April 28, 2009

Ahmad Furqon MPd. : "Tetap Ingin Jadi Guru SD"



Jika Anda ingin mendorong perubahan di sekolah, tapi berada di dalam situasi yang tidak mendukung, apakah Anda akan berhenti melangkah? Atau maju terus, meski tak ada rekan guru yang mendukung? Mungkinkah Anda tetap melangkah dan berfikir positif, sementara dunia di luar bersikap tak peduli, menganggap Anda ’orang aneh’, atau bahkan antipati?

Bagaimana menjaga motivasi mengajar tetap tinggi? Apa yang bisa me¬nyemangati kita untuk terus maju, tidak berhenti atau menyerah? Beberapa pakar telah memberikan kriteria guru sejati yang pantang menyerah mendaki. H.Ahmad Furqon, SPd. M.Pd, guru kelas V di Sekolah Dasar Negeri Polisi 4, di Bogor, Jawa Barat, adalah salah satu Guru yang tak menyerah.

Meski banyak tawaran menggiurkan dari berbagai pihak, Ahmad Furqon bertekad untuk tetap berkiprah di pendidikan dasar. ”Pendidikan dasar itu begitu penting,” alasannya.

Untuk menjadi guru profesional, Furqon menunjukkan potret perjalanan dirinya. Di jalur akademik, ia bersekolah lagi untuk meraih strata 2 magister manajemen pendidikan. Di jalur kompetensi sebagai pendidik, ia bergabung dan berkontribusi dengan berbagai aktifitas kependidikan kota Bogor. Untuk meningkatkan kesejahteraan, ia menambah pendapatan dengan menjadi penulis buku pelajaran sekaligus menjadi editor, dan mengajar di perguruan tinggi swasta.

Untuk mewujudkan gagasannya mengajar, ia tak segan merogoh kocek sendiri untuk melengkapi sarana di kelasnya. Sebagai contoh, di kelas V tempatnya mengabdi, kini ada sebuah teve berikut berbagai cakram program sains. Ruangan kelas pun diubahnya menjadi bentuk melingkar O, meja direndahkan dengan memotong kakinya. Dengan susunan begini, lebih banyak murid yang bisa duduk berhadap-hadapan, ruangan kelas pun (rasa-rasanya) menjadi lebih luas.

Inilah mutiara kata yang keluar dari hatinya yang teguh:

”Perubahan itu mesti datang dari Guru itu sendiri. Menjadi guru dan mendidik adalah dunia saya. Bagaimanapun, saya akan menjalani dan mencintai. Apapun kondisinya.

Saya pernah mengajar di SD Wangunsari, Pamoyanan, Bogor, di kaki gunung. Kondisinya sangat minim, bahkan jarang guru yang mau mengajar di sana. Dindingnya dari kayu, bolong-bolong. Kalau kita mengajar, orang bisa menonton dari lubang itu. Ketika jam masuk belajar, guru belum datang, saya memimpin upacara sendiri.

Guru umumnya tidak punya keingin¬an untuk menjadi lebih baik. Kalau saya datang pagi, rekan guru bilang ”Pak kenapa datang pagi-pagi.?”. Kita sebagai guru sering terjebak rutinitas. Ada guru kelas VI mengajarkan peta dunia, tapi dia sendiri tidak tahu di mana letak Warung Jambu di kota Bogor. Di mana pun saya mengajar, selalu sepenuh hati... Kalau anak tak masuk 3 hari, saya kunjungi.

Melihat kondisi sekolah SD Wangungsari, bersama kepala sekolah kami mencari dana bantuan. Dapatlah Rp. 60 juta, dan dari situ dapat membangun 2 lokal. Kemudian saya dimutasi ke tempat sekarang, SD Polisi IV. Saya minta, kalau saya dipindahkan, harus dicarikan 2 orang pengganti saya sekaligus.

Mengikuti panggilan menjadi guru, adalah masalah hati. Sedikit sekali saya dan rekan-rekan guru diajari bagaimana mengajar total dengan sepenuh hati.

Dari mana dorongan yang kuat menjalani tugas guru, meski honor tak memadai? Menjawab itu, saya merasa kekuatan datangnya dari dalam diri dan jiwa saya. Pengaruh dari luar sedikit saja.

Menyiasati perubahan yang akan dilakukan di sekolah, diawali dengan pembelajaran. Cari model-model pembelajaran yang bisa mencakup gaya belajar semua siswa, dengan pemanfaatan media. Apalagi kalau mengajar dengan inovasi, hasil akhir akan lebih bagus lagi.” TG

BIODATA
 Wakil Kepala Sekolah SDN Polisi IV, Kota Bogor.
 Lahir di Bandung, 22 Juli 1972
 Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pakuan, 2004
 Magister Manajemen Pendidikan, Pasca Sarjana Univ. Pakuan, 2007
 Berbagai pelatihan di Bogor, Bandung, Jakarta, Perth (Australia), Penang (Malaysia)/
 Menulis 16 item buku, dan sekaligus menjadi writer coordinator di penerbit Epsilon dan Genesindo, Bandung.
 Anggota tim pengembang Kurikulum Disdik Kota Bogor, pembina generasi muda, anggota Komunitas Matematika Nalaria Realistik-Bogor, dan banyak aktifitas lain.
 Penghargaan Juara I –Guru SD Berprestasi tingkat Nasional (2006), setelah sebelumnya juara I di tingkat Kota Bogor dan tingkat Propinsi Banten.
 Juara Harapan I Lomba Keberhasilan Guru dalam pembelajaran tingkat nasional.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

1 komentar:

Royani Sanusi IF. mengatakan...

Masih ingatkah engkau, ketika kami dijejali seabreg materi dan segudang tugas, dengan dalih Review KTSP padahal ujung-ujungnya diberi tugas untuk menyusun KTSP 2009/2010, yang notabene PBM sudah berjalan hampir satu semester?
Masih ingatkah engkau, kami yang sudah terlalu berat beban di pundak, masih harus memikul, menenteng, menjinjing, menggendong, dan entah me .... apalagi?
Tetapi, kami masih ingat, gaji bulananlah yang membuat kami tetap begini, seperti ini!
Kamipun masih ingat dan akan selalu ingat, bahwa kami tidak pernah merasa menjadi sapi perahan para pembuat dan pengambil kebijakan!
INGAT! INGAT! INGAT!