Oktober 23, 2010

Who are You, anyway?

Paradigm


LISA SURANTO
Kontributor Teachers Guide, tinggal di Yogyakarta














Sudah pernah melakukan analisis diri sendiri kan? Melalui analisis SWOT paling tidak. Kita tahu apa kelebihan kita, kekurangan, kesempatan atau peluang yang kita miliki, dan juga hambatan dalam mewujudkan apa yang kita ingin capai.

Apakah dengan sekali analisis, kita sudah merasa cukup puas dan tahu benar tentang diri sendiri… padahal kita sebagai manusia dinamis, lho.

Katakanlah kita termasuk orang yang senang berada dalam sangkarnya, tipe nyaman dalam comfort zone, sedikit atau banyak kita terkena imbas dari dinamika yang terjadi di luar diri kita bukan?

Secara sederhana begini, kalau toh beras tak ada, maka terpaksa kita makan selain beras. Otomatis itu menunjukkan secara alamiah kita memiliki potensi untuk beradaptasi terhadap perubahan. Potensi yang sangat alamiah dan sekaligus dahsyat sebagai alat berjuang kita. Apalagi sebagai Guru.

Setiap hari dalam satu tahun ajaran, dalam rutinitas yang serutin-rutinnya, kita akan mengalami sesuatu yang berbeda, sekecil apapun. Sebut saja bahwa kejadian dari luar diri kita adalah sebuah stimuli.

Sebutkan satu saja stimuli yang berbeda setiap hari selama setahun ajaran. Kita akan menemukan minimum 365 stimuli yang berbeda. Apalagi punya 100 murid. Murid kesatu mengirim stimuli hari Senin pertama, kalau dirunut sampai hari keseratus (artinya sepertiga tahun) kita akan punya 100 stimuli berbeda. Belum lagi kalau murid yang sama mengirim stimuli berbeda di hari-hari lain.

Itu baru hitungan murid, belum sesama rekan guru, kepala sekolah, orangtua murid, pegawai kanwil diknas. Bisa dibayangkankah betapa banyak hal membuat kita sebagai manusia mau tidak mau ikut dalam dinamika di sekeliling kita?

Bila kita sudah sadar bahwa kita tak bisa lepas dari dinamika manusia, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita sigap dalam menyikapinya? Dalam pertanyaan yang lebih menggali lagi, bagaimana kita menyikapinya?

Apa dan bagaimana adalah pertanyaan primitif yang dimiliki secara intuitif atau bahkan instingtif. Bila terjadi sesuatu semua indra kita mengirim sinyal ke otak: apa yang terjadi? Kemudian otak mencerna dan memerintahkan untuk berbuat sesuatu terhadap informasi yang telah tertangkap olehnya. So, what gitu loh?

Benar, setelah ada stimuli berupa pengalaman, informasi, atau kejadian apapun, lalu akan diapakan? Apakah diabaikan, dan kita meneruskan rutinitas kita tanpa tergerak sedikitpun . Istilahnya kita tinggalkan (so you are so-called a QUITTER).

Apakah kita menanggapinya dan mencoba beradaptasi sampai tahap tertentu? Kondisi ini akan menciptakan rasa nyaman baru, dan bila ada stimuli baru kita akan berpikir lebih lama dan menimbang-nimbang untuk sedikit lebih lama berada dalam ruang nyaman, dan hanya hal-hal tertentu saja yang menurut kita tak melelahkan yang akan kita coba (then you would be a CAMPER).

Apakah kita senantiasa siap untuk menanggapi semua stimuli sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukan, sehingga proses penaklukan itulah yang memperkaya kita sebagai pembelajar dan pelaku kehidupan (Yes! You are truly a CLIMBER).

Tiga istilah tersebut memang diambil dari dunia panjat gunung.

Bayangkan seorang yang berada di kaki gunung, memandang ke puncak gunung. Begitu melihat tinggi dan bayangan besarnya tantangan, ia urung memanjat (he quits, so he is a QUITTER).

Kemudian ada orang kedua yang berada di kaki gunung yang sama. Ia mau mencoba mendaki, namun sampai posko tertentu ia kelelahan dan tak punya semangat lebih untuk meneruskan. Ia memilih mendirikan tenda di posko itu, untuk waktu yang relatif tergantung pada dirinya. Dari tenda itu ia sebenarnya sadar bahwa gunung masih bisa ditaklukkan, namun ia nyaman dalam tendanya yang hangat (he camps, so he is a CAMPER).

Datanglah orang ketiga, yang datang, mendaki hingga ke puncak. Sampai di puncak, ia bisa memandang alam sekitarnya dan tahu bahwa terdapat gunung-gunung lain yang pantas untuk didaki. Maka ia selesaikan pendakian pertamanya, kemudian melanjutkan pendakian-pendakian berikutnya (he climbs, he’s a really CLIMBER).

Siapakah kita?TG

Beberapa referensi:
“Adversity Quotient @ Work, Paul G. Stoltz, Phd.; (http://www.ciao.co.uk/Adversity_Quotient_Paul_G_Stoltz_PhD__Review_5494354)

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.


(1) Tepatkah Saya Mendirikan SD?

Konsultasi


Pertanyaan:

Saya bermaksud mendirikan sekolah dasar. Saat ini saya sudah memiliki sekolah TK yang berjalan baik. Banyak SD baru bermunculan, kebanyakan SD swasta. Ada yang berbasis keagamaan, franchise, dsb. Saya butuh saran, sekolah SD seperti apa yang sebaiknya didirikan? Meneruskan pembelajaran TK , ataukan mengikuti trend seperti boarding school, sekolah terpadu. Ataukah saya mencari differensiasi yang berbeda dengan sekolah TK, atau malahan ekstrim berbeda dengan sekolah-sekolah yang sudah ada sekarang ini?

Jawaban:

Berbicara tentang sekolah, sangat bergantung pada konsep. Kalau sekolah PG dan TK itu konsepnya bagus, pasti pasar bereaksi meminta Anda membuat sekolah SD sebagai terusannya. . Berdasar kebutuhan pasar, masyarakat akan melihat konsep sekolah yang dianggap sudah bagus.

Konsep ini mengakomodir perkembangan kebutuhan orangtua akan pendidikan anaknya, yang kebanyakan berada tak jauh di sekitar sekolah tersebut. Hati-hati, belum tentu sekolah bagus dengan konsep bagus, bisa berkembang di tempat yang tidak pas semisal di desa. Jadi, pertama adalah konsep.

Setelah konsep OK, baru mempertimbangkan apakah akan meneruskan konsep TK yang sudah berjalan, atau membuat konsep SD yang baru yang betul-betul mengakomodir kebutuhan orangtua akan pendidikan –ini bukan konsep dadakan, musiman, atau sekedar mengikuti trend, lho!.

Kedua, setelah konsep diputuskan, barulah bicara kurikulum seperti apa, output lulusannya seperti apa, dan guru seperti apa yang diperlukan, serta fasilitas sekolahnya.

Kelemahan kita adalah sulit menuangkan konsep/ide. Apalagi menjabarkan konsep menjadi sistem. Seorang yang feelingnya kuat pada pendidikan, tahu bahwa ruang kelas yang ini misalnya, tidak pas untuk pendidikan, tapi dia tak bisa menuangkannya.

Kapan kita siap mengelola SD? Kalau belum muncul letupan dari para orangtua dari sekolah PG-TK yang Anda kelola, berarti mereka belum paham betul tentang konsep yang diberikan. Atau, Anda harus memperbaiki lebih dulu konsep TK itu sehingga menjadi sebuah letupan yang menarik untuk mendorong gagasan pembentukan SD.

Kalau sudah 50% orangtua banyak bicara bagaimana nanti ke SD, berarti orangtua sudah suka dengan konsep kita. Tinggal kita ubah sesuai kebutuhan mereka di tingkat SD. Akan kelihatan orangtua yang betul-betul mengharap dibangun SD, sebab merasa nyaman dan terpenuhi kebutuhannya, sehingga tak mungkin menyekolahkan anaknya di sekolah lain.
Hati-hati, sering terjadi, walaupun merasa sekolah sudah mengelola siswa dengan baik, toh masih ada orangtua yang memindahkan anaknya. Indikasinya, orangtua tidak ada respon, atau memindahkan anaknya. Berarti sekolah belum mampu mengakomodir orangtua. Mungkin ada pelayanan yang kurang baik, atau konsep kita yang kurang bagus. Di sini kita perlu belajar mengelola kebutuhan orang tua.

Sebagai pengelola PG dan TK, tentu Anda mungkin merasa belum punya pengalaman mengelola SD. Sering timbul pertanyaan, apa perlu membajak guru dari sekolah SD bagus untuk menjadi kepala sekolah SD baru itu. Atau kalau mau cepat, Anda terpikir untuk mengambil franchise dari sekolah yang sistemnya sudah maju.

Menurut saya, menyiapkan SD itu tergantung pada visi misi Anda sendiri. Kalau memiliki visi-misi sendiri, sebaiknya tidak memilih franchise atau mengambil merek yang sudah jadi, karena akan berbenturan dengan visi-misi dalam franchise itu. Kalau ingin membangun karakter sekolah, apakah output nya sama dengan franchise, itu sih tidak masalah. Kalau berbeda, ya tidak perlu franchise, dipaksakan akan babak belur.

Kalau ingin membangun sekolah, menurut saya lebih bagus tumbuh dari bawah. Kalau kita mau mempersiapkan sebuah sekolah, kita harus belajar. Misal, kita rencanakan dua tahun ke depan kita ingin membangun SD, tidak bisa langsung. Dari sekarang ini kita banyak belajar, berdiskusi, melakukan kunjungan studi banding, membuat konsep, ini lebih baik ketimbang mempercayakan pada orang lain.

Boleh saja ada kepala sekolah SD yang mampu menjalankan, tapi belum tentu konsep dan gaya kepala sekolah yang baru, sesuai dengan konsep Anda, karena dia sudah menjalankan konsep yang lain di sekolah sebelumnya. Dampaknya nanti terlihat pada anak dan Guru.

Kalau Anda yang menjalankan sendiri terus dari bawah, ’tik-tak’ nya akan ketahuan. Memang membutuhkan waktu relatif panjang, tapi sekolah akan lebih langgeng

Perbedaan solusi antara sekoalh induk dan sekolah franchise juga tak mudah. Tak selalu sama bisa diterapkan. Sebaliknya, mungkin di sekolah iunduk tak ditemukan masalah seperti di sekolah cabang. Sementara masyarakat menuntut sama dengan sekolah lain dalam franchise itu.

Sebagai contoh, McDonald, ketika ingin dibuka di Indonesia membuat menu nasi. Di asalnya tidak ada menu nasi. Maka, harus membuat SOP nasi. Ini membutuhkan waktu lama juga. Beruntung mereka kuat dan mampu.

Kalau kita tumbuh dari bawah, kita yang membuat sistem, pola dan aturan main, kita akan mampu mengikuti apa yang nanti terjadi, dan mampu menyelesaikan masalah. Misal, kini berkembang bahwa pembelajaran yang bagus adalah berbasis pada multi talenta atau multiple intelligence. Nah, tidak ada masalah, kita dapat menyesuaikan diri.

Tak dapat dipungkiri, begitu banyak sekolah dasar yang mengelilingi lokasi Anda, dengan beragam metoda pembelajaran. Kita lihat dulu kondisi yang ada. Kita harus berfikir kreatif, yang ingin ’membeli’ sekolah itu masyarakat kalangan yang mana.

Kita lihat dulu kemampuan pasar. Sekolah itu kan harus didukung oleh sekian banyak murid, tidak bisa sedikit sepuluh atau dua puluh. Apakah pertumbuhan anak semakin menurun di lingkungan keluarga tua, atau sebaliknya banyak keluarga muda dengan semakin banyak anak yang tumbuh?

Janganlah emosional membangun sekolah, lantaran alasan memiliki finansial lebih sehingga ingin masuk ke usaha pendidikan, atau menitip uang ke pengelola sekolah, dengan kurikulum sembarangan.

Coba lihat, banyak sekolah lama yang besar, bangkrut. Ternyata, sekolah lama yang bangkrut itu masih menggunakan metoda lama dalam memimpin pengelolaan pendidikannya. Sekolah lama yang merasa bagus, masih mempertahankan konsep lama dan tak bergeming. Masalah ini pun terjadi hingga perguruan tinggi. Banyak sekolah swasta ternama, kini tak tentu rimbanya.

Sebaliknya, ada beberapa sekolah kecil di berbagai kota yang tumbuh. Kenapa? Sekolah baru kecil itu ternyata memiliki konsep yang baru, yang memahami, tumbuh dan berkembang. Banyak sekolah kecil atau lembaga kursus tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang bagus dan besar.

Motif yang baik, adalah kebutuhan pasar, visi misi harus disampaikan kepada orang banyak. Saat sebuah sekolah baru muncul, beberapa pendapat mengatakan oh.. saya juga mampu membuat sekolah seperti itu. Perhatikan!, setiap sekolah baru yang muncul, pasti berharap lebih unggul atau berkualitas dari sekolah yang sudah ada. Dia sudah belajar konsep-konsep yang ada saat ini sedang berkembang. Boleh jadi, sekolah baru Anda akan diungguli oleh sekolah yang akan muncul sesudahnya.

Jasa konsultan boleh dijadikan pertimbangan. Sukses di jenjang TK, mungkin karena konsep bagus dan peluang momentum yang pas. Tapi saat masuk ke SD atau jenjang lebih tinggi, belum tentu, karena situasi sudah berubah. Konsultan membuat kacamata perspektif Anda lebih luas.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Mau Tunjangan? Mau Sertifikasi? Miliki dulu Nomor Unik!


“Hai teman-teman Guru dari TK dan SD, ayo kita foto. Hari ini terakhir ditunggu Diknas!” ajak Pak Yadi, kepala bagian kesiswaan sebuah sekolah swasta, yang selama ini mengurus eksistensi dan keberadaan Guru di tingkat Kecamatan hingga nasional.

“Ah … hari gini, foto aja mesti pergi ke sana. Kenapa tak di sekolah saja, kita kan punya kamera bagus, foto semua di sini, masukkan CD beres kan! Dari pada semua berbondong-bondong dan antri lama. Lebih efisien kan pak Yadi?” balas Bu Mala.

“Iya … memang lebih efisien. Tapi ini kesempatan kita semua Guru yang menjalani profesi kurang lima tahun untuk mendapatkan nomor induk. Sebutannya NUPTK - Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Selama ini kan kita dapat tunjangan sebulan dua ratus ribu rupiah, yang diberikan secara rapel tiap semester. Bagi sekolah macam kita yang sesungguhnya sudah sangat lebih baik tingkat kesejahteraannya dibanding puluhan sekolah lain se-kecamatan, mestinya bersyukur, meski pun quotanya tak bisa memenuhi semua Guru. Sebelum sampai pada ‘urut kacang’ proses sertifikasi, minimal kita dapat tunjangan fungsional dulu,” jelas Pak Yadi.

Menurut seorang pejabat di Diknas di Kecamatan Cimanggis - Depok, guna terhindar pemalsuan data, proses pemotretan di kantor diknas setempat. “Biar saja antri. Yang penting asli!” kata ibu pejabat diknas yang enggan disebutkan namanya. “Kerap terjadi kecurangan. Banyak didapati, data yang dimasukkan adalah data keluarga, adik, kakak, keponakan yayasan.” Wah ……..

Sekolah Pak Yadi yang berstatus swasta, memang sudah empat tahun belakangan ini mendapat tunjangan fungsional. Jatah satu sekolah tak sama. Umumnya tak semua Guru beroleh ‘durian runtuh’ ini. Kebijakan di Sekolah Pak Yadi, atas nomor rekening guru siapapun yang dialirkan dana tunjangan itu, dana akan dijadikan satu dan kemudian dibagi sejumlah Guru. Pemegang rekening mendapat leb prosentase lebih dibanding guru lain.

Manajer sekolah Pak Yadi selalu mengingatkan, dana-dana itu sebagai rejeki ‘iseng-iseng berhadiah’. Tak usah dilihat jumlahnya. “Datangnya juga seringkali tak dinyana. Tiba-tiba ada panggilan untuk ambil. Jumlahnya juga ‘tebak-tebak buah manggis’.”

Sebagai guru di sekolah swasta, kini semua guru diberi nomor NUPTK sebagai tanda diakui sebagai guru nasional. Implikasi memiliki nomor induk unik ini, adalah sebagai persyaratan seleksi sertifikasi. Ibarat tiket masuk, yang penting dapat nomer dulu. Sebelum memasuki antrian sertifikasi, dengan adanya nomor ini ia diakui keberadaannya sebagai Guru nasional.

Bagaimana jika Guru NUPTK itu pindah sekolah atau bahkan berhenti sebagai Guru? Kemana pun berada, jika tetap berprofesi Guru, nomor itu akan tetap melekat menempel. Jika pindah sekolah, buat surat pindah, dan diinfokan pada dinas setempat. Tak akan terjadi tumpang tindih karena data selalu di update. Sekolah yang ditinggalkan pun akan men-delete nama Guru tersebut.

CARA MENDAPATKAN NUPTK

Setiap sekolah swasta diminta mengirimkan data guru yang sudah diakui atau diangkat sebagai Guru Tetap Yayasan (GTY). Setelah data lengkap, kirimkan ke Diknas setempat. Selanjutnya, berfoto seperti Guru di sekolah Pak Yadi tadi.

Ada juga yang sudah mengisis daftar, namun NUPTK tak kunjung keluar. Ini banyak terjadi. Namanya juga projek massal. Ada saja yang terselip. Namun di beberapa kasus, seringkali guru swasta ‘under estimate’ atau menganggap tak penting proses yang memang rada berbelit ini.

“Ada guru yang isi daftar dengan asal-asalan, tak mematuhi Bank yang direkomendasi, sekadar mengisi daftar riwayat training. Bahkan saat bagian appraisal Diknas mengecek dengan cara menelpon ke nomor pribadi Guru, dijawab ogah-ogahan.

Ada Guru menjawab - tak tahu ya.. itu urusan yayasan. Wah … yang itu mah saya tak terlibat”, serta banyak jawaban lain yang serba meremehkan. “Yang begini memang beneran tak keluar nomornya. Jadi, salah siapa coba? Kalau sudah tak keluar nomor, sang kepala sekolah dikejar-kejar untuk mengurusnya. Nyebelin kan!” cerita Pak Yadi lagi.

“Menurut saya, ikuti saja lah prosedur. Diknas seringkali memang tak praktis, bahkan mendadak nyuruh ini-itu. Guru swasta sering mendua. Ingin disamakan Guru negeri dalam hal tunjangan, namun tak ngotot mencari informasi. Kita tahu kan, Guru negeri suka menempuh segala cara instan demi sertifikasi. Kalau diminta berubah maju, ntar-ntar! Sementara Guru swasta yang sedikit lebih baik tingkat gajinya, seringkali merasa ‘nggak begini lah caranya!’. Ya.. inilah Indonesia!” kelakar Bu Manager sekolah Pak Yadi.

Berfikirlah positif. Pemerintah sedang ‘berupaya’ mengangkat harkat kesejahteraan guru. Caranya memang belum patut. Guru sertifikasi tak serta merta memperbaiki kinerja. Mestinya Guru swasta dapat memaknai ini sebagai lecutan. Jangan ikuti mind set guru yang sudah puas menikmati kenaikan pendapatan: ‘ Ini kan buah yang sudah lama tak kami nikmati. Sudah terlalu lama susah. Sekarang ada tunjangan sebagai tambahan ya wajar saja!’. Duh… please deh, jangan ikuti arus ini ya.

Tetaplah memegang ruh pendidikan dengan meningkatkan teaching by heart agar tak runtuh nilai-nilai dan keberkahan yang sesungguhnya memang dititahkan pada Guru, Guru yang benar. Meski awalnya adalah Guru dasar atau Guru nyasar, jangan hanya jadi Guru bayar!

Siap di foto? Ya, satu dua tiga! Jepret!! Tersenyum wajah Guru di foto itu. TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Mei 03, 2010

Mengintip Program 100 Hari Depdiknas


1. Penyediaan internet secara masal di 17.500 sekolah.
2. Melatih 30.000 kepala dan pengawas sekolah untuk penguatan kemampuan dan pengelolaan sekolah.
3. Pemberian 20.000 beasiswa PTN untuk siswa SMA/SMK/MA yang berprestasi dan kurang mampu.
4. Penyiapan Peraturan Menteri secara khusus bagi Guru yang bertugas di daerah terluar.
5. Finalisasi penyusunan dan penyempurnaan Rencana Strategis 2010 – 2014 dengan merangkul semua pemangku kepentingan.
6. Menyiapkan bahan ajar untuk pengembangan budaya dan karakter bangsa.
7. Tersusunnya metodologi pembelajaran yang menumbuhkan kreativitas dan inovasi.
8. Penyusunan roadmap sinergitas lembaga pendidikan antara Depdiknas - Depag dan pengguna lulusan, untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan dan terciptanya pusat kewirausahaan.

Isu strategis penyusunan landasan Reformasi Pendidikan Jilid II

1. Integrasi sistem pendidikan SD – Perguruan Tinggi (Januari 2010)
2. Penyusunan model kebutuhan sekolah: fasilitas proses, guru, dan manajemen serta kesesuaian di lapangan (pembuatan buku pedoman -Januari 2010)
3. Penyusunan struktur biaya total pendidikan berserta sistem pengukuran keterjangkauan dan pelaporannya (Sistem pengukuran keterjangkauan dan pelaporan- Januari 2010)
4. Penyususan kebutuhan sistem informasi dan pelaporan untuk pengambilan keputusan (e-manajemen) = Kebutuhan sistem dan pelaporan Januari 2010
5. Perancangan e-learning content sharing architecture (Kebutuhan sistem - Januari 2010).

Mana yang menurut Anda dari sekian rencana itu yang lebih menyentuh persoalan Guru dan kependidikan? Semua perencanaan bagus. Pelaksanaannya yang tak kunjung tampak dampaknya. Sesuai target waktu, pada bulan Januari 2010 sudah disampaikan pertanggungjawabannya, di depan Presiden SBY, dan dinyatakan keberhasilan kerja kabinet dalam 100 hari mencapai 99%. Adakah kita sudah merasakan dampaknya?

Menanggapi itu, Adisti (43 tahun), pengelola sekolah di Depok, tampak risau dengan penetapan rencana Mendiknas tersebut. ” Bahasanya mentereng bener! Bagi kami praktisi pendidikan, rancangan kerja 100 hari Mendiknas M. Nuh ini tak ubahnya sebagai pemenuhan target pembuatan rencana. Tak tampak integrasi penyusunan berdasar persoalan mendasar, yakni pemerataan kemampuan guru dan sekolah menghadapi Abad 21. Bukan hanya soal teknologi, melainkan mind-set yang harus didukung oleh sistem. Ya, sistem pendidikan yang patut dan cocok dengan kebutuhan masing-masing wilayah yang beraneka raga mini.” TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada edisi No. 10 / Vol.04 / Thn 2010. Dapatkan majalah pendidikan Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Berlangganan SMS ke (Flexi) 021 684 58569. Terima kasih.

Lagi, Kritik Mochtar Buchori tentang Guru


Guru sangat sadar perannya sebagai pengajar mata pelajaran, namun kurang sadar akan perannya sebagai pendidik yang harus membimbing muridnya mempersiapkan diri menjadi penerus perjalanan bangsa.

“Saya Guru matematika!” “Saya Guru bahasa Inggris!” “Saya Guru sejarah!” Ucapan inilah yang sering terdengar. Jarang ada yang mengaku sebagai Guru pembimbing siswa.

Seorang Guru besar kimia dari Kanada mengatakan: “ When I was teaching at a large university in Canada, I felt that I was teaching chemistry. When I moved to small college years later, however, I began to feel that I am teaching student, not chemistry . Since then I become conscious that my job is to teach student to understand chemistry.”

Di sinilah diperlukan kesadaran dan komitmen pribadi pada masa depan siswanya. Yang diajarkan bukan saja sekedar abstraksi kehidupan, melainkan upaya mengantarkan para siswa pada kehidupan nyata.
Teaching, training dan educating, ketiganya adalah aktifitas yang saling berhubungan. Teaching mengantarkan siswa pada pemahaman pengetahuan (knowledge). Training membimbing siswa pada penguasaan ketrampilan. Educating membawa siswa pada pengenalan, pemahaman dan penghayatan nilai-nilai. Tindakan ini bertujuan mengantarkan siswa pada pengethuan, ketrampilan dan kearifan (wisdom). Ketiganya merupakan tujuan akhir tindakan pendidikan, tujuan setiap education act.

Kenyataannya, pendidikan di sekolah sangat menekankan penguasaan pengetahuan, kurang memperhatikan pemupukan ketrampilan dan sangat mengabaikan pembinaan kearifan. Ini merupakan tradisi pendidikan sekolah yang dipengaruhi pikiran Sir Bacon sejak abad XVII. Praktek pendidikan ini lalu melahirkan semboyan: knowledge is power.

Mungkin tradisi ini yang menyebabkan praktisi pendidikan menjadi sangat sadar perannya sebagai penerus dan penyebar pengetahuan (kennisoverdrager). Kini, makin banyak kita ketahui tanpa tahu maknanya, pengetahuan hampa makna (meaningless knowledge). Nilai-nilai yang dipelajari pun menjadi nilai hampa makna (meaningless values). Gabungan keduanya lantas banyak melahirkan perilaku serba semu, kepalsuan.

Akibatnya, komitmen mengabdikan diri pada kesejahteraan bangsa di masa mendatang tak muncul. Padahal kelangsungan eksistensi bangsa adalah keharusan.

Betapapun kesalahan telah berlangsung selama ini, kita tak punya pilihan lain, kecuali berusaha sekuat tenaga melanjutkan kehidupan bangsa dengan jalan memperbaiki perilaku, agar tak menghadapi kepunahan, failed state. Saat ini kita dikategorikan sebagai negara ke 57 failed state di dunia.

APA ESENSINYA ?

Bangsa ini harus bangun dari keterpurukan. Tak mungkin Guru membangun komunikasi hanya dengan materi pelajaran yang diampunya saja. Dalam hubungan yang diwarnai empati, murid akan mencurahkan segenap pikiran dan perasaan mengenai harapan dan kekhawatiran masa depan.

Tugas membimbing siswa dapat dilakukan oleh SETIAP Guru, apapun mata ajarnya, meski guru sejarah sesungguhnya memiliki peluang yang lebih besar daripada Guru matematika untuk menjadi pembimbing. Namun yang lebih penting adalah rasa hormat yang tumbuh pada diri siswa karena sifat Guru yang patut dihargai.

Kalau jumlah Guru dengan kesadaran pembimbing lebih banyak, akan banyak pula generasi muda yang bersedia mengabdi pada masa depan bangsa. Demikian juga sebaliknya. Meski kini kebanyakan akan tetap lebih banyak berpikir bagaimana cara menjamin masa depan pribadi mereka melalui pekerjaan-pekerjaan yang aman dan nyaman.TG

Prof. Mochtar Buchori
Ketua Dewan Pengurus Yayasan PARAS, Jakarta.

*)Tulisan ini diterbitkan pada edisi No. 10 / Vol.04 / Thn 2010. Dapatkan majalah pendidikan Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Berlangganan SMS ke (Flexi) 021 684 58569. Terima kasih.

Membangun Karakter dari Sepiring Nasi

“Guru kreatif terkadang mengajar dalam bingkai eksplorasi dan ketidakjelasan. Ia lebih mencari esensialitas daripada rutinitas atas apa yang dipelajari bersama siswa. Ia akan tersenyum manakala siswa bertanya, ”Pak saya menemukan hal berbeda, tidak seperti yang bapak katakan atau teman saya temukan, mengapa?”

Awalnya ada sedikit keraguan untuk menuliskan pengalaman ini, karena banyak teman yang ‘agak sedikit’ mengerutkan dahi dengan ‘metode yang agak sedikit nyleneh’ yang saya pakai ini. Tapi biarlah itu berlalu, mungkin mereka belum tahu metode ‘sepiring nasi’ yang pernah saya gunakan.

Ide awal menggunakan metode ini, didasari suatu kebingungan mengunakan metode yang tepat untuk menjelaskan materi PKn tentang ‘Manusia sebagai mahluk sosial’. Saya tertantang menterjemahkan hal-hal yang rumit-abstrak menjadi nyata-sederhana, agar siswa mudah paham.

Berbicara tentang sepiring nasi, kita kerap mengkaitkannya dengan masalah makan, perut lapar, nikmat dan sebagainya. Tetapi tahukah kita bahwa sepiring nasi menyimpan banyak rahasia yang bisa digunakan dalam pembelajaran? Lalu apa kaitan antara sepiring nasi dengan pembelajaran? Secara sepintas mungkin tidak ada, kecuali kita mau sedikit kreatif.

Sepiring nasi yang biasa kita makan, sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam bagi tumbuhnya kepekaan, kepedulian dan penghargaan atas hasil jerih payah orang lain. Mungkin selama ini, saat akan makan, kita hanya memandanginya tanpa menganalisis lebih dalam. Bahkan kita tidak punya waktu sama sekali memperhatikan sepiring nasi itu kala perut lapar.

Cobalah amati sejenak, “Apa saja” yang ada dalam sepiring nasi itu? Nasi, ikan asin, ikan goreng, ayam goreng , tahu, lalap, sambal, tempe, ketimun, garam, vetsin, piring, sendok atau mungkin ada hal lainnya? Coba uraikan kembali, ‘siapa saja’ yang berperan dalam menyediakan barang-barang tersebut.

Sebagai contoh, petani merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam menyediakan beras, Ibu yang memasak nasi dan menggoreng lauk pauk. Tahu dibuat oleh pengrajin tahu, garam disediakan oleh petani garam. Masih banyak pihak lain yang terlibat, bukan? Pernahkan kita berpikir sejauh itu? Ya, kita selama ini hanya siap menerima semua itu tersaji … nasi rames!

Sekarang, apa kaitannya antara sepiring nasi dan pembelajaran? Saatnya menjelaskan tentang keberadaan manusia sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia memiliki keterbatasan dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Ajaklah siswa membayangkan, ketika mau ‘makan’ harus mempersiapkan segala sesuatunya seorang diri mulai dari menanam padi selama 6 bulan, mengeringkan air laut untuk membuat garam, menanam kedelai untuk membuat tahu dan tempe, menangkap ikan di laut untuk ikan asin. Keadaan ‘imaginer’ seperti ini haruslah diterapkan, agar siswa peka terhadap hasil kerja dan jerih payah orang lain.

Untuk membangun rasa kepekaan dan kepedulian, ajak siswa membuat pengandaian seperti ini “Seandainya tidak ada petani, kita tidak bisa makan nasi”, “seandainya tidak ada petani garam, tentunya makanan kita tidak ada rasanya”. Dari berandai-andai ini, minta siswa menyimpulkan sendiri ‘pentingnya ada orang lain di sekitar kita’, sehingga kebutuhan-kebutuhan kita bisa terpenuhi.

Sepiring nasi! Kau memberi inspirasi ....

Masih bingung dalam mencari metode untuk mengajarkan suatu materi? Ijinkan saya mengutip sebuah anekdot: “Suatu saat dua orang yang berasal dari sekolah yang sama bertemu. Walaupun berbeda angkatan tetapi mereka cepat akrab dan pada saat mereka membicarakan salah seorang gurunya, mereka kemudian tertawa bersama-sama karena setelah obrolan yang panjang terungkap bahwa sang guru tersebut masih melakukan praktek pengajaran yang persis sama, bahkan ketika waktu kelulusan mereka terpaut lebih dari 7 tahun.”

Terbukti, sang Guru tak berubah dan enggan mensejajarkan diri dengan kemajuan jaman. Sudah bukan jamannya lagi kita mengajar berdasarkan diktat dan uraian dosen saat kuliah dulu. Jaman berubah cepat, informasi terus bertambah. Ilmu pun cepat usang dan ketinggalan. TG

Iwan Gunawan
Guru SD Salman al Farisi, Bandung
http://keyanaku.blogspot.com

Tulisan ini diterbitkan pada edisi No. 10 / Vol.04 / Thn 2010. Dapatkan majalah pendidikan Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Berlangganan SMS ke (Flexi) 021 684 58569. Terima kasih.

TAK BETAH di JAKARTA

Teachers Forum

Gaji kecil yang dulu sempat saya pikirkan ternyata bukan masalah besar buat saya. Saya makin mantap menjadi Guru ...

Sewaktu SMA, tak pernah terklintas cita-cita menjadi Guru. Sebuah profesi yang tak menarik dan bergaji kecil. Lulus SMA, saya masuk ke jurusan teknik informatika. Lulus, jadi sarjana! Lantas sebuah perusahaan menerima saya, dan mengharuskan bekerja di kantor Jakarta.

Saya merasa tak nyaman tinggal di Jakarta. Kehidupan di Ibukota ini membuat saya tak betah. Akhirnya saya kembali ke Jogja dan mencari pekerjaan lagi.

Seorang teman menawarkan posisi sebagai guru TIK di SMA De Britto. Dari pada nganggur, saya masukkan lamaran, diterima, dan mulai bekerja Mei 2005.

Rasa deg-deg-an luar biasa saya alami saat pertama mengajar. Laki-laki semua! Bahan mengajar sudah saya siapkan. Pertama kali berdiri di depan kelas, rasanya mau pingsan. Jam berputar lama sekali. Sembilan puluh menit bagaikan seminggu. Takut kehabisan bahan. Begini terus rasanya selama satu semester.

Semester ke dua, grogi dan bingung kian berkurang. Saya mulai bisa menikmati, dan mengenal pribadi siswa yang beda-beda. Dunia remaja dan permasalahannya saya masuki. Kegembiraan saat berada di sekolah merayap dahsyat. Muridku nyeleneh, lucu dan aneh-aneh.

Tahun ke tiga, saya ditugaskan menjadi wali kelas sosial. Karakter kelas sebelas sosial ini menjadi tantangan. Peran saya tak hanya sebatas mengajar, namun belajar mendidik siswa. Belajar memperhatikan secara personal persoalan siswa, mulai dari masalah keluarga, cinta, hingga hambatan belajarnya. Saya merasa harus terus belajar dan bekerja optimal.

Manusia punya banyak rencana, Tuhan menentukan. Akhirnya, menjadi Guru adalah pilihan saya, dan tak pernah menyesal pada pilihan ini. TG

E.Megia Novita
Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi SMA De Britto Jogjakarta.
Dari buku “Banyak Jalan Menuju LA . 161”, editor St. Kartono.