Oktober 25, 2010

Cheerleaders Pelatihan Pendidikan

Profil

Di setiap program peningkatan mutu pendidikan, apakah itu pelatihan, seminar, kongres dan sebagainya, selalu akan kita temui sosok gesit yang sibuk mengawal acara. Sukses tidaknya acara sangat tergantung tangan dingin mereka, para arranger acara.

Pelatihan guru, sudah marak dilakukan. Namun pelatihan dengan tema dan nara sumber pilihan, dan tak melibatkan banyak peserta, dengan tujuan fokus dan efektifitas, perlu penanganan dan rasa.

Ada dua sosok wanita yang menarik kita kenali. Ada Rida Suryaningtyas, yang aktif di ANPS (Asosiasi Sekolah Nasional Plus). Sosok berikutnya, Diana Karnani, dapat kita temui saat berinteraksi dengan Nett Academy, lembaga pelatihan yang kerap mengundang praktisi pendidikan tingkat dunia ke Indonesia.


Ridya Suryaningtyas
Ada Ridya Suryaningtyas, sebagai Executive Assistant di Sekertariat ANPS. Berkantor di Sekolah Tiara Bangsa-ACS International, Jakarta Timur. Ridya mampu berperan sebagai traffic arranger, yang mengatur mulai dari proses informasi, rekrutmen peserta hingga jalannya acara yang digelar oleh sekumpulan cerdik pandai pendidikan dan sekolah bertaraf internasional.

Gesit, cerdas dan sangat cekatan. Anggota ANPS yang sebagian besar adalah orang asing yang bekerja sebagai praktisi pendidikan di Indonesia, telah merasakan layanan yang memuaskan dari seorang Ridya. Bahasa Inggrisnya sangat Inggris! Wajahnya manis. Penampilannya simple. Cara kerjanya? Nampaknya perfect!


Foto: Ridya Suryaningtyas

Lulusan mekatronik Swiss German University ini sempat mengajar di Tutor Time setelah meraih gelar insinyurnya. Passion-nya memang di-edukasi. Dari seorang kenalannya, Ridya kemudian bergabung di ANPS. Menurutnya, cepat ada chemistry saat dia diwawancara oleh petinggi ANPS, Daryl Forde.

Kini ia banyak bekerja sama dengan Ibu Capri Anjaya --ANPS-BI Executive Committee members, kepala sekolah SMP- ACS Tiara Bangsa. Sehari-hari, tumpahlah pekerjaan yang terkait administratif dan informatif di tangan Ridya.

Saat menjadi pemegang kendali acara di Forum Leadership ANPS di Bali akhir tahun lalu, Ridya sendirian menjadi partner para pejabat ANPS dan peserta acara bergengsi itu. Tutur bahasa Inggrisnya sangat nyaman terdengar. Semua dilayani dengan keramahan. Tak salah, jika di akhir acara, Ridya mendapat apresiasi karangan bunga tangan cantik, sebagai ungkapan terima kasih.

Yang lebih mengesankan, sesaat sebelum acara ditutup, Ridya beserta sang adik menyuguhkan salah satu performa yang biasa ditampilkan oleh siswa sekolah nasional plus. Semacam dance diiringi lengkingan nada indah, dipadu iringan musik klasik dunia. Gaya dan lentingan tubuhnya yang langsing menghasilkan tepuk tangan panjang, mengiringi gerak tubuhnya yang konon terbiasa mengikuti rehearsal siswa-siswi sekolah keren-keren itu. Pertunjukan kecil yang berkesan.

Ridya mampu menjadi event organizer handal di bidang pendidikan yang tampaknya sangat disukainya. Keinginanya ke depan, ia ingin memiliki sekolah sendiri. Hmm………, pengalamannya mendalami konten pendidikan dan cara melayani para praktisi pendidikan berkelas dunia tentunya akan menjadikannya lebih gandes- luwes saat nanti mendirikan sekolahnya sendiri.


Diana Karnani

Diana Karnani, begitu namanya . Menempuh pendidikan di Universitas Gadjah mada, Diana nampak beda saat menjadi host bagi sejumlah pelatihan, di bawah bendera Nett Academy. Berikut petikan obrolannya dengan Teachers Guide:


Foto: Diana Karnani

Pendapat Anda secara umum proses pendidikan di negeri kita?
Ada perkembangan dibanding 10-30 tahun lalu, tapi masih perlu dilakukan pembenahan. Mesti dijaga agar terus berkembang ke arah yang lebih baik dan merata. Saya tak berbicara tentang nilai ujian nasional sebagai tolok ukur, karena cakupan pendidikan terlalu luas untuk sekedar diukur dengan cara itu.

Pekerjaan rumah paling mendesak adalah melihat kembali filosofi dan tujuan global pendidikan kita. Misalnya filosofinya Pancasila dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Perancang sistem pendidikan kita mesti mempercayai, memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kalau tujuan pendidikan membentuk ’manusia seutuhnya’, perancang sistem pendidikan mesti mendefinisikan ’manusia utuh’ dalam arti sesungguhnya, serta mencita-citakan ‘manusia-manusia seutuhnya’ terwujud di bumi ini. Sudahkah itu dilakukan? Berikutnya, merumuskan tolok ukur yang menunjuk Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai core values, serta rumusan tolok ukur tercapai-tidaknya tujuan pendidikan.

Penjabaran ke tujuan-tujuan pendidikan yang lebih praktis adalah tahap berikutnya. Sebelum merancang dan merevisi ’cara’ mencapai tujuan-tujuan pendidikan tersebut, mesti lebih dahulu mengevaluasi efektivitas sistem pendidikan dan selalu mengikuti perkembangan terkini. Memerlukan refleksi ke dalam dan ke luar sebelum melakukan koreksi.

Pembenahan sistem pendidikan mesti dijalankan secara gradual, dengan visi jauh ke depan, tapi dimulai dengan pembentukan fondasi yang kuat dengan upaya untuk mengatasi kendala-kendala yang ada. Tidak mudah tapi harus dimulai. Perlu waktu, konsistensi serta manajemen perubahan yang rapi.

Sejak kapan berkiprah di dunia pendidikan? Bagaimana awalnya dan apa saja yang telah dilakukan?
Awalnya memberikan les privat ke anak-anak dan merasakan nikmatnya. Tahun 2003 mulai mengajar secara formal di sekolah national plus. Dari situ saya menemukan, beberapa pendekatan yang saya lakukan kurang efektif di kelas. Saya terpacu untuk mencari tahu lebih banyak, terus belajar, dan sedikit demi sedikit merevisi cara mengajar.

Tahun 2005 saya bergabung dengan tim management & development di sekolah tersebut dan lebih berkiprah dalam pengembangan kurikulum. Pelajaran yang saya dapat: pendidikan itu tak melulu soal pengetahuan dan keterampilan akademik. Untuk mengajarkan ’pemahaman’, sebagai Guru kita perlu memahami tipe/gaya setiap anak. Selain itu, pendidikan di sekolah itu seharusnya bisa lebih berperan mengajarkan ketrampilan hidup dan pengembangan sikap hidup, dan ini akan efektif hanya jika si guru bisa menjadi model dalam menyikapi kehidupan.

Saya makin yakin, pendekatan yang paling tepat digunakan adalah metode holistik. Tahun 2007 saya mengembangkan konsep pengembangan diri yang terintegrasi dengan pengembangan profesi Guru. Saya yakin, hanya Guru yang bisa melihat dirinya secara utuh yang bisa melihat seorang anak secara utuh pula. Konsep itulah yang saat ini dijalankan Nett Academy Teacher Intensive Program.

Yang saya amati, setelah mengikuti program tersebut, sangatlah kentara perkembangan para guru peserta dalam hal kematangan, ketrampilan, serta keterlibatan ’hati’ dalam menjalankan profesi.

Banyak pihak senang dengan gaya Diana menjalin hubungan dengan para praktisi pendidikan ...
Saya melakukan apa yang saya yakini. Seperti halnya Republik ini yang memiliki Pancasila sebagai core values-nya, saya juga punya (Nurture, Equip, Teach & Train) dalam lingkup training center ini, yang menjadi acuan ketika memilih trainer, merancang aktivitas, melakukan asesmen.

Semua selalu bermuara di filosofi dan berujung pada praktek. Selain itu, saya berusaha agar semua pihak yang terkait selalu fokus pada learning, apakah itu siswa, trainer, maupun pelaksana & perancang program, semua belajar bersama dan saling belajar satu sama lain sehingga semua bertumbuh dan berkembang bareng-bareng.

Komunikasi sangat hangat dan feedback mengalir ke semua pihak tanpa terkecuali, semua saling menghormati dan saling mengapresiasi. Ketika kembali ke lingkungannya, masing-masing punya bekal ilmu atau keterampilan baru untuk dibagikan, tindakan nyata yang bisa dimodelkan, atau semangat yang bisa ditularkan.

Ke depan masih punya mimpi apa?


Masih ingin berkonsentrasi untuk membantu guru-guru agar mampu menjalankan perannya secara optimal dalam mewujudkan ’pendidikan yang utuh’. Dalam jangka panjang, saya berharap ini akan menimbulkan efek berantai positif ke masyarakat negeri ini karena makin meningkatnya peran aktif ’manusia-manusia utuh’ masa depan yang lahir dari sistem pendidikan yang utuh. Pada saatnya nanti saya juga ingin berpartisipasi dalam membantu proses pengembangan diri pada anak-anak dan remaja. Selain itu, manajemen sekolah juga perlu sentuhan, karena Guru sulit bergerak tanpa dukungan manajemen.

Banyak kata kata bertenaga yang terpajang di Nett Academy. Katanya, itu buah kerja Diana. Apa saja ya kata-kata hebat itu? Ada obsesi tertentu?
Itu 9 ragam karakter yang memiliki kekuatan. Aspirational-Organized-Knowledgeable memiliki kekuatan untuk menggerakkan (life-force), Sensible-Democratic-Resourceful memiliki kekuatan untuk menjaga keseimbangan (life-guard), Inspiring-Accountable-Caring memiliki kekuatan untuk menyembuhkan (life-healing).

Kekuatan kata-kata itu tak hanya pada keindahan maknanya, luar biasa pula pada tindakan nyata yang mengiringinya.

Setiap orang memiliki kombinasi dari beberapa kekuatan tersebut. Kalau kita bisa mengeluarkan potensi itu dari dalam diri dan mengembangkannya, akan terasa manfaatnya bagi diri sendiri, anak-anak kita, dan lingkungan sekitar.

Diana pemetik gitar di group band sekolahnya dulu. Diana, single manis yang asyik menekuni kedalaman dan keluasan ilmu kependidikan dalam bungkus yang lebih shiny. Ia kini menemukan kehidupannya selalu dalam nada-nada merdu perubahan. Nyanyi Diana, petiklah bas gitarmu hingga menggema di seluruh negeri ...... TG

Tulisan ini diterbitkan dalam Majalah Teachers Guide edisi No. 10/Tahun ke IV/ 2010. Dapatkan di counter Gramedia/Gunung Agung, atau di komunitas-komunitas guru. Kehabisan? Hubungi Sirkulasi di 0812 824 22801, atau di Fleksi (021) 684 58569. Terima kasih.

Tidak ada komentar: