April 29, 2009

GKR Pembayun : Jati Diri Bangsa






Majalah Teachers Guide beruntung mendapat kesempatan tatap muka langsung dengan putri pertama Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun. Rumah yang ditempati kini dinamai sebagai ndalem Wironegaran, yang berasal dari nama suaminya, KPH Wironegoro.
Dalam keseharian, GKR Pembayun yang memiliki dua buah hati ini disapa dengan Jeng Sari, nama kecilnya sebelum menikah. Manis, tatapannya tajam, senyum merekah. Santun sebagai putri raja yang mendapat banyak pitutur (petunjuk) dari leluhurnya mengenai tata krama. Sebagai putrid raja yang peduli pendidikan, berikut pendapatnya tentang pendidikan di kota Yogyakarta dan pendidikan nasional.

Secara umum, apakah Yogyakarta masih dapat dikatakan sebagai ikon pendidikan?
Masih, walaupun memang dalam beberapa tahun terakhir terjadi penurunan jumlah calon mahasiswa daerah (dari luar DIY) datang ke Yogyakarta. Fakta Ini bukanlah berarti bahwa Yogyakarta bukan menjadi ikon pendidikan lagi. Karena indikasi ’ikon’ bukan hanya terletak pada kuantitas atau jumlah mahasiswa yang belajar di Yogyakarta, tetapi lebih utamanya pada faktor kualitas atau mutu dari peserta didiknya (out put), di samping faktor-faktor pendukung lainnya seperti kualitas tenaga pengajar, profesionalisme pengelola lembaga pendidikan serta daya inovasi dalam bidang manajemen dan administrasi (faktor SDM), fasilitas belajar dan aspek lingkungan, kelengkapan laboratorium untuk riset (prasarana fisik), support system pendidikan di bidang IT dan sebagainya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa berkurangnya jumlah calon mahasiswa ke Yogyakarta cukup membuat panik pengelola atau stakeholders di bidang pendidikan. Tetapi ini pun tidak bisa dihindari, mengingat kebijakan otonomi daerah berpengaruh langsung bagi tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan di daerah-daerah atau propinsi lain di Indonesia, di samping faktor ekonomi yang berdampak kepada kemampuan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di luar daerah.

Artinya bahwa menurunnya jumlah calon mahasiswa yang datang ke DIY bukan karena terjadinya penurunan kualitas pendidikan atau DIY bukan lagi sebagai ikon pendidikan melainkan ini pengaruh dari kebijakan yang sifatnya nasional dan tuntutan zaman.

Sejauh mana perkembangan pendidikan di Yogya di tengah paradigma baru pendidikan dewasa ini? Indikator-indikatornya, gerakan, geliatnya, dan sebagainya?
Dari sekian banyak perubahan paradigma pendidikan, paling tidak ada dua hal yang berdampak langsung pada perubahan peranan sebuah lembaga pendidikan. Pertama, adalah metode pembelajarannya. Apabila dahulu guru menjadi sumber utama (murid berkiblat pada guru dan bersifat satu arah) sekarang lebih menitikberatkan pada aspek multi arah dan berorientasi pada siswa. Kedua adalah manajemen sekolah.

Dulu sekolah berjalan sendiri-sendiri (non jaringan), sekarang lebih menitikberatkan pada peran dan fungsi jejaring antar institusi pendidikan untuk dapat saling bertukar informasi dan sumber daya. Di Yogyakarta, berdasarkan riset yang kami lakukan (melalui Yayasan Anak Bangsa Mandiri tahun 2000-2005) dapat disimpulkan bahwa Yogyakarta tetap leading pada bidang tersebut, utamanya dalam mengantisipasi perubahan dan konsistensi dalam implementasi perubahan paradigma tersebut.

Apa yang dibutuhkan untuk segera mewujudkan perubahan pendidikan ke arah yang lebih patut dan dapat menyongsong era global, namun tetap menjunjung tinggi warisan budaya negeri, sehingga tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa?
Perubahan paradigma adalah kehendak zaman. Artinya perubah­an tersebut adalah tuntutan dari perkembangan kehidupan manusia yang memang selalu melaju ke depan (hidup tidak surut ke belakang). Karena kita hidup di era global, maka globalisasi adalah isu yang stategis. Tetapi bila kita hanya mengejar kepentingan tersebut dalam kondisi yang “kosong” maka tentu kita akan kehilangan jatidiri sebagai bangsa. Sementara di satu sisi tujuan pendidikan adalah memuliakan dan menjadikan sebuah bangsa bermartabat, maka yang paling dibutuhkan adalah karakter.

Dimensi ini haruslah diperhatikan dalam proses pendidikan, yakni kesadaran seseorang akan potensi dan kapasitasnya yang khas, yang membedakan dirinya dari orang lain. Aktualisasi kesadaran ini adalah pemupukan keandalan khusus sese­orang, yang memungkinkan dirinya memiliki daya tahan dan daya saing dalam perjuangan hidup. Intinya di sini perlu mengemukakan tentang kearifan dan kebijaksanaan lokal dan budaya menjadi tulang punggungnya.

Dengan segala kiprah selama ini, apa yang menurut Jeng Sari masih sulit untuk di ubah, untuk diajak melakukan peningkatan kompetensi?
Yang sulit diubah adalah “ego sektoral”. Ini yang menyebabkan sulitnya membangun semangat bersama. Implikasinya, masing-masing lembaga yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan pendidikkan seolah-olah berjalan sendiri-sendiri tanpa program yang terintegrasi dan sinergis.

Bagaimana kondisi Guru di Yog­ya­­karta. Apakah sudah tersentuh paradigma baru yang meninggalkan gaya lama yang teacher center menjadi student center?
Perubahan paradigma itu meliputi kesemuanya, tidak terkecuali guru. Artinya berdasarkan riset kami, kondisi guru-guru di Yogyakarta sudah tersentuh oleh paradigma baru tersebut. Training sudah banyak dilakukan. Kebanggaan seseorang pernah sekolah di Yogya masih ada.

Apa harapan dan impian Jeng Sari ke depan?
Pendidikan kita benar-benar memenuhi kiprah dan hakikatnya. sehingga meningkatnya kualitas SDM Indonesia. Pendidikan harus menumbuhkan kualitas pikir, kualitas karya, semangat juang pantang menyerah, bermoral, tidak tercerabut dari akar budaya yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup.

Di tengah perbincangan, datang menghadap seorang perempuan berumur. Sesaat perempuan itu menciumi kaki Jeng Sari sambil me­ngatakan bahwa dia telah merawat ayahanda Jeng Sari sejak kecil. Usianya kini sudah lebih dari 100 tahun. Namun cara jalan dan pendengarannya masih sangat baik. Hmmmm..... mestinya banyak laku yang bisa dicontoh, bagaimana dia menjaga kesehatannya hingga tetap baik di usia senjanya.

Kembali ke masalah mempertahankan jati diri. Apa lagi yang harus kita lakukan?
Saya koq tidak setuju ya, kalau sekolah sudah mengajarkan bahasa asing lalu meninggalkan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Coba kita pergi ke Cina, ke Jepang, ke Jerman, mau tidak mau, kita harus mempelajari bahasa tersebut jika akan tinggal beberapa saat atau sekolah di sana. Nah, wajar dong, kalau bahasa Jawa juga harus menjadi pelajaran penting bagi siapapun yang bersekolah di sini. (di Yogya-red)

Apa yang sudah menjadi gerakan di Yogya? Apa yang penting diwaspadai oleh praktisi sekolah?
Di dunia pendidikan, serba dilema. Serba tanggung. Tuntutannya adalah bertaraf internasional. Tapi kemudian yang nasional dibilang kuno. Ya boleh –boleh aja sebenarnya. Tapi apakah sejak SD sudah internasional? Anak kan harus tahu dulu fondasi, budi pekerti, jiwa nasionalisme, dan kedaerahan yang tinggi. Kalau SMA, okelah. Mungkin setelah itu mereka akan ke luar negeri. Jika sejak kecil sudah harus bahasa Inggris, nanti bahasa daerahnya hilang. Menurut saya, sampai SMP, belum perlu belajar bahasa asing. Saya sendiri, baru SMA belajar bahasa Inggris, dan bisa. Saya lihat, tata krama ini lho yang hilang.

Mestinya ada regulasi, kapan harus menjadi internasional. Budaya dan budi pekerti dan fondasi anak harus kuat. Kalau sekarang banyak kritik bahwa anak muda tidak punya nasionalisme, ya wajarlah. Lha wong nggak diajari!

Budaya bukan hanya tarian kan. Tapi nilai kehidupan, pola kehidupan, dan bahasa. Bagaimana kita mau mempelajari budaya, jika tidak bisa berbahasa? Kalau pun nantinya ­nggak terpakai, ya nggak jadi masalah. Pokoknya di mana sekarang berada, pelajarilah bahasa setempat. Sekolah menjadi kendaraan untuk melangkah dan mendidik, juga mengajarkan.

Saya juga sekolah di luar. Ketika ada acara di kraton, saya harus pulang. Dulu sih saya pikir, repot lah, ngehabisin uang, tapi sekarang saya paham, bahwa itu perlu untuk mendidik saya memahami tata cara kraton.
Di akhir pertemuan, kami ingin Yog­ya kembali menjadi magma pendidikan yang terus menerus memegang teguh jati diri bangsa, namun bisa melangkah di tengah pergaulan antar bangsa.
Kami pamit, tiupan angin yang wangi bau tanah dan dedaunan, ditingkahi suara ayam jago yang bersuara khas. Dalam pejalanan, kami temui kearifan lokal yang selalu membuat rindu, seperti syair lagu Katon Bagaskara. “….Pulang ke kotamu, ada saja sajian khas berselera, orang duduk bersila ......”
. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Debut De Britto



* Kompeten, Hati Nurani, Peduli
* Free, Bukan Wild

Teachers Guide datang khusus ke sekolah ini dengan segala keingintahuan, ada apa di sekolah khusus cowok ini? Mengapa banyak Gurunya sering menulis di koran nasional? Kalau sedang tampil di seminar nasional, Guru De Britto juga tampil arogan (baca: pede abis)! Drs.Th.Sukristiyono, sang kepala sekolah (44), menuturkan dalam bahasa yang lugas:



SMA Kolese De Britto memang berisi pribadi-pribadi yang tidak puas hanya sekadar di kelas, sangat terbuka, tidak berhenti pada hal yang rutin. Idealisme mereka cukup terwadahi, agar Guru tidak hanya berdiri di depan kelas, tapi terlibat penelitian, ide-ide di kota, menanggapi panggilan sebagai pendidik, tertarik banyak bidang, dan banyak membaca.

Guru memilki kesempatan refleksi melalui forum pedagogi Ignasia (2 bulan sekali) di mana Guru berkumpul, bertemu di sore hari, tanpa beban kerja, berbincang santai. Kadang ada nara sumber. Selebihnya, sekolah mendukung dengan memberi insentif bagi Guru yang tulisannya dimuat di media, lokal maupun nasional. Sarana untuk menulis juga diberikan. Kredit laptop, hot spot area.

Ada juga Guru yang tidak menulis. Tapi usaha memancing untuk maju juga dilakukan. Di ulang tahun ke 60 kemarin, semua Guru diminta menulis perjalanan mereka dari awal hingga kini.
Konten yang disuarakan adalah sesuatu yang berbeda. Sekolah ini menghargai setiap individu autentik sesuai yang Allah ciptakan. Visi sekolah ini mendarah daging. Sebuah kebebasan. Biarlah anak tumbuh sesuai yang dikehendaki. Sesuai citra Allah dalam Katolik. Kebaikan Allah akan muncul di situ. Sekolah hanya memfasilitasi. Siswa disadarkan, bahwa mereka dicintai oleh Allah. Identitas dipahami secara maksimal, sesuai konteks individu, keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Kalau siswa selesai melakukan sesuatu, selalu diajak duduk untuk refleksi. ‘Kamu mau apa?’ Dinamikanya selalu seperti ini. Memahami konteks anak maupun objek, mencari pengalaman dan evaluasi dan refleksi dan merencanakan kegiatan berikutnya. Dan ini semua ditulis.

Kegelisahan yang Menguntungkan
Guru De Britto melihat ketidakadilan dengan ketidakpuasan. Kritik mereka tentang myopi pendidikan, tentang SMK yang digalakkan, menghasilkan sebuah pemikiran, bahwa 10 tahun ke depan, kita memerlukan ahlinya. Bukan hanya tukang.

Ini point-point leadership sebetulnya. Visi pemimpin yang melayani. Kompeten, punya hati nurani dan kepedulian. Ini kata kunci Gereja Katolik. ‘Saya kira semua agama juga begini. Multi kultur sudah menjadi keseharian’.

Dalam ‘keliaran’ itu muncul gagasan-gagasan. Anak-anak menjadi lugas. Ada ruang untuk anak bisa bilang ‘aku tidak suka’. Di sekolah ini tidak ada sesuatu yang dimulai dengan kata tidak boleh. Misal: ‘tugas ini dikumpulkan hari Senin, tanggal sekian, jam pelajaran pertama’. Tak penah ada kata-kata ‘paling lambat tanggal sekian’. Ini budaya komunikasi yang akhirnya terbawa pada nilai-nilai kehidupan.

Anak di sini tak semuanya pintar. Tapi punya kepedulian pada yang lemah. Di luaran lebih dikenal dengan pendidikan karakter. Kalau sekarang banyak sekolah membuat ‘kantin kejujuran’, di sini sudah puluhan tahun kantin berjalan tanpa penunggu. Hanya sebutannya tak dinamakan kantin kejujuran. Biasa saja.

Tak satu pun di tembok ada coretan. Sampah juga tak ada yang tercecer. Perkelahian antar anak hampir nol persen. Perseteruan yang ada dibicarakan. Kalau ada yang melanggar, mereka tahu akan tertolak di komunitas ini. Contoh dari kakak kelas menjadi keteladanan yang mengalir saja.

Apakah ini karena kekuatan leadership kepala sekolah?
Bukan itu yang mutlak, biasa-biasa saja jadi kepala sekolah. Kultur di sini yang mengalir sendiri. Peneguhan saat inisiasi adalah saling mengenal. Selalu penekanannya bukan pada uang. Tapi sebanyaknya melayani orang lain. Semua orang, mulai dari satpam sampai kepsek, tahu nama siswa. Kami edarkan katalog lengkap dengan foto dan alamat. Semua saling mengenal.
Misalnya ada siswa yang jadi ngeyel setelah sekolah di sini, mungkin di kelas 1 selalu ada. Orang tua bisa ngobrol dengan pastor, Alumni diundang untuk bicara, nilai apa yang harus mereka ikuti. Humanisme tergali. Di sekolah boleh bicara apa saja. Bukan wild, tapi free.

Di sini siswa yang Katolik, yang Muslim, bisa berdampingan. Ada pengakuan dosa, dinamika masa tobat diterjemahkan dalam agama sendiri-sendiri. Sesekali ada juga ustadz untuk anak muslim. Tentu dipilih yang bisa memandang perbedaan dengan semangat kebersamaan. Sekolah ini banyak dikunjungi dari beragam segmen. Dianggap aneh mungkin.

Tawa pak Kris renyah, ditingkahi suara nyanyian siswa yang masih berada di sekolah selepas jam pulang. Rupanya mereka sedang berlatih koor. Ketika kami melintas, dengan ramah mereka menyapa, menanyakan siapa kami dan dari mana. Ketika tahu kami dari media, mereka bergaya dan berceloteh ala anak muda yang narsis. Pemandangan yang berkesan ….

Ketika anak dalam kondisi yang mereka inginkan (ada batasan juga), secara sosial dia akan ada pada sistem sosial itu sendiri. Tapi jiwanya bebas. Sekolah mengimbangi dengan fasilitas. Anak laki-laki butuhnya apa sih? Olah raga, kesenian, buku, semua ragamnya ada. Mereka bikin liga sepak bola tahunan. Pialanya bisa kambing, anjing, yang aneh-aneh lah. Kalau sudah bosan, hadiahnya diberikan kepada penjaga sekolah.

Anak ditanya mengapa kamu gondrong, mengapa terlambat? Itu ditanya dan di-dialog kan. Akar persoalannya diketahui. Solidaritas pada teman juga luar biasa.

Membuka diri dialog dengan anak itu tidak mudah. Guru memberi ruang dan bersedia dengan kerendahan hati untuk sejajar dengan siswa. Anak pagi-pagi sudah membuka google misalnya. Guru akui saja dia ketinggalan informasi.

Di dunia yang flat in kan masalah gender sudah melemah?
Tentu kami memimpikan keseimbangan. Kini ada Guru perempuan. Dulu nggak ada. Di ruang Guru juga sudah mulai ada bunga, makanan kecil, lebih indah lah. Dulu dari kamar mandi ada anak jalan pake celana dalam ‘doang’. Argumen mereka kuat. Dengan ibu guru, mereka lebih menata hati. Tapi pertemanan dengan sekolah Stece (Stella Duce), Santa Maria, mereka bisa berteater, bermusik, pentas bersama. Anak perempuan masuk ke sini juga tidak takut. Seimbang saja koq.

Asal usul menjadi sekolah khusus laki-laki ini karena sejarah. Bukan Karena mau eksklusif. Tahun 48-49, pada waktu Agresi Belanda ke dua, yang perempuan tidak diganggu tentara. Yang pria ’kan diganggu tentara terus. Jadi disendirikan. Setahun kemudian, yang laki baru dibuka lagi. Agar yang perempuan yang sudah mapan tidak terganggu, ya jalan terus saja. Kembar siam saja dengan Stece.

Melegenda ya?
Taman Siswa, Kayu Tanam, sekarang seolah tak terdengar. Padahal sangat baik. Mungkin karena De Britto selalu dihidupi oleh para Jesuit. Orang muda yang baru datang, dibenturkan visi pribadinya dengan visi bersama, sehingga menjadi fanatik, cinta pada lembaga jadi kuat.

Semua Guru happy ending?
Memangnya nggak ada kegelisahan hidup? Ya mereka juga manusia biasa. Bedanya ada pada cara mereka memandang dan mengatasinya saja………..
( Apa saja yang sudah Guru lakukan? Simak penuturan para Guru penulis itu, dan komentar tentang mereka dalam tulisan ‘The Champion’ berikut). TG
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

THE CHAMPION Kiprah Guru-Guru De Britto sebagai Penulis

Menulislah! Daripada dikasih semangkok mie instan......

Di tengah saling cela, hardikan, teguran, bergantian dengan puji dan sapa, saling menunjukkan kepedulian. Iklim ini yang mendorong Guru SMA Kolese De Britto berbuat sesuatu, yang membangkitkan gairah untuk menulis dan dikirim ke media, dimuat, dan terkenal.

Pernahkah Anda baca tulisan di harian Kompas, di rubrik Opini atau Didaktika? Kalau sempat mencermati, ada sekelompok Guru yang aktif menulis. Mereka selalu menyertakan identitas sebagai Guru De Britto, sebuah sekolah menengah tingkat atas khusus laki-laki.

Untuk dapat dimuat di media, sebuah tulisan membutuhkan persyaratan yang tidak mudah. Perlu proses panjang. Media besar (nasional) memilkiki kriteria tertentu yang cukup alot untuk meluluskan kiriman tulisan.

Nah, kini kita bisa mengenal lebih dekat dengan para Guru yang tampak energik, pede abis, agak arogan tapi sembodo (konsekuen-jw). Semangat juang luar biasa. Mereka bukan sekedar menjadi Guru yang mengajar di depan kelas, melainkan sudah menjadi pribadi menyenangkan yang behasil menemukan jati diri dan potensinya.

Kesulitan, kegetiran hidup, adalah lakon yang mereka pandang sebagai sesuatu yang biasa. Kini mereka mantap menjalani hari-harinya, dengan vaksin semangat, kompetisi dan menjajal tantangan.

ST Kartono (biasa dipanggil Pak Este) :
Tak ada yang baru di bawah matahari. Yang selalu baru adalah bagaimana cara kita melihat segala sesuatu di bawah matahari. Saya sering ‘mengejek’ rekan sejawat untuk melecut diri, mengatasi kesulitan hidup dengan berkarya.

Honor menulis saya pos-kan sebagai sumber pendanaan rutin tiap bulan. Dengan demikian saya selalu terpacu.

Kita ini menjadi Guru, harus tetap merasa sejajar dengan orang tua siswa. Mereka boleh saja memiliki profesi dan jabatan lain yang lebih hebat. Namun Guru jangan merasa ‘terbeli’ . Karena itu bagi yang mau berupaya menulis, jadikan ini sebagai sumber atau pos pendapatan. Daripada kita harus memberi les tambahan di rumah siswa kita sendiri, kadang siswa belum siap, kita nunggu, kalau hujan-hujan paling kita dikasih mie instan… ha…ha…haa..

Hj Sriyanto :
Saya hanya lebih mau jujur pada realita yang dialami teman-teman Guru. Ketika terasa ada sesuatu yang tak pas, ini dia saat melakukan refleksi. Jadilah sebuah tulisan : Siapa Bilang Jadi Guru Gampang. Tulisan salah satu Guru yang dimuat, pagi-pagi sudah ditempel di sekolah. SMS terkirim saling mengucap selamat, meski dengan bahasa yang agak ‘nyinyir’, misal: “ ayo, cepetan cairin duitnya!”. Begitulah gaya mereka. Saling membully, namun tak menyakiti.
Siswa juga bangga pada Gurunya. Jangan sampai mereka melihat Gurunya loyo setelah tanggal dua puluh, saat persediaan menipis…..

Kingkin Teja Angkasa :
Saya punya obsesi kuat agar siswa menghargai Guru. Sudah bukan saatnya rumpi masalah cicilan motor. Tidak up to date lah….

Sumardianta (kerap menjadi pembicara konferensi Guru tingkat nasional) :
Guru yang menulis adalah front office -nya sekolah. Otomatis sekolah mereka juga menjadi terkenal, Guru juga dikenal sebagai kolumnis pendidikan. Sip toh… ngelmu iku ngelakone kanthi laku, yang maknanya adalah: mencari ilmu itu harus dilakukan melalui tingkah laku dan perilaku yang diyakini kebenarannya. Kalau menulis soal kesulitan ekonomi, itu kan keluar dari jeritan hati yang paling dalam. Pasti jadi tulisan yang bagus!

Semua Guru, dengan latar belakang apa pun, mestinya bisa nulis. Mereka kan pelaku. Kalau setelah itu muncul idealisme, hal ini disebabkan esprit de corp (rasa kebersamaan) yang makin kental, yang makin menyuarakan dan membela si lemah, dan mengkritisi si kuat. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.


Dari Cawas Mampir mBantul



…Bagaimanapun De Britto adalah yang membesarkanku…
De Britto adalah sebuah jalan hidup yang sudah kupilih…

Bermula dari pertemuan dengan Suster Wina FCJ di Jl. Gejayan suatu pagi, langkahku di De Britto, Yogyakarta dimulai. Sebenarnya sudah cukup lama Suster yang juga guru pembimbing waktu praktik di De Britto itu ingin bertemu untuk menawari jadi guru De Britto. Keraguankulah yang menunda pertemuan itu. Salah satu alasan kenapa aku ragu, aku sedang bergulat dengan skripsi. Berdasarkan pengalaman banyak teman, kerja dan mendapatkan uang seringkali lebih menggiurkan ketimbang meyelesaikan skripsi.

Akhir 1998 selesai kuliah, tetapi baru pertengahan 1999 aku mengawali karirku di De Britto, sebagai seorang guru. Inilah pengalaman pertama kerja di institusi formal. Tidak mudah! Sebab, untuk bisa mengerti di kolese ini harus mencari tahu sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu aku tidak hanya mengajar matematika, tapi juga mengajar teater di sore hari. Sebuah ‘kesenangan’ yang kupelihara sejak mahasiswa yang ternyata membawaku mengenal De Britto lebih mendalam. Kesenangan itu pula yang membuatku menghabiskan hampir setiap sore di De Britto selama lima tahun berikutnya.
Salah satu nilai yang mengusikku di awal perjalanan ini adalah "kebebasan". Kebebasan seolah menjadi ciri khas, jargon, dan sekaligus mantra di sekolah ini. Cukup lama aku memahami dan menggali makna pendidikan bebas di kolese ini dengan bertanya, membaca, mengamati, dan merenung-renung. Aku melakukan itu agar tidak salah dan latah tentang kebebasan. Supaya mendapatkan pemahaman yang utuh tentang kebebasan, yang dihidupi di kolese ini.

Bagiku kebebasan tidak hanya berkait dengan pilihan dan tanggung jawab yang mengiringi sebagai konsekuensi. Kebebasan merupakan hal yang mendasar yang tak bisa dilepaskan dari proses mencipta. Sebab hanya orang bebaslah yang bisa mencipta, berkreasi, dan menghasilkan karya berguna (migunani tumraping liyan). Nilai inilah yang mendasari, menginspirasi, dan membuatku kuat serta berani menentukan pilihan-pilihan hidup selanjutnya. Setelah aku merasa bebas secara ekonomi, tak lama setelah bekerja di De Britto, aku berteguh hati untuk menikah.
Meski belum begitu jelas aku merasa yakin dengan masa depanku di De Britto. Pasti ada jalan bagi yang berani. Tahun itu, selain di De Britto aku juga mengajar di SMA Stella Duce 1, dan menjajakan matematika dari rumah ke rumah atau dari kos ke kos untuk menghidupi keluarga baruku. Hal ini semakin meyakinkan bahwa pilihanku bisa aku pertanggung jawabkan.

Setelah hampir satu tahun mengontrak, menjelang kelahiran anak pertama kami pindah ke rumah di Cawas. Pilihan ini aku ambil karena sejak awal aku punya mimpi, aku ingin masa kecil anak-anakku di mulai dari desa, biar dekat dengan alam, tumbuh dari lingkungan yang masih kental dengan kebersamaan. Konsekuensi dari pilihan ini, aku harus nglaju dari Cawas ke Yogya setiap hari.

Berangkat pagi-pagi, ketika orang lain masih memicingkan mata belum begitu tersadar dari bangun tidurnya dan pulang ketika semua pintu rumah-rumah sudah tertutup dan terkunci. Aku jalani semua itu sama seperti mereka yang bergegas pagi-pagi, aku juga menyimpan harapan dan masa depanku di De Britto. Meski kalau mau jujur, waktu itu honor di De Britto selalu hanya cukup untuk membeli susu anakku, toh masa depanku di De Britto semakin terpampang jelas.

Demi menghargai dan membahagiakan mertuaku, mulai 2001 aku pindah ke Bantul, tanah kelahiran istriku dan nantinya anak keduaku. Serupa di Cawas, aku pun harus nglaju dari Bantul setiap hari, berangkat pagi, pulang malam hari. Sesekali menyesatkan diri di Bener untuk bermain teater atau sekedar obrolan ringan di Wirobrajan.

Pada 2001 pula aku ‘menikah’ dengan De Britto dan aku menyerahkan hidupku untuk De Britto. Separuh waktu hidupku aku habiskan di De Britto. Pagi sampai siang mengajar matematika dan sore mendampingi anak-anak berteater. Di sela-sela itu aku mendampingi presidium, bekerja di Litbang atau menjadi bagian tim kurikulum. Boleh dibilang aku begitu bersemangat dan berdarah-darah. Membayar kepercayaan dengan totalitas dan loyalitas.
Namun, jalan memang tidak selalu mulus. Dalam perjalanan selanjutnya aku sering mendapati "cermin retak", ketidakseimbangan yang mengecewakan yang membuatku lelah. Enam tahun cukuplah aku berhenti sejenak.

Kesempatan rehat sejenak itu juga aku manfaatkan untuk banyak menulis, kembali mengajar secara mendalam dan bereksplorasi tentang matematika, serta memberikan waktu dan perhatian kepada keluargaku. Kesempatan menantang dan menguji kesabaran diri dengan mengajarkan matematika bagi mereka yang sangat kesulitan dengan matematika.

Meski mundur sejenak bukan berarti aku melepaskan diri, tidak perduli dengan apa yang sedang berlangsung di De Britto. Aku selalu ada untuk De Britto, tetap melihat meski tidak cukup banyak terlibat. Bagaimana pun De Britto adalah tempat yang membesarkanku. De Britto adalah sebuah jalan hidup yang sudah kupilih.

Dan setelah rehat beberapa waktu – melihat dari pinggir. Aku menemukan kembali semangat baru untuk terlibat dan bergulat lagi. Kini aku berdiri lagi di sini, siap sedia kembali untuk berpikir dan berbuat demi De Britto, jalan hidup yang telah kupilih. TG

Hj. Sriyanto
guru De Britto, Yogyakarta


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385

Guru, Menulislah di Media!

Ketika pena lebih tajam dari sebilah pedang
“Menulis? Wah .. saya nggak bakat tuh. Mendingan berhadapan dengan anak-anak di kelas. Duh, kalau suruh nulis saya mah nggak punya ide, mesti semedi dulu cari wangsit. Malu ah, tulisan saya belum layak baca. Niat sih ada, tapi nggak tau mau mulai dari mana? “ … Kalimat ini biasa kita dengar saat perbincangan tentang kebiasaan dan kebisaan menulis dilontarkan.
Apakah semua orang bisa menulis?
Aktivitas ini sesungguhnya sudah menjadi bagian kehidupan kita sejak bangku TK . Menulis tidak ada hubungannya dengan bakat, melainkan potensi.

Tulisan merupakan salah satu media komunikasi massa. Agar berlangsung mulus, penulis harus melakukan perencanaan, perumusan dan penyusunan tulisan. Mulailah dengan Menemukan Ide! Ide adalah awal peradaban. Rekayasa sekecil apapun bermula dari ide.

Sumber ide bisa berasal dari:
1. Fenomena yang tampak.
Ketika mengajar, diskusi, praktikum, terima SK, ikut training, field trip, kenaikan gaji, semua dapat Anda hubungkan dengan fenomena keseharian

2. Pendengaran.
Ketika bercakap, mendengar keluhan ortu, menyimak trainer bicara, dengarkan secara jeli. Pasti mengandung makna tertentu. Menurut pecinta seni, semua jenis suara mengandung arti. Selanjutnya tergantung sejauh mana kita membuka telinga dan dijadikan inspirasi tulisan.

3. Bacaan.
Budaya membaca melahirkan perdebatan secara produktif (ini yang dilakukan teman-teman di De Brito). Sebuah tanggapan bisa menambah ilmu, membuka peluang ide baru. Saling sanggah antar penulis tentang sebuah tulisan adalah bukti kemajuan.

4. Hasil Diskusi.
Cara pandang yang berbeda dan referensi yang lebih berbobot bisa memperkaya tulisan.

5. Pengalaman Hidup , baik diri kita sendiri maupun pengalaman orang lain.

Kategori Tulisan

1. Kolom (esai)
Hampir setiap media massa memilki rubrik ini. Tulisan kolom biasanya merupakan catatn refleksi seorang tokoh tentang hidup sehari-hari dengan tema penting. Pengemasannya dengan bahasa ringan, komunikatif dan kesederhanaan analisis. Disebut juga sebagai tulisanlepas, karena tidak terikat headline (untuk media harian) dan tema/tajuk (untuk media mingguan atau majalah). Tulisan mengalir dengan pengemasan bahasa sederhana
2. Opini (artikel populer)
Memilki karakter subjektif karena didominasi subjektifitas penulis dan persuasif, karena usaha meyakinkan pembaca dengan ketajaman analisa dan argumentasi. Kelemahan opini adalah akurasi data. Kelebihannya adalah pada keterkaitan persoalan.

3. Artikel
Akurasi data lebih kuat, karena tulisan lebih ilmiah. Artikel adalah jenis tulisan yang mempersempit sudut pandang, data yang digunakan juga harus bisa dipertanggungjawabkan.

4. Resensi
Sesungguhnya ini adalah kritik buku. Sering juga merupakan komentar dan pertimbangan tentang sebuah buku. Kritik buku bisa secara ektrinsik, yakni dari jenis font (tipe huruf), judul, jenis kertas, ukuran, cover. Sedangkan dari sisi intrinsik meliputi tema pokok, sistematika berfikir, relevansi gagasan dihubungkan dengan konteks jama, dan sebagainya.

5. Berita (news)
Tulisan ini berupa fakta, yang kerap didekati dengan bantuan prinsip 5W 1H. Tulisan berbentuk news umunya adalah tanggungjwab redaksi media yang bersangkutan, sehingga penulis luar tidak bisa berpartisipasi

Banyak hal yang perlu diketahui dan dipelajari bagi Guru untuk menjadi penulis. Namun sindiran yang mengatakan bahwa ‘sangat lucu jika seorang pendidikan menyuruh muridnya menulis, mengarang, sementara dirinya tidak mampu melakukannya”. Tersinggung ndak?....

Membaca karakter media juga perlu dicermati, agar tulisan Anda cocok dengan karakter media, agar faktor tertolak bisa diminimalkan. Contoh, jika Anda menulis tema keIslaman yang radikal, maka jangan harap akan dimuat di harian Kompas. Atau jika tulisan Anda bernada Islam Liberal lalu Anda kirim ke majalah Sabili, pasti akan tertolak. Visi misi media harus Anda pelajari.

Banyak pakar memberi nasehat, janganlah motivasi awal menulis itu untuk mendapat honor, melainkan untuk sebuah agenda perubahan sosial ke depan. Kalau sebagai penulis pemula motivasinya uang, jadinya malahan tak konsisten menulis. Penulis yang memilki idealismen, ketika tulisannya tertolak, maka tak akan menyurutkan pena mengayun.

Kirim tulisan Anda ke alamat Media (email) berikut:
1. Harian KOMPAS opini@kompas.com/opini@kompas.co.id
2. Koran Tempo koran@tempo.co.id
3. Harian Jawa Pos editor@jawapos.co.id/editor@jawapos.com
4. Harian Republika sekretariat@republika.co.id
5. Harian Suara Pembaruan koransp@suarapembaruan.com
6. Harian Suara Merdeka redaksi@suaramer.famili.com
7. Harian Pikiran Rakyat redaksi@pikiran-rakyat.com
8. Harian Suara Karya redaksi@suarakarya-online.com
9. Harian Sinar Harapan opinish@sinarharapan.co.id
10. Harian Media Indonesia opini@mediaindonesia.co.id
11. Majalah Tempo hari@mail.tempo.co.id
12.Harian Seputar Indonesia redaksi@seputar-indonesia.com
13. Harian Kedaulatan Rakyat redaksi@kr.co.id
14. Media Elektronik http://www.sekolahindonesia.com/
15. Majalah Hidayatullah editor@hidayatullah.com
16. Majalah TEACHERS GUIDE majalahteachersguide@yahoo.co.id

Menjadi penulis itu karena proses yang kontinyu, bukan bawaan.
Menulislah untuk mengusung agenda transformasi sosial, mengubah dunia melalui kata-kata. TG

Referensi: Mu’arif, Pemintal Kata, bukulaela 2007, dan Roni Tabrani, Proses Kreatif Menulis di Media Masa, Nuansa 2007.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385

Bagaimana Tulisan Guru De Britto bisa Dimuat Kompas?


Tony Widiastono, redaktur pengasuh rubrik Opini dan Didaktika di Harian Kompas, memberi penuturan seputar pemuatan tulisan di Kompas. Berikut petikannya:

Bagaimana sebuah tulisan Guru bisa dimuat di Kompas?
Analoginya seperti kalau kita cari makan. Kalau cocok, ketemu yang enak, ya pasti dipilih. Setiap hari, kami berlima membaca tak kurang dari 80 artikel yang harus dipilih untuk dimuat di media harian terbesar nasional ini.

Mengapa banyak tulisan Guru De Brito berhasil lolos seleksi ?
Bukan soal De Britonya. Tapi kami lihat mereka ini bukan sekedar menulis. Pilihan topik itu mereka alami langsung. Mereka pelaku. Tulisan yang dihasilkan terasa berbeda. Dibacanya menjadi enak. Kalau banyak tulisan dicampur- campur, malah nggak enak dibaca. Kelebihan yang kami lihat, Guru De Brito ini mau belajar. Tak langsung sekali kirim dimuat. Penolakan sudah biasa bagi mereka. Namun sepertinya mereka saling menyemangati.

Topik apa sih yang kerap diminati?
Harian kami ini kan harus menyuarakan persoalan yang dialami masyarakat. Pendidikan dan sekolah salah satunya. Mestinya, yang menulis masalah pendidikan adalah Guru. Bukan ekonom, politisi, ahli hukum, yang tentu akan menyoroti dari sisi yang lain. Jabatan bukan jaminan bagi kami untuk meloloskan tulisan. Ada seorang profesor doktor, tulisannya sejak alinea pertama sudah tak jelas tujuannya, bahkan dengan tanda baca yang minim.

Pilihan topik apa pun silakan saja. Kebijakan pemerintah, misalnya. Dampak langsung yang diterima sekolah dan Guru yang dapat mereka rasakan. Perbincangkanlah antar Guru. Tulis apa yang dirasakan. Kami tidak mengubah esensi tulisan. Hanya meluruskan cara menulisnya.

Satu lagi keharusan yang harus kuat adalah soal orisinalitas. Setelah ber lima kami baca, masih ada lagi yang membaca ‘di belakang’. Jika tulisan ini pernah ditulis, di antara kami saling mengingatkan. Meski masih sering kecolongan juga. O ya… rubrik Didaktika, itu dikhususkan untuk Guru lho. Mulailah menulis. Topik mengenai kapitalisme pendidikan, misalnya. Ini kan sesuatu yang penuh opini.
Honornya asyik ya?
Kategori A, antara 800 sampai satu juta rupiah lebih. Kategori B tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, dan C enam ratus. Kalau tembus di halaman satu lain lagi. Meski begini, jangan untuk sekedar cari uang. Produktifitas menulis akan sangat tampak pada kompetensi nya.
Kalau nggak dimuat?
Kami akan kasih tahu. Lewat email lebih mudah. Setelah itu akan dioper ke media lain ya silakan. Lebih baiknya setelah dibenahi sana sini. Tak boleh putus asa.

Saran untuk para Guru agar rajin menulis?
Keseimbangan menulis dan membaca. Dan perdalam kompetensi!. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Educator Sharing Network : Prof. Nakaya Akami


Menu Life Skill Prof. Nakaya Akami


Apa sebab Jepang bisa tumbuh menjadi salah satu negeri terdepan di dunia? Ketika Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Sekutu, 1945, sampai luluh lantak, Kaisar Hirohito bertanya, ”Masih ada berapa guru yang hidup?”

Kaisar Jepang ini jelas memiliki kesadaran yang tinggi bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa. Buktinya Human Development Index Jepang pada tahun 2008 berada di peringkat 8 di dunia. Melihat wajah pendidikan nasional Indonesia, tampaknya kita harus banyak belajar dari kegigihan Jepang dalam memperjuangkan pendidikan.

Cerita ini diungkap kembali oleh Prof. Nakaya Akami, seorang peneliti pendidikan dari Universitas Hiroshima, Jepang, saat tampil berbagi dalam forum Educator Sharing Network (ESN)-Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI), di hadapan sekitar 120 guru, orangtua, dan pamerhati pendidikan, akhir Februari lalu di Jakarta. Prof. Nakaya Ayami, membawakan topik ”Menu Pendidikan Yang Mengajarkan Life Skill (Kemampuan Hidup)”.

Prof. Nakaya berbagi cerita dengan peserta tentang kondisi sekolah di Jepang, mulai dari manajemen sekolah, manajemen kelas hingga praktik metode mengajar. Di Jepang, manajemen sekolah melibatkan partisipasi semua pihak meliputi kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat yang ikut mendukung proses pendidikan siswa.

Manajemen sekolah dihimbau untuk mencetak "Berita Sekolah" setiap bulannya, sebagai sarana informasi untuk menyampaikan kondisi siswa kepada orangtua/wali, program-program sekolah, permohonan bantuan serta ucapan terimakasih yang berkaitan dengan suatu acara.

Ada sebuah sekolah dasar bernama Misonou di kota Higashi Hiroshima yang mewajibkan siswanya melakukan Yoshu. Arti Yoshu, belajar sehari sebelumnya. Siswa diminta untuk mempelajari materi yang akan dipelajari esok hari, sehingga di kelas siswa lebih siap berkonsentrasi menerima pelajaran. Tidak hanya siswa, guru juga harus mempersiapkan diri dan membuat bahan untuk mengajar. Hal ini penting agar proses belajar mengajar menjadi lebih menarik bagi siswa.

Tentunya kreatifitas guru sangat diperlukan, karena semua mata pelajaran di Jepang harus berkaitan dengan kemampuan hidup. Biasanya guru akan meminta siswa untuk mengerjakan proyek sederhana. Misalnya, pelajaran bahasa inggris dikaitkan dengan isu lingkungan hidup. Siswa akan diminta untuk membuat kampanye tentang lingkungan hidup dalam bahasa inggris.

Nakaya mengatakan bahwa pendidikan kemampuan hidup meliputi kompetensi yang kelihatan dan tidak kelihatan. ”Yang kelihatan mencakup keterampilan, tingkah laku, pengetahuan. Sedangkan yang tidak kelihatan seperti motivasi, kepercayaan diri, dan misi,” kata Nakaya. Semuanya itu diperlukan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Sejak meluncurkan program Educator Sharing Network (ESN), sebuah program diskusi reguler dua mingguan, sejumlah topik terkini di dunia pendidikan telah dibahas. Diskusi ini terbuka, gratis, dan merupakan forum berbagi. Anda para guru yang ingin bergabung, dapat mencari informasi program ini www.sf-teacher.org atau dapat mendaftar ke milis sfti@yahoogroups.com.

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

PJI - Kompetisi Kewirausahaan SIMBIZ 2009












CSR on education :
SimBiz 2009 ASAH TALENTA BISNIS

Nak, gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Keba­nyakan kita --para guru dan orangtua -- berharapan si buah hati kelak menjadi ‘orang besar’. Sayang, kebanyakan kita kurang paham cara melatih mereka menjadi ’orang besar’.

Namun beruntung bagi sejumlah 150 siswa SMU/K dan 100 mahasiswa yang bergabung dalam Prestasi Junior Indonesia (PJI), mereka bisa berlatih memperkuat cita-cita menjadi pengusaha besar. Di bawah arahan tim Accenture dan Universitas Bina Nusantara, mereka bermain simulasi bisnis di ”SimBiz 2009, Build Your Business Empire”, awal Januari lalu di kampus Binus, Simprug, Jakarta. Sebagian besar siswa asal Jabodetabek, sedangkan lainnya dari Bandung, Yogyakarta, dan Kalimantan Timur.

Kompetisi yang disponsori oleh Accenture (konsultan manajemen) dan PT Freeport Indonesia ini diadaptasi dari The Hawlett Packard Global Business Challange (HPGBC), sebuah kompetisi simulasi bisnis tingkat international (diikuti lebih 1.000 tim berbagai negara). Seperti simulasi HPGBC, SimBiz 2009 juga menggunakan software JA TITAN Bussines Simulation dari Junior Achievement Worldwide.

Tiap sekolah boleh mengirim beberapa tim, masing-masing terdiri atas dua orang. Mereka berperan seolah tim eksekutif pada perusahaan manufaktur virtual yang memproduksi alat canggih bernama ”Hologenerator”.

Software menampilkan berbagai kasus-kasus dalam penjualan maupun pengembangan bisnis Hologenerator. Para siswa diajak bermain sekaligus belajar agar dapat memenangkan persaingan bisnis dengan membuat keputusan-keputusan penting dalam enam aspek, yaitu penetapan harga, kapasitas pabrik, jumlah produksi, bia­ya marketing, biaya R&D, serta dana sosial yang harus dikeluarkan oleh perusahaan virtual yang dikelolanya. Kinerja perusahaan kemudian diukur dengan angka PI (Performance Index).

Layaknya seorang chief of excecutive (CEO) atau general manager (GM), mereka berjuang agar perusahaan tetap survive dan untung. Siswa benar-benar diperas kemampuan berfikirnya, dan ditantang keberaniannya untuk membuat keputusan bisnis, sementara masukan informasi tentang lingkungan bisnis dan kondisi global cukup terbatas.

”Suatu bangsa yang demokratis hanya bisa sejahtera kalau terdapat cukup banyak warganya mampu berwiraswasta. Karena itu, kemampuan berwiraswasta harus dibangun secara sadar sejak usia dini,” jelas Sarwono Kusumaatmadja, selaku Dewan Nasional PJI.

Konsep kewirausahaan memang sangat perlu ditanamkan semenjak dini. Sumberdaya alam Indonesia begitu besar, namun para lulusan sekolah kita cenderung mengambil posisi sebagai pekerja, orang gajian, atau tukang. Jarang yang berani mengambil keputusan untuk mendirikan usaha dan mempekerjakan banyak orang sekaligus mensejahterakan masyarakat sekitarnya. Sikap kewirausahaan merupakan bekal amat berharga.TG
----------------------------------------------------------------------
Sri Wagini
Guru kewirausahaan di SMK 26 Jakarta Timur

Saya sudah 10 tahun mengajar kewirausahaan. Membimbing toko koperasi sekolah, dan usaha kue black forest di rumah. Saya berupaya memajukan koperasi sekolah, guna memotivasi siswa. Dari modal Rp.5 juta, kini koperasi untung bersih Rp. 45 juta. Disini menjual kebutuhan rumah tangga, alat elektronik, komputer, HP, dsb. Kegiatannya pertokoan, dan simpan pinjam.

Siswa kita harus dibekali prinsip kewirausahaan. Di sisi IQ (intelligent quotient), berupa kecerdasan agar mampu bersaing. Di sisi EQ (emotional quotient), mengembangkan 25 karakter positif , antara lain sikap kejujuran, tanggungjawab, kasih sayang, berani berkompetisi, dan prestatif. Siswa yang bertanggungjawab, dia akan berupaya terus menerus untuk menjadi yang terbaik dan berprestasi.

Di sisi SQ (spiritual quotient), ditanamkan sikap takut kepada Allah SWT, supaya jangan korupsi. SQ ini paling penting, sebagai pengendali. Sebab meski knowledge dan afeksi bagus, jika SQ-nya kurang, orang bisa berlaku curang atau korupsi. Ini masalah bangsa.

AQ (adversity quotient) membentuk sikap mampu bangkit kembali. Tidak ada wirausaha muda yang langsung sukses. Semua pengusaha sukses pasti mengalami beberapa kali kegagalan.

Saya cari sendiri materi pembelajaran yang bisa menggugah, dari buku, koran, majalah, dsb. Bila perlu, orang tersebut saya kunjungi. Saya ketemu Elang Gumilang, entrepreneur termuda di Indonesia dalam usia 23 tahun bergerak di real estate.

Program di sekolah, kelas I materi membina sikap mental yang baik. Di kelas II, pengelolaan perusahaan. Contoh, membangun usaha kecil perorangan (CV), apa saja syarat-syaratnya. Di kelas III, mendalami manajemen bisnis. Diberikan 20 jam perminggu.
Menurut saya, diktat kewirausahaan kurang klop, kurang menarik, dan kurang sesuai dengan kurikulum. Akibatnya, tidak berguna, buku tersebut tergeletak saja di perpustakaan.

Program PJI seperti SimBiz 2009 ini, sangat bermanfaat. Siswa kami, kebanyakan keluarga tak berada, jadi lebih memahami dunia luar. Produk-produk siswa, seperti pupuk kompos, dapat dijual lebih luas. Motivasi mereka berwirausaha jadi lebih tinggi. Terbuka mata hatinya.

Motivasi lain, Departemen Koperasi & UKM memberikan beasiswa ke Jepang bagi siswa berprestasi dalam kewirausahaan, dan sepulangnya diberi modal usaha.
----------------------------------------------------------------------------
Jaya Sakti
Ketua Dewan Pengawas Student Company “BIONIC” SMK 26, Jakarta Timur

SimBiz ini bagus banget. Saya diimajinasikan keseharian sebagai pemilik perusahaan , diberi situasi realitas persaingan antar usaha. Kita harus putar otak. Situasi dari software ini bisa kita terapkan di dunia nyata.

Untuk acara ini, saya menyiapkan proposal model bisnis rumah kost 30 kamar di sekitar Jakarta Barat atau Rasuna Said, Jakarta. Dengan modal Rp. 8 miliar, saya estimasikan dapat kembali modal dalam tempo 7 bulan operasi. Permodalannya dari dana pinjaman bank. Selesai sekolah, saya ingin menjadi pengusaha real estate.
-----------------------------------------------------------------------------
Jessica Molline Tarigan
SMK Tarakanita, kelas II Penjualan
Pengurus Student Company “Metropolista III” Pulo Raya, Blok M, Jakarta Selatan

Student Company kami berjulan produk recycle buatan Yayasan Populi, seperti tas terbuat dari plastik kemasan, bahan jok, kain flanel.

Di SimBiz dapat PI Index 830. Masih terbatas trik bisnis yang kami ketahui, juga kurang mahir dalam cara-cara meningkatkan penjualan. Kita harus kreatif dan jeli, situasi bisnisnya cukup sulit. Kita harus semangat dan kaya pengetahuan. Pengusaha lain punya hal yang tak kita miliki. Kita harus memiliki cara untuk meningkatkan kreatifitas bisnis, antara lain dengan sharing.
----------------------------------------------------------------------------
Fitri Izzati
SMK 8 kelas II Adm. Perkantoran
President “ANT Student Company”

Di samping ruang OSIS, kami jualan burger, yang tidak serupa makanan kantin. Agar laris, ada SMS delivery, pesanan diantar ke kelas, kalau perlu sampai ke lantai 4. Tiap sore belanja barang. Pembeli ramai kalau ada acara sekolah atau tamu. Kini dikembangkan dengan produk lain seperti jus, snack, lolipop, dan cetak foto digital dengan printer komputer. Dengan modal Rp. 150 ribu, pada saat puncak bisa untung Rp. 385 ribu sehari.

Dengan SimBiz ini, saya seperti jadi pengusaha beneran. Belajar bagaimana ’nembus pasar’, kan susah. Strategi bagaimana mengalahkan pasar. Ibu saya pengusaha kue, bikin risol, pastel, dll. Saya belajar dari ibu, mencari uang itu susah. Karenanya, saya ingin jadi pengusaha, punya perusahaan yang dapat kita atur sendiri, dan mempekerjakan orang lain. Harus siap rugi, dan kalau jatuh harus bisa bangun lagi. Bertanggungjawab, mampu menghadapi resiko apapun, kreatif dan inovatif. TG

"A dwarf standing on the shoulder of a giant may see further than giant himself". Seorang kurcaci yang berdiri di pundak seorang raksasa mungkin dapat melihat lebih jauh dari raksasa itu sendiri. Bernard of Chartres (Abad 12)
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

EKONOMI !

Pernah mendengar guru yang mempunyai profesi sampingan sebagai pengojek? Pemulung? Tukang becak? Atau yang lebih keren: pengajar les tambahan, wirausaha MLM, atau penulis?

Ya, tentu kita semua sering mendengar kisah heroik para pahlawan tanda jasa ini dalam mensiasati kehidupannya. Faktor ekonomi yang serba kurang, menjadikan guru berjibaku mencari tambahan supaya dapur tetap ngebul.

Melihat realitas yang ada, guru dapat kita kelompokkan seperti berikut. Ada guru elit -- mengajar di sekolah favorit berstandar internasional, siswanya anak kalangan berada. Keadaan tersebut berkolerasi dengan gaji yang diterima, umumnya tingkat kesejahteraan guru terjamin.

Lainnya, guru berstatus abdi negara atau PNS, mendapat gaji lumayan di atas UMR sehingga tingkat kesejahteraannya juga tidak terlalu payah.

Kondisi terendah adalah guru honor murni, guru tidak tetap (GTT) baik pada sekolah negeri maupun di sekolah swasta pas-pasan. Mereka mendapat honor bulanan jauh di bawah UMR, berkisar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) sampai Rp 600.000 (enam ratus ribu). Dengan pendapatan ini, ia harus mencukupi berbagai macam kebutuhan seperti transportasi, biaya dapur, dan sandang pangan. Siapapun ahli ekonominya takkan mampu mengakatan ini cukup.

Pengalaman seorang teman seprofesi, sebelum menjadi guru ia bekerja di non keguruan dengan gaji memadai di atas UMR. Alasannya, supaya kebutuhan papan, sandang, dan pangan tercukupi dulu. Setelah berpunya rumah, kendaraan, dan pekerjaan sampingan, barulah ia menekuni profesi guru dengan tenang.

TAMBAH BERAT
Saat ini pemerintah mensyaratkan seorang guru harus profesional, harus Strata Satu, mempunyai akta IV, mengikuti sertifikasi kelaikan guru. Tujuannya, supaya guru yang lulus sertifikasi mendapat uang tunjangan tambahan selain gaji pokok, sehingga guru menjadi sejahtera.

Namun nasib baik itu belum dapat menyentuh ke semua lapisan guru. Prioritas peserta sertifikasi lebih diutamakan bagi guru tetap tetap/PNS. Kelak guru yang tak bisa memenuhi persyaratan tersebut tidak akan bisa mengajar lagi karena tersingkir peraturan.
Masih banyak guru yang sudah puluhan tahun mengajar, tapi belum S1, dan harus balik lagi ke bangku kuliah untuk belajar. Banyak kerepotan yang dialaminya, seperti kendala waktu, biaya, gairah belajar yang lama terkubur. Kegalauan tersebut menghantui pula para guru honorer yang bergaji di bawah UMR. Jika mengambil kuliah S-1, dari mana biayanya? Hidup sehari-hari sudah pas-pasan. Kuliah S-1 bisa tambah pusing tujuh keliling. Jika begini, apa ada harapan lebih baik bagi guru honorer?

Pemerintah sudah membuka kesempatan guru honor menjadi PNS asal lolos test. Namun syarataya cukup berat, yaitu usia di atas 35 tahun, pernah mengajar selama 12 tahun berturut-turut (bukti SK pengangkatan). Harus S-1 pula. Sedangkan kesempatan pun sangat kecil, lantaran pendaftar berbanding kebutuhan serupa 1 : 1000. Pada setiap sekolah negeri atau pun swasta sering kita temui jumlah guru honor yang cukup banyak, di sam­ping guru tetap.

Andai kesejahteraan mereka kurang diperhatikan, walhasil kita akan masih menjumpai guru ’nyambi’ ngojek, guru tukang becak, pemulung, jualan barang-barang, dan tukang kredit. Ini menjadi cermin wajah negeri kita. TG

Heri Ismanto S. Pd
Mantan guru honorer
di salah satu SMP di Kab. Bogor


---------------------------------------------------------------
Refleksi

Tulisan ini sengaja diluluskan untuk kami muat, meski TG sesungguhnya lebih menyoroti hal-hal yang positif, optimistis, semangat perubahan. Sangat banyak ditemui kondisi Guru dengan keluhan yang sama, menuntut pemerintah berbuat ini-itu.

Tanpa bermaksud membela pemerintah, melalui media ini kami mengajak para Guru untuk melakukan refleksi. Lihatlah cerita dan pengalaman para Guru di De Britto, Yogyakarta. Mengapa mereka bisa menghilangkan stigma diri sebagai Guru yang nelangsa, yang serba keku­rangan, menjadi Guru yang memilki semangat perubahan yang hebat, yang dapat mengantarkan mereka pada keadaan yang jauh lebih baik?

Berdasar kemampuan para Guru De Britto itu, mereka melakukan upaya yang bisa mengangkat harkat martabat diri dengan meningkatkan kemampuan berkarya, dan meningkatkan daya tawar (bargaining) mereka. Bukan dengan cara yang akan mempersulit ‘harga jual’ mereka sendiri sebagai agen perubahan.

Mau diskusi dengan rekan Guru dari De Britto? Coba berdiskusi dan menyerap ‘virus’ kemajuan dengan St.Kartono di 0856-2884443 atau via email: stkartono@yahoo.com

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Guru Madrasah Jangan Ketinggalan Zaman

Suasana antusias nampak jelas terlihat di wajah murid-murid kelas VI - MI Salafiyah Syafi’iyah Limo-Depok, di sebuah hari Selasa pagi. Mereka penasaran dengan apa yang dibawa oleh Guru mereka pagi itu. Sebuah tas hitam yang cukup besar dan lain dari yang biasa dibawa oleh pak Agus, Guru Bahasa Indonesia.

Sebelum pelajaran dimulai, pak Agus segera menyapa anak-anak seperti biasanya dan langsung menyiapkan peralatan.”Anak-anak, hari ini bapak ingin memberikan metode pengajaran dengan menggunakan power point,” kata pak Agus. Tema pela­jaran Bahasa Indonesia kali ini tentang periklanan. Wajah ceria anak-anak yang senang dan paham de­ngan penjelasan yang diberikan pak Agus menggunakan presentasi itu.

Pak Agus adalah contoh Guru de­ngan pendekatan baru. Kini telah banyak pelatihan-pelatihan yang diadakan terutama bagi para guru Madrasah. Salah satu di antaranya adalah pelatihan penggunaan Microsoft Office (Word, Excel, dan Power Point), internet, serta pembuatan Blog bagi para Guru Madrasah sebagai Kapasitas Penguatan Madrasah yang diselenggarakan oleh pihak YASMIN – LAPIS di SMK Informatika Utama, Depok.

Banyak manfaat yang didapat para Guru madrasah dari pelatihan-pelatihan semacam ini. Di antaranya, menambah wawasan, memudahkan para Guru untuk mencari data-data di internet, merangsang minat menulis di blog masing-masing. Jadi, Guru Madrasah jangan sampai ketinggalan zaman. TG

Mirza Hanum, S.PdI
Guru di MI Salafiyah Syafi’iyah
mirzasyaman@yahoo.co.id

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda.
Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.






GURU PROFESIONAL: Menurut Siapa?

Alasan menjadi guru, berpengaruhkah terhadap profesionalisme?

Setiap kita boleh saja mengklaim diri profesional. Pagi berangkat mengajar, sore baru pulang. Setiap hari tampil di muka kelas, tak pernah membolos. Mengajar dan mengajar adalah prioritas kita. Apakah kita tergolong profesional?

Disebut profesional, haruslah mendapatkan pengakuan lingkungan. Tak sekedar penegasan diri saja. Atasan, rekan kerja, masyarakat sekitar, bahkan murid-murid patut didengar pengakuan keprofesionalan kita. Bayangkan jika ada murid mengkritisi lantaran Anda mengajar membosankan.

Menjadi profesional memang tak mudah, nilainya selalu berubah. Dulu, berbekal ijazah SPG cukup, kini ijazah SLTA dipandang sebelah mata. Kadang guru yang lama mengajar (senior), dinilai sudah profesional. Guru di Aceh berbeda standarnya dengan di Jakarta atau Papua. Di sekolah bilingual, syarat guru profesional jika mahir berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Beberapa kendala profesionalisme:
* Materi: Uang menjadi faktor mahapenting -- untuk hidup, membeli buku, mengakses informasi. Tanpa uang, guru bertahan menggunakan buku-buku tua. Kurang uang, kerja sambilan yang mengurangi perhatian pada tugas utama.
* Gaya hidup: Guru juga manusia. Ketika merasa ‘kuno’, mencoba mengubah gaya penampilan, meski terpaksa berhutang kiri-kanan.
* Teknologi: Penggunaan komputer dan multimedia telah menjadi kebutuhan. Jika guru gagap teknologi, bagaimana?
* Infrastruktur pendukung: keterbatasan sekolah belum mampu menyediakan fasilitas memadai.
* Kesibukan di luar : Ada profesi lain atau terlibat kegiatan sosial, bisa mengurangi waktu untuk profesi. Perlu manajemen waktu yang baik.
* Pasangan hidup: Idealnya keluarga mendukung pilihan menjadi guru. Jika tidak, bisa menjadi beban karena tak ada keleluasaan.
* Intrik antar kolega: Sering ada perselisihan di tempat kerja, yang perlu diselesaikan dengan baik
* Pandangan rendah: Masyarakat dan dunia usaha belum menganggap sekolah/kampus dan guru sebagai partner.

Idealnya, seorang guru memiliki keseimbangan antara output dan input.

Output adalah segala bentuk pengeluaran yang didedikasikan guru -- waktu, tenaga, pikiran, maupun materi. Sedangkan input adalah segala yang diterima: penghargaan, gaji, kesempatan mengembangkan karir. Tanpa keseimbangan keduanya, guru mudah frustasi, yang memerosotkan kualitasnya.

Menilai Dasar Motivasi
Ada dua alasan memilih profesi ini. Pertama, yang menjadikan profesi guru sebagai kebutuhan (rohani). Mengajar, bagi mereka, sebagai pengabdian, bentuk tanggung jawab sosial, hobby, kerja patriotik, menyenangkan, bahkan ibadah (spiritual). Mereka ini toleran akan keterbatasan, menempatkan persoalan sebagai tantangan, haus ilmu, dan ingin terus berlatih.

Sedangkan kelompok kedua, yang memenuhi kebutuhan hidup (jasmani) dengan menjadi guru. Menjadi guru untuk mencari nafkah. Pengabdian dianggap hanya sebab-akibat. Bagi kelompok ini, bersiaplah kecewa mengingat penghasilan guru sangatlah terbatas. Mereka merasa aman sentausa setelah kebutuhan jasmani terpenuhi, di luar itu bukan urusannya.

Pada kenyataannya, tanpa mengurangi rasa hormat, kita mendapati begitu banyak kasus guru yang semata-mata mengandalkan hidupnya dengan berprofesi tunggal yaitu guru. Mereka sangat berdedikasi dan benar-benar mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk profesinya. Dari contoh kelompok ini, ada yang bisa hidup tentram penuh penerimaan, ada juga yang gelisah tak berkesudahan karena tak puas dengan penghasilan.

Nah, dari dua kelompok ini, mana yang lebih profesional? Keduanya sama-sama memenuhi syarat sebagai guru profesional jika ditinjau dari syarat domestik yang menjadi tuntutan.

Perbedaan Motivasi bukan Penghalang Menjadi Profesional
Tak ada hal yang abadi, termasuk motivasi kita menjadi guru. Yang awalnya memilih profesi guru semata demi mencukupi kebutuhan jasmani, suatu ketika bisa berubah. Pun sebaliknya.
Bahan diskusi kita adalah:
1. Standarisasi profesionalisme guru mendesak dilaksanakan, proporsional, dan tidak memihak.
2. Profesi guru idealnya dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani secara seimbang.
3. Kekurangan suatu daerah atau insti­tusi, bukan alasan untuk mengisolasi diri dari standar profesional
4. Hubungan vertikal dan horisontal antar insan guru sebaiknya dijadikan kekuatan untuk memecahkan masalah profesionalisme di lingkungan masing-masing, serta mo­dal mengatasi kekurangan individu, kelompok, maupun sekolah.
Siapkah guru menjadi profesional lahir batin sesuai dengan standar nasional, bahkan internasional? Waktu akan membuktikan. TG

Usep Suhud, M.Si
Mengajar di Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta
usep.suhud@globalsarana.com


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Membangun Mentalitas Pembelajaran



Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Pakar dalam psikologi
perusahaan dan sumberdaya manusia.
(Ditayangkan di KOMPAS, 15 Maret 2008)

Meskipun pendidikan dan pembela­jaran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan bagai dua sisi dalam satu koin logam, kita sering terjebak pada paradigma yang tidak komplit. Kita sering mengkonotasikan tidak lancarnya pendidikan de­ngan gaji guru yang kurang, sekolah yang kurang dana, sekolah yang rubuh, ataupun kurikulum yang cenderung tidak berubah. Sementara proses pembelajarannya sering tertinggal dan tidak didalami.

Kita pasti bisa mengenali betapa banyaknya hambatan yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan lancar dan betapa kita sering menutup mata pada keluarannya. Kita sering tidak mempelajari ”kondisi lapangan” beserta kompleksitasnya sehingga kita tidak tahu apakah pembelajaran ”kena” atau tidak. Belum lagi, kesempatan ”benchmark” atau ”studi banding” sering tidak kita manfaatkan betul sebagai ”pelajaran”.

Kita pasti sadar betapa sering kita membuang muka, dan pura-pura tidak tahu mengenai kesalahan pemahaman, persepsi, ketidakjelasan dalam proses pembelajaran yang tidak kita benahi sampai tuntas. Bahkan, hal yang paling mudah dipersalahkan adalah programnya, pelatih, guru atau dosennya, atau sekalian saja lembaganya.

Ketika Peter Senge (1990) mengeluarkan bukunya Fifth Discipline banyak organisasi terhenyak dan menyadari betapa mereka hanya berkonsentrasi pada upaya mengajar tetapi tidak berfokus pada pembelajaran. Kita pun, di Negara tercinta ini juga terhenyak bila melihat bahwa pembelajaran yang kita hasilkan sesudah merdeka ini kalah oleh negara tetangga yang pernah mengimpor guru dan dosen dari Indonesia.

Kita sangat menyadari bahwa sebenarnya pembelajaran, yang tidak selamanya merupakan hasil dari sekolah dan universitas, banyak gagal ketika kita tahu bahwa mayoritas penduduk masih mau menelan nilai-nilai yang tidak produktif dan positif, serta “awareness” yang kurang terhadap kemanusiaan, lingkungan, moral yang pada akhirnya membawa perlambatan pembelajaran, kalau tidak sampai pada pembodohan.

Peter Senge berpendapat bahwa pembelajaran terjadi bila individu secara teratur diberi ruang untuk me­nemukan dan mengkreasikan realitas yang dihadapi atau dipelajarinya. Dengan demikian, individu dalam setiap tahapan menjadi manusia yang baru, bisa melakukan, memahami atau menghayati se­suatu yang sebelumnya belum dialaminya, bisa mempunyai persepsi yang berbeda terhadap realita yang dihadapinya, dan menjadi bagian dari terbentuknya generasi yang punya paradigma baru.

Untuk menjadikan sebuah organisasi atau bahkan negara pembelajar, kita memang perlu meninjau dan membangun kembali beberapa aspek sikap mental. Hal-hal ini perlu kita tekuni dan yakini dengan penuh kesabaran, sehingga menjadi sebuah kumpulan keyakinan dan obsesi kita.

Jangan Meraba-raba
Secara “back to basic” marilah kita tinjau sikap kita mengenai akurasi dan presisi. Kita perlu belajar untuk tidak asal cuap, ngawur, atau mengira-ngira data dan fakta yang sebenarnya bisa dicari dan dibuktikan. Sudah banyak contoh membuktikan bahwa ketidakakuratan dalam pencarian fakta menyebabkan negara rugi bermilyar-milyar US dollar. Dan, karena mayoritas masyarakat sudah terbiasa hidup dalam ketidakakuratan, menyukai “plesetan”, tidak ada pihak tertentu yang berobsesi untuk memperoleh data yang benar.

Eksperimen dan Riset Tak Selalu di Laboratorium
Dari seorang eksekutif yang berhasil, saya belajar bahwa dalam kegiatan sehari-harinya ia banyak memberi judul “riset” atau “eksperimen” terhadap kegiatan-kegiatan ”mencari tahunya”. Misalnya,”Saya sedang meriset, kamera mana yang paling baik di beli Canon atau Nikon” atau “Saya sedang melakukan eksperimen, apa efeknya kalau saya makan sawi saja selama seminggu”. Tanpa disadari, eksekutif ini melakukan pembelajaran yang sistematis dan meningkatkan kesadarannya dalam memperoleh pengetahuan baru.
Ini sangat berguna bagi kita yang memang selalu harus memperluas cakrawala, mendapat ide-ide baru melalui kesulitan dan kesempatan yang kita alami.

Belajar di Mana Saja, Pada Siapa Saja
Dalam budaya paternalistik yang kita pegang, paradigma bahwa otoritas adalah yang paling tahu, paling bijak dan paling menguasai masalah, tentunya harus kita hapus cepat-cepat, karena menghambat pembelajaran. Sudah waktunya kita mengerahkan siapa saja untuk belajar dari mana saja dan siapa saja, serta menguakkan, mengadopsi, menganalisa, menemukan persepsi dari sisi lain ”best practise” dalam implementasi, penyelesaian pekerjaan, sikap kerja.

Best practice yang sangat bisa kita tiru adalah banyak organisasi yang kini komit untuk menerapkan sistem ’lesson learnt’, di mana kesalahan dan perbaikan sistem akan disebarluaskan ke seluruh organisasi dan diperlakukan sebagai studi kasus, sehingga setiap individu yang tidak mengalaminya akan belajar dari kejadian ini juga. Beberapa organisasi menyebutkan ke­giatan ini sebagai ”Santayana Review” yang berasal dari ahli filsafat George Santayana yang pernah menyatakan: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”

Kita juga bisa belajar kembali, bagaimana cara kita mengajukan pertanyaan dalam mengambil keputusan, menggali pendapat dan masukan orang lain, apakah bawahan, atasan, para ahli bahkan para remaja. Pengetahuan sudah bukan milik elite tertentu lagi. Kita bodoh kalau menghambat tersebarnya segala macam pengetahuan di organisasi kita. Tentunya cara yang ”friendly” untuk menyebarkannya perlu dicari dan disesuaikan dengan situasi massanya.

Bagaimana dengan Anda para Guru? Tidak cukup kan kalau hanya bermo­dal bisa mengajar dan membuat pe­rencanaan serta lembar kerja siswa? Perlu membuka mata hati agar jati diri kita sebagai Guru makin mumpuni. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan SMS ke 0856 8040 385.

Guru Enggan Belajar Bahasa Inggris. MENGAPA?

ENGLISH? Mau ya....

“Udah tua… Bapak ! Nggak bisa lagi ikut-ikut yang begituan!”
“Paling juga angat-angat tai ayam!”
”Bapak kayak nggak tahu aja teman-teman kita di sini! ”Ini sudah pernah dilakukan, Pak! jauh ... dari sebelum bapak datang ke sekolah ini!”

Demikianlah komentar pesimis teman sejawat akan ide saya membenbentuk ”English Club” guru. Rekan guru mungkin beranggapan, di English Club, meski cuma seminggu sekali, akan disibukkan isian grammar dan kosa kata susah, dan hasil akhirnya begitu-gitu saja.

Ada teman sejawat pernah kursus di tempat favorit di Bogor, dibiayai yayasan. Mengadakan 'English Day’ tiap hari Rabu, belajar bersama Sab­tu (hari libur, red), dan sebagainya, tetapi hari-hari selepas kursus kembali seperti biasa, ’kegiatan-kegiatan’ itu menghilang begitu saja.

Kesan rekan sejawat ini menjadi ironi bagi sekolah kami, yang adalah sekolah swasta termasuk terbaik dan elit di Bogor, dengan fasilitas cukup memadai plus kepercayaan masyarakat yang tinggi. Hampir seluruh siswa dari Play Group, TK, SD, SMP, sampai SMA dari golongan menengah ke atas.

Pendiri Yayasan memiliki cita-cita luhur dan kepercayaan sangat besar kepada sekolah binaannya ini, beliau mencetuskan untuk dapat meraih Sekolah Bertaraf Internasional pada tahun 2012 mendukung program pemerintah sebagaimana yang dicantumkan di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat (3) yang berbunyi, “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional “.

Terlintas di pikiran saya, ide English Club ini lebih mengutamakan ’proses’ nya, yaitu memunculkan miliu berbahasa di sekolah. Miliu...

Yah, ’kata’ inilah yang tidak ada di kalangan para guru dan siswa. Miliu atau kecenderungan sosial sangat penting dalam menerapkan proses pembelajaran. Karena miliu adalah alas motivasi. Coba renungkan, metode pembelajaran bahasa ala pesantren bisa membangkitkan kemampuan berbahasa, mengapa? Ya, karena miliu berbahasa siswa dibangkitkan melalui disiplin. Pelanggar akan mendapat ’hukuman’, baik fisik sampai amanat berat menjadi ’jasus’ atau spy alias mata-mata.

Dalam hal sekolah saya, tak mungkin mengadopsi cara pesantren tersebut. Di sini hanya mencoba mengkondisikan, siapa pun yang masuk lingkungan sekolah akan terbetik dalam pikirnya memasuki lingkungan berbahasa Inggris, dan harus ’memakai’ bahasa Ingris.

Sejatinya ”English Club” adalah salah satu cara termurah membangkitkan miliu berbahasa. Tempat untuk curhat, ngobrol, berbagi pengalaman. Siapa pun yang hadir boleh menjadi tutor. Jika pun ada yang mengajar, istilah kami berbagi informasi. Ketika berdiskusi, tidak ada larangan mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah, tapi coba didorong untuk mau aktif berbahasa Inggris. Tak perlu sungkan bila salah.

Dalam klub ini tiap peserta dibebaskan. Mau tahu kalimat atau kata apa, hayo cari bersama-sama (tentu dibantu rekan yang mahir) Mengapa? Karena rasa ingin tahu yang besar lebih memiliki dampak untuk daya ingat yang lebih baik. Yang penting di sini tujuan utama kita adalah miliu... miliu... sekali lagi miliu... untuk mau dan tidak malu berbahasa Inggris.

Untuk siswa, miliu berbahasa Inggris dibangkitkan setelah bertadarrus, membaca al Qur’an dan do’a sebelum memulai pelajaran, dengan cara membentuk komunitas yang setiap hari berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Siswa diminta untuk berbaris berha­dapan, kemudian memulai bercakap-cakap yang dia bisa dalam bahasa Inggris. Morning Conversation ini bisa dikembangkan dengan memberikan panduan percakapan pendek, yang boleh dikembangkan siswa sendiri.

Demikianlah, terus berupaya mengkreasikan lingkungan berbahasa akan membangkitkan miliu untuk mau dan bisa berbahasa, baik de­ngan sendirinya ataupun ’terpaksa’.. Saya yakin, ini sangat membantu memotivasi rekan sejawat untuk kembali (mau) belajar bahasa Inggris, karena belajar-tidak belajar, bahasa tersebut harus dipakai di lingkungan ini sehingga ’motivasi’ pun muncul. Jangan heran nanti akan banyak bermunculan slogan di dinding kelas dan kantor. Percakapan antara guru dan murid pun terdukung maksimal karena miliu-nya telah ada.

Berbagai masalah memang akan timbul. Pertama pada diri guru, dan siswa sendiri. Apakah kurang sema­ngat, tidak serius, masa bodoh, merasa tidak penting, dan lainnya. Kedua, lingkungan sekolah, perlu sarana media audio, visual dan lainnya.

Maka control di sini sangat penting. Semua pihak, guru dan murid bahkan wali murid harus bekerja sama agar ’kegiatan miliu pembangkitan motivasi’ ini menjadi unggulan dari berbagai kegiatan sekolah. Mudah-mudahan harapan sekolah tentang penggunaan bahasa Inggris sebagai media pembelajaran dapat diraih, menjadi kebanggaan masyarakat di mana sekolah ini berada, serta contoh bagi sekolah lain. TG
Muhammad Aysar Fahd, S.Ag
Peserta seminar
’Guru Kreatif Pendidikan Berkualitas’ oleh LPI Dompet Dhuafa
PPIB-Bogor

------------------------------------------------
There is Mr. Is at My School

Sekolahku ini sudah sejak lama memberi warning pada para Guru, agar kita meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris . Globalisasi, AFTA dan perubahan hubungan antara negara kawasan menjadi penyebab utama. Guru Indonesia tak boleh hanya jadi penonton. Kita harus siap, termasuk dalam bahasa Inggris yang sudah dipelajari sejak kelas IV SD.

Alih-alih bisa bercakap, untuk mengerti orang bicara saja masih sering keliru pemahamannya. Alasannya klasik : “Udah lama nggak dipakai. Jadi lupa. Padahal emang dari dulu juga nggak pernah pinter.” Sekolahku konsekuen. Dihadirkanlah seorang Guru bahasa Inggris untuk siswa, sekaligus trainer untuk semua Guru. Namanya Pak Iskandar. Kami otomotis memanggilnya Mr. Is.

Sejak Mr. Is masuk, terasa ada yang berubah di sekolah. Teman-teman Guru jadi pada parno alias paranoid, takut ketemu dia. Pembawaannya yang humble justru membuat kami ‘ngeper’. Tentu saja, karena tak sepatah bahasa Indonesia pun keluar dari mulutnya. Kami jadi gelagepan.

Upaya sekolahku untuk membuat Guru terbiasa berlatih menggunakan bahasanya Pangeran Charles ini lumayan kuat. Awalnya dibuat English Area, yang ditempatkan di tempat Guru biasa ngumpul, di saung, di perpustakaan, dan di kantin. Eh, belakangan tempat-tempat itu tak seramai dulu. “Mendingan nggak minum di kantin daripada harus mikir apa kalimat bahasa Inggris untuk ‘bayar sendiri-sendiri," celoteh Guru lain.

Takut Ketemu Mr. Is
Setiap bertemu orang di sekolah, siapa pun akan disapa oleh Mr.Is , in English tentu saja. Kalau sekedar hai, how are you, kami masih bisa jawab dengan tak kalah ramah. Namun jika Mr. Is sudah menanyakan soal bagaimana persiapan fun cooking hari ini, atau mengingatkan untuk mengajak sharing siswa tentang hot news today, wah …… muncul bahasa-bahasa tarzan.

Kami juga akhirnya banyak melanggar perjanjian, dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menjawab pertanyaan Mr. Is. “Bener-bener kelu lidah ini. Keinginan sih ada. Tapi nggak keluar juga bahasa Inggris dari mulut,“ kata pak Dimas, Guru olah raga.

Sedangkan Bu Lis mengaku , meski sudah berjalan ‘minggir-minggir’ ke samping, maksud hati biar tidak terpergok Mr. Is, eh … tetap disapa juga. Lebih dalam lagi pertanyaannya: ‘You look in a hurry, may I help you?” tanya Mr. Is ramah. “No, thanks….”, sambil menggeleng kepala, “Wah, sejak kapan saya jadi sok imut begini?” aku Bu Lis.

Sekolah–sekolah lokal, seperti sekolahku, yang sedang gencar memperbaiki kualitas akan membuat terobosan yang cukup kreatif. Hasil yang dicapai sangat tergantung pada seberapa proses dan penguatan dilakukan secara terus menerus. Eporia ini bisa membangkitkan semangat, bisa pula menjadi penghambat, terutama bagi Guru yang tak mau pindah dari zona nyaman-nya.

Guru yang bisa memanfaatkan keberadaan fasilitator seperti Mr. Is, akan menjadikan sebagai sebuah peluang dan tantangan. Bukan kelemahan dan ancaman. Setiap sekolah tentu memilki kemajuan-kemajuan yang seharusnya direspon positif oleh semua stake holdernya.

Kuncinya adalah pada proses perubahan itu sendiri. Ada adagium yang mengatakan, seperti katak dibenamkan di air mendidih, katak akan lompat! Namun jika katak diletakkan di air dingin yang dijerang, hingga panas mendidih pun, katak tetap tinggal di dalamnya. Artinya, setiap perubahan, kemajuan, ide, usulan, aturan, atau apa pun namanya, sosialisasikan dengan perlahan, tekan­kan makna pentingnya. Katakan: “Ini baik untuk Anda, meski tak nyaman pada awalnya” - agar para Guru tak ‘berlompatan’. TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Pengaruh Doa dalam Mendidik Anak


Guru tidak sekedar menyampaikan ilmu. Guru adalah arsitek peradaban



Perlu disadari bahwa gelar yang disandang seseorang bukanlah jaminan keberhasilan dalam mendidik. Sebaliknya, sangat mungkin gelar yang dimiliki dapat menjadi bumerang menuju kegagalan. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang terlalu yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

Kadang guru sering lupa, sebagai manusia, kita hanya mampu berusaha. Selebihnya, keputusan akhir tentang hasil usaha kita tetap bergantung kepada Allah SWT. Sikap terlalu yakin dengan kemampuan diri hingga menga­baikan Allah SWT akan membuatnya kehilangan kekuatan jiwa.

Ilmu yang dimiliki hanya bisa digunakan sebagai pedoman, sementara itu, berhasil-tidaknya proses pendi­dikan tetap harus diserahkan kepada Allah SWT. Doa yang selalu dipanjatkan bakal turut menentukan keberhasilan lebih lanjut. Intinya, seorang guru harus senantiasa melibatkan Allah SWT dalam mendidik. Sebab Sang Pencipta, Allah-lah yang Maha Mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya.

Doa termasuk hal penting yang harus selalu kita pegang teguh. Melalui doa, rasa cinta dan kasih sayang kepada anak didik akan bertambah mekar di dalam hati. Untuk itu, hendaklah guru senantiasa memohon kepada Allah agar Dia meluruskan anak didiknya dan masa depannya. Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Ada tiga macam doa yang tidak diragukan lagi, pasti diterima, yaitu doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orang tua (guru) kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi).


Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rasulullah melarang para orang tua (guru) mendoakan keburukan bagi anak didiknya. Mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya.

Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah kalian mendoakan keburukan kepada diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada pelayan-pelayan kalian, dan janganlah kalian mendoakan keburukan kepada harta kalian. Janganlah kalian mendoakan keburukan sebab jika waktu doa kalian bertepatan dengan saat-saat dikabulkannya doa maka Allah mengabulkan doa kalian (yang buruk itu).” (HR. Abu Dawud).

Imam Al-Ghazali menyebutkan bahw­a ada seseorang yang datang kepada Abdullah bin Al-Mubarak seraya mengadukan perihal kedurhakaan anaknya. Ibnu Mubarak berkata, ”Pernahkah kamu mendoakan keburukan baginya?” Ia menjawab, ”Ya, pernah”. Ibnu Mubarak me­ngatakan, ”Engkau telah menghancurkannya”. Seharusnya, daripada engkau penyebab kehancurannya dengan mendoakan keburukan baginya lebih baik engkau menjadi penyebab keshalihannya dengan mendoakan kebaikan untuknya.

Guru tidak sekadar menyampaikan ilmu. Guru adalah arsitek peradaban, jika ia salah dalam mendidik, berarti ia salah dalam membentuk peradaban. Dan tanggung jawabnya pun tidak sebatas di dunia. Karenanya, guru harus senantiasa mendoakan anak didiknya di setiap waktu, terutama di waktu malam.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita mendoakan mereka? TG


Imam Nur Suharno, S.Pd., M.Pd.I.
Kepala MTs Husnul Khotimah, Desa Maniskidul, Jalaksana, Kuningan


*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.

Sampoerna School of Education


Beasiswa Siapa Mau?

Menjadi guru adalah profesi mulia, karena mendidik karakter bangsa. Dan itu
menuntut kita lebih profesional.

Adalah Sampoerna Foundation, yang sebelumnya telah berkecimpung melatih guru dalam lembaga Sampoerna Foundation - Teacher Institute (SFTI) pada tahun 2006, kini lebih jauh melangkah dengan mendirikan ”Putera Sampoerna School of Education” atau SSE, pada awal Maret 2009 lalu. SEE berkomitmen mengembangkan tenaga pendidik (guru) berkualitas tinggi di Indonesia. Prof. S Gopinathan, konsultan senior dari Singapura dan Kenneth Cock, Direktur Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI).

Sejak 2005, Sampoerna Foundation mengembangkan 17 sekolah dan 5 madrasah di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Bali, termasuk para guru, siswa, kepala sekolah, dan sistem pendidikan. Termasuk juga menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan). Pada tahun 2009, SF meluncurkan program sekolah bertaraf internasional berasrama, Sampoerna Academy.

Menyambut beroperasinya SSE, dr.Fasli Djalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas menekankan bahwa sangat penting bagi Indonesia untuk memiliki lembaga pendidikan guru yang berkualitas.”Kita harus menjawab kebutuhan akan guru berkualitas di Indonesia,” ujar Fasli.

Hal senada diungkapkan Prof. S Gopinathan, konsultan senior dari Singapura. “Untuk bertahan di era globalisasi, Indonesia memerlukan sekolah pendidikan bertaraf dunia yang dapat mengkombinasikan metode pengajaran lokal dan internasional, serta didukung kalangan akademisi yang diakui di tingkat nasional maupun internasional.” SSE, lanjut Gopinathan, mempersiapkan generasi baru guru Indonesia yang siap bersaing di level nasional maupun internasional.

Berlokasi di gedung Sampoerna, Jakarta Pusat, SSE menawarkan fasilitas kampus yang lengkap, dan m­enyajikan materi dengan kurikulum, tenaga pengajar nasional dan internasional serta praktik metode pengajaran terbaik yang disampaikan dalam dua bahasa. Dalam pengoperasiannya, SSE bekerja sama dengan mitra lembaga internasional.
Calon mahasiswa SEE diharapkan datang dengan prestasi akademis terbaik. Pendataftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2009/2010 telah dibuka. Perkuliahan dimulai September mendatang. Dari 80 kursi kelas, 40 diantaranya akan diberikan bagi penerima beasiswa. Program beasiswa SSE sudah termasuk biaya pendaftaran, biaya kuliah, uang saku, uang buku, riset/penelitian internet.

Ada dua jurusan yang dibuka, yaitu Bahasa Inggris dan Matematika. “SSE akan menjadi salah satu institusi paling bergengsi di Indonesia yang menyediakan pendidikan untuk pendidik masa depan dan juga staff pendidik yang professional, memiliki kemampuan mengajar terbaik, kompetitif dan mampu mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan pemba­ngunan nasional,” jelas Ron Perkinson, Presiden Sampoerna Foundation.

Lulusan SSE diharapkan menjadi guru dengan kemampuan terbaik­nya. Terlebih lagi, SSE menyediakan pelayanan pengembangan karir, seperti konseling karir professional, ekstrakulikuler yang komprehensif dan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Tersedia pula program magang guru, untuk mendapatkan pengalaman mengajar yang sebenarnya serta peluang penempatan kerja.

Ron menambahkan, “Kami sangat ber­untung karena mendapat dukung­an yang kuat dari pemerintah dan kami siap untuk bekerja sama dengan mitra & donor. Kami percaya bahwa dalam waktu dekat kami dapat memberikan dampak yang besar untuk kemajuan pendidikan Indonesia.”

Informasi : www.sampoernafoundation.org, atau email ke info-ti@sampoernafoundation.org, dan ph.(021) 5772340. Bersama, mari ciptakan generasi Guru baru Indonesia! TG


SD TUMBUH - Yogya Educational Spirit









Menempati bangunan lawas yang artistik, sekolah inklusi di Yogyakarta ini tampak tampil beda. Keanggunan bangunan tua yang dimanfaatkan secara cerdas justru menambah kekhasan sekolah yang didirikan oleh KPH H. Wironegoro, M.Sc, putra mantu Sri Sultan HB X. Teachers Guide berkesempatan mengunjungi sekolah yang dikepalai oleh Elga Andriana, S.Psi, yang merasa ‘sendirian’ di tengah kemajuan, perubahan, dan tuntutan masa depan.

Apa diferensiasi sekolah ini?
Kami percaya, sekolah itu dunia kecilnya masyarakat, cermin masyarakat sebenarnya, yang beragam dari sisi apa pun. Jadi kami mengibarkan diri sebagai sekolah inklusi. Bukan hanya untuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), tapi secara holistik dari berbagai perbedaan: agama, sosial, kultur, ras, dan sebagainya. Inklusi kami ke depankan, dengan mengusung kultur komunikasi yang enak, setara, dan tak banyak birokrasi. Itu inti dari inklusi, yang menjadi pembeda SD Tumbuh.

Konon sekolah ini kental dengan gaya LSM yang militan. Adakah pengaruhnya bagi pengembangan sekolah ini di bawah kepemimpinan Anda?Saya banyak nyemplung di masalah gender dan hak-hak anak, di PLAN (LSM yang bergerak di bidang pembuatan mainan dengan barang bekas) dan di PAUD. Kami kuat sekali menyuarakan hak anak.
Enam tahun awal ini, tindakan afirmatif kami lakukan dengan mencari kemajemukan siswa, utamanya dari sisi, ras, etnis, dan agama Yang beragama Hindu dan Budha kan jarang, justru kami prioritaskan. Juga yang berbeda etnis.

Yang masih susah tentu yang berbeda ekonominya. Di sini ada siswa yang tidak membayar (gratis), bayar seratus lima puluh ribu, hingga empat ratus ribu rupiah. Secara umum, ancer-ancernya (kira-kira) Rp. 300 ribu lah untuk SPP. Ada juga adopting parent, untuk membantu siswa yang susah. Orang tua nggak merasa perbedaan ini sebagai kendala.

Kami mengkomunikasikan hal ini saat wawancara calon orangtua murid. Di situ filosofi orang tua sudah tergambar. Ketika diberitahu bahwa jika di kelas anaknya nanti ada siswa yang memerlukan subsidi, bagaimana? Apa ibu bisa bantu? Jika jawabannya: ”Saya yang capek kerja koq anak orang lain yang sekolah”, itu cukup menguatkan kami untuk menolaknya. Ada juga mencoba mau memberi uang pendaftaran lebih besar untuk menyuap saya, lha malah anaknya nggak saya terima.

Apa obsesi orangtua menyekolahkan anak ke SD Tumbuh?
Mencari sekolah yang menyenangkan bagi anaknya. Orangtua sangat paham, sekolah yang konvensional sudah ketinggalan. Hanya saja di Yogya ini pilihan tak banyak.

Active learning dan inklusi menjadi sesuatu yang kami tawarkan. Di awal buka sekolah, sebenarnya saya hanya mentargetkan 10 siswa saja. Eh, yang masuk 40 anak. Padahal kapasitas hanya 22 anak Sudah banyak koq orang tua di Yogyakarta yang paham dengan kebutuh­an ini. Lain pasti dengan di Jakarta ya. (Elga sempat sekolah di Australia untuk memperdalam ilmu kependidikan)
Bagaimana dengan Guru?
Guru kami lulusan Sanata Dharma, UGM, dan UNY. Kami memilih yang open mind. Meski ada juga yang macet di kreatifitas. Klik-nya ndak semudah it. Kerjasama dengan KPH Wironegoro sangat nyaman, utamanya masalah substansi dan support, terutama pada budaya.

Dalam inklusi ada kultur. Kami menyebutnya Yogya Education School. Sekolah ini berpijak juga pada tradisi. Karawitan, tari, batik, wayang, dan nembang serta ‘green school’ kini di-intra­kurikulerkan.

Tak ada perbenturan etnis?
Nggak tuh. Kekayaan etnis tetap kita apresiasi dalam ba­nyak hal, termasuk disampaikan di muka kelas. Inilah spirit Yogyakarta yang memang kami munculkan. Dalam diskusi masa depan bersama Pak Wironegoro, kami ingin juga membuka sekolah yang sama di tempat lain, tapi dengan mengangkat spirit lokasi, misal Solo Educational Spirit, begitu juga di Semarang atau Bali. Tapi kini kami belum berani membuka franchise. Ini mau kita kembangkan dulu.

Spirit menjemput masa depan? Juga sistem penyam­paian materi?
Meski kuyup dengan budaya dan tradisi, Guru berbahasa Inggris agar anak tetap connect de­ngan dunia luar. Siap jadi warga dunia, bukan hanya jadi warga Yogya. Ya ini harus dikawinkan.

Sementara pencapaian anak bisa dilihat dari praktek dan tertulis. Ujian dengan soal dari Diknas ha­nya kami lakukan pada akhir semester dua, untuk kenaikan kelas. Anak-anak gampang aja tuh ngerjain. Yang susah ya yang ABK. Sebisa mereka saja.

Nggak ada acara nggak naik kelas. Kalau inputnya beragam, nggak bisa dong keluar dari satu pintu dan satu tolok ukur. Tanggung jawab Guru untuk mencermati kekurangan anak.

Kelas 1-2, Guru kelas-nya ada 2 orang. Kelas 3 – 6, ada guru mata pelajaran, tapi tetap ada guru kelas. Yang nggak sanggup dirangkap kan guru matematika, kesenian, olah raga, dan Bahasa Jawa.

Ingin apa ke depan?
Saya pengin sekolah semua inklusi. Kehidup­an nyata kan begitu. Mbok ya anak disiapin. Biar melihat keragaman itu dengan nyaman.

Di K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) di sini, saya merasa seperti allien. Saya masih belum tahu cara meleburkan diri. Sebab, 180 derajat berbeda. Suara aya nggak pernah didengar …… Mereka merasa senior dan merasa sekolah favo­rit. Semua pake seragam pula. Saya sendiri yang nggak pake.

Saya pengin punya teman, punya organisasi yang memiliki semangat yang sama. Yang kalau sedang mengikuti seminar, ya mestinya mendengarkan, menyimak. Yang ada mereka ngobrol sendiri. Lha… dari masalah mendengarkan saja saya sudah merasa nggak cocok sama mereka. Sekedar berkenalan saja dulu.

Sekolah ini mulai beroperasi 2005. Ada respon positif yang mengatakan bahwa SD Tumbuh cukup berani, dan inovatif. Yang negatifnya ya tentang inklusi itu. Masih ada orang yang mengatakan: “Jangan sekolah di Tumbuh, emang anakmu sakit apa? Kurikulumnya apa?” Value juga dipertanyakan, karena ada anak keturunan Belanda.

Ada pula yang protes, katanya sejak sekolah di SD Tumbuh, anaknya jadi nggak disiplin. Alhamdulillah, hal ini di jawab oleh orang tua lain yang mengatakan bahwa: ‘Urusan disiplin itu urusan orang tua dhewe lah…gak biso opo-opo diserahke sekolah’ hii..hii… ternyata yang disebut disiplin ala orang tua ini sebatas baju dimasukkan rok, kaos kaki, bersepatu……..Ooooo kalau yang itu mungkin nggak terlalu esensial ya. Kapan lagi kita memberi ruang pada anak. Peneguhan sikap akan bisa dilakukan dengan dialog.

Teachers Guide sempat pula meninjau kegiatan PLAN, yang melakukan pelatihan rutin aplikasi 3R (reduce, reuse,recycle). Segala barang bekas bisa jadi mainan. Spirit Yogya tak pernah padam! TG

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 8 Vol III/2009.
Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 0856 8040 385.