Tampilkan postingan dengan label CSR on Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CSR on Education. Tampilkan semua postingan

Maret 07, 2011

REFORMASI DARI SEKOLAH KEBUN

Pengabdian Sinar Mas Grup Mengembangkan Sekolah-Sekolah di Perkebunan Sawit


Rubrik CSR on Education


Pendidikan, menurut Ki Hajar Dewantara,adalah perjuangan kebudayaan. Dan bagi SMART Tbk, anak usaha perkebunan sawit Sinar Mas Grup, pendidikan yang mereka kembangkan di 116 sekolah kebun (SD, SMP, SMA)yang menampung lebih dari 21.000 siswa dan 1.080 guru tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua, lebih tepat disebut sebagai upaya perjuangan kemanusiaan.

Penghargaan atas manusia dan kemanusiaan, ditunjukkan dengan upaya membuat sekolah berkualitas berbiaya murah hampir gratis maupun mendorong peningkatan mutu kualitas sekolah (negeri, yayasan)di sekitar perkebunan. Merekrut guru dan kepala sekolah, membiayai gaji, tempat tinggal, dan operasional sekolah.

Jika sekolah di kebun berkualitas, tentu saja para profesional, staf, dan pekerja tak ragu menetap. Tak perlu berpisah menitipkannya bersekolah ke kota besar atau semisal di Jakarta. Masa-masa istimewa anak (golden age) anak hingga usia SMP berada dalam pengasuhan bersama ayah dan ibunya. Inilah kealamian yang terbaik bagi anak dan orangtua.

“Pak Franky Wijaya, CEO dari SMART Tbk. ingin agar sekolah-sekolah ditingkatkan kualitasnya, yang kebanyakan saat ini terakreditasi C agar mencapai akreditasi A dan berstandar nasional plus, yaitu plus pada pengembangan ahlak budi pekerti dan charater building. Sama baiknya atau kalau bisa lebih baik dari yang ada di kota,” jelas Urbanus M. Nangoy, HR Development Head yang bertanggungjawab atas sekolah-sekolah di seluruh perkebunan SMART Tbk.

Sekolah yang baik membentuk kader-kader berpendidikan baik, menjaga lingkungan kerja yang baik, dan mampu bekerja bersama dengan kualifikasi yang baik untuk mengelola perkebunan, sehingga perusahaan tumbuh baik-berkesinambungan.

Sumberdaya manusia lokal akan meningkat kualitasnya,sehingga terjadi arus penyerapan tenaga kerja,meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan daerah, yang berujung pada kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, terutama daerah pedalaman yang sesungguhnya berpotensi sumberdaya alam luar biasa tapi minim sumber daya manusia.

Sesuai dengan tiga filosofi Sinar Mas: people, profit, planet. Profit hanya bisa langgeng, bila perusahaan peduli akan masyarakat internal (karyawan) dan eksternal
(masyarakat sekitar, termasuk konsumen/buyer), serta planet bumi tempat kebun berdiri. Ketiga aspek ini harus seimbang, berimbang, terintegrasi.

KECERIAAN BELAJAR MENGAJAR
Atas undangan Eka Tjipta Foundation, Teachers Guide berkesempatan mengunjungi sekolah-sekolah di kebun sawit Propinsi Kalimantan Tengah, yang sedang menjalani program pengembangan guru dan manajemen sekolah.

Di lokasi sekolah SDS Bina Sawit 02, Desa Rungau Raya, Kec. Hanau, Kab. Seruyan, selama dua hari sekitar 50 guru dan kepala sekolah dari 6 sekolah di kebun (estate) Tangar berkumpul mengikuti pelatihan paradigma baru pendidikan dari tim Center for Betterment Education (CBE) Jakarta. Lima guru senior mumpuni, yaitu Sururi Aziz, Khaerudin, Uus Rustandi, Bahar Sungkowo, dan Rahmat Akbar, selama dua hari menggojlok mereka dengan berbagai tugas yang cukup berat. Antara lain wawasan guru professional, dan pembuatan silabus/RPP.

“Senang sekali kami mendapat pelatihan dalam program yang terarah seperti ini,” kata Replit Harnowo, kepala sekolah SMP Bina Sawit, yang merindukan program seperti ini. Sejak tahun 2004 berdiri sekolah, memang jarang ada pelatihan-pelatihan yang teratur dan terarah.

Menurut Ummy Setya Rintiyani, ”Saya akan coba menerapkan apa yang sudah diajarkan, termasuk inovasi pembelajarannya. Misal, mengajak anak ke hutan konservasi untuk belajar di laboratorium alam,” jelas kepsek SDS Bina Sawit 2, Tangar Estate, tempat kegiatan ini diselenggarakan. Ia kepala sekolah baru, pejabat sebelumnya pindah ke Sampit lantaran diterima sebagai guru PNS.

Optimisme senada diungkapkan oleh Nurhamid, dari SD Bina Sawit 3, Terawan. Meski sekolah jauh dari kota kabupaten, Nurhamid membanggakan prestasi siswa-siswanya, yang meraih nilai UASBN tertinggi di atas SD negeri lain di kabupaten Seruyan. Sekolahnya pun aktif dalam kegiatan sains, misalnya menyelenggarakan acara Olimpiade Matematika dan IPA. Nurhamid beruntung, karena support yang amat tinggi dari manager kebun H. Mukayat serta Vice President Agronomy (VPA) Rudy Gunadi, dan Regional Controller (RC) Unggul, berikut tim guru yang solid dan berkinerja tinggi.

Menurut penanggungjawab pelatihan Sururi Aziz, “Guru-guru ini sangat berpotensi untuk menjadi guru kreatif dan berprestasi.” Pelatihan ini membekalkan sikap utama seorang guru yang harus dikembangkan: ikhlas bekerja, bangga sebagai guru, produktif dan inovatif. Di sisi kompetensi, diajari ketrampilan menyusun perencanaan, meng- organisir bahan ajar, mengelola strategi dan media pembelajaran, melakukan evaluasi, komunikasi produktif, serta inovasi pembelajaran. “Sukses menjadi guru pun sebuah proses,” jelas Sururi, yang juga konsultan di Bright Consultant, Tangerang, Jawa Barat ini.

Upgrading, ya … upgrading. Ini memang kata yang paling tepat bagi kegiatan di sekolah-sekolah di kebun itu. Tahap pertama, sebagai awal, ke-6 sekolah SMART di Tangar-Mandang-Seruyan, Kalimantan Tengah ini. Jika up-grading ini berhasil, maka menanti lebih 100 sekolah lagi di tingkat SD, SMP hingga SMA di kebun-kebun SMART Tbk. yang tersebar di seantero Nusantara.

Ke depan, kesejahteraan guru SMART akan terus ditingkatkan. Dan idealnya, di setiap estate/kebun seluas 4.000 hektar itu ada 1 sekolah dasar. Begitu juga, gedung-gedung baru SMP akan ditambah. Saat ini, di kebun-kebun sawit Kalimantan Tengah (PSM-6, sebutannya), telah ada 12 SD dan 2 SMP. Dan dalam perencanaan akan bertambah menjadi 24 SD dan 5 SMP. “Kami segera mengoperasikan 3 SD dan 1 SMP - di Semilar,” jelas Sapto H. Sakti, Head of Program Development Eka Tjipta Foundation yang menangani program pendidikan dan berbagai program beasiswa seperti Tjipta Sarjana Bangun Desa, dan Tjipta Pemuda Bangun Desa.


MANUSIA AGRARIS MODERN

Menciptakan masyarakat kebun yang ideal, itulah yang tampaknya dipikirkan lebih matang oleh Sinar Mas Grup. Indonesia adalah negeri agraris yang begitu luar biasa, hanya dapat dikelola oleh orang-orang cerdas, yang cinta pada alam pertanian, suka bekerja keras, terbuka dan mampu beradaptasi dengan teknologi modern, memiliki budi pekerti yang luhur dan moralitas (karakter) tinggi.

Dan itu berarti peran aktif semua pihak agar mewujudkan cita-cita itu secara bersama. Misalnya, para orangtua juga diminta aktif berperan serta dalam pengawasan dan pengembangan pendidikan anak-anak mereka. Keberhasilan sekolah adalah tanggung- jawab bersama: perusahan,orangtua murid, dan sekolah. “Kalau ada perbaikan sekolah, kami tidak bawa kontraktor, tapi hanya bahan-bahan, dan kita ajak orangtua kerja bakti di hari libur memperbaiki sekolah bersama,” jelas Urbanus.

Membuat Sains Fair, mengadakan pelatihan PAKEM (dengan UNICEF).
Salah satu sekolah dasar di kebun di Panaitan, Sumut, menjadi contoh penerapan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Para guru-guru di sekolah sekitar diajak bergabung dala pelatihan, sehingga pengelolaan sekolah dan model pembelajaran pun berubah, makin maju.

Menyaksikan kerja keras dan pengabdian para Guru di kawasan terpencil seperti perkebunan sawit yang indah namun sepi, tentu merupakan suatu penghargaan atas kemanusiaan dan kebangsaan Indonesia itu sendiri. Menyaksikan para Guru berkiprah dengan tulus membaktikan diri terbaiknya bagi generasi Indonesia mendatang, betapa mengharukan. KeIndonesiaan kita makin kental, bilamana menyakini bahwa Indonesia ke depan akan lebih baik, dan salah satunya itu dimulai dari sekolah-sekolah kebun yang akan melahirkan genius-genius asli Indonesia, manusia agraris modern yang cerdas, berahlak tinggi, dan mampu mengelola sumberdaya alam bagi kesejahteraan bangsa. TG


*) Tulisan ini diterbitkan pada edisi 11/2011. Judul cover : MENJADI INDONESIA. Dapatkan majalah Teachers Guide di Gramedia atau Gunung Agung. Atau, silakan berlangganan jika tak ingin luput ketinggalan.

November 01, 2009

STKIP Kebangkitan Nasional

Gebrakan Sampoerna Foundation Mencetak Guru SMA




















Di tengah banyak keluhan lemahnya kualitas sarjana kependidikan yang disinyalir menjadi belenggu kemajuan pendidikan bangsa, muncul angin segar dari Sampoerna Foundation yang membuka sekolah calon guru hebat bermerk ‘Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan KEBANGKITAN NASIONAL’ (STKIP-KN) atau disebut juga Sampoerna Shool of Education. Terdengar sangat nasionalis dan bertenaga, bukan?

Layaknya sekolah calon guru, STKIP-KN menyediakan seabrek modul bermuatan akademis dan metode mengajar. Dibuka 2 prodi, yakni Bahasa Inggris dan Matematika – dipilih karena kedua mata ajar ini dianggap paling sulit oleh siswa SMA. Begitu kata Ibu Johana Rosalina Kristyanti Ph.D, Direktur Akademik dan Studi di STKIP KN, yang lulusan studi psikologi pendidikan di UNJ, S2 phsycology conseling di St. Clara Amerika Serikat, dan S3 di Australia dengan major Public Health.

Program Bea Siswa
Yang menjadi pembeda, STKIP-KN memberikan bea siswa. Tahun ini diberikan pada 89 mahasiswa, yang terjaring dari seleksi atas 1.200 pelamar. Penerima bea siswa ini direkrut melalui jalur seleksi cukup panjang. Berprestasi akademik tinggi, dan harus dari keluarga kurang mampu. Tim seleksi sengaja berkunjung ke rumah untuk memastikan hal ini.

Harus memiliki passion yang kuat menjadi guru (berbeda dengan kebanyakan mahasiswa keguruan kebanyakan yang kuliah karena ‘daripada tak kuliah’ atau sambil nunggu tes penerimaan mahasiswa negeri tahun depan). Mereka mengikuti sejumlah tes kepribadian, forum group discussion untuk mengukur kecerdasan dan karakter, selain tes bahasa Inggris. Juga dicobakan berdiri mengajar di sekolah-sekolah kumuh, agar terdeteksi panggilan mengajarnya.

Terbayang kan, bagaimana ribetnya proses seleksi ini. “Harus demikian, karena bea siswa selama 4 tahun ini tak sedikit. Untuk siswa asal Jakarta, biaya kuliah sekitar Rp168 juta. Luar Jakarta, mendapat living cost (uang saku, sewa kost, uang buku, biaya riset) total sekitar Rp 223 juta perorang,” jelas Agatha Simanjuntak, Public Relation yang road show ke daerah mensosialisasikan program ini.

“Respon mereka awalnya tak pede, ketakutan, mendengar program yang nantinya mencetak guru mengajar secara bilingual. Takut ah,… susah bahasa Inggrisnya, begitu kebanyakan komentar calon,” jelas Agatha.

Diferensiasi Itu
Di Indonesia kini ada 324 lembaga pencetak guru. Negeri yang sedang diguncang banyak bencana ini masih membutuhkan 10.000 guru profesional tiap tahun, dan akan terus bertambah.

Pantas kalau STKIP Kebangkitan Nasional memulai dengan upaya yang berbeda mulai dari perekrutan dan proses pembelajarannya agar tercapai guru yang ideal, yakni:
1. Mengajar bilingual, sesuai prodi
2. Memiliki scientific inquiry dan kebiasaan daya ilmiah tinggi
3. Trampil memanfaatkan multi media ajar, sesederhana apapun
4. Memilki inovasi, kreativitas, dan moral yang baik

Saat acara Inagurasi STKIP-KN, tampak calon guru masih culun-culun, maklum mereka fresh graduate SMU. Selama belajar, ada school advisor yang mendampingi kesulitan akademis,personal maupun sosial.

Setelah tamat nanti, diharapkan mereka matang, dan kembali ke daerah mengajar dengan pola ajar yang bermutu. Berbekal ilmu kependidikan modern dan ilmu-ilmu humaniora, agama, PKn dan pendidikan multikultural serta materi ICT dan moral value yang seimbang, dikawal oleh dosen (semuanya S2 lho dan terlibat dalam komunitas penelitian global), masa depan kualitas calon guru lulusan STKIP-KN ini cukup menjanjikan.

Selepas empat tahun pendidikan, mereka akan menempuh satu tahun pendidikan PPG (Program Profesi Guru) - nantinya PPG disyaratkan secara nasional oleh Depdiknas mulai 2010.

Panggilan Menjadi Guru
Menjadi guru kini tak cukup professional, namun harus tranformasional.Pertanyaan bagi lulusan STKIP-KN yang selama kuliah disentuhkan dengan peradaban modern, mulai dari ruang kelas,perpustakaan, dan taste yang tinggi ini: sanggupkah dalam usia muda mengajar siswa SMA? Dan apakah akan mau mengajar di sekolah negeri dengan gaji biasa padahal disiapkan untuk mangajar di sekolah internasional, minimal sekolah berkelas? Maukah digaji ala guru biasa?

Dalam forum group discussion, para siswa telah dikondisikan kehidupan riil bahwa menjadi guru tak banyak uang, tak sekeren kerja kantoran, tak terlalu prestise, dan sebagainya. “Mereka yang lolos dari ketakutan masa depan ini kami harapkan memang sudah ingin jadi guru sejak awal. Ada yang sudah diterima di UI tapi tetap memilih di STKIP KN,” kata Johana Rosalina Kristyanti Ph.D.

Semoga bukan karena beasiswa meninggalkan UI, namun memang lantaran panggilan yang kuat di jalur profesi guru. Semoga menjadi guru yang berperilaku baik -- tak lagi kita lihat kerumunan Guru mengikuti seminar di hotel berbintang lantaran berebut sertifikat, atau berebut makanan (maaf-red), serta kerepotan tak terbiasa memakai toilet kering seperti yang kita temui di berbagai forum pelatihan besar.

Dalam hal kompetititor, Sekolah Keguruan lain tak usah merasa tersaingi. Konon STKIP-KN terbuka untuk bekerjasama. “Kita harus bergandengan tangan kalau mau maju,” pendapat Bu Rosa.

Hal lain, akankah lulusan mendapat apresiasi yang patut dari sekolah tempat mengajar kelak? Prof.Dr. Paulina Pannen, ketua STKIP KN berujar, “Yesterday is history, today is story, tomorrow is mystery….”.

Jadi? “Ya ingat saja lah. Menjadi guru itu keindahannya adalah ketika
kita mengabdi,” pesan Bu Rosa menutup perjumpaan kami. TG

STKIP Kebangkitan Nasional
Ph. (021) 5772275


*)Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

Oktober 27, 2009

SELANGKAH MAJU LANGKAHAN

Program Pendampingan DD Republika -Exxon Mobil Oil Indonesia


Aceh Utara, termasuk kecamatan Langkahan, merupakan salah satu wilayah di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang rawan banjir. Setiap musim hujan, banjir bahkan setinggi meter mengusik warga. Termasuk mengganggu proses belajar mengajar di SDN 07 Langkahan. Tentu saja, akibatnya kualitas belajar dan mutu pendidikan menurun.

Keadaan inilah melatarbelakangi program pembangunan dan pendampingan SDN 07 Langkahan, yang terwujud atas kerjasama DD Republika (diwakili Lembaga Pengembangan Insani) dan pihak Exxon Mobil Oil Indonesia. Selesai pembangunan November tahun lalu, SDN 07 Langkahan memiliki sekolah baru, bebas banjir.

Pembangunan fisik selesai, kini SDN 07 Langkahan memasuki program pendampingan secara intensif selama 2 tahun, agar menunjukkan kemajuan yang berarti. Program pendampingan ini dikelola oleh Makmal Pendidikan-Lembaga Pengembangan Insani DD Republika, yang mengutamakan bergerak di bidang pemberdayaan kaum marginal melalui pendidikan.

Keberhasilan pendampingan akhirnya terpulang pada komitmen para guru itu sendiri. Akan halnya di SDN 07 Langkahan, para Guru serius berkomitmen. Kelihatan sewaktu pelatihan seperti tim building, serta workshop display kelas.

Selama pendampingan ini, pembelajaran terus meningkat. Suasana kelas lebih dinamis dengan display karya siswa. Pak Guru Mukiman, mewakili Aceh Utara mendapat penghargaan pemerintah NAD sebagai guru daerah terpencil yang telah mengabdi selama 20 tahun.

Adapun para siswa, Muhammad Di’un (kelas VI, Juara MTQ), Siti Aminah (Kelas VI, Juara Badminton), Raminah (Kelas VI, Juara I Lari Cepat}, dan Restu Hariadi (kelas VI, pelajar terbaik) berprestasi di tingkat kecamatan Langkahan.

Pendampingan yang intensif dibutuhkan agar tumbuh kualitas sebuah sekolah. Terbukti dari aktifnya para guru dalam berbagai pelatihan dan workshop yang dilaksanakan serta monitoring & evaluasi yang dilakukan secara berkala. Kerjasama dan komitmen Guru akan membawa kemajuan luar biasa bagi SDN 07 Langkahan ini ke depan. Sehingga, pendidikan berkualitas tidak hanya dinikmati oleh siswa di daerah kota saja namun bisa dirasakan siswa-siswa yang berada di pelosok terpencil Indonesia. Semoga. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

Guru Aceh Teruslah Belajar

Tsunami sudah lima tahun berlalu. SDN 27 Banda Aceh, yang ketika itu hancur, kini telah mewujud sekolah sangat bagus untuk standar SD negeri.Gedung megah, fasilitas sekolah sangat terjaga dan dimanfaatkan dengan baik.

Lingkungan sekolah menghijau, tak hanya pohon-pohon besar, juga dihiasi tanaman obat dan sayuran, ada jagung, terung, kangkung, sawi, kembang kol, selada, kemangi, sampai cabai. Pemanfaatan lahan sekolah ini melibatkan siswa mulai dari pencarian bibit hingga perawatan sehari-hari. Bahkan sampai diolah menjadi makanan enak dinikmati warga sekolah. Lahan ini pun berperan memperkaya proses pembelajaran.

“Banyak sekolah dibangun berbagai pihak, tapi SDN 27 berbeda. Pihak Total E&P Indonesie tak cuma memperbaiki fisik gedung, juga membangun fondasi guru melalui pelatihan-pelatihan,” kata Sofyan Sulaeman, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh, saat Pelatihan Peningkatan Pengelolaan Kelas yang berlangsung awal Juli 2009 silam. Tampak hadir Tengku Angkasa, Kepala Bidang Pendidikan Dasar serta M. Natsir dari UPTD Wilayah Timur Kota Banda Aceh.

Guru, terutama di Nanggroe Aceh Darussalam pasca tsunami, memang perlu berbagai dukungan. Selama tiga hari itu pihak Total E&P Indonesie dan Yayasan Cahaya Guru melatih para guru SDN 27 serta beberapa guru dari sekolah lain.

Ini pelatihan kedua, sebelumnya di Jakarta Juni tahun lalu. Saat sharing hasil pelatihan terdahulu, terungkap hal menggembirakan, ternyata telah dibuat lebih dari 32 bentuk implementasi dalam hampir semua mata pelajaran (Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Agama, SBK, Bahasa Inggris, dan Olah Raga).

Di materi Matematika, para peserta diajak membuat media belajar mencakup 8 jalur matematika, meliputi Bilangan, Komputasi (Kalibataku: kali, bagi, tambah, kurang), Geometri, Pengukuran, Statistik, Pecahan/Perbandingan/ Skala, Pola, dan Problem Solving.

Di materi IPS, diajak membuat peta kelas dari bahan seadanya: biji kacang merah, korek api, bambu sate. Juga membuat permainan kartu (kuartet) yang bisa dipakai semua mata pelajaran.

Model pembelajaran yang ditularkan Yayasan Cahaya Guru (YCG) memang merangsang tumbuhnya motivasi, kreatifitas mengajar, serta kemandirian. Bahan sumber belajar pun mudah, murah, dan dapat dipungut dari lingkungan sekitar, tanpa harus terpaku pada sumber-sumber formal. Intinya, adalah kreatifitas dalam mengajar.

“Menyenangkan, banyak metoda mengajar baru, seperti membuat peta dari biji-bijian, korek api, dan tusuk sate. Matematika jadi menarik dan mudah dimengerti, akan akan termotivasi menemukan rumus sendiri,” kesan Karmilawati, Guru kelas V.

Akan halnya materi IPS dan Bahasa Indonesia, “Soal bedah buku, perpustakaan kami belum pernah melakukan. Anak akan terbiasa dan pandai menuliskan isi cerita berikut pesan moralnya,” pendapat Mira Safira S.Pd.I, guru Agama Islam.

Ibu Misrawati, guru SBK terkesan pada pembuatan gambar dengan pembesaran. “Dengan skala denah yang diperbesar 3 kali, dengan memanfaatkan benda-benda kecil seperti korek api dan biji kacang merah, kami dapat menganalisis lingkungan sekitar sekolah.” Basir ST., peserta tamu dari SD Unggulan Iqra -Sigli, pun tertarik akan penerapan pola bertepuk sebagai alat penarik konsentrasi anak.

Menurut Misri Tabrani, program officer YCG, berbagai kegiatan mengajar belajar selaih harus mudah dipahami anak, juga murah dan mudah membuat atau mendapatkannya. Semoga fasilitas sekolah yang terjaga baik, lingkungan sosial yang ramah, dan keasrian sekolah dapat menunjang proses pembelajaran yang makin berkualitas.TG

*)Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

April 29, 2009

Educator Sharing Network : Prof. Nakaya Akami


Menu Life Skill Prof. Nakaya Akami


Apa sebab Jepang bisa tumbuh menjadi salah satu negeri terdepan di dunia? Ketika Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Sekutu, 1945, sampai luluh lantak, Kaisar Hirohito bertanya, ”Masih ada berapa guru yang hidup?”

Kaisar Jepang ini jelas memiliki kesadaran yang tinggi bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa. Buktinya Human Development Index Jepang pada tahun 2008 berada di peringkat 8 di dunia. Melihat wajah pendidikan nasional Indonesia, tampaknya kita harus banyak belajar dari kegigihan Jepang dalam memperjuangkan pendidikan.

Cerita ini diungkap kembali oleh Prof. Nakaya Akami, seorang peneliti pendidikan dari Universitas Hiroshima, Jepang, saat tampil berbagi dalam forum Educator Sharing Network (ESN)-Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI), di hadapan sekitar 120 guru, orangtua, dan pamerhati pendidikan, akhir Februari lalu di Jakarta. Prof. Nakaya Ayami, membawakan topik ”Menu Pendidikan Yang Mengajarkan Life Skill (Kemampuan Hidup)”.

Prof. Nakaya berbagi cerita dengan peserta tentang kondisi sekolah di Jepang, mulai dari manajemen sekolah, manajemen kelas hingga praktik metode mengajar. Di Jepang, manajemen sekolah melibatkan partisipasi semua pihak meliputi kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat yang ikut mendukung proses pendidikan siswa.

Manajemen sekolah dihimbau untuk mencetak "Berita Sekolah" setiap bulannya, sebagai sarana informasi untuk menyampaikan kondisi siswa kepada orangtua/wali, program-program sekolah, permohonan bantuan serta ucapan terimakasih yang berkaitan dengan suatu acara.

Ada sebuah sekolah dasar bernama Misonou di kota Higashi Hiroshima yang mewajibkan siswanya melakukan Yoshu. Arti Yoshu, belajar sehari sebelumnya. Siswa diminta untuk mempelajari materi yang akan dipelajari esok hari, sehingga di kelas siswa lebih siap berkonsentrasi menerima pelajaran. Tidak hanya siswa, guru juga harus mempersiapkan diri dan membuat bahan untuk mengajar. Hal ini penting agar proses belajar mengajar menjadi lebih menarik bagi siswa.

Tentunya kreatifitas guru sangat diperlukan, karena semua mata pelajaran di Jepang harus berkaitan dengan kemampuan hidup. Biasanya guru akan meminta siswa untuk mengerjakan proyek sederhana. Misalnya, pelajaran bahasa inggris dikaitkan dengan isu lingkungan hidup. Siswa akan diminta untuk membuat kampanye tentang lingkungan hidup dalam bahasa inggris.

Nakaya mengatakan bahwa pendidikan kemampuan hidup meliputi kompetensi yang kelihatan dan tidak kelihatan. ”Yang kelihatan mencakup keterampilan, tingkah laku, pengetahuan. Sedangkan yang tidak kelihatan seperti motivasi, kepercayaan diri, dan misi,” kata Nakaya. Semuanya itu diperlukan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Sejak meluncurkan program Educator Sharing Network (ESN), sebuah program diskusi reguler dua mingguan, sejumlah topik terkini di dunia pendidikan telah dibahas. Diskusi ini terbuka, gratis, dan merupakan forum berbagi. Anda para guru yang ingin bergabung, dapat mencari informasi program ini www.sf-teacher.org atau dapat mendaftar ke milis sfti@yahoogroups.com.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

PJI - Kompetisi Kewirausahaan SIMBIZ 2009












CSR on education :
SimBiz 2009 ASAH TALENTA BISNIS

Nak, gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Keba­nyakan kita --para guru dan orangtua -- berharapan si buah hati kelak menjadi ‘orang besar’. Sayang, kebanyakan kita kurang paham cara melatih mereka menjadi ’orang besar’.

Namun beruntung bagi sejumlah 150 siswa SMU/K dan 100 mahasiswa yang bergabung dalam Prestasi Junior Indonesia (PJI), mereka bisa berlatih memperkuat cita-cita menjadi pengusaha besar. Di bawah arahan tim Accenture dan Universitas Bina Nusantara, mereka bermain simulasi bisnis di ”SimBiz 2009, Build Your Business Empire”, awal Januari lalu di kampus Binus, Simprug, Jakarta. Sebagian besar siswa asal Jabodetabek, sedangkan lainnya dari Bandung, Yogyakarta, dan Kalimantan Timur.

Kompetisi yang disponsori oleh Accenture (konsultan manajemen) dan PT Freeport Indonesia ini diadaptasi dari The Hawlett Packard Global Business Challange (HPGBC), sebuah kompetisi simulasi bisnis tingkat international (diikuti lebih 1.000 tim berbagai negara). Seperti simulasi HPGBC, SimBiz 2009 juga menggunakan software JA TITAN Bussines Simulation dari Junior Achievement Worldwide.

Tiap sekolah boleh mengirim beberapa tim, masing-masing terdiri atas dua orang. Mereka berperan seolah tim eksekutif pada perusahaan manufaktur virtual yang memproduksi alat canggih bernama ”Hologenerator”.

Software menampilkan berbagai kasus-kasus dalam penjualan maupun pengembangan bisnis Hologenerator. Para siswa diajak bermain sekaligus belajar agar dapat memenangkan persaingan bisnis dengan membuat keputusan-keputusan penting dalam enam aspek, yaitu penetapan harga, kapasitas pabrik, jumlah produksi, bia­ya marketing, biaya R&D, serta dana sosial yang harus dikeluarkan oleh perusahaan virtual yang dikelolanya. Kinerja perusahaan kemudian diukur dengan angka PI (Performance Index).

Layaknya seorang chief of excecutive (CEO) atau general manager (GM), mereka berjuang agar perusahaan tetap survive dan untung. Siswa benar-benar diperas kemampuan berfikirnya, dan ditantang keberaniannya untuk membuat keputusan bisnis, sementara masukan informasi tentang lingkungan bisnis dan kondisi global cukup terbatas.

”Suatu bangsa yang demokratis hanya bisa sejahtera kalau terdapat cukup banyak warganya mampu berwiraswasta. Karena itu, kemampuan berwiraswasta harus dibangun secara sadar sejak usia dini,” jelas Sarwono Kusumaatmadja, selaku Dewan Nasional PJI.

Konsep kewirausahaan memang sangat perlu ditanamkan semenjak dini. Sumberdaya alam Indonesia begitu besar, namun para lulusan sekolah kita cenderung mengambil posisi sebagai pekerja, orang gajian, atau tukang. Jarang yang berani mengambil keputusan untuk mendirikan usaha dan mempekerjakan banyak orang sekaligus mensejahterakan masyarakat sekitarnya. Sikap kewirausahaan merupakan bekal amat berharga.TG
----------------------------------------------------------------------
Sri Wagini
Guru kewirausahaan di SMK 26 Jakarta Timur

Saya sudah 10 tahun mengajar kewirausahaan. Membimbing toko koperasi sekolah, dan usaha kue black forest di rumah. Saya berupaya memajukan koperasi sekolah, guna memotivasi siswa. Dari modal Rp.5 juta, kini koperasi untung bersih Rp. 45 juta. Disini menjual kebutuhan rumah tangga, alat elektronik, komputer, HP, dsb. Kegiatannya pertokoan, dan simpan pinjam.

Siswa kita harus dibekali prinsip kewirausahaan. Di sisi IQ (intelligent quotient), berupa kecerdasan agar mampu bersaing. Di sisi EQ (emotional quotient), mengembangkan 25 karakter positif , antara lain sikap kejujuran, tanggungjawab, kasih sayang, berani berkompetisi, dan prestatif. Siswa yang bertanggungjawab, dia akan berupaya terus menerus untuk menjadi yang terbaik dan berprestasi.

Di sisi SQ (spiritual quotient), ditanamkan sikap takut kepada Allah SWT, supaya jangan korupsi. SQ ini paling penting, sebagai pengendali. Sebab meski knowledge dan afeksi bagus, jika SQ-nya kurang, orang bisa berlaku curang atau korupsi. Ini masalah bangsa.

AQ (adversity quotient) membentuk sikap mampu bangkit kembali. Tidak ada wirausaha muda yang langsung sukses. Semua pengusaha sukses pasti mengalami beberapa kali kegagalan.

Saya cari sendiri materi pembelajaran yang bisa menggugah, dari buku, koran, majalah, dsb. Bila perlu, orang tersebut saya kunjungi. Saya ketemu Elang Gumilang, entrepreneur termuda di Indonesia dalam usia 23 tahun bergerak di real estate.

Program di sekolah, kelas I materi membina sikap mental yang baik. Di kelas II, pengelolaan perusahaan. Contoh, membangun usaha kecil perorangan (CV), apa saja syarat-syaratnya. Di kelas III, mendalami manajemen bisnis. Diberikan 20 jam perminggu.
Menurut saya, diktat kewirausahaan kurang klop, kurang menarik, dan kurang sesuai dengan kurikulum. Akibatnya, tidak berguna, buku tersebut tergeletak saja di perpustakaan.

Program PJI seperti SimBiz 2009 ini, sangat bermanfaat. Siswa kami, kebanyakan keluarga tak berada, jadi lebih memahami dunia luar. Produk-produk siswa, seperti pupuk kompos, dapat dijual lebih luas. Motivasi mereka berwirausaha jadi lebih tinggi. Terbuka mata hatinya.

Motivasi lain, Departemen Koperasi & UKM memberikan beasiswa ke Jepang bagi siswa berprestasi dalam kewirausahaan, dan sepulangnya diberi modal usaha.
----------------------------------------------------------------------------
Jaya Sakti
Ketua Dewan Pengawas Student Company “BIONIC” SMK 26, Jakarta Timur

SimBiz ini bagus banget. Saya diimajinasikan keseharian sebagai pemilik perusahaan , diberi situasi realitas persaingan antar usaha. Kita harus putar otak. Situasi dari software ini bisa kita terapkan di dunia nyata.

Untuk acara ini, saya menyiapkan proposal model bisnis rumah kost 30 kamar di sekitar Jakarta Barat atau Rasuna Said, Jakarta. Dengan modal Rp. 8 miliar, saya estimasikan dapat kembali modal dalam tempo 7 bulan operasi. Permodalannya dari dana pinjaman bank. Selesai sekolah, saya ingin menjadi pengusaha real estate.
-----------------------------------------------------------------------------
Jessica Molline Tarigan
SMK Tarakanita, kelas II Penjualan
Pengurus Student Company “Metropolista III” Pulo Raya, Blok M, Jakarta Selatan

Student Company kami berjulan produk recycle buatan Yayasan Populi, seperti tas terbuat dari plastik kemasan, bahan jok, kain flanel.

Di SimBiz dapat PI Index 830. Masih terbatas trik bisnis yang kami ketahui, juga kurang mahir dalam cara-cara meningkatkan penjualan. Kita harus kreatif dan jeli, situasi bisnisnya cukup sulit. Kita harus semangat dan kaya pengetahuan. Pengusaha lain punya hal yang tak kita miliki. Kita harus memiliki cara untuk meningkatkan kreatifitas bisnis, antara lain dengan sharing.
----------------------------------------------------------------------------
Fitri Izzati
SMK 8 kelas II Adm. Perkantoran
President “ANT Student Company”

Di samping ruang OSIS, kami jualan burger, yang tidak serupa makanan kantin. Agar laris, ada SMS delivery, pesanan diantar ke kelas, kalau perlu sampai ke lantai 4. Tiap sore belanja barang. Pembeli ramai kalau ada acara sekolah atau tamu. Kini dikembangkan dengan produk lain seperti jus, snack, lolipop, dan cetak foto digital dengan printer komputer. Dengan modal Rp. 150 ribu, pada saat puncak bisa untung Rp. 385 ribu sehari.

Dengan SimBiz ini, saya seperti jadi pengusaha beneran. Belajar bagaimana ’nembus pasar’, kan susah. Strategi bagaimana mengalahkan pasar. Ibu saya pengusaha kue, bikin risol, pastel, dll. Saya belajar dari ibu, mencari uang itu susah. Karenanya, saya ingin jadi pengusaha, punya perusahaan yang dapat kita atur sendiri, dan mempekerjakan orang lain. Harus siap rugi, dan kalau jatuh harus bisa bangun lagi. Bertanggungjawab, mampu menghadapi resiko apapun, kreatif dan inovatif. TG

"A dwarf standing on the shoulder of a giant may see further than giant himself". Seorang kurcaci yang berdiri di pundak seorang raksasa mungkin dapat melihat lebih jauh dari raksasa itu sendiri. Bernard of Chartres (Abad 12)
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Sampoerna School of Education


Beasiswa Siapa Mau?

Menjadi guru adalah profesi mulia, karena mendidik karakter bangsa. Dan itu
menuntut kita lebih profesional.

Adalah Sampoerna Foundation, yang sebelumnya telah berkecimpung melatih guru dalam lembaga Sampoerna Foundation - Teacher Institute (SFTI) pada tahun 2006, kini lebih jauh melangkah dengan mendirikan ”Putera Sampoerna School of Education” atau SSE, pada awal Maret 2009 lalu. SEE berkomitmen mengembangkan tenaga pendidik (guru) berkualitas tinggi di Indonesia. Prof. S Gopinathan, konsultan senior dari Singapura dan Kenneth Cock, Direktur Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI).

Sejak 2005, Sampoerna Foundation mengembangkan 17 sekolah dan 5 madrasah di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Bali, termasuk para guru, siswa, kepala sekolah, dan sistem pendidikan. Termasuk juga menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan). Pada tahun 2009, SF meluncurkan program sekolah bertaraf internasional berasrama, Sampoerna Academy.

Menyambut beroperasinya SSE, dr.Fasli Djalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas menekankan bahwa sangat penting bagi Indonesia untuk memiliki lembaga pendidikan guru yang berkualitas.”Kita harus menjawab kebutuhan akan guru berkualitas di Indonesia,” ujar Fasli.

Hal senada diungkapkan Prof. S Gopinathan, konsultan senior dari Singapura. “Untuk bertahan di era globalisasi, Indonesia memerlukan sekolah pendidikan bertaraf dunia yang dapat mengkombinasikan metode pengajaran lokal dan internasional, serta didukung kalangan akademisi yang diakui di tingkat nasional maupun internasional.” SSE, lanjut Gopinathan, mempersiapkan generasi baru guru Indonesia yang siap bersaing di level nasional maupun internasional.

Berlokasi di gedung Sampoerna, Jakarta Pusat, SSE menawarkan fasilitas kampus yang lengkap, dan m­enyajikan materi dengan kurikulum, tenaga pengajar nasional dan internasional serta praktik metode pengajaran terbaik yang disampaikan dalam dua bahasa. Dalam pengoperasiannya, SSE bekerja sama dengan mitra lembaga internasional.
Calon mahasiswa SEE diharapkan datang dengan prestasi akademis terbaik. Pendataftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2009/2010 telah dibuka. Perkuliahan dimulai September mendatang. Dari 80 kursi kelas, 40 diantaranya akan diberikan bagi penerima beasiswa. Program beasiswa SSE sudah termasuk biaya pendaftaran, biaya kuliah, uang saku, uang buku, riset/penelitian internet.

Ada dua jurusan yang dibuka, yaitu Bahasa Inggris dan Matematika. “SSE akan menjadi salah satu institusi paling bergengsi di Indonesia yang menyediakan pendidikan untuk pendidik masa depan dan juga staff pendidik yang professional, memiliki kemampuan mengajar terbaik, kompetitif dan mampu mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan pemba­ngunan nasional,” jelas Ron Perkinson, Presiden Sampoerna Foundation.

Lulusan SSE diharapkan menjadi guru dengan kemampuan terbaik­nya. Terlebih lagi, SSE menyediakan pelayanan pengembangan karir, seperti konseling karir professional, ekstrakulikuler yang komprehensif dan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Tersedia pula program magang guru, untuk mendapatkan pengalaman mengajar yang sebenarnya serta peluang penempatan kerja.

Ron menambahkan, “Kami sangat ber­untung karena mendapat dukung­an yang kuat dari pemerintah dan kami siap untuk bekerja sama dengan mitra & donor. Kami percaya bahwa dalam waktu dekat kami dapat memberikan dampak yang besar untuk kemajuan pendidikan Indonesia.”

Informasi : www.sampoernafoundation.org, atau email ke info-ti@sampoernafoundation.org, dan ph.(021) 5772340. Bersama, mari ciptakan generasi Guru baru Indonesia! TG