September 24, 2008

critic
Kaum Pesawat Terbang
Bukan Kaum Gerobak !
by Ria Restanti Natalisa

Maka selamanya manusia yang eksploratif, inovatif, perintis yang baru dan yang serba bertanya dan mempertanyakan tidak pernah disukai kaum tradisional, dan selalu di cap WTS (waton suloyo – asal membantah) oleh kaum penguasa mapan, seperti filsuf Socrates atau Soekarno-Hatta menghadapi Athena atau Hindia-Belanda. Tetapi, kaum eksplorator ini justru menjadi idola bangsa-bangsa yang suka maju.

Orang-orang seperti Livingston, Captain Cook, Captain Scott, Louis Pasteur, Edison, dan semua pemenang Hadiah Nobel adalah suri-teladan masyarakat-masyarakat yang demokratik, karena demokrasi menghargai kaum perintis dan kaum yang bertanya. Mereka bukan kaum Gerobak yang bisa saja berhenti di sembarang tempat untuk beristirahat, tetapi kaum pesawat terbang yang tidak bisa berhenti begitu saja, jika tidak ingin jatuh hancur.”
(Y.B. MANGUNWIJAYA, “Impian dari Yogyakarta”)

Rasanya seperti ditampar, ketika kita tersadar bahwa proses belajar kita yang harusnya senantiasa bergerak, berubah, berinovasi dan memberi inspirasi belumlah seperti "Kaum Pesawat Terbang". Ya, kita masih 'Kaum Gerobak'. Dorong sebentar, ngos-ngosan, kemudian istirahat. Sementara yang lain sudah melejit dengan kecepatan tinggi, disiplin, terfokus pada tujuan, dan konsisten!

Usaha belum optimal, kita sudah berkata , yah lumayan buat hari ini. “Alon-alon asal kelakon” (perlahan-lahan asal terus bergerak) justru dijadikan 'excuse' agar kita dimaklumi dalam keterlambatan, ketertinggalan, dan jangan-jangan juga “kebodohan” kita sebagai sebuah bangsa dan Negara!

CURIOSITY
Persoalan belajar bermuara dari curiosity, keingintahuan, yang secara fitrah memang sudah diciptakan oleh Yang Maha Pencipta. Keingintahuan menimbulkan keinginan bertanya. Sebuah jawaban seharusnya akan menjadi stimulus bagi pertanyan selanjutnya, sehingga proses berpikir terus berlanjut, keingintahuan semakin tinggi, dan ilmu semakin berkembang dengan sendirinya.

Tak ada satu jawaban yang tepat terhadap semua pertanyaan. Namun, sejauh apa sebuah jawaban akan membimbing kita pada pertanyaan kita, menjadi jauh lebih penting. Sebagaimana kita juga harus menyadari bahwa dengan cara ddemikianlah ilmu pengetahuan berkembang.

Arus berfikir yang berawal dari sebuah pertanyaan harus dapat terakomodasi dalam proses belajar, termasuk dan terutama di sekolah. Karena lazimnya sebuah sekolah, dengan alasan keterbatasan waktu, fasilitas, tenaga, dan target-target teknis lain (ini sebuat contoh dari sebuah “excuse” lainnya!), arus berpikir ini justru tidak diakomodasi. Pokoknya siswa hapal pelajaran, dan pada saatnya bisa mengerjakan tes atau ujian. Dan tugas guru (pendidik?) selesai.

Sungguh menyedihkan keika kita tahu dan sadar bahwa esensi belajar adalah bertanya, berpikir, dan berbuat nyata (berkarya), justru kita beralih ke bentuk pengajaran yang secara teknis lebih mudah dijalankan. Esensi belajar sepertinya tidak terlalu mudah dilakukan oleh sebagian besar guru-guru kita (yang dulunya mendapatkan pengajaran yang kaku dan pantang bertanya, karena bertanya berarti “bodoh” atau “dianggap tak menyimak”?).


Sudah menjadi sulit bagi mereka untuk menangkap “rasa” dari esensi belajar. Guru-guru secara “Birokratis” telah terbiasa dijejalkan sejumlah “hapalan-hapalan” oleh atasan atau instansi yang lebih tinggi, tanpa boleh bertanya dan mempertanyakan lebih jauh. Disatu sisi, bagi sebagian besar guru “tradisional” (dalam berpikir) posisi seperti itu menjadi sebuah zona nyaman luar-biasa.

Pada era sekarang, bergerak bak 'Kaum Pesawat Terbang' menjadi sebuah keharusan. Bergerak dinamis dengan terus bertanya, berfikir, bertanya ulang, berpikir kembali, berani menghadapi kegagalan namun segera bangkit kembali. Adakah yang punya energi sebesar itu?


Ada! Mereka adalah generasi masa depan, yang kini sedang duduk dalam kelas di hadapan kita, dan dengan mata berbinar sedang berharap pertanyaan mereka mendapat jawaban yang berisi dan inspiratif. ** TG

*) Ria Restanti Natalisa, pendiri dan kontributor majalah Teachers Guide, menetap di Yogyakarta. Kini sedang menyelesaikan pendidikan S2 Psikologi Pendidikan di FPsi UGM.
Note: Artikel ini telah dimuat di Majalah Teachers Guide Vol 2, No.06 / 2008

TEACHERS GUIDE adalah majalah pendidikan guru profesional, memuat artikel pendidikan, guru menulis, forum guru, inovasi, kreatifitas, motivasi, pelatihan seminar pendidikan, konsultasi, pembelajaran, pendidikan nasional, paradigma pendidikan baru, guru kreatif, teknologi pendidikan, ict, lesson plan, skill mengajar, active learning, teaching learning, sekolah alam, sekolah islam, sekolah negeri dan swasta, ANPS.

Tidak ada komentar: