rumah gubuk. Orang di jalan naik motor ngebut, tidak ada sopan santun, inikah bangsa kita, inikah peradaban bangsa kita? Banyak hal yang perlu dibangkitkan dari siswa.


uru-guru idealis dan profesional, jumlahnya harus diperbanyak. Pendidikan kita sudah di jalur yang tepat, tapi perlu akselerasi (dipercepat) lagi dalam peningkatan dan pemerataan kualitas dan internasionalisasi.


Profesionalisme itu (skill, etik, renumerasi) tidak hanya sekedar untuk profesionalisme saja, atau agar kualitas pengajaran makin bagus. Profesionalisme guru juga untuk membangun citra, persepsi, juga gengsi. Sekarang ini profesi guru (masih dianggap) pekerjaan kelas rendah, jauh dibanding profesi insinyur atau dokter. Jarang orang bangga menjadi Guru (hiik.... betul pak)

Sejarah membuktikan, bangsa hebat saat ini, karena pendidikannya baik, dan di dalamnya ada guru-guru yang mempunyai profesionalisme tinggi, kesadaran, etos kerja, dan idealisme untuk mengembangkan diri.

Selain kualitas guru, proses mengajar di SMA akan baik kalau infrastruktur memadai. Ruang kelas bagus , ada penggunaan IT – infocus, pengenalan IT, wifi, teleconference. Kurikulum dibangun dengan baik. Saat ini, banyak yang terlalu formal, bersifat memaksakan, dan seringkali kita juga salah menafsirkan substansi kurikulum.


Juga penting, metoda pengajaran, atau cara penyampaian. Metoda KBK itu baik –problem base learning- tapi pendalaman implementasinya banyak yang hanya basa-basi.


Infrastruktur penunjang agar proses pendidikan baik, perlu disediakan mushola yang memadai, lapangan olahraga memadai, ruang terbuka, library yang bagus, ruang bagi siswa untuk melakukan aktifitas seni dan berorganisasi, juga fasilitas untuk pengajar. Sehingga dalam proses belajar-mengajar soft skill juga ditanamkan di samping hard skill. Sehingga kalau masuk ke universitas, mereka tidak kaget.’

Kami senang kalau kualitas pendidikan SMA dari Sabang sampai Merauke merata. Siswa terbaik dari tiap daerah bisa terjaring, sehingga tujuan kami membuat UI jadi mozaik Indonesia dapat tercapai tanpa sulit mempertahankan kualitas input yang dapat mempengaruhi proses belajar-mengajar di UI.

Republik ini punya jumlah anak-anak berbakat yang luar biasa. Kalau mereka dibimbing oleh tangan yang tepat –the best teachers- di sekolah yang bagus- akan luar biasa. Kita masuk di era Abad 21, yang disebut the Gobal War of Talent. Hanya bangsa-bangsa yang mampu mengembangkan bakat dan peradabannya, yang akan survive…

Sebaiknya, kita mulai pikirkan sebuah sistem pendidikan yang tidak gebyah-uyah (anggapan yang seragam-red)seperti sekarang. Sejak TK diasumsikan semua akan masuk perguruan tinggi, bahkan akan jadi doktor. Apa jadinya? Jumlah doktor kurang dari 10.000 untuk jumlah 250 juta orang, jauh lebih sedikit dari Israel (1 doktor tiap 50 orang) atau Singapura (Ya ampuuunnn...)

Sejak SD, siswa sudah mulai diarahkan. Sehingga tidak semua masuk SMP umum, sebagian SMP kejuruan, seperti dulu. Tapi lebih baik, laboratorium bagus, dan ada kerjasama dengan industri penyerap tenaga kerja. Nilai entrepreneurial sejak dini ditanamkan, sehigga tidak membeludak ramai-ramai masuk SMA dan akhirnya ramai-ramai menganggur. Pendidikan kejuruan diperbanyak tapi dengan melihat kebutuhan bangsa yang sedang kompetitif menopang segala bidang yang sedang kita kembangkan. Toh dalam kehidupan sehari-hari tidak semua jadi direktur. Jadi pekerja pun harus berskill bagus.

Di Jerman, sejak kelas 3 SD, sudah diatur yang punya kecerdasan praktikal-nya lebih tinggi (masuk Realschoole). Yang kecerdasan numerik tinggi masuk ke sekolah umum, ke Gymnasium lalu akhirnya ke perguruan tinggi. Bukan berarti yang masuk kejuruan tidak bisa masuk ke perguruan tinggi. Tapi diberi koridor, yaitu perguruan tinggi politeknik.

Potensi kita luar biasa. Tidak kalah, dan kita bisa. Sejahtera atau tidak generasi yang akan datang, tergantung pada kita membina mempersiapkan generasi muda, dipilah bakat dan minatnya, sehingga dia lulus dalam bidang yang disukainya, dan sesuai dengan kebutuhan bangsa. Ini berarti terserap langsung, sehingga bangsa ini diisi oleh orang orang yang berkualitas. Pekerja yang berkualitas, sampai direktur berkualitas. Kita semua mengejar jadi direktur, sehingga jadi direktur tidak berkualitas. Dengan penataan ini, di berbagai lapisan, semuanya berkualitas, dan memberikan sumbangan menopang bangsa sesuai dengan kemampuannya. Saat ini, kebanyakan pengambil keputusan pintar-pintar, tapi di bawahnya payah... (yesss......kena juga birokrat kita)

Semua sistem pendidikan ini approach-nya harus holistik. Karena yang harus kita bangun adalah kultur, mind set, dan etos dari bangsa ini."

Hmmm.... mantap ya kritik dan saran Pak Rektor. Coba semua ini bisa berpengaruh pada sistem pendidikan kita, apa nggak hebat Indonesia tercinta ini. Ayo lah para Guru, apa yang bisa kita kerjakan dulu. Teriak minta gaji, meperluas horizon, memprotes sistem, demo pada birokrasi, baca koran, mengubah sistem, perbaikan kurikulum..... atau apa? Yang mana dulu? Atau mau ketemu langsung dengan Pak Rektor Gumilar Rusliwa Somantri, yang gagah, keren, dan berhorizon amat luas. Salam dari kami pak rektor. Terima kasih segala kritiknya. Jadi input dan feed back yang mak nyuss.....TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

VIRUS N Ach




Berfikir adalah kegiatan manusia yang paling utama. Cogito ergo sum, demikian kata Rene Descartes, filsuf Perancis, yang artinya ‘saya berfikir, karena itu saya ada’. Berfikir adalah sumber perilaku manusia.


Selanjutnya, gagasan ini disambung oleh Mc Clelland, penulis buku The Achieving Society, yang mengedepankan konsep virus N-Ach, atau Need for Achievement. Motivasi dasar manusia adalah untuk mencapai prestasi. Di balik motivasi adalah kebutuhan untuk berprestasi, yang menyebabkan manusia ingin menciptakan kemajuan bagi diri dan lingkungannya. Demikian seperti diungkap Dr. Djokosantoso Moeljono, dalam bukunya Beyond Leadership.


Premis di atas kami temukan dengan kejadian yang membuat kami merasa haru biru. Adalah seorang pria berusia 35-an, sebut saja namanya Pak Yusuf. Asli Padang. Karena faktor biaya, dia hanya sanggup sekolah sampai tingkat SMA. Kini menetap di kota hujan Bogor. Sehari-hari, Pak Yusuf berdagang pulsa dan hand phone bekas. Apalah istimewanya!


Namun karena proses berfikir dan virus N-Ach itu, Pak Yusuf mampu ’memaksa’ kami bertemu Guru sejati di kota Bogor, yang selama ini rupanya dia amati, dia cermati sepak terjangnya, dan dia kritisi. Dalam kesibukannya berdagang, Pak Yusuf selalu berfikir tentang pentingnya pendidikan di negeri ini, yang dia a- ngankan akan dapat mengentaskan manusia Indonesia dari kesulitan. Pak Yusuf berselancar di internet, membaca buku, berdialog dengan guru dan praktisi, dan akhirnya menemukan majalah Teachers Guide di salah satu toko buku.


Menurutnya, sejak itu hatinya bergejolak, dan terus mengikuti perkembangan majalah ini, yang waktu terbitnya masih jauh dari ajeg (maaf- red) . Cerita tak berhenti sampai di situ. Ternyata, Pak Yusuf sering memborong sejumlah majalah Teachers Guide –dengan uangnya sendiri-, dan ia bagikan ke sejumlah Guru yang memiliki prestasi dan semangat mengajar hebat. Dia ingin apa yang menjadi buah fikirannya, dapat terwujud menjadi sebuah pencapaian para Guru, minimal di sekolah yang dia kenal selama ini. Ah…., Pak Yusuf yang hebat!


Di bulan yang kuyup dengan hujan, akhirnya kami penuhi keinginannya. Ternyata luar biasa. Kami berbincang lama dengan Guru sejati di dua sekolah negeri. Di saat kritikan terhadap mutu pendidikan dan profesionalisme Guru banyak mendapat sorotan, masih bisa kami temukan Guru yang terkena virus N-Ach!


Kebutuhan untuk mencapai prestasi, telah dibuktikan oleh sosok Guru tulen yang bernama Ahmad Furqon, dan Pipip Rosida. Kehebatan Guru De Britto yang berjuang merangkai kata dalam sebuah tulisan di berbagai media nasional juga membuktikan virus N-Ach. Berfikir, mengkritisi dan menulis. Virus N-Ach ini semoga juga berjangkit di tubuh kita, yang menjadi praktisi di bidang pendidikan Abad 21 ini.


Tetaplah mencari pemahaman bermakna, Pembentukan karakter sedang menjadi pekerjaan besar bagi terciptanya manusia Indonesia yang siap menjadi warga dunia yang tak lagi bulat, namun sudah rata akibat informasi dan teknologi.


Semoga kita makin terjangkit virus N-Ach!


Salam Pendidikan,
Arfi D. Moenandaris
Pemimpin Redaksi

Kondisi Pendidikan Dasar Kita



Pahami Peta Persoalannya
Pikirkan dan Perbaiki

Simaklah media dan diskusi-diskusi yang diadakan oleh para cerdik pandai yang prihatin pada pendidikan – khususnya pendidikan dasar. Kritik pedas sering terdengar.

Sesungguhnya, apa sih persoalan pendidikan kita ini? Terlalu banyak beban kurikulum salah –katanya sarat akademis. Ikut olimpiade salah – kata orang hanya mengedrill otak kiri. Pemerdekaan pendidikan kata¬nya nggak kompetitif, nggak punya dasar lah, tidak ada tujuan lah. Lebih bagus yang dulu dibanding kini.
Depdiknas sebagai lembaga tinggi pendidikan pun tak jarang menerima limpahan kekesalan. Yang korup lah, birokrasi politis yang bersliweran proyek, hmmm….Sampai di mana perjalanan kita sebenarnya?

Darmaningtyas, tokoh vokal yang kini menjadi pengurus Majelis Luhur Taman Siswa memberi gambaran persoalan pendidikan dasar di Indonesia. Ia membedakan dalam 3 permasalahan, yakni: 1) Makro, meliputi persoalan filosofis, ideologi dan budaya; 2) Meso (tengah), yang meliputi masalah kebijakan, politik pendidikan dan otonomi daerah; serta 3) Mikro, yang mencakup angka partisipasi pendidikan, angka DO, kelulusan, gedung, prasarana dan sarana.

PERSOALAN MAKRO
Setelah reformasi 1998, filosofi pendidikan menjadi krusial, karena muncul berbagai kelompok kepentingan yang masing-masing mengusung aspirasinya agar menjadi platform bangsa. Di lain pihak, sisa-sisa Orde Baru menyisakan persoalan filosofis, yang menempatkan pendidikan sebagai abdi kekuasaan, yang mengabaikan pemerdekaan pendidikan.

Jika dibandingkan antara UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas dengan UU No. 4/1950, disinyalir yang tahun 2003 itu terlalu banyak maunya, sehingga tidak jelas. Rumusan tahun 1950 lebih sederhana, tidak berbelit, memilki makna individual, sosial dan kebangsaan, yang mungkin merupakan turunan rumusan Ki Hajar Dewantara, yang meletakkan dasar-dasar pendidikan sebagai penuntun keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Ideologi pendidikan di Indonesia cenderung liberal, lebih menitikberatkan penguasaan kompetensi, yang selalu mengacu pada kebutuhan dunia kerja kapitalis. Kredonya adalah ‘pendidikan untuk bekerja’. Inilah yang menafikan dimensi kemanusiaan. Pendidikan tidak diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik sebagai manusia merdeka berdaulat. Terjadilah dehumanisasi pendidikan. Pendidikan hanya menghasilkan manusia robot, mekanis, individualistis. Sementara sopan santun, kehalusan budi, akhlak mulia, tidak diasah.

Pendidikan liberal menuntut metode student centre (sebagaimana tuntutan KBK). Kondisi umum di lapangan, masih banyak sekolah yang mengenyam proses teacher centre. Terjadilah gagap proses.

Desentralisasi dan otonomi daerah melahirkan politik demokratisasi, yang sesungguhnya memberi kewenangan daerah mengelola secara mandiri. Kebijakan ini menuai masalah, manakala Ujian Nasional (UN) dengan standar nasional dijadikan penentu kelulusan. Kecurangan pun merebak.

Nation & Character Building, yang dulu didengungkan Bung Karno, yang meliputi kemandirian, demokrasi, persatuan nasional, dan martabat internasional kini mengalami degradasi luar biasa. Krisis kepercayaan pada pemerintah selalu dianggap tidak membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Di sisi lain, pemerintah tak mandiri dari tekanan internasional, utamanya dalam perekonomian. Kita kerap menjadi bulan-bulanan kasus perbatasan dan budaya.

Mestinya nation & character building yang menyangkut wawasan kebangsaan, sejarah, nasionalisme, tidak sekedar disampaikan secara hafalan. Siswa jadi meremehkan hal ini. “Kebanyakan teori,” kata mereka.

Kemiskinan menyumbang dampak terberat pada pendidikan. Wajib belajar sembilan tahun yang targetnya usai di tahun 2008, urung terpenuhi. Anggaran 20% tak menjangkau kehidupan rakyat kebanyakan. Di sisi politik, sejak Orde Baru, pendidikan formal adalah alat melanggengkan status quo pemerintah melalui indoktrinasi P4. Daya kritis siswa dikerdilkan. Semua seolah baik-baik saja tak perlu diributkan. Hegemoni politik tertuang dalam berbagai kebijakan, mulai dari kurikulum, materi pelajaran, buku ajar, orientasi pendidikan, yang semuanya dibuat seragam. Jabatan penting di jajaran birokrasi diisi oleh orang yang minim pemahaman, sehingga banyak kebijakan yang tidak tepat sasaran.

Globalisasi, the world is flat. Semua yang datang dari Barat seolah jaminan mutu. Laporan dari Global Monitoring Report dan Program of International Student Assessment yang selalu melaporkan keterpurukan sumber daya manusia Indonesia, ditelan mentah-mentah sebagai dasar pengambilan keputusan.

Prof. Winarno Surachmad menyatakan: “Pemerintah silau oleh kemajuan Barat, hingga makin didikte. Misal, pada pemberlakuan MBS (manajemen berbasis sekolah) yang mulanya adalah konsep manajemen sekolah di Australia. Padahal ini tak sesuai dengan sosio kultural masyarakat. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah (DPKS) agaknya sekedar mengganti organisasi yang sudah ada,” jelasnya.

Globalisasi menaikkan kecenderungan internasionalisasi sekolah. Banyak siswa Indonesia belajar ke luar negeri dan tak kembali lagi ke tanah air karena kurang apresiasi. Sekolah internasional juga menjamur. SBI di sekolah negeri dibanjiri orang tua. Dari sisi anggaran, sekolah-sekolah ini menyedot banyak anggaran. Padahal masih banyak sekolah reyot yangmemerlukan bantuan.

PERSOALAN MESO
Isu politik, ekonomi, sosiologi dan budaya secara langsung memepengaruhi praksis pendidikan. Akibatnya adalah inkonsistensi kebijakan. Ganti mentri ganti kebijakan. Ebtanas dan NEM dan kini UASBN adalah contoh inkonsistensi kebijakan yang mengacaukan fokus pembelajaran.
Desentralisasi pengelolaan pendidikan, manipulasi konsep MBS, adalah tataran persoalan meso.

PERSOALAN MIKRO

Mencakup persoalan ruang kelas, kinerja Guru, kinerja siswa, gedung sekolah, angka mengulang/putus sekolah, buta huruf, kerusakan fasilitas, buku, laboratorium, kurikulum, partisipasi orang tua, masyarakat, praksis pendidikan keluarga, pendidikan Guru, pendanaan dan anggaran.

Ketersediaan dan kualitas Guru, tak habis dibahas, di tengah kegundahan kurikulum dan buku ajar. Penentuan biaya pendaftaran dan SPP liar beredar. Kesenjangan sekolah konvensional dan sekolah active learning mengakibatkan perbedaan kualitas yang menyolok.

Guru lulusan agama sudah jauh melebihi kapasitas. Itu sebabnya banyak sarjana agama yang mengajar mata pelajaran sains, matematika, dan lain-lain. Ini jelas tidak menguntungkan. Banyak pula Guru yang mengajar di luar bidangnya. Mismatch. Lulusan sejarah mengajar sains dan sebaliknya.

Semua bicara pendidikan. Semua bicara solusi. Darmaningtyas memberi wacana yang sarat politik: ”Utang dan korupsi, racun pendidikan”. Ya, akar masalah yang makin memberatkan makro, meso dan mikro adalah ketidakefisienan dan kebocoran anggaran alias korupsi.

Peta permasalahan metinya Anda pahami. Lantas, mulai benahi sebisa yang kita dapat lakukan di lingkungan terkecil. Persoalan mikro lebih banyak berkelindan di dekat kita. Namun jangan apatis dengan persoalan meso dan makro. Meski kita sulit menjangkau. Kesadaran pada persoalan makro akan mengarahkan peta pikiran kita agar tak sempit memandang masalah pendidikan adalah soal gaji kurang dan berburu sertifikat.TG

Sumber:
Pustaka Yashiba, 2008.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

BENARKAH PRESTASI DI TANGAN GURU?


Dengan banyaknya training, seminar, dan workshop, seakan terkesan guru menjadi penyebab kurang berhasilnya pendidikan.
Hemat penulis, guru hanyalah salah satu dari berbagai faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor lain diantaranya orangtua, lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah, televisi dan media massa, buku bacaan, kemampuan ekonomi keluarga, dan dukungan pemerintah.

Yang paling mendasar, adalah pendidikan di lingkungan keluarga (orang tua), yang selama ini kurang disentuh. Coba bandingkan, sudah ribuan guru ikut training, tapi berapa orangtua ikut parenting (bimbingan) pendidikan?

Orangtua siswa yang memiliki pengetahuan dan pendapatan minim, tampak orang tua kurang memperhatikan putra-putrinya dalam belajar. Masih banyak keluarga yang hanya pas-pasan makan, tak ada untuk pendidikan, kesehatan dan kebutuhan lainnya. Meski sekolah gratis, bukan berarti mereka tidak memerlukan biaya lainnya. Mereka hanya paham, bahwa anak mereka sekolah. Itu saja! Bahkan sekolah gratis kurang disambut respon positip orang tua. Malahan ada siswa yang berhenti! Sang orangtua tak berbuat apa-apa. Ketika ditanya, alasannya si anak ingin istirahat, tak mau sekolah. Ada apa ini?

PENGARUH KELUARGA
DAN TELEVISI

Waktu siswa di sekolah hanya 5-6 jam, selebihnya ia ada di lingkungan rumah. Kalau pengaruh lingkungan lebih kuat, karakter anak mengikuti bentukan lingkungan itu. Seandainya watak lingkungan sudah terbentuk, sulit sekolah (guru) mengubahnya.

Apalagi pengaruh program televisi yang tidak mendidik. Teve berpe¬ngaruh sangat kuat membentuk karakter anak, lantaran hampir setiap hari anak ‘belajar’ dari teve. Peme¬rintah dan KPI harus tegas melarang tayangan-tayangan yang dapat menghancurkan karakter anak.

Di sisi kebijakan, Ujian Nasional yang menjadi syarat kelulusan siswa, juga sangat tidak sesuai dengan kurikulum 2006 (KTSP). Kegiatan pembelajaran yang berpendekatan proses yang dinilai setiap hari, kini dinilai hanya dalam tiga hari waktu ujian. Hal ini kurang adil khususnya bagi siswa yang baik kemampuan psikomotorik dan afektif, namun kurang dalam kognitif. Padahal, kemampuan dalam hidup bukan tergantung dari faktor kognitif saja.

Inilah permasalahan pendidikan kita, bagai mata rantai yang saling berhubungan. Penulis mengajak semua komponen dapat bekerjasama untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Antara lain dengan saran berikut:
 Orang tua berperan aktif untuk selalu membimbing putra-putrinya di rumah, bangun komunikasi antara sekolah, guru, dan tokoh masyarakat di lingkungan. Selalu memberikan teladan (perbuatan atau ucapan). Serta mendoakan agar anaknya menjadi pintar, benar, dan sholeh.
 Lingkungan tempat tinggal (RT,RW, tokoh masyarakat) selalu bekerja sama memberikan pendidikan bermasyarakat yang baik. Artinya ada kepedulian masyarakat menghadirkan anak-anak generasi muda berpekerti luhur.
 Lingkungan sekolah, dengan semua komponen sekolah, harus memiliki rasa tanggung jawab dan bekerja secara sinergi untuk menciptakan lingkungan yang berkualitas.
 Para pengusaha teve dan media massa sudah waktunya tidak berfikir sebatas keuntungan. Tapi, memikirkan bahaya tayangan/sajian itu bagi anak-anak. Pemerintah harus tegas menyetop tayangan yang merusak mental dan moral anak.
 Kebijakan pendidikan jangan dikaitkan dengan masalah politik dan tidak merugikan masyarakat. Ujian Nasional, misalnya, tidak sejalan dengan KTSP yang digunakan sekarang ini.

Jadi jelaslah bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya di tangan guru, juga pada tangan kita semua komponen bangsa. Mari bersama membangun moralitas bangsa. TG


Agus Susanto, S.Pd
Guru SD di Bogor, peserta workshop “Guru Kreatif, Pendidikan Berkualitas”
oleh LPI Dompet Dhuafa, dalam program pelatihan menulis oleh majalahTeachers Guide.
Email: anto_leo2006@yahoo.co.id

*)Tulisan ini termuat pada majalah Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Beredar April 2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.