November 07, 2010

Guru Baru = Guru Bermasalah?

Diperlukan Teknik Pendampingan, Bukan Sekadar Supervisi.

Adagium itu bisa benar selamanya, bisa juga tidak. Yang bermasalah tentu saja bukan hanya Guru baru. Bahkan Guru yang sudah puluhan tahun mengajar pun tak bebas dari masalah.

Hanya saja, Guru baru identik dengan manajemen kelas yang everyone everywhere, gagap membuat lesson plan, keder menuangkan ide menjadi metode ajar. Apalagi bagi Guru dengan background non kependidikan yang makin banyak memenuhi pasaran kerja sekolah.

Lesti, sarjana Biologi dari Universitas Negeri ternama. Setelah beberapa saat berkecimpung di lembaga penelitian kultur jaringan, Lesti memutuskan untuk terjun ke dunia pendidikan. Mengajar!

Kecintaannya pada anak-anak mengayunkan langkah ringannya untuk bergabung dengan para Guru yang sudah lebih dahulu eksis di sekolah milik pengusaha nasional di Jakarta. Parasnya yang ayu dan gerak lincahnya yang enerjik, menjadikan Lesti mendapat posisi Guru kelas lima. Bekal ilmu dan latar belakang pengetahuannya sangat cukup untuk menularkan ilmu pada siswa didiknya.

Tiga bulan berjalan. Melalui rekam video, tampak kesemrawutan kelas dan kekurangtangkasan memenej kelas. Ketika Lesti mengajar, siswanya everyone everywhere, alias ke mana-mana. Siswa yang cerdas mulai mendengungkan celotehan yang membuat kelas gaduh. Siswa yang tak terlalu pintar terbengong-bengong. Kemampuan Lesti menjelaskan konsep terkendala oleh perilaku siswa yang berbeda-beda gaya.

Secara pembelajaran PAKEM, Lesti sudah melakukan proses mengajar sesuai pakem-pakemnya. Saat tema tumbuhan, sudah dibawanya seikat kangkung dan bayam. Instruksinya adalah: “pelajari dan observasi sayuran yang kalian pegang!”. Tapi mengapa cara mengajar ala Lesti tak kunjung sesuai dengan konsep pembelajaran active learning? Anak memang aktif. Namun kisruh bukan main. Tak terkendali. Saat dilakukan evaluasi, tak banyak anak yang bisa menangkap materi yang disampaikan. Anak yang cerdas sekalipun tak mendapatkan standar konsep yang diharapkan. Komplain orang tua tentang anaknya yang tak disiplin membuat kepala sekolah Lesti melakukan evaluasi, dengan cara melakukan PENDAMPINGAN.

APAKAH PENDAMPINGAN ITU?
Pendampingan tak sama dengan supervisi. Pendampingan atau coaching, terasa lebih equal. Guru dan yang mendampingi merasa sederajat. Pendampingan juga tak berpengaruh pada appraisal atau penilaian Guru. Jika supervisi akan menghasilkan hasil hitung renumerasi, maka pendampingan akan menghasilkan perubahan mengajar dan sikap Guru yang didampingi.

EduLab milik Tara Salvia, mengadakan pelatihan khusus tentang teknik pendampingan yang patut dikerjakan di sekolah. Peserta pelatihan yang terdiri dari para Guru senior sekolah-sekolah bagus itu diminta menuliskan, apa saja kriteria Guru ideal di sekolah masing-masing. "Apakah kriteria ini ditemukan di sekolah yang lain? Lantas, apakah masalah yang sering dihadapi? Apa yang bisa dilakukan untuk menolong mereka? Sudahkah berhasil? Melalui apa?" tanya Bu Angie, sang instruktur.

Secara definisi, pendampingan adalah upaya membuka jalan bagi sesorang, sehingga posisinya dapat berkembang maksimal lewat proses belajar. Bukan dengan mengguruinya – begitu kata Thimothy Gallwey.

Sedangkan supervisi, adalah upaya peningkatan produk atau hasil melalui pengawasan.

Pendampingan diperlukan karena akan meningkatkan kinerja Guru dan memberi efek semangat saling belajar antara pendamping dan yang didampingi. Teknik pendampingan ditengarai akan meningkatkan kinerja Guru empat kali lebih cepat dibanding training atau pelatihan biasa. Pendampingan memberi solusi pada keterbatasan, dan membentuk pribadi yang reflektif.

Sedangkan peran pendamping adalah sebagai upaya memecahkan masalah. Pendamping sebagai pencari solusi. Bukan bagian dari masalah. Untuk tujuan meningkatkan kinerja, pendamping berperan sebagai pemberi umpan balik, sebagai Guru dan pengarah dalam mengembangkan Guru lain.

SIAPA PENDAMPING?
Pendamping bisa dikerjakan oleh atasan, atau sesama Guru atau pihak lain yang bisa menjadi model atau contoh. Syaratnya, memiliki ketrampilan interpersonal tinggi, mampu berkomunikasi efektif dan memiliki ketrampilan mempengaruhi melalui pengetahuannya.

Temuan pendamping tidak selalu ada masalah. Bedakan antara mencari temuan dan mencari masalah!
Misal: tampak Guru kurang efektif saat membagi kelompok di kelas, sehingga selalu terjadi kegaduhan yang tak nyaman dan berulang. Ini temuan opini. Bukan fakta! (oke.. renungkan sejenak, paham?)

Nah, masalahnya kemudian, mengapa Guru tidak bisa membentuk kelompok dengan efektif? Ada siswa yang aktif, ada yang nganggur, ada yang ngobrol.

Jadi masalahnya apa?

Masalahnya adalah: Guru belum memahami cara pembagian tugas dalam satu kelompok. Dalam pendampingan, akan didiskusikan cara pembagian kelompok. Sampai sini jelas ya, bagaimana membedakan temuan dan masalah?

Sekarang pergunakan tabel ini untuk berlatih menemukan fakta:

KETRAMPILAN MENGAJAR --- TEMUAN
* Materi dan tujuan pembelajaran ---
* Kegiatan awal ---
* Interaksi Guru-Siswa, siswa-guru, dan siswa-siswa ---
* Pembagian kelompok ---
* Ketrampilan bertanya ---
* Penggunaan sumber belajar dan media belajar ----
* Kegiatan penutup ----

Melalui tabel di atas, temuan masalah bisa dipersempit. Misalkan temuan pada sumber belajar dan alat bantu. Pendamping harus cermat, apakah sumber belajar tersebut digunakan oleh anak atau Guru?

Sekedar catatan, sumber belajar bisa berupa pengalaman anak, permainan petak umpet, wawancari janitor, dll. Kalau botol digunakan untuk anak menuang bijian, itu namanya alat bantu. Bukan sumber belajar. Paham ya?

Lalu temuan yang didapat: Guru memanfaatkan sumber belajar itu apakah melalui eksplorasi? Adakah pertanyaan Guru tentang sumber belajar? Apakah sumber belajar itu bisa digunakan untuk menjelaskan konsep?

Sumber belajar menjadi bermakna, jika digunakan untuk dieksplorasi de¬ngan cara bertanya. Ingat teori konstruktivisme. Sumber belajar seharusnya digunakan untuk mencari jawab¬an dari masalah yang dibicarakan.

Contoh: Guru membawa daun bayam. Yang mau dipelajari adalah hukum kapilaritas. Lha ya ini ndak nyambung! Jadi yang harus difokuskan dalam pendampingan adalah: mencari sumber belajar yang cocok dengan disain pengajaran. Bukan sekedar membawa peraga.

Hal-hal itu tak akan ditemukan, jika tak dilakukan pendampingan. Dianggapnya sudah berjalan saja! Padahal ini inti persoalan pendidikan!

KAPAN PENDAMPINGAN DILAKUKAN?
Jika Anda kepala sekolah, atau penanggung jawab quality assurance, jika melihat temuan yang salah pada Guru, hendaknya segera menjadwalkan pendampingan. Yang umum terjadi, kepala sekolah atau principal justru ‘ngomel’, dan berkata: “Silakan dibenahi. Urusan saya sudah banyak”. Memang pegel melihat proses pembelajaran setiap hari. Makin dilihat, makin tampak kelemahannya. Yang lulusan keguruan tak semuanya bagus. Yang non keguruan, tak bisa ngajar, meski konsepnya benar.

Pendampingan dapat dilakukan sejak awal pembuatan lesson plan. Kemudian saat Guru mengajar, pendamping membawa dan mencocokkan dengan lesson plan. Diskusi dan analisa hasil bersama kepala sekolah, lantas dilakukan observasi dan pelatihan, berdasar hasil temuan dan kebutuhan. Saat observasi, pendamping bersifat pasif saja. Hanya mencatat fakta yang ditemui.

PENDAMPINGAN DENGAN STRATEGI TEAM TEACHING
Guru baru tak cukup di-training. Buktinya, sekian banyak pelatihan diikuti, setelah dilakukan temuan fakta, didapati sejumlah kelemahan yang hanya bisa diatasi dengan cara pendampingan.

Pemodelan adalah salah satu cara pendamping memberikan contoh. Bisa penuh, bisa pula hanya pada bagian-bagian tertentu dari pengajaran. Bergantian membentuk team teaching. Baik yang didampingi dan yang mendampingi, keduanya bergantian mengajar. Ini pemodelan. Tak semua materi bisa diarahkan dengan kata-kata. Kadang harus didemokan.

STRATEGI PENDAMPINGAN

Pendamping juga tak luput dari aturan. Ada etika yang harus dijaga, yakni kerahasiaan, mencatat apa adanya, tak dilebihkurangkan dan didasari semangat saling mengembangkan. Bukan menjatuhkan.

Harus diingat, teknik pendampingan ini hanya untuk membenahi CARA MENGAJAR, dengan cara penguatan knowledge dan skill. Ini saja! Bukan pada sikap, performa wajah, karakter. Yang ini bagiannya ada di-mentoring.

Ok. Kita berhenti dulu sampai di sini. Penting untuk berlatih mencari temuan. Bukan opini. Edisi depan kita lanjut dengan umpan balik. Tak kalah penting lho. Sebab Guru yang didampingi perlu diajarkan cara memberi umpan balik. Tak boleh hanya mengatakan: “Ya, sudah saya perbaiki. Akan baik-baik saja”.

Hmmm……. Makin asyik mendalami proses mengajar belajar kan? Sampai edisi depan. TG

Temuan
Di bawah ini adalah temuan yang dituliskan peserta pelatihan pendampingan.
Samakah dengan temuan Anda?
1. Manajemen anak
2. Media belajar
3. Siswa aktif sendiri
4. Teacher centre
5. Kesalahan konsep
6. Topik tidak fokus
7. Manajemen waktu
8. Pelaksanaan penilaian
9. Karakteristik siswa yang berbeda-beda

• Tulisan ini diterbitkan dalam majalah Teachers Guide edisi no. 10/ Tahun ke IV/2010. Dapatkan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Ketimbang kehabisan, silakan berlangganan. Sirkulasi: (Fleksi) 021-68458569, 0812 8242 801 . Selamat membaca!

Tidak ada komentar: