Oktober 23, 2010

Who are You, anyway?

Paradigm


LISA SURANTO
Kontributor Teachers Guide, tinggal di Yogyakarta














Sudah pernah melakukan analisis diri sendiri kan? Melalui analisis SWOT paling tidak. Kita tahu apa kelebihan kita, kekurangan, kesempatan atau peluang yang kita miliki, dan juga hambatan dalam mewujudkan apa yang kita ingin capai.

Apakah dengan sekali analisis, kita sudah merasa cukup puas dan tahu benar tentang diri sendiri… padahal kita sebagai manusia dinamis, lho.

Katakanlah kita termasuk orang yang senang berada dalam sangkarnya, tipe nyaman dalam comfort zone, sedikit atau banyak kita terkena imbas dari dinamika yang terjadi di luar diri kita bukan?

Secara sederhana begini, kalau toh beras tak ada, maka terpaksa kita makan selain beras. Otomatis itu menunjukkan secara alamiah kita memiliki potensi untuk beradaptasi terhadap perubahan. Potensi yang sangat alamiah dan sekaligus dahsyat sebagai alat berjuang kita. Apalagi sebagai Guru.

Setiap hari dalam satu tahun ajaran, dalam rutinitas yang serutin-rutinnya, kita akan mengalami sesuatu yang berbeda, sekecil apapun. Sebut saja bahwa kejadian dari luar diri kita adalah sebuah stimuli.

Sebutkan satu saja stimuli yang berbeda setiap hari selama setahun ajaran. Kita akan menemukan minimum 365 stimuli yang berbeda. Apalagi punya 100 murid. Murid kesatu mengirim stimuli hari Senin pertama, kalau dirunut sampai hari keseratus (artinya sepertiga tahun) kita akan punya 100 stimuli berbeda. Belum lagi kalau murid yang sama mengirim stimuli berbeda di hari-hari lain.

Itu baru hitungan murid, belum sesama rekan guru, kepala sekolah, orangtua murid, pegawai kanwil diknas. Bisa dibayangkankah betapa banyak hal membuat kita sebagai manusia mau tidak mau ikut dalam dinamika di sekeliling kita?

Bila kita sudah sadar bahwa kita tak bisa lepas dari dinamika manusia, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita sigap dalam menyikapinya? Dalam pertanyaan yang lebih menggali lagi, bagaimana kita menyikapinya?

Apa dan bagaimana adalah pertanyaan primitif yang dimiliki secara intuitif atau bahkan instingtif. Bila terjadi sesuatu semua indra kita mengirim sinyal ke otak: apa yang terjadi? Kemudian otak mencerna dan memerintahkan untuk berbuat sesuatu terhadap informasi yang telah tertangkap olehnya. So, what gitu loh?

Benar, setelah ada stimuli berupa pengalaman, informasi, atau kejadian apapun, lalu akan diapakan? Apakah diabaikan, dan kita meneruskan rutinitas kita tanpa tergerak sedikitpun . Istilahnya kita tinggalkan (so you are so-called a QUITTER).

Apakah kita menanggapinya dan mencoba beradaptasi sampai tahap tertentu? Kondisi ini akan menciptakan rasa nyaman baru, dan bila ada stimuli baru kita akan berpikir lebih lama dan menimbang-nimbang untuk sedikit lebih lama berada dalam ruang nyaman, dan hanya hal-hal tertentu saja yang menurut kita tak melelahkan yang akan kita coba (then you would be a CAMPER).

Apakah kita senantiasa siap untuk menanggapi semua stimuli sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukan, sehingga proses penaklukan itulah yang memperkaya kita sebagai pembelajar dan pelaku kehidupan (Yes! You are truly a CLIMBER).

Tiga istilah tersebut memang diambil dari dunia panjat gunung.

Bayangkan seorang yang berada di kaki gunung, memandang ke puncak gunung. Begitu melihat tinggi dan bayangan besarnya tantangan, ia urung memanjat (he quits, so he is a QUITTER).

Kemudian ada orang kedua yang berada di kaki gunung yang sama. Ia mau mencoba mendaki, namun sampai posko tertentu ia kelelahan dan tak punya semangat lebih untuk meneruskan. Ia memilih mendirikan tenda di posko itu, untuk waktu yang relatif tergantung pada dirinya. Dari tenda itu ia sebenarnya sadar bahwa gunung masih bisa ditaklukkan, namun ia nyaman dalam tendanya yang hangat (he camps, so he is a CAMPER).

Datanglah orang ketiga, yang datang, mendaki hingga ke puncak. Sampai di puncak, ia bisa memandang alam sekitarnya dan tahu bahwa terdapat gunung-gunung lain yang pantas untuk didaki. Maka ia selesaikan pendakian pertamanya, kemudian melanjutkan pendakian-pendakian berikutnya (he climbs, he’s a really CLIMBER).

Siapakah kita?TG

Beberapa referensi:
“Adversity Quotient @ Work, Paul G. Stoltz, Phd.; (http://www.ciao.co.uk/Adversity_Quotient_Paul_G_Stoltz_PhD__Review_5494354)

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.


Tidak ada komentar: