April 29, 2009

Educator Sharing Network : Prof. Nakaya Akami


Menu Life Skill Prof. Nakaya Akami


Apa sebab Jepang bisa tumbuh menjadi salah satu negeri terdepan di dunia? Ketika Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Sekutu, 1945, sampai luluh lantak, Kaisar Hirohito bertanya, ”Masih ada berapa guru yang hidup?”

Kaisar Jepang ini jelas memiliki kesadaran yang tinggi bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa. Buktinya Human Development Index Jepang pada tahun 2008 berada di peringkat 8 di dunia. Melihat wajah pendidikan nasional Indonesia, tampaknya kita harus banyak belajar dari kegigihan Jepang dalam memperjuangkan pendidikan.

Cerita ini diungkap kembali oleh Prof. Nakaya Akami, seorang peneliti pendidikan dari Universitas Hiroshima, Jepang, saat tampil berbagi dalam forum Educator Sharing Network (ESN)-Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI), di hadapan sekitar 120 guru, orangtua, dan pamerhati pendidikan, akhir Februari lalu di Jakarta. Prof. Nakaya Ayami, membawakan topik ”Menu Pendidikan Yang Mengajarkan Life Skill (Kemampuan Hidup)”.

Prof. Nakaya berbagi cerita dengan peserta tentang kondisi sekolah di Jepang, mulai dari manajemen sekolah, manajemen kelas hingga praktik metode mengajar. Di Jepang, manajemen sekolah melibatkan partisipasi semua pihak meliputi kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat yang ikut mendukung proses pendidikan siswa.

Manajemen sekolah dihimbau untuk mencetak "Berita Sekolah" setiap bulannya, sebagai sarana informasi untuk menyampaikan kondisi siswa kepada orangtua/wali, program-program sekolah, permohonan bantuan serta ucapan terimakasih yang berkaitan dengan suatu acara.

Ada sebuah sekolah dasar bernama Misonou di kota Higashi Hiroshima yang mewajibkan siswanya melakukan Yoshu. Arti Yoshu, belajar sehari sebelumnya. Siswa diminta untuk mempelajari materi yang akan dipelajari esok hari, sehingga di kelas siswa lebih siap berkonsentrasi menerima pelajaran. Tidak hanya siswa, guru juga harus mempersiapkan diri dan membuat bahan untuk mengajar. Hal ini penting agar proses belajar mengajar menjadi lebih menarik bagi siswa.

Tentunya kreatifitas guru sangat diperlukan, karena semua mata pelajaran di Jepang harus berkaitan dengan kemampuan hidup. Biasanya guru akan meminta siswa untuk mengerjakan proyek sederhana. Misalnya, pelajaran bahasa inggris dikaitkan dengan isu lingkungan hidup. Siswa akan diminta untuk membuat kampanye tentang lingkungan hidup dalam bahasa inggris.

Nakaya mengatakan bahwa pendidikan kemampuan hidup meliputi kompetensi yang kelihatan dan tidak kelihatan. ”Yang kelihatan mencakup keterampilan, tingkah laku, pengetahuan. Sedangkan yang tidak kelihatan seperti motivasi, kepercayaan diri, dan misi,” kata Nakaya. Semuanya itu diperlukan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Sejak meluncurkan program Educator Sharing Network (ESN), sebuah program diskusi reguler dua mingguan, sejumlah topik terkini di dunia pendidikan telah dibahas. Diskusi ini terbuka, gratis, dan merupakan forum berbagi. Anda para guru yang ingin bergabung, dapat mencari informasi program ini www.sf-teacher.org atau dapat mendaftar ke milis sfti@yahoogroups.com.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

2 komentar:

dexzrecc mengatakan...

saya numpang permisi mau copi paste

majalah dwibulanan Teachers Guide mengatakan...

silakan. semoga bermanfaat u Anda. Salam Pendidikan!