Oktober 24, 2010

Ketika PAKEM masuk Kampus


Foto: Para dosen UN Gorontalo antusias mencoba pendekatan PAKEM,MBS,dan PSM.

Roda PAKEM berputar dengan kencang di Kabupaten Gorontalo. Menurut Hamzah Yunus, fasilitator daerah dari Universitas Negeri Gorontalo, selama MGPBE berjalan dua tahun telah terjadi perubahan signifikan dalam persepsi kalangan dunia pendidikan.

Metodologi PAKEM-MBS-PSM pada sekolah pinggiran di dua kecamatan yaitu Telangohula, dan Tibawa, telah nyata meningkatkan prestasi siswa. Pada sisi mutu pembelajaran, sekolah intervensi memperlihatkan kemajuan membanggakan. Untuk tingkat SD dan SMP, prestasi pelajaran yang diujikan UN meningkat tajam. Meski ada di pelosok, prestasinya menyamai sekolah-sekolah di kota kabupaten Limboto yang mengusung nama SSN, SBI, atau RSBI.

Keberadaan sekolah yang menerapkan PAKEM, MBS, dan PSM ini, ternyata juga mencuri hati para guru. Mulanya guru perlu penyesuaian dengan cara PAKEM. Ketika sudah terbiasa, ketagihan PAKEM!

Guru senang mendapat pelatihan pembelajaran PAKEM. Kompetensi pun berkembang. Dengan sejajarnya kualitas, tak ada lagi perbedaan guru terpencil, guru sekolah intervensi, dan guru kota, sehingga teratasi soal pemerataan kualitas guru (yang berkualitas cenderung ingin mengajar di kota). MGPBE menjawab sekaligus masalah pemerataan kualitas guru.


Foto: Hamzah Yunus

PAKEM juga membuat tren perubahan pada strategi dan cara belajar mengajar. Ini disadari oleh para pengelola kampus kependidikan, agar output calon guru sesuai perkembangan pendidikan. “PAKEM harus masuk kampus. Kalau tidak, lulusan kami sulit memenuhi kebutuhan masyarakat dan mungkin tak mampu bersaing mengisi kebutuhan guru Gorontalo,” tambah Hamzah Yunus, yang aktif sebagai konsultan pendidikan.

Hal ini cukup disadari oleh para akademika di Universitas Negeri Gorontalo. Seiring program pelatihan ToT untuk 42 orang dosen UNG, tim training MGPBE juga diundang berbicara menyampaikan ide-ide besar PAKEM, MBS, dan PSM. Sekitar 400 mahasiswa UNG antusias menyimak pembelajaran ini.

“Dengan adanya PAKEM, maka aplikasi pembelajaran telah berbeda dengan kurikulum pendidikan guru di kampus. Kami ingin memproduksi guru yang dibutuhkan oleh sekolah-sekolah masa kini. Kami akan mengusulkan Rektor UNG mengadopsi dan menysosialisasikan PAKEM , termasuk merevisi kurikulum, silabus pembelajaran, dan RPP, di berbagai bidang studi secara terintegrasi,” jelas Hamzah Yunus.

Hal senada ditegaskan Asni Ilham S.Pd, M.Si, Ketua Prodi S1 PGSD, Universitas Negeri Gorontalo. “Selepas pelatihan ini, kami ingin membuat perubahan kurikulum, strategi pembelajaran dan modul-modul pembelajaran yang baru bagi mahasiswa PGSD dan diploma UNG,” jelas Asni Ilham. Beberapa mata kuliah akan diperbaiki, dan ada yang ditambah, yang akan diusulkan dalam Lokakarya Kurikulum di UNG pada Januari 2010.

Foto: Asni Ilham SPd, MSi.

Bukan tidak mungkin, di tingkat nasional Universitas Negeri Gorontalo menjadi pioner dalam pengembangan PAKEM di tingkat kampus kependidikan, yang melahirkan guru yang mampu mengajarkan kecerdasan akademik plus soft skill.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Bukan IPA Sastra

MGP-BE



Tak mudah memang banting stir mengubah pola mengajar teachers center ke arah student centre, di mana istilah PAKEM menjadi ikon yang mudah diingat.

Dalam pola lama (teachers center), Guru selalu siap sebagai ahli, ingin menjelaskan segala hal tapi yang nyantel hanya secuil.

Yang membedakan antara student center dan teacher center adalah sudut pandang. Pada student center, siswa diajak melakukan sesuatu, dan hasilnya didalami dengan pengamatan atau menjawab pertanyaan untuk mencapai target-target belajar.

Orientasi student center, berangkat dari pengetahuan awal anak, keragaman gaya belajar anak, serta apa sekiranya paling memikat perhatian anak sebelum memahami sesuatu. Banyak pintu masuk yang sering disebut sebagai scene setting atau hook.

Wajar kalau sejumlah dosen kependidikan mata peserta ToT MGPBE, di Gorontalo, tampak tergagap-gagap mencobakan pendekatan baru ini. Meski menguasai ilmu sains, mereka tampak kesulitan mencari ide pembelajaran, susah memilih cara mengajar yang tepat, sukar mencari pintu masuk informasi awal yang relevan dengan pengetahuan awal anak.

Kebanyakan dari mereka kurang mampu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan menantang agar siswa berfikir lebih kritis. Bahkan beberapa peserta kesulitan menetapkan kompetensi dasar, tujuan belajar yang ingin dicapai, serta indikator pencapaian.

Menurut Kabullah Naim, master trainer mata pelajaran sains, yang juga pengawas TK- SD-SLB di Kec. Margorejo, Kabupaten Pati, Jateng, kesulitan ini lantaran para dosen atau guru terbiasa pada pembelajaran berpusat pada guru (teachers center) –guru menuangkan ilmu dengan menjelaskan, siswa mendengarkan. Buku-buku panduan pendidikan IPA pun masih dalam pendekatan ini.

Foto: Kabullah Naim, bersama para peserta pelatihan IP dalam program MGP-BE di Kabupaten Gorontalo.

“Kesalahan Guru, menjelaskan panjang lebar, sehingga IPA atau Sains seolah pelajaran IPA sastra.” Tambahan lagi, para Guru malas dan tak mau repot eksperimen, karena terkesan memakan waktu lama. Suara miring menyebut, buat apa mengajar IPA dengan cara PAKEM, kuatir nanti siswa tidak mampu mengerjakan tes UN.

Dengan PAKEM, siswa mengalami sendiri dan menulis sendiri. Ini akan lebih bermakna bagi pembentukan pengetahuan siswa. Guru harus memiliki kedalaman dan keluasan menyiapkan tugas siswa, dan merumuskan tujuan pembelajaran dengan indikator pencapaian disusun bergradasi, dari yang mudah, kepemahaman, aplikasiikasi, dan seterusnya (taksonomi Bloom). Kalau Guru hanya memberikan tugas-tugas ringan saja, bagaimana siswa mencapai kompetensi yang diinginkan.

“Berarti kita mendayagunakan potensi siswa dan potensi alam lingkungan. Misal, belajar sifat-sifat air menggunakan gelas air mineral dan tissue basah. Mengamati batu, dan sebagainya. Menjelaskan konsep IPA dengan bahan yang dikenal anak, tak perlu peralatan praktikum sehingga aspek teknik tak jadi hambatan. Lingkungan jadi menyenangkan untuk belajar, muncul keinginan terlibat aktif, dan tanpa disadari siswa sudah terlibat aktif dalam pembelajaran. Ini tantangan bagi Guru, untuk secara tepat menerapkan sehingga konsep sains itu bisa dimediasi melalui model pembelajaratn PAKEM,” jelas Masri Kudrat Umar, dosen UNG, salah satu peserta pelatihan sains.

JANGAN JADI GURU IPA SASTRA

Mengubah paradigma itu memang tak mudah. Saran Kabullah Naim, banyak-banyaklah membaca, dan menelaah karakteristik mata pelajaran. Dalam standar isi dijelaskan, bahwa IPA itu inquiri, atau penemuan. Jadi, tidak bisa Guru hanya memberi penjelasan. Anak harus menjalani aktifitas.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Mencari Roh PAKEM

MGP-BE
Foto: Ibu Angie Siti Anggari menjelaskan soal manfaat buku besar dalam pembelajaran,saat pelatihan TOT untuk para dosen di Universitas Negeri Gorontalo.
Foto: suasana kelas PAKEM di sekolah dasar pedalaman di Kabupaten Gorontalo.


Belajar menggunakan cara PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan), sungguh-sungguh menyenangkan. Penciptaan situasi kelas menjadi bagus, anak bisa ngobrol berdiskusi, geser ke sana-sini bila perlu, bahkan ha-ha hi-hi. Rasa senang siswa muncul, senyum terlihat selalu mengembang di sudut bibir siswa, tanda ada kepuasan belajar. Secara psikologis, inilah keadaan alfa zone yang sangat ramah dengan cara kerja otak, untuk memulai pembelajaran.

Bagi mata awam, yang pertama terlihat adalah susunan bangku berkelompok, bukan berderetan mengarah semua ke pak/ibu Guru atau papan tulis seperti selama ini di kebanyakan sekolah. Berikutnya, pajangan karya anak yang ditempel-tempel di dinding kelas di mana saja, seolah menjadikan kelas terlihat ‘busy class’. Ketiga, pojok atau sudut membaca, berisikan buku panduan maupun bacaan bebas ringan namun tematik. Begitulah wujud fisik PAKEM.

Suasana ini berubah penuh semangat saat penghuninya –para siswa dan guru- beraksi. Kelas menjadi benar-benar hidup: aktif terkendali.

Eddy Budiono, master trainer MGP-BE, yang juga dosen di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, berkomentar tentang PAKEM dan perolehan belajar anak.

BELAJAR MELALUI INTERAKSI

Roh PAKEM adalah belajar melalui interaksi. Siswa berinteraksi dengan benda-benda sebagai sumber belajar. Siswa mencoba suatu kegiatan bereksperimen, dan dari sini menemukan jawaban masalah atau solusi.

Siswa berinteraksi dengan teman ketika berdiskusi, atau berinteraksi dengan abstraksi pemikirannya sendiri (melamun, berimajinasi). Saat berinteraksi itulah, ia mendapatkan sesuatu informasi yang menambah perbendaharaan pengetahuannya. Juga ada kesempatan membangun kemandiriannya sendiri. Dengan berbicara (komunikasi) , siswa membangun social intelligence-nya.

Ketika berinteraksi itu, ia menemukan gagasan/wawasan baru atau solusi pemecahan masalah, dia akan berteriak “aha” (aha fenomena). Ekspresi kepuasan terpancar di wajah siswa. Nikmatnya kepuasan “aha moment ” tentunya ingin diulanginya lagi, lagi, dan lagi. Ia selalu ingin kembali ke moment ini.

Tingkat kepuasan akan makin tinggi kalau masalah dibuat makin sulit. Siswa makin percaya diri, dan makin termotivasi mencari tantangan atau problem yang lebih dalam. Kalau setting tepat dan sesuai gaya belajar anak, guru dapat menuai “aha moment” ini pada setiap anak setiap waktu. Belajar dengan cara/metode PAKEM jelas sesuai dengan fitrah manusia, yang gemar berinteraksi setiap waktu, dan membutuhkan pemenuhan harga diri. PAKEM memanusiakan murid-murid kita.

Saat diskusi itu, di dalam otak anak ada penstrukturan kembali, sesuatu fakta baru di-link-kan dengan yang sudah ada. Seperti model ikatan senyawa molekul kimia, ada kaki-kaki senyawa yang siap menggabungkan komponen baru untuk membentuk senyawa baru yang lebih besar. Inilah saat pengetahuan dibentuk dan menjadi milik siswa. Terpatri di otak, menjadi konsep yang mudah di-recall kembali.


Foto: Eddy Budiono.


Siswa menjadi aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya itu. Dalam situasi belajar yang kondusif, menyenangkan, tanpa tekanan, ada kemerdekaan berfikir, ditambah keaktifan dan kreatifitas siswa, maka pembelajaran akan efektif mencapai tujuannya, yakni kebermaknaan dalam kehidupan.

Luar biasa pengaruh interaksi pembentukan pengetahuan pada diri seseorang. Amat merugi jika anak belajar tanpa memanfaatkan fitrah belajar alamiah ini, yaitu ketika anak menambahkan sendiri informasi yang dimilikinya.

CARA MEMBENTUK PENGETAHUAN
Lebih jauh, Eddy Budiono menjelaskan latar pemikiran pembelajaran PAKEM. Mengutip Jean Piaget (sesudah 1950-an), pengetahuan itu dibangun melalui interaksi dengan lingkungan. Seseorang tidak kosong pengetahuan, bahkan saat di kandungan. Bayi yang baru lahir menghisap jempol, menangis, dan memakan apa saja yang ditemui -- ini cara belajar lingkungan lewat indera mulut. Akan terus bertambah pengetahuan seusai perkembangan biologis syaraf di otaknya. Inilah yang disebut pembelajaran konstruktivisme.

Secara teoritis, menurut Vigotski, orang belajar melalui interaksi. Seseorang belajar atau membangun pengetahuannya dengan membangun interaksi dengan lingkungannya: sumber belajar (benda), dengan orang (teman), dengan abstraksi. Tapi ini ada keterbatasan. Dengan pendampingan dari orang yang lebih tahu, kemampuan belajar itu lebih meningkat lagi (zone maximal development).

Jelas ini berbeda dengan teori pendidikan sebelumnya, yang meyakini orang berpengetahuan (trampil) karena latihan. Melalui latihan (drill) terbentuk ikatan stimulus - respon. Jika hubungan stimulus dan respon kian kuat, terbentuklah suatu pengetahuan atau ketrampilan baru. Ini sebabnya, pendidikan kita menjadikan guru serba tahu (teachers center) karena akan melatih siswa.

Siswa pun diarahkan duduk berbaris arah ke depan, untuk mendengar dan mencatat ‘dari sang ahli’. Kondisi ini membatasi fitrah siswa bersosialisasi. Kenapa tidak pengetahuan itu kita manfaatkan dengan mendiskusikannya sehingga muncul keterampilan-ketrampilan lain yang tergolog soft skill?

PEMBIASAAN SOFT SKILL
Saat ini pendidikan kita, 90% terlalu berorientasi pada nilai (kognitif) mata pelajaran, kurang berorientasi pada kebutuhan siswa di masa depan. Untuk hidup sukses di masyarakat, ranah kognitif menyumbang 20% saja, sisanya 80% disumbang aspek ketrampilan (soft skill).

PAKEM mengembangkan strategi belajar yang tepat untuk ketrampilan dan pengetahuan sekaligus, yakni kompetensi pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. PAKEM menyegarkan implementasi kurikulum KTSP, yang cenderung pada pembentukan pengetahuan di ranah kognitif. PAKEM melengkapi pengembangan soft skill tanpa mengubah konten kurikulum.

Kebijakan pendidikan kita masih belum selaras. Syarat kelulusan siswa dengan skor tertentu, ikut membentuk paradigma di masyarakat, bahwa mutu pendidikan diukur ketrampilan kognitif saja – meski perannya kecil dibanding kemampuan afektif. Pembentukan soft skill memerlukan pembiasaan sejak Playgroup, TK, SD, SMP. Saat SMA atau perguruan tinggi cenderung sudah tak bisa dilakukan, karena vokasional sudah de depan mata.

Kebijakan sekolah gratis sesungguhnya justru terkesan menghambat partisipasi orangtua dan masyarakat memajukan pendidikan. Hal-hal di atas adalah sebagian dari problematika pendidikan. Sayang, pihak yang berwenang masih lambat menyesuaikan diri.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Orangtua Terlibat, Hasilnya Bagus Sekali

MGP-BE


Saat memasuki halaman sekolah SDN2 Isimu Selatan, rasa haru disambut ulur-ulur dan tarian adat oleh beberapa siswa pria berseragam sekolah. ”Sengaja kami latih mereka, karena anak-anak sudah banyak melupakan adat di Kecamatan Tibawa,” kata Abubakar Mootalu, tokoh adat setempat yang ketua forum kelas 6, didampingi Iskandar Ismail S.Ag, ketua Komite Sekolah yang juga orangtua murid.

Bukan hanya sebatas upaya penghargaan budaya setempat. Pihak orangtua melalui komite sekolah juga berbuat banyak, termasuk dalam hal fisik seperti mengecat sekolah, merehab perpustakaan, membuat meja baca, menghias taman, membuat bangunan tempat baca di taman, serta terlibat dalam pendampingan di kelas. Mereka rela bekerja, karena memahami dana pengecatan sudah digunakan untuk membeli buku dan CD pembelajaran. Sebuah transparansi pengelolaan sekolah yang berakibat tergeraknya orang tua untuk mendukung peningkatan dan kemajuan sekolah.


















Dulunya sekolah ini kurang diminati masyarakat sekitar. Bagi sekolah sederhana yang berlokasi di pinggiran sawah dan jauh dari ramai kota, dukungan masyarakat berbagai pihak adalah segalanya. Adalah kejelian sang kepala sekolah, untuk menjalin networking dan menggali dukungan berbagai pihak.

Menurut kepala sekolah Ruwaidah Aliyu S.Pd., seluruh siswa, orangtua murid, dan para guru, kelihatan sangat antusias mendandani sekolah agar makin nyaman dan menyenangkan bagi proses belajar mengajar di sana. Ada meja baca di depan kelas, dengan buku-buku pinjaman dari Perpustakaan Daerah Gorontalo, yang selalu diperbaharui tiap dua minggu.

Karena keterbatasan dana, satu CPU komputer melayani 4 monitor, di mana keempat siswa bisa membuka program atau game edukatif. “Ini membiasakan literasi teknologi informasi pada mereka, sekaligus sebagai ‘rival’ dari rental komputer yang menyediakan game-game yang tidak edukatif bagi anak. Anak-anak gemar ke sini, bahkan buka sampai selepas jam belajar,” jelasnya.

Benar, sebagai sekolah binaan MGP-BE, SDN 2 Isimu Selatan telah berhasil menumbuhkan semangat pembelajaran yang maksimal, bahkan menyebut diri sebagai sekolah berbasiskan IT.

Sekolah menjadi ramah pada anak, memanusiakan anak, serta kaya dengan keterikatan budaya setempat. Pembelajaran PAKEM mengubah mereka menjadi menghargai alam lingkungan dan budaya sendiri. Semua stakeholder sekolah tampak bersatu memberikan yang terbaik pada anak, meski pun kondisi keuangan sekolah terbatas.

Inilah potret perubahan yang amat nyata, dan patut kita renungkan bersama. Hendaknya ini dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah rakyat di Indonesia, yang kerap berjuang dengan kesendiriannya, yang sepi, mengayuh kemajuan tanpa gandeng tangan, dan nyaris putus asa.TG


Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

PERUBAHAN ITU BERAWAL DARI DESA

MGP-BE

• Mainstreaming Good Practices in Basic Education (MGP-BE). Terjemahan yang paling dekat adalah: praktik pengarusutamaan yang baik dalam pendidikan dasar (SD/MI sampai SMP/MT baik negeri maupun swasta).
• MBP-BE terdiri atas tiga pilar yang saling menunjang. PAKEM, MBS, dan PSM. Ketiganya saling memperkuat keberhasilan transformasi sekolah dari sekolah yang biasa-biasa saja, menjadi sekolah yang manusiawi, hangat, kreatif, berkarakter, serta tentunya memiliki prestasi akademik tinggi.
• MGP-BE bukanlah metoda baru. MGP-BE mengembangkan praktik pembelajaran, pengelolaan sekolah, dan keterlibatan masyarakat dalam membantu sekolah, yang telah terbukti baik dan banyak dikembangkan di berbagai sekolah, yaitu pendekatan PAKEM, MBS, dan PSM itu tadi. Itulah yang ingin diserap, dicatat, dikembangkan, dan disebarluaskan oleh MGP-BE melalui modul pelatihan di berbagai jenjang dan praktisi pendidikan.


GAIRAH pembelajaran terasa saat Teachers Guide mengunjungi beberapa sekolah di Kabupaten Gorontalo, yang termasuk dalam program MGP-BE (Mainstreaming Good Practices in Basic Education). Suasana kelas hidup. Para siswa terlihat berani, aktif, dan mandiri. Para guru gembira penuh senyum. Pajangan kelas mengubah suasana, dan tampilan kelas makin semarak, sekaligus menyiratkan pencapaian prestasi. Anak-anak belajar dalam suasana batiniah yang gembira, menyenangkan, kreatif, dan sesuai fitrah tumbuh kembang mereka.

Meski keberhasilan perubahan ditopang oleh tiga pilar PAKEM, MBS, dan PSM sekaligus, nyata sekali hal yang membedakan di Kabupaten Gorontalo adalah adanya manajemen pendidikan yang kuat dari tingkat kabupaten hingga desa, serta kepedulian yang besar dari masyarakat dan pemangku kebijakan.

Ya, arus besar perubahan pendidikan kini sedang bergerak, diawali dari pelosok-pelosok Indonesia. Kabupaten Gorontalo adalah satu dari 12 kabupaten di 6 propinsi peserta program Depdiknas yang didanai Masyarakat Eropa dan dilaksanakan oleh UNICEF. Kini ada 505 sekolah dasar negeri dan swasta yang intens diintervensi program MGP-BE.

Hingga Januari 2010, program yang sudah berjalan sekitar 2 tahun ini memasuki tahapan ke III, yaitu pemantapan fasilitator daerah sebagai narasumber, serta pengikutsertaan sekolah-sekolah di sekitar untuk ikut serta menerapkan MGP-BE (pengimbasan).


“Kami cukup puas dengan hasil-hasil di lapangan. Yang terpenting, aspirasi masyarakat tentang kualitas sekolah yang mereka harapkan, dapat tercapai. Setiap daerah ternyata punya karakter tersendiri dalam mengembangkan MGPBE ini. Ada yang kuat di sisi dukungan Pemda, ada yang kuat kualitas gurunya, juga ada tokoh masyarakat sebagai penggerak,” jelas Dr. Bambang Indriyanto, manager program MGP-BE, yang juga Sekretaris Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar Menengah, Depdiknas.


Gairah pembelajaran dan manajemen pendidikan yang berbasis partisipasi masyarakat, menurut Dr. Bambang Indriyanto, pada akhirnya harus bertujuan untuk memberikan kesejahteraan pedagogik pada siswa. “Anak-anak bertumbuh kecerdasan intelektul, emosional, dan spiritualnya dengan baik. Inilah tujuan terbesar yang harus kita capai,” begitu tambahnya.

Benih-benih perubahan pendidikan kini telah bersemai di seantero Indonesia. Selangkah lagi menuju disseminasi atau penyebarluasan keberhasilan program ini, menjadi inspirasi dan pendorong perubahan bagi sekolah-sekolah SD dan SMP di seluruh Indonesia.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Oktober 23, 2010

Green School, Bamboo, Bali .... Dahsyat!

School Profile


















Green School. Nama sekolah di Bali yang sudah cukup lama terdengar. Telinga rasanya berdenging mendengar nama sekolah berbahan dasar bambu kelas super, yang didirikan oleh para kreator pendidikan berwarganegaraan asing. Rasa ingin tahu akan segera berganti decak kagum kala kaki melangkah menuju sekolah yang curam terbenam di antara kenampakan alam dan buatan nan permai.

Galeri sekolah terhampar. Berkelok, menyeberang jembatan berkaki kali penuh bebatuan besar. Aroma orisinalitas, integritas segera merebak. Makin lengkap, saat kami disuguhi minuman segar. Air kelapa diperasi jeruk nipis. Gelas dari kayu kelapa dan sedotan dari batang sereh, mematenkan komitmen: Go Green!

Tak ditemukan sedikit pun bahan plastik. Keindahan ini muncul dari ide dan kreasi para bule yang tampak sangat sungguh sungguh menjalani hari-hari mereka, di tengah sepi alam raya milik kita. Green School, seperti dituliskan Gretel Hunnerup, dalam majalah in flight magazine Mandala, adalah seumpama ‘class in the grass’. Green School, sebuah masterpiece.

Sekolah ini benar-benar sekolah internasional, mungkin dapat disejajarkan dengan Summerhill di Suffolk, Inggris. Berlokasi di Ubud di alam sekitar 8 hektar, programnya untuk anak usia pra sekolah hingga kelas 9. Ada 118 siswa dari 20 negara. Segera akan membuka kelas 11 dan 12 di tahun 2012 mendatang. Sejumlah 20% siswa adalah anak-anak Indonesia dengan beasiswa. Tingkat SMP menggunakan kurikulum Cambridge.

Ruang kelas dilengkapi toilet kompos, dengan fermentasi menghasilkan biogas untuk menyalakan kompor-kompor dapur kampus. Tak tampak kotak makan siang, mereka makan masakah olahan dari hasil panen kebun sekolah.

Tak ada ayunan berwarna-warni layaknya di kebanyakan sekolah. permen. Siswa memanfaatkan waktu senggang dengan merawat kambing piaraan dan berlatih seni perang Bali - mepantingan. Sekitar 35 penduduk setempat terlibat bekerja di sini, dan sekolah memberikan kontribusi berupa pengelolaan air serta penanaman bambu.

Adalah John Hardy, lulusan Akademi Sastra Kanada yang tiba di Bali tahun 70-an, menggagas sekolah ini. Visi Green School ingin menyatukan siswa dengan lingkungan, menanamkan tanggungjawab pada bumi, serta memberi inspirasi untuk menghadapi abad mendatang yang penuh dengan ketidakpastian.

Menurut John Hardy, siswa diharapkan kelak trampil melakukan apapun yang perlu guna melestarikan planet bumi. Jika nanti menjadi seorang bankir, akan menjadi bankir yang hijau dan berjuang bagi masyarakat.

Di sana, siswa diminta ikut berbagai projek lingkungan, seperti membuat penampungan air di tanah, merancang bangunan yang hemat energi. dari bahan tahan lama. Semua pelajaran ini adalah tambahan selain bidang studi inti.

Suatu waktu, kita dapat menyaksikan gadis-gadis kecil bernyanyi sembari melemparkan makanan ke sekumpulan ayam peliharaan. Layaknya sekolah alam, di Green School juga ada rayap yang menggerogoti kayu-bambu bangunan sekolah, serangga yang menggigiti lengan, serta hujan lebat yang membuat kelas basah kuyup. Ada pula siswa yang perlu penyesuaian akibat perbedaan budaya dan iklim.

Menurut seorang guru, saat ini sekolah sedang dihadapkan pada tantangan, yakni keingintahuan siswa yang muncul terlalu cepat!


Saat mendengar penjelasan mereka tentang proses belajar, membuat kami, para peserta Leadership Forum ANPS (yang saat itu berkesempatan berkunjung), liar berfikir tentang sebuah keniscayaan. Mengembalikan kesadaran akan keseimbangan kehidupan melalui proses edukasi.

Ingin lebi memahami Green School, berikutnya Teachers Guide layangkan wawancara tertulis melalui dunia maya. Sengaja kami kutipkan aslinya, agar pembaca dapat merasakan feel sekolah ini. Berikut petikan pendapat Ronald Stones OBE, Director of The Green School Project:

What is the message that Green School actually wants to bring to the public?

Teaching and learning are in inspiringly beautiful structures made of bamboo. There are no walls, no doors. We are open to nature and the environment. We are going back to basics – not depending on air-conditioning, minimal use of electrical power, re-using and re-cycling… What we hope our students will take away is green habits that will be with them for life.

Coming to school at Green School is a learning adventure. And we move learning around – in different spaces in large classrooms (at bamboo desks, or on mats on the floor), or in gardens, or in a bubble (a soft cotton-canvas which can be inflated with a small electric fan), or in a yurt, or in a man-made mud-walled cave…

We are showing how all learning does not have to be in enclosed spaces without distractions. We believe that creative juices flow better when there are distractions.

What is your comment, specifically about Education in Indonesia?
Many schools in Indonesia have developed or are in the process of developing green aspects to their education on offer beyond the classroom.

The difference in Green School is that the green approaches are part of what goes on in the classroom and in the curriculum.

We are Indonesian, not just Balinese admiring the Green School Founders’ idea. What stage of education do you actually wish to achieve?

We are aiming for Green School to be the #1 Model in the world. Then we can help others to move towards the model.

Our oldest students are currently Grade 9. We will progress the age range until we are a Pre K to Grade 12 school, offering Cambridge International Courses leading to IGCSE, then Internationale Baccalaureate courses leading to university admission.

All citizens in this school are very friendly to the environment. Are there any guarantees that all teachers, staff and students will apply such patterns outside the school environment?

What we hope our students will take away is green habits that will be with them for life.

Are all the teachers from overseas? If not, then what are the differences in comparison to intelligences and knowledge? What is your opinion of ‘out of the box ideas’ and working spirit?

Our teachers are international and local. They are committed to the mission of ‘Delivering a generation of global citizens who are knowledgeable about and inspired to take responsibility for the sustainability of the world’.

We are an international school with an international and local enrolment. It is important that our students work towards and achieve international standard. Our methodology is engaging students in their learning; ‘learning by doing’ is not just our tag line, it is a belief system at Green School.

Teaching and learning in this environment in these amazing bamboo structures IS out of the box. There are many natural distractions, and creative thinking is fuelled by distractions.



Do you wish to duplicate this concept in other places?

We are aiming for Green School to be the #1 model in the world. Then we can help others to move towards the model. That does not mean that other green schools have to be in bamboo structures in the jungle, but parts of what we are doing can be replicated or adjusted according to the local environmental circumstances and/or restrictions.

Are you familiar that in Jakarta and other places there are also several nature schools? What is your comment?

We are pleased to see that education is moving in this direction.

All this bamboo is from Indonesia. What kind of sense of belonging do the teachers that comes from overseas have to public education in Indonesia?

Green School has an international licence; our teachers are not teaching in public education. However, we welcome visits of teachers from public education to see what we are doing and how we are doing it. TG

GURU RIAU MENULIS, GURU SEMARANG MENULIS

Foto: Para Guru pemenang Lomba menulis "Selayang Pandang Pendidikan di Kota Semarang'.


Awalnya hanya huruf-huruf yang berserakan. Engkau memunguti dan menyusun menjadi kata-kata. Kekuatan imajinasi membawamu menyusun kata-kata itu. Dengan imajinasi liarmu, kata-kata itu tersusun menjadi kalimat-kalimat. Sampai kalimat-kalimat itu membentuk tulisan utuh, memuat ide-ide yang bersemayam di benakmu... (Muarif).

Gairah luar biasa kami temukan saat Teachers Guide diundang utuk sharing penulisan pada Guru-Guru di Pekanbaru (akhir Januari) dan di Semarang (tengah Februari). Sejak awal, penyelenggaranya yakni Bee Organizer di Pekanbaru yang dikomandani oleh Tria dan Tarman, sudsah kewalahan menampung pendaftaran peserta. Sampai kami meninjau lokasi pada malam sebelum acara, telepon masih berdering untuk menyanyakan kesempatan ikut serta.

Dua ratus lima puluhan Guru, mulai dari TK hingga SMU bergabung di Perpoestakaan Soeman HS -- gedung dengan perpustakaan termegah di Pekanbaru. Antusiasme yang mengagumkan! Mengejar sertifikat atau sungguh-sungguh mencari ilmu? Dua-duanya lah. Sebagian lagi bahkan rela membayar harga tiket tanpa ikut serta, yang penting dapat sertifikatnya. Untung panitia cukup punya idealisme. Uang dikembalikan jika tidak ikut pelatihan.

Teachers Guide yang dikomandani Ibu Arfi dan Pak Indrawan, membuka pelatihan dengan mengedepankan perubahan Abad 21 yang harus disikapi dengan kesungguhan mengembangkan diri. Pena bisa lebih tajam dari sebilah pedang!

Juga tampil Prof. Isjoni, ketua PGRI Riau, yang Dekan FKIP UnRi, yang mengkritisi 1.800-an Guru di Riau yang dibatalkan kenaikan pangkat lantaran portofolio tulisan/karya ilmiah mereka palsu atau bermasalah.

Guru yang menjadi pelaku perubahan dan pendidik karakter anak bangsa, harus bisa memberi kontribusi di saat paradigma ini sedang berenang dalam perubahan. Demografi di Pekanbaru-Riau yang begitu luas dan memerlukan transportasi yang tak mudah bagi peserta dari berbagai daerah sekitar, menjadikan peserta sangat menyenangkan saat diajak bermain pantun. Gurindam 12 berasal dari Tanah Melayu. Sesungguhnya mereka sangat suka bertutur. Kepedean dan kemauan akhirnya diaklamasikan melalui deklarasi, yang berisi komitmen untuk mulai menulis.

Lain Pekanbaru, lain Semarang. Para Guru di kota lumpia dan bandeng presto ini sudah sangat faham, bahwa sebagai Guru mereka harus bersuara melalui tulisan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan karya ilmiah sudah cukup mereka geluti. Belenggu mereka selama ini adalah kekhawatiran diri sendiri, ketakutan dianggap kurang layak dan tak mau mencoba lagi jika pernah gagal. Dalam sesi 'buang belenggu', mereka diminta menulis apa saja kendala dan hambatan yang ditengarai menghalangi kebuntuan menulis. Setelah mereka tulis, kami minta mereka meremas dan melempar ke tempat sampah kertas yang bertuliskan kendala itu. Werrr... hilang semua hambatan. Langsung menulis? Ada yang 'iya', ada yang 'tidak'.

Pelatihan di Semarang tuntas dalam dua hari. Termasuk lomba menulis. Penyelenggara adalah LPK Smart&Fun Home, di daerah Jl. Erlangga, milik Ibu Vivi yang master psikologi, dan mengelola lembaga pelatihan dan ketrampilan. Karena waktu yang leluasa, peserta kami sharingkan soal teknik menulis serta upaya meningkatkan literasi di sekolah. Pemkot setempat menyediakan piala untuk juara menulis yang kami beri tema "Selayang Pandang Pendidikan di Kota Semarang".

Pekanbaru menghentak, Semarang bergerak. Kami tunggu kebangkitan Guru di tiap daerah, untuk menggunakan pena mereka, menorehkan semangat belajar, menjadikan citra dan profesi Guru menjadi bermartabat dan membahagiakan.TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.